Anda di halaman 1dari 14

Wisnu Budi Penangsang 1102009302

1. Memahami dan menjelaskan tentang pembiayaan kesehatan

a. Pengertian Biaya kesehatan didefinisikan besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. (Azrul A., 1996)
b. Jenis Pembiayaan Kesehatan

Terdapat 3 jenis pembiayaan kesehatan berdasarkan ideologi negara di dunia, yaitu : 1. Sosialis (welfare state). Pada negara-negara tersebut, negara mempunyai kewajiban penuh untuk memenuhi biaya kesehatan. Bisa juga disebut tanggungan negara 100%. 2. Liberalis-kapitalis. Di sini biaya kesehatan diserahkan pada mekanisme pasar atau pemerintah tidak menanggung biaya kesehatan) sehingga pelayanan kesehatan menjadi berorientasi pada keuntungan semata. 3. Kombinasi antara sosialis dan kapitalis . Biaya kesehatan pada negara yang mengacu sistem pembiayaan kombinasi ditanggung oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat. Berdasarkan dari jenis pembiayaan kesehatan tersebut, dapat ditentukan Indonesia mengikuti sistem kombinasi dimana pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat samasama menanggung beban pembiayaan kesehatan. c. Macam Pembiayaan Kesehatan Tergantung dari jenis dan kompleksitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dan atau dimanfaatkan. Hanya saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan kedokteran, maka biaya kesehatan tersebut. Secara umum dapat dibedakan atas dua macam yakni: 1. Biaya pelayanan kedokteran Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan intuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan pelayanan kedokteran. Yakni yang tujuan utamanya untuk mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan penderita. 2. Biaya pelayanan kesehatan masyarakat Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Yakni yang tujuan utamanya untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit. d. Unsur-unsur Pembiayaan Kesehatan Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait, dari masyarakat, maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggung-jawabkan. Sumber daya

Sumber daya pembiayaan kesehatan terdiri dari: SDM pengelola, standar, regulasi dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/Mekanisme Pengelolaan Dana Kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan, baik oleh Pemerintah secara lintas sektor, swasta, maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana kesehatan. e. Tujuan Pembiayaan Kesehatan Tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil dan termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdaya-guna, untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Pokok utama dalam pembiayaan kesehatan adalah: a) Mengupayakan kecukupan dan kesinambungan pembiayaan kesehatan pafa tingkat pusat dan daerah b) Mengupayakan pengurangan pembiayaan OOP dan meniadakan hambatan pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama kelompok miskin dan rentan melalui pengembangan jaminan c) Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan Organisasi kesehatan dunia (WHO) memberi fokus strategi pembiayaan kesehatan yang memuat isu-isu pokok, tantangan, tujuan utama kebijakan dan program aksi itu pada umumnya adalah dalam area sebagai berikut: Meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam bidang kesehatan Mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penguatan permeliharaan kesehatan masyarakat miskin Pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk didalamnya asuransi kesehatan sosial (shi) Penggalian dukungan nasional dan internasional Penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional Pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang didasarkan pada data dan fakta ilmiah Pemantauan dan evaluasi.

a. b. c. d. e. f. g.

f. Prinsip Sistem Pembiayaan Kesehatan Prinsip Subsistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia

1. Jumlah dana untuk kesehatan harus cukup tersedia dan dikelola secara berdaya-guna, adil dan berkelanjutan yang didukung oleh transparansi dan akuntabilitas. 2. Dana pemerintah diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan bagi masyarakat rentan dan keluarga miskin. 3. Dana masyarakat diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan perorangan yang terorganisir, adil, berhasil-guna dan berdaya-guna melalui jaminan pemeliharaan kesehatan baik berdasarkan prinsip solidaritas sosial yang wajib maupun sukarela, yang dilaksanakan secara bertahap. 4. Pemberdayaan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan diupayakan melalui penghimpunan secara aktif dana sosial untuk kesehatan (misal: dana sehat) atau memanfaatkan dana masyarakat yang telah terhimpun (misal: dana sosial keagamaan) untuk kepentingan kesehatan. 5. Pada dasarnya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan pembiayaan kesehatan di daerah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Namun untuk pemerataan pelayanan kesehatan, Pemerintah menyediakan dana perimbangan (maching grant) bagi daerah yang kurang mampu. g. Sumber Biaya Kesehatan: Pemerintah, swasta, masyarakat, sumber lain(hibah, pinjaman dari luarnegri). 1. Seluruhnya bersumber dari anggaran pemerintah Tergantung dari bentuk pemerintahan yang dianut, ada ditemukan suatu negara yang menanggung biaya kesehatan sepenuhnya (cuma-cuma), pada negara seperti ini tidak ditemukan pelayanan kesehatan swasta. 2. Sebagian ditanggung oleh masyarakat Masyarakat diajak berperan serta, baik dalam menyelenggarakan upaya kesehatan ataupun pada waktu memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan. Dapat ditemukan pelayanan kesehatan swasta,dalam hal ini masyarakat diharuskan membayar pelayanan kesehatan yang dimanfaatkannya. Asuransi Kesehatan Suatu mekanisme pengalihan resiko (sakit) dari resiko perorangan menjadi resiko kelompok. Dengan cara mengalihkan resiko individu menjadi resiko kelompok, beban ekonomi yang harus dipikul oleh masing-masing peserta asuransi akan lebih tetapi mengandung kepastian karena memperoleh jaminan. Unsur-unsur asuransi kesehatan: ada perjanjian ada pembelian perlindungan ada pembayaran premi oleh masyarakat

Jenis-jenis asuransi kesehatan di Indonesia:


3

a) Asuransi kesehatan sosial (social health insurance) asuransi ini memegang teguh prinsipnya bahwa kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial, pelayanan kesehatan tidak boleh semata-mata diberikan berdasarkan status sosial masyarakat sehingga semua lapisan berhak untuk memperoleh jaminan pelayanankesehatan. contoh: PT.askes, PT.jamsostek Prinsip kerja: Keikutsertaannya bersifat wajib Menyertakan tenaga kerja dan keluarganya Iuran/premi berdasarkan persentase gaji/pendapatan. Idealnya harus dihitung 5% dari GDP Premi untuk tenaga kerja ditanggung bersama (50%) oleh pemberi kerja dan tenaga kerja. Premi tidak ditentukan oleh resiko perorangan tetapi didasarkan pada resikokelompok (collective risk sharing) Tidak diperlukan pemeriksaan awal Jaminan pemeliharaan kesehatan yang diperoleh bersifat menyeluruh (universal coverage) Peran pemerintah sangat besar untuk mendorong berkembangnya asuransi kesehatansosial di Indonesia. Semua pegawai negeri diwajibkan untuk mengikuti asuransi kesehatan b) Asuransi kesehatan komersial perorangan (private voluntary health insurance) jenis asuransi ini dapat dibeli preminya baik individu maupun segmen masyarakat kelas menengah keatas. Prinsip kerja: Kepersertaan bersifat perorangan dan sukarela Iuran/premi berdasarkan angka absolut, ditetapkan berdasarkan jenis tanggunganyang dipilih. Premi berdasarkan atas resiko perorangan dan ditentukan faktor usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan. Dilakukan pemeriksaan kesehatan awal Santunan diberikan sesuai kontrak Peranan pemerintah relatif kecil c) Asuransi kesehatan komersial kelompok (regulated private health insurance) ini merupakan alternatif lain sistem asuransi kesehatan komersial Prinsip-prinsip dasar: Keikutsertaan bersifat sukarela berkelompok Iuran/preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut Perhitugan premi bersifat community rating yang berlaku untuk kelompok masyarakat Santunan (jaminan pemeliharaan kesehatan) diberikan sesuai dengan kontrak Tidak diperlukan pemeriksaan awal 2. Memahami dan menjelaskan tentang konsultasi dan rujukan 2.1 Definisi
4

Konsultasi adalah upaya meminta bantuan profesional terkait penangan suatu kasus penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter, kepada dokter lain yang lebih ahli di bidangnya. Namun kewenangan penanganan masih berada pada dokter keluarga yang bersangkutan. Rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter kepada dokter lain yang sesuai. Konsultasi dapat dilakukan mendahului rujukan, namun tidak jarang langsung melakukan rujukan. Meskipun demikian, ada kalanya keduanya dipergunakan bersama-sama. Rujukan dalam pelayanan kedokteran ini umumnya kepada pelayan yang lebih tinggi ilmu, peralatan dan strata yang lebih tinggi dalam rangka mengatasi kasus atau problem tersebut.

