Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Di seluruh dunia, demam typhus mempengaruhi sekitar 17 juta orang per tahun, menyebabkan hampir 600.000 kematian. Agen penyebabnya, Salmonella typhi enterica (disebut sebagai Salmonella typhi dari sekarang), adalah parasit obligat yang tidak memiliki reservoir alami yang dikenal di luar manusia. Sedikit yang diketahui tentang sejarah munculnya infeksi Salmonella typhi pada manusia, namun diperkirakan telah menyebabkan kematian banyak orang. Penyakit ini jarang terjadi di Amerika Serikat dan negara-negara maju, tetapi selalu menimbulkan risiko munculnya. Habitat Inang bagi Salmonella adalah usus halus manusia dan hewan. Makanan dan minuman terkontaminasi merupakan mekanisme transmisi kuman Salmonella dan carrier adalah sumber infeksi. Kuman tersebut masuk melalui saluran pencernaan, setelah berkembang biak kemudian menembus dinding usus menuju saluran limfa, masuk ke dalam pembuluh darah dalam waktu 24-72 jam. Kemudian dapat terjadi pembiakan di sistem retikuloendothelial dan menyebar kembali ke pembuluh darah yang kemudian menimbulkan berbagai gejala klinis. Dimensi bakteri berbentuk batang, tidak berspora dan tidak bersimpai tetapi mempunyai flagel feritrik (fimbrae), pada pewarnaan gram bersifat gram negatif, ukuran 2- 4 mikrometer x 0.5-0.8 mikrometer dan bergerak. Adapun bakteri salmonella dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kelas : Psilopsida. Ordo : Psilotales. Family : Psilotaceae. Genus : Salmonella. Species : Salmonella typhi dll.

Salmonella typhi bisa berada dalam air, es, debu, sampah kering yang bila organisme ini masuk ke dalam vehicle yang cocok (daging, kerang dan sebagainya) akan berkembang biak mencapai dosis infeksi. Secara bertahap dalam waktu 8 14 hari setelah terinfeksi bakteri Salmonella biasa menimbulkan gejala demam tifoid berupa : demam, sakit kepala, lemah dan lelah, sakit tenggorokan, nyeri perut dan diare (terutama anak-anak) atau konstipasi atau sembelit (terutama orang dewasa) memasuki minggu kedua, pada penderita biasa timbul bercak kecil kemerahan (rose sport) dibagian bawah dada atau bagian atas perut, yang biasanya hilang dalam 3-4 hari. Penyakit ini biasanya berlangsung 3 5 minggu, diikuti komplikasi utama berupa perdarahan pada saluran pencernaan dan perporasi usus disertai peritonitis. Karena bakteri Salmonella dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia, maka sangat penting untuk mengetahui lebih jauh mengenai bakteri ini. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah : 1.2.1 Bagaimana karakteristik dari bakteri Salmonella sp? 1.2.2 Bagaimana klasifikasi dari bakteri Salmonella sp? 1.2.3 Bagaimana struktur antigen dari bakteri Salmonella sp? 1.2.4 Bagaimana patogenitas dari bakteri Salmonella sp? 1.2.5 Bagaimana uji kultur dan biokimia dari bakteri Salmonella sp? 1.2.6 Bagaimana teknik isolasi dan diagnosa dari bakteri Salmonella sp? 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah : 1.3.1 Untuk mengetahui karakteristik dari bakteri Salmonella sp. 1.3.2 Untuk mengetahui klasifikasi dari bakteri Salmonella sp. 1.3.3 Untuk mengetahui struktur antigen dari bakteri Salmonella sp. 1.3.4 Untuk mengetahui patogenitas dari bakteri Salmonella sp. 1.3.5 Untuk mengetahui uji kultur dan biokimia dari bakteri Salmonella sp.

1.3.6 Untuk mengetahui teknik isolasi dan diagnosa dari bakteri Salmonella sp. 1.4 Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan dari makalah ini adalah : 1.4.1 Manfaat praktis Mahasiswa dapat mengetahui tentang karakteristik, klasifikasi, struktur antigen, patogenitas, uji kultur dan biokimia, serta teknik isolasi dan diagnose dari bakteri Salmonella sp.

