Anda di halaman 1dari 16

Soal: Ustadz yang terhormat, saya mau tanya tentang khamer.

Setahu saya khamer adalah etanol, sesuai dengan tulisan Ust. M. Shiddiq al-Jawi (di HTI Online). Tetapi saya telah membaca tulisan Dr. Anton Apriyantono yang berjudul TINJAUAN KRITIS STATUS KEHALALAN ALKOHOL (ETANOL) yang saya dapatkan di IndoHalal.Com ( http://www.indohalal.com/artikel.php?noid=79 ), dimana beliau menulis bahwa khamer bukanlah identik dengan etanol, dan bahwa etanol terdapat di dalam buah-buahn. Mohon tanggapan Ustadz terhadap tulisan beliau. Jawab: Dari uraian yang boleh dikatakan panjang lebar itu, dapat disimpulkan beberapa point berikut ini (semoga kesimpulan ini tidak salah): 1. Etanol bukan khamer akan tetapi salah satu dzat pendukung yang menjadi bagian dari khamer. Yang diharamkan bukan etanolnya akan tetapi minuman beretanol (beralkohol). 2. Khamer diharamkan dikarenakan sifat memabukkannya dibatasi dengan kadar (kuantitas) dan batas waktu tertentu; dan berdasarkan proses tertentu (penambahan alkohol yang diambil dari khamer), dan ciri-ciri tertentu.. Kesimpulan ini didasarkan pada hadits tentang pengharaman juice oleh Rasulullah ketika juice itu telah dibiarkan lebih dari 2 hari, dan telah keluar gas. Penulis juga mengetengahkan kenyataan, bahwa di dalam juice yang belum diperam, buah-buah segar, dan roti bisa mengandung etanol meskipun dengan kadar yang relatif kecil. Kesalahan Metodologis (Istinbath) Pertama, dalam mendefinisikan khamer (mungkin lebih tepatnya untuk mencirikan khamer), tampaknya penulis berusaha mengumpulkan beberapa hadits tentang khamer agar bisa mencakup keseluruhan dalil yang berbicara tentang khamer. Sayangnya, penulis tidak melakukan jamu berdasarkan kaedah-kaedah jamu yang dikenal dalam ushul fiqh, namun lebih diarahkan untuk menyelamatkan diri dari beberapa pertanyaan seputar khamer yang tidak tercakup dalam salah satu hadits. Tentunya, cara semacam ini bukanlah cara yang tepat untuk memahami khamer secara jernih dan mendalam, bahkan tumpang tindih dan tidak jelas. Penulis sama sekali tidak menyentuh dataran substansial dari permasalahan sebenarnya, yakni apakah khamer itu. Penulis tidak sedang berusaha mendefinisikan atau mencirikan khamer berdasarkan kaedah istinbath yang shahih, akan tetapi sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dicakup oleh satu dalil, kemudian mencari dalil lain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kenyataan ini, menunjukkan bahwa penjelasan penulis tentang khamer tidak mnian wa jaman. Padahal, mnian dan jaman merupakan syarat untuk menetapkan apakah suatu penjelasan itu komprehensif atau tidak; shahih atau tidak. Dengan kata lain, sesungguhnya penulis sama saja dengan menjawab sebuah pertanyaan dengan sebuah dalil, kemudian menjawab pertanyaan yang lain lagi dengan dalil yang lain lagi pula. Ia sama sekali tidak menjawab dengan sebuah simpulan yang didasarkan pada penggabungan keseluruhan dalil yang berbicara mengenai permasalahan khamer; walaupun penulis merasa telah melibatkan seluruh dalil untuk menjawab masalah khamer. Hal ini tentunya justru akan menafikan dalil yang lain, dan menetapkan hukum hanya berpatok pada sebuah dalil saja. Ini terlihat ketika penulis menyatakan, (intinya saja), Dalil pertama tentang khamer adalah segala yang memabukkan adalah khamer sedangkan setiap khamer adalah diharamkan. Dalil kedua adalah khamer itu adalah sesuatu yang mengacaukan akal. Lalu, penulis menarik kesimpulan dari dua dalil itu, meskipun sebenarnya kesimpulannya tidak tepat dan tidak sejalan dengan pengertian dua hadits di atas, bahwa yang diharamkan adalah minuman beralkohol yang biasa dikonsumsi, sedangkan alkoholnya (etanolnya) sendiri seharusnya tidak terkena dua hadits ini. Alasannya, etanol murni tidak pernah dikonsumsi. Lalu, ketika ada pertanyaan lain, kalau minuman beralkohol dikonsumsi sedikit bagaimana? Lantas, penulis menjawab lagi dengan dalil yang lain. Demikian seterusnya. Sesungguhnya, apa yang dilakukan penulis tidak melakukan jamu dalil sebagaimana yang dilakukan para ulama ushul fiqh, akan tetapi sekedar menjawab pertanyaan dengan sebuah dalil, bukan dengan hasil deduksi dari seluruh dalil. Kedua, penulis tidak memisahkan antara tahqiq al-manath (kajian terhadap obyek) khamer dengan tahqiq an-nash (kajian terhadap dalil-dalil syara) yang berbicara tentang khamer. Sesungguhnya ada perbedaan antara kajian terhadap dalil syara dengan penelitian terhadap obyek yang hendak dihukumi. Kajian terhadap obyek tidak tunduk dengan dalil-dalil syara, namun tunduk dengan penelitian-penelitian ilmiah di laboratorium. Sedangkan kajian terhadap dalil syara tunduk dengan kaedah-kaedah istinbath yang benar dan harus melibatkan seluruh dalil yang berbicara tentang masalah tersebut; yakni masalah khamer. Untuk menetapkan apakah yang dimaksud dengan khamer itu; bendanya ataukah sifatnya; ataukah kedua-duanya; tentu saja kita harus meneliti keseluruhan dalil yang berbicara tentang khamer, bukan didasarkan pada penelitian fakta. Setelah masalah ini tuntas, barulah kita berbicara apakah khamer itu?; apa saja yang termasuk khamer; dan apa saja yang tidak termasuk khamer?

Ketiga, penulis terkesan asal-asalan dalam menarik kesimpulan dan dalam memahami pengertian sebuah atau dua buah dalil. Misalnya, ketika penulis mengomentari hadits, Segala yang memabukkan adalah khamer sedangkan setiap khamer adalah diharamkan; dan hadits; Khamer itu adalah sesuatu yang mengacaukan akal, ia mengatakan, bahwa dua hadits ini hanya melarang untuk mengkonsumsi minuman yang beralkohol (etanol), sedangkan etanolnya sendiri (alkohol) atau etanol murni tidak diharamkan. Alasannya, karena etanol tidak biasa dikonsumsi. Berdasarkan penjelasan penulis ini, kita bisa menyimpulkan bahwa penulis memahami bahwa yang dimaksud dengan khamer itu adalah minuman beretanol, bukan etanolnya sendiri. Lebih dari itu, penulis juga menyimpulkan bahwa kehalalan etanol murni didasarkan pada kenyataan bahwa ia tidak biasa dikonsumsi, atau kalau dikonsumsi dalam keadaan murni, mematikan. Ada dua kesalahan yang dilakukan penulis. Pertama, dalildalil di atas berbicara pada konteks memabukkan atau tidak, bukan biasa dikonsumsi atau tidak. Sehingga penarikan kesimpulan yang benar adalah, sesuatu yang memabukkan termasuk khamer, sedangkan khamer adalah haram. Oleh karena itu, jika kita beristinbath hanya dengan berpatokan dua dalil ini saja, tentu kita akan menyimpulkan bahwa semua makanan yang berpotensi memabukkan jika dikonsumsi, maka ia termasuk khamer. Walhasil, kecubung, gadung, ataupun jenis makanan yang memabukkan jika dikonsumsi meskipun ia terkenal halalnya, maka semuanya termasuk khamer. Sedangkan khamer adalah haram. Bagaimana dengan etanol murni? Apakah ia termasuk khamer jika berpatokan hanya pada dua hadits di atas? Jawabnya ya. Sebab, etanol murni memabukkan bila dikonsumsi, bahkan dialah dzat yang menyebabkan minuman yang halal berubah menjadi haram. Etanol bukanlah salah satu dzat pendukung yang menyebabkan sebuah minuman dikatakan sebagai khamer, akan tetapi ia adalah satu-satunya dzat yang menjadikan minuman yang halal menjadi haram, jika ia ditambahkan di dalam minum halal tersebut. Dengan kata lain, etanol adalah khamer itu sendiri. Seandainya, tidak ada tambahan etanol (murni maupun tidak murni), tentunya, minuman itu tidak lagi memiliki sifat dan ciri khamer, dan tidak terkategori lagi sebagai khamer. Sedangkan perkataan penulis yang menyatakan, bahwa etanol murni bisa mematikan jika dikonsumsi, sesungguhnya tidaklah demikian. Etanol murni tidaklah sampai mematikan bila dikonsumsi; walaupun etanol sering digunakan sebagai antiseptik. Sebab, sebagian literatur menyatakan, bahwa etanol murni (100%) sangat sulit bahkan mustahil didapatkan. Memang benar, etanol ada yang bersifat racun dan mematikan. Namun ingat, yang dimaksud etanol beracun adalah etanol murni yang telah didenaturasi. Denaturasi adalah proses penambahan yang bersifat racun untuk mentidakmurnikan etanol. Denaturasi biasanya, ditujukan agar penjualan etanol murni tersebut tidak dikenakan cukai, atau agar tidak disalahgunakan oleh pabrik pembuat minuman keras ilegal. Denaturasi inilah yang menyebabkan etanol murni itu beracun. Seandainya, kita mengiyakan pendapat penulis yang menyatakan bahwa etanol murni mematikan, jika dikonsumsi inipun tidak menafikan sifat kedudukan etanol murni sebagai khamer. Oleh karena itu, etanol murni tetaplah khamer. Kedua, tatkala menanggapi dua dalil tersebut, penulis memahami bahwa yang dituju oleh dua hadits tersebut adalah konteks minuman yang biasa dikonsumsi, bukan yang tidak biasa dikonsumsi. Penarikan kesimpulan semacam ini telah keluar dari konteks yang dibicarakan oleh dalil tersebut, baik dari sisi manthuq maupun mafhum dua hadits tersebut. Dari matan dua hadits itu tidak mungkin kita memahami bahwa yang ditunjuk oleh hadits itu adalah minuman yang biasa dikonsumsi atau tidak. Sebab, tidak ada satupun indikasi, baik secara tekstual maupun kontekstual, yang menunjukkan hal itu. Hadits di atas hanya berbicara pada konteks semua benda yang memabukkan, dan konteks khamer yang menutupi akal, dan tidak berbicara pada konteks biasa dikonsumsi atau tidak. Keempat, penulis secara tidak sadar dalam beberapa uraiannya telah menetapkan illat hukum yang sebenarnya illat itu tidak terkandung di dalam nash-nash tersebut. Jika sebuah dalil tidak mengandung illat, tentunya, kita tidak boleh memaksakan kehendak agar ia mengandung illat. Dalam kesimpulannya, penulis menyatakan bahwa khamer itu diharamkan karena memabukkannya dan biasa dikonsumsi. Padahal, mabuk dan biasa dikonsumsi bukanlah illat atas pengharaman khamer. Khamer itu diharamkan karena dzatnya itu sendiri, sedangkan mabuknya adalah hal lain Hurrimat al-khamrat li ainiha Kelima, kaedah jamu yang digunakan penulis lebih diarahkan untuk melindungi praktek-praktek yang sudah biasa berkembang dan berlangsung di tengah-tengah masyarakat; bukan untuk memahami dalil-dalil syara secara komprehensif dan sejalan dengan kaedah istinbath yang shahih. Ini terlihat dari pernyataannya, jika etanol yang diharamkan, padahal zat ini sering digunakan dalam praktek kedokteran (sterilasi), reaktan, pelarut, dan sebagainya, tentunya ini akan sangat menyulitkan, dan betapa banyak bahan pangan yang haram. Masalahnya, bukan menyulitkan atau tidak, tetapi seandainya ketentuan syariatnya memang begitu, tentunya praktek-praktek itu yang harus dihentikan, bukan menakwilkan dalil agar praktek-praktek itu berhukum halal, sehingga tidak menyulitkan. Jika menggunakan deduksi penulis, saya takut akan muncul fatwa, jika pabrik minuman keras

mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar, tentunya akan sangat menyulitkan jika pabrik minuman keras itu dilarang beroperasi. Sesungguhnya hukum harus ditetapkan berdasar dalil syara, bukan ditetapkan untuk menyelamatkan praktek-praktek yang sudah dianggap lumrah dan membudaya. Praktek-praktek yang bertentangan dengan hukum syariat-lah yang seharusnya diubah, bukan hukumnya yang diubah untuk menyesuaikan dengan fakta. Sesungguhnya, saat ini sudah banyak ditemukan pelarut-pelarut yang tidak kalah universalnya dengan etanol, jadi tidak ada lagi dalih menimbulkan kesulitan. Menjamukan Hadits Yang Berbicara Tentang Khamer Pada dasarnya, hadits-hadits yang berbicara tentang khamer dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, sedangkan yang lain tersubordinasi dalam dua kelompok hadits ini. 1. Hadits yang menunjukkan keharaman khamer dari sisi dzatnya; sebagaimana pengharaman daging babi. 2. Hadits yang menunjukkan keharaman khamer dari sisi sifatnya (ada illat). Kelompok Hadits Pertama, Keharaman Khamer Karena Dzatnya Sendiri, Bukan Karena Sifatnya Hadits-hadits yang termasuk dalam kelompok ini cukuplah banyak; misalnya: * Abu Aun al-Tsaqafi meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Syaddad dan Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw bersabda: Khamer itu diharamkan karena bendanya itu sendiri, sedangkan (diharamkan) mabuknya itu adalah karena hal lain. Nash ini tidak memerlukan takwil lagi bahwa khamer diharamkan karena dzatnya bukan karena sifat memabukkannya. * Dalam kitab Bidayatul al-Mujtahid, Ibnu Rusyd menyatakan, bahwa para ulama sepakat bolehnya minum khamer yang berubah menjadi cuka. Ini didasarkan pada hadits yang dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dari Anas bin Malik yang menceritakan bahwa Abu Thalhah bertanya kepada Nabi Saw tentang anak-anak yatim yang mendapatkan warisan khamer. Rasulullah Saw bersabda: Tumpahkanlah khamer itu. Abu Thalhah bertanya lebih lanjut, Apakah tidak boleh aku olah menjadi cuka. Nabi Saw berkata lagi, Jangan. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dan at-Tirmidzi. Hadits ini hanya menunjukkan larangan untuk mengolah khamer menjadi cuka. Akan tetapi bila khamer sudah berubah menjadi cuka, dibolehkan untuk diminum. Khamer yang berubah menjadi cuka tentu bukan khamer yang bermakna semua sifat yang memabukkan. Sebab, candu, ganja, opium dan lain-lain tidak bisa berubah menjadi cuka. Ini menunjukkan bahwa khamer adalah benda tersendiri. Dalam penelitian modern menunjukkan bahwa etanol (substansi dari khamer) memang bisa berubah menjadi cuka (asam asetat). * Diriwayatkan dari Ali r.a., bahwa Rasulullah Saw telah melarang mereka minum perahan biji gancum (bir) * Dalam al-Sunan terdapat hadits yang diriwayatkan dari Numan bin Basyir, bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya dari anggur itu bisa dibuat khamer, dan dari kurma itu bisa dibuat khamer, dari madu itu bisa dibuat khamer, dari gandum itu bisa dibikin khamer dan dari biji syair itupun bisa dibuat khamer. * Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab pernah berpidato sebagai berikut, Amma badu. Wahai manusia! Sesungguhnya telah diturunkan hukum yang mengharamkan khamer. Ia terbuat dari salah satu dari lima unsur; anggur, korma, madu, jagung, dan gandum. Khamer adalah sesuatu yang mengacaukan akal.; dan lain sebagainya. Hadits-hadits ini seluruh berbicara pada konteks pengharaman khamer dari sisi dzatnya, bukan sifatnya. Ini menunjukkan bahwa khamer adalah dzat tersendiri yang memiliki sifatnya menonjol, yakni memabukkan dan mengacaukan akal. Kelompok Hadits Kedua, Khamer Diharamkan Karena Sifatnya Yang Memabukkan dan Mengacaukan Akal Hadits-hadits yang terkategori kelompok ini sebagai berikut: * Khamer adalah sesuatu yang mengacaukan akal. [HR. Bukhari dan Muslim]. * Setiap yang memabukkan adalah haram. Allah berjanji kepada orang-orang yang meminum minuman yang memabukkan, bahwa Dia akan memberi mereka minuman dari thinah al-khabal. Ia bertanya, Apa itu thinah alkhabal, ya Rasulullah! Rasulullah Saw menjawab, Keringat ahli-ahli neraka atau perasan tubuh ahli neraka. [HR. Muslim]. * Imam Muslim dari Ibnu Umar dari Aisyah bahwa Nabi Saw bersabda: Setiap yang memabukkan adalah khamer dan setiap khamer adalah haram. * At-Tirmidzi dan an-Nasai meriwayatkan sebuah hadits: Minuman yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya juga diharamkan.

