Anda di halaman 1dari 21

ESTROGEN DAN PROGESTERON

Hormon
Hormon adalah zat kimiawi yang dihasilkan tubuh secara alami. Hormon mengatur aktivitas seperti metabolisme, reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan. Pengaruh hormon dapat terjadi dalam beberapa detik, hari, minggu, bulan, dan bahkan beberapa tahun. Kelenjar endokrin disebut juga kelenjar buntu karena hormon yang dihasilkan tidak dialirkankan melalui suatu saluran tetapi langsung masuk kedalam pembuluh darah. Kelenjar Endokrin meliputi : Hipofisis (pituitary), Kelenjar Tiroid (kelenjar gondok), Kelenjar Paratiroid (kelenjar anak ginjal), Kelenjar Timus, Kelenjar Anak Ginjal (Adrenal), Kelenjar Pankreas (Langerhans), dan Kelenjar Kelamin. Hormon dari kelenjar endokrin mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh hingga mencapai organ organ tertentu. Meskipun semua hormone mengadakan kontak dengan semua jaringan dalam tubuh, namun hanya sel / jaringan yang mengandung reseptor yang spesifik terhadap hormon tertentu yang terpengaruh hormon tersebut. Begitu dikeluakan, hormon akan dialirkan oleh darah menuju berbagai jaringan sel dan menimbulkan efek tertentu sesuai dengan fungsinya masing-masing. Contoh efek hormon pada tubuh manusia: Perubahan Fisik yang ditandai dengan tumbuhnya rambut di daerah tertentu dan bentuk tubuh yang khas pada pria dan wanita (payudara membesar, lekuk tubuh feminin pada wanita dan bentuk tubuh maskulin pada pria). Perubahan Psikologis : Perilaku feminin dan maskulin, sensivitas, mood/suasana hati. Perubahan Sistem Reproduksi: Pematangan organ reproduksi, produksi organ seksual (estrogen oleh ovarium dan testosteron oleh testis). Hormon mempunyai ciri ciri sebagai berikut : 1. Diproduksi dan disekresikan ke dalam darah oleh sel kelenjar endokrin dalam jumlah sangat kecil
1

2. Diangkut oleh darah menuju ke sel/jaringan target 3. Mengadakan interaksi dengan reseptor khusus yang terdapat dalam sel target 4. Mempunyai pengaruh mengaktifkan enzim khusus 5. Mempunyai pengaruh tidak hanya terhadap satu sel target, tetapi dapat juga mempengaruhi beberapa sel target yang berlainan. Di balik fungsinya yang mengagumkan, hormon kadang jadi biang keladi berbagai masalah. Misalnya siklus haid yang tidak teratur atau jerawat yang tumbuh membabi buta di wajah. Hormon pula yang kadang membuat kita senang atau malah sedih tanpa sebab. Semua orang pasti pernah mengalami hal ini, terutama saat pubertas.Yang pasti, setiap hormon memiliki fungsi yang sangat spesifik pada masing-masing sel sasarannya. Tak heran, satu macam hormon bisa memiliki aksi yang berbeda-beda sesuai sel yang menerimanya saat dialirkan oleh darah. Pada dasarnya hormon bisa dibagi menurut komposisi kandungannya yang berbeda-beda sebagai berikut: Hormon yang mengandung asam amino (epinefrin, norepinefrin, tiroksin dan triodtironin). Hormon yang mengandung lipid (testosteron, progesteron, estrogen, aldosteron, dan kortisol). Hormon yang mengandung protein (insulin, prolaktin, vasopresin, oksitosin, hormon pertumbuhan (growth hormone), FSH, LH, TSH). Hormon-hormon ini bisa dibuat secara sintetis. Di antaranya adalah hormon wanita yaitu estrogen dan progesteron yang dibuat dalam bentuk pil. Pil ini merupakan bentuk utama kontrasepsi yang digunakan wanita seluruh dunia untuk memudahkan mereka menentukan saat yang tepat : kapan harus mempunyai anak dan jarak usia tiap anak.

Sistem Hormon Wanita


2

Hormon wanita terutama dibentuk di ovarium, sedangkan hormon pria dibentuk di testis. Baik pria maupun wanita, pada dasarnya memiliki jenis hormon yang relatif sama. Hanya kadarnya yang berbeda. Hormon seksual wanita antara lain progesteron dan estrogen. Hormon seksual pria antara lain androstenidion dan testosteron (androgen) . Pada wanita, hormon seksual kewanitaannya lebih banyak ketimbang pria. Begitu pula sebaliknya.

Sistem hormone wanita, terdiri dari 3 hierarki hormone sebagai berikut : 1. Hormone yang dikeluarkan hipotalamus, hormone pelepas-gonadtropin (GnRH) 2. Hormone seks hipofisis anterior, hormone perangsang folikel (FSH) dan hormone lutein (LH), keduanya disekresi sebagai respons terhadap pelepasan GnRH dari hipotalamus. 3. Hormone-hormon ovarium, estrogen dan progesterone, yang disekresi oleh ovarium sebagai respons terhadap kedua hormone seks wanita dari

kelenjar hipofisis anterior.

