Anda di halaman 1dari 3

FOSS 4 GI (FREE OPEN SOURCE SOFTWARE FOR GEOSPATIAL INFORMATION)

FOSS 4 GI, bukanlah sebuah formula khusus ataupun ramuan tertentu; FOSS adalah singkatan untuk Free Open Source Software, sebuah singkatan yang cukup populer di kalangan pengguna Open Source; GI adalah Geospatial Information atau Informasi Geospasial. Di era perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi geospasial, berbagai perangkat lunak tersedia dalam berbagai bentuk. Acapkali yang dicari dan mudah diperkenalkan ialah perangkat lunak yang digunakan untuk pengolahan data geospasial dengan beberapa kemudahan, misalnya: mudah diunduh atau diperoleh, mudah dipergunakan atau user friendly, serta harga murah atau gratis atau free bahkan mudah dikembangkan untuk berbagai aplikasi. Salah satu contoh FOSS 4 GI adalah Quantum GIS, ada 5 alasan menggunakan Quantum GIS yang dikemukakan dalam http://gislounge.com/five-reasons-to-start-using-qgis/. Ada satu alasan lagi bagi pengguna QGIS maupun perangkat lunak bebas dan terbuka lain untuk pengolahan DG dan IG di Indonesia. Alasan itu ialah keberadaan landasan hukum atau dengan kata lain dukungan dari pemerintah, dalam hal ini Badan yang terkait dengan DG dan IG. Apa itu DG dan IG? Berikut pengertian dari DG dan IG menurut Undang-undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (UU IG):

Data Geospasial yang selanjutnya disingkat DG adalah data tentang lokasi geografis, dimensi atau ukuran, dan/atau karakteristik objek alam dan/atau buatan manusia yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi. Informasi Geospasial yang selanjutnya disingkat IG adalah DG yang sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan/atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian.

Bagian mana dalam UU IG yang menyebutkan bahwa kita dapat mempergunakan perangkat lunak bebas dan terbuka untuk pengolahan DG dan IG? Di dalam Bagian Ketiga terdapat Pasal 30 dan lebih lanjut dalam Pasal 31 tertulis bahwa pengolahan DG dan IG dengan menggunakan perangkat lunak yang berlisensi: dan/atau bersifat bebas dan terbuka. Bahkan lebih lanjut dijelaskan dalam Pasal 31 (2) Pemerintah memberikan insentif bagi setiap orang yang dapat membangun, mengembangkan dan/atau menggunakan perangkat lunak pengolah DG (data geospasial) dan IG (informasi geospasial) yang bersifat bebas dan terbuka. Hal tersebut akan diatur di dalam Peraturan Pemerintah mengenai bentuk dan tatacara pemberian insentif. Adanya dukungan kebijakan geospasial dalam hal ini penggunaan 'FOSS 4 GI' (free open source software for geospatial information) - open source pengolahan DG dan IG menjadi penguat dan batu pijakan kita untuk terus berkarya dan berbagi serta eksplorasi sesuai dengan aplikasi SIG (Sistem Informasi Geografis) yang dibutuhkan.

