Anda di halaman 1dari 21

BAB I Pendahuluan

Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta. Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB. Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki. Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warnawarna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga
[Type text] Page 1

benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warnawarna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Dewasa ini bahasan mengenai topik HAKI sedang menghangat dengan adanya kasus penjiplakan karya cipta di bidang seni batik di Indonesia oleh negara tetangga Malaysia. Hal ini sungguh membuat masyarakat di berbagai kalangan di Indonesia menjadi resah, pasalnya kasus ini bukan kali pertama negara tetangga Malaysia mengklaim dirinya sebagai pemilik karya cipta terutama di bidang kesenian, baik seni musik, kesenian reog, batik tradisional hingga makanan khas Indonesia tempe. Padahal Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi pembentukan World Trade Organization (WTO) melalui UndangUndang No. 7 tahun 1994. Konsekuensinya adalah Indonesia harus melaksanakan kewajiban untuk menyesuaikan peraturan perundang-undangan nasionalnya dengan ketentuan WTO, termasuk yang berkaitan dengan Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs-WTO).1

Pada akhir abad ke-19 perkembangan HKI mulai merambas ke berbagai negara. Hal tersebut menandai bahwa Indonesia mulai memasuki era perdagangan bebas yang menuntut kebutuhan terhadap perlindungan hukum di bidang HAKI, baik pengakuan secara nasional maupun antar negara secara global. Hal ini dibuktikan dengan dibentuknya Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Right (TRIPs) atau Aspek Perdagangan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Perjanjian tersebut merupakan perjanjian yang kompleks, komprehensif, dan ekstensif. Hak Kekayaan Intelektual disebut pula dengan Intellectual Property Right selanjutnya disebut dengan IPR. World Intellectual Property Organization (WIPO) merumuskan Intellectual Property sebagai The Legal Right which result from intellectual activity in th e industrial, scientific, literary, or artistic fields dengan demikian IPR merupakan suatu perlindungan terhadap hasil karya manusia baik hasil karya yang berupa aktifitas dalam ilmu pengetahuan, industri, kesusastraan dan seni. Persetujuan TRIPs-WTO memuat berbagai
1

Purba, Afrillyanna, TRIPs-WTO dan Hukum HKI Indonesia, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2005, hlm. 1

[Type text]

Page 2

norma dan standar perlindungan bagi karya-karya intelektual. Di samping itu juga mengandung pelaksanaan penegakkan hukum di bidang HKI. HKI dalam ilmu hukum dimasukkan dalam golongan hukum benda (zakenrecht) yang mempunyai obyek benda intelektual yaitu benda (zaak) tidak berwujud.2 Mengenai sejarah ciptaan batik pada awalnya merupakan ciptaan khas bangsa Indonesia yang dibuat secara konvensional. Ciptaan adalah hasil setiap karya pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra.3 Karya-karya cipta tersebut memperoleh perlindungan hukum karena mempunyai nilai seni, baik pada motif, gambar, maupun komposisi warnanya. Menurut teminologi, batik adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan alat canting atau sejenisnya dengan bahan lilin sebagai penahan masuknya warna.4 Sebagai kebudayaan tradisional (Traditional Knowledge) yang turun temurun, maka Hak Cipta seni batik harus dilindungi seperti yang diamanatkan oleh pasal 10 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta yakni Negara memegang hak cipta atas folklore dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya. Dalam penjelasan pasal di atas yang dimaksud dengan folklore adalah sekumpulan ciptaan tradisional, baik yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, yang menunjukkan identitas social dan budayanya berdasarkan standard dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun termasuk hasil seni antara lain berupa lukisan, gambar, ukir-ukiran, pahatan, mozaik, perhiasan, kerajinan tangan, pakaian, instrument musik dan tenun tradisional.5 Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan terjadinya sebuah inovasi, termasuk juga masyarakat di Pekalongan selaku pengrajin batik. Selain itu, hadirnya inovasi tersebut juga mencerminkan kualitas sumber daya manusianya yang unggul dan berdaya saing. Mereka telah berpikir secara kreatif tentang cara menghasilkan sesuatu secara inovatif dan tetap mengangkat serta menonjolkan warisan budaya bangsa yaitu dengan menghasilkan motif batik yang baru tapi tetap khas daerah Pekalongan.

