Anda di halaman 1dari 21

TUGAS TERSTRUKTUR

KESEHATAN REPRODUKSI Asuhan Kesehatan Reproduksi pada Remaja dan Melibatkan Wanita dalam Pengambilan Keputusan Dosen : Lepita, M.Keb

Disusun oleh:
Lastri Andaryuni Nurhuda Siska Adytia S Wahyulianata (4.08.05.0495 ) (4.08.05.0528 ) (4.08.05.0546 ) (4.08.05.0568 )

Tingkat 1 A Departemen Kesehatan Republik Indonesia Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Pontianak Tahun 2009

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini mengenai Asuhan Kesehatan Reproduksi pada Remaja dan Melibatkan Wanita dalam Pengambilan Keputusan Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Lepita, M.keb selaku dosen pembimbing mata kuliah Kesehatan Reproduksi, yang telah membimbing kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami sadar bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan yang tidak kami sadari, maka dari itu kami mohon kritik dan saran yang dapat membangun dan kami harap semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua.

Pontianak, 9 Maret 2009

Penyusun

DAFTAR ISI 1. Kata pengantar...........................................................................................i 2. Daftar isi.................................................................................................... ii 3. Bab I Pendahuluan.....................................................................................1 4. Bab II Pembahasan 3 A. Asuhan Kesehatan Reproduksi pada Remaja................................ 3 Ciri-Ciri perkembangan remaja......................................... 4 Perubahab fisik pada remaja......................................4 Perubahan kejiwaan...................................................5 Pengaruh buruk akibat terjadinya hubungan seks pranikah............................................................................. 6 Kaitan antara kesehatan remaja dan kesehatan reproduksi remaja................................................................................ 7 Pembinaan kesehatan reproduksi remaja...8 Bimbingan seks pada remaja. 9 Bentuk-bentuk informasi yang diberikan pada remaja..10 SOAP.12 13

B. Melibatkan wanita dalam mengambil keputusan..

5. Bab III Penutup..........................................................................................16 Daftar Pustaka.....................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masa remaja adalah masa yang penuh dinamika, gejolak rasa ingin tahu yang tinggi dalam berbagai hal, termasuk juga dalam hal reproduksi / seksualitas. sumber informasi yang banyak dan luas tapi belum tentu benar, baik dan sehat. 2. Masalah Masalah yang mungkin timbul sebagai akibatnya, misalnya perilaku seksual yang tidak baik, menjadi penyebab tingginya angka kejadian kehamilan remaja / di luar nikah, aborsi, penyakit menular seksual, dsb. Di negara berkembang, banyak perkawinan yang terjadi pada usia muda. Sehingga yang menjadi masalah mendasar sebenarnya bukan hubungan seks / kehamilan di luar nikah, tetapi pernikahan / kehamilan pada usia muda (karena pada usia belasan tahun sudah menikah, berhubungan seks, hamil dan mempunyai anak). Dengan bertambahnya wawasan pengetahuan dsb, seorang wanita memilih untuk menikah pada usia yang lebih tua. Hal ini menjadi masalah khusus kesehatan reproduksi wanita usia remaja, karena terdapat celah yang luas antara usia menarche dengan usia perkawinan, padahal masa remaja itu adalah masa yang rentan terhadap perilaku seksual yang kurang baik, (misalnya bergantiganti pasangan), kemungkinan kehamilan yang besar (karena sudah memasuki usia reproduktif), kemungkinan terpapar penyakit menular seksual dsb.

3. Tujuan Tujuan kesehatan reproduksi adalah : a. Meningkatkan kesadaran akan harga diri dan kemandirian wanita dalam kontrol diri. b. Meningkatkan kesadaran akan kehipuan seksualitasnya. c. Memperbaiki status kesehatan wanita guna memperoleh derajat reproduksi dan kesehatan seksual yang optimal serta kemampuan untuk menjalanka hak reproduksinya. 4. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan terdiridari : o BAB I Pendahuluan, terdiri dari latar nbelakang, masalah, tujuan dan sistematika penulisan. o BAB II Pembahasan, terdiri dari isi. o BAB III Penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran. Daftar Pustaka

