Anda di halaman 1dari 10

PEMERIKSAAN INFERTILITAS Masalah air mani Rupa dan bau Air mani yang baru diejakulasikan rupanyaputih-kelabu, seperti

agar-agar. Setelah berlikuefaksi menjadi cairan, kelihatannya jernih atau keruh, tergantung dari konsentrasi spermatozoa yang dikandung. Baunya langu, seperti bau bunga akasia. Volum Setelah abstinensia selama 3 hari, volum air mani berkisar antara 2,0-5,0 ml. Volum kurang dari 1 ml atau lebih dari 5 ml biasanya disertai kadar spermatozoa rendah. pH Air mani yang diejakulasikan pH-nya berkisar antara 7,3-7,7, yang bila dibiarkan lebih lama, akan meningkat karena penguapan CO2 nya. Bila pH lebih dari 8, mungkin disebabkan oleh peradangan mendadak kelenjar atau saluran genital, bila pH <7,2 mungkin disebabkan peradangan menahun kelenjar. Secret kelenjar prostat pH nya <7 Pemeriksaan mikroskopik

Konsentrasi spermatozoa Cairan pengencernya adalah larutan George yang mengandung formalin 40 %, sehingga spermatozoa menjadi tidak bergerak. Untuk menghitung kadar spermatozoa yang bergerak digunakan larutan NaCl 0,9 %, yang tidak membunuh spermatozoa yang bergerak. Tahun 1929, Macomber dan Saunders menyatakan konsentrasi spermatozoa yang bisa menghamilkan adalah 60 juta/ml. Amelar, tahun 1966, 40 juta/ml atau 125 juta/ejakulat asal morfologi dan gerakan spermatozoa normal. Macleod, menyatakan >20 juta/ml. makin rendah konsentrasi spermatozoa, makin kurang kemungkinan menghamilkannya, dan bila konsentrasi <10 juta/ml, sangat jarang terjadi kehamilan.

Motilitas spermatozoa Lebih penting dari pada konsentrasi. Pada pemeriksaan pasca senggama segera ternyata spermatozoa dapat mencapai lender serviks dalam 1 menit setelah ejakulasi, dan tidak dapat hidup lama dalam secret vagina karena keasamannya yang tinggi. Morfologi spermatozoa Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan dengan pulasan sediaan usap air mani, lalu menghitung jenis spermatozoanya. Uji ketidakcocokan imunologik Uji kontak air mani dengan lender serviks (sperm cervical mucus contact test-SCMC Test) yang dapat menunjukkan adanya antibody local pada pria atau wanita. Masalah vagina Bila terdapat peradangan atau sumbatan. Sumbatan psikogen disebut vaginismus atau disparenia, sedangkan sumbatan anatomic dapat karena bawaan atau didapat. Masalah serviks Migrasi spermatozoa ke dalam lender serviks sudah dapat terjadi pada hari ke-8 atau 9, mencapai puncaknya saat ovulasi, lalu terhambat pada 1-2 hari setelah ovulasi. Spermatozoa sudah dapat sampai di lendir serviks 1 - 3 menit post ejakulasi.spermatozoa yang tertinggal dalam lingkungan vagina lebih dari 35 menit tidak lagi mampu bermigrasi ke lender serviks. Spermatozoa motil dapat hidup dalam lender serviks sampai 8 hari setelah sanggama. Bila terdapat sumbatan kanalis servikalis, lender serviks yang abnormal, malposisi, atau kombinasi. Kelainan anatomi, seperti polip, atresia, stenosis karena trauma, peradangan menahun (servisitis). Uji pascasanggama Kebanyakan peneliti bersepakat untuk melakukannya pada tengah siklus haid. Uji pasca sanggama dilakukan secepatnya setelah sanggama. Jette dan Glass menemukan peningkatan
2

