Anda di halaman 1dari 33

CASE REPORT SESSION Laki-laki 63 Tahun dengan Tinea Corporis ========================================================== Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti

Ujian Kepanitraan Klinik di Bagian Ilmu Kedokteran Keluarga FKIK UMY dan Puskesmas Wirobrajan

Disusun Oleh: Niqko Bayu Prakarsa, S. Ked (20070310007) Penguji Klinik: dr. Nurzammi Dokter Pembimbing: dr. Titiek Hidayati, M. Kes

ILMU KEDOKTERAN KELUARGA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2012

Halaman Pengesahan

Telah diajukan dan disahkan, case report dengan judul Laki-laki 63 Tahun dengan Tinea Corporis

Disusun Oleh: Nama NIM : Niqko Bayu Prakarsa, S. Ked : 20070310007

Telah diajukan Hari/ Tanggal: Sabtu, 29 Desember 2012

Disahkan Oleh: Penguji Klinik, Dokter Pembimbing

dr. Nurzammi

dr. Titiek Hidayati, M. Kes

KATA PENGANTAR Assalamualaikum wr. wb. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat, iman dan Islam sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kepaniteraan klinik dengan judul Laki-laki 63 Tahun dengan Tinea Corporis untuk memenuhi sebagian syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik bagian Ilmu Kedokteran Keluarga di Puskesmas Wirobrajan. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang telah berjuang dengan membawa agama Allah. Banyak hambatan dalam penyusunan makalah ini, namun berkat dukungan dari banyak pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan kepaniteraan klinik kedokteran keluarga ini. Dalam kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat: 1. dr. AS Williamto, selaku Kepala Puskesmas Wirobrajan Yogyakarta. 2. dr. Nurzammi, sebagai dokter penguji klinik di Puskesmas Wirobrajan. 3. dr. Titiek Hidayati, M.Kes, sebagai dokter pembimbing Ilmu Kedokteran Keluarga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan kepaniteraan klinik kedokteran keluarga ini dan selanjutnya. Semoga laporan kepaniteraan klinik kedokteran keluarga ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membacanya. Wassalamualaikum Wr. Wb. Yogyakarta, 28 Desember 2012 Penyusun,

Niqko Bayu Prakarsa

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................ HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... KATA PENGANTAR...................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN............................................................................ A. Latar Belakang Masalah ............................................................ B. Profil Puskesmas Wirobrajan .................................................... C. Tujuan Penulisan........................................................................ D. Manfaat Penulisan...................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. A. Tinea Corporis............................................................................ 1. Definisi..................................................................................... 2. Epidemiologi............................................................................. 3. Etiologi .................................................................................... 4. Patofisiologi ............................................................................. 5. Gambaran klinik ...................................................................... 6. Pemeriksaan Penunjang............................................................ 7. Diagnosis.................................................................................. 8. Diagnosis Banding.................................................................... 9. Penatalaksanaan ....................................................................... 10. Prognosis................................................................................... BAB III PRESENTASI KASUS ................................................................... A. Anamnesis ................................................................................. B. Pemeriksaan Fisik ..................................................................... C. Pemeriksaan Penunjang ............................................................. D. Diagnosis Banding..................................................................... E. Diagnosis ................................................................................... F. Terapi......................................................................................... G. Edukasi ...................................................................................... 1 2 3 4 6 6 6 8 9 10 10 10 10 11 11 12 14 14 14 15 17 18 18 19 20 20 20 20 21

BAB IV PEMBAHASAN ............................................................................. A. Analisis Kasus ........................................................................... B. Analisis Kunjungan Rumah ...................................................... C. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Satu Rumah................ D. Genogram Keluarga................................................................... E. Nilai APGAR Keluarga.............................................................. F. SCREEM Keluarga ................................................................... G. Identifikasi Masalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ............. H. Pelaksanaan Program ................................................................ I. Diagnosis Kesehatan Keluarga.................................................. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ A. Kesimpulan ............................................................................... B. Saran .......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