Fungsi Hormon-Hormon Ovarium-Estradiol dan Progesteron

Kedua jenis hormone kelamin ovarium adalah estrogen dan progestin. Sejauh ini yang paling dikenal adalah hormone estradiol dan yang paling penting dari progestin adalah progesterone. Estrogen terutama meningkatkan proliferasi dan pertumbuhan sel-sel khusus di dalam tubuh yang berperan dalam perkembangan dan sebagian besar karakteristik kelamin sekunder wanita. Progestin berfungsi terutama untuk menerima kehamilan dan persiapan payudara untuk laktasi. 1. Estrogen Estrogen merupakan bentukan dari androstenidion (hormon seksual pria yang utama) yang dihasilkan ovarium. Selain androstenidion, ovarium juga mengeluarkan testosteron dan dehidroepiandrosteron, tapi dalam jumlah yang sedikit. Hormon estrogen merupakan salah satu hormon steroid kelamin, karena mempunyai struktur kimia berintikan steroid yang secara fisiologik sebagian besar diproduksi oleh kelenjar endokrin sistem produksi wanita. Pria juga memproduksi estrogen tetapi dalam jumlah jauh lebih sedikit, fungsi utamanya berhubungan erat dengan fungsi alat kelamin primer dan sekunder wanita. Hormon ini menyebabkan perkembangan dan mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita, seperti payudara, dan juga terlibat dalam penebalan endometrium maupun dalam pengaturan siklus haid. Pada saat menopause, estrogen mulai berkurang sehingga dapat menimbulkan beberapa efek, di antaranya hot flash, berkeringat pada waktu tidur, dan kecemasan yang berlebihan. Terdapat tiga hormon estrogen utama, yaitu yang disebut estradiol, estrone, dan estriol. 1. Estradiol adalah estrogen terkuat, diproduksi oleh ovarium dan

bertanggungjawab terhadap tumbuh kembangnya payudara. 2. Estrone, estrogen yang lebih lemah, diproduksi oleh ovarium dan jaringan lemak.
4

3. Estriol, estrogen terlemah dari ketiga estrogen utama, dibuat di dalam tubuh dari estrogen-estrogen lain. Berbagai zat alami maupun buatan telah ditemukan memiliki aktivitas bersifat mirip estrogen. Zat buatan yang bersifat seperti estrogen disebut xenoestrogen, sedangkan bahan alami dari tumbuhan yang memiliki aktivitas seperti estrogen disebut fitoestrogen. Beberapa indikasi dari estrogen, antara lain: 1. Kontrasepsi. Estrogen sintetik paling banyak digunakan untuk kontrasepsi oral dalam kombinasi dengan progestin. 2. Menopause. Pada usia sekitar 45 tahun umumnya fungsi ovarium menurun. Terapi pengganti estrogen dapat mengatasi keluhan akibat gangguan vasomotor, antara lain hot flushes, vaginitis atropikans dan mencegah osteoporosis. 3. Vaginitis Senilis atau Atropikans. Radang pada vagina ini sering

berhubungan dengan adanya infeksi kronik pada jaringan yang mengalami atrofi. Dalam hal ini, estrogen lebih berperan untuk mencegah daripada mengobati. 4. Osteoporosis. Keadaan ini terjadi karena bertambahnya resorpsi tulang disertai berkurangnya pembentukan tulang. Pemberian estrogen dapat mencegah osteoporosis berkelanjuitan atau dapat pula diberikan estriol. 5. Karsinoma Prostat. Karena estrogen menghambat sekresi androgen secara tidak langsung maka hormon ini digunakan sebagai terapi paliatif karsinoma prostat. Fungsi primer dari estrogen adalah untuk menimbulkan proliferasi sel dan pertumbuhan jaringan organ-organ kelamin dan jaringan lain yang berkaitan dengan reproduksi. Efek estrogen pada Uterus dan Organ Kelamin Luar Wanita

