Anda di halaman 1dari 5

Tugas Empati pada Modul Respirasi FKUI 2010

DISCLOSURE OF MEDICAL ERROR


Kelompok Diskusi 11, FKUI 2008 Latar Belakang Ilmu Kedokteran adalah ilmu yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia. Berbagai permasalahan di dunia kedokteran adalah permasalahan kehidupan yang pada dasarnya sangat kompleks dan melibatkan banyak faktor yang saling berkaitan. Oleh karena itu penerapan ilmu medis dalam praktiknya bukanlah hal yang kaku. Praktik Kedokteran adalah praktik yang fleksibel yang menuntut kemampuan dokter untuk menghubungkan ilmu, segi kemanusiaan, dan aspek hukum. Komunikasi merupakan salah satu hal yang memegang peranan penting pada praktik kedokteran. Kesalahan komunkasi dapat menjadi awal dari berbagai masalah mulai dari permasalahan medis, permasalahan kemanusiaan, bahkan permasalahan hukum.

Kesalahan Medis (Medical Errors) Pada upaya medik umumnya mengandung resiko baik itu resiko ringan maupun berat. Akhir-akhir ini, resiko atau adverse effect tersebut dikaitkan dengan medication error, suatu error yang terjadi akibat pemberian obat ataupun salah dalam penegakan diagnosis yang berdampak pada pemilihan dan pemberian obat. Namun sebenarnya tidak setiap efek samping obat-obatan dapat dianggap sebagai medication error. Adverse events itu sendiri dapat dijelaskan sebagai suatu injury pada pasien yang lebih disebabkan oleh tindakan dan manajemen kesehatan dibandingkan oleh penyakit itu sendiri, yang mengakibatkan perpanjangan masa perawatan atau ketidakmampuan baik permanen maupun non-permanen pada pasien. Apabila adverse events timbul akibat

kesalahan yang dilakukan oleh praktisi kesehatan maka dikenal sebagai medical error.

inilah yang

Kesalahan dapat berupa kesalahan pengobatan, kesalahan pemeriksaan, kesalahan kesimpulan, dan kesalahan pada langkah-langkah praktik medis lainnya. Namun demikian, kesalahan yang biasanya menjadi dasar medical errors adalah kesalahan pada komunikasi. Komunikasi seorang dokter baik secara verbal maupun nonverbal adalah hal pertama yang dilihat seorang pasien dalam menilai kredibilitesnya. Oleh karena itu, sikap yang salah maupun bahasa yang kurang komunikatif dari seorang dokter bahkan dapat menjadi masalah bagi dirinya sendiri di kemudian hari. Walaupun masalah komunikasi adalah masalah yang paling sering terjadi, akan tetapi kesalahan yang dapat menyebabkan masalah lebih besar adalah kesalahan pengobatan (medication error).

Pengungkapan Kesalahan Medis (Disclosure of Medical Errors)

Baik pasien maupun dokter diuntungkan leh kesempatan untu, terlibat dalam pembicaraan bermanfaat tentang kesalahan medis. Di masa lalu, pembicaraan semacam ini sama sekali mustahil saat terjadi kondisi medis yang tiodak menguntungkan, kala pasien dan pihak keluarga paling membutuhkan dokter mereka, dokter diinstruksikan untuk menarik diri dan memutuskan saluran komunikasi langsung. Dewasa ini, semakin banyak pihak dokter dan rumah sakit menyadari bahwa sebuah program pengungkapan (disclosure) dan permintaan maaf yang terkoordinasi dapat mengurangi jumlah tuntutan malapraktik secara mencolok. Satu kisah menggambarkan kekuatan model pendekatan baru ini. Peristiwa ini terjadi di Rumah Sakit Massachussets Veterans Affair (VA), Lexington. Seorang pasien wanita berusia lanjut diterima rumah sakit dalam kondisi menderita beberapa komplikasi medis dan akhirnya meninggal. Anak-anak perempuan pasien itu tidak curiga apapun. Namun,

sebuah investigasi rumah sakit menemukan bahwa sejumlah kesalahan telah mempercepat kematian wanita tua itu. Kasus itu bisa saja ditutup dengan begitu mudahnya. Namun para pejabat rumah sakit memutuskan untuk memberitahu pihak keluarga bahwa mereka memiliki informasi mengenai kematian ibu mereka. Sebuah pertemuan dijadwalkan kemudian pihak keluarga disarankan menyewa pengacara. Dipertemuan tersebut dokter yang bersangkutan menuturkan apa yang terjadi, mengakui kesalahannya, mengungkapkan permintaan maaf pribadi, menjelaskan apa yang telah dipelajari staf rumah sakit dari pengalamana itu dan membahas masalah kompensasi. Luar biasanya, kasus itu selesai dalam waktu beberapa minggu. Proses ini tidak saja bagus bagi hubungan dokter dan pasien, tapi juga untuk reputasi dan kondisi program keuangan rumah sakit. Dokter yang berpartisipasi dalam pengungkapan umumnya menerima

tuntutan yang lebih sedikit ketimbang dojter yang menyangkal dan membela diri. Alas annya bukan sekedar pernyataan gambalang bahwa tuntutan pasien ditangani lewat proses mediasi dan diselesaikan secara kekeluargaan. Lebih dari itu, dokter yang minta maaf atau peling tidak menampilkan perasaan bersalah bukanlah sasaran yang menggiurkan, paling tidak jika dilihat dari sudut pandang pengacara penggugat. Bahkan dalam kasus langka dimana pasien tetap menggugat dokter yang minta maaf, kecil kemungkinannya ada pengacara yang bersedia menangani kasus semacam itu. Referensi Kador, John. 2009. Effective Apology: Merajut hubungan, memulihkan kepercayaan. Jakarta: Penerbit Gemilang

Tugas Empati pada Modul Respirasi

DISCLOSURE OF MEDICAL ERROR

OLEH: Ade Dayangsuri Agatha Grace Danya Philanodia Hartanto Reza Gazali Hilman Zulkifli Amin Lia Lastaria Mahrani Kemal Rara Agung Rengganis Sulaeman Andrianto Susilo Titi Mudjiati

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA 2010