2 3 4 5

Khairandy, Ridwan, Pengantar Hukum Dagang, UII Press, Yogyakarta, 2006, hlm. 226 Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang tentang Hak Cipta Suyanto, A.N, Sejarah Batik Yogyakarta, Merapi, Yogyakarta, 2002, hlm. 101 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta

[Type text]

Page 3

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga terkadang suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang dan mempunyai arti simbolis dan penuh nilai spiritual. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tradisional hanya dipakai oleh keluarga kraton di Yogyakarta ataupun Surakarta. Citra batik Pekalongan yang baik seharusnya diiringi oleh kesuksesan para pengrajinnya. Kiprah mereka di dunia industri batik memang sudah bagus dan dinilai sukses, namun sampai saat ini masih saja terjadi beberapa hal yang tidak diinginkan. Ada konflik-konflik kecil yang terjadi pada perajin batik. Perajin yang memiliki kreativitas tinggi dapat menghasilkan motif-motif baru, dengan sedikit modifikasi tercipta motif baru tapi tidak merubah ciri khas batik Pekalongan. Pengrajin lain yang mengetahui bahwa ada motif baru yang dibuat oleh pengrajin lain biasanya mereka mencontohnya, dan hal ini tentu saja tidak diinginkan oleh pemilik motif. Sebenarnya hal seperti ini tidak perlu terjadi apabila mereka sudah mendapatkan hak cipta atas motif-motif baru yang mereka ciptakan. Semua ini tidak terlepas dari peran pemerintah daerah setempat untuk menjembatani hal ini dan memberikan apresiasi yang patut bukan hanya kepada produk yang dihasilkan tetapi juga kepada pengrajinnya. Indonesia sebagai salah satu negara yang terdiri dari berbagai macam suku dan sangat kaya akan keragaman tradisi dan budaya, Indonesia tentunya memiliki kepentingan tersendiri dalam perlindungan hukum terhadap kekayaan intelektual masyarakat asli tradisional. Akan tetapi karena perlindungan hukum terhadap kekayaan intelektual masyarakat asli tradisional masih lemah, potensi yang dimiliki oleh Indonesia tersebut justru lebih banyak dimanfaatkan oleh pihak lain yang tidak sah. Adapun penelitian ini menggunakan sumber data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Data ini diperoleh dengan wawancara secara langsung dengan pihak terkait yaitu pengusaha batik Pekalongan, Bapak Agus, Bapak Adityo, dan Ibu Erna. Adapun data sekunder berasal dari bahan-bahan hukum seperti peraturan perundang-undangan, buku, internet dan lain-lain hal yang terkait.
[Type text] Page 4

Rumusan Masalah 1. Bagaimana upaya atau tahapan yang dilakukan Pemerintah dalam melindungi ciptaan batik khususnya khas daerah Pekalongan? 2. Bagaimana hambatan yang dihadapi Pemerintah dalam melindungi ciptaan batik khas daerah Pekalongan? 3. Bagaimana detail prinsip-prinsip yang positif berlaku di Indonesia? 4. Apa undang-undang HAKI terkait beserta PP mengenai industri kreatif? 5. Bagaimana kelebihan dan kekurangan sistem perlindungan HAKI yang positif berlaku terhadap batik Pekalongan?

Ruang Lingkup Penelitian Untuk membatasi pembahasan dan untuk menghindari kesalahan persepsi dalam memahami penelitian ini, maka penulis membatasi pembatasan pada perlindungan optimal yang mungkin diberikan kepada produk batik oleh pemerintah.

[Type text]

Page 5

BAB II Pembahasan
Masyarakat Pekalongan tidak dapat dilepaskan dari seni batik, karena batik merupakan urat nadi perekonomian masyarakat pekalongan, batik dan masyarakat pekalongan dapatlah diibaratkan sebagai dua sisi mata uang. Batik yang diusahakan oleh masyarakat pekalongan umumnya adalah industri dalam skala kecil berupa industri rumahan atau industri rumah tangga sebagai mata pencaharian maupun dalam skala besar sebagai sebuah perusahaan yang dikelola secara modern dengan manajemen yang baik. Sebagai tumpuan kegiatan ekonomi masyarakat, industri batik pernah mengalami masa kejayaan pada dekade 1960 -1970-an. Sampai sekarang industri batik masih menjadi tumpuan kegiatan ekonomi sebagian masyarakat pekalongan. Hasil produksi batik pekalongan tidak hanya dipasarkan di pasar lokal saja, namun telah menembus pasar internasional Menurut pasal 1 angka 1 UU Hak Cipta, hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi ijin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa ijin pemegangnya. Pemegang hak cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta, atau pihak yang menerima hak tersebut dari pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima hak tersebut. Hak eksklusif tersebut menurut pasal 2 UU Hak Cipta meliputi hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan. Di dalam hak cipta terkandung hak ekonomi (economic right) dan hak moral (moral right) dari pemegang hak cipta.6

Penjelasan pasal 2 Undang-Undang tentang Hak cipta

[Type text]

