Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH DIAMETER DAN JUMLAH LENGKUNGAN FIBER OPTIK

TERHADAP BENDI NG LOSSES



Biaunik Niski Kumila, Yasin.A.Sahodo
Jurusan Fisika fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
ochabahana@gmail.com

Abstrak
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh besar diameter kelengkungan dan
jumlah lengkungan terhadap rugi daya pada fiber optik. Pada percobaan ini, fiber optik
dilengkungan dengan beberapa variasi diameter kelengkungan. Untuk tiap-tipa variasi
diameter, jumlah lengkungan juga divariasi. Fiber optik disinari oleh laser dan energi
cahaya setelah melalui fiber ditangkap oleh fotodioda dan terbaca pada multimeter sebagai
tegangan. Untuk menghitung bending losses, kita harus menghitung daya yang dijadikan
acuan, yaitu saat fiber optik belum dilengkungkan. Karena arus pada rangkaian sama dalam
semua keadaan, maka untuk menghitung bending losses, hanya dibutuhkan nilai tegangan
setelah dilengkengkan dan tegangan acuannya saja. Bending losses berbanding terbalik
terhadap diameter kelengkungan dan berbanding lurus dengan jumlah lengkungan.

Kata kunci : bending losses,diameter kelengkungan, jumlah lengkungan

PENDAHULUAN
Optic fiber atau biasa disebut serat
optik merupakan salah satu bentuk
teknologi yang sering dipakai akhir-akhir
ini. Serat optik digunakan dalam berbagai
bidang salah satunya adalah bidang
komunikasi. Emampuan serat optik untuk
memandu gelombang sangat memebrikan
peran penting dalam bidang komunikasi.
Rugi daya pada serat optik sangat dihindari
dengan tujuan masukan akan sama dengan
keluaran (setelah melewati serat optik).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan
kerugian dalam sistem serat optik, salah
satunya adalah kelengkungan serat optik.
Rugi daya akibat kelengkungan serat optik
ini disebut bending losses.
Serat Optik
Serat optik merupakan salah satu
hasil rekayasa teknologi material,
berfungsi sebagaimedia pemandu cahaya
menuju tempat tujuan. Secara umum, serat
optik terdiri dari tiga lapisan:
inti(core),kulit(cladding), dan coating
atau buffer (pelindung). Penampang
sebuah serat optik ditunjukkan pada
Gambar 1.


Gambar 1 Penampang serat optik
Core merupakan tempat
perambatan cahaya sedangkan cladding
merupakan lapisan pemantul cahaya
sehingga cahaya tidak keluar dari
serat.Proses pemanduan cahaya
berdasarkan pada prinsip pembiasan dari
hukum Snellius.
r i
n n u u sin sin
2 1
=
(1)
Atau bisa ditulis dengan,
1
2
sin
sin
n
n
r
i
=
u
u

(2)
dengan:

i
= sudut datang terhadap
garis normal

i
= sudut bias terhadap garis
normal
n
2
= indeks bias kulit
(cladding)
n
1
= indeks bias inti (core)

Dengan memvariasi sudut datang
dari 0 hingga 90 akan diperoleh keadaan
dimana sudut bias
r
= 90. Sudut datang
semacam ini disebut sebagai sudut kritis
(
K
).

Gambar 2 Pembiasan cahaya pada serat optik
Apabila besar sudut bias
r
= 90
disubtitusikan ke persamaan 2. maka Besar
sudut kritis dapat dituliskan pada
persamaan berikut:
|
|
.
|

\
|
= =

1
2 1
sin
n
n
K i
u u
(3)
Maka apabila sudut datang
melebihi sudut kritis dan indek bias
lapisan cladding dibuat sedikit lebih kecil
daripada core,akan memungkinkan cahaya
mengalami pemantulan sempurna. Seperti
yang terlihat pada gambar 2 pada ilustrasi
perambatan cahaya warna hijau.
Serat optik terdiri dari beberapa jenis,
yaitu serat optik moda tunggal (single
mode)(Gambar 3), serat optik moda jamak
step indeks (multimode step index
(Gambar 4), dan serat optik moda jamak
graded indeks (multimode graded
index)(Gambar 5). Jika perbedaan indek
bias coredan cladding dibuat drastis
disebut serat optik step indeks sedangkan
jika perbedaan indek bias core dan
cladding dibuat secara perlahan-lahan
disebut graded index.


