Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN HASIL DISKUSI KELOMPOK PROBLEM BASE LEARNING DISTOSIA

PEMBIMBING :dr. Ida Royani KELOMPOK 4A Risqa Aulia Nura Ulfa Nahlazaimah Jainuddin Iva Astriva Ahmad Cok Erly Merlin Fuad Try Khalas Amelia Rosiana Andi Muldiani Dwi R. Andi Muldiana Dwi R. Amalia Dwi Ananda K. sanrang 1102100002 1102100012 1102100001 1102100151 1102110152 1102100124 1102100032 1102100136 1102100137 1102100099

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA 2013

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan atas limpahan rahmat, taufik dan hidaya-NYA sehingga laporan hasil tutorial modul 1 pada skenario 1 dari kelompok 4A ini dapat terselesaikan dengan baik. Tidak lupa kami kirimkan salam dan shalawat kepada nabi junjungan kita yakni Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita dari alam yang penuh kebodohan ke alam yang penuh kepintaran Kami juga mengucapkan terima kasih kepada setiap pihak yang telah membantu dalam membuat laporan ini dan yang telah membantu selama masa tutorial khususnya kepada dr. Ida Royani telah banyak membantu selama proses PBL berlangsung. Kami juga mengucapkan permohonan maaf pada setiap pihak jika dalam proses PBL telah berbuat salah baik disengaja maupun tidak disengaja. Semoga Laporan hasil tutorial ini dapat bermanfaat bagi setiap pihak yang telah membaca laporan ini dan khususnya bagi tim penyusun sendiri. Diharapkan setelah membaca laporan ini dapat memperluas pengetahuan membaca Distosia. Makassar, April 2013 Kelompok 4A

SKENARIO 1 Seorang wanita usia 19 tahun, tiba di unit gawat darurat RS jam 17.00, dirujuk oleh bidan puskesmas dengan keterangan persalinan tidak maju. Dari anamnesis diketahui ini adalah kehamilan anak pertama, sakit perut tembus ke belakang sejak jam 05.00 subuh disertai pelepasan lender dan darah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tinggi fundus 2 jari bawah processus xiphoideus, punggung di kiri ibu, bagian terendah kepala.Jarak antara simfisis pubis-tinggi fundus uteri 39 cm, lingkar perut ibu 98 cm, perlimaan 5/5.Deyut jantung janin 140 x/menit.His 3x dalam 10 menit dengan durasi 40-45 detik.Pada pemeriksaan dalam vagina didapatkan pembukaan 8 cm, selaput ketuban teraba dan menonjol, bagian terdepan kepala. KATA SULIT 1. Distosia : Kelambatan atau kesulitan persalinan normal. Bisa disebabkan karena kelainantenaga, kelainan letak, dan bentuk janin, serta kelainan jalan lahir. 2. His : His adalah kontraksi uterus yang dapat diraba dan menimbulkan pembukaan servik. Kontraksi rahimdimulai dari kedua face maker yang letaknya dekat kornu uteri, bergerak ke tengah secara digitalkemudian ke bawah dekat servik sehingga kontraksi menjadi sirkuler. 3. Perlimaan : Pemeriksaan penurunan kepala janin dengan menghitung proporsi bagian terbawah janin yang masih berada di tepi atas simpisis pubis dan dapat diukur dengan lima jari tangan pemeriksa 4. Pembukaan : Proses Pembukaan mulut rahim yang dihitung dengan satuan sentimeter (cm) KATA ATAU KALIMAT KUNCI 1. Wanita usia 19 tahun 2. Masuk unit gawat darurat RS jam 17.00, dengan keterangan persalinan tidak maju 3. Kehamilan anak pertama 4. Sakit perut tembus ke belakang sejak jam 05.00 subuh disertai pelepasan lender dan darah 5. Pemeriksaan fisik: a. Tinggi fundus 2 jari bawah processus xiphoideus b. Punggung di kiri ibu, bagian terendah kepala.

c. Jarak antara simfisis pubis-tinggi fundus uteri 39 cm, lingkar perut ibu 98 cm, perlimaan 5/5. d. Deyut jantung janin 140 x/menit. e. His 3x dalam 10 menit dengan durasi 40-45 detik. f. Pada pemeriksaan dalam vagina didapatkan pembukaan 8 cm, selaput ketuban teraba dan menonjol, bagian terdepan kepala.

PERTANYAAN 1. Anatomi alat reproduksi wanita dan jalan lahir ? 2. Jelaskan mekanisme persalinan normal ? 3. Faktor-faktor penyebab distosia ? 4. Apakah hubungan anak pertama dengan distosia ? 5. Bagaimana mekanisme sakit perut tembus ke belakang dengan disertai lender dan darah ? 6. Jelaskan hubungan pemeriksaan fisis yang ditemukan dengan distosia ? 7. Jelaskan tentang proses pemeriksaan dan pemantauan persalinan ? 8. Jelaskan tanda-tanda persalinan ? 9. Jelaskan proses penciptaan manusia dalam perspektif islam ? 10. Jelaskan pengaruh distosia terhadap ibu dan bayi ? 11. Jelaskan penanganan dan pencegahandistosia ?

JAWABAN 1. Anatomi alat reproduksi wanita dan jalan lahir ? Gambar 1. Alat Reproduksi wanita

a. Ovarium, panjang 3 sampai 5 cm, lebar 2 sampai 3 cm, dan tebal 1 cm. Berbentuk seperti kacang kenari. Masing-masing ovarium terletak pada dinding samping rongga pelvis posterior dalam sebuah ceruk dangkal, yaitu fossa ovarian, dan ditahan dalam posisi tersebut oleh mesenterium pelvis. Ovarium adalah satu-satunya organ dalam rongga pelvis yang retroperitoneal. b. Dua tuba uterine (tuba fallopi atau oviduk), menerima dan mentranspor ke uterus seteleah ovulasi. Setiap tuba uterine panjangnya 10 cm dan diameter 0,7 cm, ditopang oleh ligament besar uterus. 1) Fimbriae adalah ujung terbuka menyerupai corong (ostium) pada tuba uterine 2) Ampula adalah bagian tengan segmen tuba uterine 3) Isthmus adalah segmen terdekat dari uterus Dinding tuba uterine terdiri serabut otot polos, jaringan ikat, dan sebuah lapisan epitel bersilia sirkular yang tersusun secara longitudinal dan akan menggerakkan oosit menuju uterus karna getaranya dan kontraksi peristaltic otot polos. Fertilisasi biasanya terjadi di 1/3 bagian atas tuba fallopi.

c. Uterus, organ tunggal muscular dan berongga. Oosit yang telah dibuahi akan tertanam dalam lapisan endometrium uterus dan dipenuhi kebutuhan nutrisinya untuk tumbuh dan berkembang sampai lahir. Uterus berbentuk seperti buah pir terbalik dan dalam keadaan tidak hamil memiliki panjang 7 cm, lebar 5 cm dan diameter 2,3 cm. Umumnya, uterus terfleksi ke depan (terantefleksi) dan teranteversi sehingga letaknya hamper horizontal diatas kandung kemih. Uterus pada dasarnya ditopang oleh lipatan peritoneal, ligament besar yang melekatkan uterus pada dinding pelvis. Dinding uterus terdiri dari bagian terluar perimetrium, bagian tengah meometrium dan bagian terdalam lapisan endometrium.Endometrium menjalani perubahan siklus selama menstruasi dan membentuk lokasi implantasi untuk ovum yang telah dibuahi. 1) Fundus uterus adalah bagian bundar yang letaknya superior terhadap mulut tuba uterin. 2) Corpus uterus adalah bagian luas berdinding tebal yang

membungkus rongga uterus. 3) Serviks adalah bagian leher bawah uterus yang terkonstriksi. 4) Portio vaginalis adalah bagian serviks yang menonjol ke dalam ujung bagian atas vagina. Darah arteri memperdarahi uterus melalui arteri-arteri uterus (berasal dari arteri iliaka interna) dan bercabang menjadi arteri ovarian dan vagina. d. Vagina, tuba fibromuskular yang dapat berdistensi. Organ ini merupakan jalan lahir bayi dan aliran menstrual. Fungsinya sebagai organ kopulasi perempuan. Vagina panjangnya sekitar 8 cm sampai 10 cm. Organ ini menghadap uterus pada sudut sekitar 45o dari vestibula genitalia eksterna dan terletak antara kandung kemih dan uretra disisi anterior dan rectum disisi posterior. Dinding vagina tersusun dari adventisia terluar, satu lapisan otot polos dan epitelium skuamosa bertingkat nonkeratinisasi yang dikenal sebagai lapisan vaginal.Sel-sel pada lapisan vaginal memiliki reseptor yang terikat pada membrane untuk estrogen.

Vagina dilembabkan dan dilumasi oleh cairan yang berasal dari kapiler pada dinding vaginal dan sekresi dari kelenjar-kelenjar serviks.pH cairan vaginal bergantung pada keadaan estrogen. Saat masa reproduktif, cairan vaginal bersifat asam, sebelum pubertas dan setelah menopause pH menjadi basa.Cairan vaginal yang asam dan epitelium yang tebal melindungi vagina dari infeksi bakteri berbahaya. e. Genitalia eksterna, yang secara keseluruhan disebut vulva atau pudendum. Gambar 2. Alat Reproduksi wanita eksterna

1) Mons pubis adalah bantalan jaringan lemak dan kulit yang terletak di atas symphisis pubis. 2) Labia mayora, dua lipatan kulit longitudinal yang merentang ke bawah dari mons pubis dan menyatu di sisi posterior perineum, yaitu kulit antara pertemuan dua lipatan ini dan anus. Labia mayora homolog dengan skrotum pada laki-laki. 3) Labia minora adalh dua lipatan kuli diantara labia mayora. Lipatan ini tidak berambut, tetapi mengandung kelenjar sebasea dan beberapa kelenjar keringat. 4) Klitoris homolog dengan penis pada laki-laki, tetapi lebih kecil dan tidak memiliki mulut uretra. Klitoris terdiri dari dua krura (akar), satu batang (badan), dan satu glans klitoris bundar banyak mengandung ujung saraf dan sangat sensitive. Batang klitoris mengandung dua korpora kavernosum yang tersusun dari jaringan erektil.

5) Vestibula adalah area yang dikelilingi labia minora. 6) Orifisium uretra adalah jalur keluar urine dari kandung kemih. 7) Ostium vagina terletak di bawah orifisium uretra. Himen (selapu dara), suatu membrane yang bentuk dan ukurannya bervariasi, melingkari mulut vaginal. 8) Perineum adalah area bentuk seperti intan yang terbentang dari symphisis pubis disisi anterior sampai ke koksiks di sisi posterior dan ke tuberositas iskial di sisi lateral. Gambar 3. Anatomi Jalan Lahir

Tulang panggul, terdiri dari 1) os koksa yang terdiri dari a) os ilium; b) os iskium; c) os pubis; 2) os sacrum; dan 3) os kiksigis.Tulang-tulang panggul ini satu dengan yang lainnya berhubungan.Didepan terdapat hubungan antara kedua os pubis kanan dan kiri, disebut simfisis.Dibelakang terdapat artikulasio sakroiliaka yang menghubungkan os sacrum dan os ilium.Dibawah terdapat artikulasio sakrokosigea yang menghubungkan os sacrum dan os koksigis. Secara fungsional panggul terdiri dari 2 bagian yang disebut pelvis mayora dan pelvis minor.Bagian yang terletak di atas linea terminalis disebut pelvis mayor atau false pelvis.Bagian yang terletak di bawah linea terminalis disebut pelvis minor atau true pelvis.Bentuk pelvis minor ini menyerupai suatu saluran yang mempunyai sumbu melengkung ke depan (sumbu Carus) sumbu ini secara klasik adalah garis yang menghubungkan titik persekutuan antara diameter tranversa dan konjugata vera pada pintu atas panggu dengan titi-titik sejenis di Hodge II, III, IV. Sampai dekat Hodge III sumbu itu lurus, sejajar dengan

sacrum, untuk seterusnya melengkung ke depan, sesuai dengan lengkungan sacrum. Bidang atas saluran ini normal berbentuk hamper bulat, disebut pintu atas panggul (pelvic inlet). Bidang bawah saluran ini merupakan suatu bidang seperti pintu atas panggul, akan tetapi terdiri atas dua bidang, disebut pintu bawah panggul (pelvic outlet). Diantara dua pintu ini terdapat ruang panggul (pelvic cavity). Pintu Atas Panggul Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk promontorium korpus vertebral sacral 1, linea terminalis dan pinggir atas simfisis pubis. Panjang jarak dari pinggir atas simfisis ke promontorium kurang lebih 11 cm, disebut konjugata vera. Jarak terjauh garis melintang pada pintu atas panggul kurang lebih 12,5-13 cm, diameter transversa. Bila ditarik garis dari artikulasio sakroiliaka ke titik pertemuan antara diameter transversa dan konjugata vera dan diteruskan ke linea terminalis, ditemukan diameter yang disebut diameter oblikua sepanjang kurang lebih 13 cm. Jarak bagian bawah simfisis sampai ke promontorium dikenal sebagai dengan konjugata diagonalis. Secara statistic diketahui bahwa konjugata vera sama dengan konjugata diagonalis dipotong 1,5 cm. Selain kedua konjugata ini, dikenal pula konjugata obstetrika, yaitu jarak dari bagian dalam tengah simfisis ke promotorium. Gambar 5. Pintu atas panggul

