Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Indonesia merupakan daerah vulkanik yang terdapat berbagai macam jenis batuan akibat peristiwa erupsi magma yang telah membeku. Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati secara langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusun oleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain. Batuan yang berasal dari magma vulkanis tersebut tersebar merata di berbagai wilayah. Batuan merupakan salah satu sumber daya alam yang terdapat di kalimantan barat. Secara umum jenis batuan yang ada di Kalimantan Barat adalah batuan beku, sedimen, dan sebagian lagi yaitu batuan metamorf. Batuan ini sangat penting bagi kehidupan. Di Kalimantan Barat khususnya Kecamatan Tanjung Gondol, batuanbatuan tersebut digunakan untuk bahan bangunan dan untuk keperluan lainnya sehingga merupakan sumber daya alam yang sangat penting. Dari karakteristik jenis batuan tersebut maka dapat diketahui pengelompokan batuan dari batuan yang kita teliti. Untuk itulah dilakukan Praktikum Geologi Dasar agar karakteristik dari batuan dapat diketahui sehingga memudahkan dalam pengelompokan dari jenis batuan yang didapatkan di Kecamatan Tanjung Gondol. Dan juga untuk mengetahui sumber daya alam khususnya yang berupa batuan yang ada untuk menjadi diketahui sebagai tambahan ilmu pengetahuan mengenai lingkungan. 1.2. Perumusan Masalah Adapun perumusan masalah dari makalah ini adalah Bagaimana proses identifikasi dan karakteristik dari batuan yang berada di Pantai Kura-kura Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat.

1.3. Batasan Masalah Jika melihat dari cakupan masalah yang cukup luas maka permasalahan yang ada akan dibatasi pada: 1. Penentuan jenis-jenis batuan yang terdapat di Pantai Kura-kura Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang kotamadya Singkawang. 2. Penentuan strike dan dip pada kekar di Pantai Kura-kura Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang kotamadya Singkawang. 3. Penentuan letak batuan dan lintasan yang terdapat di Pantai Kura-kura Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang kotamadya Singkawang.

1.4. Tujuan Praktikum Adapun tujuan praktikum yang hendak dicapai adalah : 1. Untuk mengidentifikasikan batuan yang ada di Pantai Kura-kura Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang kotamadya Singkawang. 2. Untuk menentukan strike dan dip dari sesar 3. Untuk menentukan posisi batuan dan lintasan dengan menggunakan kompas geologi dan peta. 1.5. Manfaat Praktikum Adapun manfaat praktikum ini adalah : 1. Dapat mengetahui jenis-jenis batuan yang terdapat di Pantai Kura-kura Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang kotamadya Singkawang. 2. Dapat menentukan posisi batuan tersebut. 3. Dapat dijadikan sebagai literatur untuk penelitian sejenis lainnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Batuan Batuan, merupakan agregasi (kumpulan) dari berbagai macam mineral ataupun mineral sejenis. Andesit (sering disebut batu candi) tersusun oleh mineralmineral plagioklas, piroksin, hornblende dan sedikit kuarsa. Sedangkan marmer termasuk batuan metamorf yang oleh mineral kalsit yang mengalami ubahan. Bagian terluar Bumi yang disebut litosfir disusun oleh masa batuan padat yang keras dan kaku. Siklus batu-batuan adalah proses perubahan satu jenis batu ke jenis batuan yang lain. Batuan itu terdiri dari atas tiga jenis utama yaitu: batuan beku, batuan sedimen, batuan metamorfosis. Ketiga kelas batu-batuan dapat berubah dari satu jenis menjadi jenis yang lain melalui proses seperti peleburan, pelapukan karena cuaca dan tekanan. Siklus batu-batuan tidak pernah berhenti seperti dapat digambarkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.1. Siklus Batuan Bumi mengeluarkan magma yang akhirnya membeku menciptakan batuan beku. Batuan ini akan tercipta dengan ciri utama memiliki densitas tinggi, porositas rendah, besar butir yang besar, bersudut, bad sorted. Seiring berjalanya waktu, angin menderu, sungai mengalir membawa batuan beku yang diatas gunung sono kebagian 3

yang lebih rendah. Biasanya ketika hal ini terjadi baik secara mekanik atau kimia, maka akan terjadi perubahan fisik. Yang tadinya bersudut tajam jadi membulat, yang densitas tinggi menjadi punya porositas, dan lain-lain. Seperti yang diberitahukan sebelumnya kalau batuan sedimen itu hasil transportasi dari atas gunung (pusat keluarnya magma) ke pantai, itulah kenapa batuan sedimen banyak ditemukan didaerah perairan rendah atau muara sungai atau bekas-bekas perairan. Ketika batuan sedimen mengalami penekanan/tekanan dan temperatur yang semakin tinggi maka terbentuklah batuan metamorfosis. Batuan ini sebagian besar menempati kerak bumi, bagian terluar dari perlapisan di bumi ini. Lama kelamaan batuan metamorph ini akan semakin tertekan dan semakin kepanasan, lalu melebur menjadi magma dan siap untuk naik ke atas permukaan bumi lagi. (Anonim,2009) Berdasarkan proses pembentukannya batuan dikelompokkan menjadi tiga jenis batuan: 1. batuan beku (igneous rocks), 2. batuan sedimen (sedimentary rocks), dan 3. batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks) 2.1.1. Batuan Beku Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, api) adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari prosesproses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi. 1. Struktur Batuan Beku Berdasarkan tempat pembekuannya batuan beku dibedakan menjadi batuan beku extrusive dan intrusive. Hal ini pada nantinya akan menyebabkan perbedaan pada tekstur masing masing batuan tersebut. Kenampakan dari batuan beku yang tersingkap merupakan hal pertama yang harus kita perhatikan. Kenampakan inilah yang disebut sebagai struktur batuan beku

a. Struktur Batuan Beku Ekstrusif Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dipermukaan bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang memiliki berbagia struktur yang memberi petunjuk mengenai proses yang terjadi pada saat pembekuan lava tersebut. Struktur ini diantaranya adalah: 1. Masif, yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang terlihat seragam. 2. Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan 3. Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah poligonal seperti batang pensil. 4. Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpal-gumpal. Hal ini diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan air. 5. Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan beku. Lubang ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat pembekuan. 6. Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral lain seperti kalsit, kuarsa atau zeolit 7. Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran mineral pada arah tertentu akibat aliran

b. Struktur Batuan Beku Intrusif Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dibawah permukaan bumi. berdasarkan kedudukannya terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya struktur tubuh batuan beku intrusif terbagi menjadi dua yaitu konkordan dan diskordan.

