Anda di halaman 1dari 5

Larutan buffer adalah larutan yang terdiri dari garam dengan asam lemahnya atau garam dengan basa

lemahnya. Komposisi ini menyebabkan larutan memiliki kemampuan untuk mempertahankan pH jika kedalam larutan ditambahkan sedikit asam atau basa. Hal ini disebabkan larutan penyangga memiliki pasangan asam basa konyugasi. (Zulfikar, 2010) Komponen-komponen ini bereaksi dengan ion hidrogen atau hidroksida apa saja yang memasuki larutan, sehingga larutan yang berpenyangga dapat menahan perubahan PH ketika ion hidroksida ditambahkan (Underwood, 2001). Keefektifan suatu penyangga dalam menahan perubahan pH persatuan asam atau basa kuat yang ditambahkan, mencapai nilai maksimumnya ketika rasio asam penyangga terhadap garam adalah satu. Dalam titrasi asam lemah, titik maksimum keefektifan ini dicapai bila asam tersebut ternetralkan separuh (underwood, 2001). Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomermonomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida (Wirahadikusumah, 1989). Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara (Soendoro, 1985). Menurut struktur tiga dimensi protein dibagi menjadi tiga tingkatan organisasi struktur protei, yaitu : Struktur primer, struktur sekunder, struktur tersier dan struktur kuartener. Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur protein adalah : a. Suhu. Pada protein suhu sangatlah dijaga, hal ini di kerenakan kenaikan suhu menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Denaturasi adalah rusaknya struktur protein dikarenakan yang menyebabkan protein kehilangan satu hingga sebagian fungsi biologiknya. b. pH. Pada umumnya struktur ion protein tergantung pada pH lingkungannya. Struktur protein terdiri dari beberapa asam amino, dimana asam amino ini dapat bertindak sebagai ion positif, ion negatif atau berdwikutub (zwitterion). c. Radiasi. Radiasi merupakan faktor lainnya yang dapat mempengaruhi struktur dari suatu protein. d. Pelarut Organik Protein terdiri atas asam amino yang memiliki struktur yang berbeda. Jadi pelarut organik sangatlah berpengaruh terhadap striktur protein. Selain itu karena ikatan-ikatan yang terbentuk pada protein inilah yang

mempengaruhi perubahan struktur protein bila dilarutkan dalam pelarut organik (Poedjiadi, 1994). Kromatografi filtrasi gel merupakan metode pemisahan yang tergantung pada pertukaran molekul terlarut di antara pelarut fase gerak dalam pori-pori bahan pengisi kolom yang menentukan rentang ukuran molekul pada pemisahan yang terjadi. Pada kromatografi jenis ini fasa diam berupa gel yang terbuat dari dekstran, suatu bahan hasil ikatan silang molekulmolekul polisakarida. Bahan ini bila dimasukkan dalam air akan menggembung dengan membentuk saringan berpori dengan ukuran poripori tertentu. Pori-pori akan menehan molekul komponen-komponen berdasarkan ukurannya (berat molekul). Molekul dengan berat molekul dari 100 sampai berapa juta dapat dipisahkan dengan teknik ini (Panil, 2008). Pengecualian untuk kromatografi filtrasi gel ialah memisahkan protein yang lebih besar dari yang kecil, karena molekul yang lebih besar perjalanan lebih cepat melalui polimer cross-linked dalam kolom kromatografi. Protein besar tidak masuk ke pori-pori polimer sedangkan protein yang lebih kecil, dan lebih lama untuk melakukan perjalanan melalui kolom kromatografi, melalui rute kurang langsung. Eluat dikumpulkan dalam serangkaian tabung memisahkan protein berdasarkan waktu elusi. Filtrasi gel adalah alat yang berguna untuk berkonsentrasi sampel protein, karena protein target adalah mengumpulkan dalam volume elusi lebih kecil dari pada awalnya ditambahkan ke kolom. Teknik filtrasi yang sama dapat digunakan selama protein skala produksi besar karena efektivitas biaya (Panil, 2008). Fraksinasi merupakan cara pemisahan bagian-bagian sel dengan menggunakan sentrifus, setiap bagian atau organel sel dapat mengendap secara bertahap berdasarkan beratnya. Unsur radioaktif dapat digunakan sebagai penanda pada berbagai kegiatan molekul yang akan diteliti dalam sel. Dengan mempelajari sel, kita dapat memahami struktur dan fungsi bagian-bagian sel sebagai unit terkecil dari makhluk hidup (Kimball, 1989). Fraksinasi merupakan proses pemisahan suatu larutan menjadi fraksi atau bagianbagian tertentu. Pembagian atau pemisahan ini didasarkan pada bobot, massa jenis dari tiap fraksi, fraksi yang lebih berat akan berada paling dasar biasa disebut Pelet sedangkan fraksi yang lebih ringan akan berada dibagian diatas yang biasa disebut Supernatan. Salah satu contoh fraksinasi ialah fraksinasi subseluler. Fraksinasi subseluler ialah pemecahan sel melalui homogenasi dan pemisahan organel-organel dari yang satu degan lainnya menggunakan alat setrifs. Fraksinasi biasanya dilakukan pada suhu rendah, biasanya 4C untuk meminimalisasi degradasi enzim-enzim yang ada terhadap komponen sel serta mempertahankan struktur dan fungsi dari organel (Girsang, et al., 2003).

