Anda di halaman 1dari 17

sejarah madukismo

Rabu, 18 November 2009


History
Industri perkebunan tebu bersifat kolonial yang cenderung mengeksploitasi tanah dan tenaga kerja. Industri perkebunan tebu juga digambarkan sebagai struktur hierarki dan represif yang sengaja di disciptakan oleh penguasa perkebunan. Tujuan diciptakan sistem hierarki itu jelas untuk melindungi kepentingan kaum pemilik modal dan melanggengkan mekanisme eksploitasi untuk menekan biaya produksi semurah mungkin. Tanah sebagai penerapan teknologi dan tenaga kerja pribumi sebagai pelaksana dari teknologi produksi pada industri gula. Namun, selama abad ke-19, pembudidayaan tebu tidak berjalan lancar. Baru menjelang akhir abad tersebut, industri gula berkembang kembali. Hal ini berlangsung terus selama dekade-dekade awal abad ke-20, ketika kemerosotan pasar tahun 1930-an menjadi pukulan berat bagi industri gula. Sedangkan, pada masa pendudukan Jepang Industri Gula tidak beroprerasi. Kemerdekaan Indonesia merupakan peralihan kekuasan kolonial menjadi pemerintahan republik. Peralihan ini menjadikan segala bentuk produk kolonial tidak berlaku bagi Indonesia. Semua aset-aset kolonial harus diserahkan kepada pemerintah republik. Namun, penyerahan aset-aset tersebut tidaklah mudah karena terhambat dengan perang kemerdekaan. Pemerintah Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat mengambil kebijakan-kebijakan untuk membangun ekonomi nasional dari kelompok komunitas pribumi. Pembentukan indentitas ekonomi ini merupakan suatu tuntutan zaman dari negeri yang berdaulat. Situasi pasca kemerdekaan telah mengubah peta hierarki sosial maupun hierarki kerja yang telah ada sejak zaman kolonial. Mobilitas vertikal berhasil ditembus tanpa adanya batas-batas kedudukan dan lapisan sosial. Banyak anak-anak petani dan borjuis kecil berhasil memperoleh pendidikan dan menduduki jabatan dalam pemerintahan atau bergerak di bidang swasta. Perkembangan ekonomi di beberapa daerah di Indonesia terkendala ketika berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda, mengalami suatu fase transisi dari sistem ekonomi kolonial ke sistem ekonomi nasional. Banyak hal yang mempengaruhi perkembangan ekonomi di tingkat nasional dan lokal. Antara lain dapat disebutkan adanya situasi politik yang tidak menentu, akibat terjadinya gerakan-gerakan dalam proses transisi, seperti pengaruh revolusi di tingkat daerah yang menyebabkan suasana keamanan yang tidak kondusif. Ketegangan konflik Indonesia-Belanda, di dalam negeri, berujung pada tahun 1957 dengan muncul aksi sepihak dalam pengambil-alihan perusahaan-perusahaan asing. Pengambil-alihan semula dilakukan oleh badan-badan perjuangan dan perorangan, namun kemudian ditertibkan oleh pemerintah Indonesia, terutama oleh pihak militer. Mekanisasi ada industri gula terutama dengan penggunaan teknologi produksi gula, menjadikan pengerahan tenaga kerja tidak lagi menjadi masalah. Masalah yang dihadapi pada masa kolonial Beland adalah membangun hubungan antara pabrik gula dengan masyarakat