Gambar 3 Serat optik single mode step index



Gambar 4 Serat optik multimode step index



Gambar 5 Serat optik multimode graded index

Turunnya indeks bias dari inti ke
kulit ditentukan oleh indeks profile. Pada
step index, selisih indeks biasnya
disimbolkan dengan , dengan:
2
1
2
2
2
1
2n
n n
= A atau bisa dituliskan ;



1
2 1
n
n n
~ A
(4)
Serat optik single mode hanya bisa
dilalui oleh satu jenis cahaya dan memiliki
core yang kecil menyebabkan cahaya
merambat pada garis yang cenderung lurus
sedangkan multimode memiliki core yang
lebih besar dan membawa lebih dari satu
jenis cahaya dengan frekuensi berbeda.
Kelebihan dan kekurangan dari masing-
masing jenis serat optik terlihat pada Tabel
2.1
Tabel 1. Kelebihan dan kekurangan jenis-
jenis serat optik
Jenis
Serat
Optik
Kelebihan Kekurangan
Single
mode
step
index
- Dispersi
minimum
- Bandwid
th Lebar
- Sangat
- NA
kecil
- Sulit
untuk
terminasi
efisien - Mahal
Multim
ode
Step
index
- Mudah
terminasi
- Kopling
efisien
- Murah
- Dispe
rsi lebar
- Band
width
minimum
Adapun untuk serat optik jenis
multimode graded index memiliki
kelebihan dan kekurangan diantara jenis
single mode step index dan multimode step
index.
[1]

Pembengkokan
Bending yaitu pembengkokan fiber
optik yang menyebabkan cahaya yang
merambat pada fiber optik bervbelom arah
transmisi dan hilang. Sebagai contoh, pada
fiber optik yang mendapat tekanan cukup
keras dapat menyebabkan ukuran diameter
fiber optik menjadi berbeda dari diamete
semula, sehingga mempengaruhi sifat
transmisi cahaya di dalamnya.
[2]

Atenuasi akibat pembengkokan serat optik
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
pembengkokan makro (macro bending)
dan pembengkokan mikro (micro
bending). Kerugian akibat macro bending
terjadi ketika sinar atau cahaya melalui
serat optik yang dilengkungkan dengan
jari-jari lebih lebar dibandingkan diameter
serat optik sehingga menyebabkan
kerugian.
Sedangkan pembengkokan mikro
(micro bending) terjadi karena
ketidakrataan pada permukaan batas antara
inti dan selubung secara acak atau random
pada fiber optik karena proses
pengkabelan ataupun ketika proses
penarikan saat instalasi.
[3]

Hilangnya daya pada serat optik
Energi atau daya yang dibawa oleh cahaya
akan mengalami pelemahan
(kerugian/loss) akibat terjadinya
kebocoran atau kurangnya kejernihan
bahan serat optik. Besaran pelemahan
energi sinyal informasi darifiber optik
yang biasa dinyatakan sebagai
perbandingan antara daya pencaran awal
terhadap daya yang diterima dinyatakan
dalam deci-Bell (dB) disebabkan oleh 3
faktor yaitu absorpsi, hamburan
(scattering) dan bending losses. Gelas yang
merupakan bahan pembuat fiber optik
biasanya terbentuk dari silikon-dioksida
(SiO
2
). Variasi indeks bias diperolah
dengan menambahkan bahan lain seperti
oksida titanium, thallium, germanium atau
boron. Dengan susunan bahan yang tepat
maka akan didapatkan atenuasi yang kecil.
atenuasi menyebabkan pelemahan energi
sehingga amplitudo gelombang yang
sampai pada penerima menjadi lebih kecil
dari pada yang dikirimkan oleh pemancar.
Cahaya merambat sepanjang serat
optik mengalami penurunan energi secara
eksponensial terhadap jaraknya. Jika P(0)
adalah tenaga oprik awal dalam serat (pada
z=0), selanjutnya P(z) adalah tenaga optik
setelah menempuh z, maka selanjutnya
dinyatakan dengan rumus :

(5)

(6)

merupakan koefisien atenuasi


satuannya km
-1
, z adalah panjang lintasan
atau ketebalan serat optik yang digunakan
untuk perjalanan sinar (gelombang
elektromagnetik). Secara ringkas dalam
perhitungan atenuasi dalam serat optik
dinyatakan dengan decibel per kilometer
(db/km). Secara matematis atenuasi dapat
dirumuskan sebagai berikut :

(7)

dimana P
1
merupakan besar daya masuk
(ditransmisikan) dan P2 merupakan daya
yang diterima.
[1]












METODOLOGI
Susunan peralatan dan bahan pada
praktikum ini ditampilkan pada gambar
berikut:








Laser disambungkan dengan
poiwer supply kemudian disambungkan ke
fiber optik. Fotodioda berfungsi sebagai
sensor energi cahaya dari fiber optik yang
kemudian terbaca pada multimeter sebagai
tegangan. Tegangan saat fiber optik masih
lurus diukur terlebih dahulu yang nantinya
digunakan sebagai acuan. Variasi yang
digunakan adalah variasi diameter
lengkungan yaitu, 5 cm, 6 cm dan 7 cm.
Selain itu, digunakan juga variasi jumlah
lengkungan, yaitu 1 sampai 3 lengkungan.
Tegangan pada tiap variasi diameter
lengkungan diukur dengan jumlah
lengkungan yang berbeda. Tegangan dari
tiap variasi dibandingkan dan dihitung
banding lossesnya dengan persamaan 7.
Arus yang terbaca pada power supply
adalah 11 A.