Page 6

Hak ekonomi (economic right) adalah hak untuk memperoleh keuntungan ekonomi atas hak cipta. Hak tersebut berupa keuntungan berupa uang yang diperoleh karena penggunaan hak ciptanya tersebut atau karena penggunaan pihak lain yang mendapatkan lisensi. Ada 8 (delapan) jenis hak ekonomi yang melekat pada hak cipta yaitu : 1. Hak reproduksi (reproduction right) yakni hak untuk menggandakan atau

memperbanyak ciptaan 2. Hak adaptasi (adaptation right) yakni hak untuk mengadakan adptasi terhadap hak cipta yang sudah ada 3. Hak distribusi (distribution right) yakni hak untuk menyebarkan kepada masyarakat setiap hasil ciptaan dalam bentuk penjualan atau penyewaan 4. Hak pertunjukkan (performance right) yakni hak untuk mengungkapkan karya seni dalam bentuk pertunjukkan atau penampilan oleh pemusik, dramawan, seniman, peragawati. 5. Hak penyiaran (broadcasting right) yakni hak untuk menyiarkan ciptaan melalui transmisi dan transmisi ulang 6. Hak programa kabel (cablecasting right) yakni hak untuk menyiarkan ciptaan melalui kabel 7. Droit de suit yakni hak tambahan pencipta yang bersifat kebendaan 8. Hak pinjam masyarakat (public lending right) yakni hak pencipta atas pembayaran ciptaan yang tersimpan di perpustakaan umum yang dipinjam oleh masyarakat. Sedangkan Hak Moral (moral right) adalah hak yang melindungi kepentingan pribadi atau reputasi pencipta atau penemu. Hak moral melekat pada diri pribadi sang pencipta. Hak moral tidak dapat dipisahkan dari pencipta karena bersifat pribadi dan kekal. Sifat pribadi menunjukkan ciri khas yang berkenaan dengan nama baik, kemampuan dan integritas yang hanya dimiliki sang pencipta. Kekal berarti melekat pada sang pencipta selama hidup bahkan dilanjutkan selam 50 (lima puluh) tahun setelah penciptanya meninggal dunia.7 Termasuk dalam hak moral adalah sebagai berikut :

Muhammad, Abdulkadir, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hlm. 21-22

[Type text]

Page 7

1. Hak untuk menuntut kepada pemegang hak cipta supaya namanya tetap dicantumkan pada ciptaannya 2. Hak untuk tidak melakukan perubahan pada ciptaan tanpa persetujuan pencipta atau ahli warisnya 3. Hak pencipta untuk mengadakan perubahan pada ciptaannya sesuai dengan

tuntutan perkembangan dan kepatutan dalam masyarakat. Menurut historis seni maupun cara pembuatan batik yang khas dan tradisional sudah dikenal di Indonesia sejak tahun 1950 dan turun-temurun hingga sekarang. Batik tradisional merupakan perpaduan antara batik keraton dan batik pesisiran. Batik di Indonesia adalah sebuah bentuk seni tradisional yang mempunyai ciri khas yang mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia. Namun batik juga mengalami perkembangan seiring dengan perubahan jaman, hal ini membawa pengaruh pada corak dan disain batik yang dinamis. Bagi seni batik tradisional, hal ini terkait dengan ketentuan Traditional Knowledge (TK), berdasarkan pada Convention on Biological Diversity selanjutnya disebut CBD, definisi Traditional Knowledge adalah pengetahuan, inovasi, dan praktik-praktik masyarakat asli dan local yang mewujudkan gaya hidup tradisional dan juga teknologi lokal dan asli yang status kedudukannya merupakan bagian tradisi masyarakat.8 Melalui perlindungan hukum hak cipta seni batik tradisional (TK) ini, bertujuan untuk mencapai keadilan bagi semua pihak guna terciptanya keseimbangan kepentingan antara pencipta karya seni batik tradisional dengan kepentingan masyarakat lainnya. Dengan demikian diharapkan agar hasil-hasil dari kreasi cipta seni batik tradisional yang merupakan kebudayaan asli Indonesia dapat terus eksis memberikan peluang dalam persaingan di era globalisasi. Batik tulis merupakan batik yang dianggap paling baik dan tradisional. Karena proses pembuatannya melalui tahap-tahap persiapan, pemolaan, pembatikan, pewarnaan, pelorodan, dan penyempurnaan. Pelorodan merupakan proses penghilangan lilin (nglorod) yang dilakukan dengan cara merendam kain batik yang telah berwarna-warni dan masih mengandung lilin ke dalam air mendidih sampai lilin terlepas dari kain.pada batik tulis sukar
8

Soelistyo Budi, Henry, Status Indigeneous knowlwdge dan Traditional Knowledge dalam system HKI, makalah dalam seminar Nasional perlindungan HKI Terhadap Inovasi Teknologi Tradisional di Bidang Obat, pangan dan kerajinan, Unpad, Bandung, 18 Agustus 2001, hlm. 2

[Type text]