sekitar pabrik untuk usaha simbiosis mutualisme, terutama dalam masa penanaman tebu dan waktu penggilingan. Teknologi gula yang ada adalah warisan dari masa kolonial. Mulai dari sistem penanaman hingga mekanisasi di pabrik adalah warisan pada masa kolonial. Namun, PG Madukismo bukanlah pabrik yang dahulu dibangun oleh Belanda melainkan dibangun sesudah masa kolonial. Pembangun pabrik tentu saja menimbulkan pertanyaan pada penulis bahwa pembanguan pabrik akan meneruskan cara-cara kolonial atau membangun sebuah sistem baru dalam teknologi produksi gula yang dikelola oleh anak negeri. Kebanyakan studi mengenai teknologi gula dan tenaga kerja memang masih berlatar skala zaman kolonial teruma pada masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dari sinilah, muncul ide untuk mengangkat teknolgi dan tenaga kerja pabrik gula pada masa kemerdekaan. Dalam hal ini, ruang yang akan dijadikan objek penelitian adalah Pabrik Gula Madukismo dengan tahun 1948 sebagai pijakan awal penelitian. Dimana saat itu pemerintahan Republik Indonesia memasuki zaman untuk mempertahankan kemerdekaannya dan membangun siistem ekonomi yang berbasis pada rakyat. Terutama, penggunaan teknologi dan tenaga kerja ketika pada masa kemerdekaan yang diasumsikan sebagai masa kebebasan. Lalu mengapa PG Madukismo dipilih sebagai objeknya? Pertama, karena PG Madukismo adalah pabrik gula yang dibnagun setelah pabrik-pabrik gula yang ada di Yogyakarta dibumihanguskan oleh Belanda saat clash ke II perang melawan Belanda setelah kemerdekaan. Kedua, Sebagaimana industri gula sudah diketahui bahwa industri gula sudah ada sejak zaman kolonial dengan sistem kerja dan teknologi yang berasal dari pemerintah kolonial, tentu saja akan ada perbedaan antara sistem kerja dan teknologi antara masa kolonial dengan masa setelah kemerdekaan. Asumsi dasar tahun 1967 dijadikan akhir temporal penelitian ini karena pada tahun itu volume produksi dan hasil gula putih di Jawa pada medio lima-puluhan mengalami penurunan dalam nilai ekspor gula, tahun 1964 nilai ekspor gula tinggal 0,3% dan tahun 1966 nilai ekspor gula Indonesia telah berhenti. Titik puncaknya terjadi pada tahuan 1967, Indonesia mulai benar-benar mengimpor gula.

Sejarah Teknologi Sistem Produksi Pabrik Gula Madukismo (1948-1967)


Industri perkebunan tebu bersifat kolonial yang cenderung mengeksploitasi tanah dan tenaga kerja. Industri perkebunan tebu juga digambarkan sebagai struktur hierarki dan represif yang sengaja di disciptakan oleh penguasa perkebunan. Tujuan diciptakan sistem hierarki itu jelas untuk melindungi kepentingan kaum pemilik modal dan melanggengkan mekanisme eksploitasi untuk menekan biaya produksi semurah mungkin. Tanah sebagai penerapan teknologi dan tenaga kerja pribumi sebagai pelaksana dari teknologi produksi pada industri gula. Namun, selama abad ke-19, pembudidayaan tebu tidak berjalan lancar. Baru menjelang akhir abad tersebut, industri gula berkembang kembali. Hal ini berlangsung terus selama dekade-dekade awal abad ke-20, ketika kemerosotan pasar tahun 1930-an menjadi pukulan berat bagi industri gula. Sedangkan, pada masa pendudukan Jepang Industri Gula tidak beroprerasi. Kemerdekaan Indonesia merupakan peralihan kekuasan kolonial menjadi pemerintahan republik. Peralihan ini menjadikan segala bentuk produk kolonial tidak berlaku bagi Indonesia. Semua aset-aset kolonial harus diserahkan kepada pemerintah republik. Namun, penyerahan aset-aset tersebut tidaklah mudah karena terhambat dengan perang kemerdekaan. Pemerintah Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat mengambil kebijakan-kebijakan untuk membangun ekonomi nasional dari kelompok komunitas pribumi. Pembentukan indentitas ekonomi ini merupakan suatu tuntutan zaman dari negeri yang berdaulat. Situasi pasca kemerdekaan telah mengubah peta hierarki sosial maupun hierarki kerja yang telah ada sejak zaman kolonial. Mobilitas vertikal berhasil ditembus tanpa adanya batas-batas kedudukan dan lapisan sosial. Banyak anak-anak petani dan borjuis kecil berhasil memperoleh pendidikan dan menduduki jabatan dalam pemerintahan atau bergerak di bidang swasta. Perkembangan ekonomi di beberapa daerah di Indonesia terkendala ketika berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda, mengalami suatu fase transisi dari sistem ekonomi kolonial ke sistem ekonomi nasional. Banyak hal yang mempengaruhi perkembangan ekonomi di tingkat nasional dan lokal. Antara lain dapat disebutkan adanya situasi politik yang tidak menentu, akibat terjadinya gerakan-gerakan dalam proses transisi, seperti pengaruh revolusi di tingkat daerah yang menyebabkan suasana keamanan yang tidak kondusif. Ketegangan konflik Indonesia-Belanda, di dalam negeri, berujung pada tahun 1957 dengan muncul aksi sepihak dalam pengambil-alihan perusahaan-perusahaan asing. Pengambil-alihan semula dilakukan oleh badan-badan perjuangan dan perorangan, namun kemudian ditertibkan oleh pemerintah Indonesia, terutama oleh pihak militer. Mekanisasi ada industri gula terutama dengan penggunaan teknologi produksi gula, menjadikan pengerahan tenaga kerja tidak lagi menjadi masalah. Masalah yang dihadapi pada masa kolonial Beland adalah membangun hubungan antara pabrik gula dengan masyarakat sekitar pabrik untuk usaha simbiosis mutualisme, terutama dalam masa penanaman tebu dan waktu penggilingan.

