Anda di halaman 1dari 14

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMOTHORAX 1.

Definisi Terdapat banyak pengertian dari pneumotoraks di antaranya adalah: Pneumotoraks adalah pengumpulan udara didalam ruang potensial antara pleura visceral dan Parietal (Arif Mansjoer dkk, 2000). Pneumotoraks juga di definisikan keluarnya udara dari paru yang cidera, ke dalam ruang pleura sering diakibatkan karena robeknya pleura (Suzanne C. Smeltzer, 2001). Selanjutnya pneumotoraks di artikan adanya udara dalam rongga pleura akibat robeknya pleura (Sylvia Prince, patofisiologi Konsep Klinis; 800). Adapula yang mengartikan Pneumotoraks dengan adanya udara di dalam rongga pleura. Pneumotoraks adalah adanya udara yang terperangkap di rongga pleura.

Udara dalam kavum pleura ini dapat ditimbulkan oleh : a. Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal dari alveolus akan memasuki kavum pleura. Pneumothorax jenis ini disebut sebagai closed pneumothorax. Apabila kebocoran pleura visceralis berfungsi sebagai katup, maka udara yang masuk saat inspirasi tak akan dapat keluar dari kavum pleura pada saat ekspirasi. Akibatnya, udara semakin lama semakin banyak sehingga mendorong

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 mediastinum pneumothorax. b. Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat hubungan antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang yang terjadi lebih besar dari 2/3 diameter trakea, maka udara cenderung lebih melewati lubang tersebut dibanding traktus respiratorius yang seharusnya. Pada saat inspirasi, tekanan dalam rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke kavum pleura lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru ipsilateral. Saat ekspirasi, tekanan rongga dada meningkat, akibatnya udara dari kavum pleura keluar melalui lubang tersebut. Kondisi ini disebut sebagai open pneumothorax. Dari semua pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa pneumotoraks adalah keadaan emergensi yang di sebabkan oleh akumulasi udara atau gas dalam rongga pleura sebagai akibat dari proses penyakit atau cidera. 2. Etiologi a. Idiopatik b. Trauma tumpul toraks c. Prosedur diagnostik dan terapi Torakosentesis Biopsi paru (cara aspirasi) Biopsi paru (cara perkutaneus) Tindakan bedah kardiotoraks Tindakan resusitasi Penggunaan ventilator kearah kontralateral dan menyebabkan terjadinya tension

d. Penyakit saluran pernafasan bagian bawah o Penyakit membran hialin o Sindroma aspirasi o Asma o Fibrosis sistik o Tuberkulosis o Pneumonia dan bronkiolitis o Keganasan 3. Klasifikasi

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 Dikenal dua jenis: a) Pneumotorak primer Tanpa penyakit dasar yang jelas. Lebih sering pada laki-laki muda sehat dibandingkan wanita. Timbul akibat ruptur bulla kecil (12 cm) subpleural, terutama di bagian puncak paru. b) Pneumotorak sekunder Tersering pada pasien bronkitis dan emfisema yang mengalami ruptur emfisema subpleura atau bulla. Penyakit dasar lain: Tb paru, asma lanjut, pneumonia, abses paru atau Ca paru. Pneumotorak berhubungan dengan peningkatan tekanan intrapulmoner yang meluas sampai ke rongga udara subpleura dan permukaan pleura karena adanya obstruksi jalan nafas, alveoli yang besar, kista paru atau bulla. Tergantung pada kebocoran udara yang terjadi dikenal 3 tipe: a) Pneumotorak tertutup Lubang tertutup spontan dari udara dalam rongga torak diserap kembali. b) Pneumotorak terbuka Lubang pada pleura viseralis tetap terbuka dan paru-paru tetap kuncup. Terkadang terdapat fistel bronkopleura, yaitu adanya hubungan langsung antara bronkus dan rongga torak. c) Pneumotorak ventil Terjadi peningkatan progresif tekanan intrapleural yang menimbulkan kolaps paru yang progresif dan diikuti pendorongan mediastinal dan kompresi paru kontralateral. Pada pneumotorak berat terjadi penurunan ventilasi dan AV shunt diikuti hipoksemi. Hal ini lebih berat dan cepat terjadi pada pneumotorak sekunder yang disertai penyakit paru lain. 4. Manifestasi Klinik Keluhan : timbulnya mendadak, biasanya setelah mengangkat barang berat, habis batuk keras, kencing yang mengejan, penderita menjadi sesak yang makin lama makin berat. Keluhan utama (DS): sesak, napas berat, bisa disertai batuk-batuk. Nyeri dada dirasakan pada sisi sakit, terasanya berat (kemeng), terasa tertekan, terasa lebih nyeri pada gerakan respirasi.