22 22 22 25 25 27 28 29 30 30 32 32 32 33

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tinea korporis adalah penyakit dermatofit pada kulit glabrosa, selain kulit kepala, wajah, kaki, telapak tangan dan kaki, janggut dan lipatan paha.(1,2,3) Manifestasinya akibat infiltrasi dan proliferasinya pada stratum korneum dan tidak berkembang pada jaringan yang hidup.(1,4) Metabolisme dari jamur dipercaya menyebabkan efek toksik dan respon alergi. Tinea korporis umumnya tersebar pada seluruh masyarakat tapi lebih banyak di daerah tropis. (1) Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur dan paling sering terjadi pada iklim yang panas (tropis dan subtropis).(5,6) Ada beberapa macam variasi klinis dengan lesi yang bervariasi dalam ukuran derajat inflamasi dan kedalamannya. Variasi ini akibat perbedaan imunitas hospes dan spesies dari jamur.(5) B. Profil Puskesmas Wirobrajan Puskesmas Wirobrajan adalah unit pelaksanaan teknis dinas kesehatan di wilayah kerja Kecamatan Wirobrajan. Unit pelaksanaan teknis dinas kesehatan adalah unit yang melaksanakan tugas teknis operasional di wilayah kerja puskesmas sebagai unit pelaksana tingkat pertama pembangunan kesehatan di Indonesia. Di Kecamatan Wirobrajan terdapat satu puskesmas induk yaitu Puskesmas Wirobrajan dengan Puskesmas Pembantu Tegalmulyo. Puskesmas Wirobrajan terletak di kota Yogyakarta dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: sebelah utara adalah Kecamatan Tegalrejo, sebelah timur adalah Kecamatan Ngampilan dan Kecamatan Matrijeron, sebelah selatan dan barat adalah Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Luas wilayah Kecamatan Wirobrajan 1,78 km2 dengan pembagian kelurahan menjadi 3 kelurahan yang terdiri dari: Kelurahan Pakuncen yang terletak di bagian utara dengan 58 RT dan 12 RW, Kelurahan Wirobrajan terletak di bagian tengah dengan 56 RT dan 12 RW, Kelurahan Patangpuluhan terletak di bagian selatan dengan 51 RT dan 10 RW.

Jumlah penduduk Kecamatan Wirobrajan adalah 29.225 jiwa. Dengan jumlah kepala keluarga 8.592 dan terdiri dari 165 RT, 34 RW serta 36 posyandu. Sasaran kesehatan wilayah kerja Puskesmas Wirobrajan yang mengacu pada Indikator Indonesia Sehat 2010 dan SPM seperti derajat kesehatan, keadaan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, pelayanan kesehatan, perbaikan gizi masyarakat. Puskesmas Wirobrajan belum dilengkapi dengan fasilitas rawat inap namun sudah terdapat fasilitas ambulans dan UGD yang pada saat jam kerja dapat digunakan. Kegiatan pelayanan umum meliputi balai pengobatan umum (BPU), balai pengobatan gigi (BPG), BKIA/KB, unit farmasi, unit puskesmas keliling, UKS, konseling gizi, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan dan poli lansia, konseling PHBS, konseling psikologi, dan konseling berhenti merokok. Untuk mencapai sasaran wilayah kerja Puskesmas Wirobrajan seperti disebut di atas, dokter keluarga juga dapat berperan didalamnya. Pelayanan kedokteran keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh dan memusatkan pelayanannya pada keluarga sebagai suatu unit. Di mana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien, juga tidak oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja. Pelayanan dokter keluarga yang melibatkan dokter keluarga sebagai penapis (goal keeper) di tingkat pelayanan primer, dokter spesialis di tingkat pelayanan sekunder, rumah sakit rujukan, dan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan yang berkerja secara bersama-sama menempatkan dokter keluarga pada posisi yang sangat strategis dalam pembangunan kesehatan. Tujuan yang ingin dicapai dalam pelayanan dokter keluarga adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan bagi individu, keluarga dan masyarakat yang bermutu namun terkendali biayanya, yang tercermin dalam tata laksana pelayanan kesehatan yang diberikan oleh dokter keluarga.