ANALISA DATA
Data yang diperoleh pada pecobaan
ini ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 2. V
out
saat d=5 cm.
Jumlah
lilitan
V
out
(V) V
out rata2
(V)
1
241,5
241,25 241
239,6
2
239,9
239,80 239,9
235,5
3
235,5
235,70 235,4
236,2

Tabel 3. V
out
saat d=6 cm
Jumlah
lilitan
V
out
(V) V
out rata2
(V)
1
237,3
237,73 237,3
238,3
2
230,3
229,47 229,1
229
3
238,3
238,40 238,5
238,4

Tabel 4. V
out
saat d=7 cm.
Jumlah
lilitan
V
out
(V) V
out rata2
(V)
1
253,6
253,13 253,3
252,5
2
249,4
249,53 249,5
249,7
3
242,4
241,10 242,1
238,8

Bending losses dihitung dengan
persamaan 7.
Contoh perhitungan :
P
1
=I
1
. V
1
, P
2
=I
2
.V
2

Karena I
1
=I
2
=11 A
Maka


Misal :
V
1
=254,5
V
2
=241,25
Maka


= log [254,5/241,25]
= 0,02322 dB
Hasil perhitungan selanjutnya
ditampilakn oleh tabel berikut :





Fiber optik yang
dilengkungkan

f
o
t
o
d
i
o
d
a

multimeter
Tabel 7. Perhitungan Bending Losses
Diameter
lengkungan
(cm)
Jumlah
lilitan
V
out
rata2

(V)
Bending
Losses
(dB)
5
1 241,25 0,02322
2 239,80 0,02584
3 235,70 0,03333
6
1 237,73 0,02960
2 229,47 0,04497
3 238,40 0,02838
7
1 253,13 0,00234
2 249,53 0,00856
3 241,10 0,02349

PEMBAHASAN
Percobaan ini menggunakan fiber
optik yang dilengkungkan dengan variasi
diameter kelengkungan dan jumlah
lengkungan. Secara teori, bending losses
berbanding lurus dengan jumlah
lengkungan dan berbanding terbalik
dengan diameter kelengkunga fiber optik.
Jika fiber optik dilengkungkan,
maka jarak tempuh cahaya yang terpandu
akan semakin panjang. Losses (rugi daya)
juga berbanding lurus dengan jarak
tempuh cahaya yang melewati fiber optik.
Secara struktural, saat fiber optik
dilengkungkan, akan terjadi deformasi
pada bagian yang dilengkungkan.
Deformasi ini akan mengubah indeks bias
bahan fiber optik. Fiber optik dibuat
sedemikian rupa agar tidak ada energi
yang hilang. Salah satu syaratnya adalah
terjadi pemantulan sempurna di daam fiber
optik. Pemantulan sempurna di dalam fiber
optik ini terpenuhi jika indeks bias
cladding sangat kecil dibandingkan indeks
bias core fiber optik. Menurut hukum
snellius, jika suatu berkas cahaya
dilewatkan dari medim rapat(indeks bias
besar) ke medium renggang(indeks bias
kecil) maka cahaya akan menjauhi garis
normal. Kita anggap bahwa cahaya datang
dari core ke cladding. Jika indeks bias
cladding jauh lebih kecil dari indeks bias
core maka berkas cahaya akan dipantulkan
kembali ke dalam core. Inilah yang disebut
pemantulan sempurna di dalam fiber optik.
Jika fiber optik dilengkungkan,
akan terjadi perubahan struktur dalam fiber
optik. Core bagian luar akan semakin
renggang hingga indeks bias bertambah
kecil dan mendekati indeks bias
claddingnya. Hal ini akan menyebabkan
perubahan tatanan indeks bias yang
seharusnya dimiliki oleh sebuah fiber
optik. Perubahan struktur inilah yang
menyebabkan terjadinya rugi daya. Jika
jari-jari semakin diperkecil maka indeks
bias core akan semakin mendekati
cladding. Rugi daya pun semakin besar.
Dan bila jumlah lengkungan ditambah,
rugi daya juga semakin besar.
(Tabel 7) merupakan hasil
perhitungan banding losses dari tiap
variasi. Bending losses diameter
kelengkungan 7 cm lebih kecil
dibandingkan 6 cm. Jika kita amati,
semakin banyak jumlah lengkungan,
bending losses juga semakin besar.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari
percobaan ini adalah semakin besar
diameter kelengkungan, bending losses
semakin kecil. Dan semakin banyak
jumlah lengkungan, bending losses
semakin besar, begitu juga sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Senior JM. (1992). Optical Fiber
Communication. New Jersey. Prentice
hall: Englewood Cliffs.
[2] Farrell, G. (2002). Optical
Communication System. Dublin: Institute
of Technology.
[3] Andre, PS. (2006). Modeling of Bend
Losses in Single Mode Optical Fibers.
Portugal: Aveiro University.