Anda di halaman 1dari 15

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................... DAFTAR ISI............................................................................................ BAB 1 PENDAHULUAN


Latar belakang........................................................................... Rumusan masalah...................................................................... Tujuan........................................................... ............................

BAB 2

PEMBAHASAN
Pembahasan materi........................................................... ........

BAB 3

PENUTUP
Simpulan........................................................... ........................ Saran........................................................... .............................. Daftar pustaka.......................................................... .................

KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan karunia yang telah diberikan, kami dapat menyusun paper karakteristik pulp dengan tema materi penggunaan kayu daun jarum dalam proses pembuatan pulp. Pembuatan paper ini memiliki tujuan yaitu untuk memberikan pengetahuan mendalam mengenai kayu daun jarum baik sifat fisik, maupun sifat kimia, dan berbagai informasi lain yang menunjang untuk proses pembuatan pulp. Paper ini disusun sepadat mungkin agar lebih mudah dipahami oleh mahasiswa yang membacanya. Oleh karena itu atas keberhasilan kami menyelesaikan paper ini kami mengucapkan terimakasih kepada : 1. Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat karunia dan ridho nya kami berhasil menyusun paper ini. 2. Ibu Noor Rachmawati selaku dosen karakteristik pulp yang menyampaikan materi dan pengetahuan bagi kami. 3. Teman-teman yang selalu menyemangati kami dalam pembuatan paper ini. Kami menyadari sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, tentu hasil karya kami ini tidak mungkin luput dari kekurangan. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun serta kontribusi pemikiran anda sangat kami harapkan sehingga paper ini bermanfaat bagi kita semua.

Bekasi, 27 April 2013

Penyusun

BAB 1 PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Tanaman berdaun jarum biasanya hidup di kawasan 4 musim di mana matahari tidak tetap sepanjang tahun. Kadang menyengat, kadang hampir tidak terasa. Kondisi yang terdingin adalah kondisi paling kritis dari masa hidup suatu tanaman di kawasan tersebut, dan itulah yang mempengaruhi bentuk dan arah evolusi tanaman berdaun jarum (konifer). Bentuk daun yang berjarum mampu mencegah angin menerbangkan daun-daun mereka, karena mereka sangat membutuhkan daun untuk berfotosintesis di saat intensitas matahari sedikit. Jika angin menerbangkan dedaunan mereka, maka fotosintesis mereka akan terganggu sepanjang musim dingin. Selain itu, bentuk daun jarum mengakibatkan mereka memiliki jumlah daun yang lebih banyak dalam panjang batang yang sama dibandingkan tanaman berdaun lebar. Sehingga bentuk daun jarum adalah yang paling efisien dalam mendapatkan cahaya matahari di kawasan dingin. Kayu daun jarum memiliki ciri khas tersendiri, baik dari segi anatomi, sifat fisik, maupun sifat kimia. Berbeda jenis pohon tentu berbeda pula kualitas yang diberikannya. Contohnya seperti jenis kayu daun lebar yaitu pohon jati yang memiliki kualitas tekstur yang kuat dibandingkan dengan kayu daun jarum. Maka kayu pohon jati ini cocok dipakai untuk peralatan furnitur. Namun, kayu daun jarum juga mempunyai keunggulan pada aspek lainnya. Kayu daun jarum lebih bagus dari pada kayu daun lebar jika digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas (pulp) karena kayu daun jarum memiliki serat yang panjang dan kandungan bahan kimia yang cocok untuk pembuatan pulp(selulosa, hemiselulsa, lignin, dll). Contoh pohon yang berdaun jarum yang cocok digunakan sebagai bahan baku pulp salah satunya adalah pohon pinus merkusii. Kayu pinus merkusii memiliki serat yang bagus sebagai bahan pembuatan pulp. Pulp itu sendiri adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat yang berfungsi sebagai bahan utama dalam pembuatan kertas. Serat pada kayu pinus merkusii memiliki kekuatan yang lebih baik dari kayu daun lebar karena dia berserat panjang. Sehingga biasa digunakan untuk membuat kertas yang memerlukan kekuatan sobek yang besar, seperti kertas semen. Tetapi kayu pinus merkusii tidak baik digunakan untuk kayu pertukangan, karena kayu pinus merkusii memeliki kekerasan yang kecil/lunak sehingga akan mudah hancur jika digunakan untuk kayu pertukangan.