1.4.2 Manfaat Teoritis Dapat menambah wawasan tentang bakteri Salmonella sp.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Karakteristik Salmonella sp. Salmonella sp. pertama ditemukan (diamati) pada penderita demam tifoid pada tahun 1880 oleh Eberth dan dibenarkan oleh Robert Koch dalam budidaya bakteri pada tahun 1881 (Todar, 2008). Salmonella sp. adalah bakteri bentuk batang, pada pengecatan gram berwarna merah muda (gram negatif). Salmonella sp. berukuran 2 sampai 4 0,6 , mempunyai flagel (kecuali S. gallinarum dan S. pullorum), dan tidak berspora (Julius, 1990). Habitat Salmonella sp. adalah di saluran pencernaan (usus halus) manusia dan hewan. Suhu optimum pertumbuhan Salmonella sp. ialah 37oC dan pada pH 6-8 (Julius, 1990). Dalam skema kauffman dan white tatanama Salmonella sp. di kelompokkan berdasarkan antigen atau DNA yaitu kelompok I enteric, II salamae, IIIa arizonae, IIIb houtenae, IV diarizonae, V bongori, dan VI indica. Komposisi dasar DNA Salmonella sp adalah 50-52 mol% G+C, mirip dengan Escherichia, Shigella, dan Citrobacter (Todar, 2008). Namun klasifikasi atau penggunaan tata nama yang sering dipakai pada Salmonella sp. berdasarkan epidemiologi, jenis inang, dan jenis struktur antigen (misalnya S.typhi, S .thipirium). Jenis atau spesies Salmonella sp. yang utama adalah S. typhi (satu serotipe), S. choleraesuis, dan S. enteritidis (lebih dari 1500 serotipe). Sedangkang spesies S. paratyphi A, S. paratyphi B, S. paratyphi C termasuk dalam S. enteritidis (Jawezt et al, 2004). Salmonella sp. adalah kuman bentuk batang dan bergerak, gram negative, fakultatif anaerob. Salmonella sp. telah dikenal sebagai penyebab penyakit lebih dari 100 tahun. Salmonella sp. ditemukan oleh seorang ilmuan Amerika, Daniel E Salmon. Terdapat lebih dari 2300 serotipe Salmonella sp. (Aksara, 1994). Salmonella sp. adalah bakteri yang tidak berspora dan panjangnya bervariasi. Kebanyakan spesies bergerak, dengan flagel peritrik, kecuali Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum (Aksara, 1994).

Bakteri ini dapat tumbuh pada suhu antara 5 0C 60 0C, dengan suhu optimum 350C 37 0C. disamping itu Salmonella sp. dapat tumbuh pada pH 4,1 9,0 dengan pH optimum 6,5 7,5 (Aksara, 1994).

Gambar 1 morfologi Sallmonella sp (Jawezt et al, 2004)

2.2

Klasifikasi Salmonella sp.

Berikut ini merupakan taksonomi dari bakteri Salmonella sp. Phylum Class Ordo Family Genus Spesies : Bacteria ( Eubacteria ) : Ptoteobacteria : Eubacterials : Enterobacterae : Salmonella : Salmonella sp. terdiri dari 3 spesies utama yaitu :

Salmonella typhi terdiri dari 1 serotype. Salmonella cholerasuis terdiri dari 1 serotype. Salmonella enteritidis mempunyai lebih dari 3200 serotype (Aksara, 1994).

2.3 a.

Struktur Antigen Salmonella sp. Antigen somatic atau antigen O Antigen somatic atau antigen O adalah bagian dari dinding sel bakteri yang