Gambar 2.2. Bentuk Intrusi batuan beku 1. Konkordan Tubuh batuan beku intrusif yang sejajar dengan perlapisan disekitarnya, jenis jenis dari ini yaitu : a. b. Sill, tubuh batuan yang berupa lembaran dan sejajar dengan perlapisan batuan disekitarnya. Laccolith, tubuh batuan beku yang berbentuk kubah (dome), dimana perlapisan batuan yang asalnya datar menjadi melengkung akibat penerobosan

tubuh batuan ini, sedangkan bagian dasarnya tetap datar. Diameter laccolih berkisar dari 2 sampai 4 mil dengan kedalaman ribuan meter. c. Lopolith, bentuk tubuh batuan yang merupakan kebalikan dari laccolith, yaitu bentuk tubuh batuan yang cembung ke bawah. Lopolith memiliki diameter yang lebih besar dari laccolith, yaitu puluhan sampai ratusan kilometer dengan kedalaman ribuan meter. d. sampai 2.Diskordan Tubuh batuan beku intrusif yang memotong perlapisan batuan disekitarnya. Jenis-jenis tubuh batuan ini yaitu: a. Dike, yaitu tubuh batuan yang memotong perlapisan disekitarnya dan memiliki bentuk tabular atau memanjang. Ketebalannya dari beberapa sentimeter sampai puluhan kilometer dengan panjang ratusan meter. b. c. Batolith, yaitu tubuh batuan yang memiliki ukuran yang sangat besar yaitu > 100 km2 dan membeku pada kedalaman yang besar. Stock, yaitu tubuh batuan yang mirip dengan Batolith tetapi ukurannya lebih kecil 2. Tekstur Batuan Beku Magma merupakan larutan yang kompleks. Karena terjadi penurunan temperatur, perubahan tekanan dan perubahan dalam komposisi, larutan magma ini mengalami kristalisasi. Perbedaan kombinasi hal-hal tersebut pada saat pembekuan magma mengakibatkan terbentuknya batuan yang memilki tekstur yang berbeda. Ketika batuan beku membeku pada keadaan temperatur dan tekanan yang tinggi di bawah permukaan dengan waktu pembekuan cukup lama maka mineralmineral penyusunya memiliki waktu untuk membentuk sistem kristal tertentu dengan ukuran mineral yang relatif besar. Sedangkan pada kondisi pembekuan dengan temperatur dan tekanan permukaan yang rendah, mineral-mineral penyusun batuan beku tidak sempat membentuk sistem kristal tertentu, sehingga terbentuklah gelas (obsidian) yang tidak memiliki sistem kristal, dan mineral yang terbentuk biasanya berukuran relatif kecil. 7 Paccolith, tubuh batuan beku yang menempati sinklin atau antiklin yang telah terbentuk sebelumnya. Ketebalan paccolith berkisar antara ratusan ribuankilometer

Berdasarkan hal di atas tekstur batuan beku dapat dibedakan berdasarkan : 1. Tingkat kristalisasi a. Holokristalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya disusun oleh kristal b. Hipokristalin, yaitu batuan beku yang tersusun oleh kristal dan gelas c. Holohyalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh gelas 2. Ukuran butir a. Phaneritic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhmya tersusun oleh mineral-mineral yang berukuran kasar. b. Aphanitic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh mineral berukuran halus. 3. Bentuk kristal Ketika pembekuan magma, mineral-mineral yang terbentuk pertama kali biasanya berbentuk sempurna sedangkan yang terbentuk terakhir biasanya mengisi ruang yang ada sehingga bentuknya tidak sempurna. Bentuk mineral yang terlihat melalui pengamatan mikroskop yaitu: a. Euhedral, yaitu bentuk kristal yang sempurna b. Subhedral, yaitu bentuk kristal yang kurang sempurna c. Anhedral, yaitu bentuk kristal yang tidak sempurna. 4. Kombinasi Bentuk Kristalnya a. Unidiomorf (Automorf), yaitu sebagian besar kristalnya dibatasi oleh bidang kristal atau bentuk kristal euhedral (sempurna). b. Hypidiomorf (Hypautomorf), yaitu sebagian besar kristalnya berbentuk euhedral dan subhedral. c. Allotriomorf (Xenomorf), sebagian besar penyusunnya merupakan kristal yang berbentuk anhedral. 5. Berdasarkan keseragaman antar butirnya a. Equigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya hampir sama. b. Inequigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya tidak sama. 3. Klarifikasi Batuan Beku Batuan beku diklasifikasikan berdasarkan tempat terbentuknya, warna, kimia, tekstur, dan mineraloginya.

