Anda di halaman 1dari 23

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Lansia 1. Pengertian Lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisis, kejiwaan dan sosial (UU No23 Tahun 1992 tentang kesehata).Pengertian dan pengelolaan lansia menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang lansia sebagai berikut : a. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas b. Lansia usia potensial adalah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa c. Lansia tak potensial adalah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya tergantung pada bantuan orang lain. 2. Batasan Lansia Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, lanjut usia meliputi: usia pertengahan yakni kelompok usia 46-59 tahun, usia lanjut (Elderly ) yakni antara usia 60-74 tahun, Tua ( Old) yaitu antara 75-90 tahun, dan usia sangat tua ( Very old) yaitu usia diatas 90 tahun (Setiabudhi, 1999), dan menurut DepKes RI tahun 1999, umur dibagi 3 lansia yaitu; a. Usia pra senelis atau Virilitas adalah seseorang yang berusia 45-49 tahun b. Usia lanjut adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih c. Usia lanjut resiko tinggi adalah seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih atau dengan masalah kesehatan. 3. Proses Menua Menurut Constantindes (1994) dalam Nugroho (2000) mengatakan bahwa proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaikinya kerusakan yang diderita. Proses menua merupakan proses yang terus-menerus secara alamiah dimulai sejak lahir dan setiap individu tidak sama cepatnya. Menua bukan status penyakit tetapi

merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Aging proses adalah suatu periode menarik diri yang tak terhindarkan dengan karakteristik menurunnya interaksi antara lansia dengan orang lain di sekitarnya. Individu diberi kesempatan untuk mempersiapkan dirinya menghadapi ketidamampuan dan bahkan kematian (Cox, 1984 dalam Miller,1995). Dengan begitu manusia secara progresif akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan stuktural yang disebut sebagai penyakit degeneratif seperti, hipertensi, aterosklerosis, diabetes militus dan kanker yang akan menyebabkan kita menghadapi akhir hidup dengan episode terminal yang dramatik seperti strok, infark miokard, koma asidosis, metastasis kanker dan sebagainya ( Darmojo, 2004 ). 4. Teori penuaan a. Teori biologis 1) Teori radikal bebas Radikal bebas adalah produk metabolisme seluler yang merupakan bagian molekul yang sangat aktif. Molekul ini memiliki muatan ekstraseluler kuat yang dapat menciptakan reaksi dengan protein, mengubah bentuk dan sifatnya, molekul ini juga dapat bereaksi dengan lipid yang berada dalam membran sel, mempengaruhi permeabilitas, atau dapat berikatan dengan organel sel. Proses metabolisme oksigen diperkirakan menjadi sumber radikal bebas terbesar, secara speifik, oksidasi lemak, protein, dan karbohidrat dalam tubuh menyebabkan formasi radikal bebas. Polutan lingkungan merupakan sumber eksternal radikal bebas (Potter & Perry, 2005). 2) Teori cross link Teori cross link ikat menyatakan bahwa molekul kolagen dan elastis, komponen jarigan ikat, membentuk senyawa yang lama meningkatkan rigiditas sel, cross linkage diperkirakan akibat reaksi kimia yang menimbulkan senyawa antara molekul molekul yang normal terpisah. Kulit yang menua merupakan contoh cross linkage jaringan ikat terikat usia meliputi penurunan kekuatan daya

rentang dinding arteri, tanggalnya gigi, dan tendon kering dan berserat (Potter & Perry, 2005). 3) Teori imunologis Mekanisme seluler tidak teratur diperkirakan menyebabkan serangan pada jaringan tubuh melalui autoagresi atau imonodefisiensi (penurunan imun).

Tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan proteinnya sendiri dengan protein asing, sistem imun menyerang dan menghancurkan jaringan sendiri pada kecepatan yang meningkat secara bertahap. Dengan bertambahnya usia, kemampuan sistem imun untuk

menghancurkan bakteri, virus, dan jamur melemah, bahkan sistem ini mungkin tidak tahan terhadap serangannya sehingga sel mutasi terbentuk beberapa kali. Disfungsi system imun ini diperkirakn menjadi faktor dalam perkembangan penyakit kronis seperti kanker, diabetes, dan penyakit kardiovaskuler, serta infeksi (Potter & Perry, 2005).

b. Teori psikologis 1) Teori disengangement (pembebasan) Menyatakan bahwa orang yang menua menarik diri dari peran yang biasanya dan terikat pada aktivitas yang lebih intropeksi dan berfokus diri sendiri, meliputi empat konsep dasar yaitu : (i) invidu yang menua dan masyarakat secara bersama saling menarik diri, (ii) disengangement adalah intrinsik dan tidak dapat diletakkan secara biologis dan psikologis, (iii) disengangement dianggap perlu untuk proses penuaan, (iv) disengangement bermanfaat baik bagi lanjut usia dan masyarakat (Potter & Perry, 2005). 2) Teori aktifitas Lanjut usia dengan keterlibatan sosial yang lebih besar memiliki semangat dan kepuasan hidup yang tinggi, penyesuaian serta kesehatan mental yang lebih positif dari pada lanjut usia yang kurang terlibat secara sosial (Potter & Perry, 2005). Mempertahankan hubungan antara system sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia (Nugroho, 2000). Menurut Mubarak

dkk (2006), bahwa sangat penting bagi individu lanjut usia untuk tetap aktivitas dan mencapai kepuasan hidup. 3) Teori kontinuitas (kesinambungan) Teori kontinuitas atau teori perkembangan menyatakan bahwa