Tabel 1. Rekapitulasi 10 Besar Diagnosis Pasien Puskesmas Wirobrajan Periode Januari Oktober 2012

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

ICD J.06 I.10 J.00 K.04 E.11 M.791 R.51 E.78 R.50 A.09

Diagnosis Infeksi akut pada saluran pernafasan bagian atas Hipertensi primer Common cold/ Nasopharyngitis acute Penyakit pulpa dan periapikal Diabetes Mellitus tipe 2 (NIDDM) Mialgia Nyeri kepala (headache) Gang. Metabolisme Lipid & Lipoprotein Febris/ demam Diare dan gastroenteritis

Jumlah 3703 3594 2591 1568 1468 1145 1086 855 829 825

C. Tujuan Penulisan 1. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan suatu gambaran, penjelasan yang lebih mendalam mengenai penyakit Tinea corporis. Diharapkan masyarakat dapat melakukan pencegahan dan pengobatan dini dengan cara yang tepat. 2. Penulisan laporan kasus kepaniteraan klinik ilmu kedokteran keluarga ini bertujuan untuk memenuhi sebagian syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kedokteran Keluarga, Fakultas Kedokteran Yogyakarta. 3. Memberikan informasi serta pengetahuan mengenai bentuk pelayanan kedokteran dengan pendekatan kedokteran keluarga pada penderita penyakit. Salah satunya dengan menganalisis penyebab, perilaku atau gaya hidup apakah telah mendukung pengobatan farmakologi atau tidak. Selain itu juga penyuluhan dilakukan dengan titik berat agar pasien dan keluarganya menjadi mengetahui lebih banyak tentang dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah

Tinea corporis sehingga dapat diminimalisir terjadinya komplikasi yang terjadi. D. Manfaat Penulisan 1. Manfaat untuk puskesmas Sebagai sarana kerjasama yang saling menguntungkan untuk dapat meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dan mendapatkan umpan balik dari hasil evaluasi koasisten dalam rangka mengoptimalkan peran puskesmas. 2. Manfaat untuk mahasiswa Sebagai sarana keterampilan dan pengalaman dalam upaya pelayanan kesehatan dengan menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. TINEA CORPORIS 1. DEFINISI Tinea korporis adalah penyakit dermatofit pada kulit glabrosa, selain kulit kepala, wajah, kaki, telapak tangan dan kaki, janggut dan lipatan paha.(1,2,3) Manifestasinya akibat infiltrasi dan proliferasinya pada stratum korneum dan tidak berkembang pada jaringan yang hidup.(1,4) Metabolisme dari jamur dipercaya menyebabkan efek toksik dan respon alergi. Tinea korporis umumnya tersebar pada seluruh masyarakat tapi lebih banyak di daerah tropis. (1) Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur dan paling sering terjadi pada iklim yang panas (tropis dan subtropis).(5,6) Ada beberapa macam variasi klinis dengan lesi yang bervariasi dalam ukuran derajat inflamasi dan kedalamannya. Variasi ini akibat perbedaan imunitas hospes dan spesies dari jamur.(5) 2. EPIDEMIOLOGI Tinea corporis merupakan infeksi yang umumnya sering dijumpai didaerah yang panas, Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling umum diseluruh dunia dan sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis. Tricophyton tonsuran akan berkembang menjadi t inea merupakan dermatofit yang lebih umum menyebabkan tinea kapitis, dan orang dengan infeksi tinea kapitis antropofilik korporis.. Walaupun prevalensi tinea korporis dapat disebabkan oleh peningkatan Tricophyton tonsuran, Microsporum canis merupakan organisme ketiga sekitar 14 % menyebabkan tinea korporis.(7) Tinea korporis mungkin ditransmisikan secara langsung dari infeksi manusia atau hewan melalui autoinokulasi dari reservoir, seperti kolonisasi T.rubrum di kaki. Anak-anak lebih sering kontak pada zoofilik patogen seperti M.canis pada kucing atau anjing. Pakaian ketat dan cuaca panas dihubungkan dengan banyaknya frekuensi dan beratnya erupsi. (2) Infeksi dermatofit tidak menyebabkan mortalitas yang signifikan tetapi mereka bisa berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Tinea korporis prevalensinya sama antara pria dan wanita. Tinea korporis mengenai semua orang dari semua tingkatan usia tapi prevalensinya lebih tinggi pada preadolescen. Tinea

korporis yang berasal dari binatang umumnya lebih sering terjadi pada anak-anak.
(7,8)