a.Berdasarkan tempat terbentuknya batuan beku dibedakan atas : i. Batuan beku Plutonik, yaitu batuan beku yang terbentuk jauh di perut bumi. permukaan bumi iii. Batuan beku vulkanik, yaitu batuan beku yang terbentuk di permukaan bumi Berdasarkan warnanya, mineral pembentuk batuan beku ada dua yaitu mineral mafic (gelap) seperti olivin, piroksen, amphibol dan biotit, dan mineral felsic (terang) seperti Feldspar, muskovit, kuarsa dan feldspatoid. b. Klasifikasi batuan beku berdasarkan warnanya yaitu: i. Leucocratic rock, kandungan mineral mafic < 30% ii. Mesocratic rock, kandungan mineral mafic 30% - 60% iii. Melanocratic rock, kandungan mineral mafic 60% - 90% iv. Hypermalanic rock, kandungan mineral mafic > 90% c. Berdasarkan kandungan kimianya yaitu kandungan SiO2-nya batuan beku diklasifikasikan menjadi empat yaitu: i. Batuan beku asam (acid), kandungan SiO2 > 65%, contohnya Granit, Ryolit. Contohnya Diorit, Andesit iii. Batuan beku basa (basic), kandungan SiO2 52% - 45%, contohnya Gabbro, Basalt iv. Batuan beku ultra basa (ultra basic), kandungan SiO2 < 30% 4. Pengelompokan Batuan Beku ii. Batuan beku menengah (intermediat), kandungan SiO2 65% - 52%. ii. Batuan beku Hypabisal, yaitu batuan beku yang terbentu tidak jauh dari

Gambar 2.3.

Untuk membedakan berbagai jenis batuan beku yang terdapat di Bumi, dilakukan berbagai cara pengelompokan terhadap batuan beku (gambar). Pengelompokan yang didasarkan kepada susunan kimia batuan, jarang dilakukan. Hal ini disebabkan disamping prosesnya lama dan mahal, karena harus dilakukan melalui analisa kimiawi. Dan yang sering digunakan adalah yang didasarkan kepada tekstur dipadukan dengan susunan mineral, dimana keduanya dapat dilihat dengan kasat mata. Pada gambar diatas diperlihatkan pengelompokan batuan beku dalam bagan, berdasarkan susunan mineralogi. Gabro adalah batuan beku dalam dimana sebagian besar mineral-mineralnya adalah olivine dan piroksin. Sedangkan Felsparnya terdiri dari felspar plagioklas Ca. Teksturnya kasar atau phanerik, karena mempunyai waktu pendinginan yang cukup lama didalam litosfir. Kalau dia membeku lebih cepat karena mencapai permukaan bumi, maka batuan beku yang terjadi adalah basalt dengan tekstur halus. Jadi Gabro dan Basalt keduanya mempunyai susunan mineral yang sama, tetapi teksturnya berbeda. Demikian pula dengan Granit dan Rhyolit, atau Diorit dan Andesit. Granit dan Diorit mempunyai tekstur yang kasar, sedangkan Rhyolit dan Andesit, halus. Basalt dan Andesit adalah batuan beku yang banyak dikeluarkan gunung-berapi, sebagai hasil pembekuan lava.

Gambar 2.4.

10

Gambar 2.5. 2.1.2. Batuan Sedimen Batuan sedimen terbentuk secara alamiah di permukaan Bumi dari fragmenfragmen batuan yang kembali memadat dan mengeras menjadi batuan. Pembentukan batuan sedimen dipengaruhi oleh tenaga air, angin atau es. Sebagian besar batuan sedimen memperlihatkan ciri perlapisan. Walaupun hanya 5% kerak Bumi dibangun oleh batuan sedimen, namun 75% dari batuan yang tersingkap di permukaan Bumi adalah batuan sedimen. Batuan sedimen diklasifikasi menjadi tiga kategori yaitu : a. Batuan sedimen klastik, yang berasal dari fragmen-fragmen batuan sebelumnya; b. Batuan sedimen kimiawi, yang terbentuk biasanya di laut atau di danau dari presipitasi bahan mineral yang terlarut; c. Batuan sedimen organik, yang terbentuk dari bekas atau cangkang binatang atau tumbuhan. Itulah sebabnya fosil dijumpai hanya pada batuan sedimen. Yang paling umum dari batuan sedimen klastik adalah batu pasir dan batulempung. Batupasir terbentuk dari pasir dan batulempung berasal bahan batuan yang lebih halus (lumpur atau lempung). Batupasir dan batulempung terbentuk dari fragmen-fragmen yang dibawa angin, air, sungai, arus laut dan glacier. Pasir biasanya diendapkan sebagai dunes di padang pasir; atau sebagai endapan sungai dan endapan pantai. Sedangkan lempung yang lebih halus cendrung berada lebih lama mengapung di air laut dan akan mengendap pada suasana yang lebih tenang, seperti di dasar laut dalam atau di dasar danau. Tumpukan bahan endapan ini akan membebani dan