Hadits-hadits ini mengesankan bahwa khamer yang dilarang oleh syariat Islam adalah semua minuman yang memabukkan dan mengacaukan akalnya. Dengan kata lain, jika suatu produk mengandung sifat atau memiliki potensi memabukkan, maka produk itu terkategori sebagai khamer. Dari kelompok hadits ini, kita bisa menyimpulkan, bahwa gadung, kecubung, ganja, morpin termasuk khamer, karena sifatnya yang memabukkan. Jika dua kelompok hadits tersebut dipahami secara sepihak, tentunya, kesimpulannya akan tidak akan utuh dan sempurna. Bahkan, tindakan berdalil secara sepihak, dengan mengesampingkan hadits-hadits yang lain, termasuk perbuatan mengabaikan sabda Rasulullah Saw; dan hal ini adalah perbuatan haram. Oleh karena itu, diperlukan istinbath shahih untuk menggabungkan keseluruhan dalil-dalil tersebut, agar tidak satupun hadits yang terlantar atau terabaikan; dan agar kita bisa memahami secara sempurna apa yang dimaksud Rasulullah Saw dengan khamer. Pengumpulan (Jamu) Dua Kelompok Hadits; Metodologi Yang Seharusnya Ditempuh Jika kita teliti secara jernih dan mendalam dua kelompok hadits di atas, kita bisa menurunkan sebuah kompromi sebagai berikut: Pertama, yang dimaksud oleh syara dengan khamer yang dilarang untuk dikonsumsi adalah substansi dari sebuah benda tertentu; bukan sekumpulan benda yang membentuk makanan atau minuman tertentu seperti halnya pendapat penulis maupun sifat tertentu yakni menutupi akal atau memabukkan yang menyebabkan makanan atau minuman haram untuk dimakan. Akan tetapi, khamer adalah substansi dari sebuah benda. Ini didasarkan pada sebuah hadits Abu Aun al-Tsaqafi dari Abdullah bin Syaddad dan Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw bersabda: Khamer itu diharamkan karena bendanya itu sendiri, sedangkan (diharamkan) mabuknya itu adalah karena hal lain. Adapun hadits-hadits yang berada pada kelompok kedua, harus dipahami, bahwa memabukkan atau mengacaukan akal merupakan dampak lain dari meminum khamer. Tidak boleh dipahami, bahwa memabukkan dan mengacaukan akal adalah illat atau sebab diharamkannya khamer. Sebab, hadits-hadits kelompok kedua sama sekali tidak mengandung illat, baik yang ditunjukkan secara shurahah (jelas), dengan huruf-huruf illat, dilalah, istinbath, maupun qiyas. Oleh karena itu, memabukkan atau mengacaukan akal bukanlah illat pengharaman khamer, dan ia tidak boleh ditetapkan sebagai illat. Selain itu, jika memabukkan dan mengacaukan akal adalah illat dari pelarangan khamer, tentunya hukumnya keharaman khamer tidak berlaku bagi mereka yang tidak mabuk dan kacau akalnya jika mengkonsumsi khamer. Sebab, kaedah ushul fiqh tentang illat adalah, al-illatu tadru maa mall wujdan wa adaman (illat itu beredar bersama hukum ada atau tidak adanya). Jika penyebab pelarangan khamer, yakni memabukkan dan mengacaukan akal lenyap, maka keharamannya juga akan lenyap. Padahal, banyak orang minum khamer tapi tidak mabuk. Oleh karena itu, berapapun kadar khamer (etanol) yang diminum, maka hukumnya tetap haram. Pengharaman ini didasarkan pada dzatnya, bukan karena kuantitasnya. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan an-Nasai yang menyatakan, Minuman yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya juga diharamkan, hanya menegaskan keharaman khamer, bukan menunjukkan kuantitas khamer yang diharamkan. Artinya, berapapun kuantitas khamer yang diminum maka ia tetap haram. Jika tidak dipahami demikian, tentunya minuman yang diminum dengan dengan kuantitas yang banyak dan memabukkan, maka sedikitnya pun, walau tidak memabukkan adalah haram. Pemahaman semacam ini akan membawa konsekuensi, bahwa gadung, (sejenis umbian), kecubung, dan lain-lain yang jelas-jelas halalnya, akan berubah menjadi haram. Sebab, jika gadung dan lain-lain ini dikonsumsi dalam jumlah yang banyak ia akan memabukkan; namun tidak berarti sedikitnya juga haram (berdasarkan hadits at-Tirmidzi dan an-Nasai). Kedua; adapun, hadits yang berbicara mengenai juice yang berubah menjadi khamer selama lebih dari dua hari; sesungguhnya hadits ini pun tidak membatasi pelarangan khamer pada kadar tertentu, maupuan pelarangan khamer berdasarkan tenggat pembuatannya. Hadits ini harus dipahami, bahwa juice yang telah terfermentasi menjadi etanol (khamer) berapapun kadarnya dan dalam tenggat berapapun, maka juice itu telah berubah menjadi khamer. Adapun tenggat waktu dua hari yang dilakukan oleh Rasulullah Saw, sesungguhnya ini hanyalah tahqiq al-manath Rasulullah Saw mengenai khamer. Karena teknologi saat itu masih sangat sederhana, maka untuk mengenali khamer diperlukan suatu identifikasi yang bisa membuktikan (meskipun dengan dugaan kuat) bahwa juice itu telah mengandung etanol. Dan harus kita maklumi, bahwa etanol baru bisa diidentifikasi oleh Rasulullah Saw, setelah juice itu diperam selama lebih dari 2 hari atau setelah keluar gasnya; sebab; identifikasi yang dilakukan Rasulullah Saw masih bersifat manual (dicium baunya, keluar gasnya, atau dilihat penampilan). Wajar saja,. jika saat itu ditetapkan tenggat waktu perubahan juice menjadi khamer selama 2 hari. Jadi, hadits itu tidak membatasi secara

mutlak bolehnya minum juice sebelum hari ketiga, dan setelah itu tidak boleh; dengan alasan setelah hari ketiga kadar etanolnya telah cukup banyak. Akan tetapi, hadits itu hanya menunjukkan perkiraan atau identifikasi Rasulullah Saw mengenai munculnya etanol. Oleh karena itu, secara hukum, waktu 2 hari itu bukanlah taqyid, akan tetapi sekedar menunjukkan tahqiq, tidak lebih. Jika ada tahqiq al-manath yang lebih cermat, dan bisa dibuktikan dengan jalan penginderaan langsung atau tidak langsung, maka tahqiq yang cemerlang itu harus lebih diikuti. Ini berarti, jika identifikasi modern lebih cermat dibandingkan dengan identifikasi Rasulullah Saw, tentunya kita harus mengikuti tahqiq yang lebih cemerlang. Jadi walaupun pemeraman masih berjalan satu hari, akan tetapi, bila di dalamnya sudah teridentifikasi etanol dalam kadar berapapun, tentunya minuman itu tidak boleh dikonsumsi lagi. Masalah ini, seperti halnya dengan ketidaktepatan Rasulullah Saw dalam menetapkan tempat bertahan dalam perang Badar, atau ketidaktepatan Rasulullah Saw dalam kasus penyerbutkan kurma. Pada kasus perang Badar, tahqiq (identifikasi) Rasulullah Saw dikritik oleh Khubaib bin Mundzir. Sebab, menurut Khubaib ketetapan Rasulullah Saw itu tidak tepat, dan akhirnya Rasulullah Saw mengikuti identifikasi Khubaib. Demikian juga tatkala Rasulullah Saw menyarankan petani kurma untuk tidak menyerbuki kurmanya, ternyata hasilnya tidak memadai. Lantas, kejadian itu disampaikan kepada Rasulullah Saw, dan Nabi Saw berkata, Kamu lebih memahami urusan kalian. Oleh karena itu, hadits yang berbicara tentang juice yang diperam selama 3 hari, atau setelah keluar gasnya, sama sekali tidak menunjukkan taqyid hukum, akan tetapi hanya menunjukkan identifikasi yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Sedangkan identifikasi Rasulullah Saw bisa jadi kurang tepat, atau kurang valid. Lantas, bolehkah kita mengkritik identifikasi Rasulullah Saw dalam masalah ini? Jawabnya boleh. Sebab, dalam urusan seperti ini Rasulullah Saw memang tidak maksum, alias bisa jadi tidak tepat; seperti halnya kasus penyerbukan kurma, dan pertahanan di Perang Badar. Oleh karena itu, pelarangan khamer itu dikarenakan dzatnya itu sendiri, dan sama sekali tidak berhubungan dengan kuantitas & kadarnya, maupun tenggat waktu pembuatannya. Ketiga, di sisi yang lain, ada hadits-hadits dari Rasulullah Saw yang mengharamkan juice tanpa disertai dengan tenggat waktu. Diriwayatkan dari Ali r.a., bahwa Rasulullah Saw telah melarang mereka minum perahan biji gancum. Bukti lain yang mengukuhkan bahwa yang dimaksud khamer adalah etanol, adalah hadits yang berbicara perubahan khamer menjadi cuka. Hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa yang dimaksud khamer adalah alkohol (etanol). Sebab, yang alkohol yang bisa berubah menjadi cuka dalam kondisi biasa adalah etanol. Keterangan ini juga membantah pendapat penulis yang menyatakan bahwa yang dimaksud khamer adalah sekumpulan dzat yang satu sama lain memiliki sifat memabukkan, bukan etanolnya saja. Keterangan ini akan bertabrakan dengan fakta perubahan khamer menjadi cuka. Jika, yang dimaksud khamer adalah sekumpulan benda yang membentuk khamer, lantas pertanyaannya, apakah sekumpulan benda itu berubah semuanya menjadi cuka, ataukah etanolnya saja? Jawabnya, pasti cuka terbentuk dari etanolnya, bukan sekumpulan benda-benda itu tadi. Keempat, penulis juga beralasan, bahwa yang disebut khamer bukanlah etanol saja, akan tetapi sekumpulan benda (kalo mengikuti penjelasan penulis ratusan senyawa kimia). Etanol adalah salah satu komponen pendukung saja. Ia juga beralasan, bahwa tak seorangpun sanggup mengkonsumsi etanol murni; sebab mematikan (jika benar mematikan). Lantas, ia menarik kesimpulan bahwa etanol bukanlah khamer, jadi etanol tetap berhukum mubah, karena berlaku hukum tentang benda. Jawaban saya di atas sebenarnya sudah cukup untuk menjelaskan kesalahan penulis, akan tetapi perlu ditegaskan lagi, bahwa keberadaan etanol murni yang bersifat toxic (jika benar) jika dikonsumsi, tidak menafikan keberadaannya sebagai khamer. Sebab, semua orang tahu baik awam atau tidak, bahwa yang disebut minuman keras adalah minuman yang ditambahi etanol dengan kadar tertentu. Jika kita mengikuti pendapat penulis, berarti, hukum etanol mubah, sehingga ditambahkan dalam kadar berapapun dalam sebuah minuman, maka minuman harusnya tetap halal. Sebab, benda yang dihukumi halal berdasarkan dzatnya, selamanya tetap halal, kecuali jika ada sebab-sebab syari, misalnya mengandung bahaya, atau diperoleh dengan cara yang haram (mencuri dan sebagainya). Faktanya, minuman keras ilegal, dibuat dengan mencampurkan etanol (buatan pabrik atau lab) pada minuman tertentu. Seharusnya menurut penulis minuman itu tetap halal, sebab ditambahi dengan benda yang halal (etanol). Minuman itu tidak boleh dihukumi dengan hukum haram. Sebab, penambahan yang halal atas yang halal, berapapun jumlahnya tetap tidak mengubah hukum benda itu, maupun kumpulannya. Kopi ditambah air panas, ditambah gula, menjadi kopi panas, jadi tetap halal. Tapi, kopi panas, ditambah 5% etanol maka kopi itu menjadi haram. Mengapa, karena kopi itu telah mengandung etanol. Walhasil, kita tidak perlu lagi melihat darimana etanol itu diperoleh, baik dari bir, maupun buatan laboratorium dengan proses non fermentasipun, maka hukumnya tetap sama, yakni haram. Kelima, jika yang dimaksud khamer itu adalah sekumpulan dzat (air, glukosa, ragi (yeast), karbondioksida, dan sebagainya sampai 100 senyawa), tentunya jika salah satu komponen itu tidak ada, maka dzat itu tidak lagi disebut