Teknologi gula yang ada adalah warisan dari masa kolonial. Mulai dari sistem penanaman hingga mekanisasi di pabrik adalah warisan pada masa kolonial. Namun, PG Madukismo bukanlah pabrik yang dahulu dibangun oleh Belanda melainkan dibangun sesudah masa kolonial. Pembangun pabrik tentu saja menimbulkan pertanyaan pada penulis bahwa pembanguan pabrik akan meneruskan cara-cara kolonial atau membangun sebuah sistem baru dalam teknologi produksi gula yang dikelola oleh anak negeri. Kebanyakan studi mengenai teknologi gula dan tenaga kerja memang masih berlatar skala zaman kolonial teruma pada masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dari sinilah, muncul ide untuk mengangkat teknolgi dan tenaga kerja pabrik gula pada masa kemerdekaan. Dalam hal ini, ruang yang akan dijadikan objek penelitian adalah Pabrik Gula Madukismo dengan tahun 1948 sebagai pijakan awal penelitian. Dimana saat itu pemerintahan Republik Indonesia memasuki zaman untuk mempertahankan kemerdekaannya dan membangun siistem ekonomi yang berbasis pada rakyat. Terutama, penggunaan teknologi dan tenaga kerja ketika pada masa kemerdekaan yang diasumsikan sebagai masa kebebasan. Lalu mengapa PG Madukismo dipilih sebagai objeknya? Pertama, karena PG Madukismo adalah pabrik gula yang dibnagun setelah pabrik-pabrik gula yang ada di Yogyakarta dibumihanguskan oleh Belanda saat clash ke II perang melawan Belanda setelah kemerdekaan. Kedua, Sebagaimana industri gula sudah diketahui bahwa industri gula sudah ada sejak zaman kolonial dengan sistem kerja dan teknologi yang berasal dari pemerintah kolonial, tentu saja akan ada perbedaan antara sistem kerja dan teknologi antara masa kolonial dengan masa setelah kemerdekaan. Asumsi dasar tahun 1967 dijadikan akhir temporal penelitian ini karena pada tahun itu volume produksi dan hasil gula putih di Jawa pada medio lima-puluhan mengalami penurunan dalam nilai ekspor gula, tahun 1964 nilai ekspor gula tinggal 0,3% dan tahun 1966 nilai ekspor gula Indonesia telah berhenti. Titik puncaknya terjadi pada tahuan 1967, Indonesia mulai benar-benar mengimpor gula.

