Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN DK - TUTORIAL SKENARIO 1 BLOK 8

Disusun oleh : Kelompok B


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Teguh Budiarto Wahyu Dwi Putra Amira syafuria Dede Wiguna Ameliza Dwita Maulidiyah Maisy Aprionasista Neno Kharisma Puji Yuliastri Isha Arfina Haris Pratiwi Ramadan Kana Riska Saputri Yenita Adetama 04101004074 04101004019 04101004064 04101004043 04101004005 04101004034 04101004004 04101004056 04101004073 04101004022 04101004054 04101004020 04101004030

Dosen Pembimbing : drg. Melani Cindera Negara

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012

PEMICU / SKENARIO 1
TIU
:

Mahasiswa mampu memahami penyakit gingiva, diagnosis dan tahapan perawatannya.

SKENARIO

Seorang pasien wanita berusia 22 tahun datang ke praktek dokter gigi. Dia kebingungan karena gusinya sering sekali berdarah terutama ketika menyikat gigi. Hal ini mulai dirasakannya sejak 6 bulan terakhir. Dari pemeriksaan klinis, terlihat adanya eritema dan edema pada seluruh gingiva. Skor OHI-S tergolong buruk, dengan kalkulus supragingiva terlihat disemua regio kecuali regio b. Skor PBI 2,8 dan HYG 25% disertai halitosis. Setelah mendiagnosis, dokter gigi kemudian melakukan scaling untuk membersihkan kalkulus pada gigi pasien dan meresepkan obat kumur.

I.

KLARIFIKASI ISTILAH
1. Eritema Kemerahan pada permukaan kulit atau jaringan sebagai respon inflamasi tubuh. 2. Edema Penimbunan cairan yang berlebihan di dalam jaringan. 3. OHI-S Pemeriksaan gigi dan mulut dengan menjumlahkan : Debris Index (DI) + Calculus Index (CI). Indeks yang digunakan adalah 4 gigi posteriordan 2 gigi anterior. 4. Halitosis Halitosis berasal dari bahasa latin, yaitu halitus yang artinya nafas dan bahasa Yunani, yaitu osis yang artinya keadaan. Jadi, halitosis merupakan keadaan dari bau nafas. Umumnya istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan istilah bau nafas yang tidak sedap (R. Haskell,J.J Gayford). 5. Kalkulus supragingival

Kalkulus supragingival adalah kalkulus yang melekat pada permukaan mahkota gigi mulai dari puncak gingival margin dan dapat dilihat. 6. Regio B Permukaan gigi dari caninus atas kanan sampai kaninus atas kiri. 7. PBI (Papilla Bleeding Index) Index yang digunakan mencatat intensitas peradangan daerah papillary. 8. HYG (Interdental Hygiene Index) Index yang digunakan untuk mengukur akumulasi plak interdental dalam persentase. 9. Scaling Salah satu metode untuk merawat gigi dan mulut yang tujuan utamanya adalah untuk membersihkan karang gigi (kalkulus).

II.

IDENTIFIKASI MASALAH
A. Seorang pasien wanita berusia 22 tahun datang ke dokter gigi dengan keluhan gusinya sering berdarah ketika menyikat gigi sejak 6 bulan terakhir. B. Pemeriksaan klinis menunjukkan adanya eritema dan edema pada seluruh gingiva. C. Skor OHI-S yang tergolong buruk dengan kalkulus supragingival pada seluruh regio kecuali regio b. D. Setelah mendiagnosis dokter gigi tersebut melakukan scaling dan meresepkan obat kumur kepada pasien.

III.

ANALISIS MASALAH

A. 1. Apa yang menyebabkan gusinya berdarah ketika menyikat gigi? 2. Faktor apa saja yang menyebabkan gusi berdarah? B. 1. Faktor apa saja yang menyebabkan eritema dan edema, serta bagaimanakah mekanismenya? C. 1. Mengapa kalkulus supragingiva tidak ada pada regio b? 2. Apa saja jenis da pembagian dari kalkulus itu sendiri? 3. Apa tujuan dan bagaimana cara menghitung skor OHI-S, PBI, dan HYG? 4. Apa yang menyebabkan halitosis?

5. Bagaimana mekanisme terjadinya halitosis? D. 1. Apa diagnosis pada kasus ini? 2. Bagaimana cara melakukan scaling? 3. Apa indikasi dan kontraindikasi dilakukannya scaling? 4. Apa jenis-jenis dan fungsi dari obat kumur, indikasi dan kontraindikasinya? 5. Apa ada cara lain untuk membersihkan kalkulus selain scaling?

IV.

HIPOTESIS Seorang pasien wanita (22 tahun) mengalami gingivitis dan halitosis akibat adanya kalkulus sehingga dilakukan perawatan scaling dan pemberian obat kumur.

V.

LEARING ISSUE

a. Gingivitis dan Halitosis o Definisi o Klasifikasi o Etiologi o Mekanisme o Gejala o Perawatan b. OHI-S, Pbi dan HYG o Definisi o Tujuan o Cara penghitungan o Interpretasi c. Scaling o Definisi o Indikasi o Kontraindikasi o Teknik

d. Obat kumur o Indikasi dan kontraindikasi o Jenis o Tujuan o Kekurangan dan keunggulan e. Kalkulus dan Plak o Definisi o Mikroorganisme o Etiologi o Komposisi o Klasifikasi

VI.

BELAJAR MANDIRI

1. GINGIVITIS
Pengertian Gingivitis adalah peradangan pada gingival yang menunjukan adanya tanda penyakit atau kelainan pada gingival.

Etiologi Gingivitis biasanya disebabkan oleh buruknya kebersihan mulut sehingga terbentuk plak atau karang gigi di bagian gigi yang berbatasan dengan tepi gusi. Plak dan karang gigi mengandung banyak bakteri yang akan menyebabkan infeksi pada gusi. Bila

kebersihan mulut tidak diperbaiki, gingivitis akan bertambah parah dan berkembang menjadi periodontitis. Gingivitis biasanya disebabkan oleh buruknya kebersihan mulut sehingga terbentuk plak atau karang gigi di bagian gigi yang berbatasan dengan tepi gusi. Plak dan karang gigi mengandung banyak bakteri yang akan menyebabkan infeksi pada gusi. Bila kebersihan mulut tidak diperbaiki, gingivitis akan bertambah parah dan berkembang menjadi periodontitis. Tapi gingivitis juga dapat disebabkan oleh penyakit sistemik. Contohnya pada pasien penderita leukemia dan penyakit Wegner yang cenderung lebih mudah terkena gingivitis. Pada orang dengan diabetes atau HIV, adanya gangguan pada sistem imunitas (kekebalan tubuh) menyebabkan kurangnya kemampuan tubuh untuk melawan infeksi bakteri pada gusi. Perubahan hormonal pada masa kehamilan, pubertas, dan pada terapi steroid juga menyebabkan gusi lebih rentan terhadap infeksi bakteri. Pemakaian obat-obatan pada pasien dengan tekanan darah tinggi dan paska transplantasi organ juga dapat menekan sistem imunitas sehingga infeksi pada gusi lebih mudah terjadi.

Mekanisme

TAHAP I GINGIVITIS : the initial lesion Manifestasi pertama perubahan vaskuler dilatasi kapiler dan aliran darah Klinis respon gingiva terhadap plak bakteri - Tidak tampak (subclinical gingivitis) - ditemukan pada junctional epithelium dan perivascular jaringan ikat, - limfosit mulai mengumpul Migrasi leukosit mungkin berhubungan dgn aliran gingival fluid - karakteristik dan intensitas host respon menjadi tambah parah tidak parah tampak infiltrasi makrofag dan sel limposit TAHAP II GINGIVITIS : the early lesion atau

Klinis : erythema, proliferasi kapiler dan peningkatan pembentukan loop kapiler diantara rete peg atau ridge Probe terjadi perdarahan Kolagen yg rusak (70 %) terhadap perubahan bentuk blood vessel dan vascular bed PMNs bergerak karena respon terhadap plak Pagositosis mengeluarkan lisosom Fibroblast perubahan cytotoxic dengan menurunnya kapasitas produk kolagen Waktu : 4-7 hari TAHAP III GINGIVITIS : the established lesion Gingivitis kronis - pembuluh darah terisi penuh - kongesti, aliran vena terganggu, aliran darah lambat anoxemia gingiva yang terlokalisir, - gingiva kebiruan diatas gingiva yang berwarna lebih merah - ekstravasasi sel darah merah ke jaringan ikat dan pecahnya hemoglobin warna gingiva lebih gelap Klinis : - inflamasi gingiva moderat sampai parah - tampak hubungan terbalik antara jumlah ikatan kolagen dan jumlah sel radang - aktivitas kolagenolitik meningkat pada jaringan yang mengalami

peradangan karena enzim kolagenase dan alkaline phosphatase - radang kronis meningkatkan batas asam -glucuronidase, aminopeptidase, aryl

glucosidase,

-galactosidase, esterase,

cytochrome oxidase, elastase,

lactic dehydrogenase dan

sulfatase yg merupakan hasil dari kerusakan jaringan dan sel Perluasan dari lesi ini akan menyebabkan kerusakan tulang alveolar Tahap IV yaitu advanced lesion atau Phase of periodontal breakdown