khamer. Ini berkonsekuensi bahwa khamer yang dilarang hanyalah khamer yang dibuat di jaman Rasulullah Saw saja. Sebab, banyak pembuatan khamer di jaman modern yang secara struktur maupun kandungan dzat jelas-jelas berbeda dengan khamer di masa Rasulullah Saw. Padahal, semua orang sudah tahu, bahwa minuman greensand yang beralkohol 5% tetap disebut khamer dan diharamkan. Pada dasarnya, sebuah hukum hanya berlaku untuk sebuah kasus dan benda saja. Hukum yang berlaku atas sebuah benda, tidak bisa dianalogkan atau diterapkan pada benda lain yang berbeda senyawa dan strukturnya. Jika benda atau sekumpulan bendanya berbeda tentu saja hukum itu tidak bisa diterapkan. Padahal, penulis menyatakan, bahwa ia setuju bahwa khamer bisa dibuat dari bahan apapun, tidak harus seperti yang dicontohkan pada masa Rasulullah Saw. Keenam, adapun mengenai metanol, propanol, kloroform dan sebagainya yang memiliki potensi toxic, sesungguhnya benda-benda ini, adalah halal, pada asalnya. Sebab, tidak ada satupun dalil yang mengharamkannya; sehingga berlaku kaedah hukum asal benda yakni mubah. Oleh karena itu, ia boleh digunakan dalam konteks apapun, selain dikonsumsi. Keharaman untuk dikonsumsi didasarkan sabda Rasulullah, Tidak ada bahaya dan membahayakan di dalam Islam, bukan dikarenakan benda itu khamer. Sebab, benda-benda tersebut bukan khamer. Pengharamannya didasarkan pada adanya bahaya. Oleh karena itu, berlaku kaedah bagi benda, Hukum asal benda adalah boleh selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Jadi benda apapun, baik beracun atau tidak, hukum asalnya adalah mubah (selain khamer). Hanya saja, jika benda itu beracun dan mematikan jika dikonsumsi, maka ia haram untuk dikonsumsi, sebab, ia membahayakan hidup manusia. Sedangkan penggunaan benda tersebut untuk hal lain adalah mubah; misalnya untuk antiseptik atau strerilisasi alat-alat kedokteran. Ketujuh, jika demikian, tentunya manusia akan kesulitan dong, meninggalkan praktek-praktek yang banyak melibatkan etanol. Jawabnya, seorang muslim mesti menjunjung tinggi syariat di atas keinginan, kepentingan, dan kemashlahatannya. Seorang muslim pantang mengeluarkan pernyataan, Jika ini diharamkan tentunya akan menyulitkan kita. Sesungguhnya, saat ini sudah ditemukan pelarut-pelarut universal yang bisa menggantikan kedudukan etanol, sebagai pelarut universal. Selain itu, masih banyak alternatif bahan kimia yang bisa menggantikan peran etanol. Ini hanya masalah policy dari negara saja. Jika negaranya konsens dengan syariat tentu ia akan melindungi warganya dari perbuatan haram. Sayangnya, negara kita negara sekuler, dan pemimpinnya tidak care dengan syariat Islam. Kedelapan, adapun anggapan yang menyatakan, bahwa ada bahan-bahan makanan tertentu, atau buah-buahan alami yang mengandung alkohol (etanol) dengan kadar sangat sedikit, tentunya makanan-makanan tersebut harusnya diharamkan karena mengandung khamer (etanol). Dalam bahan-bahan makanan alami, yang terdeteksi itu bukanlah etanol, akan tetapi gugus OHnya (alkohol). Sebab, struktur kimia dalam makanan-makanan alami, jeruk, roti, dan lain-lain, pasti bersifat kompleks, dan tidak menunjuk pada struktur yang bersifat tunggal. Demikianlah, anda telah kami jelaskan syubhat mengenai khamer, dengan istinbath yang benar dan metodologi yang kokoh. Semoga tanggapan ini, mampu membukakan pintu kebenaran dan menyibak kebodohan; dan mampu merevisi pemahaman yang kurang tepat (komprehensif). Wallahu alam bi al-shawab [Syamsuddin Ramadhan]

ALKOHOL DALAM OBAT BATUK

HalalGuide-Batuk merupakan salah satu penyakit yang cukup sering dialami banyak kalangan. Sehingga batuk diidentikan sebagai reaksi fisiologik yang normal. Batuk terjadi jika saluran pernafasan kemasukan benda-benda asing atau karena produksi lendir yang berlebih. Benda asing yang sering masuk ke dalam saluran pernafasan adalah debu. Gejala sakit tertentu seperti asma dan alergi merupakan salah satu sebab kenapa batuk terjadi. Obat batuk yang beredar di pasaran saat ini cukup beraneka ragam. Baik obat batuk berbahan kimia hingga obat batuk berbahan alami atau herbal. Jenisnya pun bermacam-macam mulai dari sirup, tablet, kapsul hingga serbuk (jamu). Terdapat persamaan pada semua jenis obat batuk tersebut, yaitu sama-sama mengandung bahan aktif yang berfungsi sebagai pereda batuk. Akan tetapi terdapat pula perbedaan, yaitu pada penggunaan bahan campuran/penolong. Salah satu zat yang sering terdapat dalam obat batuk jenis sirup adalah alkohol. Temuan di lapangan diketahui bahwa sebagian besar obat batuk sirup mengandung kadar alkohol. Sebagian besar produsen obat batuk baik dari dalam negeri maupun luar negeri menggunakan bahan ini dalam produknya. Beberapa produk memiliki kandungan alkohol lebih dari 1 persen dalam setiap volume kemasannya, seperti Woods, Vicks Formula 44, OBH Combi, Benadryl, Alphadryl Expectorant, Alerin, Caladryl, Eksedryl, Inadryl hingga Bisolvon. Penggunaan alkohol dalam obat batuk merupakan polemik tersendiri, terutama di kalangan umat Islam. Bolehkah alkohol digunakan dalam obat batuk? Apakah sama statusnya dengan alkohol pada minuman keras? Sebenarnya apa sih fungsi alkohol ini? Menurut pendapat salah seorang pakar farmasi Drs Chilwan Pandji Apt Msc, fungsi alkohol itu sendiri adalah untuk melarutkan atau mencampur zat-zat aktif, selain sebagai pengawet agar obat lebih tahan lama. Dosen Teknologi Industri Pertanian IPB itu menambahkan, Berdasarkan penelitian di laboratorium diketahui bahwa alkohol dalam obat batuk tidak memiliki efektivitas terhadap proses penyembuhan batuk, sehingga dapat dikatakan bahwa alkohol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan frekuensi batuk yang kita alami. Sedangkan salah seorang praktisi kedokteran, dr Dewi mengatakan, Efek ketenangan akan dirasakan dari alkohol yang terdapat dalam obat batuk, yang secara tidak langsung akan menurunkan tingkat frekuensi batuknya. Akan tetapi bila dikonsumsi secara terus menerus akan menimbulkan ketergantungan pada obat tersebut. Berdasarkan informasi tersebut sebenarnya alkohol bukan satu-satunya bahan yang harus ada dalam obat batuk. Ia hanya sebagai penolong untuk ekstraksi atau pelarut saja. Sebenarnya pada kondisi darurat, obat yang mengandung bahan haram atau najis bisa digunakan. Definisi darurat dalam pandangan fiqih adalah bilamana nyawa seseorang sudah terancam dan pada kondisi tersebut tidak ada alternatif lain yang bisa menyembuhkannya. Pandangan darurat terhadap penggunaan alkohol dalam bahan obatobatan saat ini merupakan hal yang cukup penting. Terutama dikaitkan dengan status halal dan haramnya. Berdasarkan hasil rapat komisi fatwa pada bulan Agustus 2000 disebutkan bahwa semua jenis minuman keras haram hukumnya, segala sesuatu yang mengandung alkohol itu dilarang karena haram dan minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol minimal 1 persen, termasuk dalam obat-obatan, tak terkecuali obat batuk. Penggunaan alkohol berlebih akan menimbulkan efek samping. Chilwan Pandji mengatakan, konsumsi alkohol berlebih akan menimbulkan efek fisiologis bagi kesehatan tubuh, yaitu mematikan sel-sel baru yang terbentuk dalam tubuh. Selain itu juga efek sirosis dalam hati, dimana jika dalam tubuh manusia terdapat virus maka virus tersebut akan bereaksi dan menimbulkan penyakit hati (kuning). Selain haram, penggunaan alkohol dalam obat akan lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaatnya. Chilwan Pandji menambahkan bahwa pada saat ini telah ditemukan berbagai macam obat alternatif yang memiliki fungsi sama dengan obat batuk yang mengandung alkohol tersebut. Bahan obat batuk ini biasanya berasal dari tumbuhan atau sering disebut obat herbal, dimana diketahui tidak membutuhkan alkohol dalam pelarutan zat-zat aktif, tetapi dapat menggunakan air sebagai bahan pelarut. Obat batuk herbal yang berasal dari bahan alami ini pada dasarnya tidak berbahaya, dan dari segi kehalalannya sudah lebih dapat dibuktikan. Dengan banyaknya alternatif obat batuk non alkohol itu maka aspek darurat sudah tidak

bisa digunakan lagi. Oleh karena itu sebaiknya kita cari obat batuk non alkohol dan mulai meninggalkan yang beralkohol. Dengan demikian obat yang kita konsumsi terbebas dari bahan haram dan najis. APAKAH KESEHATAN ITU ?