TUJUAN PENULISAN
Dalam pembuatan paper ini kami bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai kayu daun jarum sebagai bahan dasar dalam proses pembuatan pulp, sehingga mahasiswa bisa lebih mengerti dan bisa menerapkan ilmu nya dalam dunia kerja nanti.

BAB 2 PEMBAHASAN 1. Kayu Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Pulp


Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat yang berbeda-beda. Berdasarkan dari jenis daunnya kayu terbagi dua, yaitu kayu daun lebar dan kayu daun jarum. Kayu daun lebar dan kayu daun jarum tentu memiliki sifat yang berbeda. Tapi yang akan kami bahas disini adalah mengenai kayu daun jarum khususnya kayu pohon pinus merkusii. Sifat-sifat pada kayu ada sifat fisik, sifat mekanik, dan sifat kimia. Sifat fisik kayu pinus merkusii Sifat fisik pada kayu antara lain Berat jenis Keawetan alami Warna kayu Higroskopik Berat Kekerasan, dll.

Berat jenis Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda. Makin berat kayu itu umumnya makin kuat juga kayu nya begitupun sebaliknya. Berat jenis kayu diperoleh dengan perbandingan antara berat volume kayu dengan volume air yang sama pada suhu standar. Berat jenis kayu daun jarum lebih kecil dibanding kayu daun lebar. Karena kayu daun jarum memiliki kayu yang lebih lunak. Keawetan alami Keawetan alami adalah ketahanan kayu terhadap serangan unsur-unsur perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, dan makhluk lainnya yang diukur dengan jangka waktu tahunan. Keawetan kayu disebabkan suatu zat yang sifat nya sebagai racun bagi perusak kayu. kayu daun jarum contohnya pohon pinus adalah salah satu pohon yang lemah terhadap serangan jamur, atau biasa disebut blue stain. Jadi harus cepat dikeringkan setelah penebangan.

Warna kayu Warna kayu contohnya cokelat muda, cokelat tua, kehitam-hitaman, kemerahmerahan, dsb. Itu disebabkan zat-zat pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda. Warna pada kayu dipengaruhi faktor umur, kelembapan udara, dll. Pada kayu pinus sebagai contoh kayu daun jarum memiliki warna krem. Higroskopik Higroskopik adalah sifat kayu yang menyerap dan mengeluarkan air. Masuk dan keluarnya air pada kayu menyebabkan kayu itu basah atau kering. Akibatnya kayu itu akan mengembang atau menyusut. Pada kayu daun jarum kita ambil contoh pohon pinus adalah salah satu pohon yang lemah terhadap kelembapan udara. Tekstur Tekstur pada kayu dibagi 3 yaitu tersktur halus, sedang, dan kasar. Setiap kayu tentunya memiliki tekstur yang berbeda-beda. Kayu pinus merkusii termasuk yang bertekstur halus. Serat Serat menyangkut sifat kayu yang menunjukan arah sel-sel kayu. Kayu dikatakan berserat lurus apabila serat sejajar dengan sumbu batang. Tapi juga ada serat yang terpilin, berombak, berpadu, dan diagonal. Dan juga ada yang serat pendek, dan serat panjang. Kayu daun jarum itu berserat panjang sehingga memiliki kekuatan serat yang lebih besar. Kekerasan Kekerasan kayu biasanya berhubungan langsung dengan berat kayu. Kayu yang keras memiliki berat yang besar, dan sebaliknya. Kayu sangat keras contohnya kayu giam, balau, dll Kayu keras contohnya kayu kulim, pilam, dll Kayu sedang kekerasannya contohnya kayu mahoni, meranti, dll Kayu lunak contohnya kayu pinus, balsa, dll

Kayu daun jarum umumnya memiliki kekerasan yang kecil/lunak. Bau dan rasa Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu itu lama tersimpan di udara luar. Untuk mengetahui rasa dan bau harus dilakukan dengan melakukan sayatan baru pada kayu atau membasahi kayu itu.

Sifat mekanik kayu pinus merkusii Sifat mekanik kayu atau kekuatan kayu adalah kemampuan kayu untuk menahan muatan dari luar. Yang dimaksud muatan dari luar adalah gaya-gaya diluar benda yang mempunyai kecendrungan untuk mengubah bentuk dan besarnya benda. Hakekatnya dalam penggunaan kayu dibutuhkan syarat kekuatan. Kekuatan itu dibedakan sebagai berikut. Kekuatan tarik Kekuatan tarik adalah kekuatan kayu yang berusaha menahan gaya-gaya yang berusahan menarik kayu itu. Kekuatan tarik terbesar pada kayu adalah sejajar arah serat. Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih kecil dibanding yang sejajar serat. Kekuatan tekan/kompresi Kekuatan tekan atau kompresi adalah kekuatan kayu untuk menahan muatan dalam penggunaannya. Kekuatan tekan ada 2 yaitu sejajar arah serat dan tegak lurus arah serat. Kekuatan tekan tegak lurus arah serat menentuka ketahanan kayu terhadap beban. Kekuatan kayu tegak lurus arah serat pada semua kayu lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan tekan sejajar arah serat.