Dalam obtetri dikenal 4 jenis panggul yang mempunyai ciri-ciri pintu atas panggul sebagai berikut:

1. Jenis ginekoid: Panggul yang paling baik untuk wanita, bentuk pintu atas panggul hamper bulat. Panjang diameter antero-posterior kira-kira sama dengan diameter transversa. 2. Jenis android: Bentuk pintu atas panggul hamper segitiga. Umumnya pria mempunyai jenis seperti ini, panjang diameter anteroposterior hamper sama dengan diameter transversa. 3. Jenis antropoid: Bentuk pintu atas oanggul agak lonjong, seperti telur. Panjang diameter anteroposterior lebih panjang dari diameter transversa. 4. Jenis platipelloid: Panjang diameter anteroposterior lebih pendek dari diameter transversa. Gambar 6. Jenis-jenis panggul

2. Mekanisme persalinan normal Persalinan normal terdiri dari: a. Persalinan Kala Pertama Seperti yang disebutkan di depan, saat mulainya persalinan kala pertama tidak dapat ditentukan dengan pasti. Untuk mudahnya, diperkirakan persalinan mulai pada saat pasien mengatakan bahwa yerinya menjadi teratur, atau pada saat ia masuk ke rumah sakit dan tanda-tanda persalinan sudah jelas. Kala ini berakhir setelah dilatasi serviks lengkap. Pada awal kala pertama bagian presentasi janin (biasanya kepala, untuk selanjutnya presentasi kepala akan digunakan sebagai bagian presentasi) telah masuk ke dalam pelvis minor sampai batas tertentu. Pada bentuk panggulyang

normal, posisi oksiput berada di diameter transversal panggul pada 75 persen kasus, pada 14 persen asus di diameter oblik, posisi anterior tepat pada 3 persesn kasus, dan diameter posterior pada 8 persen. Persalinan kala pertama dapat dibagi atas fase laten (tenang) dan fase aktif. Pada permulaan fase laten, kontraksi uterus relatif tidak nyeri dengan interval 5-10 menit dan tidak mengganggu pasien. Ketika fase laten ini berlanjut, kontraksi menjadi lebih kuat dan lebih sering tetapi dilatasi serviks relatif lambat. Pada akhir fas ni, ketuban dapat pecah secara spontan. Fase aktif mulai ketika serviks membuka 4-5 cm. Serviks membuka lebih cepat pada fase aktif dan kemajuan persalinan dianggap normal apabila kecepatan dilatasi 0,5-1,0 cm/jam.Pada akhir fase aktif, ketika pembukaan serviks 9 cm, kebanyakan wanita mengeluh nyeri hebat dan ingin mengejan.Karena tidak berguna mengejan pada fase ini, pemeriksaan vagina harus dilakukan untuk mengetahui apakah dilatasi serviks telah lengkap. Lama fase laten dan fase aktif jika berlangsung >12jam pada wanita nulipara atau > 9jam pada multipara. Pada bagian aktif kala pertama, kepala janin turun lebih kedalam panggul ibu dan lebih fleksi. b. Persalinan Kala Kedua Persalinan kala kedua mulai ketika serviks telah membuka lengkap sehingga terbentuk lengkap lengkungan jalan lahir, dan berakhir dengan lahirnya anak.Persalinan kala kedua adalah kala pengeluaran.Dalam kala kedua, janin didorong paksa untuk keluar melalui jalan lahir.Kontraksi uterus menjadi lebih sering dengan interval 2-5 menit dan lebih kuat, berlangsung selama 60-90 detik.Kepala janin turun lebih dalam kepanggul, dan mencapai dasar panggul yang terbentuk saluran melengkung, memutar kearah anterior (rotasi interna) sehingga oksiput terletak dibelakang simfisis pubis.Rotasi anterior terjadi pada 98 persen kasus. Pada 2 persen kasus kepala berotasi ke arah posterior sehingga oksiput terletak di depan sakrum. Sekarang kontraksi uterus ditambah dengan kontraksi otot volunter. Seiring dengan kontrasi uterus, pasien menahan napas, menutup glotis, mencari pijakan kaki, dan menarik napas, menahannya, menggeram, dan mengontraksikan diaphragma dan otot-otot abdomen, untuk mendorong janin turun kedalam panggul. Energi yang dikeluarkan menyebabkan peningkatan denyut nadi,

sehingga ia berkeringat. Ketika kontraksi menurun dan berhenti, ibu istirahat dan sering tertidur sebentar. Ketika kepala janin didorong lebih kedalam panggul pasien mungki mengeluhkan tekanan yang kuat pada rektum atau nyeri yang menjalar kekaki, karena tekanan yang terhadap pleksus saraf sakrum atau saraf obturator. Sekitar 15 menit kemudian anus membuka, memaparkan dinding anteriornya, dan terlihat kepala didalam vagina.Setiap kali kontraksi kepala janin nampak lebih jelas, mundur sedikit disela kontraksi tetapi setiap kali sedikit bertambah maju. Sekarang kepala menekan dinding posterior vagina bawah dan perineum menjadi tipis, teregang, dan kulitnya tegang dan mengkilat.Wanita itu mengeluh perasaan hendak meledak dan ingin mengejan sekalipun tanpa kontraksi uterus.Segera sebagian besar kepala terlihat diantara labia yang teregang, dan prominensia paritalis terlihat.Dengan usaha ekstr, kepala janin lahir dengan mengektensikan lehernya, berturut-turut terlihat dahi, hidung, mulut dan dagu.Mukus mengalir keluar dari mulut dan hidung bayi.Setelah berhenti sejenak, kepala berputar kediameter transversal (rotasi luar).Hal ini menyebabkan bahu berada pada posisi diameter anterior-posterior pada panggul bawah. Selanjutnya bahu lahir, bahu depan keluar dari belakang simpisis dan bahu belakang keluar dari depan perineum, diikuti badan dan tungkai. Bayi tersedak sekali atau dua kali lalu menangis kuat-kuat.Uterus berkontraksi hingga ukurannya sebesar pada kehamilan 20 minggu. Pada persalinan kala kedua, diperlukan kerjasama aktif dari ibu yang sedang melahirkan, untuk membantu kontraksi uterus yang involunter dengan kontraksi otot volunter diaphragma dan otot abdomen, sehingga bersama-sama menekan janin kebawah.Karena kontraksi sangat menyakitkan, kemungkinan diperlukan lebih banyak analgesik atau, jika telah diberikan anstesi epidural, diperlukan tambahan anastesi. Beberapa wanita merasa sakitnya berkurang jika dipijat atau berpindah keposisi lain, termasuk duduk. Sepanjang persalinan kala kedua, seorang staf medis (dan/atau suami atau pasangannya) harus mendampinginya untuk membantu dan memberikan dorongan semangat untuk mengejan pada setiap kali kontraksi uterus dan beristirahat disela-sela kontraksi. Karena pengeluaran energi besar, berkeringat

merupakanal yang lazim dan pasien akan merasa lebih senang apabila wajahnya diusap dengan kain dingin untuk menyeka keringatnya. Selama persalinan kala kedua, kebanyakan wanita lebih suka berbaring setengah duduk diatas tempat tidur dengan sudut 45 , ditopang oleh pasangannya kalau ia menghendaki. Beberapa wanita untuk berdiri, berjongkok atau berlutt sampai kapala janin sudah terlihat pada vulva. Melahirkan bayi sebenarnya lebih mudah apabila wanita setengah berbaring ditemat tidur, tetapi tidak dibenarkan untuk memasang kakinya pada sanggurdi. Kontraksi ibu dicatat dan denyut jantung janin diauskultasi setiap 15 menit. Jika denyut jantung janin turun sampai kurang dari 100 kali per menit., dan bradikardia ini menetap lebih dari 2 menit, harus dilakukan tindakan untuk menentukan penyebabnya. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan vagina untuk memastikan tidak ada prolaps tali pusat.Posisi pasien harus diubah, karena dapat mempengaruhi denyut jantung janin. c. Persalinan Kala Ketiga Persalinan kala ketiga dimulai dari kelahiran bayi sampai pengeluaran plasenta dan selaput ketuban. Pelepasan plasenta berlangsung dari lapisan spongiosa desidua

basalissebagai akibat kontraksi uterus disamping tertraksi uterus setelah anak lahir.Retraksi uterus memperkecil jaringan plasenta menjadi seperempat dari ukurannya pada saat kehamilan, dengan akibat plasenta mencekung kedalam, sehingga merobek pembuluh darah ruang intervillus, dan menyebabkan perdarahan retroplasenta, yang selanjutnya melepaskan plasenta. Proses ini dimulai ketika bayi lahir dan biasanya perlepasan ini berlangsung dalam 5 menit, tetapi plasenta mungkin tertahan didalam uterus lebih lama karena dibutuhkan waktu lebih lama bagi membran terpisah dari desidua dibawahnya. Setelah perlepasan plasenta, susunan anyaman serabut miometrium secara efektif menjepit pembuluh darah yang mensuplai jaringan plasenta, sehingga mengurangi kehilangi darah lebih lnjut, dan mendorong pembentukan plak fibrin pada ujung robekan. d. Persalinan Kala Keempat Evaluasi keadaan ibu setelah persalinan seperti adanya perdarahan itrauteri postpartum, dengan cara evaluasi pada satu jam pertama selama setiap 15 menit dan pada dua jam berikutnya selama setiap 30 menit.

3. Faktorfaktor penyebab Distosia Agar dapat lahir, janin harus mengatasi jalan lahir dengan dorongan dari kontraksi uterus. Faktorfaktor yang memperlambat atau menghambatnya adalah: a. Bentuk dan ukuran jaringan tulang serta jaringan lunak panggul ibu (passage) Tulang panggul Tulang panggul tersusun dari empat tulang, yakni dua tulang inominata, sakrum, dan koksigis, yang dihubungkan oleh tiga sendi. Kalau seorang wanita berdiri tegak, panggul miring ke arah depan. Pintu atas panggul (pelvic inlet) membentuk sudut kira-kira 55 dengan bidang horizontal, sehingga spina iskiadika berada pada bidang horizontal yang sama dengan batas bawah simfisis pubis. Sudut ini bervariasi pada pada setiap oranng dan antar ras; misalnya,orang negro Afrika mempunyaisudut lebih kecil. Sudut > 55 dapat menyebabkan kesulitan turunnya kepala janin ke dalam panggul. Pelvis minor (true pelvis) dibatasi oleh krista pubik, linea iliopektinea dan promontoium sakrum. Pelvis minor berbenuk silinder, yang ujung bawahnya melengkung tumpul dan agak melengkung ke depan. Di bagian anterior pelvis dibatasi tulang-tulang pubis, sepanjang 4,5 cm. Di bagian posterior, batasnya adalah lengkungan sakrum, sepanjang 12 cm. Di bagian lateral dindingnya agak sempit ke arah distal. Dinding ini ditembus foramen obturatum di bagian anterior dan foramen iskiadikum di bagian lateral yang dibagi atas dua bagian oleh ligamen sakrospinosum dan ligamen sakrotuberosum. Untuk tujuan deskrriptif, pelvis minor dibagi atas empat zona.Zona ruang pangul berbentuk baji dan dalam potongan hampir bulat.Zona ini merupakan bagian pelvis minor yang palin luas, diameter anterior posteriornya 13, 5 cm dan diameter transversalnya 12,5 cm. Zona panggul tengah melewati apeks arkus pubikus, spina iskiadika, ligamen sakrospinosum dan ujung sakrum. Zona ini merupakan zona yang paling kecil dan diameter yang paling penting adalah diameter bispina iskiadika yang anjangnya 10,5 cm. Jika zona ini mengecil, bagian presentasi janin mungkin tidak dapat berotasi sehingga dapattertahan. Zona pintu bawah panggul biasanya tidak mengganggu kelahiran kecuali jika rami pubikum sempit, sehingga mengurangi diameter

intertuberosum.Dalam hal ini, dapat terjadi perlambatan persalinan dan jaringan

lunak perineum mungkin robek atau rusak.Sumbu jalan lahir sesuai dengan arah jalan yang dilalui bagian presentasi janin, biasanya kepala, sewaktu melewati jalan lahir.