Terdapat dua macam prinsip sentrifugasi yang didasarkan atas: massa, ukuran atau panjang partikel dan densitas partikel. Sentrifugasi zona merupakan contoh sentrifugasi didasarkan atas massa dan ukuran partikel. Dalam sentrifugasi ini, partikel berbeda ukuran akan terpisah pada lapisan-lapisan (zona) yang berbeda. Jenis kedua adalah sentrifugasi berdasarkan pada keadaan yang setimbang, sentrifugasi keseimbangan gradien-densitas. Sentrifugasi jenis ini bekerja berdasarkan prinsip partikel dan cairan yang berada pada level keseimbangan densitas (disebut keadaan isopiknik). Teknik sentrifugasi keseimbangan gradien-densitas dapat memisahkan molekul-molekul dengan perbedaan densitas sampai 0,02 g/ml. Misal : DNA dan RNA yang perbedaan densitasnya dalam larutan cesium klorida (CsCl) berturut-turut adalah 1,3; 1,6-1,7 dan 1,75-1,8 gr/ml. Proses ini bertujuan memecah sel tanpa merusak organelnya, dengan langkah awal merusak membran plasma dan dinding sel jika sel tersebut memilikinya (Artika dan Safithri, 2010). Pemurnian dan pemisahan merupakan proses pemisahan dua zat atau lebih yang saling bercampur serta untuk mendapatkan zat murni dari suatu campuran. Campuran merupakan contoh materi yang tidak murni, yaitu bukan sebuah unsure atau sebuah senyawa. Susunan suatu campuran tidak sama dengan sebuah zat, dapat bervariasi dapat berupa homogeny dan heterogen (Petrucci, 1996). Criteria pemurnian suatu zat ditentukan oleh beberapa sifat fisiknya antara lain yaitu titik didih, tekanan uap, kerapatan dan sebagainya. Sifat fisik adalah karakteristik zat yang diamati dan di ukur tanpa mengubah komposisi kimianya. Di laboratorium kimia, sifat fisik sangat penting karena dapat digunakan sebagai criteria kemurnian suatu zat. Proses pemisahan suatu zat dari campuran adalah pemisahan berdasarkan sifat fisik dari zat-zat tersebut. Jadi sangat tergantung dari macam-macam zat tercampur. Keragaman serta