tahan terhadap pemanasan 100 C, alkohol, dan asam. Struktur antigen somatik mengandung lipopolisakarida. Beberapa diantaranya mengandung jenis gula yang spesifik. Antibodi yang terbentuk terhadap antigen O adalah IgM ( Sumarno, 1987 ). b. Antigen flagel atau antigen H Antigen ini mengandung beberapa unsure imunologik. Pada Salmonella, antigen ditemukan dalam 2 fase, yaitu fase 1 spesifik dan fase 2 tidak spesifik. Antigen H dapat dirusak oleh asam, alkohol dan pemanasan di atas 600C. Antibodi terhadap antigen H adalah IgG ( Sumarno, 1987 ). c. Antigen Vi atau antigen kapsul Antigen Vi atau antigen kapsul merupakan polimer polisakarida bersifat asam yang terdapat di bagian paling luar bakteri yang menyebabkan kuman Salmonella memiliki kemampuan untuk hidup intraseluler. Antigen Vi dapat dirusak oleh asam, fenol, dan pemanasan 600C selama satu jam. Kuman dengan antigen Vi ternyata lebih virulen baik terhadap binatang maupun manusia. Antigen Vi juga menentukan kepekaan kuman terhadap bakteriofaga dan dalam laboratorium sangat berguna untuk diagnose cepat kuman S. typhi yaitu dengan cara agglutination slide dengan Vi antiserum ( Sumarno, 1987 ). 2.4 Faktor-Faktor Patogenitas a. Endotoksin Peranan pasti endotoksin yang mungkin ada di dalam infeksi Salmonella belum jelas diketahui. Pada binatang percobaan endotoksin
6

Salmonella menyebabkan efek yang bervariasi antara lain demam dan syok. Pada sukarelawan manusia yang toleran terhadap endotoksin, diinfeksikan dengan S. typhi, maka timbul demam sebagai gejala klasik dari demam typhoid. Mungkin demam ini disebabkan oleh endotoksin yang merangsang pelepasan zat pirogen dari sel-sel makrofag dan sel leukosit PMN. Lebih jauh lagi endotoksin dapat mengaktivasi kemampuan khemotaktik dari sistim komplemen, yang menyebabkan lokalisasi sel leukosit pada lesi usus halus (Aksara, 1994). b. Eksotoksin Beberapa spesies Salmonella menghhsilkan enterotoksin yang serupa dengan enterotoksin yang dihasilkan oleh kuman Enterotoxigenic E. coli baik yang termolabil maupun yang thermostabil S. typhirium, S. enteridis menghasilkan enterotoksin yang thermolabil, toksin diduga berasal dari dinding sel/ membrane luar. Aktivitas toksin dapat diukur dengan cara Rabbit ileal loop dan suckling mouse assay (Aksara, 1994). 2.5 Patogenesis Salmonella sp Organisme ini sebenarnya selalu masuk melalui mulut, biasanya dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi Salmonella sp., sebagian kuman mati oleh asam lambung, tetapi yang lolos masuk ke usu halus dan berkembang biak di ileum. Disini bakteri memperbanyak diri di kelenjar getah bening yang kemudian menyebar ke aliran darah dan kelenjar getah bening kemudian ke usus (Aksara, 1994). Dosis infektif bagi manusia adalah 105-108 Salmonella sp. Diantara faktor-faktor tuan rumah yang menyebabkan resisten terhadap infeksi Salmonella sp. Adalah keasaman lambung, jasad renik flora usus normal dan daya tahan usus setempat (Aksara, 1994). Dua tipe S.enteritidis dan S.typhimurium merupakan penyebab kira-kira setengah dari seluruh infeksi pada manusia. Semua Salmonella sp. menimbulkan penyakit yang pada umumnya disebut Salmonellosis . Golongan penyebab infeksi ini dibagi menjadi 4 golongan, yaitu (Aksara, 1994). :

1.

Golongan Bakterimia Biasanya ini dihubungkan dengan S.cholerasuis, tetapi dapat disebabkan oleh