Salah satu ide mendasar penggunaan FOSS 4 GI adalah kemudahan kita di dalam berbagi pemanfaatan DG dan IG bagi pengambilan keputusan. Jangan sampai adanya keterbatasan anggaran untuk pembelian perangkat lunak berbayar pengolah DG dan IG menjadi penghambat dan alasan untuk 'asal kelola informasi geospasial'. Acapkali memunculkan DG tidak diolah sebagaimana mestinya yang kemudian menghasilkan IG yang hanya berupa gambaran di atas kertas belaka, tanpa referensi spasial dan atribut di dalamnya. Suatu waktu di kala kita ketika datang ke daerah dan memperkenalkan dan berbagi informasi mengenai aplikasi SIG; permasalahan berikutnya yang muncul ialah dearah akan berfikir dan mulai berhitung berapa rupiah yang akan dikeluarkan untuk membeli perangkat lunak pengolah DG dan IG? Kasus berikutnya yang terjadi; ketika berhasil dibeli perangkat lunak SIG tersebut, maka acapkali pula sumberdaya manusia yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan mengolah DG dan IG dipindahtugaskan sehingga CD/DVD perangkat lunak tersebut hanya tersimpan di lemari kaca. Akan tetapi, seiring semakin meningkatnya berbagai perangkat lunak yang bersifat bebas dan terbuka, dalam hal ini untuk pengolahan DG dan IG maka diharapkan sosialisasi pemanfaatan DG dan IG tidak berhenti pada wacana teoritis semata, tetapi aplikasi SIG yang dapat diterapkan bagi daerah secara langsung, salah satunya dengan pengenalan perangkat lunak pengolah DG dan IG yang bisa diperoleh secara mudah, tidak berbayar (hanya sedikit rupiah untuk akses internet), user-friendly --> mudah diperkenalkan dan dipelajari untuk kemudian dipergunakan. Konteks bahasan di atas adalah aplikasi SIG dari perspektif perangkat lunak. Quantum GIS melalui 5 alasan menggunakan QGIS (Free, Cross-Platform, perkembangan pesat penggunaan QGIS, Banyak dukungan (plugins) dan tutorial, dan permintaan skill SDM yang menguasai perangkat lunak bebas dan terbuka meningkat) adalah salah satu perangkat lunak bebas dan terbuka yang semakin menarik untuk dipelajari dan dipergunakan. Salah satu contoh keinginan mendasar untuk memperkenalkan Quantum GIS bagi pemerintah daerah, khususnya panitia pembakuan nama rupabumi provinsi, kabupaten/kota ialah sebuah paper yang disajikan dalam poster session pada FIT ISI 2012 di Jakarta. Makalah dengan judul 'Pengenalan Quantum GIS untuk Pengelolaan Basisdata Nama Rupabumi bagi Panitia Pembakuan Nama Rupabumi Provinsi dan Kabupaten/Kota'. Implementasi dari paper ini dikembalikan lagi kepada keseriusan dari Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi dalam hal ini pelaksana bimtek untuk berbagi atau memperkenalkan kepada daerah mengenai hal dasar SIG guna menunjang pengelolaan basisdata nama rupabumi dan mempermudah proses verifkasi nama rupabumi. Nama rupabumi merupakan salah satu bagian dari informasi geospasial dasar maka seyogyanya dikelola dengan perangkat lunak DG dan IG, bukan sekedar menggunaka Ms.Excel semata.

Salah satu aplikasi SIG untuk kebencanaan yang mempergunakan FOSS 4 GI adalah InaSAFE yang dibuat sebagai aplikasi di dalam QGIS. InaSAFE memiliki kepanjangan INDONESIA SCENARIO ASSESSMENT FOR EMERGENCIES. Sebuah free software yang diharapkan menghasilkan se-realistis dampak dari bencana alam untuk perencanaan, persiapan dan kegiatan respon secara lebih baik. InaSAFE merupakan buah kerjasama yang dikembangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, AusAID dan Bank Dunia. Berkaca dari perspektif perangkat lunak, maka tiada perangkat lunak yang sempurna karena semua dikembalikan kepada kebutuhan daripada pengguna dan tujuan penggunaan perangkat lunak tersebut untuk aplikasi yang seperti apa. Oleh karena itu, tiada salahnya untuk pengenalan pemanfataan DG dan IG pergunakan FOSS 4 GI selain juga memperkenalkan Perangkat Lunak Berlisensi.

Semoga gegap gempita FOSS 4 IG tidak berhenti dan perkembangan yang ada bukan karena latah semata. Selamat berbagi dan terus berkreasi melalui FOSS 4 GI untuk mendukung Geospasial Untuk Negeri. Salam Geospasial Untuk Negeri, Aji Putra Perdana