Panggul Obstetrik Ideal Tepi Panggul Bulat atau oval transversal Tonjolan promontorium sakrum tidak terlalu meninjol Diameter anterior posterior 12 cm Diameter transversal 13 cm Bidang pintu masuk penggul tidak kurang dari 55 Rongga Dangkal dengan dinding samping lurus Tonjol spina iskiadika tidak besar Ligamentum sakrospinosum sekuran-kurangnya 3,5cm Pintu keluar panggul Arkus pubis bulat Sudut subpubik >80 Diameter intertuberosa sekurang-kurangnya 10 cm

Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk dan ukuran panggul Perubahan kecil bentuk panggul sering didapati saat banyak wanita menjalani pemeriksaan pelvimetri radiologis rutin, tetapi hanya sedikit dari kelainan itu yang memperlambat kelahiran.Wanita kecil cenderung mempunyai tulang panggul yang lebih kecil tetapi juga cenderung mengandung bayi yang lebih kecil.Perubahan yang lebih berat terdapat pada populasi yang masih ada rakitis dan osteomalasia tetapi kini keadaan ini jarang dijumpai di negara-negara maju.

Jaringan lunak pada panggul wanita 1. Uterus pada kehamilan dapat dibagi atas tiga bagian: Segmen atas uterus Bagian uterus ini terdiri dari fundus dan bagian uterus yang terletak di atas refleksi lipatan vesiko-uterina peritoneum.Segmen ini mengalami

hiperplasia dan hipertrofi otot paling besar selama kehamilan.Pada persalinan, segmen ini memberikan kontraksi yang kuat untuk mendorong janin ke jalan lahir. Segmen bawah uterus Bagian uterus ini terletak di antara lipatan vesiko-uterina peritoneum di sebelah atas dan serviks bawah.Selama kehamilan bagian atas serviks termasuk ke dalam segmen bawah uterus, yang meregang untuk mengakomodasi bagian presentasi janin.Ketika kontraksi otot segmen atas meningkatkan frekuensi dan kekuatanna pada kehamilan lanjut, segmen bawah uterus berkembang lebih cepat lagi dan teregang secara radial untuk memungkinkan turunnya bagian presentasi janin.Pada saat persalinan, seluruh serviks menyatu menjadi bagian segmen bawah uterus yang teregang. Serviks uterus Serviks uterus merupakan bagian uterus yang terdapat mulai dari persambungan fibromuskular di atas sampai ostium serviks eksternum di sebelah inferior.Tepi atasnya bukan suatu tempat ang jelas, karena kebanyakan serabut miometrium berujung sebagai suatu kerucut otot yang menonjol ke dalam jaringan kolagen yang menyusun 90% bagian serviks.Beberapa serabut otot tipis terdapat di antara berkas-berkas kolagen dan membentuk 10% dari jarinan serviks.Endometrium berhenti sampai setinggi kerucut otot dan menjadi satu lapisan sel endoservikal kuboid yang terlipat menjadi celah-celah.Pada kehamilan lanjut, serviks menjadi llunak karena perubahan-perubahan kimiawi di dalam serabut kolagen, dan menjadi lebih pendek karena tergabung ke dalam segmen bawah uterus.Bagian ini juga mengalami berbagai derajat dilatasi.Perubahan-perubahan ini secara kolektif disebut pematangan serviks.Perubahan ini dapat terjadi secara mendadak atau bertahap kapan pun setelah kehamilan minggu ke 34, tetapi biasanya terjadi dekat term, terutama pada primigravida. Pada kehamilan minggu ke 34 dilatasi serviks 2 cm atau lebih pada 20% primigravida dan pada 40% multigravida; dan proporsi ini meningkat sampai term.

Pada permulaan persalinan, serviks primigravida telah matang, dan sebagian, atau tidak, mengalami penipisan (yakni, menjadi bagian dari segmen uterus bawah).

2.

Otot dasar panggul Dasar panggul terdiri atas kelompok otot levator ani, yang keluar dari masing-masing sisi panggul pada permukaan posterior pubis, dari kondensasi fasia (garis putih) yang menutup otot obturator internus, dan sisi pelvik spina iskiadika. Otot tersbut mempunyai beberapa bagian otot yang diberi nama otot pubkoksigeus, otot levator ani dan otot koksigeus. Serabut-serabut otot ini melandai ke arah bawah dan ke depan serta saling berjalin dengan serabut-serabut dari kelompok levator ani paa sisi yang berlawanan sehingga membentuk diafragma otot tempat lewatnya uretra, vagina dan ektum. Otot-otot ditutupi fascia dan membentuk diafragma pelvis.

3. Perineum Perineum (korpus perineum) adalah jaringan yang terletak di sebelah distal diafragma pelvis. Jaringan ini berbentuk piramid dan dibatasi di sebelah atas oleh permukaan bawah diafragma pelvis; di lateral oleh vulva dan anus. Perineum dapat dibagi lagi menjadi trigonum urogenital di anterior dan trigonum anal di posterior oleh otot-otot perineum melintang.Perineum mengandung sejumlah otot superfisial, sangat

vaskular, dan berisi jaringan lemak.Kepentingan sewaktu melahirkan adalah bahwa jaringan ini kerap rusak katika janin dilahirkan. Penangannya adalah jika bayi kecil dapat dilakukan persalinan pervaginam, tetapi pasien punya hak untuk diberikan pilihan untuk dapat melakukan seksio sesarea jika pasien menolak bisa dilakukan persalinan pervaginam. Namun, jika bayi besar pasien dijelaskan pada saat kehamilan mendekati persalinan jika melakukan pemeriksaan Antenatal Care dengan menjelaskan kepada pasien tentang ukuran panggulnya sehingga pasien dapat memutuskan pilihannya secepat mungkin untuk memilih operasi seksio sesarea.

Hubungannya dengan skenario adalah pada passage ini tidak dijelaskan pada skenario sehingga tidak dapat ditentukan bagaimana passage dari ibu tersebut.

b. Besarnya janin (passenger) Janin dapat mempengaruhi jalannya kelahiran karena ukuran dan presentasinya.Dari semua bagian janin merupakan bagian yang paling kecil mendapat tekanan. Namun, karena kemampuan tulang kepala untuk molase satu sama lain, janin dapat masuk melalui jalan lahir asalkan tidak terlalu besar dan kontraksi uterus cukup kuat. Ukuran janin Ukuran janin besar > 4000 gr tidak mudah dilahirkan pervaginam, meskipun ukuran panggul ibu normal. Presentasi janin Presentasi janin dipakai untuk menetukan bagian janin yang terbawah. Sehingga, presentasi janin dapat menyebabkan perpanjangan masa persalinan karna presentasi bayi terdiri dari: Presentasi kepala Untuk presentasi kepala, normalnya adalah presentasi belakang kepala (fleksi), sedangkan yang abnormal adalah presentasi puncak kepala (defleksi ringan), presentasi dahi (defleksi sedang), dan presentasi muka (defleksi berat).Karena jika posisi kepala fleksi maka bayi mudah keluar sehingga dapat berputar sesuai putaran rotasinya.Namun jika posisi defleksi maka dapat terjadi ruptur perineum, karena defleksi memiliki diameter luas untuk keluar. Penatalaksanaannya adalah dapat dilakukan persalinan pervaginm namun ibu lebih banyak memerlukan bantuan, analgesik untuk mengatasi nyerinya yang lama, dan hidrasi agar ibu tidak dehidrasi.Dapat dilakukan prosedur forsep Kjelland jika kepala bayi tertahan di panggul. presentasi bokong atau letak sungsang Untuk presentasi bokong atau letak sungsang juga merupakan posisi abnormal dari janin, karena bagian terendah adalah bokong dimana jika bokong keluar, kemungkinan kepala bayi sulit keluar karna kepala bayi umumnya lebih

besar daripada badannya dan juga bokong memiliki struktur lebih lunak dari kepala sehingga jika terjadi kontraksi uterus molase bayi kurang. Penatalaksanaannya adalah seksio sesarea elektif pada saat term.Karena risiko-risiko seperti perdarahan intrakranial, asfiksia, dan fraktur humerus, feur, dan klevikula.Dan untu melahirkan pervaginam dapat dilakukan tergantung keahlian dokter yang menangani.

Presentasi bahu atau letak lintang Untuk presentasi bahu atau letak lintang sendiri merupakan letak tidak stabil karena salah satu bahu bayi berada pada segmen bawah. Sehingga susah untuk dipaksa keluar. Penatalaksanaanya adalah jika presentasi bahu tida terdeteksi hingga saat persalinan mulai, seksio sesaria merupakan pilihan lebih disukai, walaupun dianjurkan manuverr untuk memandu kepala janin agar terletak di atas tepi atas panggul dan memecahkan selaput ketuban. Hubungannya dengan skenario adalah didapatkan janin dengan bagian terdepan atau segmen terbawahnya adalah kepala.Tapi tidak dijelaskan bahwa kepala dalam posisi bagaimana sehingga kemungkinan bayi dalam posisi presentasi kepala abnormal. Serta ukuran bayi kemungkinan besar karena didapatkan dari Rumus Johnson bahwa ukuran bayinya sebesar 4030 gram menandakan bahwa janin besar.

c.

Kualitas dan frekuensi kontraksi uterus (power) Mometrium dibentuk dari serabut-serabut otot yang saling terjalin dari kedua duktus Muller.Bagin tengah duktus saling menyatu dan septum sentralnya lenyap sehingga membentuk sebuah organ berongga-uterus. Miometrium mempunyai tiga lapisan: Lapisan tipis longitudinal di sebelah luar Lapisan spiral di tengah yang tebal, ukurannya semakin mengecil ke arah serviks dan hanya membentuk 10% jaringan serviks. Lapisan dalam sirkular yang tipis. Setiap serabut otot tersusun atas berkasberkas serabut fibril, yang masing-masing terbentuk dari sel-sel berbentuk kumparan dengan panjang rata-rata 200 mm dan diameter 7 mm. Sel-sel

ini terdiri dari serabut-serabt kontraktil yang lebih kecil dan tersusun dari rantai aktin dan miosin yang saling terjalin dan dibungkus oleh membran yang permiabel.

