Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIOLOGI

PENENTUAN HCG SECARA KUALITATIF

DISUSUN OLEH Nama NIM Kelompok : Monica Roly Vonita : 41110020 :1

Dosen pembimbing: dr. Yanti Ivanna

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2013


1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehamilan adalah bersatunya telur dan sperma, yang menandai awal suatu peristiwa yang terpisah, tetapi ada suatu rangkaian kejadian yang mengelilinginya. Kejadian-kejadian tersebut adalah pembentukan gamet,ovulasi, penggabungan gamet dan implantasi embrio di dalam uterus. Jika peristiwa ini berlangsung dengan baik, maka proses perkembangan embrio dan janin dapat dimulai. Kehamilan akan berakhir dengan persalinan, yaitu pengeluaran hasil konsepsi yang telah cukup bulan. Kehamilan mengakibatkan terjadinya berbagai perubahan fisiologis, hormonal, dan biokimiawi untuk mencapai kondisi optimal bayi dan ibunya. Seiring berjalannya kehamilan, profil hormon ibu akan berubah dengan meningkatnya konsentrasi progesteron dan estrogen. Kedua hormon ini akan terus meningkat pada trimester pertama kehamilan, sedangkan Luthenizing Hormone ( LH ) dan Folicle Stimulating Hormone ( FSH ) rendah atau tersupresi. Untuk mempertahankan produksi progesteron dari korpus luteum untuk menjaga kehamilan tetap mampu bertahan pada tahapan awal, plasenta mulai mensekresi HCG. Pada praktikum kali ini, praktikan akan mencoba mendeteksi keberadaan hormon HCG pada urin beberapa wanita dengan menggunakan alat tes kehamilan. Oleh karena itu, pemeriksaan HCG ini dapat digunakan untuk mendeteksi apakash seorang wanita sedang hamil atau tidak.

B. Tujuan Praktikum Menentukan keberadaan hormone Human Chorionic Gonadothropin (HCG) dalam urin dengan mempergunakan teknik imunologik untuk tes kehamilan

BAB II DASAR TEORI

Menurut Harlod (1979), proses kehamilan (gestasi) berlangsung selama 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir. Usia janin sendiri adalah 38 minggu, karena dihitung mulai dari tanggal konsepsi (tanggal bersatunya sperma dengan telur), yang terjadi dua minggu setelahnya. Proses kehamilan dibagi menjadi tiga fase sesuai dengan pertumbuhan fisik bayi dalam dunia kedokteran. Masing-masing fase tersebut disebut trimester. Berikut adalah perkembangan janin pada tiap-tiap trimester menurut usia janin, yaitu sejak konsepsi sampai kelahiran (38 minggu). ( Harlod, 1979)

Menurut Pearce (1989), hormon-hormon reproduksi adalah sebagai berikut : 1. Estrogen Estrogen dihasilkan oleh ovarium. Ada banyak jenis dari estrogen tapi yang paling penting untuk reproduksi adalah estradiol. Estrogen berguna untuk pembentukan ciri-ciri perkembangan seksual pada wanita yaitu pembentukan payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan, dan lain-lain. Estrogen juga berguna pada siklus menstruasi dengan membentuk ketebalan endometrium, menjaga kualitas dan kuantitas cairan cerviks dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma. 2. Progesterone Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. Progesterone mempertahankan ketebalan endometrium sehingga dapat menerima implantasi zygot. Kadar progesterone terus dipertahankan selama trimester awal kehamilan sampai plasenta dapat membentuk hormon HCG. 3. Gonadotropin Releasing Hormone GNRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus diotak. GNRH akan merangsang pelepasan FSH (folikl stimulating hormone) di hipofisis. Apabila kadar estrogen tinggi, maka estrogen akan memberikan umpan balik ke hipotalamus sehingga kadar GNRH akan menjadi rendah, begitupun sebaliknya. 4. FSH (folikel stimulating hormone) dan LH (luteinizing Hormone) Kedua hormon ini dinamakan gonadotropoin hormon yang diproduksi oleh hipofisis akibat rangsangan dari GNRH. FSH akan menyebabkan pematangan dari folikel. Folikel yang matang akan dikeluarkan dari ovum. Folikel ini akan menjadi korpus luteum dan dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH. (Pearce, 1989)