Gejala Gusi tampak bengkak, kemerahan, lunak, dan mudah berdarah pada saat menyikat gigi atau penggunaan dental floss. Gingivitis juga dapat menyebabkan bau mulut (halitosis). Perawatan 1. Pembersihan plak dan perbaikan kebersihan mulut adalah kunci utama dalam mengatasi gingivitis. 2. Lakukan sikat gigi dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. 3. Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk membersihkan plak dan sisa makanan di antara celah gigi. 4. Pada gingivitis yang parah biasanya membutuhkan penggunaan antibiotik, tapi tentunya ini harus dengan resep dari dokter gigi. 5. Lakukan kunjungan rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk melakukan check up dan pembersihan seluruh gigi-geligi.

Klasifikasi Plak gigi menginduksi penyakit gingiva I. Gingivitis berkaitan dengan plak gigi A. Tanpa faktor lokal B. Dengan kontribusi faktor lokal Penyakit gingiva dimodifikasi dengan faktor sistemik A. Berkaitan dengan sistem endokrin 1. Gingivitis terkait dengan pubertas 2. Gingivitis terkait dengan siklus menstruasi 3. Berkaitan dengan kehamilan a. Gingivitis b. Granuloma pirogenik 4. Gingivitis terkait dengan diabetes mellitus B. Berkaitan dengan diskrasia darah 1. Gingivitis terkait dengan leukemia 2. Lain-lainnya Penyakit Gingiva dimodifikasi oleh medikasi A. Pengaruh obat pada penyakit gingiva 1. Pengaruh obat pada pembesaran gingiva

II.

III.

2. Pengaruh obat pada gingivitis a. Gingivitis terkait dengan kontrasepsi oral b. Lain-lainnya IV. Penyakit gingiva dimodifikasi dengan malnutrisi A. Gingivitis akibat defisiensi asam askorbat B. Lain-lainnya

Non-plak menginduksi penyakit gingiva I. Penyakit gingiva dari bakteri spesifik A. Neisseria gonorrhea B. Treponema pallidum C. Streptococcal species D. Lainnya Penyakit gingiva dari agen viral A. Herpesvirus 1. Primary herpetic gingivostomatitis 2. Reccurent oral herpes 3. Varicella zoster B. Lainnya Penyakit gingiva berasal dari jamur (fungal) A. Infeksi spesies Candida : Generalized gingival candidosis B. Linear gingival erythema C. Histoplasmosis D. Lainnya Lesi gingiva berasal dari genetik A. Fibromastosis gingiva herediter B. Lainnya Manifestasi gingiva dari kondisi sistemik A. Lesi mucocutaneous 1. Liken planus 2. Pemfigoid 3. Pemphigus vulgaris 4. Erythema multiforme 5. Lupus erythromatosus 6. Induksi obat-obatan B. Reaksi alergi 1. Material restoratif gigi A. Merkuri

II.

III.

IV.

V.

B. Nikel C. Akrilik D. Lainnya 2. Reaksi timbul dari : a. Pasta gigi atau odol b. Obat kumur c. Zat aditif pada permen karet d. Pewarna dan makan-makanan VI. Lesi traumatik A. Injuri kimiawi B. Injuri fisik C. Injuri termal

2. HALITOSIS
Pengertian Halitosis berasal dari bahasa latin halitus (nafas) dan Yunani osis (keadaan). Jadi, halitosis merupakan keadaan dari bau nafas. Umumnya istilah ini mengacu pada suatu keadaan bau mulut yang berasal dari keadaan metabolic secara sistemik, termasuk saluran pencernaan. Halitosis dapat berupa halitosis fisiologis maupun patologis. Halitosis fisiologis adalah halitosis yang bersifat sementara dan terjadi bila substansi yang menimbulkan bau tersebut secara hematologi menuju paru-paru dan biasanya berasal dari makanan, seperti bawang dan lobak dan bisa juga berasal dari minuman, seperti teh, kopi, serta minuman beralkohol. Halitosis Patologis adalah halitosis yang pada dasarnya terjadi dalam suatu mekanisme yang sama dengan halitosis fisiologis, dalam hal ini bahanbahan yang secara hematologis menuju paru-paru. Penyebab utama keadaan ini karena adanya kelainan yang bersifat local maupun sistemik seperti diabetes mellitus, uremia, gastritis, tukak lambung dan hepatitis.

Etiologi Halitosis Halitosis dapat timbul oleh karena beberapa faktor, antara lain :

a. Makanan dan Minuman Makanan-makanan tertentu yang dapat menimbulkan halitosis antara lain bawang putih, bawang merah dan lobak sedangkan minuman yang dapat menyebabkan halitosis antara lain minuman beralkohol, produk susu dan lain-lain. Pada keadaaan ini,

permasalahannya bukan diawali pada saat makanan atau minuman berada di dalam rongga mulut tetapi terjadi setelah bahan makanan atau minuman ini diserap pada pembuluh darah. Bau makanan atau minuman yang tersebut selanjutnya akan ditransmisikan ke dalam paru-paru, yang kemudian keluar bersama dengan udara pernafasan melalui mulut, dan semua keadaan ini bersifat sementara. b. Oral Higiene Bila oral hygiene tidak dilakukan dengan baik, sisa-sisa makanan akan mengumpul diantara gigi. Cepat atau lambat makanan yang telah mengalami pembusukan akan terbentuk, dan hampir keseluruhan dariproduk-produk yang disebabkan oleh pembusukan akan mengeluarkan bau yang tidak sedap. c. Penyakit Periodontal Keadan periodontal mungkin merupakan keadaan patologi yang paling sering terlihat dan dapat menimbulkan halitosis. Penyebab utama dari keberadaan penyakit ini adalah plak. d. Xerostomia Merupakan istilah untuk keadaan mulut yang kering. Xerostomia atau kekeringan di dalam rongga mulut dapat pula menyebabkan terjadinya bau mulut atau halitosis. e. Kebiasaan Halitosis juga dapat disebabkan oleh penggunaan tembakau. Kebiasaan ini berkaitan dengan resiko yang besar untuk terjadinya penyakit periodontal dan kanker di dalam rongga mulut pada individu yang memiliki kebiasaan ini. f. Penyakit Sistemik Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan halitosis diantaranya: infeksi pada saluran nafas, diabetes, permasalahan pada saluran pencernaan, infeksi pada sinus dan kelainan hati serta ginjal. g. Obat-obatan Beberapa obat dapat menimbulkan halitosis. Obat-obat tertentu dapat juga merubah rasa dan bau, obat-obat tertentu tersebut dapatmenimbulkan berkurangnya produksi saliva yang menyebabkan terjadinya halitosis.

Mekanisme Halitosis Mekanisme terjadinya halitosis sangat dipengaruhi oleh penyebab yang mendasari keadaan tersebut. Pada halitosis yang disebabkan oleh makanan tertentu, bau nafas berasal dari makanan yang oleh darah ditransmisikan menuju paru-paru yang selanjutnya