Ciri-ciri kontraksi miometrium Uterus berkontraksi secarat teratur sejak awal kehamilan.Hingga akhir kehamilan kontraksi uterus (kontraksi Braxton Hicks) tidak menimbulkan rasa nyeri.Setiap kontraksi mengakibatkan peninggian tekanan intra-uteri dengan amplitudo atau intensitas berbeda-beda. Kontraksi ini terdiri dari dua elemen: peninggian secara cepat sampai mencapai puncak dan pemulihan secara lambat meuju tonus stirahat. Untuk tujuan deskiptif, intensitas kontraksi dikalikan dengan frekuensi kontraksi (per 10 meit) memberikan suatu ukuran aktivitas uterus, yang dinyatakan dalam unit Montevideo. Frekuensi his adalah jumlah his dalam waktu tertentu.Amplitudo dikalikan dengan frekuensi his dalam 10 menit menggambarkan keaktifan uterus dan ini diukur dengan unit Montevideo. Umpama amplitudo 50 mmHg, frekuensi His 3x dalam 10 menit, maka aktivitas uterus adalah 50 x 3 = unit Montevideo. Nilai yang adekuat untuk terjadinya persalinan ialah 150-250 unit Montevideo. Kelainan aktivitas uterus yang tidak efisien, yakni: Aktivitas uterus hipoaktif, dimana intensitas kontraksi berkurang dan tonus agak menurun. Tonus istirahat uterus rendah dan intensitas ontraksi lebih lemah sehingga hanya terjadi peyebaran gelombang kontraktil yang lemah saja. Kontraksi terjadi dengan interval yang lebih panjang daribiasanya dan tidak menimbulkan kesakitan yang berat pada pasien. Aktivitas hiperaktif yang tidak terkoordinasi. Persepsi nyeri pada persalinan normal biasanya hanya dirasakan ketika tonus uterus melebihi 25 mmHg. Pda aktivitas uterus hiperaktif yang tidak terkoordinasi, tonus uterus istirahat lebih tinggi; akibatnya ambang nyeri lebih cepat tercapai selama kontraksi dan nyeri menetap lebih lama. Meskpun kontraksi kuat, dilatasi serviks lambat, karena triple gradientnya terbalik. Penatalaksanaanya Harus dinilai keadaan fisik dan psikologis

pasien.Harus dicari dehidrasi dan asidoketosis dan jika ada, harus dikoreksi

dengan infus larutan Hartmann secara cepatnya.Setelah itu, larutan Hartmann diganti-ganti dengan infus glukosa 5 persen dengan kecepatan 50-100 ml per jam.

Hubunganya dengan skenario adalah pada skenario didapatkan his 3 x dalam 10 menit dengan durasi 40-45 detik.Kemungkinan his normal tapi belum adekuat karena intensitasnya tidak diketahui.

4.

Apakah hubungan anak pertama dengan distosia ? Lama persalinan tidak mudah ditentukan secara tepat karena permulaan persalinan sering tidak jelas dan bersifat subyektif.Dalam studi terhadap wanita, yang persalinannya mulai secara spontan, terdapat variasi yang luas untuklama persalinan. Persalinan biasa lebih singkat apabila pasien tahu tentang fisiologi persalinan normal, dalam keadaan sehat sewaktu memulai persalinan dan percaya penuh kepada petugas yang merawatnya dan bersikap tenang. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi lama persalinan utamanya pada primigravida antara lain yaitu usia, paritas, pengetahuan mengenai proses melahirkan, besarnya janin dan posisinya di dalam uterus. Primigravida yang muda ialah yang umurnya antara 12-16 tahun, persalinan pada umumnya berlangsung seperti biasa tetapi pada primigravida lebih sering mengalami masalah dalam proses persalinannya dikarenakan dari beberapa faktor di atas dan juga lebih sering lagi didapatkan toxaemia. Sembilan puluh persen wanita nulipara (para 0) diharapkan melahirkan dalam 16 jam, wanita multipara diharapkan proporsi yang sama (para 1+) akan melahirkan dalam 12 jam.

5. Bagaimana mekanisme sakit perut tembus ke belakang dengan disertai lender dan darah ? Nyeri akibat kontraksi uterus sebagian disebabkan iskemia yang terjadi pada serabut miometrium.Karena serabut lebih banyak dan kontraksi lebih kuat pada segmen atas uterus, nyeri dirasakan lebih hebat pada distribusi kutan saraf-saraf kutaneus T12 dan L1.Pada permulaan kontraksi hanya dirasakan sedikit nyeri.Keadaan ini meningkat ketika kontraksi bertambah kuat.

Banyak wanita sewaktu persalinan mengeluh nyeri punggung, yang mungkin hebat. Ini terjadi sewaktu dilatasi serviks ketika segmen bawah uterus berkontraksi lebih kuat dari biasanya, atau ketika tidak timbul triple descending gradient. Nyeri pada persalinan kala kedua disebabkan oleh kontraksi uterus dan peregangan vagina, jaringan panggul dan jaringan perineum.Nyeri ini dirasakan di punggung, panggul sampai paha. Persepsi nyeri selama persalinan meningkat jika wanita tersebut gelisah dan takut dan pengetahuan tentang proses kelahiran sedikit. Salah satu alasan pelatihan melahirkan adalah untuk mengurangi rasa takut dan memperbaiki pemahaman ibu tentang melahirkan. Inervasi uterus terutama terdiri atas sistem saraf simpatetik dan untuk sebagian terdiri atas sistem parasimpatetik dan serebrospinal.Sistem

parasimpatetik berada di dalam panggul di sebelah kiri dan kanan os sakrum, berasal dari saraf sakral 2,3, 4, yang selanjutnya memasuki pleksus frankenhauser.Sistem simpatetik masuk ke rongga panggul sebagai pleksus hipogastrikus melalui bifurkasio aorta dan promontorium terus ke bawah menuju pleksus Frankenhauser.Pleksus ini terdiri atas ganglion-ganglion berukuran besar dan kecil yang terletak terutama pada dasar ligamentum sakrouterina.Serabutserabut saraf tersebut di atas memberi inervasi pada miometrium dan endometrium.Kedua sistem simpatetik dan parasimpatetik mengandung unsur motorik dan sensorik.Kedua sistem bekerja antagonistik.Saraf simpatetik menimbulkan kontraksi dan vasokontriksi, sedangkan yang parasimpatetik sebaliknya, yaitu mencegah kontraksi dan menimbulkan vasodilatasi.Saraf yang berasal dari torakal 11 dan 12 mengandung saraf sensorik dari uterus dan meneruskan perasaan sakit dari uterus ke pusat saraf (serebrum).Saraf sensorik dari serviks dan bagian atas vagina melalui saraf sakral 2,3, dan 4, sedangkan yang dari bagian bawah vagina melalui nervus pudendus dan nervus ileoinguinalis. Adanya his yang merupakan kontraksi otot-otot rahim pada persalinan yang merupakan salah satu tenaga yang mendorong anak keluar. Walaupun his itu suatu kontraksi dari otot-otot rahim yang fisiologis akan tetapi bertentangan dengan kontraksi fisiologis lainnya, bersifat nyeri. Nyeri ini mungkin disebabkan oleh anoxia dari sel-sel otot-otot waktu kontraksi, tekanan pada ganglia dalam cerviks dan segmen bawah rahim oleh serabut-serabut otot-otot yang

berkontraksi, regangan dari cerviks karena kontraksi atau regangan dan tarikan pada peritoneum waktu kontraksi. Perasaan nyeri tergantung juga pada ambang nyeri dari penderita yang ditentukan oleh keadaan jiwanya.Kontraksi rahim bersifat otonom tidak dipengaruhi oleh kemauan, walaupun begitu dapat dipengaruhi dari luar misalnya rangsangan oleh jari-jari tangan dapat menimbulkan kontraksi. Keluarnya lendir berdarah dari jalan lahir disebabkan oleh adanya pendataran dan pembukaan, lendir dari canalis cervicalis keluar disertai dengan sedikit darah.Perdarahan yang sedikit ini disebabkan karena lepasnya selaput janin pada bagian bawah segmen bawah rahim hingga beberapa capillair terputus. Hal ini merupakan tanda-tanda persalinan, selain itu tanda persalinan lainnya juga bisa ditandai dengan adanya his pembukaan yang sifatnya antara lain nyeri melingkar dari punggung memancar ke perut bagian depan, teratur, makin lama makin pendek intervalnya dan makin kuat intensitasnya, kalau dibawa berjalan bertambah kuat dan mempunyai pengaruh pada pendataran dan atau pembukaan cerviks. Selain itu ditandai juga dengan keluarnya cairan yang dalam jumlah banyak dari jalan lahir. Hal ini terjadi kalau ketuban pecah atau selaput janin robek.Ketuban itu biasanya pecah, kalau pembukaan lengkap atau hampir lengkap dan dalam hal ini keluarnya cairan merupakan tanda yang lambat sekali.Tetapi kadang-kadang ketuban itu pecah pada pembukaan kecil, malahan kadang-kadang selaput janin robek sebelum persalinan. Walaupun selaput robek sebelum persalinan, kita boleh mengharapkan bahwa persalinan akan mulai dalam 24 jam setelah air ketuban keluar.

6. Jelaskan hubungan pemeriksaan fisis yang ditemukan dengan distosia ? 1. Tinggi Fundus Uteri Tinggi fundus uteri adalah tinggi puncak tertinggi rahim sesuai usia kehamilan. Biasanya pengukuran ini dilakukan saat pemeriksaan abdomen ibu hamil tepatnya saat melakukan leopord 1. Dari pengukuran TFU dapat

diketahui tafsiran usia gestasi dan tafsiran berat badan janin. Pengukuran TFU menggunakan jari pemeriksa aebagai alat ukurnya, namun kelemahannya tiap orang memiliki ukuran jari yang berbeda TFU lebih baik diukur menggunakan metylen dengan satuan cm, ujung metylen ditempelkan pada simpisis pubis sedangkan ujung lain ditempelkan di puncak rahim.

Tinggi Fundus Uteri untuk mengetahui tafsiran usia kehamilan (UK) a) Jika fundus belum melewati pusat :UK (minggu)= hasil ukur + 4 b) Jika fundus sudah melewati pusat : UK (minggu)= hasil ukur + 6 Umur kehamilan (minggu) 12 16 20 24 28 32 3 jari diatas simpisis simpisis-pusat 3 jari dibawah pusat Setinggi pusat 3 jari diatas pusat Setengah pusat-proc.xiphoideus 20cm 23cm 26cm 30cm TFU (Tinggi Fundus Uteri) Cm

36 40

Setinggi proc.xiphoideus 4cm dibawah proc. xiphoideus

33cm

Hasil pengukuran TFU pasien adalah 2 jari dibawah processus xiphoideus yaitu 39 cm jadi usia kehamilan pasien sekitar 37-40 minggu. Hal ini berarti bahwa TFU pasien Normal.

Sumber : ilmu kebidanan. Hanifa wiknjosastro. Sinopsis obstetri fisiologi dan obstetri patologi edisi 2. Rustan Mochtar. Halaman 53

2. Presentasi dan bagian terendah kepala Persentasi menunjukkan bagian janin yang terdapat dibagian terbawah jalan lahir.Bagian janin terbawah menyebutkan persentasi janin tersebut. Pada letak memanjang, bagian terbawah dapat kepala atau bokong disebut persentasi kepala atau persentasi bokong.Pada letak melintang, bagian terbawahnya bahu disebut persentasi bahu.Persentasi kepala dapat bermacammacam, tergantung sikap kepala terhadap badan janin.Apabila kepala fleksi maksimal, bagian terbawahnya belakang-kepala (verteks) disebut persentasi belakang kepala (verteks).Apabila kepala defleksi maksimal, bagian terbawahnya muka disebut persentasi muka.Apabila janin bersikap antara kedua ekstrim ini, maka terdapat persentasi sinsiput dengan bagian terbawahnya dahi disebut persentasi dahi. Kedua persentasi terakhir ini hanya merupakan persentasi transisi, karena dengan majunya partus akan berallih menjadi persentasi belakang kepala (verteks) atau persentasi muka. Didapatkan pemeriksaan fisis pada skenario persentase bagian terdepan kepala, hal ini tidak normal karena persentase normalnya adalah persentase belakang kepala. Persentase verteks

Sumber : WHO,managing complications in pregnancy and childbirth

Persentasi muka

Sumber : WHO,managing complications in pregnancy and childbirth

Persentasi dahi

Sumber : WHO,managing complications in pregnancy and childbirth. Ilmu kebidanan. Hanifa wiknjosastro. Halaman 207-208 3. Tafsiran Berat Janin (TBJ) Rumus yang digunakan untuk menghitung tafsiran berat janin adalah Rumus Johnson-Toshack TBJ (Tafsiran Berat Janin)= (tinggi fundus uteri (cm) N) x 155 gram Keterangan :

N = 13 bila kepala belum melewati pintu atas panggul N = 12 bila kepala masih berada diatas spina isciadica N = 11 bila kepala masih berada dibawah spina isciadica Interpretasi Berat Badan Janin: Berat Badan Lahir Rendah = < 2500 gram Normal = 2500-4000 gram Berat Badan Berlebih = > 4000 gram Tinggi Fundus Uteri (cm) Kepala belum melewati pintu atas panggul 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 1705 1860 2015 2170 2325 2480 2635 2790 2945 3100 3255 3410 3565 3720 3875 Bila kepala masih berada diatas spina isciadica 1860 2015 2170 2325 2480 2635 2790 2945 3100 3255 3410 3565 3720 3875 4030 Bila kepala masih berada dibawah spina isciadica 2015 2170 2325 2480 2635 2790 2945 3100 3255 3410 3565 3720 3875 4030 4185