kepribadiaan tetap sama dan perilaku menjadi lebih mudah diprediksi seiring penuaan. Kepribadian dan pola perilaku yang berkembang sepanjang kehidupan menentukan derajat keterikatan dan aktivitas pada masa lanjut usia (Potter & Perry, 2005). 5. Perubahan yang terjadi pada lansia Suatu proses yang tidak dapat dihindari yang berlangsung secara terus-menerus dan berkesinambungan yang selanjutnya menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis dan dan biokemis. Pada jaringan tubuh dan akhirnya mempengaruhi fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan (Depkes RI, 1998). Menurut Setiabudhi (1999) .Perubahan yang terjadi pada lansia yaitu: a. Perubahan dari aspek biologis Perubahan yang terjadi pada sel seseorang menjadi lansia yaitu adanya perubahan genetika yang mengakibatkan terganggunya metabolisme protein, gangguan metabolisme Nucleic acid dan deoxyribonucleic (DNA), terjadi ikatan DNA dengan protein stabil yang mengakibatkan gangguan genetika, gangguan kegiatan enzim dan system pembuatan enzim, menurunnya proporsi protein diotak, otot, ginjal darah dan hati, terjadinya pengurangan parenkim serta adanya penambahan lipofisin. 1) Perubahan yang terjadi di sel otak dan saraf berupa jumlah sel menurun dan fungsi digantikan sel yang tersisa, terganggunya mekanisme perbaikan sel, kontrol inti sel terhadap sitopalsma menurun, terjadinya perubahan jumlah dan stuktur mitokondria, degenerasi lisosom yang mengakibatkan hoidrolisa sel, berkurangnya butir Nissil, penggumpalan kromatin, dan penambahan lipofisin, terjadi vakuolisasi protoplasma. 2) Prubahan yang terjadi di otak lansia adalah terjadi trofi yang berkurang 5 sampai 10% yang ukurannya kecil terutama dibagian prasagital, frontal, parietal, jumlah neuron berkurang dan tidak dapat diganti dengan yang

baru, terjadi pengurangan neurotransmitter, terbentuknya struktur abnormal diotak dan akumulasi pigmen organik mineral( lipofuscin, amyloid, plaque, neurofibrillary tangle), adanya perubahan biologis lainnya yang mempengaruhi otak seperti gangguan indra telinga, mata, gangguan kardiovaskuler, gangguan kelenjar tiroid, dan kortikosteroid. 3) Perubahan jaringan yaitu terjadinya penurunan sitoplasma protein, peningkatan metaplastik protein seperti kolagen dan elastin. b. Perubahan Fisiologis. Pada dasarnya perubahan fisiologis yang terjadi pada aktivitas seksual pada usia lanjut biasanya berlangsung secara bertahap dan menunjukkan status dasar dari aspek vaskuler, hormonal dan neurologiknya(Alexander & Allison, 1989 dalam Darmojo, 2004). Untuk suatu pasangan suami-istri, bila semasa usia dewasa dan pertengahan aktivitas seksual mereka normal, akan kecil sekali kemungkinan mereka akan mendapatkan masalah dalam hubungan seksualnya. Kaplan dalam Darmojo (2004) membagi siklus seksual dalam beberapa

tahap, yaitu fase desire (hasrat) dimana organ targetnya adalah otak. Fase ke-2 adalah fase arousal (pembangkitan/ penggairahan)dengan organ targetnya adalah sistem vaskuler dan fase ke-3 atau fase orgasmic dengan organ target medulla spinalis dan otot dasar perineum yang berkontraksi selama orgasme. Fase berikutnya yaitu fase orgasmik merupakan fase relaksasi dari semua organ target tersebut. c. Perubahan Psikologis Perubahan psikologis pada lansia sejalan dengan perubahan secara fisiologis. Masalah psikologis ini pertama kali mengenai sikap lansia terhadap kemunduran fisiknya (disengagement theory) yang berati adanya penarikan diri dari masyarakat dan dari diri pribadinya satu sama lain. Lansia dianggap terlalu lamban dengan daya reaksi yang lambat, kesigapan dan kecepatan bertindak dan berfikir menurun(Santrock, 2002).

d. Perubahan sosial

Umumnya lansia banyak yang melepaskan partisipasi sosial mereka, walaupun pelepasan itu dilakukan secara terpaksa. Orang lanjut usia yang memutuskan hubungan dengan dunia sosialnya akan mengalami kepuasan. Pernyataan tadi merupakan disaggrement theory . Aktivitas sosial yang banyak pada lansia juga mempengaruhi baik buruknya kondisi fisik dan sosial lansia (Santrock, 2002). e. Perubahan kehidupan keluarga Sebagian besar hubungan lansia dengan anak jauh kurang memuaskan yang disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya antara lain : kurangnya rasa memiliki kewajiban terhadap orang tua, jauhnya jarak tempat tinggal antara anak dan orang tua. Lansia tidak akan merasa terasing jika antara lansia dengan anak memiliki hubungan yang memuaskan sampai lansia tersebut berusia 50 sampai 55 tahun (Darmojo, 2004).. Orang tua usia lanjut yang perkawinannya bahagia dan tertarik pada dirinya sendiri maka secara emosional lansia tersebut kurang tergantung pada anaknya dan sebaliknya. Umumnya ketergantungan lansia pada anak dalam hal keuangan. Karena lansia sudah tidak memiliki kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak-anaknya pun tidak semua dapat menerima permintaan atau tanggung jawab yang harus mereka penuhi. Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengarah pada kemunduruan kesehatan fisik dan psikis yang akhirnya akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari.