Secara geografi lebih sering pada daerah tropis daripada subtropis.(8) Berdasarkan habitatnya dermatofit digolongkan sebagai antropofilik

(manusia), zoofilik (hewan), dan geofilik (tanah). Dermatofit yang antropofilik paling sering sebagai sumber infeksi tinea, tetapi sumber yang zoofilik di identifikasi (jika mungkin) untuk mencegah reinfeksi manusia.(9) 3. ETIOLOGI Tinea korporis dapat disebabkan oleh berbagai spesies dermatofit seperti Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton. Variasi penyebabnya dapat ditemukan berdasarkan spesies yang terdapat di daerah tertentu. (1,6) Namun demikian yang lebih umum menyebabkan tinea korporis adalah T.rubrum, T.mentagrophytes, dan M.canis.(1) 4. PATOGENESIS Dermatofitosis bukanlah patogen endogen. Transmisi dermatofit kemanusia dapat melalui 3 sumber masing-masing memberikan gambaran tipikal. Karena dermatofit tidak memiliki virulensi secara khusus dan khas hanya menginvasi bagian luar stratum korneum dari kulit.(3) Types Of Dermatophytes Based On Mode Of Transmission Category Mode of transmission Typical clinical features Antropofilik Manusia ke manusia Ringan, tanpa inflamasi, kronik Zoofilik Geofilik Lingkungan Hewan ke manusia Tanah ke manusia atau hewan kulit yang sesuai merupakan Inflamasi hebat (mungkin pustula dan vesikel), akut. Inflamasi sedang faktor penting dalam

perkembangan klinis dermatofitosis. Infeksi alami disebabkan oleh deposisi langsung spora atau hifa pada permukaan kulit yang mudah dimasuki dan umumnya tinggal di stratum korneum, dengan bantuan panas, kelembaban dan kondisi lain yang mendukung seperti trauma, keringat yang berlebih dan maserasi

juga berpengaruh.(4,7,10) Pemakaian bahan yang tidak berpori akan meningkatkan temperatur dan keringat sehingga mengganggu fungsi barier stratum korneum. Infeksi dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan individu atau hewan yang terinfeksi, benda-benda seperti pakaian, alat-alat dan lain-lain. Infeksi dimulai dengan terjadinya kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya dalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini memproduksi enzim keratolitik yang mengadakan difusi ke dalam jaringan epidermis dan merusak keratinosit. (7,10) Setelah masa perkembangannya (inkubasi) sekitar 1-3 minggu respon jaringan terhadap infeksi semakin jelas dan meninggi yang disebut ringworm, yang menginvasi bagian perifer kulit. Respon terhadap infeksi, dimana bagian aktif akan meningkatkan proses proliferasi sel epidermis dan menghasilkan skuama. Kondisi ini akan menciptakan bagian tepi aktif untuk berkembang dan bagian pusat akan bersih. Eliminasi dermatofit dilakukan oleh sistem pertahanan tubuh (imunitas) seluler.(7,10) Pada masa inkubasi, dermatofit tumbuh dalam stratum korneum, kadangkadang disertai tanda klinis yang minimal. Pada carier, dermatofit pada kulit yang normal dapat diketahui dengan pemeriksaan KOH atau kultur.(10) 5. GAMBARAN KLINIK Tinea korporis bisa mengenai bagian tubuh manapun meskipun lebih sering terjadi pada bagian yang terpapar. Pada penyebab antropofilik biasanya terdapat di daerah yang tertutup atau oklusif atau daerah trauma.(6) Keluhan berupa rasa gatal. Pada kasus yang tipikal didapatkan lesi bulla yang berbatas tegas, pada tepi lesi tampak tanda radang lebih aktif dan bagian tengah cenderung menyembuh. Lesi yang berdekatan dapat membentuk pola gyrate atau polisiklik. Derajat inflamasi bervariasi, dengan morfologi dari eritema sampai pustula, bergantung pada spesies penyebab dan status imun pasien. Pada penyebab zoofilik umumnya didapatkan tanda inflamasi akut. Pada keadaan imunosupresif, lesi sering menjadi lebih luas.(6) Tinea korporis dapat bermanifestasi sebagai gambaran tipikal, dimulai