dikeluarkan melalui pernafasan. Secara khusus, bakteri memiliki peranan yang penting pada terjadinya bau mulut yang tak sedap atau halitosis. Bakteri dapat berasal dari rongga mulut sendiri seperti plak, bakteri yang berasal dari poket yang dalam dan bakteri yang berasal dari lidah memiliki potensi yang sangat besar menimbulkan halitosis. VSC (Volatile Sulfur Compounds) merupakan unsure utama penyebab halitosis. VPC merupakan hasil produksi dari akrivitas bekteri-bakteri anaerob di dalam mulut yang berupa senyawa berbau yang tidak sedap dan mudah menguap sehingga menimbulkan bau yang mudah tercium oleh orang lain disekitarnya. Di dalam aktivitasnya di dalam mulut, bakteri anaerob bereaksi dengan proteinprotein yang ada, protein di dalam mulut dapat diperoleh dari sisa-sisa makanan yang mengandung protein, sel-sel darah yang telah mati, bakteri-bakteri yang mati ataupun sel-sel epitel yang terkelupas dari mukosa mulut. Seperti yang telah diketahui, di dalam mulut banyak terdapat bakteri baik gram positif maupun gram negatif. Kebanyakan bakteri gram positif adalah bakteri sakarolitik artinya di dalam aktivitas hidupnya banyak memerlukan karbohidrat, sedangkan kebanyakan bakteri gram negatif adalah bakteri proteolitik dimana untuk kelangsungan hidupnya banyak memerlukan protein. Protein akan dipecah oleh bakteri menjadi asam-asam amino. Sebenarnya terdapat beberapa macam VSC serta senyawa yang berbau lainnya di dalam rongga mulut, akan tetapi hanya terdapat 3 jenis VSC penting yang merupakan penyebab utama halitosis, diantaranya metal mercaptan (CH3SH), dimetil mercaptan (CH3)2S, dan hidrogen sulfide (H2S). Ketiga macam VSC tersebut menonjol karena jumlahnya cukup banyak dan mudah sekali menguap sehingga menimbulkan bau. Sedangkan VSC lain hanya berpengaruh sedikit,seperti skatole, amino, cadaverin dan putrescine. Klasifikasi Halitosis Berdasarkan faktor etiologinya, halitosis dibedakan atasa halitosis sejati,(genuine) pseudohalitosis dan halitophobia. Halitosis sejati dibedakan lagi atas fisiologis dan patologis . Halitosis fisiologis merupakan bersifat sementara dan tidak membutuhkan perawatan, sebaliknya halitosis patologis merupakan halitosis bersifat permanen dan tidak dapat diatasi hanya dengan pemeliharaan oral hygiene saja , tetapi membutuhkan suatu penanganan dan perawatan sesuai dengan sumber penyebab halitosis.

(http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/131087479.pdf)

1.

Genuine Halitosis (halitosis sejati) 1. Halitosis Fisiologis Halitosis fisiologis merupakan halitosis yang bersifat sementara dan tidak

membutuhkan perawatan. Pada halitosis tipe ini tidak ditemukan adanya kondisi patologis yang menyebabkan halitosis. Contohnya adalah morning breath, yaitu bau nafas pada waktu bangun pagi. Keadaan ini disebabkan tidak aktifnya otot pipi dan lidah serta berkurangnya aliran saliva selama tidur. Bau nafas ini dapat diatasi dengan merangsang aliran saliva dan menyingkirkan sisa makanan di dalam mulut dengan mengunyah, menyikat gigi atau berkumur.

2. Halitosis Patologis Halitosis patologis merupakan halitosis yang bersifat permanen dan tidak dapat diatasi hanya dengan pemeliharaan oral higiene saja, tetapi membutuhkan suatu penanganan dan perawatan sesuai dengan sumber penyebab halitosis. Adanya pertumbuhan bakteri yang dikaitkan dengan kondisi oral higiene yang buruk merupakan penyebab halitosis patologis intraoral yang paling sering dijumpai. Tongue coating, karies dan penyakit periodontal merupakan penyebab utama halitosis berkaitan dengan kondisi tersebut.Infeksi kronis pada rongga nasal dan sinus paranasal, infeksi tonsil (tonsilhlith), gangguan pencernaan, tukak lambung juga dapat menghasilkan gas berbau. Selain itu, penyakit sistemik seperti diabetes ketoasidosir, gagal ginjal, dan gangguan hati juga dapat menimbulkan bau nafas yang khas. Penderita diabetes ketoasidosis mengeluartan nafas berbau aseton. Udara pernafasan pada penderita kerusakan ginjal berbau amonia dan disertai dengan keluhan dysgeusi, sedangkan pada penderita gangguan hati dan kantung empedu seperti sirosis hepatis akan tercium bau nafas yang khas, dikenal dengan istilah foetor hepaticus. 2. Pseudo Halitosis (Halitosis Semu)

Pada kondisi ini, pasien merasakan dirinya memilki bau nafas yang buruk, namun hal ini tidak dirasakan oleh orang lain disekitarnya ataupun tidak dapat terdeteksi dengan tes ilmiah. Oleh karena tidak ada masalah pernapasan yang nyata, maka perawatan yang perlu diberikan pada pasien berupa konseling untuk memperbaiki kesalahan konsep yang

ada (menggunakan dukungan literature, pendidikan dan penjelasan hasil pemeriksaan) dan mengingatkan perawatan oral hygiene yang sederhana. 3. Halitophobia

Pada kondisi ini, walaupun telah berhasil mengikuti perawatan genuine halitosis maupun telah mendapat konseling pada kasus pseudo halitosis, pasien masih kuatir dan terganggu oleh adanya halitosis. Padahal setelah dilakukan pemeriksaan yang teliti baik kesehatan gigi dan mulut maupun kesehatan umumnya ternyata baik dan tidak ditemukan suatu kelainan yang berhubungan dengan halitosis, begitu pula dengan tes ilmiah yang ada tidak menunjukkan hasil bahwa orang tersebut menderita halitosis. Pasien juga dapat menutup diri dari pergaulan sosial, sangat sensitif terhadap komentar dan tingkah laku orang lain. Maka dari itu, diperlukan pendekatan psikologis untuk mengatasi masalah kejiwaan yang melatar belakangi keluhan ini yang biasanya dapat dilakukan oleh seorang ahli seperti psikiater ataupun psikolog.

Perawatan Halitosis Pencegahan dan pengananan halitosis tentunya melibatkan suatu usaha untuk menghilangkan penyebab dari keadaan yang mendasarinya. Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan untuk pencegahan dan penanganan halitosis, antara lain : a. Oral Hygiene and Health Tindakan-tindakan untuk meningkatkan oral hygiene seperti scaling, polishing, sikat gigi dan flossing, khususnya pembersihan lidah dapat mengurangi bau mulut. Prosedur-prosedur pemeliharaan oral hygiene pada dasarnya untuk membersihkan sehingga mengurangi plak atau sisa-sisa makanan serta mengurangi jumlah bakteri. Dengan menjaga oral hygiene secara baik, aktivitas bakteri dapat ditekan sehingga halitosis dapat akan berkurang. Apabila ada kerusakan pada gigi atau terdapat peradangan pada jaringan penyangga gigi serta jaringan mulut lainnya, maka perlu dilakukan perawatan karena hal tersebut juga merupakan penyebab terjadinya halitosis. b. Masking Merupakan suatu usaha untuk mengendalikan halitosis dengan cara menutupi bau yang ada dengan menggunakan produk penyegar nafas dengan aroma yang enak dan wangi. Tetapi hal ini biasanya hanya berhasil untuk waktu yang singkat. Setelah efek

penyegar nafasnya hilang, keadaan mulut malah akan dirasakan bertambah buruk. Dalam hal ini, halitosis hanya dapat ditutupi sementara dengan bau-bauan yang enak, tetapi VSC yang merupakan penyebab utama halitosis tidak dihilangkan. c. Antiseptic Mouthwash Merupakan penggunaan obat kumur mulut dengan bahan antibakteri yang dapat mengurangi halitosis dengan cara mengurangi jumlah bakteri serta menghambat aktivitas bakteri. Beberapa bahan yang digunakan biasanya mengandung thymol, eucalyptus, chlorhexidine, povidone iodine dan sebagainya. d. Bahan-bahan Anti Halitosis Bahan yang digolongkan dalam golongan ini, biasanya telah diketahui mekanisme kerjanya dalam mengurangi bau mulut khususnya reaksinya terhadap VSC, yaitu dengan mengubah VSC menjadi senyawa lainnya yang tidak berbau atau tidak mudah menguap. Bahan-bahan anti halitosis tersebut ada yang mengandung Zn atau Chlorine dioxide, dimana kedua bahan tersebut merupakan bahan aktif yang banyak ditemukan dalam bahan anti halitosis yang digunakan, seperti dalam bentuk pasta gigi, oral gel, dalam bentuk kumur mulut, mouth spray, permen ataupun chewing gum. e. Cara-cara Tradisional Disamping menggunakan cara modern, halitosis dapat pula dikurangi dengan menggunakan cara tradisional, yaitu dengan penggunaan tomato juice, ekstrak teh, mengunyah seledri ataupun kemangi yang dijadikan sebagai lalapan.

3. OHI-S, PBI, dan HYG


OHI-S (ORAL HYGIENE INDEX SIMPLIFIED ) Pengertian Pemeriksaan OHI-S (Simplified Oral Hygiene Index) adalah pemeriksaan gigi dan mulut dengan menjumlahkan : Debris Index (DI) + Calculus Index (CI). Indeks ini ditemukan oleh Greene dan Vermilion dan mereka menetapkan bahwa indeks yang digunakan untuk 4 gigi posterior dan 2 gigi anterior. Enam gigi tersebut meliputi permukaan bukal gigi 16, permukaan labial gigi 11, permukaan bukal gigi 26, permukaan lingual gigi 36, permukaan labial gigi 31, permukaan lingual gigi 46.