Pekerjaan kefarmasian tidak dilakukan dalam ruang hampa tapi dalam lingkungan kesehatan. Kesehatan adalah suatu konsep luas dimana dapat menjadi suatu kisaran pengertian yang lebar dari teknis sampai ke moral dan filosofi. Definisi Kesehatan menurut konsep Konstitusi WHO tahun 1946 adalah keadaan sempurna fisik, mental dan sosial, tidak adanya penyakit atau kelemahan. Setelah beberapa tahun WHO mendiskusikan lagi dan mendefinisikan kesehatan sbb :Keadaan dimana seorang individu atau kelompok dapat merealisasikan aspirasinya dengan kebutuhan yang layak dan dapat melakukan perubahan / mengatasi kesukaran dari lingkungan. Kesehatan merupakan suatu sumber daya yang penting dalam kehidupan sehari-hari, bukan objek kehidupan dan merupakan suatu konsep positif yang mengutamakan sumber daya personal dan sosial. Manfaat Madu untuk Jerawat dan Wax Tips

photo credit: delphaberGara-gara nonton video ini di YouTube gue jadi tahu bahwa madu itu bagus banget buat dijadiin masker muka (katanya karena mengandung antiseptic dan antioksidan). Ceritanya karena sedang masa detox dan kebetulan lagi period pula, tiba-tiba dagu gue jadi bengkak karena jerawat-jerawat ngumpul jadi satu di situ. Setelah dikompres pake es batu dan sama sekali nggak mengurangi sakit, merah ataupun bengkaknya, akhirnya gue coba pake madu.What you must do is: Beli madu Panaskan madu dengan microwave atau di kompor selama 5 10 detik Dinginkan dulu 3 5 menit Pakai kuas (atau kalo nggak punya kuas bisa pake cotton bud hehe) untuk mulai maskerin muka Mulai taruh madu di daerah yang berjerawat dulu kemudian lanjut ke seluruh muka Tiduran selama 15 30 menit And thats all! Gue maskeran 2x sehari, baru 3 hari aja sudah sangat membantu proses pengempesan jerawat. Oh ya, katanya madu campur bubuk kayu manis, dimaskerin sebelum tidur dan dipake semaleman, juga bagus. Tapi rada repot juga ya ntar belang bentong sepreinya :DSetelah maskeran, awalnya gue cuci muka pake air. Dan

ternyata agak tricky gitu, lengket-lengket, and masi ada aja yang nempel. Trus gue coba pake tissu (tissuenya di tempelin, trus diangkat pelan-pelan). Eh malah ke angkat dengan bersih.Nah, yang menarik, karena kadangkadang tissue juga nempel di muka, gue coba pake kain gitu. Kali ini setelah kain ditempel di muka, langsung gue tarik keras-keras. Busyet bulu muka ada yang keikut. Wah ternyata ini bisa jadi wax juga :DBesoknya gue uji cobakan pada teman gue yang berbulu kaki lumayan sangar hihi dia-yang-tidak-bisa-disebutkan-namanya ini gue lumuri kakinya dengan madu, gue tempelin kain, trus karena gue nggak tega, akhirnya dia tarik sendiri (ke arah atas). Dan hasilnya amazing kakinya mulus sejahtera! Bukan sulap bukan sihir! Ini pencerahan! Jadi ga perlu beli obat perontok buku atau beli razor lagi dong UPDATE: Pakai madu biasa memang manjur, tapi masker pake madu propolis lebih dahsyat lagi. Yang ini nggak perlu dipanasin. Muka kita aja di uapin dulu biar terbuka pori-porinya, trus kita maskerin deh madu propolis asli selama 15 20 menit. Trus bilas. Dijamin wajah halus dan jerawat mengering tanpa membuat kulit iritasi ^^

Kandungan dan Manfaat Madu Madu memiliki kandungan yang sangat banyak dan bermanfaat bagi manusia. Kandungan yang terdapat dalam madu yaitu: gula (glukosa dan fruktosa), beragam mineral (kalsium, potassium, magnesium, sodium klorin, sulfur, besi dan fosfor) dan vitamin-vitamin (B1, D2, B3, B5, B6 dan C). Madu juga mengandung sejumlah kecil dari beberapa macam hormon, tembaga, iodium dan zinc, dengan kata lain hampir segala yang diperlukan tubuh manusia. Madu melindungi tubuh dari keluhan penyempitan kapiler (capilerllary) dan arteriosklerosis (saluran darah ke jantung) dan juga membunuh bakteri. Bila diminum bersama air sejuk, madu menyatu ke dalam aliran darah hanya dalam waktu tujuh menit, dengan demikian merupakan unsur penyembuh cepat dan bagus untuk tubuh. Madu juga sangat mujarab dengan kandungan kualitas antiseptik. Manfaat madu antara lain: menambah daya tahan tubuh, menambah gairah seksual, memperbanyak produksi ASI, menyembuhkan darah tinggi, melancarkan darah dan urine, menyembuhkan panas dalam, mengobati reumatik, memperlancar fungsi otak, menyembuhkan luka bakar, baik untuk perawatan kulit, mengobati sinusitis, flu, batuk, dll. anfaat Madu Untuk Kecantikan oleh : tedifa Pengarang : Teguh Vedder Summary rating: 3 stars (46 Tinjauan) Kunjungan : 8010 kata:600 Comments : 0 1.Mandi Madu: Untuk mendapatkan aroma yang manis dan kulit lembut, tambahkan hingga cangkir madu di air mandi Anda. 2. Masker Madu: Oleskan madu murni pada wajah Anda dan biarkan selama kira-kira 15 menit, hingga mongering. Setelah kering, basuhlah wajah Anda dengan air hangat. 3. Mandi Untuk Kulit Berkilau: Untuk melembabkan, melembutkan dan membuat kulit berkilau, bawa serta sebotol madu saat Anda mandi. Oleskan ke kulit dan tepuk-tepuk dengan kedua tangan hingga mengering. Sementara menepuk-nempuk kulit, madu akan lengket di kulit Anda. Basuhlah bekas madu yang lengket tersebut setelah Anda selesai. Dan Anda bisa menikmati hasilnya dengan kulit yang nampak cantik nan cerah!!! 4.Scrub Madu: Campurkan 1 sendok teh madu dengan seikit tepung almond ke telapak tangan Anda. Gosokan perlahan ke wajah sebagai scrub wajah. Lalu basuh wajah Anda dengan air hangat untuk mengangkat madu. 5. Conditioner Rambut: Untuk menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala, campurkan cangkir madu dan satu sendok malan minyak zaitun. Oleskan merata ke rambut dan kulit kepala, lalu ambil penutup rambut dan biarkan

selama 30 menit dalam keadaan tertutup. Setelah 30 menit, keramasi dengan shampo dan bilas rambut Anda seperti biasa. 6. Pembersih Wajah Setiap Hari: Campurkan 1 sendok makan madu dengan sedikit susu bubuk di telapak tangan. Oleskan di wajah untuk membersihkan semua kotoran dan make-up, dan lalu basuh hingga bersih dengan air hangat. 7. Rambut Berkilau: Untuk membuat rambut Anda berkilau, campurkan 1 sendok makan madu, perasan satu jeruk nipis, dan sedikit air hangat. Bilas rambut Anda dengan shampo seperti biasa dan lalu tuangkan campuran tadi pada rambut. Keringkan rambut dengan cara biasa. 8. Toner Kulit: Untuk mengencangkan, melembutkan dan melembabkan kulit, campurkan 1 buah kulit jeruk ditambah satu sendok makan madu dalam blender hingga halus. Gosokan perlahan campuran madu tadi ke wajah dan biarkan selama 15 menit. Lalu basuh wajah Anda dengan air hangat untuk membersihkan campuran tadi. Jika Anda mau sedikit repot, dengan tips yang kami berikan di atas Anda dapat menciptakan produk-produk bak spa di rumah. Madu memang produk yang paling luar biasa untuk kecantikan dimana didalamnya terkandung enzyme bermanfaat, vitamin dan mineral. Tapi, sebelum Anda melakukan eksperimen, sebaiknya pastikan produk madu yang Anda beli 100% murni. Dan bagi Anda yang alergi pada madu, sebaiknya jangan mencoba resep ini.