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 Gejalanya sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah udara yang masuk ke dalam rongga pleura dan luasnya paru-paru yang mengalami kolaps (mengempis). Gejalanya bisa berupa: Nyeri dada tajam yang timbul secara tiba-tiba, dan semakin nyeri jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk (DS) Sesak nafas (DS) Dada terasa sempit (DS) Mudah lelah (DS) Denyut jantung yang cepat (DS/DO) Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen (DO).

Gejala-gejala tersebut mungkin timbul pada saat istirahat atau tidur. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: Hidung tampak kemerahan (DO) Cemas, stres, tegang (DO) Tekanan darah rendah (hipotensi) (DO).

5. Pemeriksaan Penunjang a. Photo toraks (pengembangan paru-paru). b. Laboratorium (Darah Lengkap dan Astrup). Penjelasan: a. X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral) b. Diagnosis fisik : Bila pneumotoraks < 30% atau hematotorax ringan (300cc) terap simtomatik, observasi. Bila pneumotoraks > 30% atau hematotorax sedang (300cc) drainase cavum pleura dengan WSD, dainjurkan untuk melakukan drainase dengan continues suction unit. Pada keadaan pneumotoraks yang residif lebih dari dua kali harus dipertimbangkan thorakotomi Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari 800 cc segera thorakotomi.

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014

6. Patofisiologi
Trauma dada

Mengenai rongga toraks sampai rongga pleura, udara bisa masuk (pneumothorax)

Terjadi paru.

robekan

Pembuluh

Darah

intercostal, pembuluh darah jaringan paru-

Karena

tekanan

negative

Terjadi perdarahan : (perdarahan perarahan jaringan intraalveolar intersititium, diikuti kolaps

intrapleuraMaka udara luar akan terhisap masuk kerongga pleura (sucking wound)

kapiler kecil-kecil dan atelektasi)

Tahanan perifer pembuluh paru naik (aliran darah turun)

Oper penumothorax Close pneumotoraks Tension pneumotoraks kurang 300 cc ---- di punksi 800 cc ------ torakotomi

Ringan Sedang 300 - 800 cc ------ di pasang drain Berat lebih

Mendesak paru-paru Tek. Pleura meningkat terus (kompresi dan dekompresi), pertukaran gas berkurang

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014

yang progresif jejas atau trauma Sesak napas yang progresif (sukar bernapas/bernapas berat) Bising napas berkurang/hilang Bunyi napas sonor/hipersonor Foto toraks gambaran udara lebih 1/4 dari rongga torak cepat/lemah pucat 15 - 35 % tertutup bayangan napas tak terdenga dengan batas jelas/tak jelas. bernapas

Sesak napas Nyeri bernapas / pernafsan asimetris / adanya Nyeri Pekak Bising Nadi Anemis /

Poto toraks

WSD/Bullow Drainage

Terdapat luka pada WSD Nyeri pada luka bila untuk bergerak Ketidak efektifan pola pernapasan Inefektif bersihan jalan napas -

Kerusakan integritas kulit Resiko terhadap infeksi Perubahan kenyamanan : Nyeri perawatan WSD harus diperhatikan. Gangguan mobilitas fisik Potensial Kolaboratif : Atelektasis dan Pergeseran mediatinum

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 7. Komplikasi 1. Tension Penumototrax 2. Penumotoraks Bilateral 3. Emfiema 8. Masalah Keperawatan Data DS: Nyeri dada tajam yang timbul secara tiba-tiba, dan semakin nyeri jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk, Sesak nafas, Dada terasa sempit DO: Hidung tampak kemerahan, Cemas, stres, tegang, RR: <20x/mnt (DS): sesak, napas berat, biSA disertai batuk-batuk. Nyeri dada dirasakan pada sisi sakit, terasanya berat (kemeng), terasa tertekan, terasa lebih nyeri gerakan (timbulnya biasanya pada respirasi mendadak, setelah Inefektif bersihan jalan nafas Analisa Masalah Keperawatan Ketidakefektifan pola nafas

mengangkat barang berat, habis batuk keras, kencing yang mengejan, penderita menjadi sesak yang makin lama makin berat).

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 DO: Denyut jantung yang cepat, Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen Hidung tampak kemerahan, Cemas, Tekanan stres, darah tegang, rendah

(hipotensi), RR: < 16x/mnt. 9. Diagnosa Keperawatan 1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan. 2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. 3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. 4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal. 5. Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum. 6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage. 7. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organism sekunder terhadap trauma. 10. Tujuan dan Intervensi Keperawatan 1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma. Tujuan : Pola pernapasan efektive setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 1 jam. Kriteria hasil :

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014


Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive 16-20x/mnt. Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru. Adaptif mengatasi faktor-faktor penyebab. INTERVENSI a. Berikan nyaman, RASIONAL yangb. Meningkatkan dnegan

posisi

inspirasi

maksimal,

biasanya

meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.

peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien b. untuk duduk sebanyak c. fungsi frekuensi atau d. c. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. e. d. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru- f. paru. e. tenang, Pertahankan bantu lebih pasien lambat alat perilaku untuk dang. catat dispnea mungkin. Obsservasi pernapasan, pernapasan,

Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia. Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan teraupetik. Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. klien terhadap rencana

perubahan tanda-tanda vital.

kontrol diri dengan menggunakan pernapasan dalam. f. Perhatikan bullow 1) Mempe rtahankan tekanan negatif intrapleural drainase berfungsi baik, cek setiap .