39 40

4030 4185

4185 4340

4340 4495

Didapatkan Tinggi Fundus Ibu 39 cm, TBJ = (TFU-13)x 155 = (39-13)x 155 = 4030 gram Jadi Tafsiran Berat Badan Janin pasien yaitu 4030 gram. Hal ini nampak jelas bahwa janin yang dikandung ibu tersebut lebih dari nilai normal, yang menandai bahwa janin ini berukuran besar yang bisa dijadikan salah satu penyebab dari macetnya persalinan ini. 4. Penurunan bagian terbawah janin dengan metode lima jari (perlimaan) Pemeriksaan penuntun bagian terbawah janin ke dalam rongga panggul melalui pengukuran pada dinding abdomen akan memberikan tingkat kenyamanan yang lebih baik bagi ibu jika dibandingkan dengan melakukan periksa dalam (vaginal toucher). Selain itu, cara penilaiannya dapat memberikan informasi yang sama baiknya dengan hasil pemeriksaan dalam kemajuan persalinan . Penilaian penurunan kepala janin dilakukan dengan menghitung proporsi bagian terbawah janin yang masih berada ditepi atas simpisis pubis dan dapat diukur dengan lima jari tangan pemeriksa (perlimaan). Bagian diatas simpisis adalah proporsi yang belum masuk pintu atas panggul dan sisanya (tidak teraba) menunjukkan sejauh mana bagian terbawah janin telah masuk kedalam rongga panggul. Penilaian Penurunan bagian terbawah janin dengan metode lima jari adalah a) 5/5 jika bagian terbawah janin seluruhnya teraba diatas simpisi pubis b) 4/5 jika sebagian (1/5) bagian terbawah janin telah memasuki pintu atas panggul c) 3/5 jika sebagian (2/5) bagian terbawah janin telah memasuki rongga panggul d) 2/5 jika hanya sebagian dari bagian terbawah janin masih berada diatas simpisis dan (3/5) bagian telah turun melewati bidang tengah rongga panggul (tidak dapat digerakkan)

e) 1/5 jika hanya 1 dari 5 jari masih dapat meraba bagian terbawah janin yang berada diatas simpisis dan (4/5) bagian telah masuk kedalam rongga panggul f) 0/5 jika bagian terbawah janin sudah tidak dapat diraba dari pemeriksaan luar dan seluruh bagian terbawah janin sudah masuk kedalam rongga panggul.

Didapatkan perlimaan pada pemeriksaan fisis adalah 5/5, jadi penurunan bagian terbawah janin seluruhnya teraba diatas simpisis pubis.

Sumber : beck, et al 1998. Sinopsis obstetri fisiologi dan obstetri patologi edisi 2. Rustan Mochtar. Halaman 10

5. Denyut Jantung janin (DJJ) Gunakan fetoskop Pinnards atau Doppler untuk mendengar denyut jantung janin (DJJ) dalam rahim ibu dan untuk menghitung denyut jantung janin permenit, gunakan jarum detik pada jam dinding. Tentukan titik tertentu pada dinding abdomen ibu dimana suara DJJ terdengar paling kuat. Jika DJJ sulit ditemukan, lakukan palpasi abdomen ibu untuk menentukan lokasi punggung bayi. Biasanya rambatan suara DJJ lebih mudah didengar melalui dinding abdomen pada sisi yang sama dengan punggung bayi. Nilai DJJ selama dan segera setelah kontraksi uterus.Mulailah penilaian sebelum atau selama puncak kontraksi.Dengarlah DJJ selama minimal 60

detik,

dengarkan

sampai

sedikitnya

30

detik

setelah

kontraksi

terakhir.Lakukan penilaian DJJ tersebut pada lebih dari satu kontraksi.Nilai kembali DJJ setelah 5 menit dari pemeriksaan sebelumnya, kemudian simpulkan perubahan yang terjadi.Detak jantung janin normal permenit yaitu 120-140 X/menit. Didapatkan denyut jantung janin pada pemeriksaan fisis 140X/menit.Jadi Denyut jantung Janin masih dalam batas normal, karena berada diantara 120140X/menit. 6. His (Kontraksi) His adalah kontraksi otot-otot rahim pada pesalinan. His terbagi menjadi 2 yaitu : his pendahuluan atau his palsu dan his sempurna. a) His pendahuluan atau His Palsu Pada bulan terakhir dari kehamilan sebelum persalinan dimulai, sudah ada kontraksi rahim yang disebut his pendahuluan atau his palsu, yang sebetulnya hanya merupakan peningkatan dari pada kontraksi dari Braxton Hicks. His pendahuluan ini tidak teratur dan menyebabkan nyeri di perut bagian bawah dan lipat paha tidak menyebabkan nyeri yang memancar dari pinggang ke perut bagian bawah seperti his persalinan. Lamanya kontraksi pendek dan tidak bertambah kuat bila dibawa berjalan, malahan sering berkurang.His pendahuluan tidak bertambah kuat dengan majunya waktu bertentangan dengan his persalinan yang makin lama makin kuat.Yang paling penting ialah bahwa his pendahuluan his pendahuluan tidak mempunyai pengaruh pada cervis. His palsu lebih banyak pada primigravida (hamil pertama), terjadi sebelum onset persalinan sebenarnya dan nyerinya tumpul, berulang serta dapat hilang jika diberi obat. b) His Sempurna His yang sempurna bila terdapat kontraksi yang simetris, kontraksi paling kuat atau adanya dominasi difundus uteri, dan sesudah itu terjadi relaksasi.Frekuensi his adalah jumlah his dalam waktu tertentu.Amplitudo dikalikan dengan frekuensi his dalam 10 menit menggambarkan keaktifan uterus dan ini diukur dengan unit Montevideo. Umpama amplitudo 50 mmHg, frekuensi his 3x dalam 10 menit , maka aktivitas uterus adalah 50 x 3 = 150

unit Montevideo. Nilai yang adekuat untuk terjadinya persalinan ialah 150-250 unit Montevideo. Tiap his dimulai sebagai gelombang dari salah satu sudut dimana tuba masuk kedalam dinding uterus yang disebut pace maker tempat gelombang his berasal.Gelombang bergerak kedalam dan kebawah dengan kecepatan 2 cm tiap detik sampai ke seluruh uterus. His paling tinggi difundus uteri yang lapisan ototnya paling tebal dan puncak kontraksi terjadi simultan diseluruh bagian uterus.Sesudah tiaphis, otot-otot korpus uteri menjadi lebih pendek daripada sebelumnya yang disebut sebagai retraksi.Oleh karena serviks kurang mengandung otot, serviks tertarik dan terbuka (penipisan dan pembukaan), lebih-lebih jika ada tekanan oleh bagian janin yang keras, umpamanya kepala. Aktivitas miometrium dimulai saat kehamilan.Bila melakukan

pemeriksaan ginekologi waktu hamil kadang dapat diraba adanya kontraksi uterus (tanda Braxton Hicks).Pada seluruh trmester kehamilan dapat dicatat adanya kontraksi ringan dengan amplitudo 5 mmHg yang tidak teratur.His sesudah kehamilan 30 minggu terasa lebih kuat dan lebih sering.Sesudah 36 minggu aktivitas uterus lebih meningkat lagi sampai persalinan mulai.Jika persalinan mulai, yakni pada pemulaan kala I, frekuensi dan amplitudo his meningkat. Amplitudo uterus meningkat terus sampai 60 mmHg pada akhir kala I dan frekuensi his menjadi 2 sampai 4 kontraksi tiap 10 menit .juga durasi his meningkat dari hanya 20 detik pada permulaan partus sampai 60-90 detik pada akhir kala I atau pada permulaan kala II. His yang sempurna dan efektif bila ada koordinasi dari gelombang kontraksi, sehingga kontraksi simetris dengan dominasi di fundus uteri, dan mempunyai amplitudo 40 sampai 60 mmHg yang berdurasi 60 smpai 90 detik, dengan jangka waktu antara kontraksi 2 sampai 4 menit, dan pada relaksasi tonus uterus kurang dari 12 mmHg. Jika frekuensi dan amplitudo his lebih tinggi, maka dapat mengurangi pertukaran O2. Terjadilah hipoksia janin dan timbul gawat janinyang secara klinik dapat ditentukan dengan antara lain menghitung detak jantung janin ataupun dengan pemeriksaan kardiotokografi. Didapatkan pada pemeriksaan fisis His atau kontraksi dari uterusnya 3X dalam 10 menit pada durasi 40-45 detik dikatakan normal karena normalnya

3X dalam 10 menit pada durasi 40-60 detik. Hal ini juga belum pasti karena pada skenario tidak dijelaskan keteraturan waktu kontraksinya.

7. Pembukaan Perubahan pada cervix : Agar anak dapat keluar dari rahim maka perlu terjadi pembukaan dari cervix.Pembukaan cervix ini biasanya didahului oleh pendataran dari cervix. Pendataran dari cervix : Yang dimaksud dari pendataran cervix adalah pemendekan dari canalis cervicalis, yang semula berupa sebuah saluran yang panjangnya 1-2 cm, menjadi suatu lubang saja dengan pinggiran yang tipis.Pendataran tampak pada portio yang makin pendek dan akhirnya rata dengan majunya persalinan.Pendataran dari cervix ini terjadi diatas kebawah, mula-mula bagian cervix didaerah ostium internum ditarik keatas dan menjadi lanjutan dari segmen bawah rahim sedangkan ostium eksternum sementara tidak berubah.Sebetulnya pendatarn cervix sudah dimulai dalam kehamilan dan cervix yang pendek (lebih dari setengahnya telah merata) merupakan tanda cervix yang matang. Pembukaan pada cervix : Yang dimaksud dengan pembukaan cervix adalah pembesaran dari ostium eksternum yang tadinya berupa suatu lubang dengan diameter beberapa millimeter menjadi lubang yang dapat dilalui anak, kira-kira 10 cm diameternya. Jika pembukaan telah mencapai ukuran 10cm, maka dikatakan pembukaan lengkap.Pada pembukaan lengkap tidak teraba lagi bibir portio, segmen bawah rahim, cervix dan vagina telah merupakan satu saluran.

7.

Jelaskan tentang proses pemeriksaan dan pemantauan persalinan ?

Menurut WHO (2000) dan Depkes (2004) cara pengisian partograf antara lain meliputi: a. Informasi tentang ibu : Bidan mencatat nama pasien, riwayat kehamilan, riwayat persalinan, nomer register pasien, tanggal dan waktu kedatangan dalam

jam mulai dirawat, waktu pecahnya selaput ketuban. Selain itu juga mencatat waktu terjadinya pecah ketuban, pada bagian atas partograf secara teliti. b. Kesehatan dan kenyamanan janin : Bidan mencatat pada kolom, lajur dan skala angka pada partograf antara untuk pencatatan: Hasil pemeriksaan DJJ setiap 30 menit atau lebih sering jika ada tandatanda gawat janin.Setiap kotak menunjukkan waktu 30 menit.Skala angka di sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ.DJJ dicatat dengan memberi tanda titik pada garis yang sesuai dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik yang satu dengan titik Iainnya dengan garis tidak terputus; Warna dan adanya air ketuban, penilaian air ketuban setiap kali melakukan pemeriksaan dalam, dan nilai warna air ketuban jika selaput ketuban pecah. Mencatat temuan-temuan ke dalam kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ, menggunakan lambang-lambang seperti berikut: (a) U jika ketuban utuh atau belum pecah; (b) J jika ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih; (c) M jika ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium; (d) D jika ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah; (e) K jika ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban atau kering; Molase atau penyusupan tulang kepala janin, menggunakan lambanglambang berikut ini: (a) 0 jika tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat dipalpasi; (b) 1 jika tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan; (c) 2 jika tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tapi masih dapat dipisahkan; (d) 3 jika tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan. Hasil pemeriksaan dicatat pada kotak yang sesuai di bawah lajur air ketuban. c. Kemajuan persalinan, kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0-10 yang tertera di tepi kolom paling kiri adalah besarnya dilatasi serviks.Setiap angka/kotak menunjukkan besarnya pembukaan serviks. Kotak yang satu dengan kotak yang lain pada lajur di atasnya, menunjukkan penambahan dilatasi sebesar 1 cm. Skala angka 1-5 menunjukkan seberapa jauh penurunan kepala janin. Masing-masing kotak di

bagian ini menyatakan waktu 30 menit. Sedangkan kemajuan persalinan meliputi: Pembukaan serviks, penilaian dan pencatatan pembukaan serviks dilakukan setiap 4 jam atau lebih sering dilakukan jika ada tanda-tanda penyulit. Saat ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf hasil temuan dari setiap pemeriksaan dengan simbol X. Simbol ini harus ditulis di garis waktu yang sesuai dengan lajur besarnya pembukaan serviks di garis waspada. Hubungkan tanda X dari setiap pemeriksaan dengan garis utuh atau tidak terputus; Pencatatan penurunan bagian terbawah atau presentasi janin, setiap kali melakukan pemeriksaan dalam atau setiap 4 jam, atau lebih sering jika ada tanda-tanda penyulit. Kata-kata turunnya kepala dan garis tidak terputus dari 0-5, tertera di sisi yang sama dengan angka pembukaan serviks. Berikan tanda pada garis waktu yang sesuai. Hubungkan tanda dari setiap pemeriksaan dengan garis tidak terputus; Garis waspada dan garis bertindak, garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada titik di mana pembukaan lengkap, diharapkan terjadi laju pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan selama fase aktif persalinan harus dimulai di garis waspada. d. Pencatatan jam dan waktu meliputi: Waktu mulainya fase aktif persalinan, di bagian bawah pembukaan serviks dan penurunan, tertera kotak-kotak yang diberi angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya fase aktif persalinan; Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan, di bawah Iajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyatakan satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak waktu tiga puluh menit pada lajur kotak di atasnya atau lajur kontraksi di bawahnya. Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, catat pembukaan serviks di garis waspada.Kemudian catat waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai. Bidan mencatat kontraksi uterus pada bawah lajur waktu yaitu ada lima lajur kotak dengan tulisan kontraksi per 10 menit di sebelah luar kolom paling

kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi.Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik. Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi dalam waktu 10 menit menggunakan symbol-simbul yaitu apabila kontraksi lamanya kurang dari 20 menit, 20 menit sampai dengan 40 menit; dan apabila lebih dari 40 menit. e. Bidan mencatat obat-obatan dan cairan intravena (IV) yang diberikan dalam kotak yang sesuai dengan kolom waktu. Untuk pemberian oksitosin drip oksitosin sudah dimulai, bidan harus mendokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitoksin yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per menit (atas kolaborasi dokter), catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan atau cairan IV. Tahapan pemeriksaan dalam proses persalinan Proses persalinan merupakan salah satu proses yang dialami oleh seorang perempuan dalam upaya untuk melahirkan janin yang telah dikandung selama 9 bulan. dalam proses ini banyak pemeriksaan yang harus selalu dilakukan dalam rangka memantau persalinan dan memeastikan keadaan ibu bersalin, adapun pemeriksaan yang dilakukan dari kala 1 sampai kala 4, diantaranya: a. Kala 1: Pemeriksaan HIS, DJJ, VT, VS Pemeriksaan penipisan&dilatasi serviks Produksi urine, aseton, dan protein Intake output Pendampingan(psikososiospiritual)

b. Kala 2 Vital sigm Perdarahan Episiotomi(bila diperlukan) Keadaan air ketuban Keadaan bayi baru lahir

Pendampingan (psikososiospiritual) IMD c. Kala 3 Pemberian oksitosin Perubahan bentuk & tnggi fundus uteri Masase fundus uteri Penegangan tali pusat Pengeluaran plasenta Pengikatan tali pusat Melakukan perawatan perinium Melakukan pemotongan tali pusat Penilaian perdarahan Laserasi jalan lahir Heacting perinium d. Kala 4 Observasi perdarahan Vital Sign (TD,Suhu, Nadi, Respirasi) Tingkat kesadaran Kontraksi uterus Mengajarkan ibu dan keluarga tentang memeriksakan fundus dan masase uterus Mobilisasi dini Membersihkan pasien Memakaikan stagen Memakaikan pembalut Pendampingan psikososiospiritual

8.

Jelaskan tanda-tanda persalinan ? 1. Engagement atau Turunnya Bayi ke Panggul

Ketika persalinan sudah mendekati, kepala bayi sudah mulai turun ke area tulang panggul (pelvic inlet).Kejadian ini merupakan akibat dari melunaknya uterus.Engagement atau turunnya kepala bayi membuat ibu bisa bernafas lebih lega.Heartburn yang pernah dialami juga mulai berhenti.Turunnya bayi dapat terjadi kapan saja sejak dua hingga empat minggu sebelum bayi benar-benar lahir. Jika telah merasakan tanda-tanda awal persalinan ini, maka ibu dapat meyakinkan diri bahwa proses memiliki seorang bayi sedang dimulai. Kehamilan akan segera memasuki tahap akhir, dan tanda awal persalinan yang tengah dirasakan adalah benar. 2. Tekanan Panggul (Pelvic) Setelah bayi turun dengan kepala berada di dalam panggul, mungkin akan merasa kurang nyaman. Sakit yang dirasakan ini merupakan akibat dari adanya tekanan panggul, dan ibu akan lebih sering berkemih serta lebih sering buang air besar karena meningkatnya aktivitas usus. Ini merupakan salah satu tanda persalinan yang jelas.Adanya relaksasi tulang sendi beserta ikatan-ikatannya dapat menyebabkan nyeri di punggung belakang. Hal ini juga dapat menyebabkan nyeri tiba-tiba karena bayi menekan dasar panggul .Selain itu, kaki ibu mungkin membengkak sebagai akibat meningkatnya tekanan terhadap pembuluh darah yang melewati panggul.Berbaring ke kiri, dapat membantu meringankan tanda-tanda awal persalinan ini. 3. Vaginal Discharge / Keputihan Hal ini merupakan akibat dari melunaknya rahim.Cairan dapat berwarna putih, dan kadang berwarna merah muda. Ini adalah salah satu dari tanda awal persalinan yang tidak nyaman bagi ibu .Keputihan yang berwarna kuning atau berbusa, bisa merupakan tanda terjadinya infeksi. Jika cairan mengalami perubahan warna, beritahukanlah kepada dokter/bidan. 4. Naluri Bersarang (Nesting Instinct) Selain tanda-tanda fisik, dapat juga merasakan suatu naluri, yang biasa disebut naluri bersarang (nesting instinct).Ini merupakan tanda emosional sebagai tanda awal persalinan, yang biasanya ditandai dengan kegiatan membereskan lemari, membersihkan kamar mandi, mengepel lantai, dan kegiatan-kegiatan

membersihkan lainnya. Naluri keibuan ini bisa merupakan suatu pertanda bahwa sebentar lagi anda akan memiliki seorang bayi. Ketika melakukan pekerjaan yang cukup menguras energi ini, janganlah mengerjakannya dengan terlalu berlebihan. Meskipun hal ini cukup penting untuk menyambut kehadiran buah hati, akan tetapi ibuharus menyimpan energi, mengingat tanda awal persalinan ini masih akan diikuti dengan tanda-tanda persalinan lainnya. 5. Kontraksi Braxton Hicks Tanda dan gejala awal persalinan ini diberi nama berdasarkan nama dokter yang pertama kali mengenali tanda-tanda ini. Kontraksi Braxton Hicks, memang benar-benar merupakan sebuah kontraksi, meskipun semu. Kontraksi ini dirancang untuk menyiapkan tubuh ibu untuk melahirkan sang bayi. Pada kebanyakan kasus, kontraksi semu berjalan tidak teratur, durasi biasanya pendek (kurang dari 45 detik).Nyeri dari kontraksi dapat terasa di berbagai bagian tubuh seperti di lipat paha (selangkangan) dan perut bagian bawah atau

punggung.Sedangkan pada kontraksi sebenarnya, kontraksi rahim menimbulkan nyeri yang berawal pada bagian atas rahim dan menyebar ke seluruh rahim, lewat pinggang terus panggul. Kontraksi Braxton Hicks meregangkan bagian bawah rahim anda, yang memungkinkan kepala bayiberada di tulang panggul.Berikut ini karakteristik kontraksi palsu/braxton Hiks: Kontraksi tak teratur dan jaraknya pun tidak teratur Kontraksi lemah dan tidak semakin kuat atau bisa saja terasa kuat namun kemudian hilang lagi Kontraksi hanya terasa di bawah perut atau diatas daerah kemaluan. Boleh mengganggap hal ini sebagai tanda-tanda bahwa kelahiran sudah semakin dekat, ketika kontraksi Braxton Hicks semakin intensif dan menyebabkan abdomen semakin menegang. Biasanya ketidaknyamanan ini akan berkurang jika berbaring. 6. Mengigil

Tanda awal persalinan lainnya adalah menggigil tanpa sebab yang jelas. Hal ini dapat terjadi tanpa adanya perasaan dingin atau karena lemah, dan dapat terjadi akibat hormon stres atau adanya perubahan kadar hormon progesteron dalam
tubuh. Menggigil merupakan salah satu tanda awal kelahiran bayi. 7. Diare

Suatu gejala dan tanda awal persalinan yang tidak menyenangkan adalah diare. Pelepasan suatu unsur kimia dalam tubuh yang disebut dengan prostaglandins dapat terjadi dalam proses awal suatu persalinan. Pemicu ini dapat mengakibatkan meningkatnya aktivitas usus (loose bowel movement).

9. Jelaskan proses penciptaan manusia dalam perspektif islam ? .(QS. Al Hijr: 28-29)

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (QS. Al Muminun: 12-15)

Artinya : Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.13. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).14. Kemudian air mani itu kami jadikan

segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.15. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. (QS. As Sajdah: 7-9)

Artinya Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.(Q.S assajadah 7-9) Hadist tentang proses pembentukan manusia Dari Abu Abdirrohman, Abdulloh bin Masud rodhiyallohuanhu, dia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wasallam telah bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan: Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah(air mani), kemudian menjadi alaqoh(segumpal darah) selama waktu itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi mudhghoh(segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya. Maka demi Alloh yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya.

Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapka atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya. (HR. Bukhori dan Muslim) 10. Jelaskan pengaruh distosia terhadap ibu dan bayi ? Infeksi intrapartum Infeksi adalah bahaya yang serius yang mengancam ibu dan janinnya pada partus lama, terutama bila disertai pecahnya ketuban.Bakteri didalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakterimia dan sepsis pada ibu dan janin.Pneumonia pada janin, akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi, adalah konsekuensi serius lainnya. Pemeriksaan serviks dengan jari tangan akan memasukan bakteri vagina kedalam uterus. Pemeriksaan ini harus dibatasi selama persalinan, terutama apabila dicurigai akan terjadi persalinan lama. Ruptura uteri Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama partus lama, terutama pada ibu dengan paritas tinggi dan pada mereka dengan riwayat seksio cesarea.Apabila disproporsi antara kepala janin dan panggul sedemikian besar sehingga kepala tidak cakap (engaged) dan tidak terjadi penurunan, segmen bawah uterus menjadi sangat teregang kemudian dapat menyebabkan ruptura. Pada kasus ini mungkin terbentuk cincin retraksi atau logis yang dapat diraba sebagai sebuah kristal transversa atau oblik yang berjalan melintang di uterus antara simpisis dan umblikus. Apabila dijumpai keadaan ini, diindikasikan persalinan perabdominam. Cincin retraksi patologis Walaupun sangat jarang, dapat timbul konstriksi atau cincin lokal uterus pada persalinan yang berkepanjangan.Tipe yang paling sering adalah cincin retraksi patologis bandl, yaitu pembentukan cicncin retraksi normal yang

berlebihan.Cincin ini sering timbul akibat persalinan yang terhambat, disertai

peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus. Pada situasi semacam ini cincin dapat terlihat jelas sebagai suatu identasi abdomen dan menandakan ancaman akan rupturnya segmen bawah uterus. Konstriksi uterus lokal jarang dijumpai saat ini karena terhambatnya persalinan secara berkepanjangan tidak lagi dibiarkan. Konstriksi lokal ini kadang-kadang masih terjadi sebagai konstriksi jam pasir (bourglass constriction) uterus telah lahirnya kembar pertama pada keadaan ini konstriksi tersebut kadang-kadang dapat dilemaskan dengan anestesia umum yang sesuai dan janin dilahirkan secara normal tetapi kadang-kadang seksio secarea yang dilakukan dengan segera menghasilkan prognosis yang lebih baik bagi kembar kedua. Pembentukan fistula Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke pintu atas panggul, tetapi tidak maju untuk jangka waktu yang cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak diantaranya dan dinding panggul dapat mengalami tekanan yang berlebihan. Karena gangguan sirkulasi, dapat terjadi nekrosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah melahirkan dengan munculnya fistula vesikovaginal, vesikoservikal, atau rectovaginal. Umumnya nekrosis akibat penekanan ini pada persalinan kala II yang berkepanjangan.Dahulu saat tindakan operasi ditunda selama mungkin, penyulit ini sering dijumpai, tetapi saat ini jarang terjadi kecuali dinegara-negara belum berkembang. Cedera otot dasar panggul Suatu anggapan yang telah lama dipegang adalah bahwa cedera otot-otot dasar panggul atau persyarafan atau fasia penghubungnya merupakan konsekuensi yang tidak terelakan pada persalinan pervaginam terutama apabila persalinannya sulit saat kelahiran bayi, dasar panggul mendapat tekanan langsung dari kepala janin serta tekanan kebawah akibat upaya mengejan ibu. Gaya- gaya ini meregangkan dan melebarkan dasar panggul sehingga terjadi perubahan fungsional dan anatomik otot, saraf, dan jaringan ikat. Terdapat semakin besar kekhawatiran bahwa efek-efek otot dasar panggul selama melahirkan ini akan menyebabkan inkontinensia urin dan alvi serta prolaps organ panggul. Karena kekhawatiran ini, dalam sebuah jajak pendapat baru-baru ini terhadap ahli kebidanan perempuan di Inggris, 30% menyatakan kecendrungan melakukan seksio cesarea daripada

persalinan pervaginam dan menyebut alasan pilihan wanita yaitu menhindari cedera dasar panggul. Sepanjang sejarah obstetri, intervensi yang ditujukan untuk mencegah cedera dasra panggul telah lama dilakukan. Sebagai contoh, pada tahun 1920 DeLee menyarankan persalinan dengan forsep profilaktik untuk mengurangi peregangan terhadap otot dan saraf pada persalinan kala II dan untuk melindungi dasar panggul serta fasia didekatnya dari peregangan berlebihan. Namun, kemajuan dalam bidang oibstetri pada abad ke 20 umumnya difokuskan untuk memperbaiki prognosis neonatus serta morbiditas dan mortalitas ibu akibat preeklamsia, infeksi dan perdarahan obstetri. Contoh klasik cedera adalah robekan spingter ani yang terjadi pada saat

persalinan pervaginam. Robekan ini terjadi pada 3-6 % persalinan dan sekitar separuh dari mereka kemudian mengeluhkan adanya inkontinensia alvi atau gas. Walaupun proses persalinan jelas berperan penting dalam cedera dasar panggul, insiden, dan jenis cedera yang dilaporka sangat bervariasi antara beberapa penelitian. Saat ini masih terdapat ketidakjelasan mengenai insiden cedera dasar panggul akibat proses melahirkan dan informasi tentang peran relatif proses obstetrik yang mendahuluinya masih terbatas. Efek pada janin Partus lama itu sendiri dapat merugikan. Apabila panggul sempit dan juga terjadi ketuban pecah lama serta infeksi intra uterus, resiko janin dan ibu akan muncul. Infeksi intrapartum bukan saja merupakan penyulit yang serius pada ibu, tetapi juga merupakan penyebab penting kematian janin dan neonatus.Hal ini disebabkan bakteri didalam cairan amnion menembus selaput amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh klorion, sehingga terjadi bakterimia pada ibu dan janin.Pneuminia janin, akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi, adalah kinsekuensi serius lainnya. Kaput suksedaneum Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering tejadi kaput suksedaneum yang besar dibagian terbawah kepala janin.Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan menyebabkan kesalahan diagnostik yang serius. Kaput dapat hampir

mencapai dasar panggul sementara kepala sendiri belum cakap. Dokter yang kurang berpengalaman dapat melakukan upaya secara prematur dan tidak bijak untuk melakukan ekstraksi forseps. Biasanya kaput suksedaneum, bahkan yang besar sekalipun akan menghilang dalam beberapa hari. Molase kepala janin Akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak saling bertumpang tindih satu sama lain di sutura besar, suatu proses yang disebut molase (molding, moulage). Biasanya batas median tulang parietal yang berkontak dengan promontorium bertumpang tindih dengan tulang disebelahnya: hal yang sama terjadi pada tulang-tulang frontal. Namun, tulang oksipital terdong kebawah tulang parietal.Perubahan-perubahan ini sering terjadi tanpa menimbulkan kerugian yang nyata.Dilain pihak, apabila distorsi yang terjadi mencolok, molase dapat menyebabkan robekan tentorium, laserasi pembuluh darah janin, dan perdarahan intrakranial pada janin. Sorbey dan Dahlgren mengukur diameter kepala janin saat lahir dan membandingkannya dengan pengukuran yang dilakukan 3 hari kemudian.Molase paling besar terjadi pada diameter suboksipitokpregmatika dan besarnya rata-rata 0,3 cm dengan kisaran sampai 1,5cm.Diameter biparietal tidak dipengaruhi oleh molase kepala janin.Faktor-faktor yang berkaitan dengan molase adalah nulliparitas, stimulasi persalinan dengan oksitosin, dan pengeluaran janin dengan ekstraksi vakum. Carlan dkk. Melaporkan suatu mekanisme penguncian (locking mecanism) saat tepi-tepi bebas tulang kranium saling terdorong kearah lainnya, mencegah molase lebih lanjut dan mungkin melindungi otak janin.Mereka juga mengamati bahwa molase kepala janin yang parah dapat terjadi sebelum persalinan. Holland melihat 11. Jelaskan penanganan dan pencegahandistosia ? 1. Seksio sesarea Seksio sesarea dapat dilakukan secara elektif atau primer, yakni sebelum persalinan mulai atau pada awal persalinan, dan secara sekunder, yakni sesudah persalinan berlangsung selama beberapa waktu.seksio sesarea elektif direncanakan lebih dahulu dan dilakukan pada kehamilan cukup bulan karena kesempitan panggul yang cukup

berat, atau karena terdapat disproporsi sefalopelvik yang nyata. Selain itu seksio tersebut diselenggarakan pada kesempitan ringan apabila ada factor-faktor lain yang merupakan komplikasi, seperti primigravida tua, kelainan letak janin yang tidak dapat diperbaiki, kehamilan pada wanita yang mengalami masa infertilitas yang lama, penyakit jantung dll. Seksio sesarea dilakukan karena persalinan percobaan dianggap gagal, atau karena timbul indikasi untuk menyelesaikan persalinan selekas mungkin, sedangsyarat-syarat untuk persalinan pervaginam tidak atau belum dipenuhi. 2.Persalinan percobaan Setelah pada panggul sempit berdasarkan pemeriksaan yang teliti pada hamil tua diadakan penilaian tentang bentuk serta ukuran-ukuran panggul dalam semua bidang dan hubungan antara kepala janin dan panggul, dan setelah dicapai kesimpulan bahwa ada harapan bahwa persalinan dapat berlangsung pervaginam dengan selamat, dapat diambil keputusan untuk menyelenggarakan persalinan percobaan. Dengan demikian persalinan ini merupakan suatu test terhadap kekuatan his dan daya akomodasi, termasuk moulage kepala janin; kedua faktor ini tidak dapat diketahui sebelum persalinan berlangsung selama beberapa waktu. Pemilihan kasus-kasus untuk persalinan percobaan harus dilakukan dengan cermat.Di atas sudah dibahas indikasi-indikasi untuk seksio sesarea elektif; keadaankeadaan ini dengan sendirinya merupakan kontra indikasi untuk persalinan percobaan.Selain itu, janin harus berada dalam presentasi kepala dan tuanya kehamilan tidak lebih dari 42 minggu.Karena kepala janin bertambah besar serta lebih sukar mengadakan moulage, dan berhubung dengan kemungkinan adanya disfungsi plasenta, janin mungkin kurang mampu mengatasi kesukaran yang dapat timbul pada persalina percobaan.Perlu disadari pula bahwa kesempitan panggul dalam satu bidang, seperti pada panggul picak, lebih menguntungkan daripada kesempitan dalam beberapa bidang. 3.Simfisiotomi Simfisotomi ialah tindakan untuk memisahkan tulang panggul kiri dari tulang panggul kanan pada simfisis agar rongga panggul menjadi lebih luas.Tindakan ini tidak banyak lagi dilakukan karena terdesak oleh seksio sesarea.Satu-satunya indikasi ialah apabila pada panggul sempit dengan janin masih hidup terdapat infeksi intrapartum berat, sehingga seksio sesarea dianggap terlalu berbahaya. 4. Kraniotomi

Pada persalinan yang dibiarkan berlarut-berlarut dan dengan janin sudah meninggal, sebaiknya persalina diselesaikan dengan kraniotomi dan

kranioklasi.Hanya jika panggul demikian sempitnya sehingga janin tidak dapat dilahirkan dengan kraniotomi, terpaksa dilakukan seksio sesarea. Penanganan distosia: Kelainan Power 1. Inersia uteri hipotonik adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah / tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong anak keluar. Di sini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Penanganan a) Keadaan umum penderita harus diperbaiki. Gizi selama kehamilan harus diperhatikan b) Penderita dipersiapkan menghadapi persalinan, dan dijelaskan tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada. c) Pada inersia primer, setelah dipastikan penderita masuk dalam persalinan, evaluasi kemajuan persalinan 12 jam kemudian dengan periksa dalam. Jika pembukaan kurang dari 3 cm, porsio tebal lebih dari 1 cm, penderita diistirahatkan, diberikan sedativa sehingga dapat tidur. Mungkin masih dalam "false labor".Jika setelah 12 jam berikutnya tetap ada his tanpa ada kemajuan persalinan, ketuban dipecahkan dan his diperbaiki dengan infus pitosin. Perlu diingat bahwa persalinan harus diselesaikan dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah, agar prognosis janin tetap baik. d) Pada inersia uteri sekunder, dalam fase aktif, harus segera dilakukan : 1. Penilaian cermat apakah ada disproporsi sefalopelvik dengan pelvimetri klinik atau radiologi. Bila ada CPD maka persalinan segera diakhiri dengan sectio cesarea. 2. Bila tidak ada CPD, ketuban dipecahkan dan diberi pitocin infus. 3. Nilai kemajuan persalinan kembali 2 jam setelah his baik. Bila tidak ada kemajuan, persalinan diakhiri dengan sectio cesarea.

4. Pada akhir kala I atau pada kala II bila syarat ekstraksi vakum atau cunam dipenuhi, maka persalinan dapat segera diakhiri dengan bantuan alat tersebut. Perlu diingat bahwa hampir 50% kelainan his pada fase aktif disebabkan atau dihubungkan dengan adanya CPD, sisanya baru disebabkan faktor lain seperti akibat kelainan posisi janin, pemberian obat sedativa atau relaksan terhadap otot uterus, dan sebagainya. 2. Inersia uteri hipertonik adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai melebihi normal) namun tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian atas, tengah dan bawah uterus, sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar. Penanganan: a) Pemberian sedativa dan obat yang bersifat tokolitik (menekan kontraksi uterus) agar kontraksi uterus tersebut hilang dan diharapkan kemudian timbul his normal. Denyut jantung janin HARUS terus dievaluasi. b) Bila dengan cara tersebut tidak berhasil, persalinan harus diakhiri dengan sectio cesarea. Kelainan Letak & Bentuk Janin 1. Presentasi oksiput posterior adalah presentasi belakang kepala dengan oksiput (UUK) berada di belakang. Angka kejadian untuk kasus ini mencapai angka 8 % dari kehamilan yang ada. Penanganan : a) Persalinan akan terganggu (lama) bila rotasi spontan tidak terjadi (90 % akan terjadi rotasi spontan menjadi oksiput ant.) b) Pecahkan ketuban c) Bila kepala tdk turun (teraba > 3/5 diatas PAP) lakukan seksio sesarea d) Bila pembukaan serviks belum lengkap, tdk ada tanda2 obstruksi drips oksitosin

e) Pembukaan lengkap & Kala II lama & tdk ada tanda2 obstruksi drips oksitosin f) Syarat2 terpenuhi ekstraksi vakum atau forseps. 2. Presentasi oksiput transversalis adalah presentasi belakang kepala dengan oksiput (ubun-ubun kecil) melintang 3. Presentasi puncak kepala adalah presentasi kepala dengan defleksi/ekstensi minimal dengan sinsiput merupakan bagian terendah. Penanganan : a) Dapat ditunggu kelahiran spontan b) Episiotomy c) bila 1 jam dipimpin mengejan takBlahir, dan kepala bayi sudah didasar panggul, maka dilakukan ekstraksi forcep

4. Presentasi dahi adalah presentasi kepala dengan defleksi/ekstensi maksimal sedang dahi merupakan bagian terendah. Terjadi pada 1 dari 400 kelahiran. Biasanya akan berubah menjadi presentasi muka atau belakang kepala.

Penanganan : a) Bayi kecil maka bisa lahir spontan b) Jika pada kala 1 kepala belum masuk ke dalam rongga panggul, dapat diusahakan dengan melakukan perasat Thorn (10% bisa menjadi presentasi muka/ belakang kepala jika tidak berhasil lakukan SC c) Jalan persalinan tak lancar/pembukaan belum lengkap/janin besar dan sukar melewati PAP kemudaian terjadi molage hebat maka lakukan Sectio caesaria d) Jika janin mati lakukan pembukaan lengkap dan lakukan kraniotomi dan jika pembukaan tidak lengkap lakukan SC

5. Presentasi muka adalah presentasi kepala dengan defleksi/ekstensi maksimal sedang muka merupakan bagian terendah. Terjadi pada 1 dari 1000 kelahiran. Penanganan :

a) Periksa apakah ada CPD jika positif ada maka lakukan SC dan jika negatif dan kondisi baik lakukan persalinan pervaginam b) Dalam kehamilan, bila terjadi posisi mentoposterior (dagu berada di belakang) perasat Schatz c) Dalam persalinan konservatif dan aktif : tidur miring kesebelah dagu, bila mentoanterior lahir spontan, bila mentoposterior ubah menjadi mentoanterior dengan perasat Thorn atau forsep jika tidak berhasil lakukan SC. janin mati embriotomi

6. Letak sungsang adalah keadaan janin dimana letaknya memanjang dgn bagian terbawah bokong dengan atau tanpa kaki. Angka kejadian mencapai 3 % dari kelahiran. Klasifikasi : Presentasi bokong murni, kedua kaki menjungkit ke atas terletak dekat kepala Presentasi bokong kaki, kedua kaki disamping bokong dsb sempurna, bila hanya satu kaki dsb tidak sempurna Presentasi kaki, bgn terendah 2 kaki dsb presentasi kaki sempurna, bila hanya 1 dsb presentasi kaki tidak sempurna Presentasi lutut, bgn terendah 2 lutut dsb sempurna, bila hanya 1 dsb tidak sempurna

Penanganan : a) Dalam kehamilan, Bila ditemui pada primigravida hendaknya diusahakan versi luar yang dilakukan antara 34 dan 38 minggu. Sebelum melakukan versi luar, diagnosis letak janin harus pasti dan denyut jantung janin harus dalam keadaan baik. Perlu diingat kotraindikasi versi luar ialah panggul sempit, perdarahan antepartum, hipertensi, hamil kembar, dan plasenta previa. b) Dalam persalinan, Untuk menolong persalinan letak sungsang ini diperlukan ketekunan dan kesabaran. Pertama-tama tentukan apakah ada kelainan yang mengindikasikan untuk seksio sesarea. Apabila tidak ada, dan diperkirakan dapat dilahirkan pervaginam maka hendaknya pengawasan dilakukan secara seksama. Setelah bokong lahir, jangan menarik atau mengadakan dorongan

secara Kristeller karena dapat menyulitkan kelahiran lengan dan bahu. Untuk melahirkan bahu dan kepala dapat dipilih perasat Bracht. Sedangkan untuk melahirkan lengan dan bahu dapat dipakai cara klasik yaitu Mueller / Loevset. Kepala janin dapat dilahirkan secara Mauriceau

7. Presentasi rangkap Penanganan : a) Pada sebagian besar kasus, penatalaksanaan kasus adalah ekspektatif oleh karena jarang mengganggu jalannya persalinan dan umumnya tangan janin secara reflektoar akan ditarik sehingga tidak lagi mengganggu jalannya persalinan. b) Tindakan yang bisa dikerjakan adalah dengan mereposisi tangan dan menurunkan kepala kedalam jalan lahir secara bersamaan.

8. Letak lintang adalah keadaan di mana sumbu panjang janin kira-kira tegak lurus dengan sumbu panjang tubuh ibu - Knee-chest position, Pada primigravida umur kehamilan kurang dari 28 minggu dianjurkan posisi lutut dada, jika lebih dari 28 minggu dilakukan versi luar, kalau gagal dianjurkan posisi lutut dada sampai persalinan. Pada multigravida umur kehamilan kurang dari 32 minggu posisi lutut dada, jika lebih dari 32 minggu dilakukan versi luar, kalau gagal posisi lutut dada sampai persalinan. 9. Presentasi ganda adalah menumbungnya satu ekstremitas disisi bagian terbawah janin dan kedua bagian ini sekaligus berada didalam panggul. Penanganan : a) Jika lengan menumbung disamping kepala, keadaan tersebut harus diawasi ketat apakah lengan keluar bersama dengan penurunan bagian terbawah janin. Jika gagal mengikuti penurunan tersebut/bila tampaknya menghalangi penurunan kepala, lengan yang menumbung tersebut secara perlahan-lahan harus didorong ke atas dan bersamaan dengan itu, kepala akan turun karena tekanan fundus uteri. 10.Kehamilan gandaadalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Sejak

ditemukannya obat-obat dan cara induksi ovulasi maka dari laporan-laporan dari

seluruh pelosok dunia, frekuensi kehamilan kembar condong meningkat.Bahkan sekarang telah ada hamil kembar lebih dari 6 janin. Penanganan : a) Bila anak satu letaknya membujur, kala satu diawasi seperti biasa ditolong seperti biasa dengan episiotomi mediolateralis.Setelah itu baru waspada, lakukan periksa luar, periksa dalam untuk menentukan keadaan janin II. Tunggu, sambil memeriksa tekanan darah itu dan lain-lain. b) Biasanya dalam 10-15 menit his akan kuat lagi. Bila janin II letaknya membujur, ketuban dipecahkan pelan-pelan supaya air ketuban tidak deras mengalir keluar.Tunggu dan pimpinan persalinan anak II seperti biasa. c) Awas akan kemungkinan terjadinya perdarahan post partum, maka sebaiknya dipasang infuse profilaksis. d) Bila ada kelainan letak anak II, melintang atau terjadi prolaps tali pusat dan solusio plasentae, maka janin dilahirkan dengan cara operatif obstetric : Pada letak lintang coba versi luar dulu.atau lahirkan dengan cara versi dan ekstrasi. Pada letak kepala persalinan dipercepat dengan ekshasi vakum atau forseps. Pada letak bokong atau kaki; ekstraksi bokong atau kaki.

Kelainan bentuk panggul: 1. Kesempitan Pintu Atas Pangguldianggap sempit bila konjugata vera kurang dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Penanganan : a) Panggul sempit ringan : konjugata vera kurang 10 cm lakukan partus percobaan b) Panggul sempit sedang : konjugata vera kurang dari 9 cm lakukan SC c) Panggul sempit berat : konjugata vera kurang dari 8 cm lakukan SC d) Panggul sempit absolut : konjugata vera kurang dari 6 cm lakukan SC, janin mati pun lakukan SC.

Lakukan pengawasan dengan seksama jika partus lama dan risiko dehidrasi, asidosis atasi dengan pemberian infus IV. 2. Kesempitan Pintu Tengah Pangguldikatakan sempit jika jumlah diameter transversa dan sagitalis 13,5 cm atau kurang, dan diameter antar spina kurang dari 9 cm. Ukuran yang penting yang ada di panggul tengah Diameter transversa : 10. 5 cm Diameter anterioposterior : 11,5 cm Diameter sagitalis posterior : 5 cm

Penanganan : a) Lahir pervaginam lakukan dengan cara ekstraksi vakum,jika dgn forsep maka akan memeperkecil ruang jalan lahir b) Kalau diameter antarspina kurang dari 9 cm lakukan SC 3. Kesempitan Pintu Bawah Pangguldianggap sempit jika jarak antar tuberiskii 8 cm atau kurang. Kalau jarak ini berkurang maka arcus pubis akan meruncing. Pada kondisi ini juga ditemukan diameter transversa + daimeter sagitalis posterior kurang dari 15 cm(normal ny 11 cm + 7,5 cm =18,5 cm). Penanganan : SC sangat jarang dilakukan. Persalinan dilakukan secara pervaginam yang dipermudah dengan ekstraksi forcep dengan sebelumnya dilakukan episiotomi secara luas untuk mencegah terjadinya ruptur perinei Pencegahan distosia: 1. Status gizi ibu saat hamil Pada Saat hamil status gizi ibu harus baik,sehingga tenaga ibu saat melahirkan akan bagus 2. Melakukan senam hamil secara teratur Senam hamil perlu untuk melemaskan otot-otot,selain itu pada senam hamil juga di ajarkan cara-cara bernapas saat persalinan dan posisi-posisi persalinan yang baik, tentunya posisi persalinan adalah posisi yang dirasakan nyaman oleh ibu

3. Mengontrol kehamilan Dengan sering mengontrol kehamilan ,minimal 4 kali dalam masa kehamilan,dapat mendeteksi sedini mungkin bila ada kelainan,seperti ukuran bayi yang tidak sesuai dengan usia kehamilan .Biasanya Dokter juga akan memberikan konseling dan pengetahuan tentang kehamilan dan persalinan pada ibu 4. Persiapan mental menjelang kehamilan Ketakutan & Kecemasan akan berpengaruh pada psikologi ibu,sehingga ibu perlu kesiapan mental menjelang kelahiran 5. Asuhan persalinan yang baik Sikap ramah dan jaminan keamanan penolong (Bidan/Dokter) kepada ibu,akan membangun rasa percaya diri ibu dan rasa percayanya pada tenaga penolong. Tidak mengejan sebelum diperintah oleh bidan/dokter.Mengejan yang tidak teratur akan mengurangi tenaga ibu melahirkan 6. Memantau persalinan dengan patograf Patograf merupakan suatu metode grafik untuk merekam kejadian-kejadian pada perjalanan persalinan.jika perjalanan persalinannya masih sesuai grafik,maka masih bisa di usahakan untuk melahirkan normal,tapi jika tidak,maka segera lakukan operasi. 7. Waktu rujukan yang tepat Sebaiknya jika pasien melahirkan di puskesmas dan disitu hanya ada bidan,kemudian terjadi hal-hal yang tidak normal seperti persalinan tidak maju dan sudah aterm tapi belum masuk panggul ,yang mungkin dikarenakan oleh bayi normal,tetapi panggul ibu yang sempit atau panggul ibu normal dan ukuran bayi yang besar,dan bidan puskemas tidak bisa lagi menangani,maka sebaiknya cepat dirujuk ke rumah sakit dan jangan menunda-nunda,karena jika terlambat akan berakibat fatal bagi ibu & bayinya.

DAFTAR PUSTAKA 1. Pawiharjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan Edisi ke 4. Penerbit Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo. Jakarta. Hal 296-315; 50-62; 115-124; 576-579 2. Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta 3. Manuaba, Ida Bagus Gede. 2007. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal : 287-288 4. Obstetri Fisiologi. Bagian obstetri dan genikologi fakultas kedokteran Universitas Padjajaran Bandung. Halaman 231-232 5. Dasar-dasar obstetri dan ginekologi Edisi 6. Derek Llewellyn-Jones. Hal: 68. 6. Ilmu kebidanan. Hanifa Wiknjosastro. Halaman: 125 7. Obstetri fisiologi. Bagian obstetri dan ginekologi. Fakultas kedokteran. Universitas padjadjaran bandung. Sulaiman sastrawinata. Halaman: 225 dan 259.