6. Permasalahan yang terjadi pada lansia a. Permasalahan dari Aspek Fisiologis Terjadinya perubahan normal pada fisik lansia yang dipengaruhi oleh factor kejiwaan, sosial, ekonomi dan medik. Perubahan tersebut akan terlihat dalam jaringan dan organ tubuh seperti kulit menjadi kering dan keriput, rambut beruban dan rontok, penglihatan menurun sebagian atau menyeluruh, pendengaran berkurang, indra perasa menurun, daya penciuman berkurang, tinggi badan

menyusut karena proses osteoporosis yang berakibat badan menjadi bungkuk, tulang keropos, massanya dan kekuatannya berkurang dan mudah patah, elastisitas paru berkurang, nafas menjadi pendek, terjadi pengurangan fungsi organ didalam perut, dinding pembuluh darah menebaldan menjadi tekanan darah tinggi otot jantung bekerja tidak efisien, adanya penurunan organ reproduksi, terutama pada wanita, otak menyusutdan reaksi menjadi lambatterutama pada pria, serta seksualitastidak terlalu menurun (Martono, 1997 dalam Darmojo, 2004). b. Permasalahan dari Aspek Psikologis Menurut Martono, 1997 dalam Darmojo (2004), beberapa masalah psikologis lansia antara lain: a. Kesepian (loneliness), yang dialami oleh lansia pada saat meninggalnya pasangan hidup, terutama bila dirinya saat itu mengalami penurunan status kesehatan seperti menderita penyakit fisik berat, gangguan mobilitas atau gangguan sensorik terutama gangguan pendengaran harus dibedakan antara kesepian dengan hidup sendiri. Banyak lansia hidup sendiri tidak mengalami kesepian karena aktivitas sosialnya tinggi, lansia yang hidup dilingkungan yang beraggota keluarga yang cukup banyak tetapi mengalami kesepian. b. Duka cita (bereavement ),dimana pada periode duka cita ini merupakan periode yang sangat rawan bagi lansia. meninggalnya pasangan hidup, temen dekat, atau bahkan hewan kesayangan bisa meruntuhkan ketahanan kejiwaan yang sudah rapuh dari seorang lansia, yang selanjutnya memicu terjadinya gangguan fisik dan kesehatannya. Adanya perasaan kosong kemudian diikuti dengan ingin menangis dan kemudian suatu periode depresi. Depresi akibat duka cita biasanya bersifat self limiting . c. Depresi, pada lansia stress lingkungan sering menimbulkan depresi dan kemampuan beradaptasi sudah menurun. d. Gangguan cemas, terbagi dalam beberapa golongan yaitu fobia, gangguan panik, gangguan cemas umum, gangguan stress setelah trauma dan ganggua obstetif-kompulsif. Pada lansia gangguan cemas merupakan kelanjutan dari dewasa muda dan biasanya berhubungan dengan sekunder akibat penyakit

medis, depresi, efek samping obat atau gejala penghentian mendadak suatu obat. e. Psikosis pada lansia, dimana terbagi dalam bentuk psikosis bisa terjadi pada lansia, baik sebagai kelanjutan keadaan dari dewasa muda atau yang timbul pada lansia. f. Parafrenia, merupakan suatu bentuk skizofrenia lanjut yang sering terdapat pada lansia yang ditandai dengan waham (curiga) yang sering lansia merasa tetangganya mencuri barang-barangnya atau tetangga berniat membunuhnya. Parfrenia biasanya terjadi pada lansia yang terisolasi atau diisolasiatau menarik diri dari kegiatan social. g. Sindroma diagnose, merupakan suatu keadaan dimana lansia menunjukkan penampilan perilaku yang sangat mengganggu. Rumah atau kamar yang kotor serta berbau karena lansia ini sering bermain-smain dengan urin dan fesesnya. Lansia sering menumpuk barang-barangnya dengan tidak teratur (jawa: Nyusuh). Kondisi ini walaupun kamar sudah dibersihkan dan lansia dimandikan bersih namun dapat berulang kembali. c. Permasalahan dari Aspek Sosial Budaya Menurut Setiabudhi (1999), permasalahan sosial budaya lansia secara

umum yaitu masih besarnya jumlah lansia yang berada di bawah garis kemiskinan, makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati, berhubung terjadi perkembangan pola kehidupan keluarga yang secara fisik lebih mengarah pada bentuk keluarga kecil, akhirnya kelompok masyarakat industry yang memiliki ciri kehidupan yang lebih bertumpu kepada individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan perhitungan untung rugi, lugas dan efisien yang secara tidak langsung merugikan kesejahteraan lansia, masih rendahnya kuantitas tenaga professional dalam pelayanan lansia dan masih terbatasnya sarana pelayanan pembinaan kesejahteraan lansia, serta belum membudayanya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia.

B. Karakteristik Lansia

Menurut Keliat (1999) dalam Mariyam dkk (2008), Lanjut usia memiliki benerapa karakteristik diantaranya adalah; Pertama, Orang Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) UU No.13 tentang kesehatan ); Kedua, kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuha biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi maladaptive; Ketiga, lingkungan dan tempat tinggal yang bervariasi. Adapun ciri-ciri pada lansia sehingga akan berdampak terhadap mekanisme koping dari respon yang dihadapi, seperti;

1. Usia dan jenis pekerjaan Semakin bertambahnya usia seseorang, semakin siap pula dalam menerima cobaan. Hal ini didukung oleh teori aktivitas yang menyatakan bahwa hubungan antara sistem sosial dengan individu bertahan stabil pada saat individu bergerak dari usia pertengahan menuju usia tua,( Cox, 1984 dalam Tamher & Noorkasiani,2009). Usia adalah lamanya kehidupan yang dihitung berdasarkan tahun kelahiran sampai dengan ulang tahun terakhir. Oleh sebab itu, tidak dibutuhkan suatu kompensasi terhadap kehilangan, seperti pensiun dari peran sosial karena menua.