Selama masa kanak-kanak, estrogen disekresi hanya dalam jumlah kecil, tetapi pada saat pubertas, jumlah yang disekresi pada wanita di bawah pengaruh hormone-hormon gonadtropin hipofisis meningkat sampai 20 kali lipat atau lebih. Pada saat ini, organ-organ kelamin wanita akan berubah dari yang dimiliki seorang anak menjadi yang dimiliki seorang wanita dewasa. Ovarium, tuba faloopii, uterus, dan vagina. Semuanya bertambah besar. Selain itu, genitalia eksterna membesar, dengan deposisi lemak pada mons pubis dan labia mayora disertai pembesaran labia minora. Selain itu, estrogen juga mengubah epitel vagina dari tipe kurboid menjadi bertingkat, yang dianggap lebih tahan terhadap trauma dan infeksi daripada epitel sel kuboid pra pubertas. Infeksi vagina pada anak sering dapat disembuhkan dengan pemberian estrogen hany karena estrogen yang dapat meningkatkan ketahanan epitel vagina. Selama beberapa tahun pertama sesudah pubertas, ukuran uterus meningkat menjadi dua sampai tiga kali lipat, tetapi yang lebih penting daripada bertambahnya ukuran uterus adalah perubahan yang berlangsung pada endometrium uterus di bawah pengaruh estrogen. Estrogen menyebabkan terjadinya proliferasi yang nyata stroma endometrium dan sangat meningkatkan perkembangan kelenjar endometrium, yang nantinya akan membantu memberi nutrisi pada ovum yang berimplantasi. Efek Estrogen pada Tuba Fallopii Estrogen berpengaruh pada mukosa yang membatasi tuba fallopii, sama seperti efek estrogen terhadap endometrium uterus. Estrogen menyebabkan jaringan kelenjar lapisan tersebut berproliferasi, dan yang penting, estrogen menyebabkan jumlah sel-sel epitel bersilia yang membatasi tuba fallopii bertambah banyak. Aktivitas silia juga meningkat. Silia tersebut selalu bergerak kea rah uterus, yang membantu mendorong ovum yan telah dibuahi ke arah uterus. Efek Estrogen pada Payudara

Payudara primordial baik pada wanita maupun pria pada dasarnya sama. Nyatanya, dan di bawah pengaruh hormone-hormon yang tepat. Payudara pria, selama 2 dekade kehidupan yang pertama,dapat cukup berkembang untuk memproduksi susu dengan cara yang sama seperti payudara wanita. Estrogen menyebabkan : Perkembangan jaringan stroma payudara Pertumbuhan sistem duktus yang luas Deposit lemak pada payudara

Lobulus dan alveoli payudara sedikit berkembang di bawah pengaruh estrogen sendiri, tetapi sebenarnya progesterone dan prolaktin lah yang mengakibatkan terjadinya tersebut. Estrogen memulai pertumbuhan payudara dan alat-alat pembentuk air susu payudara. Estrogen juga berperan pada pertumbuhan karakteristik dan penampilan luar payudara wanita dewasa. Akan tetapi, estrogen tidak menyelesaikan tugasnya yaitu mengubah payudara menjadi organ yang memproduksi susu. Efek estrogen pada tulang rangka Estrogen menghambat aktivitas osteoklastik di dalam tulang sehingga merangsang pertumbuhan tulang. Pada saat pubertas, ketika wanita masuk ke masa reproduksi, laju pertumbuhan tinggi badannya menjadi cepat selama beberapa tahun. Akan tetapi, estrogen juga mempunyai efek poten lainnya terhadap pertumbuhan tulang rangka. Estrogen juga menyebabkan terjadinya penggabungan awal epifisis dengan batang tulang panjang. Efek estrogen ini lebih kuat dibandingkan dengan efek serupa dari testosterone pada pria. Sebagai akibatnya, pertumbuhan wanita biasanya terhenti beberapa tahun lebih cepat daripada pertumbuhan pria. Wanita kasim (eunuch), yang sama sekali tidak memproduksi estrogen biasanya tumbuh beberapa inci lebih tinggi
7

pertumbuhan

yang

nyata

dan

berfungsinya

struktur-struktur

daripada wanita dewasa yang normal, karena epifisisnya tidak menyatu pada waktu yang normal. Osteoporosis Tulang karena Kekurangan Estrogen pada Usia Tua Sesudah menopause, hampir tidak ada estrogen yang disekresi oleh ovarium. Kekurangan estrogen ini akan menyebabkan : Pada Meningkatnya aktivitas osteoklastik pada tulang Berkurangnya matriks tulang Berkurangnya deposit kalsium dan fosfat tulang. bebrapa wanita, efek ini sangat hebat, sehingga menyebabkan

osteoporosis. Karena osteoporosis dapat sangat melemahkan tulang dan menyebabkan fraktur tulang, khususnya fraktur tulang vertebrata, maka banyak wanita pasca menopause mendapat perawatan profilaksis dengan penggantian estrogen untuk mencegah efek osteoporosis. Efek estrogen pada Deposisi Protein Estrogen menyebabkan sedikit peningkatan total protein tubuh, yang terbukti dari adanya keseimbangan nitrogen yang sedikit positif apabila diberikan estrogen. Keadaan ini terutama dihasilkan dari efek pemacu pertumbuhan dari estrogen pada organ-organ kelamin, tulang, dan beberapa jaringan tubuh yang lain. Peningkatan deposisi protein oleh testosterone lebih bersifat umum dan jauh lebih kuat daripada yang disebabkan oleh estrogen. Efek estrogen pada Metabolisme dan Penyimpanan Lemak Estrogen sedikit meningkatkan laju kecepatan metabolism seluruh tubuh, tetapi hanya kira-kira sepertiga dari efek peningkatan yang disebabkan oleh hormone kelamin pria, yaitu testosterone. Estrogen juga menyebabkan peningkatan junlah simpanan lemak dalam jaringan subkutan. Sebagai akibatnya, persentase lemak tubuh pada tubuh wanita dianggap lebih besar dibandingkan pada tubuh pria, yang mengandung lebih banyak protein. Selain simpanan lemak pada payudara dan jaringan subkutan, estrogen juga
8