Tujuan pemeriksaan OHI-S OHI-S oleh Green dan Vermillion digunakan untuk menilai Oral higiene/ untuk mengukur tingkat kebersihan gigi dan mulut dari suatu kelompok individu berdasarkan index debris dan indeks kalkulus. Cara menghitung indeks OHI-S

OHI-S = (DI-S) + (CI-S)

DI-S = jumlah total nilai plak setiap gigi Jumlah permukaan yang diperiksa

CI-S = jumlah total nilai kalkulus setiap gigi jumlah permukaan yang diperiksa

Interpretasi indeks OHI-S - Baik, jika OHI-S = 0,0-1,2 - Sedang, jika OHI-S = 1,3- 3,0 - Buruk, jika OHI-S = 3,1-6,0 PBI ( PAPILLA BLEEDING INDEX ) Pengertian PBI Index yang digunakan mencatat intensitas peradangan daerah papillary. Tujuan PBI Menyadarkan Pasien tentang ditemukannya daerah penyakit dalam mulut.

Cara menghitung PBI Dengan tekanan jari yang ringan dengan probe period tumpul dimasukkan dalam sulcus. Probe ditegakkan dari dasar papil sampai ke ujungnya sepanjang aspek mesial & distal dari gigi. Seluruh kuadran diperiksa 20 30 detik. PBI = Jumlah skor perdarahan papil gingival Jumlah total papil yang diperiksa

Interpertasi PBI Skor 1 : perdarahan berupa titik Skor 2 : perdarahan berupa garis Skor 3 : perdarahan berupa segitiga Skor 4 : perdarahan spontan

HYG ( INTERDENTAL HYGIENE INDEX ) Pengertian Indeks yang menghitung area bebas plak berdasarkan persen perhitungan dilakukan hanya satu sisi fasial atau lingual. Tujuan Untuk mengukur akumulasi plak interdental Cara menghitung HYG Prosedur : pasien diintruksikan berkumur dengan disclosing

HYG = Jumlah area bebas plak Jumlah area plak diperiksa

X 100%

Interpretasi (+) = jika pada daerah interdental terdapat warna merah disclosing solution (-) = jika tidak terdapat warna merah pada derah interdental

4. SCALING
Definisi
Skeling (scaling) adalah proses penyingkiran kalkulus dan plak dari permukaan gigi, baik supragingival maupun subgingival. Penyingkiran kalkulus dan plak yang berada koronal dari krista tepi gingiva dinamakan pensklerean supragingival, sedangkan penyingkiran kalkulus dan plak yang berada apikal dari krista tepi gingiva dinamakan penskeleran subgingival. Penyerutan akar adalah prosdur untuk menyingkirkan sisa kalkulus yang tertinggal dan sebagian sementum yang terce mar toksin bakteri sehingga didapatkan permukaan akar gigi yang rata, keras dan bersih.

Tujuan

Tujuan utama dari scaler dan penyerutan akar adalah untuk mengembalikan kesehatan gingiva dengan jalan menyingkirkan dari permukaan gigi unsur-unsur yang dapat menimbulkan inflamasi seperti plak, kalkulus dan sementum yang tercemar.

Periodontal Scaling Instrumen Skala periodontal adalah prosedur terapi yang dilakukan oleh dokter gigi atau ahli kesehatan gigi untuk menghilangkan semua, deposito mineral mengeras dari permukaan gigi. Hal ini dilakukan supra dan subgingivally dan dapat dilakukan dengan menggunakan non bedah (tertutup) atau bedah (terbuka) pendekatan. A. Berdasarkan desain instrumen, bagaimana mereka digunakan, di mana mereka digunakan dan bagaimana mereka bekerja, klasifikasi berikut instrumen skala periodontal digunakan. Periodontal Scaling Instrumen

Sickle scaler Universal Kuret Daerah Tertentu Kuret File Ultrasonic / Sonic Instrumen

B.

Dalam

kategori

bidang

tertentu

Kuret

klasifikasi

sub

ada.

Daerah Tertentu Kuret


Kuret Gracey Visi Kuret Modifikasi Gracey Desain

a. Setelah seri lima atau diperpanjang b. Mini seri c. Langer seri

Pencabangan seri

C. Gracey Kuret Seri Gracey asli dikembangkan pada tahun 1930 oleh Dr Clayton Gracey, sebuah periodontist di University of Michigan. Mereka dirancang untuk memberikan akses yang lebih baik pada permukaan akar di deep pocket. Mereka memiliki tangkai panjang dan pisau unik, beberapa dengan tikungan meningkatkan akses terhadap morfologi permukaan akar kompleks.

Seri asli berisi 7 instrumen berakhir ganda (1/2; 3/4; 5/6; 7/8; 9/10; 11/12, 13/14). Ujung-ujung yang berlawanan dari instrumen berakhir ganda memiliki pisau cermin gambar. Pada tahun 1980, 2 instrumen dimodifikasi ditambahkan ke koleksi (15/16, 17/18). Konsep Dr Gracey adalah bahwa untuk benar mengakses berbagai wilayah pertumbuhan gigi tersebut; shank berbeda dan desain pisau yang diperlukan (Area Kuret Khusus).

Kuret Gracey 1/2, 3/4, dan 5/6 digunakan untuk skala permukaan gigi semua dalam sekstan anterior. Kuret Gracey 7/8 dan 9/10 digunakan untuk mendaki aspek bukal dan lingual gigi di sekstan posterior. The 11/12 dan 15/16 digunakan untuk skala aspek mesial gigi di sekstan posterior. Dan 13/14 dan 17/18 digunakan untuk skala aspek distal. Kuret Gracey tersedia dalam stainless steel atau baja karbon. Baja karbon membutuhkan perawatan lebih karena karat sangat mudah dan juga menipis lebih cepat. Instrumen bisa datang dalam bentuk instrumen salah satu bagian padat (biasanya stainless steel) atau sebagai instrumen kerucut soket (biasanya baja karbon). Dengan kerucut soket shank instrumen, dan pisau dapat membuka tutup dan diganti. Yang Gracey juga tersedia dalam berbagai kombinasi logam, beberapa lebih kuat atau lebih kaku daripada yang lain. Aspek lain dalam memilih instrumen adalah ketebalan pegangan. Penelitian telah menunjukkan bahwa pegangan tebal lebih mudah pada tangan dan pergelangan tangan dari instrumen tipis. Desain dari kuret Gracey adalah unik karena setiap ujungnya hanya punya satu ujung tombak dan yang dirancang sehingga dapat beradaptasi erat pada permukaan gigi khusus untuk yang dimaksudkan.

Ujung tombak atau pisau bisa digunakan adalah aspek yang lebih rendah luar pisau. Ini dapat diidentifikasi dengan memegang batang terminal akhir yang bersangkutan, pisau sisi bawah, dalam posisi vertikal dan melihat kepala bagian pisau pada. Pisau kuret ini mesin pada sudut derajat 70 dan ujung tombak menunjukkan kurva yang lebih panjang atau cembung sehubungan dengan ujung "tidak bekerja".

Ketika mengadaptasi instrumen Gracey pada gigi untuk melakukan scaling, ujung tombak pertama harus diidentifikasi dan ditempatkan terhadap permukaan yang akan ditingkatkan dan shank terminal harus sejajar dengan permukaan itu. Dalam posisi ini, angulasi kerja yang ideal untuk menghilangkan kalkulus tercapai.

Sickle scaler Para scaler sabit, terutama digunakan untuk menghilangkan kalkulus

supragingiva, merupakan instrumen yang sangat berguna. Hal ini sering instrumen pertama digunakan untuk menghapus besar, deposito berat sehingga meningkatkan akses ke daerah subgingiva untuk instrumen lainnya. Sejumlah scaler sabit yang berbeda tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Towner H-15 Jacquette 204 S, 204 SD

Morse USC - 128

Mereka semua namun memiliki fitur-fitur umum membuat mereka cocok untuk penghapusan deposito kalkulus berat dan bekerja interproximally, di sekitar daerah kontak gigi. 1. Sebuah pisau datar memotong pada sudut 90 derajat ke betis. 2. Pemotongan tepi di kedua sisi wajah pisau. 3. Wajah pisau adalah segitiga meruncing ke titik, kuat tajam pada jari kaki. 4. Wajah pisau mungkin lurus atau melengkung.