2.2 Karakteristik 1. Ruang lingkup kegiatan : konsultasi memintakan bantuan profesional dari pihak ke tiga. Rujukan melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus penyakit yang sedang dihadapi kepada pihak ketiga. 2. Kemampuan dokter : konsultasi ditujukan kepada dokter yang lebih ahli atau yang lebih berpengalaman. Pada rujukan hal ini tidak mutlak. 3. Wewenang dan tanggung jawab : konsultasi wewenang dan tanggung jawab tetap pada dokter yang meminta konsultasi. Pada rujukan sebaliknya. 2.3 Macam-macam Rujukan : Rujukan medis: Rujukan pasien (transfer of patient) Rujukan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) Rujukan bahan (transfer of specimens) Rujukan kesehatan: Rujukan tenaga Rujukan sarana Rujukan operasional 2.4 Manfaat Konsultasi dan Rujukan : 1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan (bila sistemnya berjalan sesuai dengan yang seharusnya) 2. Kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien akan terpenuhi (terbentuk team work)

2.5 Masalah Konsultasi dan Rujukan\


5

1. Rasa kurang percaya pasien terhadap dokter (bila rujukan/konsultasi inisiatif dokter) 2. Rasa kurang senang pada diri dokter (bila rujukan/ konsultasi atas permintaan pasien) 3. Bila tidak ada jawaban dari konsultasi 4. Bila tidak sependapat dengan saran/tindakan dokter konsultan 5. Bila ada pembatas (sikap/ perilaku,biaya, transportasi) 6. Apabila pasien tidak bersedia untuk dikonsultasikan dan ataupun dirujuk. 2.6 Tata Laksana Konsultasi dan Rujukan Dasarnya adalah kepatuhan terhadap kode etik profesi yg telah disepakati bersama, dan sistem kesehatan terutama sub sistem pembiayaan kesehatan yang berlaku. Konsultasi (McWhinney, 1981): a. Penjelasan lengkap kepada pasien alasan untuk konsultasi b. Berkomunikasi secara langsung dengan dokter konsultan (surat, formulir khusus, catatan di rekam medis, formal/ informal lewat telefon) c. Keterangan lengkap tentang pasien d. Konsultan bersedia memberikan konsultasi Tata Cara Rujukan Pasien harus dijelaskan selengkap mungkin alasan akan dilakukan konsultasi dan rujukan. Penjelasan ini sangat perlu, terutama jika menyangkut hal-hal yang peka, seperti dokter ahli tertentu. Dokter yang melakukan konsultasi harus melakukan komunikasi langsung dengan dokter yang dimintai konsultasi. Biasanya berupa surat atau bentuk tertulis yang memuat informasi secara lengkap tentang identitas, riwayat penyakit dan penanganan yang dilakukan oleh dokter keluarga. Keterangan yang disampaikan tentang pasien yang dikonsultasikan harus selengkap mungkin. Tujuan konsultasi pun harus jelas, apakah hanya untuk memastikan diagnosis, menginterpretasikan hasil pemeriksaaan khusus, memintakan nasihat pengobatan atau yang lainnya. Sesuai dengan kode etik profesi, seyogianya dokter dimintakan konsultasi wajib memberikan bantuan profesional yang diperlukan. Apabila merasa diluar keahliannya, harus menasihatkan agar berkonsultasi ke dokter ahli lain yang lebih seuai. Terbatas hanya pada masalah penyakit yang dirujuk saja Tetap berkomunikasi antara dokter konsultan dan dokter yg meminta rujukan Perlu disepakati pembagian wewenang dan tanggungjawab masing-masing pihak Pembagian Wewenang dan Tanggung Jawab 1. Interval referral, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab penderita sepenuhnya kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama jangka waktu tersebut dokter tsb tidak ikut menanganinya.

2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja. 3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya. 4. Split referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur.