sebagai lesi eritematosa, plak yang bersisik yang memburuk dan membesar, selanjutnya bagian tengah dari lesi akan menjadi bentuk yang anular akan mengalami resolusi, dan bentuk lesi menjadi anular. (1,5,7,10,11) berupa skuama, krusta, vesikel, dan papul sering berkembang, khususnya pada bagian tepinya. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi pada umumnya merupakan bercak terpisah satu dengan yang lainnya.(10) Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang akut biasanya tidak terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan pada sela paha. Dalam hal ini disebut tinea korporis dan kruris.(12) Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh Trichophyton concentricum disebut tinea imbrikata. Tinea imbrikata mulai dengan bentuk papul berwarna coklat, yang perlahan-lahan menjadi besar. Stratum korneum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar. Proses ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris. (7) Infeksi dermatofit secara zoofilik atau geofilik lebih sering menyebabkan respon inflamasi daripada yang disebabkan oleh mikroba antropofilik. Umumnya, pasien HIV-positif atau imunokompromise bisa terlihat dengan abses yang dalam dan meluas. (7) Tinea korporis lebih sering ditemukan sebagai asimptomatik atau gatal ringan. Secara obyektif tipikal lesinya mulai sebagai makula eritematosa atau papul yang menjalar dan berkembang menjadi anular, dan lesi berbatas tegas, skuama atau vesikel, tepi yang berkembang dan healing center. Tinea korporis lebih sering pada permukaan tubuh yang terbuka antara lain wajah, lengan dan bahu.(13)

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG Dalam patogenesisnya, jamur patogen akan menyebabkan kelainan pada kulit sehingga atas dasar kelainan kulit inilah kita dapat membangun diagnosis. Akan tetapi kadang temuan floresensi tidak khas atau tidak jelas, sehingga diperlukan

pemeriksaan penunjang. Sehingga diagnosis menjadi lebih tepat. (14) Pemeriksaan mikroskopik langsung terhadap bahan pemeriksaan merupakan pemeriksaan yang cukup cepat, berguna dan efektif untuk mendiagnosis infeksi jamur. (6) Pemeriksaan KOH merupakan pemeriksaan tunggal yang paling penting untuk mendiagnosis infeksi dermatofit secara langsung dibawah mikroskop dimana terlihat hifa diantara material keratin.(5) Gambaran effloresensinya sebagai berikut (6) Penyakit jamur Tinea kapitis Pitiriasis versikolor Bukan Penyakit jamur Eritasma Obat tetrasiklin 7. DIAGNOSIS Diagnosis ditetapkan berdasarkan gambaran klinis dan lokalisasinya atau pemeriksaan sediaan langsung kerokan lesi dengan larutan KOH 20%, untuk melihat elemen jamur dermatofit. Biakan jamur diperlukan untuk identifikasi spesies jamur penyebab yang lebih akurat.(10) Diagnosis pasti digunakan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop untuk mengidentifikasi adanya hifa dan spora untuk mengetahui infeksi dermatofit. Infeksi dapat dikonfirmasi atau beberapa dari keadaan ini diidentifikasi dari hasil positif kerokan oleh kultur jamur. (14) 8. DIAGNOSIS BANDING Bergantung variasi gambaran klinis, tinea korporis kadang sulit dibedakan dengan beberapa kelainan kulit yang lainnya. Antara lain dermatitis kontak, dermatitis numularis, dermatitis seboroik, ptiriasis rosea, (6,12) dan psoriasis.(6,7,12) Untuk alasan ini, tes laboraturium sebaiknya dilakukan pada kasus dengan lesi kulit yang tidak jelas penyebabnya. (6) Kelainan kulit pada dermatitis seboroik selain dapat menyerupai tinea korporis, biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya dikulit Floresensi Hijau, biru kehijauan Kuning keemasan Effloresensi Merah bata kuning