Keterkaitannya dengan jenis pekerjaan juga membawa dampak yang berarti (Darmojo dkk, 1999 dalam Tamher & Noorkasiani, 2009). 2. Jenis kelamin Perbedaan gender juga dapat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi psikologis lansia, sehingga akan berdampak pada bentuk adaptasi yang digunakan (Darmojo dkk, 1999 dalam Tamher Dan Noorkasiani, 2009), menyatakan hasil penelitian mereka yang memaparkan bahwa ternyata keadaan psikososial lansia di Indonesia secara umum masih lebih baik dibandingkan lansia di negara maju, antara lain tanda-tanda depresi pria (pria 43% dan wanita 42%), menunjukkan kelakuan/tabiat buruk(pria 7,3% dan wanita 3,7%), serta cepat marah irritable (pria 17,2% dan wanita 7,1%). Jadi dapat diasumsikan bahwa wanita lebih siap dalam menghadapi masalah dibandingkan laki-laki, karena wanita lebih mampu menghadapi masalah dari pada lelaki yang cenderung lebih emosional. 3. Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan juga merupakan hal terpenting dalam menghadapi masalah. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin banyak pengalaman hidup yang dilaluinya,sehingga akan lebih siap dalam menghadapi masalah yang terjadi. Umumnya lansia yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi masih dapat produktif, mereka justru banyak memberikan konstribusinya sebagai pengisi waktu luang dengan menulis buku-buku ilmiah maupun biografinya sendiri (Tamher, 2009) 4. Sosial dan ekonomi Kebiasaan sosial budaya masyarakat di dunia timur sampai sekarang masih menempatkan orang-orang usia lanjut pada tempat terhormat dan penghargaan yang tinggi. Menurut Brojklehurst dan Allen (1987) dalam Tamher (2009), lansia sering dianggap lamban, baik dalam berpikir maupun dalam bertindak. Anggapan ini bertentangan dengan pendapat-pendapat pada zaman sekarang, yang justru

menganjurkan masih tetap ada social involvement (keterlibatan sosial) yang dianggap penting dan menyakinkan. Contohnya dalam bidang pendidikan, lansia masih tetap butuh tetap melanjutkan pendidikannya, sehingga dapat meningkatkan inteligensi dan memperluas wawasannya. Hal ini merupakan suatu dukungan bagi lansia dalam menghadapi masalah yang terjadi. Pada zaman sekarang status ekonomi baik status menengah keatas, menengah/sederhana, maupun menengah kebawah sangat diperhatikan seseorang dalam menjalin hubungan baik dengan teman, relasi kerja maupun pasangan hidup sehingga status ekonomi ada hubungan erat dengan status sosial karena dimana status ekonomi individu itu tinggi maka dalam menjalin hubungan dengan relasi akan semakin mudah dan erat misalnya dalam hubungan keluarga terutama dalam pemenuhan kebutushan dasar.

C. Pemenuhan Kebutuhan Seksualitas Lansia 1. Pengertian Seksualitas

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa seksualitas berarti ciri, sifat, atau peranan seks. Dari artinya saja jelas bahwa seksualitas menunjuk pada sesuatu yang kompleks yang ada dalam diri manusia. Kekomplekan inilah yang jarang dilihat oleh manusia. Orang sering memandang seksualitas dalam arti yang sempit yakni terbatas pada alat genetikal belaka. Dengan kata lain, seksualitas dipersempit menjadi seks yaitu apa yang kita alami dan kita lakukan dengan alat kelamin kita. Padahal seksualitas mempunyai arti yang sangat luas dan mendalam dalam prilaku seksual ( Kris, 2004). Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan senggama maupun berimajinasi. Obyek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Sebagian tingkah laku ini memang tidak memiliki dampak, terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial. Tetapi sebagian perilaku seksual justru dapat memiliki dampak dengan kesehatan seksual itu sendiri (Potter & Perry, 2005). Kesehatan seksual merupakan suatu hal yang sukar untuk diartikan Karena kebanyakan masyarakat menganggap kesehatan seksual adalah suatu peristiwa yang sulit untuk dijelaskan sehingga menimbulkan suatu anggapan yang salah. World Health Organization,1975 mendefinisikan kesehatan seksual sebagai pengintegrasian aspek

somatik, emosional, intelektual, dan aspek sosial dari kehidupan seksual dengan cara yang positif untuk memperkaya pengrtahuan seksualnya dalam bentuk kepribadian, dan perasaan cinta (Kozier,2004). Arti lain dari seksualitas menurut Kozier (2004), adalah suatu tindakan alamiah, spontan yang meningkatkan kepuasan dari kedua pasangan. Setelah aktivitas seksual, harus ada periode persaan senang dimana kedua pasangan mengalami kehangatan, sejahtera dan kedekatan. Dalam kenyataan, hal ini sering menjadi pengecualian ketimbang peraturan, seperti yang ditunjukkan oleh sejumlah buku peningkatan seksual swabantu yang tersedia ditoko. Perawat dapat saja menghadapi klien yang mempunyai

masalah satu tahap perilaku seksual atau lebih, termasuk perasaan ingin melakukan hubungan seks. Perlu diketahui bahwa seksualitas manusia berarti kita terarah kepada yang lain. Artinya seksualitas yang kita miliki memampukan kita untuk dapat berelasi secara akrab dengan sesama kita dan Tuhan secara intim (Kozier,2004). Seksualitas adalah energi yang berdasarkan pada relasi-relasi kita. Energi ini sangat tampak dalam orientasi hidup manusia yang merupakan kualitas hidupnya seperti kerinduan untuk akrab dengan orang lain, untuk bersahabat dan untuk bersatu. Perlu disadari juga bahwa seksualitas berkaitan erat dengan compassion, healing, dan pengampunan. Sedangkan ciri dari seksualitas adalah passion, kehangatan, afeksi, dan perasaan, rasa tertarik, vitalitas. Selain itu, seksualitas mengenal juga derita, kesakitan, frustasi, dan kekacauan( Kris, 2004). Seksualitas dalam usia lanjut makin diakui sebagai hal yang penting dalam