3. Mengetahui tentang adab dan tata cara dokter muslim dalam menangani pasien 3.1 Konsep Dokter Muslim Seorang dokter muslim adalah seorang muslim itu sendiri, sehingga teladan yang paling utama adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, apapun profesi dan jabatan seorang muslim. Akhlak seorang dokter muslim ialah akhlak seorang muslim yang menjunjung tinggi adab Rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam tersebut sebagai teladan yang sempurna dan akhlak Beliau disarikan dari Al-Quran itu sendiri sebagai pedoman hidup seorang muslim. Sebagai hamba Allah, seorang dokter muslim harus mempunyai tujuan hidup: Hasanah fiddunya dan hasanah fil-akhirah. Ia semata-mata mengabdi kepada Allah (QS. Al-Anam: 112) dengan menjauhi segala larangan (QS. Al Imran: 110) dan mematuhi semua perintah Allah, rasul-Nya dan Ulil Amri. Seorang dokter muslim juga harus mampu mengobati penyakit jasmani, rohani, sosial serta gangguan pada iman dan Islam pasiennya. Etika/adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Zuhair Ahmad al-Sibai dan Muhmmad Ali al-Bar dalam karyanya Al- Thabib , Adabuhu wa Fiqhuh (Dokter, Etika dan Fikih Kedokteran), antara lain dikemukakan bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, lebih mendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan metode ilmiah dalam berfikir, kasih sayang, benar dan jujur, rendah hati, bersahaja, dan mawas diri. Seorang dokter muslim harus mampu mengadakan pendekatan kepada masyarakat. Pasien yang sakit adalah mahluk sosial yang merupakan bagian dari suatu komunitas yang sakit. Oleh karenanya, seorang dokter muslim tidak boleh hanya melihat seseorang penderita secara mikro (individual), melainkan juga harus melihatnya dalam skala makro (ingat konsep biopsikososiokultural dan relegius).

Seorang dokter muslim harus menyadari dan menginsyafi bahwa mengobati orang sakit karena Allah, adalah suatu amal yang amat tinggi nilainya. Dengan demikian, ia telah melaksanakan dakwah Islam, bahwa Allah-lah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang menurunkan obatnya. Dokter hanya dapat mengenali jenis penyakit dan menuliskan resep, namun hanya Allah jualah yang menyembuhkan. Seorang dokter muslim menghilangkan anggapan bahwa dialah yang men yembuhkan pasiennya. Dengan demikian, seorang dokter muslim harus menyadari bahwa ia adalah khalifah Allah dalam pengobatan yang senantiasa berlaku sopan kepada semua pasiennya dan selalu mendoakan agar Allah memberikan kesembuhan kepada pasien yang ditanganinya. Meskipun sudah banyak penulis, alim maupun pakar kedokteran muslim menyampaikan karakteristik atau ciri dokter muslim, namun sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai rumusan tertulis dokter muslim yang disetujui oleh segenap persatuan dokter muslim baik ditingkat nasional, regional maupun internasional. Menurut Majid Ramadhan (2004) dalam bukunya Karakteristik Dokter Muslim, ciri dokter yang diharapkan dapat menanggung amanat juga kekahalifahan adalah : 1. Aqidahnya benar 2. Ikhlas dan tekun dalam kerjanya 3. Maksimal dalam spesialisasi profesinya 4. Jujur dalam perkataan dan perbuatan 5. Punya komitment untuk selalu dapat bermanfaat bagi manusia 6. Pemalu, jujur dan menjaga rahasia 7. Peka dan penyanyang 8. Ikut merasakan rasa sakit pasien (empati) dan membangun optimisme pada pasien 9. Rendah hati, tidak sombong dan ramah 10. Tidak melebih-lebihkan ongkos dan meringankan yang kesulitan 11. Berpenampilan indah 12. Menasehati pasiennya, dengan menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sifat-sifat atau karakter dokter muslim seperti tersebut di atas juga banyak ditulis oleh ahli lain, antara lain seperti yang dinyatakan oleh Zuhair Ahmad Assi Bai dalam buku Dokterdokter, Bagaimana Ahlakmu (Gema Insani Press) atau juga oleh Sahid Athar dalama buku Islam dan Etika Kedokteran (PSKI UMY). 4. Mengetahui tentang prosedur pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dokter keluarga Pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga banyak macamnya. Secara umum dapat dibedakan atas tiga macam:
8

1. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga hanya pelayanan rawat jalan saja. Dokter yang menyelenggarakan praktek dokter keluarga tersebut tidak melakukan pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah atau pelayanan rawat inap di rumah sakit. Semua pasien yang membutuhkan pertolongan diharuskan datang ke tempat praktek dokter keluarga. Jika kebetulan pasien tersebut memerlukan pelayanan rawat inap, pasien tersebut dirujuk ke rumah sakit. 2. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien dirumah. Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga mencakup pelayanan rawat jalan serta pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah. Pelayanan bentuk ini lazimnya dilaksanakan oleh dokter keluarga yang tidak mempunyai akses dengan rumah sakit. 3. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di rumah, serta pelayanan rawat inap di rumah sakit. Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga telah mencakup pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di rumah, serta perawatan rawat inap di rumah sakit. Pelayanan bentuk ini lazimnya diselenggarakan oleh dokter keluarga yang telah berhasil menjalin kerja sama dengan rumah sakit terdekat dan rumah sakit tersebut memberi kesempatan kepada dokter keluarga untuk merawat sendiri pasiennya di rumah sakit. Tentu saja penerapan dari ketiga bentuk pelayanan dokter keluarga ini tidak sama antara satu negara dengan negara lainnya, dan bahkan dapat tidak sama antara satu daerah lainnya. Di Amerika Serikat misalnya, pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah mulai jarang dilakukan. Penyebabnya adalah karena mulai timbul kesadaran pada diri pasien tentang adanya perbedaan mutu pelayanan antara kunjungan dan perawatan pasien di rumah dengan di tempat praktek. Pasien akhirnya lebih senang mengunjungi tempat praktek dokter, karena telah tersedia pelbagai peralatan kedokteran yang dibutuhkan. Di beberapa negara lainnya, terutama di daerah pedesaan, karena dokter keluarga tidak mempunyai akses dengan rumah sakit, maka dokter keluarga tersebut hanya menyelenggarakan pelayanan rawat jalan saja. Pelayanan rawat inap dirujuk sertakan sepenuhnya kepada dokter yang bekerja dirumah sakit. Tetapi pengaturan rujukan untuk pelayanan rawat inap tersebut, tetap dilakukan oleh dokter keluarga. Dokter keluarga memberikan bantuan sepenuhnya, dan bahkan turut mencarikan tempat perawatan dan jika perlu turut mengantarkannya ke rumah sakit.
9

Sekalipun pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga tidak sama, perlulah diingatkan bahwa orientasi pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan tetap tidak boleh berbeda. Orientasi pelayanan dokter keluarga bukan sekedar menyembuhkan penyakit, tetapi diarahkan pada upaya pencegahan penyakit. Atau jika tindakan penyembuhan yang dilakukan, maka pelaksanaannya, kecuali harus mempertimbangkan keadaan pasien sebagai manusia seutuhnya, juga harus mempertimbangkan pula keadaan sosial ekonomi keluarga dan lingkungannya. Praktek dokter keluarga tidak menangani keluhan pasien atau bagian anggota badan yang sakit saja, tetapi individu pasien secara keseluruhan. 5. Mengetahui tentang manajemen klinik dokter keluarga Merupakan klinik yang menyelenggarakan Sistem Pelayanan Dokter Keluarga (SPDK), b. Sebaiknya mudah dicapai dengan kendaraan umum. (terletak di tempat strategis), c. e. f. Mempunyai bangunan yang memadai, Mempunyai sejumlah tenaga dokter yang telah lulus pelatihan DK, Mempunyai sejumlah tenaga pembantu klinik dan paramedis telah lulus perlatihan khususpembantu KDK, g. Dapat berbentuk praktek mandiri (solo) atau berkelompok. h. Mempunyai izin yang berorientasi wilayah, i. j. Menyelenggarakan danberkesinambungan, Melayani semua jenis penyakit dan golongan umur, k. Mempunyai sarana medis yang memadai sesuai dengan peringkat klinik ybs pelayanan yang sifatnya paripurna, holistik, terpadu, d. Dilengkapi dengan sarana komunikasi,