setiap serotip Salmonella. Invasi dini dalam darah setelah infeksi melalui mulut dengan kemungkinan lesi fokal di paru-paru, tulang, selaput otak, dan sebagainya. Tetapi sering tidak ada manifestasi usus, biakan darah tetap positif. 2. Golongan Gastroenteritis (food poisoning) Misalnya oleh : S. enteritidis dan S. typhimurium, S. newport, S. dublin. Merupakan gejala yang paling sering dari infeksi Salmonella sp., gejala ini terutama ditimbulkan oleh S. enteritidis dan S. typhimurium. Biasanya terjadi demam, kejang perut dan diare yang terjadi antara 12-72 jam setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi. Penyakit tersebut dapat berlangsung selama 4-7 hari, dan kebanyakan sembuh tanpa pengobatan/pemberian antibiotik, akan tetapi diare mungkin bertambah parah dan mengharuskan penderita berobat ke rumah sakit terutama untuk penggantian cairan elektrolit. Penyakit ini berakibat fatal jika orang tua dan bayi yang kekebalannya rendah mengkonsumsi kuman tersebut. Pada penderita ini, infeksi bisa menyebar dari usus ke pembuluh dara dan kemudian ke seluruh jaringan tubuh dan dapat menyebabkan kematian, kecuali jika penderita cepat memperoleh pengobatan antibiotik. Pada awalnya kotrimoksazol merupakan obat pilihan untuk infeksi Salmonella sp., kemudian ampisilin, akan tetapi lama-kelamaan Salmonella sp. resisten terhadap obat-obat tersebut. Trimetropin-sulfametoksazol merupakan obat pengganti kedua obat di atas. 3. Golongan Enteric Fever (Typhoid Fever/Typhus Abdominalis) Gejala ini terutama ditimbulkan oleh S. typhi, S. paratyphi A dan S. schottmulleri. Salmonella sp. yang termakan mencapai usus dan masuk ke kelenjar getah bening lalu dibawa ke aliran darah. Kemudian kuman dibawa oleh darah menuju organ, termasuk usus, dimana organisme ini berkembang biak dalam jaringan limfoid dan diekskresikan dalam tinja. Setelah masa inkubasi 10-14 hari, timbul demam, lemah, sakit kepala, konstipasi, bradikardia dan mialgia. Demam sangat tinggi dan limfa serta hati menjadi besar. Pada beberapa kasus terlihat binti-bintik merah (rose spots) yang berlangsung sebentar. Jumlah sel darah putih normal atau

rendah. Pada masa sebelum adanya antibiotika, komplikasi utama enteric fever adalah perdarahan 4. usus. Angka kematian adalah 10-15 %. Pengobatan dengan khloramfenicol atau ampisilin telah mengurangi angka kematian kurang dari 1%. Golongan Carrierstat Merupakan golongan yang menyebabkan manusianya menjadi carrier, setelah infeksi nyata atau sub klinik, beberapa orang dalam jaringannya terus terdapat organisme ini selama waktu yang tidak terbatas, tiga persen dari penderita thypoid yang tetap hidup menjadi pembawa kuman yang tetap, menyimpan kuman dalam kandung empedu, salauran empedu, atau kadang-kadang dalam usu atau saluran air kemih. Salmonellosis adalah istilah yang menunjukkan adanya infeksi Salmonella sp. Manifestasi klinik Salmonellosis pada manusia ada 4 sindrom yaitu : 1. Gastroenteritis atau keracunan makanan merupakan infeksi usus dan tidak ditemukan toksin sebelumnya (Karsinah et al, 1994). Terjadi karena menelan makanan yang tercemar Salmonella sp. misalnya daging dan telur (Julius,1990). Masa inkubasinya 8-48 jam, gejalanya mual, sakit kepala, muntah, diare hebat, dan terdapat darah dalam tinja. Terjadi demam ringan yang akan sembuh dalam 2-3 hari. Bakterimia jarang terjadi pada penderita (2-4%) kecuali pada penderita yang kekebalan tubuhnya kurang (Jawezt et al, 2004). 2. Demam tifoid yang disebabkan oleh S. typhi, dan demam paratifoid disebabkan S paratyphi A, B, dan C. Kuman yang masuk melalui mulut masuk ke dalam lambung untuk mencapai usus halus, lalu ke kelenjar getah bening. Kemudian memasuki ductus thoracicus. Kemudian kuman masuk dalam saluran darah (bacterimia) timbul gejala dan sampai ke hati, limpa, sumsum tulang, ginjal dan lain-lain. Selanjutnya di organ tubuh tersebut Samonella sp. berkembang biak (Julius,1990). 3. Bakterimia (septikimia) dapat ditemukan pada demam tifoid dan infeksi Salmonella non-typhi. Adanya Salmonella dalam darah merupakan resiko tinggi terjadinya infeksi dan atau metastatik. Gejala yang menonjol adalah