menyebabkan simpanan lemak pada bokong dan paha, yang merupakan karakteristik sosok feminine. Efek Estrogen pada Distribusi Rambut Estrogen tidak terlalu memepengaruhi persebaran rambut. Akan tetapi, rambut akan tumbuh di daerah pubis dan aksila sesudah pubertas. Peningkatan jumlah androgen yang dibentuk oleh kelenjar adrenal setelah pubertas adalah hormone yang terutama berperan pada pertumbuhan tersebut. Efek Estrogen pada Kulit Estrogen menyebabkan kulit berkembang membentuk tekkstur yang halus dan lembut, tetapi meskipun demikian, kulit wanita lebih tebal daripada kulit seorang anak atau kulit wanita yang dikastrasi. Estrogen juga menyebabkan kulit menjadi lebih vascular, efek ini sering kali berkaitan dengan meningkatnya kehangatan kulit, juga menyebabkan lebih banyak pendarahan pada permukaan yang terluka dibandingkan pendarahan pada permukaan yang terluka dibandingkan perdarahan yang terjadi pada pria. Efek Estrogen pada Jantung dan Hati Estrogen membantu pengaturan produksi kolesterol oleh hati, sehingga menurunkan pembentukan plak pada pembuluh darah arteri koroni. Efek Estrogen pada Otak Estrogen membantu mempertahankan suhu tubuh. Estrogen mungkin

menunda penurunan memori. Estrogen membantu pengaturan sebagian otak yang menyiapkan tubuh untuk perkembangan seksual dan reproduksi. Efek Estrogen pada Ovarium Estrogen menstimulasi pematangan dari ovarium. Estrogen juga menstimulasi awal siklus menstruasi pada wanita, sebagai indikasi bahwa sistem reproduksi seorang gadis sudah matang/dewasa.

2. Progesteron Sejauh ini yang paling penting dari progestin adalah progesterone. Akan tetapi, sejumlah kecil progestin lain, yaitu 17--hidroksi progesterone, disekresi bersama dengan progesterone dan mempunyai efek yang pada dasarnya sama. Namun, untuk praktisnya, biasanya progesterone dianggap sebagai satu-satunya progresin yang penting. Progesteron adalah hormon wanita lain dalam jawab tubuh pada dengan efek

progestogenik.

Progesterone

bertanggung

perubahan

endometrium pada paruh kedua siklus menstruasi. Progesterone menyiapkan lapisan uterus (endometrium) untuk penempatan telur yang telah dibuahi dan perkembangannya, dan mempertahankan uterus selama kehamilan. Progesteron dihasilkan oleh korpus luteum dan dirangsang oleh LH.
10

Terdapat beberapa senyawa sintetik yang berefek progestogenik dan beberapa diantaranya juga berefek androgenik atau estrogenik yang disebut golongan progestin. Secara kimia, progesteron dibagi menjadi 2 kelompok: 1. Derivat progesteron: hidroksiprogesteron, medroksiprogesteron, megestrol, dan didrogesteron. 2. Derivat testosteron: noretisteron, tibolon, norgestrel, linestrenol, desogestrel, gestoden dan alilestrenol. Semua zat ini memiliki efek androgen kecuali Alilestrenol. Linestrenol, Noretisteron dan Tibolon berefek estrogen. Norgestrel, Desogestrel dan Gestoden memiliki efek antiestrogen yang kuat, begitu juga dengan Noretisteron, Linestrenol, Megestrol dan Medroksiprogesteron tetapi lebih lemah. Progesteron memiliki khasiat sebagai berikut: 1. Kontrasepsi. Beberapa derivat progestin sering dikombinasikan dengan derivat estrogen untuk kontrasepsi oral. 2. Disfungsi antara perdarahan rahim. Perdarahan rahim akibat gangguan keseimbangan estrogen dan progesteron tanpa ada kelainan organik lain perdarahan rahim fungsional. Untuk menghentikan perdarahan yang berlebihan dan pengaturan siklus hadi dapat diberikan progestin oral dosis besar. 3. Nyeri saja. 4. Endometriosis. Penyebab nyeri hebat pada endometriosis belum jelas diketahui tapi dapat diberikan noretindron. Pada wanita normal yang tidak hamil, progesterone disekresi dalam jumlah cukup banyak hanya selama separuh akhir dari setiap siklus ovarium, ketika hormone ini disekresi oleh korpus luteum. Sejumlah besar progesterone juga haid. Pemberian kombinasi estrogen dengan progestin