Kekuatan geser Yang dimaksud kekuatan geser adalah suatu kekuatan kayu yang menahan gaya-gaya yang bisa membuat kayu itu bergeser dari bagian lain di dekatnya. Dalam hal ini dibedakan menjadi 3 macam. 1. Kekuatan geser tegak lurus arah serat 2. Kekuatan geser sejajar arah serat 3. Kekuatan geser miring Pada kekuatan geser tegak lurus arah serat jauh lebih besar dibandingkan kekuatan geser sejajar arah serat.

Kekuatan lengkung (lentur) Kekuatan yang menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu. Seperti menahan beban-beban mati, atau pukulan. Kekuatan lengkung ada 2 yaitu kekuatan lengkung static dan kekuatan lengkung pukul. Kekuatan lengkung static yaitu kekuatan kayu menahan beban secara perlahan-lahan, sedangkan kekuatan kayu pukul adalah kekuatan kayu yang menahan gaya yang mengenainya secara mendadak, seperti pukulan.

Kekakuan Kekakuan adalah kekuatan yang menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan dinyatakan dengan modulus elastisitas. Keuletan Kayu yang tidak mudah dibelah dikatakan ulet. Keuletan kayu adalah kayu yang tidak akan belah sebelum berubah bentuk karena menahan beban yang sama atau mendekati kekuatan maksimum nya, atau kayu yang telah patah dan di lekuk bolak-balik tanpa tanpa kayu tersebut putus atau terlepas.

Sifat kimia kayu pinus merkusii Komponen kimia dalam kayu pun memiliki arti yang penting. Karena menentukan kegunaan jenis kayu. Dengan mengetahuinya kita bisa membedakan jenis-jenis kayu. Susuna kimia kayu digunakan sebagai pengenal ketahanan kayu terhadap makhluk perusak kayu. Pada umumnya sifat kimia kayu terdiri dari 3 unsur yaitu: Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa. Unsur non karbohidrat yaitu lignin. Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan dinamakan zat ekstraktif.

Kadar selulosa dan hemiselulosa banyak terdapat pada dinding sekunder, sedangkan lignin banyak terdapat pada dinding primer dan lamella tengah, zat ekstraktif terdapat pada luar dinding sel kayu.

Selulosa Selulosa adalah senyawa organik bahan kristalin untuk membangun dinding sel. Bahan dasar selulosa adalah glukosa. Molekul-molekul glukosa disambung menjadi molekul besar, panjang, dan berbentuk rantai dalam susunan menjadi selulosa. Selulosa adalah polisakarida yang terdiri dari rantai linier dari beberapa ratus hingga beribu-ribu ikatan. Selulosa merupakan komponen utama dari dinding sel pada tumbuhan. Rumus selulosa adalah C6H12O6. Selulosa merupakan bahan dasar penting dalam industri pembuatan kertas. Hemiselulosa Hemiselulosa merupakan semacam selulosa berupa persenyawaan dengan molekulmolekul besar. Tersusun dari glukosa yang rumusnya C5H10O5. Zat ini sebagai bahan bangunan dinding sel juga sebagai bahan zat cadangan. Banyakny selulosa sekitar 15-25%.