Page 8

dijumpai pola ulang yang dikerjakan persis sama, pasti ada selintas perbedaan, misalnya sejumlah titik atau lengkungan garis. Kekurangan ini merupakan kelebihan dari hasil pekerjaan tangan.9 Dalam Bab IV Undang-Undang hak Cipta telah diatur mengenai pendaftaran karya cipta yang dilindungi dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra termasuk dalam karya cipta seni batik. Namun pada kenyataannya masih sedikit perusahaan batik yang memiliki kasadaran untuk mendaftarkan karya seni batiknya ke Ditjen HKI. Tercatat di Ditjen HKI, hanya perusahaan batik besar saja yang mendaftarkan seni batiknya yakni antara lain PT batik keris dan PT Batik Danar Hadi serta perusahaan-perusahaan batik lain seperti UKM yang kini mulai mendaftarkan seni batiknya. Umumnya perusahaan batik enggan untuk mendaftarkan karya ciptanya dengan alasan karena biaya pendaftaran yang dirasa masih mahal, belum lagi waktu yang lama dan proses yang berbelit-belit. Faktor yang lain adalah kurangnya wawasan atau pengetahuan tentang HKI dan pentingnya pendaftaran karya cipta bagi perusahaanperusahaan batik. Rendahnya wawasan mengenai manfaat dan pentingnya pendaftaran hak cipta bagi karya cipta seni batik juga dirasakan oleh Paguyupan Pencinta Batik Indonesia Sekar Jagaddi Yogyakarta. Padahal paguyupan tersebut terdiri dari berbagai kalangan yang seharusnya sudah memilki pengetahuan mengenai seni cipta batik. Akibatnya paguyupan ini hanya berfungsi ebatas pelestarian batik melalui penamaan motif-motif batik yang baru, membantu UKM untuk meningkatkan kualitas dan taraf penghasilan, serta

mensosialisasikan fungsi dan kegunaan batik dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat misalnya penggunaan seragam batik di sekolah-sekolah dan kantor. Berdasarkan disimpulkan hasil wawancara yang dipaparkan Bapak Adityo tersebut maka dapat

bahwa

pemahaman perajin tentang hak cipta dan pentingnya proses

pendaftaran masih rendah. Hal ini terbukti dari sekian banyak perajin batik di Pekalongan yang melakukan proses pendaftaran hak cipta hanya berupa pengusaha pengusaha batik besar saja. Untuk perajin skala kecil yang umumnya industri rumahan ada yang menyerahkan hal ini pada kelompok atau menunggu tindakan dari dinas yang bersangkutan saja.
9

Batik Tulis Masal, Balai Besar Penelitian dan pengembanagan Industri dan kerajinan batik, Depertemen perindustrian dan perdagangan, Yogyakarta, 1989, hlm. 2

[Type text]

Page 9

Pada umumnya perajin batik berpendapat bahwa pendaftaran karya cipta batik bukan merupakan hal yang mendesak. Umumnya mereka mempersoalkan mahalnya biaya pendaftaran, waktunya lama dan prosesmya berbelit-belit. Selain itu pendaftaran yang dilakukan tetap tidak mampu mencegah terjadinya praktik peniruan atau penjiplakan terhadap karya cipta batik yang telah didaftar. Upaya pelarangan akan mengalami kesulitan apabila peniruan atau penjiplakan motif batik yang telah didaftar itu dilakukan oleh pengusaha batik yang tergolong kecil. Bagi pengusaha batik yang tergolong menengah ke bawah, masih jarang yang mendaftarkan karya seni batiknya. Ada beberapa alasan yang dikemukakan, antara lain: motivasi untuk mendaftarkan hak cipta masih rendah. Hal ini disebabkan karena perajin menganggap batik akan

lebih penting apabila produknya laku terjual dan belum memikirkan

pentingnya kegunaan hak cipta bagi produk yang dihasilkan. Motif-motif yang berkembang saat ini merupakan hasil dari pengembangan motif yang sudah ada dan hasil dari modifikasi sesuai dengan perkembangan zaman dan selera masyarakat. Apabila ada pihak yang membuat motif baru atau melakukan modifikasi

motif yang kemudian ditiru oleh pihak lain maka hal itu tidak menjadi masalah dan tidak dianggap suatu pelanggaran. Faktor penyebab lainnya yaitu para perajin batik tidak memiliki wawasan atau pengetahuan mengenai HAKI. Kalaupun ada yang mengerti dan mengetahui tentang hak cipta, namun mereka tidak begitu tertarik mendaftarkannya karena beberapa alasan, manfaat di antaranya

nyatanya tidak begitu dirasakan, jadi tetap saja ada peniruan dan penjiplakan.