panas dan bakterimia intermiten (Karsinah et al, 1994) . Dan timbul kelainankelainan lokal pada bagian tubuh misalnya osteomielitis, pneumonia, abses paru-paru, meningitis dan lain-lain. Penyakit ini tidak menyerang usus dan biakan tinjanya negative. Peneyebab tersering adalah S. typhimurium, selain S. enteritidis dan S. choleraesuis (Julius,1990). 4. Carrier yang asiptomatik adalah semua individu yang terinfeksi Salmonella sp. akan mengekskresi kuman dalam tinja untuk jangka waktu yang bervariasi disebut carrier convalesent, jika dalam 2-3 bulan penderita tidak lagi mengekskresi Salmonella. Dan jika dalam 1 tahun penderita masih mengekskresi Salmonella disebut carrier kronik (Karsinah et al, 1994). 2.6 Uji Kultur Dan Biokimia Salmonella sp. Salmonella tumbuh mudah pada media biasa, dengan situasi aerob, dengan suhu optimum 360 C, non lactose fermented (Sumarno,1987). Mac Conkey Agar bulat,smooth. EMB Agar : koloni tidak berwarna, sedang (lebih besar daripada di MC), keping, smooth, bulat. SS Agar : koloni tidak berwarna, kecil-kecil, keping, smooth, bulat. : koloni tidak berwarna, jernih keping, sedang,

Bismuth Sulfite Agar : koloni kecil-kecil, jernih, hijau tengahnya hitam, zone hitam, smooth, metalic, keping. Kadang-kadang koloni kelihatan hitam saja. Endo Agar : koloni tidak berwarna atau merah muda, kecil-sedang, keping, smooth. Deoxycholate Citrate Agar Hektoen Enteric Agar : koloni kecil-sedang, jernih-kelabu, kadang: koloni kecil-sedang, berwarna hijau-biru,

kadang tengahnya berwarna hitam, bulat, smooth, cembung. dengan atau tanpa warna hitam ditengah koloni, bulat, smooth. Xylose Lysine Desoxycholate Agar hitam, smooth, bulat, keping : koloni kecil-sedang, merah tengahnya

10

TSI Agar lereng : Dasar : Gas : alkalis (merah) asam (kuning) positif / negative

SIM medium H2S Indol Motility : positif / negative : negatif : + (aktif)

Simmons Citrate Agar : tumbuh/tidak tumbuh Glucose OI : fermentative, bergas atau tidak Test-test yang menunjukkan hasil negatif : Fermentasi lactose dan sucrose. Indol test Malonate broth Phenylalanine deaminase Urease D-nase Gelatinase Oxidase ONPG Voges Proskauer KCN broth.

Test-test yang menunjukkan hasil positif : Fermentasi sorbitol Motility test Reduksi nitrate Catalase test

11

Methyl red. 2.7 Isolasi Dan Diagnosa Salmonella sp.

Specimen Darah Hari I : Darah sebanyak 2-3 cc dimasukkan ke dalam 10 cc empedu pepton. Kocok baik-baik, masuk incubator 37C 1 7 kali 24 jam. Hari II : Pertumbuhan didalam empedu pepton (galcultur) ditanam pada media isolasi MC, EMB, ENDO, SS, DCA, Hectoen enteric agar, XLD agar. Boleh digunakan 2 atau 1 macam saja. Masuk incubator 37C 24 jam. Penanaman ini diulang pada hari ke 4 dan ke 7. Hari III : Koloni yang tersangka dimedia isolasi di tananam pada media TSI agar. SIM medium dan Simmons citrate agar. Masuk incubator 37C 24 jam. Hari IV : Pertumbuhan pada media TSI agar, SIM media dan Simmons citrate agar dicocokkan dengan tabel ciri-ciri biokimia Salmonella. Yang cocok dengan tabel, dikerjakan slide agglutinasi dengan serum polyvaient Salmonella, kalau slide dialnjutkan dengan serum monovalent Salmonella. Untuk lebih tepatnya diagnose, penanaman pada media gula-gula dilengngkapi dengan media yang lain. (Sumarno,1987) Specimen Faeces Dan Urine Hari I :