susu
Susu biasanya dikenal sebagai minuman penguat tulang dan gigi karena kandungan kalsium yang dimilikinya. Tetapi, sebenarnya ada banyak kandungan nutrisi yang ada, misalnya fosfor, zinc, vitamin A, vitamin D, vitamin B12, vitamin B2, asam amino dan asam pantotenat. Tentu kandungan nutrisi ini bermanfaat untuk menunjang kesehatan tubuh Anda. Manfaat Susu Karena memiliki kandungan nutrisi tersebut, maka susu memiliki manfaat yang tidak sedikit, diantaranya: Mencegah osteoporosis dan menjaga tulang tetap kuat. Bagi anak-anak, susu berfungsi untuk pertumbuhan tulang yang membuat anak menjadi bertambah tinggi. Menurunkan tekanan darah. Mencegah kerusakan gigi dan menjaga kesehatan mulut. Susu mampu mengurangi keasaman mulut, merangsang air liur, mengurangi plak dan mencegah gigi berlubang. Menetralisir racun seperti logam atau timah yang mungkin terkandung dalam makanan. Mencegah terjadinya kanker kolon atau kanker usus. Mencegah diabetes tipe 2. Mempercantik kulit, membuatnya lebih bersinar. Membantu agar lebih cepat tidur. Hal ini karena kandungan susu akan merangsang hormon melatonin yang akan membuat tubuh mengantuk. Jenis Susu Jenis-jenis susu yang tersedia di pasaran juga bermacam-macam. Ada istilah-istilah yang dikatakan sebagai zat yang terkandung dalam susu yang mungkin belum Anda ketahui. Beberapa istilah tersebut yaitu: Full cream Mengandung 4% lemak dan umumnya banyak mengandung vitamin A dan vitamin D. Low fat Susu rendah lemak, karena kandungan lemaknya hanya setengah dari susu full cream. Skim Susu yang kandungan lemaknya lebih sedikit lagi, kurang dari 1%. Susu evaporasi

Yaitu susu yang telah diupkan sebagian airnya sehingga menjadi kental. Mirip dengan susu kental manis, tetepi susu jenis ini rasanya tawar. Susu pasteur Susu yang melalui proses pasteurisais (dipanaskan) 65 sampai 80 C selama 15 detik untuk membunuh bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit. Flavoured Sebenarnya susu full cream atau low fat yang ditambahkan rasa tertentu untuk variasi. Misalnya susu coklat, strawberry, pisang, dan rasa lainnya. Umumnya memiliki kandungan gula yang lebih banyak karena penambahan rasa ini. Calcium enriched Susu yang ditambah dengan kandungan kalsium dan kandungan lemaknya telah dikurangi. UHT Merupakan singkatan dari Ultra-High Temperature-Treated. Susu jenis ini adalah susu yang dipanaskan dalam suhu tinggi (140 C) selama 2 detik yang kemudian langsung dimasukkan dalam karton kedap udara. Susu ini dapat disimpan untuk waktu yang lama. CLA Susu ini bermanfaat bagi orang yang ingin merampingkan tubuh. Kepanjangan dari CLA adalah Conjugated Linoleic Acid yang akan membantu dalam pembentukan otot dan mempercepat pembakaran lemak. Mengapa Minum Susu? Walaupun memiliki banyak manfaat, tetapi banyak orang yang enggan minum susu. Ini terlihat dari minimnya konsumsi susu masyarakat Indonesia per tahunnya. Salah satu alasan yang sering dikemukan adalah mahalnya harga susu. Untuk harga susu, sebenarnya ada banyak susu yang harganya telah disesuaikan. Dan mengingat banyak nutrisi yang dikandungnya, maka yang diperlukan adalah menanamkan kesadaran akan manfaat susu agar masyarakat dapat mengkonsumsi dan tidak menganggapnya sebagai barang mahal. Alasan lainnya adalah tidak suka minum susu karena membuat mual atau sakit perut sehabis minum susu. Bila Anda merasa sakit perut setelah minum susu, berarti Anda menderita intoleransi laktosa. Penyebabnya karena kurangnya produksi laktase dalam tubuh. Laktase adalah enzim yang dihasilkan usus kecil yang berfungsi memecah laktosa yang terkandung dalam susu agar dapat diserap oleh tubuh. Tetapi bagi penderita intoleransi laktosa, proses pemecahan laktosa tidak berlangsung sempurna sehingga laktosa yang tidak tercena akan masuk dalam usus besar dan dicerna oleh bakteri yang ada di dalamnya sehingga menyebabkan perut kembung, berisi banyak gas, dan diare. Sebagai solusi dari perasaan mual atau sakit perut, Anda dapat mengganti susu dengan produk olahan susu seperti keju, yoghurt, es krim, susu evaporasi atau susu kedelai yang tidak mengandung laktosa. Beberapa produsen susu juga telah membuat susu tanpa laktosa yang dapat dikonsumsi oleh pendeita "intoleransi laktosa". Bila Anda hendak mengkonsumsi susu, sebaiknya Anda tidak menggunakan susu kental manis karena susu jenis ini kandungan nutrisinya lebih rendah akibat proses pembuatannya juga banyak mengandung lemak dan gula yang kurang baik untuk tubuh. Konsumsi susu yang dianjurkan adalah 3 porsi setiap hari. Satu porsi yang dimaksud adalah 250 ml susu yang setara dengan 35 gram keju atau 200 gram yoghurt atau 200 gram es krim. Jadi, tidak ada alasan bagi Anda untuk tidak minum susu bukan? Apa Khasiat Susu dan daging Kambing? Susu kambing memang memiliki karakteristik yang berbeda dengan susu sapi, ataupun air susu ibu (ASI). Susu kambing memiliki daya cerna yang tinggi, memiliki tingkat keasaman yang khas, memiliki kapasitas bufer yang tinggi dan dapat digunakan untuk mengobati penyakit tertentu. Daging kambing sudah sangat populer bagi masyakarat. Berbagai macam jenis makanan tradisional diolah dari daging kambing seperti misalnya sate, sop, gulai, dan kare. Walaupun demikian, seringkali daging kambing dituding sebagai penyebab darah tinggi dan sakit jantung. Berikut disajikan nilai nutrisi, kelebihan dan kelemahan susu dan daging kambing. Susu kambing banyak direkomendasikan sebagai bahan substitusi bagi bayi, anak, dan orang dewasa yang alergi terhadap susu sapi ataupun berbagai jenis makanan lainnya. Pada bayi, alergi terhadap susu sapi (cow milk allergy) banyak dijumpai, akan tetapi mekanisme terjadinya alergi masih belum jelas. Bagi bayi yang alergi terhadap susu

sapi jika diberikan susu sapi terus-menerus akan menyebabkan reaksi pembesaran lamina propia dan peningkatan permeabilitas molekur makro dan aktivitas elektrogenik lapisan epitel. Gejala klinis seperti ini akan hilang jika bayi tersebut diberikan makanan bebas susu sapi. Jadi, potensi susu kambing sebagai pengganti susu sapi pada bayi ataupun pasien yang alergi terhadap susu sapi sangatlah besar. Gejala alergi terhadap protein susu biasanya timbul pada bayi yang berumur dua sampai empat minggu, dan gejalanya akan semakin jelas pada saat bayi berumur enam bulan. Bagian tubuh yang terserang alergi ini adalah saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan kulit. Gejala-gejala yang tampak akibat alergi terhadap protein susu di antaranya muntah, diare, penyerapan nutrisi yang kurang sempurna, asma, bronkitis, migren, dan hipersensitif. Gejala patologis yang terlihat pada bayi yang alergi terhadap susu sapi di antaranya iritasi usus halus, lambat pertambahan bobot badannya, volume feces yang berlebihan, dan bau yang khas. Akan tetapi, perlu diingat bahwa sering kali gejala ini dicampuradukkan dengan gejala tidak tolerannya seseorang terhadap laktose (lactose intolerance). Kelebihan susu kambing Susu kambing dilaporkan telah banyak digunakan sebagai susu pengganti susu sapi ataupun bahan pembuatan makanan bagi bayi-bayi yang alergi terhadap susu sapi. Alergi pada saluran pencernakan bayi dilaporkan dapat berangsur-angsur disembuhkan setelah diberi susu kambing. Dilaporkan bahwa sekitar 40 persen pasien yang alergi terhadap protein susu sapi memiliki toleransi yang baik terhadap susu kambing. Pasien tersebut kemungkinan besar sensitif terhadap lactoglobulin yang terkandung pada susu bangsa sapi tertentu. Diduga protein susu (-lactogloglobulin yang paling bertanggung jawab terhadap kejadian alergi protein susu. Susu kedelai sering pula digunakan sebagai salah satu alternatif pengganti susu sapi bagi bayi yang alergi terhadap susu sapi. Walaupun demikian, masih terdapat sekitar 20 persen-50 persen dari bayi-bayi yang diteliti memperlihatkan gejala tidak toleran terhadap susu kedelai. Oleh sebab itu, susu kambing bubuk lebih direkomendasikan untuk susu bayi. Panas yang digunakan selama proses pengolahan susu mengurangi reaksi alergi. Denaturasi panas merubah struktur dasar protein dengan cara menurunkan tingkatan alerginya. Susu kambing mengandung lebih banyak asam lemak berantai pendek dan sedang (C4:0-C12:0) jika dibandingkan dengan susu sapi. Perbedaan ini diduga menyebabkan susu kambing lebih mudah dicerna. Ukuran butiran lemak susu kambing lebih kecil jika dibandingkan dengan susu sapi atau susu lainnya. Sebagai gambaran ukuran butiran lemak susu kambing, sapi, kerbau, dan domba bertutur-turut adalah: 3,49, 4,55, 5,92, dan 3,30 mm. Dari hasil penelitian Mack pada tahun 1953 disimpulkan bahwa kelompok anak yang diberi susu kambing memiliki bobot badan, mineralisasi kerangka, kepadatan tulang, vitamin A plasma darah, kalsium, tiamin, riboflavin, niacin, dan konsentrasi hemogloninnya yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok anak yang diberi susu sapi. Disamping itu, susu kambing memiliki kapasitas bufer yang lebih baik, sehingga bermanfaat bagi penderita gangguan pencernaan. Kandungan folic acid dan Vitamin B12 yang rendah merupakan kelemahan susu kambing. Selain kelemahan ini, susu kambing dapat dikatakan merupakan makanan yang sempurna. Penyakit cardiovascular? Berdasarkan publikasi yang dilakukan oleh USDA, daging kambing mentah memiliki kandungan lemak 50 persen65 persen lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi, akan tetapi kandungan proteinnya hampir sama. Daging