Human chorionic gonadotropin (HCG) merupakan glikoprotein yang mempunyai berat molekul kira-kira 39.000 dan mempunyai struktur molekul dan fungsi yang sama dengan hormon lutein yang disekresi oleh kelenjar hipofisis. Fungsi dari HCG adalah mencegah involusi korpus
3

luteum pada akhir siklus seksual bulanan wanita. Sebaliknya, hormon ini akan menyebabkan korpus luteum menyekresi lebih banyak lagi jormon-hormon kelamin progesteron dan esterogen- untuk beberapa bulan berikutnya. Dibawah hormon HCG, corpus luteum di ovarium ibu tumbuh kira-kira dua kali ukuran awal menjelang satu bulan atau lebih setelah kehamilan dimulai, dan esterogen dan progesteron yang di eksresi terus menerus akan mempertahankan sifat asli desidua endometrium uterus, yang diperlukan pada awal perkembangan fetus. (Guyton 2007) Oosit berfertilitas di ampula pada tuba fallopi untuk membentuk menjadi zigot.Proses miosis akan terjadi apabila zigot telah memasuki uterus dengan cara didorong oleh aksi siliari dan peristalsis dari tuba fallopi.Kerusakan tuba fallopi akan menyebabkan melemahnya pergerakan zigot dan akan berlaku implantasi di tuba fallopi atau disebut sebagai kehamilan ektopik.Zigot biasanya memasuki uterus pada hari keempat, yaitu pada tahap telah terjadinya morula.Morula ini akan berubah menjadi blastosit dengan cara membangunkan fluid-filled cavity.Lapisan terluarnya akan menjadi trofoblas, dimana ia akan membentuk plasenta.Dari hari keenam sehingga hari ke-12 pula, ia akan menempel pada dinding endometrium untuk proses implantasi.

Dengan cepat trofoblas ini akan menghasilkan hormon human chorionic gonadotrophin (hCG) yang bisa dideteksi dengan test kehamilan dan akan mencapai puncak pada minggu ke-12 kehamilan.Kegagalan untuk menghasilkan hCG ditujukan pada gestational trophoblastic disease.Nutrisi didapatkan melalui kelenjar sekretori endometrium, dimana ia akan mengubah desidua (kaya dengan glikogen dan lipid) supaya tidak terpengaruh dengan estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh korpus leteum.Proses proliferasi trofoblastik pula akan memicu pembentukan khorionik vili.Sistem vili ini akan berproliferasi (khorion frondosum) pada permukaan endometrium yang terdapatnya embrio dan akhirnya akan membentuk area permukaan untuk transfer nutrisi kepada kotiledon yang terdapat pada plasenta.Morfologi pada plasenta ini akan sempurna pada minggu ke-12.Denyut jantung akan bermula seawal minggu ke-4 atau ke-5 dan akan dapat didengar pada pemeriksaan ultrasound seminggu kemudian (Impey dan Child, 2008).

Alat uji kehamilan untuk dipakai di rumah (home pregnancy test, HPT) yang dikenal dengan test pack adalah alat praktis yang cukup akurat untuk mendeteksi kehamilan pada tahap awal. Cara penggunaannya mudah, yaitu mencelupkan ujung alat ke dalam air seni yang ditampung atau menyentuhkan pada aliran air seni ketika buang air kecil. Biasanya dianjurkan penggunaan air seni pertama setelah bangun pagi, karena konsentrasi hormon hCG yang tinggi pada saat itu. Alat uji kehamilan semacam ini memiliki dua buah jendela atau garis. Garis yang pertama mengisyaratkan
4