Lignin Lignin merupakan bagian yang bukan karbohidrat. Tidak bersturktur dan bentuknya amorf. Lignin berfungsi sebagai lem dari selulosa agar dinding sel menjadi kuat. Dalam proses pembuatan pulp lignin itu sangat merugikan, dan harus dibuang. Zat ekstraktif Zat ekstraktif adalah zat yang mudah larut dalam pelarut. Banyaknya rata-rata 3-8% dari berat kering tanur. Zat ekstraktif bukan bagian dari penyusun dinding sel, tapi berada dalam rongga sel. Zat ekstraktif memiliki bagian yang penting dari kayu karena : Bisa mempengaruhi sifat keawetan, warna, rasa, dan bau suatu jenis kayu. Dapat digunakan untuk mengenal suatu jenis kayu. Dapat digunakan sebagai bahan industri. Abu Di samping persenyawaan organik di dalam kayu ada beberapa zat organik, yang disebut bagian-bagian abu adalah mineral pembentuk abu yang tertinggal setelah lignin dan selulosa habis terbakar. Kadar zat ini bervariasi antara 0,2-1% dari berat kayu. Berikut adalah tabel perbandingan sifat kimia kayu antara softwood, hardwood, dan nonwood. Kandungan Bahan Kimia Selulosa Hemiselulosa Lignin Zat ekstraktif Serat Panjang (soft wood) 42 +/- 2 % 27 +/- 2 % 28 +/- 3 % 5 +/- 3 % Serat Pendek (hard wood) 40 +/- 2 % 30 +/- 5 % 28 +/- 3 % 3 +/- 3 % Bukan Kayu (non wood) (36 38) % (38 40) % (12 16) % -

Sifat kimia pada kayu pinus merkusii Komponen Selulosa Hemiselulosa Lignin Abu Air (Ir. YusupSetiawan, M.Eng., 20 Nominal (%) 42,59 25,94 26,90 0,47 4,1

STRUKTUR ANATOMI KAYU DAUN JARUM

Longitudinal Cell
1. Longitudinal tracheid Lebih dari 90% volume softwood tersusun oleh sel panjang yang disebut longitudinal trcheida. Sel ini relatif lebih panjang (3-4mm) bila dibandingkan dengan fiber pada hardwood. Sel ini berbentuk prismatik dengan ujung tertutup. Pada dinding trakeid terdapat noktah berhalaman. Dalam lingkar tumbuh yang sama, morfologi trakeid kayu awal dan kayu akhir terjadi perbedaan. Trakeid pada kayu awal memiliki dinding yang relatif lebih tipis, poligon sampai persegi panjang pada penampang lintangnya serta memiliki banyak lumia. Tipe noktahnya border pits lokasinya pada dinding radial. Sedangkan trakeid pada kayu akhir memiliki dinding yang tipis, sedikit lumia. Bentuknya cenderung persegi panjang sepanjang arah tangensial. Border pits lebih kecil dan sedikit. Trakeid pada kayu akhir 10% lebih panjang dari trakeid kayu awal. 2. Longitudinal parenchyma Pada softwood, parenkim longitudinal (aksial) keberadaannya digolongkan menjadi 3. Yaitu sama sekali tidak ada, jarang, ada tetapi jumlahnya tidak tetap. Ketika ada keberadaan parenkim tersebar diantara trakeid : zonate atau banded (tangensial line or band) serta boundary (initial atau terminal) 3. Saluran interselular Saluran resin merupakan ruang antara dari sel softwood yang dibuat oleh pemisahan dari sel-sel yang berdekatan, kondisi ini terjadi pada awal perkembangan jaringan kayu yang kemudian sel menghasilkan sel khusus penghasil resin yaitu sel epitelial. Arah orientasi dari saluran resin secara longitudinal (axial) atau radial. Keberadaan saluran resin secara axial diantara trakeid dan secara radial didalam jari-jari. Secara umum saluran axial memiliki diameter yang lebih besar daripada radial. Namun keduanya adalah sebagai penghubung dan pembuat jaringan dalam pohon. Ketika terjadi perubahan dari kayu gubal menjadi kayu teras, saluran resin akan tersumbat oleh tylosoid. Fenomena ini dianalogikan dengan terbentuknya tylosis (proses fisiologis dan hasil oklusi dalam xilem tanaman berkayu sebagai respon terhadap cedera atau sebagai perlindungan dari pembusukan) pada hardwood, namun perbedaannya adalah tylosoid dihasilkan oleh sel epitelial dan tidak melalui rongga noktah.

Transverse cells 1. Jari jari Jari-jari pada softwood sebagian besar adalah uniseriate (disusun dalam satu baris), sebagian kecil saja yang biseriate (disusun dalam dua baris). Rata-rata jumlah volume jari-jari berkisar antara 5-30% dari total volume kayu. Ketika pada jari-jari terbentuk saluran resin, maka jari-jari pada saluran tengah akan lebih besar dimana pada arah radial ditemukan ruang interselular. Jarijari yang mengandung saluran resin disebut jari-jari fusiform. Saluran resin secara radial hanya terjadi pada jari-jari fusiform.