perawatan lansia. Semua lansia, baik sehat maupun lemah, perlu mengekspresikan perasaan seksualnya. Seksualitas meliputi cinta, kehangatan , saling membagi dan sentuhan, bukan hanya melakukan hubungan seksual. Seksualitas berkaitan dengan identitas dan validasi keyakinan bahwa orang dapat memberi pada orang lain dan mendapatkan penghargaan ( Perry & Potter, 2005). Seksualitas dalam usia tua beralih dari penekanan pada prokreasi menjadi penekanan pada pertemanan, kedekatan fisik, komunikasi intim, dan hubungan fisik mencari kesenangan (Hebersol &Hess, 1994). Tidak ada alasan bagi individu tidak dapat tetap aktif secara seksual sepanjang mereka memilihnya. Hal ini dapat secara efektif dipenuhi dengan mempertahankan aktifitas seksual secara teratur sepanjang hidup. Terutama sekali bagi wanita, hubungan senggama teratur membantu mempertahankan elastisitas vagina, mencegah atrofi, dan mempertahankan kemampuan untuk lubrikasi. Namun demikian, proses penuaan mempengaruhi proses seksual. Perubahan fisik yang terjadi bersama proses penuaan harus dijelaskan kepada klien lansia. Lansia mungkin juga menghadapi kekuatiran kesehatan yang membuat sulit bagi mereka untuk

melanjutrkan aktivitas seksual. Dewasa yang menua mungkin harus menyesuaikan tindakan seksual dan respon terhadap penyakit kronis, medikasi, sakit dan nyeri, atau masalah kesehatan lainnya( Perry & Potter, 2005). Kiranya menjadi jelas bahwa pemahaman akan seksualitas secara benar dapat meminimalisir pikiran-pikiran sempit yang mau menonjolkan bahwa kegiatan seks itu adalah hal yang terpenting. padahal seksualitas itu dapat diungkapkan (diekspresikan) dalam ribuan bentuk. Salah satu diantaranya yakni ekspresi atau ungkapan genital ( Kris, 2004). 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fungsi seksual dalam Kebutuhan Seksualitas Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan seksualitas menurut Perry & Potter, (2005) adalah: a) Faktor fisik. Klien dapat mengalami penurunan keinginan seksual karena alasan fisik. Aktivitas seksualdapat menyebabkan nyeri dan ketidak nyamanan. Bahkan hanya membayangkan bahwa seks dapat menyakitkan sudah menurunkankeinginan seks. Penyakit minor dan keletihan adalah alasan seseorang untuk tidak merasakan seksual. Medikasi dapat mempengaruhi keinginan seksual. Citra tubuh yang buruk, terutama ketika diperburuk oleh perasaan penolakan atau pembedahan yang mengubah bentuk tubuh, dapat menyebabkan klien kehilangan perasaannya secara seksual. b) Faktor hubungan. Masalah dalam berhubungan dapat mengalihkan perhatian seseorang dari keinginan seks. Setelah kemesraan hubungan telah memudar, pasangan mungkin mendapati bahwa mereka dihadapkan pada perbedaan yang sangat besar dalam nilai atau gaya hidup mereka. Tingkat seberapa jauh mereka mssih merasa dekat satu sama lain dan berinteraksi pada tingkat intim bergantung pada kemampuan mereka untuk bernegoisasi dan berkompromi. Ketrampilan seperti ini memainkan peran yang sangat penting ketika mengahadapi keinginan seksual dalam berhubungan. Penurunan minat dalam aktifitas seksual dapat mengakibatkan ansietas hanya karena harus mengatakan kepada pasangan perilaku seksual apa yang diterima dan menyenangkan.

c) Faktor gaya hidup. Faktor gaya hidup seperti, penggunaan atau penyalahgunaan alkohol atau tidak punya waktu untuk mencurahkan perasaan dalam berhubungan, dapat mempengaruhi keinginan secara seksual. Dahulu perilaku seksual yang dikiatkan dengan, terutama dalam periklanan, alkohol dapat menyebabkan rasa sejahtera atau gairah palsu dalam tahap awal seks. Namun demikian, banyak bukti sekarang ini menunjukkan bahwa efek negatif alkohol terhadap seksualitas jauh melebihi euforia yang mungkin dihasilkan pada awalnya. d) Faktor harga diri. Tingkat harga diri klien juga dapat menyebabkan konflik yang melibatkan seksualitas. Jika harga diri seksual tidak pernah dipelihara dengan mengembangkan perasaan yang kuat tentang seksual diri dan dengan mempelajari keterampilan seksual, seksualitas mungkin menyebabkan perasaan negatif atau

menyebabkan perasaan negatif atau menyebabkan tekanan perasaan seksual. Harga diri seksual dapat menurun dalam banyak cara. Perkosaan , inses, dan penganiayaan fisik atau emosi meninggalkan luka yang dalam. Rendahnya harga diri seksual dapat juga diakibatkan oleh kurang adekuatnya pendidikan seks, model peran yang negatif, dan upaya untuk hidup dalam pengharapan pribadi atau kultural yang tidak realistik. 3. Masalah Seksualitas Lansia Masyarakat biasanya ragu-ragu untuk memperkenalkan topik dengan masalah seksual dengan alasan tertentu kepada tenaga kesehatan maupun orang lain. Mereka mungkin terlalu malu atau berpikir bahwa tidak semestinya mempunyai permasalahan seksual. Oleh karena itu para penyedia pelayanan kesehatan profesional terus menerus memperkenalkan masalah seksual kepada masyarakat supaya hal ini mudah diatasi permasalahannya untuk mengatasi masalah seksualnya ( Darmojo, 2004 ). Masalah seksual bagi individu yang secara seksual aktif dimana individu berkeinginan melakukan hubungan seks yang aman. Melakukan hubungan seks yang aman telah mendapat pengakuan yang meningkat akibat ketakutan tentang AIDS. Resiko dan konsekuensi dari PMS harus selalu menjadi pertimbangan (Perry & Potter, 2005). Senggama dan manipulasi seksual, meskipun dimaksudkan untuk memberikan kesenangan bagi yang melakukannya, mungkin menjadi penyiksaan dalam situasi disfungsi. Penganiayaan seksual dapat mencakup tindak kekerasan pada wanita,