12

Specimen ditanam pada isolasi media Mac Conkey agar, EMB agar, SS agar, Bismuth Sulfite agar, Deoxycholate Citrate Agar, Hektoen Enteric Agar atau Xylone Lysine Agar . Masuk inkubator 370 C, 24 jam. Hari II : Koloni yang tersangka Salmonella dari isolasi media ditanam pada TSI agar, Sim medium dan Simmons citrate agar. Masuk inkubator 370 C, 24 jam. Hari III : Pertumbuhan pada TSI agar, SIM medium dan Simmons Citrate agar dibaca dan dicatat. Seterusnya dicocokkan dengan tabel, yang cocok dengan tabel dikerjakan slide aglutinasi dengan sera diagnosa terhadap Salmonella polyvalent, kemudian dilanjutkan dengan sera monovalent. Sebaiknya media gulanya dan test kimianya dilengkapi, masuk inkubator 370 C, 24 jam. Hari IV : Pertumbuhan pada media gula dibaca dan dicatat serta dilakukan test kimia yang belum dikerjakan. Dengan memperhatikan pertumbuhan pada media isolasi, media identifikasi, slide aglutinasi dan juga test-test kimia dapat ditentukan diagnosenya. CATATAN : Untuk mendapatkan hasil yang lebih meyakinkan, specimen juga ditanam di dalam enrichment Selenite broth, Selenite Cystine Broth, atau Tetra thionate broth. Setelah diinkubasikan 370 C, 24 jam ditanam pada isolasi media, dan seterusnya dikerjakan seperti diatas. (Sumarno,1987)

13

DAFTAR PUSTAKA Aksara, Binarupa. 1994. Mikrobiologi Kedokteran. Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta Anonim. 2012. Salmonella. http://id.wikipedia.org/wiki/Salmonella (Diakses tanggal 19 Mei 2013) Anonim. 2012. Hati-hati dengan Bakteri Salmonella. http:// www.apasih.com / 2010/ 12 / hati-hati-dengan-bakteri-salmonella. html (Diakses tanggal 19 Mei 2013) Anonim. Tt. Salmonella. http://www.news-medical.net/health/Salmonella-What-isSalmonella-%28Indonesian%29. aspx (Diakses tanggal 19 Mei 2013) Fitriyanti. 2011. Salmonella Sp. http:// renifitriyanti27. blogspot. com/ 2011 /12 / salmonella-sp. html (Diakses tanggal 19 Mei 2013) Icha. 2011. Uji Biokimia. http://lentera-icha.blogspot.com/2011/06/uji-biokimia. html (Diakses tanggal 19 Mei 2013) Jawetz, Melnick, dan Adelbegs. 2004. Mikrobiologi Kedokteran, Ed 23. Jakarta : EGC. Julius, E.S. 1990. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Binarupa Aksara. Karsinah, Luky H.M., Suhato & Mardiastuti H.W. Staf Pengajar Falkultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1994. Mikrobiologi Kedokteran, Edisi Revisi. Hal : 168-173. Jakarta : Binapura Aksara.

14

Nurhidayat. 2011. Pemeriksaan atau Identifikasi. http:// sectoranalyst. blogspot. com/2011/10/pemeriksaan-atau-identifikasi.html#.UK3Nu4HojDc (Diakses tanggal 19 Mei 2013) Sugianto,Tantri. 2012. Uji Salmonella. http://tantri-sugianto. blogspot. com/ 2012 / 07/uji-salmonella. html (Diakses tanggal 19 Mei 2013) Sumarno. 1987. Penuntun Praktikum Bakteriologi.Yogyakarta:CV Karyono Todar. 2008. Salmonella and Salmonellosis. http:// www.textboo kofbacteriology.net/salmonella. html (Diakses tanggal 19 Mei 2013)

MAKALAH BAKTERIOLOGI Salmonella sp.

KELOMPOK III
Made Anggi Edita Pardini Putu Yulia Anggreni I Ketut Widiarta Kadek Susi Wiandari Ni Putu Mayasari Ni Putu Riski Maya Dewi (P07134011022) (P07134011024) (P07134011026) (P07134011028) (P07134011030) (P07134011032)

15

I Kadek Dwi Suantara Jaya Serafina C. Danal I Nyoman Yoga Arimbawa Pande Agus Jordy Sutanaya

(P07134011034) (P07134011036) (P07134011038) (P07134011040)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN ANALIS KESEHATAN 2013

16