BAB II PEMBAHASAN
ASUHAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA DAN MELIBATKAN WANITA DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN A. Asuhan Kesehatan Reproduksi Pada Remaja
Masa remaja adalah suatu perkembangan yang dinamis dalam kehidupan individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional, dan social yang berlangsung dalam kehidupan. Adapun mengenai umur seseorang dikatakan remaja masih terdapat berbagai pendapat, antara lain : Buku pediatri mendifinisikan remaja apabila telah mencapai umur 10-18 tahun untuk perempuan dan 12-20 tahun untuk laki-laki. WHO mendefinisikan remaja adalah individu yang berumur 10-19 tahun. UU No. 4 1979 mengenai kesejahteraan anak remaja mendifinisikan remaja adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah. UU Perburuhan mendefinisikan remaja adalah seseorang yang berumur 16-18 tahun atau sudah menikan dan mempunyai tempat tinggal. UU Pernikahan No.1 untuk laki-laki. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendefinisikan remaja adalah individu yang berusia 18 tahun. Jika dipandang dari aspek psikologis dan sosialnya, masa remaja adalah suatu fenomena fisik yang berhubungan dengan pubertas. Pubertas adalah suatu 1974, anak dianggap remaja apabila sudah cukup matang untuk menikah yaitu 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun

bagian penting dari masa remaja yang lebih ditekankan pada proses biologis yang pada akhirnya mengarah pada kemampuan bereproduksi. Masa pubertas adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa dimana terjadi suatu perencanaan pertumbuhan (growth spurth), cirri-ciri seks sekunder, tercapainya fertilitas (pembuahan) dan terjadi perubahan psikologis yang menyolok. A. Ciri-ciri Perkembangan Remaja Menurut ciri perkembangannya, masa remaja dibagi menjadi 3 tahap, yaitu: 1. Masa remaja awal (10-12 tahun), dengan cirri khas antara lain : o Lebih dekat dengan teman sebaya o Ingin bebas o Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berfikir abstrak 2. Masa remaja tengah (13-15 tahun), dengan cirri khas antara lain : o timbulnya keinginan untuk kencan o mempunyai rasa cinta yang mendalam o mengembangkan kemampuan berfikir abstrak o berkhayal tentang aktifitas seks 3. Masa remaja akhir (16-19 tahun), dengan cirri khas antara lain : o pengungkapan kebebasan diri o lebih selektif mencari teman sebaya o mempunyai citra jasmani dirinya o dapat mewujudkan rasa cinta o mampu berfikir abstrak B. Perubahan Fisik pada Masa Remaja Perubahan-perubahan pada remaja terjadinya secara bertahap dan dimulai sejak awal masa kanak-kanak. Dimulai dengan pertumbuhan tinggi badan secara

cepat dan kecepatan maksimal pada usia 12 tahun pada wanita dan 13-14 tahun pada lelaki. Tanda-tanda klinis mulainya pubertas pada remaja perempuan antara lain : 1. tumbuh rambut-rambut halus pada pubis. 2. puting susu menonjol oleh pengaruh estrogen. 3. tumbuh rambut pada ketiak. 4. pembesaran uterus yang tak tampak. Tanda-tanda klinis mulainya pubertas pada remaja lelaki antara lain : 1. pertumbuhan tinggi badan yang pesat. 2. kulit skrotum mulai berlipat dan mulai tumbuh rambut di daerah pubis. 3. suara membesar dan distribusi bulu-bulu pada tubuh. 4. sering ada lamunan erotis. 5. masturbasi. Tiga hal yang menjadikan masa remaja penting sekali bagi kesehatan reproduksi : 1. Masa renaja (usia 10-19 tahun) merupakan masa yang khusus dan penting, karena merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia. 2. Pada masa remaja terjadi perubahan fisik ( organobiologik) secara cepat, yang tidak seimbang dengan perubahan kejiwaan (mental-emosional) 3. Dalam lingkungan sosial tertentu, sering terjadi perbedaan perlakuan terhadap perlakuan remaja laki-laki dan perempuan. C. Perubahan kejiwaan Perubahan kejiwaan pada masa remaja meliputi : 1. Perubahan emosi o Sensitif (mudah menangis, tertawa, cemas, dan frustasi) o Agresif dan mudah bereaksi terhadap rangsangan luar yang berpengaruh misalnya berkelahi. 2. Perkembangan intelegensia o mampu berfikir abstrak, senang memberikan kritik

o ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku ingin mencoba-coba. Perilaku ingin mencoba hal-hal baru merupakan hal yang sangat penting bagi kesehatan reproduksi dalam masa remaja Perilaku ingin mencoba hal-hal baru yang didorong oleh rangsangan seksual dapat membawa remaja masuk pada hubungan seks pranikah dengan segala akibatnya, antara lain kehamilan remaja putri di luar nikah, upaya abortus dan penularan penyakit kelamin, termasuk HIV/AIDS. Perilaku ingin mencoba-coba juga dapat mengakibatkan remaja mengalami ketergantungan NAPZA, dari segi kesehatan reproduksi, perilaku ingin mencoba dalam bidang seks merupakan hal yang sangat rawan, karena dapat membawa akibat sangat buruk dan merugikan masa depan remaja. D. Pengaruh Buruk Akibat Terjadinya Hubungan Seks Pranikah bagi Remaja Kematangan organ seks dapat berpengaruh buruk apabila remaja tak mapu mengendalikan rangsangan seksualnya, sehingga tergoda untuk melakukan hubungan seks pranikah. Hal ini akan menimbulkan akibat yang dapat dirasakan bukan saja oleh pasangan, khususnya remaja putrid tetapi juga orang tua, keluarga, bahkan masyarakat. Akibat hubungan seks pranikah : 1. Bagi remaja : o Remaja pria menjadi tidak perjaka, dan remaja wanita menjadi tidak perawan. o Menambah resiko tertular penyaki tmenular seksual (PMS) seperti gonore, sifilis, HIV/AIDS. o Remaja putri terancam kehamilan yang tidak diinginkan, pengguran kandungan yang tidak aman, infeksi organ-organ reproduksi, anemia, kemandulan, dan kematian karena perdarahan.

o Trauma kejiwaan (depresi, rendah diri, rasa berdosa, hilang harapan masa depan). o Kemungkinan hilangnya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan kesempatan bekerja. o Melahirka bayi yang kurang/tidak sehat. 2. Bagi keluarga o Menimbulkan aib keluarga. o Menambah beban ekonomi keluarga. o Pengaruh kejiwaan bagi anak yang dilahirkan akibat tekanan masyarakat di lingkungannya. 3. Bagi masyarakat o Meningkatnya remaja putus sekolah, sehingga kualitas masyarakat menurun. o Meningkatnya angka kematian ibu dan bayi sehingga derajat kesehatan menurun. o Menambah beban ekonomi masyarakat, sehingga derajat kesejahteraan masyarakat menurun. E. Kaitan antara kesehatan remaja dan kesehatan reproduksi remaja Kesehatan reproduksi remaja sulit dipisahkan dari kesehatan remaja secara keseluruhan, karena gangguan kesehatan remaja akan menimbulkan gangguan pula pada system reproduksi. Lima masalah penting yang perlu diperhatikan dalam kesehatan remaja dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi remaja : 1. Masalah gizi, antara lain : o Anemia o Pertumbuhan yang terhambat pada remaja putri sehingga mengakibatkan panggul sempit dan resiko untuk melahirkan bayi dengan barat badan rendah di kemudian hari.

2. Masalah pendidikan, antara lain : o Buta huruf o Pendidikan rendah 3. Masalah lingkungan dan pekerjaan, antara lain : o Lingkungan social yang kurang sehat dapat menghambat, bahkan merusak kesehatan fisik, mental dan emosional remaja. 4. Masalah seks dan seksualitas o Kurangnya bimbingan untuk bersikap positif dalam hal yang berkaitan dengan seksualitas. o Penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA. o Kehamilan remaja di luar nikah. 5. Masalah perkawinan dan kehamilan dini, antara lain : o Ketidakmatangan secara fisik dan mental. o Resiko komplikasi dan kematian ibu dan bayi lebih besar. o Kehilangan kesempatan untuk pengembangan diri remaja. F. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja Pembinaan kesehatan reproduksi remaja bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan prilaku hidup sehat bagi remaja. Dengan pengetahuan yang memadai dan adanya motifasi untuk menjalani masa remaja secara sehat, para remaja diharapkan mampu memelihara kesehatan dirinya agar dapat memasuki masa kehidupan berkeluarga dengan reproduksi yang sehat Pembekalan pengetahuan yang diperlukan remaja meliputi : 1. Perkembangan fisik, kejiwaan dan kematangan seksual remaja. Pembekalan pengetahuan tentang perubahan yang terjaadi secara fisik, kejiwaan, dan kematangan seksual akan memudahkan remaja untuk memahami serta mengatasi berbagai keadaan yang membingungkannya. Contohnya informasi tentang haid dan mimpi