2. Pulp Kayu Pinus Merkusii


Pulp adalah produk utama kayu, terutama digunakan untuk pembuatan kertas, tetapi pulp juga diproses menjadi berbagai turunan selulosa, seperti rayon dan selofan. Pulp sering juga disebut hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu) melalui berbagai proses pembuatannya. Tujuan utama pembuatan pulp kayu adalah untuk melepaskan serat-serat yang dapat dikerjakan secara kimia, atau secara mekanik atau dengan kombinasi keduanya. Proses pembuatan pulp yang baru diketahui ada 4 jenis. Mulai dari proses secara kimia (kraft, soda, dan sulfit), semi-kimia (neutral sulfite dan semi-thermomekanik), mekanik (stone groundwood, refiner mechanical, mekanik pembaharuan, dan thermo-mechanical), dan organosolv. Dalam pembahasan makalah ini kami mengambil salah satu subproses dari keempat proses tersebut, yaitu proses kraft (sulfat). Dalam pembuatan pulp, kraft merupakan subproses dari proses kimia.

A. Keuntungan proses kraft Kraft berarti kuat dalam bahasa Jerman. Kraft pulping menghasilkan serat pulp yang kuat dalam proses pemasakan dengan menggunakan bahan kimia yang merupakan campuran dari NaOH dan Na2S (lindi putih). Tujuan dari pengolahan kraft (sulfat) pulp adalah untuk memisahkan serat dalam kayu secara kimia dan melarutkan sebagian besar lignin yang terdapat dalam dinding serat atau untuk memasak serpihan kayu sesuai dengan target bilangan kappa. Proses kraft (sulfat) lebih baik daripada proses soda karena lebih fleksibel dalam bahan baku, waktu pemasakan relatif lebih singkat, delignifikasi lebih tinggi dari pada proses sulfit, dan sisa larutan pemasak mudah untuk di daur ulang (Casey, 1980). Secara singkat, mula-mula kayu dipotong-potong dengan mesin pemotong hingga ukuran kurang lebih 5cm, potong-potongan ini kemudian diayak. Kayu yang halus dimasukkan kedalam tempat penampung yang kemudian akan digester (dimasak). Setelah potongan-potongan kayu tersebut di masukkan ke dalam digester, kemudian dimasukkan pula natrium sulfida dan NaOH, kemudian dipanaskan dengan uap dan di aduk dengan suatu alat pengaduk yang terdapat dalam digester tersebut. Pulp yang telah jadi dikeluarkan dan dicuci dengan air

dalam tanki pencuci sehingga liquornya akan terpisah. Liquor yang dihasilkan dimasukkan ke dalam tanki penampung untuk direcovery. Pulp yang sudah dicuci disaring lagi dengan saringan rotary drum filter, kemudian hasilnya diputihkan dengan kalsium hipoklorit sehingga hasilnya sudah agak putih. Selanjutnya diinetralkan dengan CaO atau NaOH, dicuci dan dikeringkan. Hasilnya terbentuklah pulp kering. Berikut ini beberapa keuntungan menggunakan proses kraft : - semua spesies kayu dapat digunakan sebagai bahan baku - prosesnya relatif tidak sensitif terhadap kulit kayu - waktu pemasakan relatif singkat - masalah pitch dalam pulp relatif kecil - pulp lebih kuat - efisien dalam penggunaan kembali bahan kimia dan energi - memiliki hasil samping seperti turpentine dan tall oil yang cukup bernilai

B. Kualitas pulp Pada proses pembuatan pulp, bahan baku yang digunakan adalah kayu. Kualitas pulp sangat ditentukan oleh jenis kayu yang digunakan. Diharapkan jenis kayu yang digunakan untuk menghasilkan kualitas pulp yang bagus adalah yang mempunyai kandungan selulosa yang tinggi, lignin yang rendah, tidak rapuh, tidak banyak getah dan tidak berkulit tebal. A. Bahan baku pulp Bahan baku yang digunakan adalah jenis kayu daun jarum yaitu kayu pinus merkusii, sering juga disebut sebagai kayu lunak atau softwood. Jenis pohon ini selalu hijau sepanjang tahun dan tidak menggugurkan daunnya pada musim kemarau. Kayu ini sangat cocok dijadikan sebagai bahan baku pulp. Bisa dilihat dari sifat fisiknya yang relatif lunak sehingga dapat mempermudah dalam proses pemasakan. Memiliki serat yang panjang yang fungsinya dapat menguatkan ikatan serat satu sama lain dengan baik sehingga pulp pun menjadi bagus kualitasnya. B. Kualitas bahan baku Bahan baku yang telah dicuci selanjutnya akan dipotong-potong menjadi bagianbagian kecil yang disebut chip. Kualitas chip yang digunakan dalam pulping adalah factor yang sangat penting dalam kualitas akhir pulp. Oleh karena itu perlu diketahui factor-faktor yang mempengaruhi kualitas chip pada produksi pulp. Faktor-faktor kualitas chip yang perlu diperhatikan adalah: Jenis kayu Chip-chip softwood menghasilkan pulp yang lebih kuat dari pada hardwood karena fiber-fibernya lebih panjang dan lebih fleksibel daripada hardwood.