10

Mekanisme dan jenjang pelayanan kesehatan masyarakat yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sebenarnya atau idealnya, ada tiga tahap pelayanan kesehatan yang diperlukan oleh masyarakat.Ketiga tahap pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut; pertama, Pelayanan Tingkat Primer. Pelayanan di sini diselenggarakan oleh Dokter Praktik Umum atau yang selama ini dikenal dengan sebutan Dokter Umum. Tahap ini merupakan kontak pertama pasien dengan dokter yang biasanya bertempat di Klinik Pribadi, Klinik Dokter Bersama, Puskesmas, Balai Pengobatan, Klinik Perusahaan, atau Poliklinik Umum di rumah sakit, dsb. Kedua,`Pelayanan Tingkat Sekunder. Jika diangap perlu, pasien akan dirujuk ke Pelayanan Tingkat Sekunder. Untuk itu dokter praktik umum akan menulis surat konsultasi atau rujukan kepada tenaga kesehatan yang lebih ahli, dalam hal ini dokter spesialis. Ketiga, Pelayanan Tingkat Tersier. Jika masalahnya juga tidak dapat atau tidak mungkin diselesaikan oleh pelayanan di tingkat sekunder maka pasien akan dikirim ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu pasien akan dirujuk kepada dokter konsultan atau subspesialis. 6. Mengetahui tentang Hubungan Kerjasama Antara Dokter Keluarga Dengan Mitra Kerjanya Bentuk komunikasi/kerjasama antara dokter dan teman sejawatnya di lakukan dalam berbagai hal seperti : Merujuk pasien. Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas pelayanan, dokter yang merawat harua merujuk pasiennya pada teman sejawat lainnya. Bekerjasama dengan sejawat.
11

Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, ras,usia, kecacatan, agama, status sosial atau perbedaan kompetensi yang dapat merugikanhubungan profesional antar sejawat. Bekerja dalam tim. Asuhan kesehatan selalu di ingatkan melalui kerjasama dalam tim multidisiplin. Mengatur dokter pengganti. Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter pengganti serta mengatur proses mengalihkan yang efektif dan komunikatif dengan dokter pengganti. Mematuhi tugas. Seorang dokter yang bekerja pada institusi pelayanan atau pendidikan kedokteran harus mematuhi tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk sebagai dokter pengganti. Pendelegasian wewenang. Pendelegasian wewenang kepada perawat, peseta prograrm pendidikan spesialis, mahasiswa kedokteran dalam hal pengobatan atau perawatan atas nama dokter yang merawat, harus disesuaikan dengan kompetensi dalam melaksanakan prosedur dan terapi yang sesuai dengan peraturan baru.

Komunikasi dokter Profesi lain : Kolaborasi dokter perawat Komunikasi dokter-Apoteker Kolaborasi Prinsip : Perencanaan Pengambilan keputusan bersama Berbagi saran / ide Kebersamaan Tanggung gugat Pendekatan Praktik Hirarkis

Dokter Registerd nurse Pemberi pelayanan lain Pasien


Menekankan komunikasi satu arah Kontak Dokter dengan pasien terbatas Dokter merupakan tokoh yang dominan Cocok untuk diterapkan di keadaan tertentu, sepert IGD Pendekatan ini sekarang masih dominan dalam praktik dokter di Indonesia Model kolaboratif tipe II :

12

PASIE

Lebih berpusat pada pasien Semua pemberi pelayanan harus bekerjasama Ada kerja sama dengan pasien Tidak ada pemberi pelayanan yang mendominasi secara terus-menerus

13

DAFTAR PUSTAKA Anies. 2006. Kedokteran Keluarga & Pelayanan Kedokteran yang Bermutu. Semarang. Gani A. Pembiayaan Kesehatan. FKM UI. 1996 Sistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia. 2010 Tristantoro L. Prinsip-Prinsip Asuransi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kedokteran Dan Residen. FK UGM. Ahmad Fauzi bin Mohammed, Ilmu, Adab, Belajar & Mengajar, dalam http://www.sach.kedah.edu.my/esei_karya, dowload Maret 2008. Ali Akbar, 1988, Etika Kedokteran dalam Islam, Pustaka Antara, Jakarta.

14