Disamping itu karena pemikiran sebagian perajin masih tradisional, ada anggapan bahwa dengan melakukan pendaftaran hak cipta maka pihak yang mendaftarkannya melakukan monopoli dan yang bersangkutan akan ditekan dan dikucilkan oleh perajin lainnya. Pada akhirnya kebiasaan meniru dan menjiplak motif diantara sesama perajin batik telah menjadi suatu kebiasaan, bahkan hal ini sulit untuk dihilangkan. Berdasarkan apa yang telah dijelaskan diatas, maka permasalahan pendaftaran hak cipta pada karya seni batik pada dasarnya memiliki kendala seperti, kurangnya pemahaman perajin batik terhadap hak cipta dan pendaftaran, dan anggapan perajin batik bahwa motif

[Type text]

Page 10

yang diciptakan perajin lain bebas ditiru dan digunakan. Oleh karena itu perlu perlu ditingkatkan upaya sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran hukum para perajin batik. Minimnya kesadaran hukum para perajin batik untuk mendaftarkan karya seni

batiknya dapat disebabkan karena tidak adanya keharusan melakukan pendaftaran. Sistem yang berlaku pada UUHC 2002 adalah negatif deklaratif. Menurut hukum hak cipta, suatu ciptaan yang diwujudkan dari suatu ide akan secara otomatis dilindungi pada saat ciptaan itu diumumkan atau diperbanyak pertama kali oleh pencipta atau pemegang hak cipta. Pentingnya perlindungan kepada pencipta karya seni batik karena terkait dengan hak ekonomi dan hak moral dari pencipta yang bersangkutan. Karya cipta yang tidak didaftarkan hanya memiliki perlindungan bagi pencipta yang bersangkutan, sehingga apabila karya ciptanya ditiru atau dijiplak oleh pihak lain akan sulit untuk membuktikan kepemilikannya. Oleh karena itu agar mempunyai akibat hukum kepada pihak lain, maka karya cipta seni batik yang telah dihasilkan sebaiknya didaftarkan agar perlindungan hukumnya dapat lebih mudah dilaksanakan. Sebagai upaya perlindungan terhadap karya seni batik, juga diharapkan peran aktif dari pemerintah dalam memfasilitasi pendaftaran hak cipta seni batik ini, dan lebih baiknya lagi apabila pendaftaran ini dapat dilakukan tanpa dikenai biaya. Pada dasarnya seni batik telah mendapat perlindungan sejak UUHC 1982, namun hal ini tidak berarti bahwa perajin dalam hal ini adalah pencipta seni batik telah memanfaatkan UUHC ini dalam upaya mendapat perlindungan bagi karya seni batiknya. Masih banyak pencipta seni batik yang tidak mengetahui tentang UUHC 2002 ini. Kondisi ini masih berlangsung hingga saat ini. Jika ada salah seorang di antara mereka yang mengetahui UUHC 2002 ini, mereka menganggap peraturan ini tidak terlalu penting.

[Type text]

Page 11

BAB III Metode Penelitian


Tujuan dan Kontribusi Penelitian

1. Tujuan Penelitian Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan menjelaskan Penerapan Hukum Hak Cipta Seni Batik Pekalongan sebagai komoditas Internasional. Tujuan umum bahwa masyarakat, terutama yang menghasilkan suatu karya cipta masih kurang memahami Undang-undang Hak Cipta serta masih adanya pelanggaran hak cipta mengenai batik. Dari tujuan tersebut diharapkan hasilnya dapat digunakan untuk mengetahui dan menganalisis; 1. Penerapan Hukum Hak Cipta pada Seni Batik Kontemporer dan Seni Batik Tradisional Pekalongan sebagai Komoditas Internasional. 2. Upaya-upaya Pemerintah menjadikan Batik Pekalongan sebagai komoditas internasional. 2. Manfaat Penelitian Apabila tujuan sebagaimana dirumuskan diatas tercapai, penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan baik secara teoritis maupun praktis dan diharapkan dapat memberikan tambahan kontribusi bagi pokok- pokok kepentingan baik untuk kepentingan praktik maupun teoritis antara lain sebagai berikut : A. Manfaat Praktis 1. Penelitian ini diharapkan dapat membawa hasil yang dijadikan bahan masukan bagi para pihak yang berkaitan dengan perlindungan atas motif batik tradisional khususnya batik Pekalongan sebagai langkah antisipatif berkaitan dengan kemungkinan adanya pembajakan terhadap motif batik Pekalongan yang berakibat sengketa di belakangnya.

[Type text]

Page 12

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang akan diteliti yaitu mengenai perlindungan Hak Cipta atas motif batik tradisional sebagai warisan budaya bangsa. B. Manfaat Teoritis 1. Ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya Ilmu Hukum, terutama pada bidang Hak Kekayaan Intelektual atau lebih spesifik lagi pada bidang Hak Cipta, sehingga dapat memberikan kontribusi akademis mengenai gambaran

perlindungan Hak Cipta di Indonesia khususnya perlindungan atas motif batik tradisional Pekalongan sebagai warisan budaya bangsa. 2. Pembentuk Undang-Undang, memberikan masukan tentang pelaksanaan hukum perlindungan Hak Cipta atas motif batik tradisional khususnya batik Pekalongan sebagai warisan budaya bangsa dalam mengantisipasi terjadinya pembajakan oleh pihak asing.