anything in my mind :)

Sunday, July 6, 2008


Jalan-jalan ke Pabrik Gula Madukismo

Hari Jumat, 1 Februari 2008 pukul 09.00 11.00 saya bareng temen2 Teknik Kimia 2005 berkunjung ke Pabrik madukismo. Pabrik ini berada ditangani oleh perusahaan PT. Madu Baru. Selain memproduksi gula, pabrik ini juga memporoduksi alcohol dan spiritus dari limbah tetes tebu. Tebu sebagai bahan baku produksi gula dipanen hanya pada bulan kemarau dimana konsentrasi gula di dalam tebu lebih besar. Oleh karena itu pabrik gula hanya beroperasi pada bulan kemarau. Pada saat tidak beroperasi, pabrik dimaintenance untuk mengentisapasi segala kerusakan yang mungkin terjadi. Begitu memasuki masa operasi, pabrik gula akan beropersi terus menerus secara kontinu tanpa istirahat. Proses produksi gula: Proses produksi gula dari tebu dimulai dari pemanenan tebu. Tebu yang telah ditebang hanya diambil batangnya, diangkut dengan menggunakan lori atau kereta kargo menuju pabrik tempat proses berlangsung. Di pabrik, tebu tersebut ditimbang dan dibersihkan dan kemudian akan langsung diproses tanpa disimpan terlebih dahulu. Langkah selanjutnya dari proses pembuatan gula adalah pemerasan tebu. Tebu yang telah dibersihkan akan dihancurkan sehingga menjadi semacam bubur yang terdiri dari cairan gula tebu dan serat tebu. Cairan tebu akan dipisahkan dari seratnya dengan cara menyiram bubur tersebut dengan air dan memeras larutan bubur. Proses ini dilakukan beberapa kali dan menghasilkan cairan gula tebu yang akan mengalami proses selajutnya. Selain itu proses ini juga menghasilkan serat tebu yang disebut bagas. Bagas ini digunakan pabrik gula tersebut sebagai bahan bakar boiler pemanas cairan gula tebu. Cairan gula tebu yang diperoleh dari proses pemerasan dipanaskan dan kemudian akan mengalami proses evaporasi hingga larutan menjadi lebih kental. Lartutan gula kental tersebut kemudian didinfginkan sehingga terbentuk kristal-kristal gula. Kristal gula tersebut kemudian dipisahkan dari cairan dengan cara disentrifuga. Kristal gula yang diperoleh diangkut ke tempat pengemasan dan kemudian disimpan di gudang untuk selanjutnya dijual. Cairan gula yang melewati proses sentrifuga biasanya masih mengandung gula. Larutan ini akan dikembalikan ke proses untuk memisahkan gula yang terkandung di dalamnya hingga dihasilkan produk akhir berupa cairan gula yang kandungan gulanya tidak dapat dipisahkan lagi secara ekonomis. Cairan gula ini disebut molase. Di pabrik gula madukismo, molase yang dihasilkan digunakan sebagai bahan baku pembuatan alkohol secara fermentasi dengan menggunakan bakteri Saccharomices. Sebelum memasuki bioreaktor, molase tersebut ditambahkan pupuk urea dan NPK terlebih dahulu. Etanol yang diperoleh dipekatkan dengan cara distilasi sehingga diperoleh etanol dengan kemurnian sekitar 90%. Alkohol yang diperoleh kemudian akan diproses sehingga menjadi spiritus. Limbah akhir dari proses fermentasi ini akan dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik untuk memupuki ladang tebu. Naik Lori Gula

salah satu pengalaman yang menarik dari jalan-jalan kali ini, kami mencoba naik lori yang biasa digunakan untuk mengangkut tebu.