pelecehan seksual, perkosaan, pedofilia (aktifitas seksual dengan anak-anak), pornografi anak, dan inses (hubungan seksual yang dilakukan ayah kepada anak perempuannya) (Perry & Potter, 2005). Pada usia lanjut, tedapat berbagai hambatan untuk melakukan aktivitas seksual yang dapat dibagi menjadi hambatan/masalah eksternal yang datang dari lingkungan dan hambatan internal, yang terutama berasal dari subyek lansianya sendiri ( Darmojo, 2004 ). Hambatan eksternal biasanya berupa pandangan sosial, yang menganggap bahwa aktivitas seksual tidak layak lagi dilakukan oleh para lansia. Masyarakat biasanya masih bisa menerima seorang duda lansia kaya yang menikah lagi dengan wanita yang lebih muda atau mempunyai anak setelah usianya agak lanjut, tetapi hal sebaliknya seorang janda kaya yang menikah dengan pria yang lebih muda sering kali mendapat cibiran masyarakat. Hambatan eksternal bilamana seseorang janda atau duda akan menikah lagi seringkali juga berupa sikap menentang dari anak-anak, dengan berbagai alasan. Kenangan pada ayah/ibu yang telah meninggal atau ketakutan akan berkurangnya warisan merupakan latar belakang penolakan. Di negara Barat hal ini masih terjadi, akan tetapi pengaruhnya di negara Timur akan lebih terasa mengingat kedekatan hubungan orang tua dengan anak-anak ( Darmojo, 2004 ).

Hambatan internal psikologik seringkali sulit dipisahkan secara jelas dengan hambatan ekternal. Seringkali seorang lansia sudah merasa tidak bisa dan tidak pantas berpenampilan untuk bisa menarik lawan jenisnya. Pandangan sosial dan keagamaan tentang seksualitas di usia lanjut(baik pada mereka yang masih mempunyai pasangan, tetapi terlebih pada mereka yang sudah menjanda/menduda) menyebabkan keinginan dalam diri mereka ditekan sedemikian sehingga memberikan dampak pada

ketidakmampuan fisik, yang dikenal sebagai impotensia ( Darmojo, 2004 ). Hampir setiap orang yang mengalami usia lanjut akan mengalami

masalah/Hambatan seksual. Sebagian besar menghadapinya sebagai hal yang sangat memalukan untuk dibicarakan, sebagian lagi menganggapnya sebagai bagian proses penuaan yang alamiah dan tidak bisa diperbaiki. Sikap optimis inilah yang perlu dibina sehingga mampu memperbaiki kehidupan seks dan menghadapinya sebagai suatu penyakit biasa yang dapat diobati (Suparto, 1998).

4. Kebutuhan Seksualitas Lansia Keinginan seksual beragam diantara individu: sebagian orang menginginkan dan menikmati seks setiap hari, sementara yang lainnya menginginkan seks hanya sekali dalam sebulan, dan yang lainnya lagi tidak memiliki keinginan sama sekali dan cukup merasa nyaman dengan fakta tersebut. Keinginan seksual menjadi masalah jika klien semata-mata menginginkan untuk merasakan keinginan hubungan seks lebih sering, jika keyakinan klien adalah pentinguntuk melakukannya pada beberapa norma kultur, atau jika perbedaan dalam keinginan seksual dari pasangan menyebabkan konflik (Kozier, 2004). Aktivitas seksual mungkin terbatas karena ketidakmampuan spesifik, tetapi dorongan seksual, ekspresi cinta, dan perhatian tidak mengalami penurunan yang sama. Dari pada penurunan fungsi seksual diasumsikan dengan sakit, lebih baik perhatian difokuskan pada sesuatu yang masih mungkin dilakukan. Pengaruh psikososial dari ketidakmampuan pada umumnya mempunyai pengaruh yang lebih negatif pada fungsi seksual dari pada gangguan fisik akibat ketidakmampuan itu sendiri. Mengembangkan kepercayaan diri dan membentuk ekspresai seksual yang baru dapat banyak membantu pada lansia yang mengalami ketidakmampuan seksual ( Pudjiastuti, 2003 ).

Lanjut usia masih mempunyai harapan untuk menikah dan masih memiliki minat terhadap lawan jenis. Hal tersebut di tunjukkan dengan usaha berkunjung ke lawan jenis yang sudah tidak memiliki pasangan. Adanya fenomena keinginan menikah, pengacuhan kebutuhan seksual lanjut usia yang berdampak pada kebahagiaan dan gangguan homeostasis , teori-teori yang menunjukkan perlu adanya kebutuhan seksual dipenuhi, dan masih adanya anggapan yang keliru mengenai pemenuhan kebutuhan seksual pada lanjut usia ( Mayasari, 2009 ). Namun, kondisi hubungan seksual dan nonseksual dengan pasangan hidup memberi pengaruh besar. Makin baik hubungan, makin memuaskan kehidupan seksualnya. Maka, seks akan bertambah lama sampai tidak ada batasnya. Akhirnya salah satu penentu lain adalah tidak adanya pasangan. Wanita usia lanjut yang tidak mempunyai pasangan lagi umumnya akan menekan ddorongan seksnya sampai habis. Sebaliknya, pria yang sudah kehilangan pasangan, sebagian akan menikah lagi (Suparto,1998).