3. Metode Penelitian Pembuatan tugas diperlukan suatu penelitian, di mana dengan penelitian diharapkan akan dapat memperoleh data-data akurat yang diperlukan di dalam penulisan tugas ini. Penelitian ini merupakan suatu proses yang dilakukan secara terencana dan sistematis yang diharapkan berguna untuk memperoleh pemecahan permasalahan yang ada. Oleh sebab itu, langkah-langkah tersebut harus sesuai dan saling mendukung antara peraturan hukum yang ada dengan kenyataan yang ada sehingga tercapai suatu data yang akurat dan nyata, yang kemudian data ini diolah untuk mendapatkan suatu hasil penelitian yang baik dan benar serta memberikan kesimpulan tidak meragukan. Pentingnya suatu penelitian dalam penyusunan tugas, maka dalam penulisan tugas membutuhkan data yang akurat, baik data primer maupun data sekunder. Adapun data tersebut diperoleh dengan pendekatan sebagai berikut :

[Type text]

Page 13

1. Metode Pendekatan Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah yuridis empiris, yaitu cara atau prosedur yang digunakan untuk memecahkan masalah penelitian dengan meneliti data sekunder terlebih dahulu untuk kemudian dilanjutkan dengan meneliti data primer yang ada di lapangan. Pendekatan empiris dilakukan dengan meneliti langsung ke lapangan yaitu dengan melakukan wawancara dengan pihak terkait mengenai perlindungan atas batik tradisional Pekalongan. Pihak terkait dalam penelitian ini adalah pihak Pekalongan yang mengetahui secara lebih konkret mengenai sejarah dan perkembangan batik Pekalongan sejak penciptaan sampai zaman modern ini. Aspek yuridis dapat dilakukan dengan meneliti peraturan-peraturan hukum yang terkait, di mana pengaturan terhadap perlindungan karya cipta seni batik tradisional sudah diatur dalam Pasal 10 UUHC Tahun 2002, akan tetapi perangkat hukum ini belum memenuhi kebutuhan masyarakat akan perlunya perlindungan atas motif batik tradisional. Sehingga diperlukan peraturan pelaksana yang secara teknis mendukung pelaksanaan UUHC Tahun 2002, peraturan pelaksana ini dapat berupa Peraturan Pemerintah, atau dengan dibuat peraturan secara khusus dan utuh yang mengatur perlindungan atas motif batik tradisional khususnya batik Pekalongan. Untuk mendapatkan data sekunder ini bisa didapat di instansi pemerintah terkait yang berhubungan dengan perlindungan Hak Cipta. Jadi pendekatan yuridis empiris merupakan suatu penelitian yang meneliti peraturanperaturan hukum yang kemudian dihubungkan dengan data dan perilaku yang hidup di tengah-tengah masyarakat langsung. 2. Spesifikasi Penelitian Spesifikasi Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis, artinya hasil penelitian ini berusaha memberikan gambaran secara menyeluruh, mendalam tentang suatu keadaan atau gejala yang diteliti. Suatu penelitian deskriptif menekankan pada penemuan fakta-fakta yang digambarkan sebagaimana keadaan sebenarnya, dan selanjutnya data maupun fakta tersebut diolah dan

[Type text]

Page 14

ditafsirkan. Penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang obyek yang diteliti, keadaan, atau gejala-gejala lainnya. Penelitian ini bersifat deskriptif karena dengan penelitian ini diharapkan akan diperoleh suatu gambaran yang bersifat menyeluruh dan sistematis mengenai perlindungan atas motif batik tradisional khususnya batik Pekalongan sebagai warisan budaya bangsa, kemudian dilakukan suatu analisis terhadap data yang diperoleh dan pada akhirnya didapat pemecahan masalah. 3. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari informasi yang didapat dari hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait, yang mana hasil wawancara ini dapat digunakan untuk menjawab permasalahan yang diteliti. Sumber data primer diperoleh dari : a. Pihak Kota Pekalongan b. Pengusaha Batik Pekalongan Data sekunder merupakan data yang dapat mendukung keterangan-keterangan atau menunjang kelengkapan data primer. Sumber data sekunder diperoleh dari : 1. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti, yaitu Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta serta peraturan terkait di bawahnya dan ketentuan-ketentuan lain yang mempunyai korelasi dengan permasalahan yang akan diteliti seperti arsip-arsip dari Pekalongan mengenai kebijakan pihak Pekalongan berupa undang-undang tentang pola larangan penggunaan motif batik tertentu. 2. Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer yang dapat membantu menganalisa dan memahami bahan hukum primer seperti bukubuku referensi, hasil-hasil penelitian, karya ilmiah yang relevan dengan penelitian ini. 3. Bahan hukum tersier merupakan bahan hukum penunjang yang mencakup bahan yang memberi petunjuk atau informasi penjelasan terhadap bahan hukum primer

