Anda di halaman 1dari 6

MEMAHAMI URBAN WATERSHED DKI JAKARTA DARI KACAMATA GEOSPASIAL Memahami konsep mengenai kota dan mengenali kota

hampir mirip seperti melihat keramaian lalu lalang kendaraan di jalanan kota atau bisa juga berada di dalam jebakan kemacetan lalu lintas atau lebih nyatanya berada pada rumah-rumah yang berdekatan saling menghimpit seakan semakin sempit kehidupan ini. Kompleksitas dan heterogenitas kurang lebih dua kata itu bisa menggambarkan bagaimana kota dapat dikaji dari berbagai aspek atau perspektif. Berbicara kota, tentusaja salah satu referensi atau bahkan menjadi referensi utama bagi kajian kekotaan ataupun perkotaan di Indonesia ialah buku-buku karya Prof. Dr. H. Hadi Sabari Yunus, M.A (Denver); DRS (Utrecht). Di dalam bukunya yang berjudul "Manajemen Kota Perspektif Spasial" ada 6 matra dalam mendefinisikan apa itu kota yang dijelaskan sangat komprehensif oleh Beliau. Menurut Beliau di halaman 7, "manakala seseorang memasuki wacana ilmiah, pengertian kota ini ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan sebelumnya". Hal itu benar-benar dirasakan tatkala mencoba memahami makna "urban watershed" yang masih jarang didengar atau kurang banyak terdengar dan terbaca istilah ini di Indonesia. Salah satu "urban watershed" di Indonesia ialah daerah aliran sungai (DAS) yang melewati wilayah urban atau bahkan mega urban (jika boleh diungkapkan dalam istilah demikian) yakni berada pada kawasan SWS Ci Liwung dan Ci Sadane. DAS-DAS yang melewati DKI Jakarta atau Jabodetabek merupakan "urban watershed" yang memiliki permasalahan kekotaan dan penurunan kualitas DAS atau disebut oleh Yunus (2006) sebagai "urban environmental deterioration". Untuk memahami wilayah urban di suatu DAS berbagai cara telah dilakukan oleh banyak peneliti diantaranya memetakan urban area dengan bantuan data penginderaan jauh resolusi menengah. Data penginderaan jauh merupakan salah satu data geospasial yang dapat dipergunakan untuk melihat fenomena di muka bumi melalui kacamata geospasial. Salah satu kacamata tersebut ialah citra resolusi menengah yakni citra landsat. Citra ini masih menjadi pilihan dalam kajian temporal karena keberadaan data dari tahun 70an hingga 2010an. Hal ini dipermudah pula bahwa akses data landsat tersebut bisa diperoleh dengan mengunduh preview hingga data dalam berbagai level untuk seluruh saluran yang dimiliki oleh tiap sensor. Melihat keunggulannya ini pun landsat telah menyajikan data GeoCover epoch 1975, 1990, dan 2000 yang merupakan koleksi data landsat terortorektifikasi (silahkan akes di http://glcf.umiacs.umd.edu). Kemudian dalam upaya lanjutan untuk memproduksi data temporal dengan akurasi yang memadai maka USGS kerjasama dengan NASA menyediakan Global Land Survey (GLS). GLS dibangun dari data eksisting GeoCover dataset untuk 1970's, 1990 dan 2000 dan menambahkan untuk epoch 2005 dan 2010. Data GLS tersebut meningkatkan kualitasnya dari sebelumnya (GeoCover) dengan menggunakan data SRTM untuk koreksi terrain (dapat diakses di situs http://eros.usgs.gov).

Gambar 1a. Citra Landsat 1990an DKI Jakarta dan sekitarnya

Gambar 1b. Citra Landsat 2000an DKI Jakarta dan sekitarnya Data geospasial penginderaan jauh tersebut dengan kemampuan temporal, spasial dan spektralnya hingga saat ini masih acapkali dipergunakan dan dieksplorasi guna berbagai kepentingan, salah satunya ialah kajian morfologi kota (seperti yang disarankan oleh Prof. Dr. H. Hadi Sabari Yunus, M.A (Denver); DRS (Utrecht) dalam bukunya bahwa untuk mengkaji morfologi kota maka data penginderaan jauh dapat membantu kita memahami pola keruangan suatu kota dan berbagai aspek spasial lainnya dari suatu kota guna perencanaan pembangunan). Keberadaan informasi geospasial yang mudah diakses semakin membantu dalam memahami Urban Watershed dari kacamata geospasial. Salah satunya dengan mengakses InaGeoportal melalui http://tanahair.indonesia.go.id/home/ dan mengaktifkan layer basemap Batas Administratif dimana di dalam layer tersebut terdapat unsur Lingkungan Terbangun atau Builtup Area. Unsur tersebut menggambarkan area fisik wilayah perkotaan. Apabila ditumpangsusunkan dengan batas DAS Ci Liwung dan sekitarnya maka dapat dilihat bagaimana Urban DAS terjadi dan fenomena keruangan di dalamnya (lihat Gambar 2).