kambing juga memiliki kandungan lemak 42 persen-59 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan daging domba. Hal yang sama juga dilaporkan untuk daging yang sudah dimasak. Disamping itu, persentase lemak jenuh daging kambing 40 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan daging ayam (tanpa kulit) dan masing-masing 850 persen, 1.100 persen, dan 900 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan daging sapi, babi, dan domba. Berdasarkan hasil penelitian Devendra, asam lemak yang terkandung pada daging kambing sebagian besar (68,572,3 persen) terdiri dari lemak tidak jenuh. Daging kambing mengandung asam lauric, myristic, dan palmitic yang merupakan asam lemah tidak jenuh yang tergolong kedalam kelompok nonhypercholesterolemic masing-masing sebanyak 2,0, 2,6, dan 27,6 persen. Disamping itu, daging kambing mengandung asam lemak tidak jenuh oleic (C:18.1) sebanyak 30,1-37,0 persen, linoleic (C18.2) sebanyak 13,4 persen, dan linolenic (C:18.3) sebanyak 0,4 persen. Kandungan kolesterol daging kambing ternyata hampir sama dengan daging sapi, domba, babi, dan ayam dan lebih rendah jika dibandingkan dengan beberapa produk susu dan daging ayam olahan dan makanan asal laut. Daging kambing mengandung kolesterol sebanyak 76 mg persen, sedangkan untuk daging sapi, ikan dan domba adalah 70 mg persen. Kandungan kolesterol daging babi dan ayam adalah 60 mg persen. Tingkatan kolesterol darah kita kurang tergantung pada kolesterol yang terkandung pada makanan yang kita konsumsi. Kandungan kolesterol dalam darah lebih banyak tergantung pada jumlah asam lemah jenuh yang kita konsumsi, terutama rasio antara lemak polysaturated terhadap lemah jenuh. Oleh sebab itu, untuk mengontrol tingkat kolesterol darah akan lebih efektif dilakukan dengan cara mengurangi konsumsi makanan yang mengandung asam lemak jenuh. Asam lemak polysaturated dan asam lemak monosaturated berada dalam kondisi tidak terlalu padat suhu ruang, sehingga tidak jarang kita melihat ada tetesan lemak pada karkas kambing yang digantung. Pengamatan terhadap tetesan lemak ini dapat digunakan sebagai salah satu metode sederhana untuk menentukan derajat kejenuhan lemak. Hasil penelitian seperti yang telah dijelaskan di atas menunjukkan bahwa kambing tanpa mempertimbangkan umur, bangsa, dan daerah pemeliharaannya berperan dalam menyediakan daging berkualitas tinggi dan juga sumber lemak yang sehat dengan risiko mengonsumsi kolesterol yang minimum. Disamping itu, daging kambing mengandung lebih banyak zat besi, potassium, dan tiamin yang berhubungan dengan kandungan garam yang lebih rendah. Daging kambing mengandung semua asam amino esensial dan mengandung lebih rendah kalori. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa susu dan daging kambing tergolong ke dalam bahan makanan yang bersahabat dan sehat untuk dikonsumsi, asalkan saja tidak secara berlebihan

Susu Kambing, Sunnah Rasulullah yang Telah Dilupakan


Susu kambing adalah minuman yang tidak kalah bergizinya dibandingkan dengan susu sapi. Bahkan keluhankeluhan kesehatan yang sering dijumpai akibat minum susu sapi tidak pernah ditemui beritanya pada orang-orang yang mengkonsumsi susu kambing. Susu kambing dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang mempunyai alergi terhadap susu sapi. Boleh jadi itulah hikmahnya mengapa dalam riwayat-riwayat shahih tentang kehidupan Nabi Muhammad saw dan sahabatsahabatnya kita temui kisah mereka minum susu kambing, dan bukan susu sapi!

Namun, manfaat susu kambing sayangnya masih belum disadari oleh kebanyakan kaum muslimin termasuk bangsa Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbanyak di dunia. Sebagaimana di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat, di Indonesiapun susu sapi dan berbagai produk olahannya lebih memasyarakat dan lebih mudah dijumpai di pasaran dibandingkan dengan susu kambing. Sunnah Rasulullah yang telah dilupakan Rasulullah saw. pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dalam HR. Muslim bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan pada akhirnya akan datang suatu masa di mana Islam akan menjadi asing kembali. Karena dalam memahami dan mempraktekkan ajaran-ajaran Islam seorang muslim diperintahkan Allah SWT. untuk meneladani Rasulullah saw. (QS. 33: 21)[1], maka dalam sejarahnya terdapat pula masa di mana praktek meneladani semaksimal mungkin seluruh sikap dan perilaku sehari-hari Rasulullah termasuk kebiasaan makan dan minumnya mengalami masa awal yang asing dan masa kemudian yang asing pula. Di antara jenis minuman yang biasa diminum oleh Rasulullah saw. adalah susu kambing segar, yakni langsung diminum sesudah diperah dari ambing kambing (kisah Abdullah bin Masud pada masa remaja saat dia menggembalakan kambing milik Uqbah bin Muaith)[2]. Namun, berapa persen dari penduduk muslim di seluruh dunia ini terlepas dari kemampuan ekonominya yang punya kebiasaan minum susu kambing? Atau lebih spesifisik lagi: berapa persen dari seluruh kaum muslimin di dunia ini yang tahu akan manfaat susu kambing? Sulit untuk menemukan adanya data statistik aktual tentang jumlah konsumsi susu kambing di seluruh dunia, apalagi di negara-negara yang penduduknya sebagian besar muslim karena pada umumnya data internasional tentang produksi, konsumsi dan kebutuhan susu ternak yang didokumentasikan dengan baik adalah untuk susu sapi[3]. Bahkan tidak ada data dunia untuk jumlah populasi ternak ruminant kecil (kambing dan domba) yang dibedakan tujuan produknya (sebagai pemasok daging, serat wol, kulit ataukah susu). Namun, dari data yang tersedia3 nampak bahwa produsen susu kambing yang paling produktif (dalam kg susu/ekor/tahun) di dunia adalah negara Eropa Barat dan Timur yang sebagian besar penduduknya non-muslim seperti misalnya Perancis (400), Rusia (125), Spanyol (121), Italia (115), dan Yunani (78). Sedangkan di negaranegara yang mayoritas penduduknya muslim seperti Aljazair (47), Irak (35), Sudan (31), Turki (30), Pakistan (17) dan Indonesia (15) produktifitas susu kambingnya sangat rendah. Juga dari muamalah penulis dengan sesama muslim, baik bangsa sendiri maupun bangsa asing yang tinggal di Jerman, dan dari pengamatan terhadap ketersediaan susu sapi dan susu kambing di pasar, toko maupun pusat-pusat perbelanjaan diduga kuat bahwa jawaban atas kedua pertanyaan di atas adalah: tidak banyak. Sebagaimana di berbagai aspek kehidupan lainnya (politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan/keamanan) rupanya dalam hal kebiasaan makan dan minumpun kaum muslimin masih dikuasai oleh arus pemikiran dan politik negara-negara barat. Padahal Allah SWT. telah berfirman dalam Al Quranul Karim: Maka makanlah yang halal lagi baik (thoyyib) dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah (QS. 16 :114). Kebanyakan kaum muslimin baru tiba pada tahap halal, belum sampai tahapan thoyyib. Padahal kalau kita menganalogikan dengan kedudukan sholat wajib dan membayar zakat yang selalu diperintahkan Allah secara bersama-sama dalam sebuah ayat (contohnya di dalam QS. 2: 83, 5: 12, 19: 55 dan 21: 73) untuk menunjukkan pentingnya hal yang kedua yang tidak dapat dipisah-pisahkan dari hal yang pertama (riwayat Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. memerangi kaum muslimin yang enggan membayar zakat meskipun mereka tidak meninggalkan sholat)[4], maka semestinya pengetahuan mengkonsumsi makanan dan minuman yang thoyyib pun tidak boleh dipisahkan dari yang halal. Maka hendaknya kita tidak berpuas diri dengan mengetahui makanan dan minuman yang halal saja, melainkan hendaknya kita juga menambah pengetahuan kita akan ke-thoyyib-an makanan dan minuman halal, termasuk susu. Kontroversi Susu Kambing dan Susu Sapi