[Type text]

Page 15

maupun sekunder seperti kamus bahasa, kamus ilmiah, surat kabar, media informasi dan komunikasi lainnya. 4. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Pekalongan pada khususnya dengan pertimbangan bahwa Pekalongan sebagai tempat dikembangkannya motif-motif batik tradisional yang mempunyai nilai filosofis tinggi sebagai kebudayaan tradisional Indonesia yang perlu mendapat perlindungan hukum. 5. Objek dan Subjek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah karya cipta seni batik berupa motif batik Pekalongan, sedangkan subjek dalam penelitian ini adalah Pihak Pekalongan, Pengusaha Batik Pekalongan. Selanjutnya untuk melengkapi dan menguji data yang dikumpulkan, maka pengumpulan data penelitian ini dilakukan juga dengan mengumpulkan keterangan atau informasi, pendapat dari subjek penelitian lainnya. 6. Metode Pengumpulan Data Dalam mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan difokuskan pada pokok-pokok permasalahan yang ada, sehingga dalam penelitian ini tidak terjadi penyimpangan dan kekaburan dalam pembahasan. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui : a. Penelitian kepustakaan (library research), terutama mengkaji bahan-bahan hukum primer yang berkaitan dengan materi penelitian, dengan kata lain pengumpulan data sekunder untuk mencari konsep-konsep, teori-teori, pendapat-pendapat ataupun temuan-temuan yang berhubungan erat dengan pokok permasalahan, yang dapat berupa peraturan perundang-undangan, karya ilmiah dan sumber-sumber lain. b. Penelitian lapangan (field research), yaitu pengumpulan data secara langsung dari pihak terkait dengan permasalahan perlindungan Hak Cipta atas motif batik tradisional khususnya batik Pekalongan sebagai warisan budaya bangsa untuk memperoleh dan menghimpun data primer, atau data yang relevan dengan objek yang akan diteliti, yang diperoleh dengan cara melakukan

[Type text]

Page 16

indepth interview (interview secara mendalam) kepada responden secara lisan dan terstruktur dengan menggunakan alat pedoman wawancara. 7. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif empiris, yaitu data yang diperoleh disusun secara sistematis kemudian dianalisis secara kualitatif agar dapat diperoleh kejelasan masalah yang dibahas. Tujuan digunakannya analisis kualitatif empiris ini adalah untuk mendapatkan pandangan-pandangan mengenai perlindungan Hak Cipta atas motif batik sebagai warisan budaya khususnya batik tradisional Pekalongan. Analisis data kualitatif empiris adalah suatu cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analitis, yaitu apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis/lisan dan juga perilakunya yang nyata, diteliti, dan dipelajari secara utuh. Setelah analisis data selesai, maka hasilnya akan disajikan secara deskriptif yaitu dengan menuturkan dan menggambarkan apa adanya sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Dari hasil tersebut kemudian ditarik kesimpulan dan disusun secara sistematis yang merupakan jawaban atas permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini sebagai karya ilmiah berbentuk laporan penelitian.

[Type text]

Page 17

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebagai suatu kebudayaan tradisional yang telah berlangsung secara turun temurun, maka Hak Cipta atas seni batik ini akan dipegang oleh negara sebagaimana diatur dalam Pasal 10 ayat 2 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Akan tetapi dalam implementasinya UU ini belum bisa mengakomodir perlindungan Hak Cipta atas motif batik tradisional khususnya Batik Pekalongan. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : bagaimana eksistensi karya cipta seni batik tradisional khususnya motif batik Pekalongan sebagai warisan budaya bangsa dan apakah Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta sudah memadai dalam memberikan perlindungan atas motif batik. Di mana tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dengan jelas yang menjadi rumusan permasalahannya. Batik sebagai ekspresi budaya tradisional (folklore) yang tidak diketahui siapa penciptanya dilindungi berdasarkan Pasal 10 (2) UUHC Tahun 2002. Namun dalam implementasi di lapangan, UUHC belum bisa mengakomodir perlindungan Hak Cipta atas motif batik tradisional sebagai bagian dari folklore, hal ini dikarenakan UUHC masih mempunyai beberapa kelemahan bila hendak diterapkan dengan konsekuen guna melindungi folklore.