kepala, lipatan-lipatan kulit, misanya belakang telinga, daerah nasolabial dan sebagainya. Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit dari tempat predileksi, yaitu daerah ekstensor, misalnya lutut, siku dan punggung. Kulit kepala berambut juga sering terkena pada penyakit ini. Adanya lekukan lekukan pada kuku dapat pula menolong untuk menentukan diagnosis. (12) Pitiriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas, tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea korporis tanpa heral patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan tinea korporis. Pemeriksaan laboratoriumlah yang dapat memastikan diagnosisnya. (12) 9. PENATALAKSANAAN Menghilangkan faktor predisposisi penting, misalnya mengusahakan daerah lesi selalu kering dan memakai baju yang menyerap keringat. A. Terapi topikal Terapi direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit biasanya hidup pada jaringan. Berbagai macam preparat imidazol dan alilamin tersedia dalam berbagai formulasi. Dan semuanya memberikan keberhasilan terapi (70-100%). Terapi topikal digunakan 1-2 kali sehari selama 2 minggu tergantung agen yang digunakan. Topikal azol dan allilamin menunjukkan angka perbaikan perbaikan klinik yang tinggi.(7) Berikut obat yang sering digunakan : 1. Topical azol terdiri atas : a. Econazol 1 % b. Ketoconazol 2 % c. Clotrinazol 1% d. Miconazol 2% dll. Derivat imidazol bekerja dengan cara menghambat enzim 14alfa-dimetilase pada pembentukan ergosterol membran sel jamur.
(7,15)

2. Allilamin bekerja menghambat allosterik dan enzim jamur skualen 2,3 epoksidase sehingga skualen menumpuk pada proses

pembentukan ergosterol membran sel jamur.(10) yaitu aftifine 1 %, butenafin 1% Terbinafin 1% (fungisidal bersifat anti inflamasi ) yang mampu bertahan hingga 7 hari sesudah pemakaian selama 7 hari berturut-turut.(7,15) 3. Sikloklopirosolamin 2% (cat kuku, krim dan losio) bekerja menghambat masuknya bahan esensial selular dan pada konsentrasi tinggi merubah permeabilitas sel jamur merupakan agen topikal yang bersifat fungisidal dan fungistatik, antiinflamasi dan anti bakteri serta berspektrum luas.(7) 4. Kortikosteroid topikal yang rendah sampai medium bisa ditambahkan pada regimen anti jamur topikal untuk menurunkan gejala. Tetapi steroid hanya diberikan pada beberapa hari pertama dari terapi. (5,7) B. Terapi sistemik Pedoman yang dikeluarkan oleh American Academy of Dermatology menyatakan bahwa obat anti jamur (OAJ) sistemik dapat digunakan pada kasus hiperkeratosis terutama pada telapak tangan dan kaki, lesi yang luas, infeksi kronis, pasien imunokompromais, atau pasien tidak responsif maupun intoleran terhadap OAJ topikal. (15) 1. Griseofulvin (7,15) Obat ini berasal dari penicillium griceofulvum dan masih dianggap baku emas pada pengobatan infeksi dermatofit genus Trichophyton, Microsporum, Epidermophyton. Berkerja pada inti sel, menghambat mitosis pada stadium metafase. 2. Ketokonazol (15) Merupakan OAJ sistemik pertama yang berspektrum luas, fungistatik, termasuk golongan imidazol. Absorbsi optimum bila suasana asam. 3. Flukonazol (15) Mempunyai mekanisme kerja sama dengan golongan imidazol, namun absorbsi tidak dipengaruhi oleh makanan atau kadar asam lambung. 4) Itrakonazol (15)

Merupakan OAJ golongan triazol, sangat lipofilik, spektrum luas, bersifat fungistatik dan efektif untuk dermatofita, ragi, jamur dismorfik maupun jamur dematiacea. Absorbsi maksimum dicapai bila obat diminum bersama dengan makanan. 5. Amfosterin B (15) Merupakan anti jamur golongan polyen yang diproduksi oleh Streptomyces nodosus. Bersifat fungistatik, pada konsentrasi rendah akan menghambat pertumbuhan jamur, protozoa dan alga. Digunakan sebagai obat pilihan pada pasien dengan infeksi jamur yang membahayakan jiwa dan tidak sembuh dengan preparat azol. 10. PROGNOSIS Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik dengan tingkat kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan azol topikal atau allilamin atau dengan menggunakan anti jamur sistemik. (7)