diindikasikan untuk nyeri haid yang tidak dapat diatasi dengan estrogen

11

disekresi oleh plasenta selama kehamilan, khususnya sesudah kehamilan bulan ke empat. Efek Progesteron pada Uterus Sejauh ini fungsi progesterone yang paling penting adalah untuk meningkatkan perubahan sekretorik pada endometrium uterus selama separuh terakhir sikulus seksual bulanan wanita, sehingga mempersiapkan uterus untuk menerima ovum yang sudah dibuahi. Selain dari efek terhadap endometrium, progesterone juga mengurangi frekuensi dan intensitas kontraksi uterus, sehingga membantu mencegah terlepasnya ovum yang sudah berimplantasi. Efek Progesteron pada Tuba Fallopii Progesterone juga meningkatkan sekresi pada mukosa yang membatasi tuba fallopii. Sekresi ini dibutuhkan untuk nutrisi ovum yangtelah dibuahi, dan sedang memebelah, sewaktu ovum bergerak dalam tuba fallopii sebelum berimplantasi. Efek Progesteron pada Payudara Progesterone meningkatkan perkembangan lobules dan alveoli payudara, mengakibatkan sel-sel alveolar berproliferasi, membesar, dan menjadi bersifat sekretorik. Akan tetapi, progesterone tidak menyebabkan alveoli menyekresi air susu. Air susu disekresi hanya sesudah payudara yang siap dirangsang lebih lanjut oleh prolaktin dari kelenjar hipofisis anterior. Progesterone juga mengakibatkan payudara membengkak. Sebagian dari pembengkakan ini terjadi karena perkembangan sekretorik dari lobules dan alveoli, tetapi sebagian lagi kelihatannya dihasilkan oleh peningkatan cairan di dalam jaringan subkutan. Siklus Bulanan Endometrium dan Menstruasi Produksi berulang dari estrogen dan progesterone oleh ovarium mempunyai kaitan dengan siklus endometrium pada lapisan uterus yang bekerja melalui tahapan berikut ini :

12

Proliferasi endometrium uterus Perubahan sekretoris pada endometrium Deskuaminasi endometrium yang dikenal sebagai menstruasi Regenerasi

Fase Proliferasi Dinamakan juga fase folikuler, yaitu suatu fase yang menunjukan waktu (masa) ketika ovarium beraktivitas membentuk dan mematangkan folikel-folikelnya serta uterus beraktivitas menumbuhkan lapisan endometriumnya yang mulai pulih dan dibentuk pada fase regenerasi atau pascahaid. Pada siklus haid klasik, fase proliferasi berlangsung setelah perdarahan haid berakhir, dimulai pada hari ke-5 sampai 14 (terjadinya proses evolusi). Fase proliferasi ini berguna untuk menumbuhkan lapisan endometrium uteri agar siap menerima sel ovum yang telah dibuahi oleh sel sperma, sebagai persiapan terhadap terjadinya proses kehamilan. Pada fase ini terjasi pematangan folikel-folikel di dalam ovarium akibat pengaruh aktivitas hormone FSH yang merangsang folikel-folikel tersebut untuk menyintesis hormone estrogen dalam jumlah yang banyak. Peningkatan pembentukan dan pengaruh dari aktivitas hormone FSH pada fase ini juga mengakibatkan terbentuknya banyak reseptor hormone LH dilapisan sel-sel granulose dan cairan folikel-folikel dalam ovarium. Pembentukan hormone estrogen yang terus meningkat tersebutsampai kira-kira pada hari ke-13 siklus haid (menjelang terjadinya proses ovulasi)akan mengakibatkan terjadinya pengeluaran hormone LH yang banyak sebagai manifestasi umpan balik positif dari hormone estrogen (positive feed back mechanism) terhadap adenohipofisis. Pada saat mendekati masa terjadinya proses ovulasi, terjadi peningkatan kadar hormone LH di dalam serum dan cairan folikel-folikel ovarium yang akan memacu ovarium untuk mematangkan folikel-folikel yang dihasilkan di
13