Ini adalah kaki runcing tajam dan 1-2 mm pertama dari tepi tajam lateral yang melakukan pekerjaan.

D. Essentials Instrumentasi. Memahami Perusahaan tetapi cahaya mengadakan dokter gigi telah di instrumen mereka disebut sebagai "pemahaman". Sebuah pemahaman yang tepat memungkinkan dokter untuk manuver instrumen sekitar gigi dan benar langsung aplikasi tekanan untuk menghilangkan kalkulus tanpa merusak jaringan periodontal. Tiga genggam tertentu digunakan. Mereka adalah pegang pena, pegang pena dimodifikasi, dan pegang telapak tangan jempol. Pegang pena dimodifikasi adalah yang paling berguna.

Titik penunjang Para istirahat jari ketiga pada tindakan intra-situs atau ekstraoral perusahaan sebagai titik tumpu. Hal ini meningkatkan kontrol instrumen dan penerapan pasukannya pada bekerja melawan gigi.

Pergelangan tangan dan Motion Arm Kompleks instrumen / pergelangan tangan / lengan bawah harus bertindak sebagai unit goyang tegas namun lancar pada titik tumpu. Pergelangan tangan memutar atau gerakan jari independen harus dihindari. Hal ini akan mengakibatkan rasa sakit, kelelahan otot, dan peradangan pada ligamen dan saraf pergelangan tangan.

Adaptasi Hal ini mengacu pada penempatan akhir kerja instrumen dalam hubungan yang benar untuk gigi.

Angulation

Ini adalah sudut yang dibentuk oleh bidang permukaan gigi dan bidang wajah pisau. Angulasi pemotongan efisien adalah antara 45, 90, dan 70 derajat dianggap ideal. Kurang dari 45 derajat dianggap "tertutup" dan lebih dari 90 derajat dianggap "terbuka".

Sisipan Untuk menghindari kerusakan jaringan lunak ketika memasuki sulkus dengan alat, besar tajam, akhir kerja dimasukkan ke dalam sulcus dengan wajah pisau "tertutup" atau diratakan pada permukaan gigi. Setelah di kedalaman saku atau sulkus, pisau dibuka 4590 derajat untuk stroke bekerja.

Stroke

Ini adalah aksi akhir bekerja pada instrumen karena dipindahkan di seluruh permukaan gigi. Stroke eksplorasi memberikan umpan balik taktil cahaya dari ujung instrumen. Stroke Bekerja memberikan tekanan terkontrol terhadap permukaan gigi menggunakan angulasi potong yang sesuai. Scaling stroke adalah stroke menarik pendek yang dibuat dengan tekanan kuat untuk menghapus kenaikan dari akar dan permukaan enamel. Akar stroke perencanaan yang dibuat untuk menghilangkan endapan dan menghaluskan permukaan akar. Stroke Bekerja adalah idealnya serangkaian stroke tumpang tindih yang menutupi seluruh permukaan gigi.

5. OBAT KUMUR
Pengertian Obat kumur merupakan larutan atau cairan yang digunakan untuk membilas rongga mulut dengan sejumlah tujuan antara lain untuk menyingkirkan bakteri perusak, bekerja sebagai penciut, untuk menghilangkan bau tak sedap, mempunyai efek terapi dan menghilangkan infeksi atau mencegah karies gigi. Obat kumur dikemas dalam dua bentuk yakni dalam bentuk kumur dan spray. Untuk hampir semua individu obat kumur merupakan metode yang simpel dan dapat diterima untuk pengobatan secara topikal dalam rongga mulut. Komposisi yang terkandung dalam obat kumur Hampir semua obat kumur mengandung lebih dari satu bahan aktif dan hampir semua dipromosikan dengan beberapa keuntungan bagi pengguna. Masing-masing obat kumur merupakan kombinasi unik dari senyawa-senyawa yang dirancang untuk mendukung higiena rongga mulut. Beberapa bahan-bahan aktif beserta fungsinya secara umum dapat dijumpai dalam obat kumur, antara lain: a) Bahan antibakteri dan antijamur, mengurangi jumlah mikroorganisme dalam rongga mulut, contoh: hexylresorcinol, chlorhexidine, thymol, benzethonium,

cetylpyridinium chloride, boric acid, benzoic acid, hexetidine, hypochlorous acid b) Bahan oksigenasi, secara aktif menyerang bakteri anaerob dalam rongga mulut dan busanya membantu menyingkirkan jaringan yang tidak sehat, contoh: hidrogen peroksida, perborate

c) Astringents (zat penciut), menyebabkan pembuluh darah lokal berkontraksi dengan demikian dapat mengurangi bengkak pada jaringan, contoh: alkohol, seng klorida, seng asetat, aluminium, dan asam-asam organik, seperti tannic, asetic, dan asam sitrat d) Anodynes, meredakan nyeri dan rasa sakit, contoh: turunan fenol, minyak eukaliptol, minyak watergreen e) Bufer, mengurangi keasaman dalam rongga mulut yang dihasilkan dari fermentasi sisa makanan, contoh: sodium perborate, sodium bicarbonate f) deodorizing agents (bahan penghilang bau), menetralisir bau yang dihasilkan dari proses penguraian sisa makanan, contoh: klorofil g) deterjen, mengurangi tegangan permukaan dengan demikian menyebabkan bahan-bahan yang terkandung menjadi lebih larut, dan juga dapat menghancurkan dinding sel bakteri yang menyebabkan bakteri lisis. Di samping itu aksi busa dari deterjen membantu mencuci mikroorganisme ke luar rongga mulut, contoh: sodium laurel sulfate

Beberapa bahan inaktif juga terkandung dalam obat kumur, antara lain: a. Air, penyusun persentasi terbesar dari volume larutan b. Pemanis, seperti gliserol, sorbitol, karamel dan sakarin c. Bahan pewarna d. Flavorings agents (bahan pemberi rasa).

Indikasi Pemakain obat kumur tergantung pada tujuan yang ingin dicapai,dimana pada awalnya penggunaan obat kumur lebih ditujukan untuk mengatasi halitosis atau bau mulut. Namun belakangan ini lebih ditujukan untuk menghambat dan mengurangi

pembentukan plak bakteri. Secara umum, obat kumur digunakan untuk mencegah gingivitis, periodontitis, radang tenggorokan, stomatis, mencegah terjadinya plak dan karies gigi sebagai bahan prokilaksis sesudah tindakan bedah, perawatan simptomatis lesi aftosa perawatan infeksi kandida albikan dan unuk menghilangkan rasa sakit atau ketidaknyaman akibat peradangan.

Kontraindikasi Pasien yang sedang hamil pasien hipersensitivitas terhadap Chlorhexidine dan orang dengan kondisi mulut yang sehat.

Tujuan 1. Membilas gigi dengan obat kumur bisa mencegah timbulnya plak. Terlalu banyak plak bisa menyebabkan gigi berlubang dan penyakit pada gusi. Namun, obat kumur tak akan menghilangkan atau mengurangi plak yang sudah ada.

2. Berkumur dengan obat kumur yang mengandung fluoride bisa membantu mencegah gigi berlubang. Bahan ini melindungi gigi dari kerusakan (yang mengakibatkan gigi berlubang) atau pembusukan. Untuk itu, cermati label kemasannya untuk memastikan obat kumur tersebut dilengkapi dengan fluoride. 3. Obat kumur mampu membantu Anda mengincar plak yang ingin dibasmi. Area dimana terdapat banyak plak akan berubah menjadi kebiruan sehingga Anda dapat berfokus pada area tersebut ketika menggosok gigi atau menggunakan dental floss.

Jenis obat kumur


Chlorhexidine Chlorhexidine (CHX) mulai dikenal sejak tahun 1950 sebagai antimikroba dengan rumus kimia:

CHX merupakan antiseptik golongan bisguanida yang mempunyai spektrum yang luas dan bersifat bakterisid. CHX menyerang bakteri-bakteri gram positif dan gram negatif, bakteri ragi, jamur, protozoa, alga dan virus.

Keunggulan Chlorhexidine CHX juga tidak dilaporkan memiliki bahaya terhadap pembentukan substansi karsinogenik. CHX sangat sedikit diserap oleh saluran gastrointestinal, oleh karena itu CHX memiliki toksisitas yang rendah. Efek samping Chlorhexidine

Namun demikian, CHX memberikan efek samping berupa rasa yang tidak enak, mengganggu sensasi rasa, dan menghasilkan warna coklat pada gigi yang susah disingkirkan. Hal ini juga dapat terjadi pada mukosa membran dan lidah yang dihubungkan dengan pengendapan faktor diet chromogenic pada gigi dan membran mukosa. Kekurangan Chlorhexidine Penggunaan jangka panjang dari CHX sebaiknya dilarang pada pasien dengan keadaan periodontal yang normal. CHX digunakan dalam jangka waktu yang pendek hingga dua minggu ketika prosedur higiena oral sukar atau tidak mungkin dilakukan. Seperti pada infeksi rongga mulut akut, dan setelah prosedur bedah rongga mulut.