kompleksnya suatu campuran dapat terjadi dari berbagai jumlah komponen dalam campuran dengan perbandingan massa yang berbeda. Prinsip yang membedakan antara satu campuran dengan campuran lainnya adalah pada ukuran partikelnya. Campuran dibagi menjadi tiga bentuk yaitu suspense, koloid dan larutan (Underwood, 1988). Pada dasarnya tahap pemurnian atau purifikasi protein terdiri dari dua tahap yaitu tahap pertama yang bertujuan untuk mendapatkan larutan protein dan tahap kedua yang bertujuan untuk memisahkan protein berdasarkan ukuran molekul protein. Prosedur pemurnian protein dapat dilakukan karena adanya variasi: kelarutan, ukuran, muatan, binding specificity (affinity), sifat hidrofobik/hidrofilik (Levine, 1990). Pemurnian Enzim, tujuan utama pemurnian enzim adalah mengisolasi enzim dengan kemurnian

maksimal pada tingkat rendemen yang maksimal dengan biaya yang efektif. Secara umum pemurnian enzim dapat dibagi menjadi ekstraksi, pemekatan dan fraksinasi. Tahap akhir dari pemurnian enzim adalah teknik fraksinasi, yang dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan protein enzim dari protein non enzim lainnya. Enzim protease yang akan dimurnikan dari cacing tanah terdapat bersama-sama dengan berbagai macam protein lainnya sehingga untuk menentukan teknik pemurnian yang sesuai perlu dilakukan karakterisasi enzim kasar terlebih dahulu. Informasi awal tentang karakteristik enzim seperti perkiraan berat molekul, pH dan suhu optimum enzim, inhibitor spesifik untuk menentukan golongan enzim, pengaruh kation, deterjen dan senyawa denaturan, akan sangat menentukan dalam penentuan metode pemurnian yang tepat sehingga kondisi yang dilakukan dapat memurnikan enzim sasaran yang diinginkan. Protein enzim yang diinginkan dari suatu organisme terdapat dalam bentuk campuran dengan berbagai senyawa lain seperti lipida, protein/peptida maupun debris sel sehingga perlu dilakukan tahap pemurnian. Tahapan pemurnian enzim yang umum dilakukan meliputi pembuatan ekstrak, pengendapan baik dengan garam ataupun pelarut organik, dialisis dan kromatografi (Yanti, 2003).

Daftar Pustaka Day, R.A. dan A.L. Underwood. 2001. Analisis Kimia Kuantitatif edisi keenam. Jakarta : Penerbit Erlangga Zulfikar. 2010. Larutan Penyangga atau Buffer. Tersedia di http://www.chem-is-

try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/larutan/larutan-penyangga-atau-buffer/ Wirahadikusumah, M. 1989. Biokimia (Protein, Enzim, Asam Nukleat). ITB. Bandung. Soendoro, R. 1985. Prinsip-prinsip Biokimia. Buku terjemahan David S. Page. Jakarta: Erlangga. Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press. Panil, Zurbadar. 2008. Memahami Teori dan Praktik Biokimia Dasar Medis. Jakarta: EGC.

Daftar pustaka

Artika, I.M. dan M. Safithri. 2010. Diktat Kuliah Struktur dan Fungsi Subseluler. Bogor: Departemen Biokimia. Girsang, M., et al. 2003. Teknik Sentrifugasi untuk Meningkatkan Penemuan Bakteri Tahan Asam (BTA) dari Sputum Penderita TBC Melalui Metode Zielh-Neelsen. Tersedia di: http://www.litbang.depkes.go.id/media/index [di akses pada tanggal 9 april 2013]. Kimball John W, 1989. Biologi. Edisi ke-5. Jakarta : Erlangga. Levine, N.D. 1990. Textbook of Veterinary Parasitology. Terjemahan Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner, oleh Gatut Ashadi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Petrucci. 1996. Kimia Dasar Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Underwood. 1988. Analisa Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. Yanti. 2003. Pemurnian dan Karakterisasi Protease Cacing Tanah Lumbricus rubellus yang Bersifat Fibrinolitik. Bogor: Ilmu Pangan Program Pascasarjana IPB.