dalamnya sehingga sebagian besar folikel di ovarium diharapkan mengalami pematangan (folikel de Graaf). Disamping itu, akan terjadi perubahan penting lainnya, yaitu peningkatan konsentrasi hormone estrogen secara perlahanlahan, kemudian melonjak tinggi secara tiba-tiba pada hari ke-14 siklus haid klasik (pada akhir fase proliferasi), biasanya terjadi sekitar 16-20 jam sebelum pecahnya folikel de Graaf, diikuti peningkatan dan pengeluaran hormone LH dari adenohipofisis, perangsangan peningkatan kadar hormone progesterone, dan peningkatan suhu basal badan sekitar 0,5C. Adanya peningkatan pengeluaran kadar hormone LH yang mencapai puncaknya (LH-Surge), estrogen dan progesterone menjelang terjadinya proses tersebut di ovarium pada hari ke-14 siklus haid. Di sisi lain, aktivitas hormone estrogen yang terbentuk pada fase proliferasi tersebut dapat mempengaruhi tersimpannya enzim-enzim dalam lapisan endometrium uteri serta merangsang pembentukan glikogen dan asam-asam mukopolisakarida pada lapisan tersebut. Zat-zat ini akan turut serta dalam pembentukan dan pembangunan lapisan endometrium uteri, khususnya pembentukan stroma di bagian yang lebih dalam dari lapisan endometrium uteri. Pada saat yang bersamaan terjadi pembentukan system vaskularisasi ke dalam lapisan fungsional endometrium uteri. Selama fase prolferasi dan terjadinya proses ovulasidi bawah pengaruh hormone estrogenterjadi pengeluaran getah atau lendir dari dinding serviks uteri dan vagina yang lebih encer dan bening. Pada saat ovulasi getah tersebut mengalami penurunan konsentrasi protein (terutama albumin), sedangkan air dan musin (pelumas) bertambah berangsur-angsur sehingga menyebabkan terjadinya penurunan viskositas dari getah yang dikeluarkan dari serviks uteri dan vaginanya tersebut. Peristiwa ini diikuti dengan terjadinya proses-proses lainnya di dalam vagina, seperti peningkatan produksi asam laktat dan menurunkan nilai pH (derajat keasaman), yang akan memperkecil resiko terjadinya infeksi di dalam vagina. Banyaknya getah yang dikeluarkan dari daerah serviks uteri dan vagina tersebut juga dapat menyebabkan terjadinya kelainan yang disebut keputihan karena pada flora normal di dalam vagina juga terdapat microorganisme yang bersifat pathogen potensial. Sebaliknya,
14

sesudah terjadinya proses ovulasi (pada awal fase luteal)di bawah pengaruh hormone progesteronegetah atau lendir yang dikeluarkan dari serviks uteri dan vagina menjadi lebih kental dan keruh. Setelah terjadinya proses ovulasi, getah tersebut mengalami perubahan kembali dengan peningkatan konsentrasi protein, sedangkan air dan musinnya berkurang berangsur-angsur sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan viskositas dan pengentalan dari getah yang dikeluarkan dari serviks uteri dan vaginanya. Dengan kata lain, pada fase ini merupakan masa kesuburan wanita. Fase Luteal Dinamakan juga fase sekresi atau fase prahaid, yaitu suatu fase yang menunjukan waktu (masa) ketika ovarium beraktivitas membentuk korpus luteum dari sisa-sisa folikel matangnya (folikel de Graaf) yang sudah mengeluarkan sel ovumnya pada saat terjadinya ovulasi dan menghasilkan hormone progesterone yang akan digunakan sebagai penunjang lapisan endometrium uteri untuk bersiap-siap menerima hasil konsepsi (jika terjadi kehamilan) atau melakukan proses deskuamasi dan penghambatan masuknya sel sperma (jika tidak terjadi kehamilan). Pada hari ke-14 (setelah terjadinya proses ovulasi) sampai hari ke-28, berlangsung fase luteal. Pada fase ini mempunyai ciri khas tertentu, yaitu terbentuknya korpus luteum ovarium serta perubahan bentuk (menjadi memanjang dan berkelok-kelok) dan fungsi dari kelenjar-kelenjar Adanya Pengaruh di lapisan aktivitas endometrium hormone uteri akibat dapat fase pengaruh dari peningkatan hormone LH yang diikuti oleh pengeluaran hormone progesterone. pengaruh aktivitas progesterone selama menyebabkan luteal dapat terjadinya perubahan sekretorik, terutama pada lapisan endometrium uteri. hormone progesterone meningkatkan konsentrasi getah serviks uteri menjadi lebih kental dan membentuk jala-jala tebal di uterus sehingga akan menghambat proses masuknya sel sperma ke dalam uterus. Bersamaan dengan hal ini, hormone progesterone akan mempersempit daerah porsio dan serviks uteri sehingga pengaruh aktivitas hormone progesterone yang lebih lama, akan menyebabkan degenerasi dari lapisan endometrium uteri dan tidak memungkinkan terjadinya proses nidasi dari hasil konsepsi ke dinding uterusnya.
15

Peningkatan produksi hormone progesterone yang telah dimulai sejak akhir fase folikuler akan terus berlanjut sampai akhir fase luteal. Hal ini disebabkan oleh peningkatan aktivitas hormone estrogen dalam menyintesis reseptorreseptornya (reseptor hormone LH dan progesterone) di ovarium dan terjadinya perubahan sintesis hormon-hormon seks steroid (hormone estrogen menjadi hormone progesterone) di dalam sel-sel granulose ovarium. Perubahan ini secara normal mencapai puncaknya pada hari ke-22 siklus haid klasik karena pada masa ini pengaruh hormone progesterone terhadap lapisan endometrium uteri paling jelas terlihat. Jika proses nidasi tersebut tidak terjadi, hormone estrogen dan progesterone akan menghambat sintesis dan aktivitas hormone FSH dan LH di adenohipofisis sehingga membuat korpus luteum menjadi tidak dapat tumbuh dan berkembang kembali, bahkan mengalami penyusutan dan selanjutnya menghilang. Di sisi lain, pada masa menjelang terjadinya perdarahan haid, pengaruh aktivitas hormone progesterone tersebut juga akan menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh-pembuluh darah yang diikuti dengan dengan terjadinya ischemia dan nekrosis pada sel-sel dan jaringan endometrium uterinya sehingga memungkinkan terjadinya proses deskuamasi lapisan endometrium uteri yang disertai dengan terjadinya perdarahan dari daerah tersebut yang dikeluarkan melalui vagina. Akhirnya, bermanifestasi sebagai perdarahan haid.