Pada umumnya konsumsi susu ternak dianjurkan karena potensinya sebagai sumber protein dan kalsium yang sangat penting bagi kesehatan manusia. Bahkan sebagai sumber kalsium - dengan pola makan masyarakat yang umumnya sangat kurang konsumsi sayur segarnya - nyaris susu tak bisa digantikan dengan bahan makanan lainnya[5]. Oleh karena itu, pada umumnya ahli pangan dan gizi sangat menganjurkan untuk minum susu setiap hari. Namun, seorang ahli pangan yang sangat memperhatikan pengaruh pola makan terhadap kesehatan dan proses timbul dan sembuhnya berbagai macam penyakit, Norman W. Walker telah membuktikan bahwa susu kecuali susu kambing segar adalah bahan makanan yang paling banyak menimbulkan lendir di dalam tubuh manusia[6]. Beliau juga mengamati bahwa susu yang paling cocok untuk dikonsumsi manusia (selain bayi yang belum lepas dari air susu ibu) adalah susu kambing segar. Dinyatakannya pula bahwa pemanasan di atas suhu 48C justru merusak nilai fisiologis susu kambing dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan karena merangsang timbulnya lendir yang berlebihan suatu hal yang sangat kontroversial bagi ahli gizi dan teknologi pengolahan pangan pada umumnya. Di antara gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari mengkonsumsi susu sapi adalah kegemukan, asma, infeksi paru-paru, pilek alergi (misal alergi serbuk sari) dan tuberkulosis6, meskipun pada umumnya ahli gizi dan dokter berpendapat bahwa susu sapi dapat menjadi bahan makanan sumber berbagai macam antibodi untuk melawan penyakit[7]. Allah SWT. telah berfirman bahwa susu adalah minuman yang disediakan-Nya bagi manusia (QS. 16: 66, 23: 21). Allah juga menyebutkan bahwa minuman susu itu mudah ditelan oleh manusia. Dalam istilah ilmu gizi tentunya mudah ditelan ini maksudnya adalah mempunyai arti fisiologis yang baik. Tidak mungkin Allah menjerumuskan hamba-hamba-Nya dengan menunjukkan sumber minuman yang justru menimbulkan berbagai macam penyakit. Maka dalam kontroversi manfaat ataukah kerugian yang akan kita rasakan sesudah mengkonsumsi susu sapi perlu dikaji secara menyeluruh, bukan hanya untuk satu jenis gangguan kesehatan semata. Kalau dikatakan susu sapi bisa menjadi sumber antibodi untuk melawan penyakit tertentu, sedangkan di sisi lain status kesehatan orang yang bersangkutan tidak dimonitor secara menyeluruh (misal alergi tetap ada dan berat badan semakin bertambah tanpa bisa dikontrol), maka boleh jadi memang ada manfaat dari susu sapi bagi kesehatan manusia di samping banyak mudhorot yang ditimbulkannya. Ini mirip dengan yang telah berlaku bagi minuman keras (khamr), tapi dalam khamr ini Allah jelas-jelas telah membongkar rahasianya dengan berfirman bahwa di dalam khamr memang bisa ditemui ada manfaatnya (paradoks Perancis dengan khamr anggur merahnya), namun kemudhorotannya jauh lebih besar. Dengan demikian maka besarnya konsumsi susu sapi oleh kaum muslimin selama ini bisa jadi hanya disebabkan oleh keterbatasan ilmu manusia yang keliru dalam menafsirkan ayat tentang susu dalam Al Quran sebagai susu ternak apa saja termasuk sapi, sedangkan seharusnya adalah susu kambing. Bukti-bukti ilmiah tentang manfaat susu kambing terhadap kesehatan sebetulnya telah diperoleh manusia 3,6,[8],[9] hanya saja secara umum publikasinya masih kalah dibandingkan dengan susu sapi3. Kesiapan Teknologi Pendukung Produksi Susu Kambing Sesudah mengetahui sangat banyaknya manfaat susu kambing dibandingkan dengan susu sapi, maka tentu timbul pertanyaan: Mengapa di Indonesia sulit dijumpai produk susu kambing di toko-toko atau di supermarketsupermarket? Bukankah kambing bisa hidup di iklim negara kita? Apakah memang budidaya kambing itu sulit alias tidak prospektif dari sudut pandang ekonomi? Telah diteliti bahwa budidaya kambing sangat potensial dan realistis untuk dikembangkan di negara-negara yang sedang berkembang dengan iklim tropis3. Dari Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Ternak di Bogor dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan di Indonesia sangat cocok bagi budidaya kambing dari jenis yang bisa dijadikan sekaligus pemasok susu dan daging, yakni peranakan antara kambing kacang dan kambing Etawah yang berasal dari India dan dikenal dengan kambing PE[10]. Dalam laporan penelitian itu disarankan agar ternak kambing yang jantan dibesarkan untuk dimanfaatkan dagingnya, sedangkan ternak yang betina dibesarkan untuk diambil susunya. Diperhitungkan bahwa satu ekor kambing PE dapat mencukupi kebutuhan protein hewani asal susu untuk sebuah keluarga dengan 5 orang anggota keluarga. Budidaya kambing PE ini sudah menunjukkan keberhasilan di beberapa daerah sehingga sangat potensial untuk dijadikan proyek nasional bagi negara kita yang mayoritas penduduknya

masih sangat rendah status gizi dan kemampuan ekonominya. Jadi, apa lagi yang perlu kita tunggu? Di satu sisi kita dapat menaikkan taraf kesehatan masyarakat dengan menyediakan sumber protein hewani yang halal dan thoyyib, dan menaikkan taraf ekonomi rakyat di pedesaanpedesaan melalui usaha budidaya kambing ini. Di sisi lain kita dapat melestarikan salah satu sunnah Rasulullah yang telah banyak dilupakan orang di negara yang mayoritas penduduknya muslim. Kita bisa mengambil pelajaran dari negara tetangga kita Malaysia yang telah sukses lebih dahulu dalam mempromosikan pentingnya peran susu kambing ini secara profesional[11]. Oleh karena itu sudah saatnya para ahli teknologi pengolahan pangan, ahli gizi, ekonom, ahli budidaya ternak dan jajaran pimpinan di pemerintahan memikirkan lebih serius lagi dan saling bekerja sama dalam memasyarakatkan peran penting susu kambing ini dan meningkatkan produksinya. Dalam hal ini ada dua hal penting yang perlu mendapatkan prioritas: peningkatan produksi susu dengan tetap memperhatikan kesehatan ternak dan lingkungan, dan peningkatan keamanan/higiene susu, terutama karena manfaat kesehatan susu kambing sangat berkurang akibat pemanasan, sedangkan pa Susu Bubuk atau Susu Cair? Hal lain yang juga sering menjadi bahan diskusi orangtua adalah susu apa sih yang paling baik untuk anak-anak? Atau mana yang lebih baik, susu cair atau susu bubuk?. Jawabannya tergantung dari kesukaan anak dan nilai tambah apa yang ingin orangtua peroleh. Susu bubuk memiliki daya simpan yang jauh lebih lama dari susu cair, bahkan bisa mencapai 1 tahun, dan tidak perlu disimpan dalam lemari es. Karena sudah melalui tahapan proses yang cukup panjang, antara lain evaporasi, homogenisasi dan pengeringan (spray drying atau freeze drying), kandungan nilai gizi yang terdapat dalam susu bubuk lebih rendah dari susu cair segar. Sebagai usaha untuk mengembalikan kadar nilai gizinya agar menyamai gizi susu cair segar, seringkali susu bubuk ditambahi dengan bahan-bahan lain, misalnya vitamin. Susu cair yang banyak dijumpai di pasaran, umumnya adalah susu pasteurisasi dan susu UHT. Kedua jenis susu cair ini telah melalui proses pengawetan untuk memperpanjang umur simpannya. Tapi perlakuan untuk pengawetan tersebut hanya melibatkan panas dan tidak ada zat pengawet, sehingga susu yang telah melalui proses tersebut masih tergolong fresh. Artinya, nilai gizi susu pasteurisasi maupun susu UHT relatif masih asli. Kalaupun ada penurunan, perbedaannya dengan nilai gizi dari susu cair mentah tidak signifikan. Yang harus diingat, susu cair tidak untuk konsumsi anak atau bayi berusia di bawah 1 tahun. Alasannya menurut Nunung, karena kasein yang merupakan protein utama pada susu sapi masih sulit dicerna oleh system pencernaan bayi atau anak dibawah 1 tahun. Selain itu, tambah Nunung, kasein membuat pencernaan anak bekerja ekstra keras dan kemudian mempengaruhi kerja ginjal pula. Setelah berusia 1 tahun, baru lah anak dapat mengkonsumsi susu cair. Pada usia tersebut anak juga sudah dapat makan makanan keluarga (table food), sehingga sumber asupan gizinya lebih bervariasi. Sediaan susu cair di pasaran yang beragam rasa, mungkin membuat beberapa orangtua juga sedikit bingung dalam menentukan pilihan. Pilihan rasa yang paling aman adalah yang plain alias yang rasa asli susu tanpa ditambahi gula atau perasa lainnya. Susu cair yang berjenis rendah lemak (skim milk) juga tidak dianjurkan untuk konsumsi harian anak-anak berusia 1-2 tahun. Alasannya, susu rendah lemak cenderung mengandung protein, potassium dan sodium yang lebih tinggi, sementara kalorinya kurang mencukupi bagi pertumbuhan anak diusia itu. Bagaimanapun juga, mereka masih membutuhkan lemak bagi perkembangan otak dan pertumbuhan fisik. Setelah usia anak mencapai 2 tahun, jika berat badannya cenderung berlebih, orangtua dapat mulai memberikan skim milk kepada anak. da umumnya untuk keamanan dan pengawetan produk susu perlu dipanaskan.