bahwa tes dilakukan dengan benar, yang biasa disebut dengan garis kontrol. Garis kontrol akan tampak bila test pack mendapatkan cukup air seni untuk diuji. Sementara garis kedua menunjukkan hasil tes, yang merupakan bagian alat yang memiliki antibodi yang bereaksi dengan hCG dan dapat berubah warna bila hormon ini terdeteksi. Setipis apapun garis ini, kemunculannya menunjukkan adanya kehamilan. Sebagian besar merk test pack yang beredar di pasaran sudah dapat mendeteksi hCG dengan kadar 25 IU/L-50 IU/L, sehingga cukup akurat untuk menentukan ada atau tidaknya kehamilan pada hari pertama keterlambatan menstruasi (sekitar 28 hari setelah menstruasi terakhir). Uji kehamilan yang lebih akurat tentunya adalah tes kuantitatif hormon hCG dalam darah. Biasanya yang diukur adalah jumlah subunit beta hormon hCG (-hCG). Ketika terjadi kehamilan pada diri seorang perempuan, maka tubuh bereaksi dengan membentuk perubahan-perubahan dan segera memproduksi hormon-hormon kehamilan guna mendukung kelangsungan kehamilan. Hormon-hormon kehamilan ini bertujuan guna mendukung kehamilan yang berlangsung khususnya agar janin dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat. Ada baiknya para ibu hamil mengetahui mengenai hormon yang diproduksi selama kehamilan berikut fungsi dan efek yang dihasilkan olehnya, agar tidak terjadi salah pengertian atau malah menjadikannya mitos kehamilan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi selama kehamilan (Pickering, 2000).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Alat dan Bahan 1. Urin 2. Alat tes kehamilan 3. Gelas Beker 4. Batang Pengaduk Cara Kerja

Urin diaduk dengan batang pengaduk Celupkan alat tes kehamilan dalam beaker yang berisi urine

Setelah menunggu 40 detik, diamati perubahan yang terjadi

Prosedur yang sama dilakukan pada sample urin yang lain

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN A. DATA

Urine 1 Hasil HPMT HPL UK : Postive : 20 Februari 2013 : 27 November 2013 : 13 minggu 6 hari

Urine 2 Hasil HPMT HPL UK : Positive : 24 November 2012 : 31 Agustus 2013 : 29 minggu 6 hari

Urine 3 Hasil HPMT HPL UK Garis : Negative : 10 Mei 2013 : Tidak dapat dapat dihitung : Tidak dapat dihitung : Tidak ada garis positive Urine 4 Hasil HPMT HPL UK : Positive : 6 Januari 2013 : 13 Oktober 2013 :20 minggu 2 hari

*UK = Usia kehamilan (dihitung hingga tanggal 28 Mei saat praktikum)

B. PEMBAHASAN Hormon HCG adalah suatu glikoprotein yang mengandung galaktosa dan heksosamin. Molekul ini dihasilkan oleh sinsitiotrofoblast. HCG berfungsi untuk mempertahankan korpus luteum yang membuat estrogen dan progesterone sampai saat plasenta terbentuk sepenuhnya. Keberadaannya dalam urin pada awal kehamilan adalah dasar berbagai uji laboratorium untuk tes kehamilan. Secara fisiologis, HCG serum yang timbul dari aktivitas tropoblastik meninggi mulai dari 8 hari setelah implantasi. Konsentrasinya menjadi dua kali lipat tiap 2 3 hari dan memuncak pada umur kehamilan sekitar 10 minggu. Kadar hormon ini kemudian turun dan mendatar pada konsentrasi yang lebih rendah sampai saat kelahiran. Berikut ini adalah kadar hormon HCG pada ibu hamil :

3 minggu : 5 - 50 mIU/ml 4 minggu: 5 - 426 mIU/ml 5 minggu: 18 - 7,340 mIU/ml 6 minggu: 1,080 - 56,500 mIU/ml 7 - 8 minggu : 7, 650 - 229,000 mIU/ml 9 - 12 minggu : 25,700 - 288,000 mIU/ml 13 - 16 minggu : 13,300 - 254,000 mIU/ml 17 - 24 minggu : 4,060 - 165,400 mIU/ml 25 - 40 minggu : 3,640 - 117,000 mIU/ml