11

menekan lapisan di bawahnya menjadi lebih kompak. Endapan kemudian saling merekat membentuk batuan keras. Batuan sedimen kimiawi yang paling umum disebut sebagai batuan evaporit, karena terbentuk dari proses penguapan air laut atau air danau. Bahan-bahan batuan yang terlarut di dalam air akan mengkristal membentuk mineral seperti gipsum dan halit. Gipsum adalah bahan mineral industri yang dipakai sabagai bahan plester; halit adalah bahan dasar garam dapur. Yang paling umum dari batuan sedimen organik adalah batugamping (limestone). Binatang laut seperti koral dan moluska memiliki cangkang yang terbuat dari bahan kalsium karbonat (CaCO3). Bila binatang-binatang itu mati, cangkangnya akan teronggok ke dasar laut dan membentuk tumpukan tebal kalsium karbonat. Tumpukan kalsium karbonat ini akan memadat dan merekat menbentuk batu gamping. Cangkang binatang atau tumbuhan yang terawetkan menjadi batuan ini diesebut fosil. Batubara termasuk batuan sedimen organik. Dalam batuan sedimen dikenal dengan istillah tekstur dan struktur. Tekstur adalah suatu kenampakn yang berhubungan erat dengan ukuran, bentuk butir, dan susunan kompone mineral-mineral penyusunnya. Studi tekstur paling bagus dilakukan pada contoh batuan yang kecil atau asahan tipis. Struktur merupakan suatu kenampakan yang diakibatkan oleh proses pengendapan dan keadaan energi pembentuknya. Pembentukannya dapat pada waktu atau sesaat setelah pengendapan. Struktur berhubungan dengan kenampakan batuan yang lebih besar, paling bagus diamati di lapangan misal pada perlapisan batuan. 1. Struktur Batuan Sedimen Struktur sedimen umumnya dibedakan menjadi 3 golongan yaitu: a. Struktur anorganik terutama pelapisan, contoh : graded beds, cross beds, mudcraks. b. Struktur biogenik terdiri dari struktur jejak dan boring. c. Struktur deformasi terdiri dari convolute bedding, ball and pillow dan diapiric. Berbagai sifat fisik sedimen ditelaah sesuai dengan tujuan dan kegunaannya. Diantaranya adalah tekstur sedimen yang meliputi ukuran butir (grain size), bentuk butir ( partikel shape), dan hubungan antar butir (fabrik), struktur sedimen, komposisi mineral, serta kandungan biota. Dari berbagai sifat fisik tersebut ukuran butur menjadi 12

sangat penting karena umumnya menjadi dasar dalam penamaan sedimen yang bersangkutan serta membantu analisa proses pengendapan karena ukuran butir berhubungan erat dengan dinamika transfortasi dan deposisi (Krumbein dan Sloss (1983)). Berkaitan dengan sedimentasi mekanik ukuran butir akan mencerminkan resistensi butiran sedimen terhadap proses pelapukan erosi/abrasi serta mencerminkan kemampuan dalam menentukan transfortasi dan deposisi. Dengan melihat cara transfor sedimen dapat dilihat melalui : 1. Transfor Sedimen pada Pantai Pettijohn (1975), Selley (1988) dan Richard (1992) menyatakan bahwa cara transfortasi sedimen dalam aliran air dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu a. b. c. Sedimen merayap (bed load) yaitu material yang terangkut secara menggeser atau menggelinding di dasar aliran. Sedimen loncat (saltation load) yaitu material yang meloncat-loncat bertumpu pada dasar aliran. Sedimen layang (suspended load) yaitu material yang terbawa arus dengan cara melayang-layang dalam air. 2. Transfor Sedimen Sepanjang Pantai Transfor sedimen sepanjang pantai merupakan gerakan sedimen di daerah pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya (Komar : 1983). Transfor sedimen ini terjadi di daerah antara gelombang pecah dan garis pantai akibat sedimen yang dibawanya (Carter, 1993). Menurut Triatmojo (1999) transfor sedimen sepanjang pantai terdiri dari dua komponen utama yaitu transfor sedimen dalam bentuk mata gergaji di garis pantai dan transfor sedimen sepanjang Pantaidisurfzone. Transfor sedimen pantai banyak menimbulkan fenomena perubahan dasar perairan seperti pendangkalan muara sungai erosi pantai perubahan garis pantai dan sebagainya (Yuwono, 1994). Fenomena ini biasanya merupakan permasalahan terutama pada daerah pelabuhan sehingga prediksinya sangat diperlukan dalam perencanaan ataupun penentuan metode penanggulangan. Menurut Triatmojo (1999) beberapa cara yang biasanya digunakan antara lain adalah : a. Melakukan pengukuran debit sedimen pada setiap titik yang ditinjau, sehingga secra berantai akan dapat diketahui transfor sedimen yang terjadi.

13

b.

Menggunakan peta/ foto udara atau pengukuran yang menunjukan perubahan elevasi dasar perairan dalam suatu periode tertentu. Cara ini akan memberikan hasil yang baik jika di daerah pengukuran terdapat bangunan yang mampu menangkap sedimen seperti training jetty, groin, dan sebagainya.

c.

Rumus empiris yang didasarkan pada kondisi gelombang dan sedimen pada daerah yang di tinjau.

3. Sedimentasi Pada Muara Sungai Muara sungai dapat dibedakan dalam tiga kelompok yang tergantung pada faktor domonan yang mempengaruhi. Yaitu didominasi faktor gelombang, debit sungai atau pasang surut. Pada kenyataannya ketiga sungai tersebut akan bekerja secra simultan, walaupun salah satunya akan terlihat lebih dominan pada daerah muara dimana gelombang lebih dominan biasanya akan mengakibatkan tertutupnya muara sungai akibat transfor sedimen sepanjang pantai yang dibawanya masuk ke alur sungai. 2. Tekstur Batuan Sedimen Sebagian besar batuan sedimen dibedakan dari batuan lain karena tersusun oleh butiran hasil rombakan batuan lain yang lebih tua, butiran-butirannya mempunyai kontak tangensial yang membentuk lubang-lubang bila dilihat dalam rangkaian tiga dimensi. 1. Tekstur Klastik Untuk mendiskripsikan tekstur klastik kenampakan yang perlu diperhatikan adalah ukuran dan tingkat keseragaman partikel serta bentuk. a. Ukuran dan tingkat keseragaman partikel Ukuran butir sedimen merupakan faktor penting dalam penamaan batuan sedimen, klasifikasi yang digunakan biasanya adalah klasifikasi Wentworth. Tingkat keseragaman butir atau sortasi merupakan tingklat kopentensi dan efisiensi media pengangkutnya, di bedakan menjadi : 1. Very well sorted 2. Well sorted 3. Moderately sorted 4. Very poorly sorted 14