5. Usaha Perbaikan Kebutuhan Seksualitas Sikap yang ditujukan pada perasaan dan prilaku seksual berubah sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan seseorang sampai menjadi tua. Perubahan ini mungkin menjadi lebih tradisional atau liberal karena perubahan masyarakat, umpan balik dari orang lain, dan keterlibatan dalam kelompok keagamaan dan komunitas (Perry & potter, 2005). Perbaikan penderita lansia dengan masalah seksual pada dasarnya tidak berbeda dengan apabila penderita tersebut berusia lebih muda. Yang berbeda adalah bahwa ketelitian dan kehati-hatian baik dalam diagnosis maupun dalam pemberian terapi harus lebih ditekankan karena disamping kelainan yang mendasari gangguan seksual tersebut lebih beragam, sedangkan terapi baik medikamenntosa maupun pembedahan mungkin sangat mempengaruhi keadaan umum penderita (Darmojo, 2004). Pemeriksaan sebaiknya dihadapan kehadiran pasangannya. Anamnesis harus rinci, meliputi awitan, jenis maupun intensitas gangguan yang dirasakan. Juga anamnesis tentang gangguan sistemik maupun organik yang dirasakan. Penelaahan tentang gangguan psikologik (kesepian, depresi, duka cita), gangguan kognitif harus pula

dilakukan. Tidak kalah pentingnya adalah anamnesis tentang obat-obatan yang diminum. Pemeriksaan fisik meliputi organ dari ujung kepala sampai kaki. Status lokalis organ seksual perlu mendapatkan perhatian khusus ( Darmojo, 2004 ). Terapi yang diberikan tentu saja tergantung dari diagnosis/gangguan yang mendasari keluhan tersebut dan sebaiknya dilakukan oleh suatu tim multi disiplin. Pada keadaan disfungsi ereksi, terapi yang diberikan dapat berupa (Weg, 1986; Leslie,1987 dalam Darmojo, 2004) : a. Terapi psikologik b. Medikamentosa (hormonal atau injeksi intrakorporeal dengan menggunakan papaverin atau alprostadil). c. Pengobatan dengan alat vakum d. Pembedahan, baik pembedahan vaskuler atau untuk pemasangan protesis penis. 6. Manfaat melakukan hubungan seksual dalam pemenuhan kebutuhan seksualitas

Masih banyak orang yang memandang aktivitas seks hanya sebagai salah satu bentuk pemenuhan kebutuhan semata. Padahal di luar itu, seks ternyata memiliki beragam manfaat yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan, baik dari segi fisik maupun psikologis (Perry & Potter,2005). Menurut para ahli, setidaknya ada 10 keuntungan yang dapat diperoleh dari aktivitas seks yang teratur dan benar. Seluruh manfaat ini bukanlah sekedar anekdot belaka, tetapi merupakan hasil riset yang didukung bukti ilmiah, diantaranya adalah; (Kris, 2009) a. Redakan stres Peneliti dari Skotlandia dalam riset yang dipublikasikan jurnal Biological Psychology menyimpulkan, salah satu manfaat utama seks bagi kesehatan adalah menurunkan tekanan darah dan meredakan stres secara umum. Kesimpulan ini merupakan hasil pemantauan 22 pria dan 24 wanita yang dikondisikan dalam situasi stres. Aktivitas seksual mereka dicatat dan hasilnya menunjukkan, mereka yang melakukan hubungan intim dapat mengatasi stres lebih baik ketimbang yang tidak ngeseks. Dalam riset lain yang dipublikasikan jurnal yang sama menyebutkan bahwa aktivitas seks rutin berkaitan dengan tekanan diastolik yang rendah. b. Tingkatkan daya tahan tubuh Kehidupan seks yang baik dapat mengindikasikan kesehatan fisik yang baik pula. Melakukan seks sekali atau dua kali dalam seminggu akan meningkatkan antibodi yang disebut Immunoglobin A atau IgA, yang mampu melindungi anda dari flu ataupun infeksi. c. Seks membakar kalori Meurut penelitian, aktivitas seks selama 13 menit bisa membakar sekitar 85 kalori lebih. Sepertinya jumlah ini tidak banyak. Namun dihitung-hitung, jika Anda melakukannya minimal 42 kali dalam setahun (sebulan tiga kali) berarti telah membakar 3,570 kalori, lebih dari cukup untuk menurunkan 0,5 kg berat badan. Jika Anda ngeseks rata-rata satu jam, satu kilo berat badan mungkin bisa diturunkan dengan 21 kali ngeseks. Seks adalah model terhebat dari olahraga,

komentar Patti Britton, PhD, seksolog dan Presiden American Society of Sexuality Educators and Therapist. d. Sehatkan jantung dan pembuluh darah Meskipun ada mitos yang mengkhawatirkan bahwa tenaga yang dikeluarkan saat ngeseks dapat memicu stroke, namun para peneliti Inggris menyatakan anggapan itu tidaklah benar. Dalam riset yang dipublikasikan Journal Epidemiologycal and Community Health, para ahli mengungkapkan bahwa seks rutin tidak ada kaitannya dengan stroke pada 914 partisipan yang dipantau selama 20 tahun. Manfaat seks bagi jantung pun tidak berhenti di situ. Peneliti juga mengungkapkan bahwa ngeseks sekali atau dua kali seminggu dapat menurunkan risiko serangan jantung fatal hingga 50 persen pada pria, dibanding mereka yang melakukan seks kurang dari sekali dalam sebulan. e. Tingkatkan kepercayan diri Meningkatkan kepercayaan diri adalah salah satu dari 237 alasan orang melakukan seks. penelitian ini dilakukan oleh ahli dari Universitas Texas dan dipublikasikan dalam Archives of Sexual Behavior. f. Memperbaiki keintiman. Melakukan seks dan orgasme akan meningkatkan hormon oksitosin atau juga disebut hormon cinta. Hormon ini dapat membantu pasangan membangun dan memperkuat ikatan dan kepercayaan satu sama lain. Peneliti dari Universitas Pittsburgh dan Universitas North Carolina mengevaluasi respon 59 wanita premenopause. Partisipan dihitung kadar hormonnya sebelum dan setelah berhubungan dengan suami mereka yang diakhiri dengan berpelukan. Riset menunjukkan, semakin sering terjadinya sentuhan, makin tinggi kadar oksitosin. Kadar oksitosin membuat kita merasa ingin mengasihi dan mengikat, kata peneliti. g. Mengurangi rasa sakit Ketika hormon oksitosin dalam tubuh meningkat, endorphin juga akan naik dan rasa sakit akan berkurang. Oleh sebab itu, jika rasa sakit kepala, artritis atau

gejala sidrom premenstrual Anda bisa mereda setelah berhubungan seks, itu lebih karena efek hormon oksitosin.