Pada saat setelah terjadinya proses ovulasi di ovarium, sel-sel granulosa ovarium akan berubah menjadi sel-sel luteal ovarium, yang berperan dalam peningkatan pengeluaran hormon progesteron selama fase luteal siklus haid. Faktanya menunjukan bahwa salah satu peran dari hormon progesteron adalah sebagai pendukung utama terjadinya proses kehamilan. Apabila proses kehamilan tersebut tidak terjadi, peningkatan hormon progesteron yang terjadi tersebut akan mengikuti terjadinya penurunan hormon LH dan secara langsung hormon progesteron (bersama dengan hormon estrogen) akan melakukan penghambatan terhadap pengeluaran hormon FSH, LH, dan LHRH, yang derajat hambatannya bergantung pada konsentrasi dan lamanya pengaruh hormon progesteron tersebut. Kemudian melalui mekanisme ini secara otomatis hormon-hormon progesteron dan estrogen juga akan menurunkan pengeluaran hormon LH, FSH, dan LHRH tersebut sehingga proses sintesis dan sekresinya
16

dari

ketiga

hormon

hipofisis

tersebut,

yang

memungkinkan

terjadinya

pertumbuhan folikel-folikel dan proses ovulasi di ovarium selama fase luteal, akan berkurang atau berhenti, dan akan menghambat juga perkembangan dari korpus luteum. Pada saat bersamaan, setelah terjadinya proses ovulasi, kadar hormon estrogen mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh terjadinya puncak peningkatan kadar hormon LH dan aktivitasnya yang terbentuk ketika proses ovulasi terjadi dan berakibat terjadi proliferasi dari sel-sel granulosa ovarium, yang secara langsung akan menghambat dan menurunkan proses sintesis hormon estrogen dan FSH serta meningkatkan pembentukan hormon progesteron di ovarium. Di akhir fase luteal, terjadi penurunan reseptor-reseptor dan aktivitas hormon LH di ovarium secara berangsur-angsur, yang diikuti penurunan proses sintesis hormon-hormon FSH dan estrogen yang telah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, pada masa akhir fase luteal akan terjadi pembentukan kembali hormon FSH dan estrogen dengan aktivitas-aktivitasnya di ovarium dan uterus. Beberapa proses lainnya yang terjadi pada awal sampai pertengahan fase luteal adalah terhentinya proses sintesis enzim-enzim dan zat mukopolisakarida yang telah berjalan sebelumnya sejak masa awal fase proliferasi. Akibatnya, terjadi peningkatan permeabilitas (kebocoran) dari pembuluh-pembuluh darah di lapisan endometrium uteri yang sudah berkembang sejak awal fase proliferasi dan banyak zat-zat makanan yang terkandung di dalamnya mengalir menembus langsung stroma dari lapisannya tersebut. Proses tersebut dijadikan sebagai persiapan lapisan endometrium uteri untuk melakukan proses nidasi terhadap hasil konsepsi yang terbentuk jika terjadi proses kehamilan. Jika tidak terjadi proses kehamilan, enzim-enzim dan zat mukopolisakarida tersebut akan dilepaskan dari lapisan endometrium uteri sehingga proses nekrosis dari sel-sel dan jaringan pembuluh-pembuluh darah pada lapisan tersebut. Hal itu menimbulkan gangguan dalam proses terjadinya metabolisme sel dan jaringannya sehingga terjadi proses regresi atau deskuamasi pada lapisan tersebut dan disertai perdarahan.
17

Pada saat yang bersamaan, peningkatan pengeluaran dan pengaruh hormon progesteron (bersama dengan hormon estrogen) pada akhir fase luteal akan menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh-pembuluh darah di lapisan endometrium uteri, yang kemudian dapat menimbulkan terjadinya proses ischemia di lapisan tersebut sehingga akan menghentikan proses metabolisme pada sel dan jaringannya. Akibatnya, terjadi regresi atau deskuamasi pada lapisan tersebut disertai perdarahan. Perdarahan yang terjadi ini merupakan manifestasi dari terjadinya perdarahan haid. Fase Menstruasi Dinamakan juga fase deskuamasi atau fase haid, yaitu suatu fase yang menunjukan waktu (masa) terjadinya proses deskuamasi pada lapisan endometrium uteri disertai pengeluaran darah dari dalam uterus dikeluarkan melalui vagina. Pada akhir fase luteal terjadi peningkatan hormon estrogen yang dapat kembali menyebabkan perubahan sekretorik pada dinding uterus dan vagina, berupa peningkatan produksi dan penurunan konsentrasi getah yang dikeluarkan dari serviks uteri dan vagina serta peningkatan konsentrasi glikogen dalam serviks uteri dan vagina. Hal ini memungkinkan kembali terjadinya proses peningkatan pengeluaran getah yang lebih banyak dari serviks uteri dan vaginanya serta keputihan. dan