Softwood umumnya menghasilkan yield yang lebih rendah daripada hardwood bila dimasak dibawah kondisi biasanya. Berat jenis kayu Density kayu adalah factor ekonomi yang penting dalam pulping. Dengan suatu kayu yang padat (denser wood) akan membuat lebih banyak dalam volume digester dan ini akan meningkatkan produksi pulp. Kualitas pulp maupun kertas juga dipengaruhi oleh densitas kayu yang digunakan. Serat yang didapat dari kayu dengan densitas rendah akan menghasilkan serat yang fleksibel serta kertas yang berkekuatan baik. Kayu daun jarum memiliki density yang rendah sehingga pulp dari bahan baku ini pun akan berkualitas baik.

C. Keuntungan penggunaan kayu jenis pinus merkusii sebagai bahan baku pulp adalah: 1. Sifat kimia Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya kayu pinus merkusii memiliki selulose dan hemiseluse yang relatif tinggi dibandingkan dengan bahan baku jenis lainnya. Hal ini memberikan keuntungan terhadap kualitas kekuatan ikatan serat dalam pulp. Namun, kayu pinus merkusii memiliki lignin yang relatif tinggi dikarenakan umur panennya yang cukup lama yaitu sekitar >30 tahun. 2. Sifat fisik Kayu pinus merkusii merupakan kayu daun jarum yang identik memiliki tekstur yang lebih lunak (softwood) dari pada kayu daun lebar (hardwood) sehingga memberikan kemudahan dalam proses pemasakan. Selain itu kayu pinus merkusii memiliki serat yang panjang sehingga pulp yang dihasilkan memiliki kekuatan tarik dan kekuatan tahan sobek yang tinggi.

BAB 3 PENUTUP
KESIMPULAN
Kayu daun jarum tumbuh di dataran tinggi dengan suhu yang rendah termasuk kayu pinus merkusii. Semakin rendah BJ bahan baku maka semakin bagus pulp yang akan dihasilkan. Berat jenis kayu pinus merkusii relatif rendah dibandingkan dengan kayu hardwood dan non-wood. Proses kraft lebih unggul dari pada proses soda karena karena lebih fleksibel dalam bahan baku, waktu pemasakan relatif lebih singkat, delignifikasi lebih tinggi dari pada proses sulfit, dan sisa larutan pemasak mudah untuk di daur ulang. Sifat fisik, sifat kimia, dan anatomi kayu pinus merkusii memberikan keuntungan terhadap pulp yang dihasilkan.

SARAN
Keuntungan bahan baku pulp kayu daun jarum khususnya pinus merkusii dapat dilihat dari sifat fisik, sifat kimia, dan anatomi. Maka dari itu perlu diperhatikan hal-hal berikut untuk menghasilkan pulp yang berkualitas bagus. Namun perlu diperhatikan pula waktu pemanenan bahan baku serta pemilihan proses pulping. Supaya hasil produksi dapat diperhitungkan dengan sebaik-baiknya.

DAFTAR PUSTAKA
www.google.com http://forda-mof.org/files/1130,%20Nurwati%20H,%20Daur%20Tek.%20Pinus.pdf
http://rezawidi.blogspot.com/2011/04/proses-pembuatan-pulp-bubur-kertas.html

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-NonDegree-19179-2308030011-2308030053chapter1pdf.pdf http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/24600/Kemampuan%20teknol ogi%20pulp%20dan%20kertas.pdf

PAPER KARAKTERISTIK PULP TENTANG

KARAKTERISTIK PULP PINUS MERKUSII

Hasil kerjasama : 1. 2. 3. 4. Arfan Nurgana Irwan Jaya Muhamad Alkharis Bakhtar Ar Rasyid (012.12.023) (012.12.001) (012.12.024) (012.12.008)

Jl. Ganesha Boulevard, Lot-A1 CBD Kota Deltamas Tol Jakarta-Cikampek Km 37 Cikarang Pusat, Bekasi

Beri Nilai