basah, serta tentang alat reproduksi remaja laki-laki dan perempuan perlu diperoleh setiap remaja. 2. Proses reproduksi yang bertanggung jawab Manusia secara biologis mempunyai kebutuhan seksual. Remaja perlu mengendalikan naluri seksualnya dan menyalurkannya menjadi kegiatan yang positif,seperti olahraga dan mengembangkan hobi yang membangun. Penyaluran yang berupa hubungan seksual dilakukan setelah berkeluarga untuk melanjutkan keturunan 3. Pergaulan yang sehat antara remaja laku-laki dan perempuan. Pergaulan yang sehat antara remaja laki-laki dan perempuan, serta kewaspadaan terhadap masalah remaja yang bnyak ditemukan. Remaja memerlukan informasi tersebut agar selalu waspada dan berprilaku reproduksi sehat dalam bergaul dengan lawan jenisnya. Disamping itu remaja memerlukan pembekalan tentang kiat-kiat untuk mempertahankan diri secara fisik maupun psikis dan mental dalam menghadapi berbagai godaan, seperti ajakan untuk melakukan hubungan seksual dan penggunaan napza. 4. Persiapan pra nikah Informasi tentang hal ini diperlukan agar calon pengantin lebih siap secara mental dan emosional dalam memasuki kehidupan berkeluarga. 5. Kehamilan dan pesalinan. Remaja perlu mendapat informasi tentang hal ini, sebagai persiapan bagi remaja pria dan wanita dalam memasuki kehidupan berkeluarga dimasa depan G. Bimbingan seks pada remaja Pelayanan bimbingan dilaksanakan tidak selalu setelah ditemukan masalahnya, melainkan lebih berfungsi untuk pencegahan terjadinya atau timbulnya suatu masalah. Downing (1968) mengemukakan

bahwa program bimbingan bukan kegiatan yang asal-asalan saja, melainkan : 1. Mempunyai system, organisasi dan struktur. 2. Mencakup pelayanan testing, bantuan pemecahan masalah, dan pemberian informasi-informasi. 3. Pelayanan bimbingan baik secara konseptual maupun teknik adalah integral dengan dunia pendidikan. 4. Usaha pengembangan individu adalah tujuan utama dalam kegiatan bimbingan. 5. Realisasi penyesuaian diri adalah pengembangan diri dan individu mampu menghadapi serta mengatasi masalah-masalahnya. 6. Program bimbingan memberikan kesempatan untuk identifikasi dan pengembangan potensi-potensi dan bakat-bakat. 7. Pelayanan bimbingan berusaha memberikan kail bukan memberi ikan, artinya bukan membantu memecahkan masalah individu, melainkan membantu individu dalam usaha memecahkan masalah. 8. Bimbingan adalah suatu proses kontinyu, berkelanjutan. 9. Bimbingan adalah suatu usaha yang terarah dan usaha pencegahan terjadinya masalah-masalah yang dapat menghambat perkembangannya. H. Bentuk-bentuk informasi yang diberikan pada remaja tentang kegiatan seks dapat dilaksanakan antara lain melalui : o dialog pribadi o dialok berkelompok berkala o ceramah berkala o diskusi berkala o media cetak a. Konseling seks pada remaja Konseling bertujuan kuratif, yaitu memberikan bantuan untuk memecahkan masalah (Blum, Balinsky, 1961). Jadi konseling adalah suatu