persentase kehamilan yang secara statistic bermakna kalau terdapat lebih dari 20 spermatozoa/LPB; dan tidak berbeda bermakna pada golongan 1-5, 6-10, atau 11-20 spermatozoa/LPB. Cara pemeriksaan Setelah abstinensia selama 2 hari, pasangan dianjurkan lakukan sanggama 2 jam sebelum saat yang ditentukan. Dengan speculum kering serviks ditampilkan, lalu lendir dibersihkan dengan kapas kering. Jangan gunakan kapas basah oleh antiseptic karena dapat mematikan spermatozoa. Diliat di bawah mikroskop. Uji in vitro Uji gelas objek Dengan menempatkan setetes air mani dan setetes lendir serviks pada gelas objek, lalu disinggungkan. Spermatozoa akan tampak menyerbu ke lendir serviks. Uji kontak air mani dengan lendir serviks Menurut Kremer & Jager, pada ejakulat dengan autoimunisasi, gerakan maju spermatozoa akan berubah menjadi terhenti, atau gemetar di tempat kalau bersinggungan dengan lendir serviks, ini menandakan adanya antibody pada serum serviks terhadap spermatozoa. Uji dilakukan dengan cara setetes lendir serviks dicampur dan diaduk dengan tetesan air mani di atas gelas objek, lalu bandingkan motilitas spermatozoa dengan tetesan air mani di sebelahnya. Uji ini untuk menyelidiki adanya factor imunologi apabila ternyata uji pascasanggama selalu negative atau kurang baik, sedangkan kualitas air mani dan lendir serviks normal. Perbandingan banyaknya spermatozoa yang gemetar di tempat, yang maju pesat, dan yang tidak bergerak mungkin menentukan prognosis fertilitas pasangan. Masalah uterus Spermatozoa dapat ditemukan dalam tuba fallopii manusia secepat 5 menit setelah inseminasi. Kontraksi uterus dan vagina berperan penting dalam transportasi spermatozoa. Kurang nya prostaglandin dalam air mani dapat merupakan masalah infertilitas, karena berperan dalam transportasi spermatozoa dengan jalan membuat uterus berkontraksi. Selain itu dapat
3

disebabkan distorsi kavum uteri karena sinekia, mioma, polip, peradangan endometrium, dan lain-lain. Biopsi endometrium Bila ingin mengetahui pengaruh hormone estrogen atau yang lain selain hormonal, maka biopi dilakukan pada hari ke-14. Bila ingin mengetahui peradangan menahun (TBC), ovulasi, atau neoplasia, biopsy dilakukan setelah ovulasi. Umumnya waktu yang terbaik untuk biopsy adalah 5 6 hari setelah ovulasi, yaitu sesaat sebelum terjadinya implantasi blastosis pada pemukaan endometrium. Bila terjadi defek fase luteal yaitu korpus luteum tidak menghasilkan cukup progesterone, menurut Speroff et al., siklus haid dengan defek luteal yang berulang hanya terjadi pada kurang dari 4 % pasangan infertil. Histerosalpingografi (HSG) Menyuntikkan kontras dengan kateter pediatric foley, diawasi dengan fluoroskopi. HSG yang baik dapat memberikan keterangan tentang seluk-beluk kavum uteri, patensi tuba, bila tuba paten dapat perlihatkan peritoneum. Histeroskopi Adalah peneropongan kavum uteri yang sebelumnya telah digelembungkan dengan media dekstran 32 %, glukosa 5 %, garam fisiologik, atau gas CO2. Dilakukan pada infertilitas, dengan: Kelainan pada HSG Riwayat abortus habitualis Miom atau polip submukosa Perdarahan abnormal dari uterus

Sebelum lakukan bedah plastic tuba, untuk menempatkan kateter sebagai splint pada bagian proksimal tuba. Tidak dilakukan biladiduga ada infeksi akut rongga panggul, kehamilan, atau perdarahan banyak dari uterus Masalah tuba Pertubasi Atau uji rubin, bertujuan memeriksa patensi tuba dengan jalan meniupkan gas CO2 melalui kanula atau kateter foley yang terpasang pada kanalis servikalis. Apabila kanalis servikouteri dan salah satu atau kedua tubanya paten, maka gas akan mengalir bebas ke dalam kavum peritonei.patensi tuba akan dinilai dari cacatan tekanan aliran gas sewaktu dilakukan peniupan, terdengarnya pada auskultasi suprasimpisis tiupan gas masuk ke dalam kavum peritonei seperti bunyi jet atau nyeri bahu segera setelah pasien dipersilakan duduk sehabis pemeriksaan, akibat terjadi penggumpalan gas di bawah diafragma. Indikasi kontra adalah kehamilan yang belum disingkirkan, peradangan alat kelamin, perdarahan uterus, dan kuretase yang baru dilakukan. Saat terbaik untuk dilakukan pertubasi adalah setelah haid bersih dan sebelum ovulasi, atau pada hari ke 10 siklus haid. Masalah ovarium Ovulasi yang jarang terjadi dapat menyebabkan infertilitas. Bagi pasangan infertile yang bersenggama teratur, cukup dianjurkan senggama 2 hari sekali pada minggu dimana ovulasi diharapkan akan terjadi. Masalah ovulasi dapat dilihat dari pengamatan korpus luteum, siklus haid yang tidak teratur dengan lama haid yang tidak sama sangat mungkin disebabkan anovulasi. Amenore hamper selalu disertai kegagalan ovulasi. Nyeri perut bawah kiri atau kanan sebagai tanda ovulasi. Keputihan, ketegangan jiwa, nyeri payudara sering terjadi pada siklus haid yang berovulasi. Perubahan lendir serviks Diperiksa berdasarkan perubahan: Bertambah besarnya pembukaan ostium eksterna serviks
5