6. KALKULUS dan PLAK


PLAK Plak gigi merupakan deposit lunak yang melekat erat pada permukaan gigi, terdiri atas mikroorganisme yang berkembangbiak dalam suatu matriks interseluler jika seseorang melalaikan kebersihan gigi dan mulutnya. Plak gigi tidak dapat dibersihkan hanya dengan cara berkumur atau semprotan air dan hanya dapat dibersihkan sempurna secara mekanis. Klasifikasi Plak Gigi 1. Plak supragingival Berada pada atau koronal tepi gingiva. 2. Plak subgingival Lokasinya apikal dari tepi gingiva, di antara gigi dengan jaringan yang mendindingi sulkus gingiva. Proses Pembentukan Plak Gigi

Gambar 3. Mekanisme pembentukan plak gigi (Sumber: www.google.com/pembentukanplak)

Proses pembentukan plak gigi ini terdiri atas tiga tahap. 1. Tahap pembentukan lapisan acquired pellicle

Pembentukan pelikel dental pada permukaan gigi merupakan fase awal dari pembentukan plak. Pada tahap awal ini permukaan gigi atau restorasi akan dibalut oleh pelikel glikoprotein. Pelikel tersebut berasal dari saliva dan cairan sulkus, begitu juga dari produk sel bakteri dan pejamu, dan debris. Komponen khas pelikel pada berbagai daerah bervariasi komposisinya. Pengamatan terhadap pelikel enamel baru terbentuk (dua jam) menunjukkan bahwa komposisi asam aminonya berbeda dari komposisi saliva, hal ini berarti bahwa pelikel dibentuk oleh absorpsi makromolekul sekitar secara selektif. Pelikel merupakan suatu lapisan organik bebas bakteri dan terbentuk dalam beberapa menit setelah permukaan gigi yang bersih berkontak dengan ludah dan pada permukaan gigi dan berupa material stain yang terang apabila diwarnai dengan bahan pewarna plak. Pelikel berfungsi sebagai penghalang protektif, yang bertindak sebagai pelumas permukaan dan mencegah desikasi (pengeringan jaringan). Selain itu pelikel merupakan substrat tempat bakteri dari sekitarnya melekat. Selain itu, pelikel bekerja seperti perekat bersisi dua, satu sisi melekat ke permukaan gigi, sedangkan permukaan lainnya merupakan sisi yang melekatkan bakteri pada permukaan gigi. 2. Kolonisasi awal pada permukaan gigi

Setelah acquired pelicle terbentuk, bakteri mulai berproliferasi disertai dengan pembentukan matriks interbakterial yang terdiri atas polisakarida ekstraseluler, yaitu levan dan dextran dan juga mengandung protein saliva. Hanya bakteri yang dapat membentuk polisakarida ekstraseluler yang dapat tumbuh pada tahap pertama, yaitu

Streptococcus mutans, Streptococcus bovis, Streptococcus sanguis, Streptococcus salivarius sehingga pada 24 jam pertama terbentuklah lapisan tipis yang terdiri atas jenis kokus pada tahap awal proliferasi bakteri. Bakteri tidak membentuk lapisan kontinu di atas permukaan acquired pellicle melainkan sebagai suatu kelompok-kelompok kecil yang terpisah. Suasana lingkungan pada lapisan plak masih bersifat aerob sehingga hanya mikroorganisme aerob dan fakultatif yang dapat tumbuh dan berkembang biak. Jadi, pada tahap awal ini bakteri yang dapat tumbuh ialah jenis kokus dan basilus yang fakultatif (Neiserria, Nocardia, dan Streptococcus). Streptococcus meliputi 50% dari seluruh populasi dan yang terbanyak adalah jenis Streptococcus sanguis. Perkembangbiakan bakteri membuat lapisan plak bertambah tebal dan karena adanya hasil metabolisme dan adhesi dari bakteri-bakteri pada permukaan luar plak, lingkungan di bagian dalam plak berubah menjadi anaerob. 3. Kolonisasi sekunder dan pematangan plak

Setelah kolonisasi pertama oleh streptokokus, berbagai jenis mikroorganisme lain memasuki plak, hal ini dinamakan Phenomena of succession. Pada keadaan ini dengan bertambahnya umur plak, terjadi pergeseran bakteri di dalam plak. Menurut Kresse, keadaan ini dapat terjadi karena berkurangnya jumlah makanan di dalam plak sehingga terjadi kompetisi di antara bakteri sehingga dapat membatasi pertumbuhan bakteri. Terhambatnya pertumbuhan bakteri, selain disebabkan oleh kurangnya bahan makanan, juga disebabkan oleh adanya gas-gas sebagai hasil metabolisme bakteri yang bersifat toksik bagi bakteri, yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Sementara hasil metabolisme yang lain menyebabkan rangsangan terhadap pertumbuhan bakteri Veilonella dan hal ini menyebabkan meningkatnya polisakarida ekstraseluler berberat molekul tinggi sehingga mempengaruhi tekanan permukaan dan tekanan osmotik di dalam plak. Jika kebersihan mulut diabaikan, dua sampai empat hari, kokus gram negatif dan basilus akan bertambah jumlahnya (dari 7% menjadi 30%), dengan 15% diantaranya terdiri atas bacillus yang bersifat anaerob. Pada hari kelima Fusobacterium, Aactinomyces, dan Veilonella yang aerob akan bertambah jumlahnya. Dalam tiga hari, pengkoloni sekunder yang tidak turut sebagai pengkoloni awal ke permukaaan gigi yang bersih, diantaranya Prevotella intermedia, Prevotella loescheii, spesies Capnocyttophaga, Fusobakterium nucleatum, dan Porphyromonas gingivalis. Mikroorganisme tersebut

melekat ke sel bakteri yang telah berada dalam massa plak. Interaksi yang menimbulkan perlekatan bakteri pengkoloni sekunder ke bakteri pengkoloni awal dinamakan koagregasi. Fase akhir pematangan plak pada hari ke 7 ditandai dengan menurunnya jumlah bakteri gram positif dan meningkatnya bakteri gram negatif. Pematangan plak pada hari ketujuh ditandai dengan munculnya bakteri jenis Spirochaeta dan Vibrio sementara jenis filament terus bertambah, dengan peningkatan paling menonjol pada Actiomyces naeslundi. Pada hari kedua puluh delapan dan kedua puluh sembilan, streptokokus akan terus berkurang jumlahnya. Komposisi Plak Gigi 1. Komposisi keseluruhan Plak gigi sebagian besar terdiri atas air dan berbagai macam mikroorganisme yang berkembang biak dalam suatu matriks interseluler yang terdiri atas polisakarida ektraseluler dan protein saliva. Sekitar 80% dari berat plak adalah air dan 20% lainnya bentuk padat, sementara jumlah miroorganisme kurang lebih 250 juta per mg berat basah. Selain terdiri atas mikroporganisme, juga terdapat sel-sel epitel lepas, leukosit, partikelpartikel sisa makanan, garam anorganik yang terutama terdiri atas kalsium, fosfat, dan fluor. 2. Komposisi Bakteri Bakteri yang terdapat pada permukaan luar, terdiri atas bakteri jenis aerob, sedangkan bakteri yang terdapat pada permukaan dalam terdiri dari bakteri anaerob. Bakteri anaerob cenderung lebih banyak karena oksigen yang masuk ke dalam hanya sedikit sehingga memungkinkan bakteri anaerob tumbuh dengan subur. Bakteri di dalam plak tidak sama dengan yang terdapat di rongga mulut, laktobasilus hanya hadir dalam jumlah kecil di dalam plak, dan dalam saliva jumlahnya sangat besar. Streptococcus yang banyak terdapat dalam plak hanya sedikit terdapat pada saliva. Bakteri yang terdapat dalam plak selain dapat menghasilkan asam (asidogenik) dari makanan yang mengandung karbohidrat juga dapat bertahan berkembang biak dalam suasana asam (aciduric). Berdasarkan hasil penelitian, komposisi bakteri dalam plak bervariasi. Komposisi bakteri dalam plak bergantung pada daerah dan region dari gigi, juga umur plak.