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 1 - 2 jam : 1) Periksa penghisap pengontrol jumlah 2) cairan 3) ung udara selama lubang menunjukkan pelindung yang mencegah untuk sesuai yang diberikan, ekspansi Air penampung/botol bertindak sebagai 2) pada Periksa batas botol udara gelemb ekspirasi angin dari penghisap, atmosfir masuk ke area pleural. yang paru

meningkatkan

optimum/drainase cairan.

hisapan yang benar.

pertahankan pada batas yang ditentukan. 3) Observasi gelembung udara botol penempung.

penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. dapat Tak adanya gelembung slang buntu. 4) Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan. menunjukkan

ekpsnsi paru lengkap/normal atau

4)

Posisikan

sistem

drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat 5) drainage. Alirkan 5) akumulasi dranase bela perlu. Catat karakter/jumlah drainage selang dada. h. g. Kolaborasi kesehatan lain : dengan tim

Bergun a untuk mengevaluasi perbaikan yang kondisi/terjasinya perdarahan

memerlukan upaya intervensi. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain unutk engevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 Dengan dokter, radiologi fisioterapi.


dan

Pemberian antibiotika. Pemberian analgetika. Fisioterapi dada. Konsul photo toraks.

2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. Tujuan : Jalan napas lancar/normal setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x1 jam Kriteria hasil :

Menunjukkan batuk yang efektif. Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan. Klien nyaman. INTERVENSI a. Jelaskan RASIONAL a. Pengetahuan yang diharapkan akan membantu klien mengembangkan terhadap rencana kepatuhan teraupetik. tentang b. Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi. c. d. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin. Lakukan diafragma. pernapasan d. Pernapasan menurunkan frek. diafragma napas dan c. lebih luas. Memungkinkan ekspansi paru

klien

tentang

kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan. b. batuk. Ajarkan klien metode yang tepat pengontrolan

meningkatkan ventilasi alveolar.

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 e. lahan, f. dengan g. Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahankeluarkan sebanyak f. klien. mungkin melalui mulut. Lakukan napas ke dua, tahan dan batukkan dari dada melakukan 2 batuk pendek dan kuat. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk. h. untuk yang Ajarkan klien menurunkan adekuat; tindakan viskositas h. g. Sekresi diencerkan atelektasis. Untuk saluran nafas bagian atas. menghindari pengentalan dari sekret atau mosa pada dan kental dapat sulit untuk menyebabkan Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk e. Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.

sumbatan mukus, yang mengarah pada

sekresi : mempertahankan hidrasi meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. i. Dorong perawatan mulut setelah batuk. j. Kolaborasi kesehatan lain : Dengan dokter, radiologi fisioterapi.

atau

berikan baik i. Hiegene mencegah bau mulut j. dan Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan

yang

dengan

tim

Pemberian expectoran. Pemberian antibiotika. Fisioterapi dada. Konsul photo toraks.

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. Tujuan : Nyeri berkurang/hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil :

Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi (skala 1-4). Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri. Pasien tidak gelisah. INTERVENSI RASIONAL a. Jelaskan dan bantu klien a. Pendekatan dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif. b. Ajarkan Relaksasi dengan menggunakan

relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.

: b. Akan

melancarkan

peredaran

darah,

Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase. c. d. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman;

sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya. c. Mengalihkan perhatian nyerinya ke halhal yang menyenangkan. d. Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.

misal waktu tidur, belakangnya e. Pengetahuan dipasang bantal kecil. e. Tingkatkan menghubungkan pengetahuan berapa lama tentang: sebab-sebab nyeri, dan nyeri akan berlangsung. dapat kepatuhan teraupetik. f. Analgetik

yang

akan

dirasakan

membantu mengurangi nyerinya. Dan membantu klien memblok mengembangkan terhadap lintasan rencana nyeri,

Nama: Aprillia NurAida NIM : 0810720014 sehingga nyeri akan berkurang. f. g. Kolaborasi denmgan g. Pengkajian yang optimal akan dokter, pemberian analgetik. Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari. 11. Evaluasi Melalui lembar SOAP pada setiap tindakan keperawatan. 12. Referensi Brunner and Suddart. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Diskusi, Forum. Pneumotoraks, http://www.indonesiaindonesia.com Editor: Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare. Jakarta: EGC. 2001 Griffiths, M. J. D, 2004. Respiratory Management in Critical Care. London: BMJ Publishing Hudak&Gallo, 2005. Keperawatan Kritis. Jakarta: EGC Price, Wilson, 2006. Patolofisologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.