BAB III PRESENTASI KASUS A. Anamnesis I. Identitas Pasien

a. Nama b. TTL c. Umur e. Agama f. Pekerjaan g. Alamat h. Asuransi

: Bp. TSM : Bantul , 31 Desember 1949 : 63 tahun : Islam : Tidak bekerja : Bajan RT 002/- Tamantirto, Kasihan, Bantul : Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) : 26 Desember 2012 : 27 Desember 2012 : 28 Desember 2012

d. Jenis Kelamin : Laki-laki

i. Tanggal kunjungan puskesmas j. Tanggal kunjungan rumah I k. Tanggal kunjungan rumah II II. Keluhan Utama

Pasien datang ke puskesmas Wirobrajan dengan keluhan gatal di bahu. III. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke puskesmas Wirobrajan dengan keluhan gatal di bahu. Gatal dirasakan sejak 4 bulan yang lalu. Pasien sudah berobat ke mantri desa 1 minggu yang lalu tetapi gatal masih belum sembuh. Oleh mantra desa pasien diberi obat CTM, vitamin B komplek, dan mengaku mendapatkan suntikan. IV. Riwayat Penyakit Dahulu Berdasarkan pernyataan pasien, pasien sebelumnya belum pernah mengalami sakit yang sama. V. Riwayat Penyakit Keluarga Anggota keluarga pasien tidak ada yang menderita sakit yang sama dengan pasien. B. Pemeriksaan Fisik

I. II.

Keadaan Umum VS : TD : 130/80 mmHg

: Baik, CM

N : 82 x/menit (reguler dan kuat angkat) RR : 21 x/menit T: 36.20 C III. UKK : terdapat plak kemerahan yang terus melebar, lesi cenderung aktif di bagian luar dan membaik pada bagian dalam (central healing). Terasa sangat gatal saat malam hari.

Gambar 1. UKK Tinea corporis Kepala/Leher : normocephal, simetris, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, lensa mata jernih, JVP meningkat (-), tiroid tidak teraba, limfadenopati leher (-), deformitas (-), hidung dan telinga dalam batas normal.

Thorax : Pulmo: Inspeksi : simetris,pergerakan seimbang,retraksi (-),bentuk normal Palpasi : VF ka=ki,tak ada ketinggalan gerak Perkusi : sonor +/+ Auskultasi : vesikuler +/+,whezing -/-,ronkhi -/-

Cor : S1-2 murni, bising (-), konfigurasi dbn. Abdomen Inspeksi : flat Auskultasi : peristaltik (+) Palpasi : nyeri tekan epigastrium (-),organomegali (-) Perkusi : timpani (+), ascites (-) Ekstremitas Superior Inferior kekuatan 5 5 5 5 : akral hangat,tonus baik,capilary refill < 2s : akral hangat,tonus baik,capilary refill < 2s

C. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan D. Diagnosis Banding Dermatitis numularis Dermatitis kontak Dermatitis seboroik Psoriasis E. Diagnosis Tinea corporis F. Terapi Farmakologi Terapi dari Puskesmas Ketokonazole mg 200 1 x 1 tablet Cetirizine mg 10 1 x 1 tablet Cetirizine Usulan Terapi Ketokonazole mg 200 1 x 1 tablet mg 10 1 x 1 tablet

Ketokonazole Salep 2x oles Edukasi

Ketokonazole Salep 2x oles

Edukasi dilakukan kepada pasien dan keluarga, edukasi yang diberikan meliputi tentang: 1. Gaya hidup sehat: menjaga kebersihan diri seperti mandi minimal 2x sehari dan menjaga kebersihan lingkungan. 2. Ketaatan pengobatan. 3. Komplikasi-komplikasi yang dapat timbul. 4. Pentingnya peran keluarga dalam mencapai tujuan pengobatan pasien.