b. Bentuk Dalam mendiskripsikan bentuk partikel, dua sifat harus dibedakan yaitu Spericity dan Roundness.Sphericity adalah pendekatan setiap individu partikel ke bentuk bola, sepenuhnya tergantung pada bentuk asli partikel, sedanglan abrasi merupakan faktor minor. Istilah deskriptif paling bagus dipakai untuk partikel pasir atau yang lebih kasar berdasarkan diameter maximum, minimum dan intermedit. Ada empat bentuk dasar yang dipakai yaitu equant, tabular, prolate, dan bladed. Roundness adalah suatu ukuran adanya abrasi yang menyebabkan proses pembundaran pada sudut-sudut atau ujung-ujung fragmen. Istilah kualitas yang dipakai yaitu angular, subangular, subrounded, rounded, dan well rounded. 2. Tekstur Non Klastik Tekstur non klastik terutama dihasilkan oleh presipitasi kimiawi dan aktifitas organisme. Contoh-contoh batuannya adalah : a. b. c. Evaporit yaitu batuan hasil penguapan garam batu, anhidrit, gips, garam kali dan lain-lain Sedimen organik, sisa-sisa dari zat-zat hidup misal gambut Sedimen silika misal nodul dan konkresi

2.1.3. Batuan Metamorf Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk yang mengalami perubahan tekstur dan komposisi mineral pada fasa padat sebagai akibat perubahan kondisi fisika tekanan, temperatur, atau tekanan dan temperatur (HGF Winkler, 1967 dan 1979). Akibat bertambahnya temperature dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tekstur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula. Contoh batuan tersebut adalah batu sabak atau slate yang merupakan perubahan batu lempung. Batu marmer yang merupakan perubahan dari batu gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan dari batu pasir. Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka akan membentuk magma yang kemudian mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi batuan-batuan baru lagi. salah satu kelompok utama batuan yang merupakan hasil transformasi atau ubahan dari suatu tipe batuan yang telah ada sebelumnya, protolith, oleh suatu proses yang 15

disebut metamorfisme, yang berarti "perubahan bentuk". Protolith yang dikenai panas (lebih besar dari 150 Celsius) dan tekanan ekstrim akan mengalami perubahan fisika dan/atau kimia yang besar. Protolith dapat berupa batuan sedimen, batuan beku, atau batuan metamorf lain yang lebih tua. Beberapa contoh batuan metamorf adalah gneis, batu sabak, batu marmer, dan skist. Batuan metamorf menyusun sebagian besar dari kerak Bumi dan digolongkan berdasarkan tekstur dan dari susunan kimia dan mineral (fasies metamorf) Mereka terbentuk jauh dibawah permukaan bumi oleh tegasan yang besar dari batuan diatasnya serta tekanan dan suhu tinggi. Mereka juga terbentuk oleh intrusi batu lebur, disebut magma, ke dalam batuan padat dan terbentuk terutama pada kontak antara magma dan batuan yang bersuhu tinggi. Penelitian batuan metamorf (saat ini tersingkap di permukaan bumi akibat erosi dan pengangkatan) memberikan kita informasi yang sangat berharga mengenai suhu dan tekanan yang terjadi jauh di dalam permukaan bumi.

Gambar 2.6. 1. Klasifikasi metamorf Salah satu penggolongannya didasarkan atas proses-proses yang berkaitan dengan metamorfosis dapat digolongkan menjadi geotermal, dinamo, kontak, dan metasomatisme. a. Metamorfik Geotermal Proses pembentukan batuan metamorf adalah dengan geotermal, yaitu metamorfosis yang terjadi karena pengaruh panas bumi sendiri (menurut kedalamannya) tanpa tambahan panas dari magma ataupun pengaruh diastropisme. b. Metamorfik Dinamo

16

Proses pembentukan batuan metamorf atau sering pula disebut dynamic metamorphism adalah suatu perubahan mineral satu ke mineral lainnya tau batuan yang disebabkan oleh tekanan tinggi yang dihasilkan oleh gerak diastropisme. Jenis metamorfosis ini banyak dijumpai, yaitu di daerah- daerah patahan dan lipatan yang tersebar luas di seluruh dunia sehingga sering disebut regional metamorphism. 1) Metamorfisme Kontak Proses pembentukan batuan metamorf adalah dengan metamorfosis yang terjadi karena pengaruh intrusi magma yang panas. Dengan demikian, tempat-tempat yang sering dijumpai adalah sekitar batuan intrusi seperti batolit, stock, lakkolit, sill, dike, dan sebagainya. 2) Metamorfik Metasomatisme Bila pada intrusi magma batuan lebur kemudian bercampur dengan magma membentuk mineral-mineral baru yang disebut metasomatisme. Pada proses ini terjadi rekristalisasi yang membentuk mineral baru yang sifatnya sudah lain dengan batuan induknya. 2. Tekstur Batuan Metamorf Tekstur pada batuan metamorf disebut dengan mineral metamorf yang terjadi karena kristalnya tumbuh dalam suasana padat oleh karena itu disebut dengan blastos atau blastik/idioblastik. Pada dasarnya tekstur pada batuan metamorf terbagi menjadi karena proses rekristalisasi yaitu perubahan butiran halus menjadi kasar dan proses reorientasi terbagi kedalam skistositas atau foliansi terjadi oleh karena mineral yang pipih atau membantangtersusun dalam bidang-bidang tertentu yakni bidang sekistsis. Biang ini dapat searah dengan lapisan sedimen asalnya atau searah dengan sumbu lipatannya. Kristal yang ukurannya besar disebut profiroblastik. Dalam golangan metamorf dinamo tak jarang batuan mengalami hancuran yang fragmental sifatnya. Tekstur kotaklastik yaitu bila batuan asal masih ada yang tersidik. Tekstur flaser yaitu apabila batuan asal komponennya masih tersidik berukuran besar berbentuk lensa tersebar pada matriks yang termasuk dan melebar. Tekstur milonit adalah tekstur yang sangat teremuk dan terbubuk, berfoliasi mengandung kristal asal yang membundar. Mineralogi batuan metamof terbagi menjadi 1. Pelifik : Asal berbutir halus contoh lempung, silt, lanau, sandstone 2. Kalkanus : Kalsium karbonat contoh marmer 17