Distribusi bakteri di dalam plak sangat variabel, namun umumnya bakteri berada di lapisan bagian dalam berkumpul membentuk koloni yang lebih padat serta mempunyai dinding yang lebih tebal dan terutama terdiri atas jenis kokus, sedangkan jenis filament umumnya tumbuh dengan sumbu panjang sel-selnya tegak lurus pada permukaan gigi, pada gambaran secara mikroskopik tampak gambaran palisade atau seperti pagar. 3. Komposisi matriks plak gigi a. Polisakarida ekstraseluler Jenis utama bakteri yang mempunyai kemampuan untuk membentuk polisakarida ekstraseluler adalah beberapa galur (strain) streptokokus, yaitu Streptococcus mutans, Streptococcus bovis, Streptococcus sanguis dan galur streptokokus lainnya. Bakteri ini membentuk polisakarida ekstraseluler dari karbohidrat, terutama sukrosa. Polisakarida ekstraseluler yang terutama di dalam plak adalah dekstran yang merupakan polimer sukrosa dan levan yang merupakan polimer fruktosa. Secara biokimia, jalannya sintesa adalah sebagai berikut. 1. 2. Sukrosa + enzim bakteri (dekstransukrase) >> dekstran + friktosa Sukrosa + enzim bakteri (levansukrosa) >> levan + glukosa Dekstran merupakan polimer glukosa yang mempunyai berat molekul berbeda dan mempunyai sifat tidak larut dalam air, sangat adhesif dan resistan terhadap hidrolisis oleh bakteri di dalam plak, dan merupakan senyawa yang stabil. Sifat-sifat tersebut memungkinkan dekstran berfungsi sebagai matriks daripada plak. Dekstran mempunyai panjang rantai yang berbeda sehingga diusulkan nama umum, yaitu glukan bagi golongan polisakarida yang merupakan polimer glukosa. Sukrosa merupakan substrat utama bagi pembentukan dekstran, namun penelitian terakhir menunjukkan bahwa bakteri dapat membentuk polisakarida lain selain dekstran, dari glukosa dan gula-gula lainnya. Bakteri-bakteri di dalam plak juga membentuk polimer fruktosa, yaitu levan. Levan ini lebih mudah larut dalam air dan dapat dihidrolisis lebih banyak oleh bakteri dibandingkan dengan dekstran. Karena tidak begitu stabil, diperkirakan peranan levan sebagai komponen matriks dari plak agak terbatas. Namun, para ahli mengakui bahwa

levan dan polisakarida lain yang serupa juga penting sebagai perantara bagi kolonisasi dan perlekatan bakteri di atas permukaan gigi. Perbedaan antara dekstran dan levan ini penting dalam hubingannnya dengan retensi plak. Pada permukaan licin gigi, kolonisasi bakteri terutama dilakukan oleh jenis-jenis yang mempunyai kemampuan besar untuk membentuk dekstran, misalnya Streptococcus mutans, sedangkan pada permukaan akar lebih terlindung terhadap tekanan-tekanan mekanis yang melepaskan plak, organisme pembentuk levan, seperti Odontomyces viscosus dapat berkoloni dan membentuk plak. b. Protein saliva Selain polisakarida ektraseluler, beberapa ahli mengatakan bahwa matriks dari plak juga mengandung protein dari saliva. Sisa-sisa sel bakteri yang yang telah mengalami lisis dan beberapa mineral. Leach dkk, menunjukkan dengan suatu percobaan bahwa jika diet tidak mengandung karbohidrat, matriks dari plak yang terbentuk di atas permukaan gigi hampir sama sekali tidak mengandung karbohidrat (polisakarida ekstraseluler). Dalam hal ini ternyata bahwa matriks dari plak tersebut terdiri atas asam-asam amino yang merupakan karakteristik glikoprotein saliva. 4. Komposisi anorganik Plak mengandung konsentrasi kalsiun dan fosfat yang jauh lebih tinggi daripada di dalam saliva. Konsentrasi unsure-unsur ini berbeda pada satu daerah plak dengan daerah lainnya, pada satu pasien dengan pasien lainnya. Sebagai contoh, plak di gigi insisif rahang bawah mengadung kalsium dan fosfat jauh lebih tinggi daripada plak region lain. Jika diet mengandung banyak sukrosa atau gula-gula lain, konsentrasi kalsium dan fosfat turun dengan cepat. Ini mungkin disebabkan karena kebutuhan bakteri akan unsur-unsur tersebut meningkat sewaktu terjadi metabolisme gula-gula tersebut. Selain kalsium dan fosfat, plak juga mengandung fluor dalam konsentrasi kurang lebih 80 ppm pada pasien yang meminum air yang telah difluoridisasi (dalam konsentrasi 1 ppm). Diperkirakan sebagian besar fluor terikat pada protein plak serta bakteri dalam plak. Fluor dalam konsentrasi 80n ppm sebenarnya dapat menekan atau menghalangi reaksi enzimatik bakteri, termasuk sintesa polisakarida intra- dan ekstraseluler yang penting dalam proses pembentukan plak. Akan tetapi untuk dapat berefek demikian, dibutuhkan fluor dalam bentuk bebas, sedangkan jumlah fluor dalam bentuk ion bebas di

dalam plak ini belum diketahui pasti. Oleh karena itu, belum dapat dipastikan apakah fluor di dalam plak tersebut mempunyai efek kariostatik atau tidak. Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa plak dapat mengikat kalsium dalam jumlah besar dan hal ini mungkin berhubungan dengan perpindahan kalsium ke dalam dan keluar email. KALKULUS Kalkulus adalah suatu massa yang mengalami kalsifikasi yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi, dan objek solid lainnya di dalam mulut, misalnya restorasi dan gigi geligi tiruan. Kalkulus adalah plak yang terkalsifikasi. Klasifikasi Kalkulus 1. Kalkulus supragingival Kalkulus supragingival adalah kalkulus yang melekat pada permukaan mahkota gigi mulai dari puncak gingival margin dan dapat dilihat. Kalkulus ini berwarna putih kekuningan, konsistensinya keras, seperti batu tanah liat dan mudah dilepaskan dari permukaan gigi dengan scaler. Warna kalkulus dapat dipengaruhi oleh pigmen sisa makanan atau dari merokok. Kalkulus supragingival dapat terjadi pada satu gigi, sekelompok gigi atau seluruh gigi. Banyak terdapat pada bagian bukal molar rahang atas yang berhadapan dengan duktus Stensens, pada bagian lingual gigi depan rahang bawah yang berhadapan dengan duktus Whartons. Selain itu, kalkulus juga banyak terdapat pada gigi yang sering tidak digunakan. 2. Kalkulus subgingival Kalkulus subgingival adalah kalkulus yang berada di bawah batas gingival margin, biasanya pada daerah saku gusi dan tidak dapat terlihat pada waktu pemeriksaan. Konsistensinya biasanya keras dan padat. Warnanya cokelat tua atau hijau kehitamhitaman. Bentuk kalkulus subgingival dapat dibagi menjadi deposit noduler dan spinning yang keras, berbentuk cincin atau ledge yang mengelilingi gigi, berbentuk seperti jari yang meluas sampai ke dasar saku, bentuk bulat yang terlokalisasi, dan bentuk gabungan. Jika gingival mengalami resesi, subgingival kalkulus akan dapat dilihat seperti kalkulus supragingival dan mungkin akan ditutupi oleh supragingival yang asli.

Tabel: Perbedaan Kalkulus Supragingival dan Subgingival Kalkulus Supragingival Lokasi Dari korona ke margin gingiva Kalakulus Subgingival Dari apikal ke margin gingival, di dalam sulkus gingival periodontal Distribusi Terdapat dekat kelenjar air liur. - bagian lingual dati insisivus sublingual) bagian bukal dari bawah (duktus Tidak bisa diprediksi. Lebih sering di bagian approksimal dan lingual daripada bagian bukal dan poket

molar kedua atas (duktus parotis) Penampilan Cara mandeteksi Putih kekuningan Menggunakan drying, memberikan yang pucat berkapur Formasi Kalsifikasi heterogen Kalsifikasi homogen Kandungan mineral 37% dari volume Berasal dari saliva 50% dari volume Berasal dari cairan lebih dan air akan Coklat kehitaman Menggunakan probe

penampilan atau seperti

sirkular gingival Komposisi -70-80% material Konsentrasi kalsium,

magnesium dan fluoride

anorganik. Kalsium, fosfat dan

lebih

banyak

daripada

kalkulus Fluoride

supragingival. didistribusikan

sedikit magnesium, sodium, karbonat Fluoride dan fluride.

tidak teratur.

didistribusikan

secara teratur. -15-20% organic Protein 55%, lemak material

10% dan karbohidrat.