hubungan antara seorang professional dengan seorang atau lebih klien yang butuh penerimaan, rasa percaya dan aman. Dalam hubungan ini klien belajar menghadapi, mengekspresikan dan menguasai perasaan-perasaannya dan pikirannya yang mengganggu yang merupakan masalah baginya, mereka mengembangkan keberanian dan kepercayaan dirinya u ntuk mengamalkan apa yang mereka peroleh dalam konseling ke situasi kehidupan sehari-hari (Ohlsen, 1970). Pelayanan konseling dapat dilakukan pribadi atau kelompok. Pada umumnya pelayanan konseling kelompok mempunyai beberapa keuntungan yaitu lebih efisien dalam arti dalam waktu yang sama dengan konseling secara individual dapat membantu sekaligus beberapa orang. b. Beberapa hal yang membantu terlaksananya program konseling : 1. Sudah berjalannya program pelayanan kesehatan usia sekolah. 2. Tenaga puskesmas, yaitu dokter dan tenaga keperawatan. 3. Penyelenggaraan program UKS pada sasaran remaja sudah dilaksanakan oleh puskesmas dan beberapa kegiatan lainnya, walaupun belum terlaksana secara optimal. 4. Sudah berjalannya beberapa kegiatan dengan sasaran remaja yang dilaksanakan oleh LSM. c. Pelayanan Konseling Kesehatan Remaja : 1. Pelayanan konseling kesehatan remaja merupakan bagian dari program bina kesehatan usia sekolah yang di arahkan untuk meningkatan kesehatan remaja sebagai bagian dari peningkatan peran serta remaja secara aktif dalam bidang kesehatan. 2. Konseling kesehatan remaja dilaksanakan melalui jaringan pelaynan upaya kesehatan dasar dan rujukan yang telah ada,sedangkan penanggulangan permasalahan psikososial dilaksanakan dengan memperbanyak forum konsultasi dan bimbingan kesehatan.

SOAP Seorang remaja putri datang ke sebuah klinik bidan swasta. Ia berkonsultasi tentang kehamilannya yang memasuki 2 bulan. Ia bermaksud menggugurkan kandungannya karena ia hamil di luar nikah. Ia bercerita bahwa pacarnya tidak mau bertanggung jawab, pacarnya menginginkan ia melakukan aborsi tetapi ia bingung karena tidak ingin melakukan kesalahan lagi dengan menggugurkan kandungannya tersebut. Di lain pihak , ia harus tetap melakukan aborsi dengan alasan tidak ingin terjadi masalah, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan sosialnya.

S :
Klien ingin melakukan aborsi karena sang pacar tidak mau bertanggung jawab Klien merasa takut kepada orang tuanya karena jika orang tuanya tau pasti orangtuanya akan marah besar. Klien merasa malu dengan teman-teman dan lingkungan sekitar. Klien belum siap menjadi orang tua. Klien masih ingin meneruskan pendidikannya. Klien masih ingin merasakan masa-masa indahnya remaja.

O :

Klien tampak depresi (murung, menangis). Klien tampak bingung dalam mengambil keputusan. Klien tampak lemah dan tidak memperhatikan penampilannya.

A:
Bidan memberikan informasi mengenai bahayaa aborsi. Yang sudah pasti jelas aborsi itu dilarang oleh agama, aborsi juga dapat membawa kita berurusan dengan hukum, selain itu aborsi juga dapat mengakibatkan kematian jika terjadi perdarahan hebat. Jadi, jangan pernah berpikir untuk melakukan aborsi. Memberikan penjelasan kepada klien bahwa orang tua pasti akan marah terhadap perbuatan yang di telah dilakukan. Akan tetapi orang tua pasti akan menerima bagaimanapun keadaan anaknya jika masalahnya dibicarakan secara baik-baik. Memberi support kepada klien agar klien dapat menghadapi masalah dengan pikiran yang jernih.

P:
Membantu klien dalam menyelesaikan masalahnya dengan cara mendampingi klien untuk berbicara kepada orang tuanya. Mengawasi keadaan klien (kesehatan maupun keadaan jiwanya).