nah kalo musim produksi lori akan tampak seperti ini

Pabrik ini dibuat atas inisatif sultan hamengkubuwono pada tahun 1955. Saya bangga dan salut, karena pabrik ini bukan didirikan oleh Belanda seperti kebanyakan pabrik gula di indonesia, melainkan dibangun oleh Kesultanan Jogja walaupun dengan teknologi Belanda. Namun sangat disayangkan kondisinya saat ini. Umumnya teknologi yang digunakan belum berubah sejak dulu. Akibatnya perolehan gula, kapasitas produksi yang dihasilkan masih minim. Mungkin salah satu faktor kegagalan indonesia memenuhi kebutuhan akan gula adalah karena optimalisasi industri gula yang buruk. Disinilah peran semua pihak dibutuhkan. Tidak hanya insinyur kimia saja, peran pemerintah dan investor sangat diharapkan untuk memajukan industri gula indonesia agar menjadi salah satu eksportir gula terbesar di dunia seperti sediakala.

Proses Pengolahan Gula Di P.G Madukismo(madubaru) Spoiler for sebelumnya rate dulu gan:

Tahap-tahap pengolahan tebu untuk menjadi gula adalah sebagai berikut : Spoiler for pic 1:

Spoiler for pic 2:

Pemerahan Nira Pemurnian Nira Penguapan Nira Kristalisasi Pemisahan Gula (Centrifuge) Penyaringan dan Pengepakan

1. Pemerahan Nira Tebu di kirim ke Stasiun Gilingan (ekstrasi) untuk dipisahkan antara bagian padat (ampas) dengan cairannya yang mengandung gula(nira mentah) dengan alat-alat yang berupa Unigrator Mark IV dan Cane Knife digabung dengan 5 gilingan masing-masing terdiri atas 3 rol. Hasil dari pemerahan tebu berupa ampas dengan cairannya yang mengandung gula(nira mentah) Ampas pemerahan tebu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas, dan bahan bakar. Di P.G Madubaru ampas tebu digunakan untuk bahan bakar di Stasiun Ketel(pusat tenaga). Sedangkan Nira mentah akan dikirim ke bagian Pemurnian untuk proses lebih lanjut. Untuk mencegah kehilangan gula karena bakteri dilakukan salinitas di Stasiun Gilingan

2. Pemurnian Nira Spoiler for pemurnian:

Nira mentah ditimbang, kemudian dipanaskan hingga suhu mencapai 700-750C, kemudian direaksikan dengan Ca(OH)2 (susu kapur) dalam defekator. Pereksiaan dengan kapur bertujuaan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang ada di dalam nira. Lalu diteruskan dengan proses sulfitasi, yakni pemberian SO2 dalam peti sulfitasi hingga pH 7,00. Tujuannya untuk mengatur kadar keasaman nira dan untuk membunuh bakteri yang ada pada nira. Setelah itu, dipanaskan lagi sampai suhu 1000-1050C. Kotoran yang dihasilkan diendapkan di tangki pengendap,evaporate,(Dorr Clarifier) dan disaring menggunakan Rotary Vacum Filter (alat penapis hampa). Endapan padatnya disebut blotong. Kemudian Nira jernihnya dikirim ke Stasiun Penguapan.

3. Penguapan Nira Spoiler for evaporasi:

Nira jernih akan dipekatkan dalam Stasiun penguapan. Nira jernih dipekatkan di dalam

pesawat penguapan dengan sistem multiple effect. Nira encer dengan padatan terlarut 16% dapat dinaikkan menjadi 64% dan disebut Nira kental. Nira kental siap dikristalkan di Stasiun Kristalisasi.sebelumnya Nira kental ini diberi gas SO2 untuk proses pemucatan.