3. Mafik : Berasal dari batuan beku basa contoh piroksin, pilorin 4. Felsik : Berasal dari mineral feldspar dan kuarsa Hasil pengamatan batuan metamorf diberbagai tempat di bumi memperlihatkan bahwa komposisi kimia batuan metamorf hanya sedikit terubah oleh proses metamorfosisme. Himpunan mineral yang mencapai kesimbangan selama metamorfosis dibawah kisaran kondisi fisik tertentu, termasuk kedalam fasies metamorfosis yang sama 2.2. Kekar Kekar adalah bidang-bidang pemisah yang terdapat dalam semua jenis batuan beku disebut juga diaklas atau retak-retak. Diaklas atau retak-retak ini disebabkan oleh proses pendinginan, tetapi ada pula retak-retak yang disebabkan oleh gaya di dalam kerak bumi yang berlaku lama sesudah batuan itu membeku. Kekar atau joint itu juga merupakan rekahan-rekahan pada batuan, pada umumnya lurus, planar dan tidak terjadi pergeseran.

Gambar 2.7 Kekar (Joint) (Sumber: Anonim, 2008) Kekar umumnya terdapat sebagai rekahan tensional dan tidak ada gerak sejajar bidangnya. Kekar membagi-bagi batuan yang tersingkap menjadi blok-blok yang besarnya bergantung pada kerapatan kekarnya. Dan merupakan bentuk rekahan paling sederhana yang dijumpai pada hampir semua batuan. Biasanya terdapat sebagai dua set rekahan, yang perpotongannya membentuk sudut antara 45 sampai 90 . Kekar mungkin berhubungan dengan sesar besar atau oleh pengangkatan kerak yang luas, dapat tersebar sampai ribuan meter persegi luasnya. Umumnya dijumpai pada batuan yang regas. Kebanyakan kekar merupakan hasil pembubungan kerak atau dari kompresi atau tarikan (tension) yang berkaitan dengan sesar atau 18

lipatan. Ada kekar tensional yang diakibatkan oleh pelepasan beban atau pemuaian batuan. Kekar kolom pada batuan Volkanik terbentuk oleh tegasan yang terjadi ketika lava mendingin dan mengkerut. Pada lapisan-lapisan sedimen terutama batu pasir, sering terdapat kekar-kekar yang bervariasi arahnya. Rekahan ini terbentuk selama terjadi penimbunan dan litifikasi yang akan tetap tertutup selama tertimbun dikedalaman. Karena erosi dan tersingkap, sedikit pendinginan dan kompresi relief memungkinkan rekahan agak terbuka. Dalam penambahan batuan, marmer, granit, dan lain-lain, sistem kekarlah yang menentukan berapa besar blok batuan yang dapat ditambang. Dan adanya kekar-kekar akan mengurangi peledekan yang diperlukan Untuk dapat mendeskripsi terjadinya deformasi pada suatu lapisan batuan, misalnya pada batuan sedimen, diperlukan posisi atau kedudukan garis atau bidang setelah mengalami deformasi. Telah kita ketahui bahwa sedimen semula diendapkan dalam posisi horizontal. Setelah mengalami deformasi posisinya berubah, misalnya terlipat, maka posisi sayap (limb) antiklin atau sinklin tidak horizontal lagi. Posisi atau kedudukan bidang-bidang yang membentuk limb ini dinyatakan dalam jurus atau strike dan kemiringan atau dip, yang dipergunakan untuk menyatakan kedudukan semua bidang di alam. Strike (Jurus) adalah arah garis yang merupakan perpotongan antara bidang di alam dengan bidang horizontal, dinyatakan terhadap arah utara, searah jarum jam ke timur. Contohnya U 62 T, yang berarti arah jurusnya 62 dari utara ke timur.

Gambar 2.8 Strike (Jurus) (Sumber: Anonim, 2008)

19

Dip (Kemiringan) adalah sudut terbesar antara bidang (miring) di alam dengan bidang horizontal yang dinyatakan dalam derajat. Bidang horizontal tidak mempunyai kemiringan, atau 0 dan bidang tegak lurus 90. Jurus dan kemiringan diukur ditempat dengan mempergunakan kompas geologi. Kompas geologi dilengkapi dengan water pas (round level), untuk membuat bidang horizontal dan klinometer (vemier for vertical angles) untuk mengukur kemiringan bidang.

Gambar 2.9 Dip (Kemiringan) (Sumber: Anonim,2008)

20

BAB III METODOLOGI 3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum Geologi Dasar dilaksanakan di Pantai Kura Pantai Kura-kura Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang kotamadya Singkawang. Pada Tanggal 25 Juni 2009 sampai 27 Juni 2009.

Gambar 3.1. Lokasi Penelitian 3.2 Peralatan Adapun peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Palu Geologi

Gambar 3.2. Palu Geologi Fungsi: Untuk memecahkan bongkahan batu yang ditemukan guna mengambil sampelnya.