Komposisi Kalkulus 1. Komponen anorganik Bahan anorganik kalkulus supragingival terdiri atas kalsium fosfat (Ca3(PO4)2) 75,9%; kalsium karbonat (CaCO3) 3,1%; dan magnesium fosfat (Mg3(PO4)2) serta sejumlah ion logam lainnya. Komponen anorganik utamanya adalah kalsium 39%, fosfor 19%, magnesium 0,8%, karbon dioksida 1,9% dan sejumlsh kecil logam Na, Zn, Sr, Br, Cu, An, Al, Si, Fe dan F. sekurang-kurangnya dua pertiga bahan anorganik ini strukturnya berupa Kristal. Ada 4 bentuk kristal, yaitu hidroksiapatit (Ca10(OH)2(PO4)2) 58%; brushite CaH(PO4)2 20,9%; dan magnesium whitlockite (Ca9(PO4)3XPO4) 21% serta oktakalsium fosfat (Ca4H(PO4)3.2H2O) 21%. Biasanya pada setiap sampel kalkulus dijumpai dua atau lebih bentuk kristal, dengan hidroksiapatit dan oktakalsium fosfat yang paling sering dijumpai. Brushite lebih sering dijumpai pada kalkulus yang terletak di regio depan rahang bawah sementara whitlockite pada regio posterior. 2. Komponen organik Komponen organik kalkulus terdiri atas campuran protein-polisakarida kompleks, selsel epitel yang mengalami desquamasi, leukosit dan berbagai tipe mikroorganisme. Sekitar 1,9 sampai 9,1% komponen organik adalah karbohidrat yang terdiri atas galaktosa, glukosa, rhamnosa, mannose, asam glikuronik, galaktosamine, dan kadang-

kadang arabinase, asam galakturonik serta glukosamin yang semuanya dijumpai pula di dalam glikoprotein saliva kecuali arabinosa dan rhamnosa. Protein yang berasal dari saliva, sejumlah 5,9-8,2% yang kebanyakan terdiri atas asam amino. Lipid sejumlah 0,2% dari komponen organik dalam bentuk lemak netral, asam lemak bebas, kolesterol, kolesterol ester, dan fosfat lipid. 3. Komponen mikroorganisme Persentasi organisme filamentous gram positif dan gram negatif lebih tinggi pada kalkulus daripada daerah lain rongga mulut. Mikroorganisme pada daerah perifer yang predominan adalah bacillus gram negatif dan kokus. Kebanyakan mikroorganisme di dalam kalkulus ini mati. Proses Pembentukan Kalkulus Kalkulus adalah plak bakteri yang termineralisasi, tetapi tidak semua plak teremineralisasi. Kalkulus supragingival jarang terlihat pada permukaan bukal molar bawah, tetapi sering ditemukan pada permukaan molar atas yang berlawanan dengan muara duktus parotis. Mungkin 90% dari kalkulus supragingival yang terdapat pada gigi geligi ditemukan pada insisivus bawah yang terpapar langsung dari glandula saliva submandibularis dan sublingualis. Presipitasi garam-garam mineral ke dalam plak sudah dapat terlihat beberapa jam setelah deposisi plak, tetapi umumnya keadaan ini berlangsung 2-14 hari setelah terbentuknya plak. Mineral pada kalkulus supragingival berasal dari saliva, sedangkan pada kalkulus subgingival berasal dari eksudat cairan gingiva. Pada plak yang baru terbentuk, konsentrasi kalsium dan ion fosfornya sangat tinggi. Umumnya konsentrasi kalsium pada plak sekitar 20 kali lebih besar daripada di saliva, tetapi tidak terlihat karena adanya kristal apatit. Selain itu, terlihat juga bahwa kristal hidroksiapatit terbentuk spontan di dalam saliva. Proses kalsifikasi mencakup pengikatan ion-ion kalsium ke senyawa karbohidratprotein dari matriks organik, dan pengendapan kristal-kristal garam kalsium posfat. Kristal terbentuk pertama kali pada matriks interseluler dan pada permukaan bakteri, dan akhirnya diantara bakteri.

Kalsifikasi kalkulus dimulai sepanjang permukaan dalam plak supragingival dan pada komponen melekat dari plak supragingival yang berbatasan dengan gigi membentuk fokus-fokus yang terpisah. Fokus-fokus tersebut kemudian membesar dan menyatu membentuk massa kalkulus yang padat. Kalsifikasi tersebut dapat diikuti dengan perubahan kandungan bakteri dan kualitas pewarnaan plak. Dengan adanya kalsifikasi, bakteri berfilamen bertambah jumlahnya. Pada fokus-fokus kalsifikasi terjadi perubahan dari basofilia menjadi eosinofilia; intensitas pewarnaan menunjukkan pengurangan reaksi periodic acid-schiff positif dan sulfihidril dan grup amino, dan pewarnaan dengan toluidin blue yang pada mulanya ortokromatik berubah menjadi metakromatik dan menghilang. Kalkulus dibentuk lapis demi lapis, dimana setiap lapis sering dipisahkan oleh kutikula yang tipis, yang kemudian tertanam dalam kalkulus dengan berlangsungnya kalsifikasi. Inisiasi dan akumulasi dari kalkulus bervariasi pada setiap orang, pada gigi yang berbeda dan pada waktu yang berbeda di orang yang sama. Berdasarkan perbedaan tersebut, maka dapat dikelompokan menjadi pembentuk kalkulus berat, sedang atau sedikit atau sebagai pembentuk non-kalkulus. Pembentukan kalkulus terus berkembang sampai kalkulus mencapai berat maksimal kemudian jumlahnya bisa kembali turun. Waktu yang diperlukan untuk mencapai tingkat maksimal adalah sepuluh minggu sampai enam bulan. Penurunan dari akumulasi kalkulus maksimal disebut sebagai reversal phenomenon (fenomena pembalikan), dapat dijelaskan oleh kerentanan kalkulus terhadap gerakan mekanik dari lidah dan bibir. Mekanisme mineralisasi kalkulus adalah : 1. Pengendapan mineral adalah hasil dari kenaikan derajat kejenuhan ion kalsium dan ion fosfat melalui beberapa cara : a. Peningkatan pH saliva menyebabkan pengendapan garam kalsium fosfat dengan cara menurunkan pengendapan konstan. pH meningkat karena kehilangan karbon dioksida dan pembentukan ammonia oleh plak gigi atau degradasi protein selama stagnasi. b. Protein koloid di saliva mengikat ion kalsium dan fosfat dan memelihara larutan jenuh berkenaan dengan garam kalsium fosfat. Dengan stagnasi saliva, koloid menetap dan fase jenuh tidak lagi dipertahankan, menyebabkan pengendapan garam kalsium fosfat.

c. Fosfat terlepas dari plak gigi, bakteri mengendapkan kalsium fosfat dengan cara hidrolisis fosfat organik dalam saliva, sehingga meningkatkan konsentrasi ion fosfat. Esterase merupakan enzim lain yang ada pada organisme coccid dan filament, leukositm makrofag dan sel-sel epitel pada plak gigi. Esterase memulai kalsifikasi dengan cara hidrolisis ester lemak menjadi asam bebas lemak. Asam lemak membentuk sabun dengan kalsium dan magnesiu yang kemudian diubah menjadi garam kalsium fosfat yang kurang larut. 2. Menurut teori epitaksis, diduga plak berfungsi sebagai pembiak atau dikatakan plak mengandung tempat-tempat nukleasi yang merupakan tempat pembentukkan kristal awal. Setelah nukleasi dari kristalit yang terjadi, maka dengan adanya saliva yang sangat jenuh akan garam-garam kalsium fosfat dapat mendukung pertumbuhan nukleat tersebut sehingga terbentuk kalkulus gigi. MEKANISME TERJADINYA GUSI BERDARAH Di akibatkan berkumpulnya pelikel yang berkolonisasi jadi plaque berkolonisasi Dengan Bakteri dan bermineralisasi menjadi calculus sehinga terjadi perdangan pada jaringan periodontal (gingva) yang merupakan aksi dari system kekebalan tubuh sehingga terjadi pembesaran (banyaknya pasokan pembulu drah pada daerah yang terinfeksi ) sehingga sedikit saja terdapat rangsangan dan stimulus menyebabkan mudahnya terjadi inflamasi

VII.

SINTESIS

Seorang pasien wanita berusia 22 tahun mengalami Induce plaque gingivitis yang bersifat general dan mengalami halitosis. Sehingga dilakukan scaling dan pemberian obat kumur yang mengandung chlorohexidine.