3. Kristalisasi Spoiler for kristalisasi:

Nila kental dari Stasiun Penguapan ini diuapkan lagi dala Pan Kristalisasi sampai melewati titik jenuh. Penguapan ini sampai suhu 1000-1500C. Setelah itu pembentukan kristal-kristal gula dengan cara uap. Nila kental didinginkan sampai suhu 650C, jadi sukrosa tidak rusak akibat panas tinggi. Hasil kristalisasi merupakan campuran kristal gula dan larutan(stroop). Sebelum dipisahkan antara kristal gula dengan stroop, gula lebih dahulu didinginkan didalam palung pendingin (kultrog).

4. Pemisahan Gula Pada proses ini gula dipisahkan dari stroop (larutannya). Pemisahan gula ini menggunakan alat puteran gula yang menggunakan gaya centrifugal. Pemisahan gula dilakukan dengan proses karbonatasi yakni mereaksikan gula dengan gas karbon. Sehingga gula dengan stroop dapat terpisah.Hasil pemisahan berupa gula, stroop, dan tetes tebu. Tetes tebu dan stroop merupakan limbah dari proses pembuatan gula. P.G Madubaru mengolah dapat mengolah limbah tersebut sehingga bermanfaat. Stroop yang menjadi tetes tebu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan etanol (C2H5OH). Jadi limbah dari proses pembuatan gula dapat dimanfaatkan.

5. Penyaringan dan Pengepakan

Setelah gula terpisah dari stroop dilakukan proses penyaringan gula. Pemisahan antara gula halus, kasar, dan normal. Gula normal dan halus dikirim ke Gudang gula dan di kemas dalam karung plastik yang kwintal. Sedang gula kasar akan kembali diproses atau kembali ke proses kristalisasi.

Proses Pengolahan Alkohol, Etanol Di P.S Madubaru

Selain memproduksi gula Madubaru juga memproduksi Alkohol (C2H5OH) sebagai produk sampingan. Alkohol yang diproduksi di P.S Madubaru merupakan alkohol jenis etanol. Etanol di P.S Madubaru dibuat dengan bahan baku tetes tebu yang merupakan limbah dari proses produksi tebu menjadi gula. Jadi pembuatan alkohol ini merupakan salah satu upaya P.S Madubaru untuk mengolah limbah. Alkohol dapat digunakan sebagai campuran kosmetik dan industri farmasi. Tetes tebu sebelum menjadi alkohol akan mengalami tahap-tahap pengolahan. Yakni : Pengenceran Penyaringan (Filtrasi) Peragian Destilasi (Penyulingan)

1. Pengenceran Tetes tebu yang diperoleh dari sentrifuge diencer di Tangki Pengencer Brix 14 tetes tebu. Sebelumnya tetes tebu diukur di tangki ukur.

2. Penyaringan (Filtrasi) Pada proses penyaringan, tetes tebu diatur pHnya sekitar 4,8 dengan diberi H2SO4 agar tetes tebu tidak tekontaminasi dengan bakteri lain. Hal ini dilakukan agar tetes tebu tidak gagal dalm proses peragian. Karena dalam proses peragian tetes tebu akan diberi bakteri khusus yang dapat menjadikan tetes tebu menjadi atau memiliki kandungan alkohol.

3. Peragian Tetes tebu yang pHnya telah diatur (4,8), kemudian masuk ke tangki pembibitan dan fermentasi. Pada tangki tersebut tetes tebu diberi ragi yang mengandung bakteri (Sacharomyces Cereviceae).

Reaksi: 1. Sukrosa dihidrolisa menjadi glukosa C12H22O11 + H2O 2C6H12O6 2. Gula reduksi bereaksi sehingga menjadi etanol dan CO2 C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2

4. Destilasi (Penyulingan) Tetes tebu yang telah diberi ragi akan masuk ke proses destilasi. Destilasi atau penyulingan bertujuan untuk memisahkan alkohol dengan air sehingga kadar alkohol lebih tinggi. Di P.S Madubaru destilasi dilakukan secara bertingkat atau disebut destilasi bertingkat. Destilasi bertingkat bertujuan untuk meningkatkan kadar alkohol. Dalam proses destilasi tetes tebu akan masuk ke kolom-kolam yakni : 1. Kolom Maische 2. Kolom Voorloop 3. Kolom Rektifier 4. Kolom Nachloop