B. Melibatkan Wanita dalam Mengambil Keputusan


Pengambilan keputusan merupakan suatu proses dimana merupakan persetujuan tanpa refleksi. Pembuatan keputusan merupakan tahap terakhir proses pemberian persetujuan. Keputusan penolakan wanita terhadap suatu tindakan

harus di validasikan lagi, apakah karena wanita kurang kompetensi, Jika wanita menerima suatu tindakan ia berhak tahu prosedur tindakan. Pria berfikir dan mengambil keputusan 80 persen berdasarkan logika, sedangkan wanita berfikir dan mengambil keputusan 80 persen berdasarkan emosi. Fakta medis menyebutkan, selama menstruasi bulanan dan selama masa kehamilan, wanita mengalami perubahan-perubahan fisiologis dan kejiwaan. Perubahan seperti itu bisa saja terjadi dalam saat-saat darurat yang mendesak, dan karenanya akan mempengaruhi keputusan-keputusannya. Ketegangan yang berlebihan selama masa-masa tersebut juga mempunyai akibat-akibat lain. Tambah pula, beberapa keputusan tertentu menuntut penggunaan akal pikirang yang maksimal dan hanya menuntut penggunaan perasaan secara minimal, suatu tuntutan yang tidak sejalan dengan watak kaum wanita. Upaya memberikan perhatian kepada masalah hak asasi manusia termasuk pula didalamnya hak reproduksi wanita, sangat perlu mensosialisasikan pandangan social entitlement yaitu bahwa Negara memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk memastikan dihapuskannya diskriminasi terhadap waanita dalam rangka menyusun kebijakan kependudukan yang pro terhadap hak reproduksi wanita, perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut : 1. Wanita harus menjadi subjek bukan objek dari kebijakan pembangunan terutama kebijkan pembangunan kependudukan. Wanita dapat membuat keputusan yang bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, keluarganya dan masyarakat. 2. Kebijakan kependudukan harus didasarkan pada prinsip penghormatan pada intergritas seksual dan kebutuhan anak wanita dan wanita. Wanita memiliki hak untuk menentukan kapan, seperti apa, mengapa, dengan siapa, dan bagaimana mengungkapkan seksualitasnya. 3. Semua wanita, tanpa memandang umur, ststus kawin dan kondisi social lain memiliki hak atas informasi pelayanan yang diperlukan untuk menjalankan hak-han dan tanggung jawab reproduksinya.

Contoh melibatkan wanita dalam pengambilan keputusan adalah memutuskan untuk mempunyai bayi pada usia 30 tahun, dimana pada usia ini biasanya dipandang sebagai titik yang menentukan dalam kehidupan dan merupakan saat untuk menilai kehidupan pribadinya. Kehamilan yang terlambat mungkin disebabkan oleh alasan-alasan yang sangat pribadi, karena seoarang wanita tidak merasa siap. Alasan yang lain menunda kedatangan bayi karena ia membaca bahwa segala sesuatu yang berhubungan masa keibuan selalu dipenuhi kesedihan, khususnya bagi ibu yang tidak bekerja. Beberapa pasangan suami istri merindukan anak sejak lama. Mereka mencari bantuan medis dengan penyelidikan dan operasi yang lebih rumit, ketika usia 30 mulai manampilkan diri. Meskipun kehamilan merupakan suatu kebetulan tetapi keputusan untuk melanjutkan kehamilan harus merupakan keputusan yang disadari dan dipikirkan secara cermat. Contoh lain dalam mengambil keputusan yang melibatkan wanita adalah dalam memutuskan penggunaan alat kontrasepsi.

BAB III PENUTUP


1. Kesimpulan Kesehatan reproduksi ditekankan bahwa dalam pelaksaan program kesehatan reproduksi hendaknya lebih mengutamakan hak-hak reproduksi dan tetap mempertimbangkan aspek agama, nilai etika, latar belakang budaya dan tidak bertentangan dengan hak asasi manusia yang sifatnya universal. 2. Saran Masa remaja merupakan periode transisi darimasa anak ke masa dewasa, yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional dan social yang berlangsung dalam kehidupan. Untuk itu, para remaja disarankan untuk dapat memilih pergaulan yang sehat dan mendapatkan informasi tentang pengetahuan kesehatan reproduksi remaja. Untuk kedepannya wanita dapat membuat keputusan yang bertanggung jawab untu dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat

Daftar Pustaka http : // www.bkkbn .go.id/gemapria/article-detail.php?artid=88 hak Reproduksi Remaja http : // manik.web.id/2007/10/08/test-aja html Proses dibalik Keputusan Setiap Wanita 2001. Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia