Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Tubuh diibaratkan sebagai sebuah negara. Jika negara itu tidak memiliki pertahanan yang kuat, akan mudah mendapatkan perlawanan baik dari dalam maupun dari luar, sehingga lambat laun negara itu akan hancur. Begitupun halnya tubuh kita.5 Tubuh manusia selalu terancam oleh paparan bakteri, virus, parasit, radiasi matahari, dan polusi. Stres emosional dan fisiologis dari kejadian ini adalah tantangan lain untuk mempertahankan tubuh yang sehat. Biasanya manusia dilindungi oleh sistem pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh, terutama makrofag, dan cukup lengkap kebutuhan gizi untuk menjaga kesehatan. Kelebihan tantangan negatif, bagaimanapun, dapat menekan sistem pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh, dan mengakibatkan berbagai penyakit fatal.4 Dalam rongga mulut manusia terdapat banyak flora normal. Flora normal tersebut dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit, namun bila terjadi gangguan sistem imun maupun perubahan keseimbangan flora normal mulut, maka flora normal tersebut dapat menjadi patogen.9 Berbagai paparan invasi mikroba dapat menyebabkan infeksi pada tubuh manusia. Infeksi merupakan suatu penyakit yang angka kejadiannya tinggi. Infeksi dapat ditularkan melalui berbagai macam cara, salah satunya melalui instrumen yang tidak steril. Prosedur sterilisasi ada berbagai macam salah satunya secara fisika yaitu dengan panas basah (autoklaf) dan panas kering (Hot Air Oven). Kedua prosedur ini mempunyai keunggulan dan kekurangan sendirisendiri.8

1.2. Rumusan Masalah Apa saja mikroba dan parasit patogen yang berperan menginvasi atau menimbulkan infeksi di rongga mulut ? Bagaimana mekanisme sistem imun dalam merespon invasi bakteri patogen di dalam rongga mulut ? Apa jenis sterilisasi yang efektif dalam mencegah perkembangan mikroba sebagai penyebab infeksi di dalam mulut ?

1.3. Tujuan Masalah Menjelaskan mikroba dan parasit patogen apa saja yang berperan menginvasi atau menimbulkan infeksi di rongga mulut. Menjelaskan mekanisme sistem imun dalam merespon invasi bakteri patogen di dalam rongga mulut. Menjelaskan jenis sterilisasi yang efektif dalam mencegah perkembangan mikroba sebagai penyebab infeksi di dalam mulut.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Mikroorganisme Patogen Rongga mulut merupakan pintu gerbang masuknya berbagai macam mikroorganisme ke dalam tubuh, mikroorganisme tersebut masuk bersama makanan atau minuman. Namun tidak semua mikroorganisme tersebut bersifat patogen, didalam rongga mulut mikroorganisme yang masuk akan dinetralisir oleh zat anti bakteri yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan bakteri flora normal ( Ferdinand, 2007 ).1 Bartels 1968 menyatakan bahwa infeksi didalam rongga mulut disebabkan oleh kuman-kuman yang biasa hidup normal dalam mulut.11 Flora normal adalah sekumpulan mikroorganisme yang hidup pada kulit dan selaput lendir/mukosa manusia yang sehat maupun sakit. Pertumbuhan flora normal pada bagian tubuh tertentu dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, nutrisi dan adanya zat penghambat. Keberadaan flora normal pada bagian tubuh tertentu mempunyai peranan penting dalam pertahanan tubuh karena menghasilkan suatu zat yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Adanya flora normal pada bagian tubuh tidak selalu menguntungkan, dalam kondisi tertentu flora normal dapat menimbulkan penyakit, misalnya bila terjadi perubahan substrat atau berpindah dari habitat yang semestinya ( Jawetz, 2005 ).1 Flora normal dalam rongga mulut terdiri dari Streptococcus mutans atau Streptococcus viridans, Staphylococcus sp dan Lactobacillus sp. Meskipun sebagai flora normal dalam keadaan tertentu bakteri-bakteri tersebut bisa berubah menjadi patogen karena adanya faktor predisposisi yaitu kebersihan rongga mulut. Sisa-sisa makanan dalam rongga mulut akan diuraikan oleh bakteri menghasilkan 8 asam, asam yang terbentuk menempel pada email menyebabkan demineralisasi akibatnya terjadi karies gigi. Plak yang mengandung bakteri patogen yang spesifik dapat memproduksi substansi yang memperantarai perusakan jaringan. Bakteri

flora normal mulut bisa masuk aliran darah melalui gigi yang berlubang atau karies gigi dan gusi yang berdarah sehingga terjadi bakterimia ( Jawetz, 2005 ).1,2 Kuman rongga mulut dijumpai bervariasi dan rumit. Gram-positive facutative cocci merupakan kelompok kuman yang dijumpai diseluruh bagian dari rongga mulut tapi macam speciesnya berbeda-beda sesuai dimana sampel diambil. Jenis kuman yang anaerobik juga merupakan kuman biasa dijumpai didalam mulut dalam keadaan normal, biasa didapat pada gingival crevice dan dental plaque. 11 Penyakit periodontal dapat didefenisikan sebagai proses patologis yang mengenai jaringan periodontal. Bentuk umum dari penyakit ini dikenal sebagai gingivitis dan periodontitis. Penyebab utama penyakit periodontal adalah bakteri.18 2.2. Sistem Imun di Dalam Rongga Mulut Kata imun berasal dari bahasa Latin immunitas yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.13 Sistem imun yang sehat adalah sistem imun yang seimbang yang bisa meningkatkan kemampuan tubuh dalam melawan penyakit. Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau serangan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan parasit. Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas, dan melawan sel yang teraberasi menjadi tumor.4,6,7
7

Kekebalan (immunitas) terjadi, karena bila tubuh dimasuki suatu antigen, baik berupa bakteri, virus ataupun toxinnya, tubuh akan bereaksi dengan membuat antibodi dalam jumlah yang besar, sehingga tubuh selesai menghadapi serangan antigen ini, di dalam serumnya masih terdapat sisa zat anti yang masih dapat dipakai untuk melawan serangan antigen yang sama. Sistem imun ini terdiri atas sistem imun non spesifik yang merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme yang tidak ditujukan terhadap rnikroorganisme tertentu. Sistem imun spesifik merupakan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme tertentu, termasuk di dalamnya yaitu antibodi yang disebut imunoglobulin, dibentuk oleh sel plasma berasal dari proliferasi sel B akibat adanya kontak dengan antigen. Pada manusia dikenal 5 kelas utama imunoglobulin, yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, IgB. Imunoglobulin terpenting diseluruh permukaan mukosa yang berfungsi sebagai penolakan infeksi adalah IgA, mempunyai kelas imunoglobulin kedua terbanyak dalam serum dan paling dominan pada seluruh permukaan mukosa. IgA kadarnya dalam cairan saliva lebih tinggi dalam bentuk Sekretori IgA (SIgA). 10,11 Saliva merupakan cairan oral yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Salah satu fungsi saliva yaitu untuk membersihkan rongga mulut, jika saliva berkurang maka bakteri akan meningkat sehingga akan menyebabkan karies pada gigi.15

2.3. Sterilisasi Salah satu cara untuk mencegah invasi mikroba adalah dengan menggunakan metode sterilisasi pada alat atau instrumen kedokteran yang digunakan. Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas, bahan kimia, dan penyaringan (filtrasi). Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah, bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi panas kering. Di pihak lain, sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan. (Hadioetomo & ratna siri, 1993).3

Menurut Appleton yang dikutip Molinari (2000), secara umum sterilisasi panas adalah merupakan pilihan utama mengingat cara pemakaiannya yang sederhana, ekonomis, dan efektif. Bila secara fisik tidak digunakan karena akan merusak bahan/alat yang akan disterilkan, dapat digunakan bahan kimia sebagai gantinya.17 Sterilisasi basah biasanya dilakukan di dalam autoklaf atau sterilisator uap yang mudah diangkat (portable) dengan menggunkan uap air jenuh bertekanan pada suhu 111 oC selama 15 menit. Karena titik didih air menjadi 111 oC itu disebabkan oleh tekanan 1 atmosfer pada ketinggian permukaan laut, maka daur sterilisasi tersebut seringkali juga dinyatakan sebagai : 1 atm 15 menit. Pada tempat-tempat yang lebih tingginya diperlukan tekanan lebih besar untuk mencapai suhu 111 oC. Karena itu daripada menyatakan besarnya tekanan, lebih baik menyatakan bahwa keadaan steril dicapai dengan cara mempertahankan suhu 111 oC selama 15 menit (Hadioetomo & ratna siri, 1993).3 Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat ditembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110 oC dan 111 oC. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain medium biakan yang umum, air suling,peralatan laboratorium, biakan yang akan dibuang, medium tercemar, dan bahan-bahan dari karet (Hadioetomo & ratna siri, 1993).3 Sterilisasi panas kering dapat diterapkan pada apa saja yang tidak merusak, menyala, hangus, dan menguap pada suhu setinggi itu. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain pecah belah seperti pipet, tabung reaksi, cawan petri dari kaca, botol sampel, juga peralatan seperti jarum suntik, dan bahan-bahan yang tidak tembus uap seperti gliserin, minyak, vaselin, dan bahan-bahan berupa bubuk. Bahan-bahan yang disterilkan harus dilindungi dengan cara membungkus, menyumbat atau menaruhnya dalam suatu wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven (Hadioetomo & ratna siri, 1993).3

Proses sterilisasi lain yang juga dilakukan pada suhu kamar ialah penyaringan. Dengan cara ini larutan atau suspensi dibebaskan dari semua organisme hidup dengan cara melakukannya lewat saringan dengan ukuran pori yang sedemikian kecilnya sehingga bakteri dan sel-sel yang lebih besar tertahan di atasnya, sedangkan filtratnya ditampung di dalam wadah yang steril. Beberapa contoh bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini ialah serum, larutan bikarbonat, enzim, toksin bakteri, medium sintetik tertentu, dan antibiotik (Hadioetomo & ratna siri, 1993).3

10

BAB III PEMBAHASAN

3. 1. Pembahasan Flora normal dalam rongga mulut terdiri dari Streptococcus

mutans/Streptococcus viridans, Staphylococcus sp dan Lactobacillus sp. Meskipun sebagai flora normal dalam keadaan tertentu bakteri-bakteri tersebut bisa berubah menjadi patogen karena adanya faktor predisposisi yaitu kebersihan rongga mulut. Sisa-sisa makanan dalam rongga mulut akan diuraikan oleh bakteri menghasilkan 8 asam, asam yang terbentuk menempel pada email menyebabkan demineralisasi akibatnya terjadi karies gigi. Bakteri flora normal mulut bisa masuk aliran darah melalui gigi yang berlubang atau karies gigi dan gusi yang berdarah sehingga terjadi bakterimia. 1 Spesies gram positif yang dominan meliputi Streptococcus sanguis, Streptococcus mitis, Streptococcus intermedius, Streptococcus oralis, Actinomyces viscosus, Actinomyces naeslundii, dan Peptostreptococcus micros.18 Pada periodontitis kronis ( periodontitis berkembang lambat) bakteri yang paling sering ditemukan dalam level yang tinggi meliputi Porphyromonas gingivalis, Tannerella forsythia, Prevotella intermedia, Campylobacter rectus, Eikonella corrodens, Fusobacterium nucleatum, Actinobacillus

actinomycetemcomitas, Peptostreptococcus micros, spesies Treponema dan Eubacterium. 18 Periodontitis agresif, yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai

periodontitis juvenile (lokalisata dan generalisata), periodontitis berkembang cepat (rapidly progressive periodontitis), early-onset periodontitis, dan

periodontitis prapubertas, diperkirakan berhubungan dengan keberadaan sejumlah besar Actinobacillus actinomycetemcomitans,
18

Capnocytophaga

spp.

dan

Porphyromonas gingivalis.

11

Penelitian menunjukkan bahwa ditemukan bakteri patogen periodontal dalam jumlah yang signifikan pada abses periodontal. Mikroorganisme patogen tersebut
18

meliputi

Fusobacterium

nucleatum,

Prevotella

intermedia,

Porphyromonas gingivalis, Peptostreptococcus micros, dan Tannerella forsythia.

Beberapa studi mikrobiologi menunjukkan mikroorganisme dominan pada GUNA (Gingivitis Ulseratif Nekrosis Akut) meliputi Prevotelle intermedia, spesies Fusobacterium, dan Spirokheta. 18 Mikroorganisme yang berkaitan dengan beberapa tipe penyakit periodontal : 18 Kondisi Sehat Mikroorganisme Predominan Streptococcus sanguis Streptococcus oralis Actinomyces naeslundii Actinomyces viscosus Veillonella spp. Streptococcus sanguis Streptococcus milleri Actinomyces israelii Actinomyces naeslundii Prevotella intermedia Capnocytophaga spp. Fusobacterium nucleatum Veillonella spp. Porphyromonas gingivalis Prevotella intermedia Fusobacterium nucleatum Tannerella forsythia (sebelumnya Bacteroides forsythus) Keterangan Sebagian besar gram positif dengan sedikit spirokheta dan bakteri batang motil

Gingivitis marginal kronis

Sekitar 55% gram positif dengan sesekali spirokheta dan bakteri batang motil

Periodontitis kronis Porphyromonas

Sekitar 75% gram negatif (90% anaerob). Terutama bakteri batang motil dan Spirokheta

12

Actinobacillus actinomycetemcomitans Selenomonas spp. Capnocytophaga spp. Spirochaetes Periodontitis agresif Actinobacillus actinomycetemcomitans Capnocytophaga spp. Porphyromonas gingivalis Prevotella intermedia Sekitar 65-75% bakteri basil gram negatif. Ditemukan sedikit spirokheta dan bakteri batang motil. Penyakit ini berhubungan dengan sistem imun seluler dan cacat genetik.

Sistem imunitas mukosa merupakan bagian sistem imunitas yang penting dan berlawanan sifatnya dari sistem imunitas yang lain. Sistem imunitas mukosa lebih bersifat menekan imunitas, karena mukosa berhubungan langsung dengan lingkungan luar dan berhadapan dengan banyak antigen yang terdiri dari bakteri komensal, serta antigen makanan dan virus dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan sistem imunitas sistemik. Antigen-antigen tersebut barier fisik dan kimiawi dengan enzim-enzim mukosa.18 Isotipe imunoglobulin utama dari sistem sekretory imun adalah secretory imunoglobulin A (SigA), merupakan antibodi terbesar dalam saliva. Dua molekul imunoglobulin diikat oleh J-chain yang disintesa oleh sel plasma melalui kelenjar saliva. Dimer IgA ini kemudian diikat oleh J-chain ke reseptor untuk polimerisasi imunoglobulin (pIgR) di dalam membran sel dari epitel kelenjar saliva.21 SIgA bertindak pada jalur utama perlindungan mukosa mulut terutama oleh pengikatan sederhana untuk melarutkan dan memecah antigen, pertahanan terhadap serbuan mikrobial. SIgA merupakan pertahanan imun spesifik yang dominan pada rongga mulut. SlgA membatasi melekatnya sptreptokokus oral, gonococci dan anggota enterobacteriaceae pada sel epitel yang terisolasi, sedapat

mungkin dicegah agar tidak menempel mukosa dengan pengikatan oleh IgA,

13

mengaglutinasi bakteri, menetralkan racun, enzim dan virus-virus dalam rongga mulut.10

Fungsi utama sistem imun pada rongga mulut yaitu melindungi gigi, rahang, gingival dan mukosa mulut terhadap infeksi.21 Mukosa oral terdiri atas lapisan Stratified squamous epithelium didukung oleh lamina propria merupakan barier mekanis untuk mikroorganisme mulut. Pelepasan terus-menerus dari epithel squamous akan membatasi kolonisasi mikroba di permukaan. Epitel oral membentuk sebuah jaringan interkomunikasi dari sistem imun, yang sinyalnya selalu berubah pada interaksi yang dinamis. Sel epitel oral menghasilkan: Sitokin termasuk interleukin-1 beta, interleukin-6, TNF alpha (tumor necrosis factor alpha), GM-CSF(Granulocyte macrophage colony stimulating factor) TGF beta(transforming growth factor beta) dan reseptoenya dan IL-8.15 Bakteri dapat menjadi sebuah stimulus bagi produksi sel epitel interleukin. Contohnya, IL-6. Sebaliknya, sitokin eksogen seperti IL-8 meningkatkan regulasi antigen MHC I dan II melalui sel epitel, yang kemudian berfungsi sebagai antigen presenting sel. Sitokin dapat juga disekresi oleh makrophag, fibroblas, sel dendrit, sel mast dan limfosit intra epitel di rongga mulut.14 Aliran saliva memiliki efek mekanis membersihkan mikroorganisme dari mukosa dan permukaan gigi. Saliva juga memiliki agen antimikrobial penting, yaitu14 :

14

Agen antimikrobial SIgA

Aktivitas Menghambat adherens bakteri aglutinin. Menetralisasi virus. IgA merupakan antibodi utama dalam saliva

Laktoferin Lysozime Agglutinins

Ikatan besi. Bakteriostatik Efektif menghambat Streptococcus mutans Glikoprotein, mucin, fibronektin, 2-mikroglobulin, histatin, prolin-kaya protein.

Sistem myeloperoxidase Sistem saliva peroksidase Komplemen Leukosit

Bakterisid terhadap tiosinad-halida H2O2

Enzim tiosinat H2O2

C3 mungkin diperoleh dari cairan sulkus gingiva Lebih dari 98% adalah neutrofil tetapi sampai 50% mungkin tidak bersifat fagositosis

Antibodi SIg A

yang memblok imun eksklusion, menghambat

mikroorganisme menuju ke epitel mulut atau gigi. Antibody monoclonal untuk Streptococcus mutans, organisme yang kariogenik, dapat dicegah dengan pemberian imun pasif untuk melawan bakteri karies gigi. SIg A juga dapat membunuh bakteri sebagai pagosit oleh polimorf. Komplemen menjadi aktif dan secara langsung menetralisir virus. Plasma sel mensintesis SIgA dengan melibatkan mukosa yang berhubungan dengan jaringan limfoid, yang membentuk system imun sekretori dari saluran cerna. Mukosa yang berasosiasi dengan jaringan limfoid berisi limfosit B dan T yang original, hasil dan fungsinya jelas. S Ig A mengeluarkan precursor sel B yang dihasilkan pada usus kecil, kemudian

15

bersirkulasi dan secara selektif dipandu oleh molekul adhesi yang dihasilkan pada mukosa venul postkapiler menuju tempat tertentu pada saluran cerna termasuk kelenjar saliva.14 Mekanisme efektor pada imunologi mukosa Selain mekanisme pembersihan antigen mekanis dan kimiawi, imuitas mukosa terdiri dari sel lain berupa sistem imune innate yang meliputi netrofil fagositik dan makrofag, denritik sel, sel NK (natural killer), dan sel mast. Sel-sel ini berperan dalam eliminasi patogen dan inisisasi respons imun adaptif.12 Mekanisme pertahanan sistem imun adaptif di permukaan mukosa adalah suatu sistem yang diperantarai antibodi sekresi IgA sekretori, kelas

imunoglobulin

predominan

dalam

eksternal

manusia.

Imunoglobulin ini tahan terhadap protease sehingga cocok berfungsi pada sekresi mukosa. Induksi IgA melawan patogen mukosa dan antigen protein terlarut bergantung pada sel T helper. Perubahan sel B menjadi sel B penghasil IgA dipengaruhi oleh TGF- dan iterleukin (IL)10 bersama-sama dengan IL-4. Diketahui bahwa sel T mukosa menghasilkan dalam jumlah yang banyak TGF-, IL-10 dan IL-4, sel epitelial mukosa menghasilkan TGF- dan IL-10, menjadi petunjuk bahwa maturasi sel B penghasil IgA melibatkan lingkungan mikro mukosa yaitu sel epitel dan limfosit T tetangga.12 Walaupun IgA predominan sebagai mekanisme pertahanan humoral, IgM dan IgG juga diproduksi secara lokal dan berperan dalam mekanisme pertahanan secara signifikan. Sel T limfosit sitolitik mukosa (CTL) mempunyai peran penting dalam imunitas pembersihan patogen virus dan parasit intraseluler. Sel CTL ini juga akan terlihat setelah pemberian imunisasi oral, nasal, rektal ataupun vaginal dan yang terbaru perkutaneus.12

16

Kontaminasi dari rongga mulut dan luka terbuka dapat disebarkan oleh udara, air, debu, aerosol, percikan atau droplets, sekresi saluran pernafasan, plak, kalkulus, bahan tumpatan gigi dan debris.17 Prosedur pencegahan penularan penyakit infeksi antara lain adalah evaluasi pasien, perlindungan diri, sterilisasi dan desinfeksi, pembuangan sampah yang aman dan tindakan asepsis termasuk juga dalam laboratorium tehnik gigi. Metode sterilisasi dan asepsis masa kini pada praktek dokter gigi dan laboratorium gigi secara nyata telah menurunkan resiko terjadinya penyakit pada pasien, dokter gigi, dan stafnya. Jalur utama penyebaran mikroorganisme pada praktek dokter gigi adalah melalui : 1. Kontak langsung dengan luka infeksi atau saliva dan darah yang terinfeksi. 2. Kontak tidak langsung dari alat-alat yang terkontaminasi. 3. Percikan darah, saliva atau sekresi nasofaring langsung pada kulit yang terluka maupun yang utuh atau mukosa. 4. Aerosol atau penyebaran mikroorganisme melalui udara.17 Sterilisasi adalah menghancurkan mikroorganisme termasuk spora dari bakteri yang resisten secara fisika maupun kimia. Desinfeksi adalah proses yang

17

membunuh atau menghilangkan mikroorganisme kecuali spora. Tujuan dari sterilisasi, yaitu : 1. Mencegah penyebaran penyakit dan infeksi. 2. Mencegah pembusukan dan kerusakan bahan oleh miroorganisme.16

Jenis-jenis sterilisasi berdasarkan cara sterilisasi dapat dibedakan atas: 1. Sterilisasi secara fisik. 2. Sterilisasi secara kimia. 3. Sterilisasi secara mekanik. 4. Sterilisasi secara gas mikroksidal. 5. Sterilisasi dengan saringan membrane. 3 Metode-metode dalam sterilisasi, yaitu : 1. Fisika a. Suhu tinggi Basah (autoclave) Kering (oven) Pemanasan dengan uap kimia (khemiklaf) b. Filtrasi c. Radiasi 2. Kimia a. Gas etilen oksida b. Sterilisasi dingin

18

Autoklaf Pemanasan basah dengan tekanan tinggi. Siklus sterilisasi 134 derajat C, 3 menit, 207 kPa. Cara kerjanya yaitu pressure cooker. Lebih efisien daripada perebusan maupun pemanasan kering (oven). Instrumen dapat dibungkus dengan kain muslin, kertas, nilon, aluminium foil, atau plastik yang dapat menyalurkan (permeable) uap.16 Oven Pemanasan kering. Penetrasi kurang efektif dibandingkan dengan pemanasan basah dengan tekanan tinggi. 16 Temperatur Waktu : 170 C/ 160 C :2 jam/1 jam untuk proses sterilisasi

Alat yang dapat menyalurkan panas :190 C Instrumen yang tidak dibungkus: 6 menit (Nisengard dan Newman, 1994)23

Pemanasan dengan uap kimia (khemiklaf) Kombinasi dari formaldehid, alkohol, aseton, keton, dan uap pada 138 kPa merupakan cara sterilisasi yang efektif. Kerusakan mikroorganisme diperoleh dari bahan yang toksik dan suhu tinggi. Sterilisasi dengan uap bahan kimia (30 menit) bekerja lebih lambat dari autoclave (15-20 menit) pada 138-176 kPa. 16 Filtrasi Metode ini dilakukan dengan cara menyaring mikroorganisme.16 Radiasi Digunakan pada marerial yang tidak dapat disterilisasi dengan panas dan kimia. Energi radiasi bekerja dengan cara menghancurkan mikroorganisme. 16

19

Gas Etilen Oksida Dalam temperatur ruangan fenol tidak berwarna. Fenol sangat beracun dan dapat mengiritasi kulit dan mukosa. Merupakan bahan kimia yang sangat berbahaya, sehingga penggunaannya harus sangat hati-hati. 16 Sterilisasi Dingin Instrumen yang akan direndam harus benar-benar kering untuk mencegah kerusakan. Waktu perendaman 10-20 menit. Tidak dapat menghancurkan spora dengan sempurna kecuali direndam selama 10 jam. Contohnya : Phenol, ethyl alcohol, glutaraldehide. 16 Sterilisasi dilakukan dalam 4 tahap : Pembersihan sebelum sterilisasi. Pembungkusan. Proses sterilisasi. Penyimpanan yang aseptik. 16

Dalam bidang kedokteran gigi pembersihan dapat dilakukan dengan : Pembersihan manual. Pembersihan dengan ultrasonik. 16 Sebelum disterilkan alat-alat harus dibersihkan terlebih dahulu dari debris organik, darah, dan saliva. Asisten dokter gigi yang membersihkan alat tersebut harus memakai sarung tangan heavy duty. 16

20

Sterilitas instrument harus tetap terjaga sampai bungkusan-bungkusan atau cassettesteril dibuka untuk digunakan di klinik untuk merawat pasien selanjutnya. 16 Proses pembungkusan dan cassette melalui sterilisasi uap harus

dikeringkan sebelum dipindahkan dari tempat sterilisasi. Hal ini juga sama dengan bungkusan, sampul atau cassette yang telah diproses melalui sterilisator kecil yang ada di klinik harus dikeringkan sebelum digunakan atau disimpan. Hal ini dikarenakan kertas atau sampul yang basah akan memberi peluang terhadap pertumbuhan mikroba. Salah satu cara pengeringan yaitu dengan mengaktifkan siklus pengeringan otomatis atau dengan membuka pintu sterilisator secara perlahan dan biarkan kering selama 30 menit. 16 Beberapa pabrik sterilisator menyediakan intruksi pengeringan dan mempunyai program siklus pengeringan tutup pintu dan buka pintu. Sterilisator tipe rumah sakit dan beberapa sterilisator uap untuk kantor kecil mempunyai siklus vakum pasca sterilisasi yang dapat menghilangkan embun dengan mengevakuasi ruangan pada akhir siklus. Sterilisasi uap kimia dan pemanasan kering menghasilkan bungkusan yang langsung kering. 16 Bungkusan yang panas atau hangat harus dikeringkan secara perlahanlahan untuk mencegah terjadinya kondensasi pada bagian instrumen. Jangan menyimpan bungkusan pada permukaan yang dingin atau di bawah pendingin ruangan. Hal ini dikarenakan adanya sirkulasi udara yang menyebabkan terjadinya kontaminasi dalam ruang sekitar bungkusan. 16 Bila instrumen tidak dibungkus pada saat proses sterilisasi, maka setelah dikeluarkan harus segera tutup kembali atau dilindungi dari kontak udara atau permukaan yang terkontaminasi sebelum pemakaiannya.16 Bungkusan yang steril harus dicegah supaya tidak jatuh ke lantai, sobek, tertekan atau basah, maka harus mempertimbangkan terjadinya kontaminasi. Bungkusan yang steril tidak boleh bercampur dengan bungkusan yang tidak steril.
21

Indikator kimia eksternal menyediakan pengukuran kontrol yang utama untuk mengidentifikasi instrumen-instrumen yang telah diproses melalui sterilisasi. Batas bersih dan kotor dalam ruang sterilisasi harus terpisah. 16 Penyimpanan instrumen steril lebih dari beberapa hari tidak biasa dalam kedokteran gigi karenan jumlah alat yang terbatas. Namun jaminan sterilisasi yang baik menuntut perlindungan terhadap sterilisasi instrumen, sehingga harus memperhatikan waktu antara sterilisasi dan pemakaian berulang.16 Bungkusan yang steril harus disimpan pada tempat yang tertutup, kering, bebas dari debu, jauh dari bak cuci, saluran air, dan beberapa inci jauhnya dari langit-langit, lantai, dan dinding luar. Hal ini untuk mencegah bungkusan menjadi basah oleh percikan air, produk pembersih lantai dan kondensasi dari saluran air atau dinding. Juga jauhkan bungkusan dari sumber panas yang dapat membuat bungkusan menjadi rapuh dan lebih rentan sobek atau berlubang.16 Waktu sterilisasi harus diperiksa secara periodik. Jika bungkusan menjadi basah, sobek atau berlubang, sterilitasnya diragukan. Instrumen yang tidak dibungkus tidak dapat disimpan, dikarenakan masa simpan instrumen bergantung pada pemeliharaan integritas bahan pembungkus.16 Berdasarkan sistem rotasi dalam pemeliharaan, instrumen yang lebih dahulu disterilkan yang digunakan. Waktu penyimpanan maksimum yaitu selama 1 bulan, pada saat semua instrumen yang tidak digunatan tidak terbungkus, pembungkusan ulang dengan bahan pembungkus baru, dan proses sterilisasi ulang. Kunci utama dalam jaminan sterilisasi adalah memeriksa setiap bungkus, sampul, dan cassette secara hati-hati sebelum dibuka. 16 Untuk distribusi, tempatkan instrumen dari bungkusan atau sampul yang steril pada tempat atau baki yang steril, sekali pakai atau minimal dibersihkan dan didisinfeksi di klinik. Instrumen dalan cassette disalurkan dan dibuka pada meja kerja. Penempatan instrumen baik yang dibimgkus atau yang tidak dibungkus dalam laci atau lemari untuk pemakaian langsung selama perawatan pasien, tidak
22

dianjurkan, karena baik laci maupun lemari mudah terkontaminasi oleh bendabenda lainnya atau jari tangan yang terkena saliva. Sistem penyimpanan atau distribusi berpotensi menyebabkan kontaminasi silang. 16

23

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan Rongga mulut manusia adalah gerbang pertama masuknya

mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan infeksi. Contohnya adalah bakteri bakteri . Untuk menghadapi infeksi dari invasi mikroba di dalam rongga mulut, maka akan dilibatkan peran dari sistem imun sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau serangan organisme. Antibodi yang disebut imunoglobulin terpenting diseluruh permukaan mukosa yang berfungsi sebagai penolakan infeksi dalam cairan saliva adalah Sekretori IgA (SIgA). Sterilisasi alat atau instrumen kedokteran gigi amat sangat penting untuk mencegah penukaran penyakit antara pasien ke pasien, pasien ke dokter dan dokter ke dokter. Sterilisasi yang paling efektif dilakukan adalah dengan sterilisasi panas. Bila secara fisik tidak digunakan karena akan merusak bahan/alat yang akan disterilkan, dapat digunakan bahan kimia sebagai gantinya.

4.2 Saran Disarankan bagi pasien untuk lebih menjaga kesehatan rongga mulutnya dengan cara sederhana yaitu menyikat gigi dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur untuk mencegah berkembang biaknya mikroba patogen yang dapat menyebabkan infeksi di dalam mulut. Bagi dokter gigi disarankan untuk sangat memperhatikan sterilitas alat atau instrumen kedokteran gigi yang digunakan sebelum menangani pasien agar tidak terjadi penularan penyakit antara pasien ke pasien, pasien ke dokter dan dokter ke dokter.

24

DAFTAR PUSTAKA

1.

Hiday, Nurul. Floral Normal Rongga Mulut. (Diakses 25 April 2013) http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/131/jtptunimus-gdl-nurulhiday-65362-11bab_2.pdf

2.

2011. Makalah Universitas Sumatera Utara : Karies Gigi. (Diakses 25 April 2013) http://repository.usu.ac.id/bitstream/113456789/21332/3/Chapter%20II.pdf

3.

Arwan. 2011. Praktikum Mikrobiologi. (Diakses 25 April 2013) http://arwanifoundation.blogspot.com/2011/01/praktikum-mikrobiologi.html

4.

Krisno, Agus. 2011. Pertahanan Tubuh yang Dapat Mencegah Invasi Mikroba. (Diakses 25 April 2013)

http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2011/01/13/pertahanan-tubuh-yangdapat-mencegah-invasi-mikroba-dari-luar/

5.

2011. Mekanisme Sistem Kekebalan Tubuh. (Diakses 25 April 2013) http://veteriner-unhas.blogspot.com/2011/04/mekanisme-sistem-kekebalantubuh.html

6.

Judarwanto, Widodo. 2011. Mekanisme Respon Tubuh Terhadap Serangan Mikroba. (Diakses 25 April 2013)

http://allergyclinic.wordpress.com/2011/02/03/mekanisme-respon-tubuhterhadap-serangan-mikroba/
7.

Listyawan , Wawan. 2011. Imunologi. (Diakses 25 April 2013) http://histologimumet.wordpress.com/2011/01/30/imunologi/

25

8.

Antonius, Arief. Perbandingan Efektivitas Sterilisasi Autoklaf dan Dry Heat Sterilizer Terhadap Instrumen Bedah Mulut. (Diakses 25 April 2013) http://digilib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=11756

9.

2011. Makalah Universitas Sumatera Utara : Patogenesis Terjadinya Kandidiasis Oral. (Diakses 25 April 2013) http://repository.usu.ac.id/bitstream/113456789/23362/4/Chapter%20I.pdf

10.

Darmawan, Tannady Yudi. Makalah Universitas Sumatera Utara : Sektretori IgA dan Fungsi Biologisnya Dalam Rongga Mulut. (Diakses 25 April 2013) http://repository.usu.ac.id/handle/113456789/8056

11.

Adam, Kresna. 2011. Mikrobiologi Rongga Mulut.

http://the-best-

dentistry.blogspot.com/2011/03/mikrobiologi-rongga-mulut.html

12.

Adwin,

Yosua.

Imunologi

Mukosa.

(Diakses

25

April

2013)

http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/05/16/imunologi-mukosa/

13.

Adwin, Yosua. Pengertian Sistem Imun. (Diakses 25 April 2013) http://www.scribd.com/doc/98083972/PENGERTIAN-Sistem-Imun

14.

Harahap, Suci Sylvana. 2010. Imunologi Mukosa Mulut. (Diakses 26 April 2013) http://www.scribd.com/doc/127011175/IMUNOLOGI-MUKOSA-

MULUT-2010

15.

Ionic silver GT : Informasi tentang ionic silver GT skripsi bab 1-5 doc. Available 01 Juli 2011 (Diakses 26 April 2013)

16.

Mulyanto, Assep Purna. 2008. Pembersihan, Sterilisasi dan Penyimpanan. (Diakses 26 April 2013) http://cancery.blogspot.com/2008/04/pembersihansterilisasi-dan-penyimpanan_12.html

26

17.

Ayuka. 2008. Pencegahan Penularan Penyakit Infeksi Pada Praktek Dokter Gigi. (Diakses 26 April 2013)

http://ayuka.wordpress.com/2008/12/11/tindakan-pencegahan-penularanpenyakit-infeksi-pada-praktek-dokter-gigi/#more-17

18.

Makalah Universitas Sumatera Utara : Peran Bakteri Dalam Patogenesis Penyakit Periodontal. (Diakses 26 April 2013)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25310/3/Chapter%20II.pdf

27