1. Kolom Maische Pada proses destilasi tebu masuk ke Kolom Maische. Hasilnya alkohol kasar kadar 45%. Alkohol kasar masuk ke kolom Voorloop. 2. Kolom Voorloop Alkohol kasar dari kolom Maische masuk ke kolom Voorlop ini. Di dalam kolom ini alkohl akan mengaami destilasi kembali. Hasil berupa 2 alkohol. Yakni : 1. Alkohol teknis kadar 94% beraldahide ditampung sebagai hasil akhir. 2. Alkohol muda kadar + 25%. Alkohol ini masuk ke Kolom Rektifiser. 3. Kolom Rektifier Di kolom Rektifiser alkohol muda dari kolom voorloop mengalami destilasi kembali. Hasilnya : 1. Alkohol murni (Prima I) kadar min 95% 2. Alkohol Muda mengandung minyak Fusel masuk Kolom Nachloop(Destilasi selanjutnya). 3. Lutter Waser, air yang bebas alkohol, sebagai penyerap alkohol. Kembali ke Kolom Voorloop untuk membantu proses penyerapan alkohol. Alkohol yang telah memiliki kadar yang tinggi tidak lagi mengalami proses destilasi.

Sedangkan alkohol yang masih berkadar rendah akan mengalami destilasi pada kolom berikutnya.

4. Kolom Nachloop Alkohol muda dari kolom Rektifiser mengalami destilasi di kolom Nachloop. Hasil dari kolom Nachloop: 1. Alkohol teknis kadar 94% sebagai hasil akhir 2. Air yang bebas alkohol dibuang. Hasil akhir dari proses produksi alkohol adalah etanol yang memiliki kadar yang tinggi yakni berkisar antara 94%-96%. Pengolahan Limbah

Dalam proses pengolahan atau produkasi gula dan alkohol tentunya punya banyak limbah : Bentuk Padatan : 1. Blotong Blotong yang didapat dari proses pemurniaan nira direaksikan dengan zat-zat organik. Blotong akan menjadi pupuk yang mengandung N, P, dan K. 2.Ampas Tebu Ampas tebu dapat digunakan sebagai bahan bakar pembangkit uap, bahan baku kertas dan media pengembangan jamur. Cair : 1. Limbah dari gula berupa tetes dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alkohol. Pembuatan alkohol murni dengan cara menfermentasikan tetes dengan bakteri Sacharomyces Cereviceae. 2. Bocoran minyak pelumas Berasal dari Stasiun gilingan ditampung di drum-drum kemudian dimanfaatkan kembali. 3. Vinasse (Slop) Berasal dari stasiun destilasi dimanfaatkan untuk irigasi pertanian karena mengandung N,P dan K Gas 1. CO2

Gas CO2 ini akan dilepaskan langsung ke lingkungan. Karena gas ini dapat diolah oleh tumbuh-tumbuhan untuk bahan fotosintesis. Sehingga gas ini tidak diolah di dalam pabrik.

DAMPAK ADANYA PG MADUKISMO

POSITIF Sumber kehidupan masyarakat sekitar Devisa Sebagai pemenuh kebutuhan gula nasional Objek wisata Sebagai tempat study dan penelitian Memberi pinjaman modal bagi petani Limbahnya dapat dimanfaatkan, antara lain: Sebagai bahan pupuk Sebagai pembangkit listrik di daerah sekitar daerah PG Dll

NEGATIF Terjadinya pencemaran lingkungan jangka panjang ataupun jangka pendek akibat pembuangan limbah pabrik masih ada limbah yang belum benar-benar steril. Limbah pabrik spirtus melampaui batas

Pembuatan Alkohol

ST.Masakan - PS Madukismo PS Madukismo membuat alkohol dengan cara proses fermentasi dengan bantuan yiest Sacharomyces cereviceae. Rata - rata fermentor PS Madukismo mampu menghasilkan 9-11% v/v alkohol, dimana menurut teori bahwa alkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi adalah di kisaran 8 - 12 % v/v. Adapun bahan baku yang digunakan adalah tetes tebu (molasses) sebanyak 900 ku untuk menghasilkan 25.000 liter alkohol per hari.