[Type text]

Page 18

BAB IV Kesimpulan dan Rekomendasi


Kesimpulan Rendahnya kesadaran hukum para pencipta untuk mendaftarkan ciptaan seni batiknya dapat dikarenakan tidak adanya keharusan bagi para perusahaan batik untuk mendaftarkan karya cipta seni batiknya. Sistem pendaftaran yang diuraian dalam undang-undang hak Cipta masih tergolong deklaratif sehingga belum ada kewajiban bagi pencipta untuk mendaftarkan karya ciptanya, selain masih diragukannya perlindungan hukum bagi pencipta karya batik. Padahal apabila negara mempunyai kebijakan mengharuskan para pengusaha untuk mendaftarkan karya cipta batiknya, maka tidaklah mungkin negara lain mengklaim karya cipta batik Indonesia. Masalahnya adalah bahwa dalam hukum Indonesia, pendaftaran bukan merupakan suatu keharusan bagi pencipta karya seni cipta dan perlindungan hukum bagi pencipta karya cipta baru timbul apabila dikemudian hari terjadi perselisihan atau pelanggaran terhadap karya seni batik. Mengingat bahwa pada kasus-kasus yang dapat ditindak lanjuti apabila di pengadilan dapat dibuktikan bahwa pihak yang bersengketa dapat menunjukkan Bukti Pendaftaran Ciptaan. Selain itu, pentingnya perlindungan hokum bagi pencipta karya seni batik adalah menyangkut hak ekonomi dan hak moral dari pencipta yang bersangkutan. Penegakkan hukum dalam rangka perlindungan terhadap hak cipta seni batik batik belum dapat berjalan secara maksimal. Minimnya wawasan mengenai hak cipta seni batik di kalangan pengusaha batik dan aparat penegak hukum sehingga tindakan pelanggaran karya cipta batik yang terjadi terkesan belum ada tindakan tegas. Upaya yang dapat ditempuh dalam rangka meningkatkan penegakkan hokum di bidang HKI di Indonesia adalah dengan meningkatkan perluasan jaringan HKI melalui kerja sama antar instansi serta meningkatkan pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya Hak Kekayaan Intelaktual (HKI). Terutama untuk melindungi karya cipta batik di Indonesia yang merupakan asset bangsa yang harus dipelihara dan dilestarikan jangan sampai jatuh dan diklaim bangsa lain.

[Type text]

Page 19

Rekomendasi 1. Batik Pekalongan tergolong salah satu seni yang berhasil merevitalisasi diri dalam motif, teknik, dan penggunaannya sehingga eksistensinya terjaga. Sehingga diperlukan adanya perlindungan secara khusus, di mana perlindungan ini diberikan terhadap ekspresi budaya tradisional yang lebih bersifat untuk melestarikan warisan budaya dan untuk mencegah terjadinya kepunahan warisan budaya itu. Untuk mendukung perlindungan tersebut, dibutuhkan suatu peraturan perundang-undangan sui generis yang khusus mengatur mengenai ekspresi budaya tradisional (folklore).

2. Berkaitan dengan perlindungan folklore, Pemerintah Indonesia juga harus melakukan identifikasi tentang folklore dan pengetahuan tradisional yang terdapat di seluruh wilayah Indonesia dan kemudian dimasukan dalam data base negara. Selain itu dalam pelaksanaannya juga diperlukan perangkat hukum lain yang bersifat teknis. Perangkat hukum yang dimaksud dapat berupa Peraturan Pemerintah Daerah yang mengatur tentang perlindungan atas karya cipta seni batik tradisional yang termasuk folklore. Pemerintah juga dapat melakukan beberapa alternatif berkenaan dengan gagasan perlindungan yang dapat diberikan terhadap hak hak warga masyarakat lokal di Indonesia. Berbagai alternatif yang dapat dilakukan antara lain dengan membentuk perundang undangan baru (sui generis) atau kemungkinan dengan mengamandemen undang undang yang sudah ada guna menyesuaikan rezim HAKI dengan tuntutan global dan sekaligus aspirasi dan pandangan warga masyarakat Indonesia. Maka untuk membuat upaya perlindungan terhadap folklore agar dapat berjalan secara lebih optimal, ada beberapa hal yang dapat dilakukan : a. Pengaturan mengenai folklore harus diperbaiki secara total. Perancangan ulang ketentuan-ketentuan mengenai folklore harus mempertimbangkan penerapan perlindungan dalam format sistem sui generis. b. Pemerintah harus lebih aktif dalam melakukan upaya perlindungan folklore, minimal dengan mengeluarkan pernyataan atau dokumentasi resmi
[Type text] Page 20

mengenai hal-hal yang dianggap folklore. Dokumentasi tersebut seyogyanya dikeluarkan berdasarkan hasil penelitian ilmiah. c. Pemerintah harus lebih banyak dan lebih kreatif dalam melakukan kegiatan sosialisasi mengenai hak kekayaan intelektual dan khususnya mengenai perlindungan folklore kepada masyarakat, karena sebagian besar masyarakat masih sangat awam dengan itu. Pemerintah harus dapat menempatkan diri secara arif di tengah masyarakat, yaitu minimal dengan menjaga netralitasnya dari berbagai konflik sosial atau sengketa hukum yang terkait hak kekayaan intelektual atau perlindungan folklore.

[Type text]

Page 21