Bertambah banyaknya jumlah, bertambah panjangnya daya membenang, bertambah jernih, bertambah rendahnyaviskositas Bertambah tingginya daya serbu spermatozoa Peningkatan persentase sel-sel kariopiknotik dan eosinofilik pada usap vagina. Catatan suhu basal Pada pembacaan kurva suhu basal badan, ovulasi terjadi setelah permulaan peningkatan suhu basal badan. Sitologi vagina hormonal Menyelidiki sel-sel yang terlepas dari selaput lendir vagina, sebagai pengaruh hormone-hormon ovarium. Pemeriksaan ini sangat sederhana, mudah, tidak menimbulkan nyeri, sehingga dapat dilakukan berkala pada siklus haid. Tidak ada indikasi kontra. Tujuan : Memeriksa pengaruh estrogen dengan mengenal perubahan sitologik yang khas pada proliferasi Memeriksa adanya ovulasi dengan melihat perubahan sitologik fase luteal lanjut Menentukan saat ovulasi Memeriksa kelainan fungsi ovarium pada siklus haid yang tidak berovulasi. Oei melakukan pemeriksaan dengan cara ; Tablet nimorazol dimasukkan ke vagina 2 hari sebelum pemeriksaan Pemeriksaan terencana hari ke 8, 12, 18, 24 dari siklus haid. Dilarang sanggama, periksa dalam, atau bilas ke dalam vagina, dalam 24 jam pemeriksaan Lihat forniks lateral dengan speculum Lendir vagina di oleskan ke gelas objek

Difiksasi dengan alcohol Diwarnai dengan pulasan Harris-shorr Pemeriksaan hormonal Dilakukan pemeriksaan terhadap FSH, LH, estrogen dan progesterone. Pemeriksaan estrogen serum atau urin memberikan banyak informasi tentang aktivitas ovarium dan penentuan saat ovulasi. Pemeriksaan progesterone plasma atau pregnandiol urin berguna untuk menunjukkan ovulasi. Ovulasi akan diikuti oleh peningkatan progesterone, yang dapat diukur mulai 2 hari sebelum ovulasi, dan sangat nyata pada 3 hari setelah ovulasi. Biopsi endometrium Jarang dilakukan bila pasien mengalami : Masalah peritoneum Dengan menggunakan laparoskopi diagnostik, Esposito menganjurkan sebaiknya dilakukan 6-8 bulan setelah pemeriksaan infertilitas dasar selesai dilakukan. Albano, indikasi laparoskopi diagnostic: 1 tahun pengobatan belum juga hamil Siklus haid tidak teratur, atau suhu badan basal monofasik Istri berumur >28 tahun, atau infertile selama >3 tahun Riwayat laparotomi Pernah HSG Riwayat apendisitis Pertubasi abnormal Tersangka endometriosis Akan lakukan inseminasi buatan
7

Waktu terbaik adalah segera setelah ovulasi. Laparoskopi untuk melihat kelainan tuba seperti tuba fimosis, melihat rongga perut, melihat adanya endometriosis, dan lain-lain. Penanggulangan Air mani abnormal Lakukan sanggama berencana pada saat subur istri Varikokel Lakukan operasi. Dua pertiga pria dengan varikokel yang dioperasi akan alami perbaikan dalam motilitas spermatozoanya. Sumbatan vas Operasi vasoepididimostomi belum memuaskan hasilnya. Infeksi Diberikan antibiotik, dengan pilihan yang dapat terkumpul dalam traktus genitalis dalam jumlah besar, seperti eritromisin, dimetilklortetrasiklin, dan trimetoprimsulfametoksazol. Defisiensi gonadotropin Diberikan LH dalam bentuk HCG selama 3 bulan dengan dosis 1000 dan 3000 IU, dua atau tiga kali seminggu. pada beberapa orang terkadang memerlukan pengobatan HCG dan FSH untuk merangsang spermatogenesis. Diberikan preparat 3-4 ampul ejakulatnya. Oleh karena itu, monitor air mani setiap bulan. Hiperprolaktinemia Dengan memberikan dopamine agonis 2-bromo-alfa-ergo-kriptin. Uji pascasanggama yang abnormal Diberikan Dietil stillbestrol (DES) dengan dosis 0,1-0,2 mg per hari dimulai pada hari ke lima sampai keduapuluh dari siklus haid, baik bila penyebabnya adalah kualitas dan jumlah lendir
8