Pada saat akhir fase luteal, peningkatan kadar dan aktivitas hormon estrogen yang terbentuk kembali masih belum banyak sehingga terjadinya prosesproses perangsangan produksi asam laktat oleh bakteri-bakteri flora normal dan penurunan nilai derajat keasaman, yang diharapkan dapat menurunkan resiko terjadinya infeksi di dalam vagina menjadi tidak optimal, dan ditambah penumpukan getah yang sebagian besar masih dalam keadaan mengental. Oleh karena itu, pada saat menjelang proses perdarahan haid tersebut, daerah vagina menjadi sangat beresiko terhadap terjadinya penularan penyakit (infeksi) melalui hubungan persetubuhan (koitus).
18

Terjadinya pengeluaran getah dari serviks uteri dan vagina tersebut sering bercampur dengan pengeluaran beberapa tetesan darah yang sudah mulai keluar menjelang terjadinya proses perdarahan haid dari dalam uterus dan menyebabkan terlihatnya cairan berwarna kuning dan keruh, yang keluar dari vaginanya. Sel-sel darah merah yang telah rusak dan terkandung dari cairan yang keluar tersebut akan menyebabkan sifat bakteri-bakteri flora normal yang ada di dalam vagina menjadi bersifat infeksius (patogen potensial) dan memudahkannya untuk berkembang biak dengan pesat di dalam vagina. Bakteri-bakteri infeksius yang terkandung dalam getah tersebut, kemudian dikeluarkan bersamaan dengan pengeluaran jaringan dari lapisan endometrium uteri yang mengalami proses regresi atau deskuamasi dalam bentuk perdarahan haid atau dalam bentuk keputihan yang keluar mendahului menjelang terjadinya haid.

Pada saat bersamaan, lapisan endometrium uteri mengalami iskhemia dan nekrosis, akibat terjadinya gangguan metabolisme sel atau jaringannya, yang disebabkan terhambatnya sirkulasi dari pembuluh-pembuluh darah yang memperdarahi lapisan tersebut akibat dari pengaruh hormonal, ditambah dengan penonjolan aktivasi kinerja dari prostaglandin F2(PGF2) yang timbul akibat terjadinya gangguan keseimbangan antara prostaglandin E2(PGE2) dan F2 (PGF2) dengan prostasiklin (PGI2), yang disintesis oleh sel-sel endometrium uteri (yang telah mengalami luteinisasi sebelumnya akibat pengaruh dari homogen progesteroon). Semua hal itu akan menjadikan lapisan edometrium uteri mengalami nekrosis berat dan sangat memungkinkan untuk mengalami proses deskuamasi. Pada fase menstruasi ini juga terjadi penyusutan dan lenyapnya korpus luteum ovarium luteal). Fase Regenerasi Dinamakan juga fase pascahaid, yaitu suatu fase yang menunjukan waktu (masa) terjadinya proses awal pemulihan dan pembentukan kembali lapisan
19

(tempat

menetapnya

reseptor-reseptor

serta

terjadinya

proses

pembentukan dan pengeluaran hormon progesteron dan LH selama fase

endometrium

uteri

setelah

mengalami

proses

deskuamasi

sebelumnya.

Bersamaan dengan proses regresi atau deskuamasi dan perdarahan haid pada fase menstruasi tersebut, lapisan endometrium uteri juga melepaskan hormon prostaglandin E2 dan F2, yang akan mengakibatkan berkontraksinya lapisan mimometrium uteri sehingga banyak pembuluh darah yang terkandung di dalamnya mengalami vasokontriksi, akhirnya akan membatasi terjadinya proses perdarahan haid yang sedang berlangsung. Di sisi lain, proses penghentian perdarahan haid ini juga didukung oleh pengaktifan kembali pembentukan dan pengeluaran hormon FSH dan estrogen sehingga memungkinkan kembali terjadinya pemacuan proses proliferasi lapisan endometrium uteri dan memperkuat kontraksi otot-otot uterusnya. Hal ini secara umum disebabkan oleh penurunan efek hambatan terhadap aktivitas adenohipofisis dan hipotalamus yang dihasilkan dari hormon progesteron dan LH (yang telah terjadi pada fase luteal), saat terjadinya perdarahan haid pada fase menstruasi sehingga terjadi pengaktifan kembali dari hormon-hormon LHRH, FSH, dan estrogen. Kemudian bersamaan dengan terjadinya proses penghentian perdarahan haid ini, dimulailah kembali fase regenerasi dari siklus

haid tersebut
20

21