Gambar 2. Urban Watershed DKI Jakarta dari kacamata geospasial

Salah satu permasalahan yang pelik dan menimbulkan kerugian yang luar biasa karena kejadiannya yang datang dalam kurun periode waktu tertentu bahkan menjadi bagian dari kehidupan di kota air (baca: water front city) ialah banjir, baik banjir akibat hujan yang begitu deras sehingga melahirkan istilah banjir kiriman dari hulu ataupun banjir di wilayah hilir atau pesisir yakni banjir genangan pesisir atau pula banjir akibat pasang. Fenomena banjir Jakarta dilihat dari kacamata geospasial dapat dengan mudah disajikan sebagaimana dapat diakses di BANJIR JAKARTA 2013 (http://tanahair.indonesia.go.id/home/webmap/viewer.html?webmap=69cb6d2bfdd04 21a8b3b0c27f179741d). Di dalam layer DKIJakarta_Banjir2013 terdapat tiga informasi yaitu titik lokasi banjir, area daerah terdampak dan batas wilayah administratif DKI Jakarta, sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Banjir DKI Jakarta 2013 dalam InaGeoportal

Fenomena banjir yang kembali melanda Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2013 terebut, ada yang mengatakan sebagai banjir lima tahunan, ada pula yang bilang banjir kiriman dan tentusaja dicari ahlinya. Banjir yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya sebagai bagian dari kejadian geosfer (fenomena kebumian) yang membutuhkan penanggulangan A, B dan C (Abiotic, Biotic and Cultural). Berikut gambaran sederhana dengan menggunakan kacamata hitam putih spasial. Menggambarkan dan memahami problematika Jakarta layaknya kewajiban bagi kita untuk melihatnya dari cakupan yang lebih luas dan dari sisi kondisi (Geografi) fisikal yakni Jakarta sebagai bagian dari wilayah aliran sungai dan kondisi geomorfologisnya. Aspek fisik Jakarta berubah seiring perubahan bentuk fisik menjadi bentuk budaya dimana manusia memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan alam dan buatan. Kompleksitas banjir jakarta harus dilihat secara multidimensional dan melalui pendekatan komprehensif berbagai bidang keilmuan yang melihat bahwa faktor ABC telah menjadi keterpaduan yang kurang serasi sehingga permasalahan lingkungan kekotaan Jakarta terus berulang.

Gambar 4. Gambaran spasial dan temporal Banjir Jakarta

Gambar di atas merupakan gambaran keruangan (spasial) sebaran banjir di Jakarta (dari berbagai sumber) yang terjadi pada tahun 1982, 1996, 2002 dan 2007. Apabila dikomparasi atau dibandingkan dengan kondisi lingkungan perkotaan yang diperoleh dari pengolahan citra landsat multitemporal (Gambar 4 di bawah ini) dimana citra

tersebut menggambarkan perkembangan wilayah perkotaan Jakarta dari tahun 1975, 1990, 2000 dan 2010 maka berbagai kata tanya layak untuk dilontarkan.

Gambar 5. Perubahan Wilayah Perkotaan Jakarta dari Pengolahan Digital Citra Landat Multitemporal 1975, 1990, 2000, 2010 (sumber: Perdana, A.P., 2011) Apabila melihat beberapa referensi dan gambaran spasial di atas, kurang lebih ada tiga tekanan yang dihadapi Jakarta selain aspek kondisi fisik yang mengalami land subsidence atau penurunan tanah, yakni tekanan permukiman, komersial, dan industri. Hal ini memerlukan penekanan yang bijak dalam pengambilan kebijakan terkait solusi untuk atasi tekanan yang kian 'menurunkan' Jakarta dan menjadikannya 'kurang bersahabat dengan air.' Gambaran umum di atas melihatkan hampir tidak adanya ruang bagi air untuk meresap di Jakarta karena dipenuhi oleh impervious surface atau lahan terbangun. Selain keberadaan informasi tersebut, area perkotaan DKI Jakarta secara sederhana dapat dilihat melalui peta Rupabumi Indonesia skala 1:25.000. Peta rupabumi Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Peta RBI, untuk wilayah DKI Jakarta dicakup oleh 9 (sembilan) lembar peta RBI Skala 1:25.000 (lihat Gambar 6).

Gambar 6. Indeks Peta Rupabumi Indonesia Skala 1:25.000 wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya Nomor dan Nama Peta RBI yang mencakup wilayah DKI Jakarta: # 1209-434 TELUKNAGA # 1209-443 ANCOL # 1209-444 TANJUNGPRIOK # 1209-432 TANGERANG # 1209-441 JAKARTA # 1209-442 CAKUNG # 1209-414 SERPONG # 1209-423 PASARMINGGU # 1209-424 PONDOKGEDE Ketersediaan informasi geospasial yang mudah diakses dan digunakan untuk berbagi pakai membantu kita dalam memahami fenomena kebumian, salah satunya Urban Watershed yang memerlukan pengelolaan DAS terpadu dengan kacam,ata Geospasial. Salam, Aji Putra Perdana