21

b. Kompas Geologi

Gambar 3.3. Kompas Geologi Fungsi: Untuk menentukan posisi dan lintasan batuan yang diambil c. Plastik sampel

Gambar 3.4. Plastik Sampel Fungsi: Untuk menyimpan sampel batuan yang diambil. d. Spidol permanen

Gambar 3.5. Spidol Permanen Fungsi: Untuk memberi identitas pada plastik sampel batuan yang telah diambil di setiap pos

22

e. Kamera Ponsel

Gambar 3.6. Kamera Ponsel Fungsi : Untuk mengambil gambar sampel batuan yang didapatkan f. Peta Lokasi

Gambar 3.7. Peta lokasi Fungsi: Untuk menentukan lokasi batuan yang diambil

g. Papan alas

Gambar 3.8. Papan Alas 23

Sebagai media untuk mempermudah penulisan data di lokasi pengambilan sampel h. Jam tangan

Gambar 3.. Jam Tangan Sebagai alat untuk menentukan waktu tiba dan meninggalkan lokasi 3.3. Prosedur Pengambilan Data Data batuan : Posisi awal ditentukan dan dicatat waktu keberangkatan. 1. Pos 1 a. b. c. d. e. f. 2. Pos 2 a. b. c. 3. a. b. Dicatat waktu tiba dilokasi Ditentukan posisi dan dicatat Dicatat waktu meninggalkan lokasi Pos 3 Dicatat waktu tiba dilokasi penemuan bongkahan batu Bongkahan batu dipecahkan dan diambil sampelnya 24 Dicatat waktu tiba dilokasi penemuan bongkahan batu Bongkahan batu dipecahkan dan diambil sampelnya Sampel yang telah didapat diambil gambarnya di atas bongkahan batu tersebut Sampel disimpan didalam plastik sampel dan diberi identitas Posisi ditentukan dan dicatat Dicatat waktu meninggalkan lokasi

c. d. e. f. 4. a. b. c. d. e. f. Pos 4

Sampel yang telah didapat diambil gambarnya di atas bongkahan batu tersebut Sampel disimpan didalam plastik sampel dan diberi identitas Posisi ditentukan dan dicatat Dicatat waktu meninggalkan lokasi

Dicatat waktu tiba dilokasi penemuan bongkahan batu Bongkahan batu dipecahkan dan diambil sampelnya Sampel yang telah didapat diambil gambarnya di atas bongkahan batu tersebut Sampel disimpan didalam plastik sampel dan diberi identitas Posisi ditentukan dan dicatat Dicatat waktu meninggalkan lokasi

25

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil BATUAN SEDIMEN No. Stasiun Warna Lapuk Warna Segar Jenis Batuan Tekstur Struktur :Post 1 : abu-abu terang : abu-abu gelap :sedimen :sedimen klastik : sedimen deformasi Bentuk Butir Sub angular Banyak segi Banyak segi :hampir seragam : buruk :sedang : sedimen lempung : a. Proses terbentuknya b. Fosil c. Posisi Batuan d. Vegetasi e. Topografi : Pelapukan : Tumbuh-tumbuhan : N 150 W dan N 240 W : Pohon kelapa : lereng Ukuran Butir Keci-kecil Kecil Halus

Fragmen Matriks Semen Sortasi Permeabilitas Porositas Nama Batuan Keterangan

BATUAN SEDIMEN No. Stasiun Warna Lapuk Warna Segar Jenis Batuan :Post 3 : putih keabu-abuan : abu-abu : sedimen 26

Tekstur Struktur Komposisi Mineral

: sedimen klastik : sedimen deformasi : Bentuk Butir Angular Banyak segi Banyak segi : tidak seragam : buruk : buruk : sedimen pasiran : Proses terbentuknya Fosil Posisi Batuan Vegetasi Topografi :Pelapukan : Tumbuh-tumbuhan : N 240 W dan N 55 : Padang ilalang : lereng Ukuran Butir Besar Besar Kecil

Fragmen Matriks Semen Sortasi Permeabilitas Porositas Nama Batuan Keterangan a. b. c. d. e.

BATUAN SEDIMEN No. Stasiun Warna Lapuk Warna Segar Jenis Batuan Tekstur Struktur Komposisi Mineral Sortasi Permeabilitas Porositas Nama Batuan Keterangan a. : seragam : sedang : buruk : sedimen lempung : Proses terbentuknya : Hasil dari pelapukan bakuan beku 27 :Post 4 :merah bata :merah,putih,kuning :sedimen :sedimen klastik : sedimen biogenik

b. c. d. e. 4.2. Pembahasan

Fosil Posisi Batuan Vegetasi Topografi

: Tumbuh-tumbuhan : N 205 W dan N 62 W : Ilalang dan pohon akasia : lereng bukit

Dari hasil praktikum yang di lakukan di di Pantai Kura-kura Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat di dapatkan tiga sampel batuan dari 4 pos yang kami lewati.Ketiga sampel tersebut termasuk kedalam jenis batuan sedimen yang memiliki jenis,tekstur,struktur serta kandungan mineral yang berbeda-beda.Berikut akan di jelaskan pembahasan keseluruhan dari batuan yang di dapat pertiap posnya. 4.2.1.Batuan pada pos 1 Sampel batuan yang kami dapatkan pada pos 1 termasuk kedalam jenis batuan sedimen klastik karena ditinjauan dari ukuran dan tingkat keseragaman partikel serta bentuknya.Batuan tersebut terdapat pada posisi N 150 W Dan N 240 W dengan titik acuan 1 berupa Bukit Sukteonal dan puncak 2 berupa Gunung Batu Belat .Secara kasat mata dapat di lihat dengan jelas warna segar dari batuan tersebut adalah abu-abu terang dan warna lapuk dari batuan tersebut abu-abu kecoklatan.Perbedaan warna segar dengan warna lapuk disebabkan pelapukan batuan akibat kondisi sekitar seperti air , angin , organisme,udara dan lain-lain.Tinjaun dari strukturnya batuan tersebut termasuk batuan sedimen deformasi.Dengan komposisi mineral penyusun berupa bentuk butir dan ukuran butir yang beragam.Di tinjau dari bentuk butirnya fragmen dari batuan tersebut berupa sub angular atau menyudut tanggung , dengan matriks dan semen yang banyak segi. Kemudian bila di tinjau dari ukuran butirnya fragmen dari batuan tersebut tampak kecil-kecil,dengan matriks berbentuk kecil,dan ukuran semen yang halus.Kemudian sortasi atau keseragaman ukuran butir dari fragmen penyusun batuannya tampak hampir seragam,dengan permeabilitas atau sifat yang dimiliki oleh batuan untuk dapat meloloskan air yang buruk akibat kerapatan antar fragmen,semen,dan matriksnya.Batuan ini memiliki porositas atau ruang yang terdapat diantara fragmen butiran yang ada pada batuan yang buruk.