setiap minggu, dengan lama

pengobatan bervariasi antara 4 bulan sampai 2 tahun, hingga ditemukannya spermatozoa dalam

serviks yang sedikit. Klomifen sitrat digunakan bila penyebabnya lendir serviks yang kurang baik akibat perkembangan folikular yang tidak adekuat. Inseminasi buatan dapat dilakukan pada kasus normospermia volum rendah dna oligospermia ringan. Masalah tuba yang tersumbat Bila dengan riwayat infeksi pelvik, dapat diberikan antibiotic jangka panjang selama 6-12 bulan. Endometriosis dapat diobati dengan pil-kb, progesterone, atau danazol. Dilakukan pembedahan, atas indikasi tersumbatnya seluruh atau sebagian tuba, tidak dapat dilakukan bila kalau hasil analisis air mani suami abnormal, dan penyakit pada istri yang tidak dibolehkan hamil. Tujuannya adalah untuk memperbaiki dan mengembalikan anatomi tubadan ovarium. Saat yang paling tepat dilakukan pembedahan adalah pada tengah proliferasi, dan jangan fase sekresi. Endometriosis 1. Menunggu sampai kehamilan sendiri Dengan mempertimbangkan usia dan lama infertilitas 2. Hormonal Pil KB yang berkhasiat kuat seperti noretinodrel 5 mg + mestranol 75 mikrogram (enovid), dengan 1-2 tablet sehari, lalu dinaikkan dengan 1-2 tablet setiap minggu, sampai pasien mendapat 20 mg (4 tablet) sehari, selama 6-9 bulan. Danazol dengan dosis 200mg, 2 kali 2 kapsul atau 4 kali 1 kapsul sehari, selama 6 bulan atau hingga hasil memuaskan. Induksi ovulasi dengan klomifen sitrat Klomifen sebagai pilihan utama pasien dengan siklus haid yang tidak berovulasi dan oligomenore, amenore sekunder yang kadar FSH, LH, dan prolaktin normal. Bila haid klomifen diberikan pada hari kelima sampai hari kesembilan selama 5 hari. Bila tidak haid, buat perdarahan surut dengan 5 mg noretisteron, 2 kali sehari selama 5 hari, klomifen diberikan hari ke lima setelah perdarahan surut. Dosis nya adalah 50 mg perhari selama 5 hari.

Terdapat 4 kemungkinan hasil, yaitu


9

1.Terjadi ovulasi. 2. Hanya pematangan folikel, mungkin dengan ovulasi yang lambat atau defek korpus luteum 3. Pematangan folikel tanpa ovulasi 4. Tak ada reaksi sama sekali Bila kemungkinan 1, pengobatan diulang, kemungkinan 2 pengobatan diulang, bila hasil sama dosis dinaikkan. Kemungkinan 3, pengobatan diulang, dosis sama ditambah HCG 30005000 IU selama 5-7 hari setelah dosis klomifen dimakan. Kemungkinan 4, dosis dinaikkan setiap siklus, dimulai dengan 100 mg perhari selama 5 hari dan berakhir dengan dosis maksimal 200 mg per hari selama 5 hari

DAFTAR PUSTAKA 1.Pritchard, dan MacDonald, G. (2001), Obstetri Williams, Edisi Ketujuhbelas, Airlangga University Press, Jakarta. 2.Tosca enterprise (2007), Obgynacea. 3.Mochtar, R. (2004), Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi, Edisi III, EGC, Jakarta. 4.Achadiat, C.M. (2004), Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi, EGC, Jakarta. 5.Depkes RI, (2002), Pedoman Teknis Pelayanan Kesehatan Dasar, Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial, Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Kesehatan Keluarga, Jakarta. 8. Dasar-Dasar Obstetri dan Ginekologi, Edisi 6, EGC, Jakarta. 9.Manuaba, I.B.G. (2001), Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta. 12.Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 13.World Health Organization.

10