h. Tekan risiko kanker prostat Peneliti Australia pernah mengungkapkan bahwa ejakulasi secara teratur akan menurunkan risiko kanker prostat di masa lansia. Riset ini dipublikasikan dalam British Journal of Urology International. i. Memperkuat otot dasar panggul Bagi para wanita, melakukan latihan otot dasar panggul saat berhubungan intim dikenal dengan istilah gerakan Kegel. Gerakan ini akan memberi kenikmatan bagi kedua pasangan, selain juga memperkuat bagian otot dan menekan risiko inkontinensi di masa lansia. j. Memperbaiki kualitas tidur Menurut penelitian, oksitosin yang dilepaskan selama orgasme juga dapat merangsang kantuk. Dengan tidur yang cukup, kesehatan pun akan lebih baik karena tensi darah dan berat badan tetap terplihara.

D. Penurunan Kebutuhan Seksualitas Dengan meningkanya usia, proses penuaan berlanjut terus sampai produksi hormon dan aspek kesehatan lainnya juga akan menurun sehingga kebutuhan seksual akan mengalami penurunan. Kondisi ini jarang didiagnosa atau diperiksakan kedokter. Sebagian akan menerimanya sebagai bagian dari proses penuaan dan kebutuhan seksual pun akan berhenti seterusnya. Yang lebih sulit lagi harapan hidupnya akan menurun sehingga kondisi itu dirasakan sebagai tanda berakhirnya kehidupan ( Suparto,1997). Seiring dengan proses penuaan aktivitas seksual mungkin kebutuhan seksual akan menurun/terbatas karena ketidakmampuan spesifik, tetapi dorongan seksual, ekspresi cinta, dan perhatian tidak mengalami penurunan yang sama. Dari pada penurunan fungsi seksual diasumsikan dengan sakit, lebih baik perhatian difokuskan pada sesuatu yang masih dapat dilakukan. Pengaruh psikososial dari ketidakmampuan pada umumnya mempunyai pengaruh yang lebih negatif pada fungsi seksual dari pada gangguan fisik akibat ketidakmampuan itu

sendiri. Mengembangkan kepercayaan diri dan membentuk ekspresi seksual yang baru dapat banyak membantu pada lansia yang mengalami ketidakmampuan seksual (Pudjiastuti, 2003).

E. Hubungan Karakteristik Lansia Dengan Pemenuhan Kebutuhan Seksualitas Golongan Lansia Hasil penelitian menyebutkan bahwa lebih dari 90% gangguan seksual disebabkan oleh faktor psikologis (Psikoseksual). Walaupun pengaruh psikologis cukup besar, ternyata pengaruh faktor fisik semakin tinggi pada lansia. Semakin tua seseorang, penyebab fisik dapat lebih besar dari pada penyebab psikologis ( Pudjiastuti, 2003 )

Kehilangan aktivitas seksual bukan merupakan aspek penuaan yang tidak dapat dihindari dan sebagian besar orang yang sehat tetap aktif secara seksual secara teratur sampai usia lanjut. Namun, dalam karakteristik usia lanjut memang membawa perubahan tertentu dalam respon seksual fisiologis pria dan wanita, dan disertai sejumlah masalah medis yang menjadi lebih prevalen pada usia lanjut yang berperan penting terhadap terjadinya gangguan seksual patogen terhadap lansia. Tipikal pasien berusia lebih dari 50 tahun yang mengalami kerusakan biologis parsial, yang meningkat menjadi ketidak mampuan seksual total akibat berbagai stressor budaya, intrapsikis, dan hubungan. Untungnya, masalah-masalah tersebut sering dapat diatasi dengan pendekatan terintegrasi yang secara psikodinamik berorientasi pada terapi seks yang menekankan pada perbaikan keintiman pasangan dan perluasan fleksibilitas seksual mereka ( Stanley, 2006 ). Lansia dalam pemenuhan kebutuhan seksualnya sangat tergantung dengan keadaan personal yang mengalami proses penuaan, hal ini disebabkan karena keadaan lansia yang sudah terbatas kemampuannya dalam melakukan segala sesuatunya sendiri,agar dalam pemenuhan kebutuhan seksual mereka dapat tercapai sesuai dengan keadaan kondisi mereka.

F. Kerangka Teori Faktor yang mempengaruhi kebutuhan seksual : -Faktor fisik -Faktor hubungan -Faktor gaya hidup -Faktor harga diri Karakteristik Lansia: -Umur -Jenis kelamin -Status pernikahan -Pendidikan -Pekerjaan -Sosial ekonomi

Pemenuhan Keutuhan Seksualitas

Permasalahan seksualitas

Penurunan Kebutuhan Seksualitas

Skema 1.1 Kerangka Teori [Sumber; Modifikasi Perry & Potter (2005); Pudjiastuti dan Utomo (2003)]

G. Kerangka Konsep Karakterisatik Lansia - Umur - Jenis Kelamin - Status pernikahan - Pendidikan - Pekerjaan - Sosial Ekonomi Variabel Independent

Pemenuhan Kebutuhan Seksual

Variabel Dependent Skema : 1.2 kerangka konsep

H. Variabel penelitian 1. Variabel independent Variabel independent pada penelitian ini adalah karakteristik lansia.

2. Variabel dependent Variabel dependent pada penelitian ini adalah pemenuhan kebutuhan seksualitas.

I. Hipotesis Ada hubungan karakteristik lansia dengan pemenuhan kebutuhan seksualitas golongan usia lanjut di Kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk Kota Semarang.