28

4.2.2.Pos 2 Pada pos 2 tidak ditemukn batuan.Pada pos ini hanya menentukan posisi lokasi tempat dengan menggunakan kompas geologi.Setelah di lakukan penembakan sudut dengan menggunakan 2 titik acuan ,yaitu tanjung gondol sebagai acuan 1 dan gunung gede sebagai acuan 2 maka di dapat lah posisi pos 2, yaitu berada pada perpotongan sudut N 287 W( puncak gunung gede) dan N 100 W ( tanjung).Dengan vegetasi sekitar berupa padang ilalang. 4.2.3.Batuan pada pos 3 Sampel batuan yang didapatkan pada pos 3 termasuk kedalam jenis batuan sedimen klastik ditinjauan dari ukuran dan tingkat keseragaman partikel serta bentuknya.Dengan warna segar dari batuan tersebut adalah putih abu-abu dan warna lapuk dari batuan tersebut abu-abu kecoklatan.Kemudian bila tinjau dari strukturnya batuan tersebut termasuk batuan sedimen deformasi.Dengan komposisi mineral penyusun berupa bentuk butir dan ukuran butir yang beragam.Dari bentuk butirnya fragmen dari batuan tersebut berupa angular atau menyudut, dengan matriks dan semen yang banyak segi. Kemudian bila di tinjau dari ukuran butirnya fragmen dan matriks berbentuk besar ,dan ukuran semen yang kecil .Dengan sortasi yang tidak seragam,permeabilitas dan porositas yang buruk .

4.2.4.Batuan pada pos 4

29

Pada pos 4 di temukan batuan sedimen klastik pada posisi perpotongan sudut yaitu dengan acuan puncak 1 yang berada pada N 205 W dan gunung gede yang berada pada N 62 W.Batuan tersebut memiliki warna segar merah,putih,kuningdan warna lapuk merah bata.Dari strukturnya batuan tersebut termasuk batuan sedimen biogenik .Dengan komposisi mineral penyusun berupa bentuk butir dan ukuran butir yang beragam.Bentuk butir fragmen dari batuan tersebut berupa sub angular atau menyudut tanggung , dengan matriks dan semen yang banyak segi. Kemudian bila di tinjau dari ukuran butirnya fragmen dari batuan tersebut tampak kecil-kecil,dengan matriks berbentuk kecil,dan ukuran semen yang halus.Kemudian sortasi seragam,dengan permeabilitas sedang,dan porositas yang buruk.Dari bentuk luar nya batuan ini tergolong dalam sedimen pasiran karena

BAB V PENUTUP 5.1.Kesimpulan 30

Dari hasil praktikum yang di lakukan di di Pantai Kura-kura Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang kotamadya Singkawang dapat di simpulkan bahwa: 1. Setelah melakukan identifikasi terhadap sampel batuan yang di dapat maka di ketahui bahwa jenis batuan yang terdapat di di Pantai Kura-kura Desa Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang kotamadya Singkawang diantaranya adalah batuan sedimen lempung dan sedimen pasira 2. Dengan menggunakan kompas geologi maka dapat di tentukan lokasi penemuan sampel batuan adalah perpotongan dari 2 titik acuan yang di pakai dalam penembakan sudut.yaitu: a. b. c. d. Pos 1 Pos 2 Pos 3 Pos 4 : Puncak 1(Bukit Sukteonal) = N 150 W Puncak 2(Gunung Batu Belat)= N 240 W : Puncak 1= N 100 W Puncak 2 = N 287 W :Puncak 1= N 240 W Puncak 2 = N 55 W : Puncak 1= N 250 W Puncak 2= N 62 W 5.2.Saran 1. Sebaiknya untuk praktikum selanjutnya di lakukan di tempat yang berbeda agar jenis batuan yang di dapat bervariasi. 2. Penentuan sudut harus tepat agar pada saat penggmbaran peta di dapatkan lokasi yang tepat. 3. Pemgambilan sampel batuan harus benar-benar mewakili dari jenis batuan tersebut agar pada saat pengamatan tidak terjadi kekeliruan dalam pengidentifikasian jenis batuan

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2008, Jenis-Jenis Batuan, http://id.Wikipedia.Org/batuan dikunjugi pada tanggal 6 mei 20087. 31

http://karangsambung.lipi.go.id http://doddys.wordpress.com/2007/02/08/mekanisme-transportasi-sedimen/ Munir, M.och, 2003, Geologi Lingkungan, Edisi Pertama, Bayu Media Publishing, Malang. M. Alzwar, H. S, 1984, Pengantar Dasar Ilmu Gunung Api, Penerbit Nova, Bandung. Noor, D., 2008. Pengantar Geologi, Universitas Pakuan, Bogor Sugeng widada, 2002, Modul Mata Kuliah. Universitas Diponegoro : Semarang Umi Muawanah dan Agus supangat. 1998. Pengantar Kimia dan Sedimen Dasar Laut. Badan Riset Kelautan Dan Perikanan: Jakarta.

LAMPIRAN 1.Lampiran dokumentasi 32

Pos 1

Pos 3

Pos 4

2. Peta a. Peta Stasiun

33

b. Peta Batuan

34

c. Peta Lintasan

35

36