PS Madukismo memiliki beberapa stasiun - stasiun, yakni : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Stasiun Masakan Stasiun Peragian / Fermentasi Stasiun Sulingan / Distilasi Stasiun Boiler Stasiun Pembersih Air ( Water Treatment ) Stasiun Limbah Stasiun Gudang Alkohol

Deskripsi : Stasiun Masakan Di stasiun ini dilakukan kegiatan persiapan material untuk proses fermentasi. Adapun jenis - jenis kegiatan dalam stock preparation ini adalah :

Pengkondisian Tetes (Proses pengenceran Tetes Tebu sebagai bahan baku utama) Penambahan nutrisi - nutrisi untuk yiest Pengendalian lingkungan yiest ( penambahan H2SO4 untuk lingkungan asam)

Setelah tetes yang telah dikondisikan dan telah diberi nutrisi, maka siap untuk di transportasikan ke stasiun berikutnya, yakni stasiun fermentasi / peragian.

Stasiun Fermentasi / Peragian

Di Stasiun ini terdapat 2 proses utama, yakni proses pembibitan (berlangsung aerobik) dan proses fermentasi (berlangsung anaerobik). Adapun proses pembibitan dilakukan selama 14-16 jam dan dilanjutkan proses fermentasi utk menghasilkan alkohol. Proses fermentasi di PS Madukismo berlangsung batch, dimana usia proses fermentasi selama 50 52 jam. PS Madukismo memiliki 9 Fermentor berkapasitas masing - masing 75.000 liter. Adapun hasil dari proses fermentasi selain alkohol, juga dihasilkan gas CO2. Akan tetapi, gas CO2 yang berpotensi memiliki nilai ekonomis ini belum dimanfaatkan tetapi dibuang ke udara bebas dikarenakan jumlahnya masih sedikit, sehingga tidak efisien dan tidak ekonomis jika dilakukan proses penangkapan CO2. Stasiun Sulingan / Distilasi Di stasiun ini dilakukan kegiatan proses pemisahan alkohol dari hasil fermentasi menjadi alkohol 9596% dan limbah vinase (stillage).

Di stasiun sulingan ini memiliki 4 tingkat distilasi, yakni :


Tingkat I, Maische Column Tingkat II, Voorloop Column Tingkat III, Rectifying Column Tingkat IV, Nachloop Column

Maische Column (Mash Column) Kolom distilasi ini merupakan tahap awal proses pemisahan alkohol. Di kolom ini dihasilkan alkohol dengan kadar 40 - 50 % v/v (top product) dan vinase (stillage) pada bottom product sebagai limbah cair PS Madukismo yang masih bisa digunakan sebagai pupuk cair, biogas, dsb.

Voorloop Column (Stripping Column) Kolom distilasi ini merupakan tahap ke-2 proses pemisahan alkohol. Di kolom ini dihasilkan alkohol dengan kadar min. 94 % v/v (top product) dan bottom product diproses kembali di kolom berikutnya yaitu Rectifying Column. Dari kolom ini dihasilkan alkohol dengan kadar 94% v/v yang kita namakan Alkohol Teknis karena tujuan dari proses pemisahan pada kolom ini adalah memisahkan alkohol dengan impuritis - impuritis nya, seperti senyawa aldehid serta senyawa - senyawa yang lebih volatile dibanding ethanol / alkohol ( titik didih nya lebih rendah dibanding ethanol ) Adapun kapasitas alkohol yang dihasilkan oleh kolom ke-2 ini sebesar 3.000 lt/hari

To be Continued ............