Test pack yang dipakai untuk mengetahui kehamilan mendeteksi adanya HCG pada urine ibu hamil. HCG sebagai antigen, akan berikatan dengan anti HCG. Gaya kapilaritas membawa senyawa ikatan HCG dan anti HCG-1 menuju daerah T. Di daerah T, anti HCG-2 akan berikatan dengan HCG yang telah berikatan dengan anti HCG-1 namun pada epitop yang berbeda. Terbentuklah kompleks anti HCG-1, HCG, dan anti HCG-2. Enzim menjadi aktif dan daerah T berwarna merah. Selanjutnya, sisa anti HCG-1 yang belum berikatan dengan HCG akan menuju daerah C dan berikatan dengan anti-anti HCG-1. Kompleks ini akan mengaktifkan enzin sehingga daerah T berwarna merah. Pada akhirnya, akan terlihat

dua strip merah yaitu pada daerah T dan daerah C dan diintepretasikan sebagai hasil positif hamil. Bila Urin tidak mengandung HCG tidak terjadi kompleks anti HCG-1 dengan HCG. anti HCG-1 yang bebas kemudian menuju ke area T tempat anti HCG-2. Karena tidak ada HCG maka tidak akan terjadi interaksi antara anti HCG1 dan anti HCG-2 melalui perlekatan dengan HCG pada epitop berbeda.Enzim pada anti HCG-1 tetap inaktif dan reaksi enzimatis pembentukan warna tidak terjadi. Akibatnya anti HCG-1 akan terus ikut gaya kapilaritas menuju daerah C. Di daerah ini terjadi kompleks antigen antibodi yaitu anti HCG-1 (sebagai antigen) dengan anti anti HCG-1 (sebagai antibodi terhadap anti-HCG-1). Kompleks ini membuat enzim aktif sehingga terbentuk warna merah. Warna merah hanya pada area C sehingga hanya ada satu garis dan diintepretasikan sebagai hasil negatif hamil (tidak hamil).

Dari hasil percobaan didapat testpack 1,2 dan 4 positive. Dan terlihat paling tebal adalah garis merah pada test pack no 2. Secara theory seharusnya garis merah paling tebal terjadi pada hasil pemeriksaan no 1, karena percobaan no 1 penggunakan urine ibu hamil trismester pertama, dimana pada trismester pertama kandungan HCG pada urine ibu hamil mengalami peninggian paling tinggi. Hasil yang kurang tepat bias dipengaruhi karena pemeriksaan yang salah atau human error. Pada test pack yang ke 3 hanya ada garis strip 1 yang menandakan hasil negative. Pada test pack ini bisa didapatkan hasil positif palsu maupun negatif palsu. Hasil negatif palsu dapat ditemukan pada wanita yang sedang hamil, namum pada tes kehamilan menunjukkan hasil negatif. Hasil Negatif palsu dapat disebabkan pemeriksaan dikerjakan terlalu dini atau juga mungkin karena urine sangat encer. Hasil positif palsu ditemukan pada wanita yang tidak hamil, namun pada alat tes kehamilan menunjukkan hasil positif. Untuk hasil positif palsu dapat disebabkan proteinuria yang dapat konfirmasi dengan pemeriksaan hCG plasma, infeksi saluran air seni, peningkatan hormon LH, kondisi setelah keguguran, atau pemakaian obat obatan.

BAB V KESIMPULAN

1. Hormone HCG dapat ditemukan pada urine wanita hamil yang akan meninggi jumlahnya mulai hari ke 8 dan mencapai puncak sekitar minggu ke 10. 2. Hormone ini dihasilkan oleh jaringan plasenta yang sedang berkembang setelah terjadi pembuahan, sehingga HCG dapat digunakan sebagai pendeteksi kehamilan. 3. Prinsip kerja HCG test adalah reaksi penghambat aglutinasi yang digunakan untuk menunjukan hormone HCG yang disekresikan kedalam urine selama masa kehamilan.

10

BAB VI DAFTAR PUSTAKA Guyton, A. C. dan Hall, J. E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta. Impey, L., and Child, T., 2008. Hypertensive Disorders in Pregnancies. In: Impey, Pickering, W.R. 2000. Complete Biology. Oxford University Press, UK.

Harlod, A. H. 1979. Review of Physiological Chemistry. Diterjemahkan oleh Martin Muliawan. Buku Kedokteran E. G. C. Jakarta.

Pearce, E. 1989. Anatomi dan Fisiologi Untuk Para Medis. Gramedia. Jakarta.

11