BAB IV PEMBAHASAN A. Analisis Kasus

Kunjungan rumah pada pasien dilakukan pada tanggal 27 dan 28 Desember 2012, dari hasil anamnesis pada pasien ini, didapatkan keterangan bahwa pasien pertama mengalami keluhan gatal-gatal pada daerah bahu kirinya sejak 4 bulan yang lalu. Pada 1 minggu yang lalu pasien berobat ke mantri desa karena sudah tidak tahan dengan rasa gatal yang dialami. Oleh mantra desa pasien diberi 3 macam obat yaitu CTM, vitamin B komplek, dan suntikan, tetapi pasien mengaku tidak ada perubahan pada penyakitnya walaupun secara teratur meminum obat tersebut. Pendekatan yang dilakukan adalah penatalaksaan dengan memberikan pengobatan yang sesuai dan memberikan edukasi pada pasien serta keluarganya agar lebih menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. B. Analisis Kunjungan Rumah. 1. Kondisi pasien. Saat kunjungan rumah, keluhan pasien masih sama karena baru sehari mendapatkan pengobatan, tetapi rasa gatal cenderung berkurang. Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan juga tidak didapatkan kelainan yang memperburuk kondisi pasien dan pasien dapat beraktifitas secara normal sesuai dengan umurnya. 2. Keadaan rumah. o Letak : Rumah yang dihuni pasien terletak di pemukiman yang cukup padat penduduk, beralamat di Bajan RT 002/- Tamantirta, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

o Kondisi : Kokoh, dinding rumah tembok, tidak bertingkat, lantai dari keramik, atap rumah dari genteng, mempunyai halaman. Dengan luas rumah 15 x 10 meter, dihuni 7 orang. o Pembagian ruang : di dalam rumah terdapat 2 kamar tidur, 1 ruang tengah, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi, dan 1 dapur.

o Ventilasi : Terdapat jendela pada ruang depan, kamar tidur, terdapat pula lubang ventilasi pada atas jendela. Akan tetapi diruangan lainnya, tidak terdapat ventilasi. o Pencahayaan : Pencahayaan di dalam rumah cukup, sehingga dapat membaca di siang hari tanpa bantuan listrik. Daya listrik pada rumah

tersebut tidak terbatas, dan dirasa cukup untuk keperluan sehari-hari seluruh keluarga. o Kebersihan : kebersihan di dalam rumah kurang, dengan tata letak barangbarang yang berantakan. o Sanitasi dasar : Sumber air bersih : Sumber air dari PAM. Jamban keluarga : Terdapat 1 buah kamar mandi dengan 1 jamban jongkok dan bak mandi terbuat dari semen dan sudah dilapisi porselen. Kesan kamar mandi bersih, tidak bau dan terawat. Berukuran sekitar 1,5 m x 1 m. Air dalam bak mandi bersih tidak ada jentik nyamuk. Saluran Pembuangan Air Limbah : Limbah rumah tangga dialirkan ke peresapan, tidak ditemukan genangan limbah disekitar rumah. Saluran pembuangan air limbah digunakan bersama dengan warga lainnya. Tempat pembuangan sampah : sampah dikumpulkan di keranjang sampah, yang setiap dipindah ke depan rumah untuk diambil oleh petugas sampah. Pembayaran sampah ditanggung bersama oleh warga sekitar. Halaman : ada halaman depan rumah. Jalan gang depan rumah yang terbuat dari jalan aspal. Kandang : Tidak memiliki kandang untuk hewan hewan peliharaan atau ternak. 3. Kepemilikan barang. Rumah yang di tempati merupakan rumah pribadi. Keluarga tersebut memiliki televisi, lemari, tempat tidur, lemari pakaian, peralatan dapur, dll. 4. Keadaan lingkungan sekitar rumah. Limbah rumah tangga dialirkan melalui saluran limbah, tanpa tempat sampah diluar rumah. Kesan kebersihan di lingkungan tersebut cukup baik. C. Daftar anggota keluarga yang tinggal satu rumah Kedudukan Nama Bp. TSM dalam keluarga Suami L/ P L Umur 63 th Pendidikan Tamat SD Pekerjaan Ket

Ny. M Ny. S Ny. M Bp. A Bp. B A

Istri Anak Anak Menantu Menantu Cucu

P P P L L P

45 th 26 th 20 th 30 th 23 th 4 th

Tamat SD Tamat SD D3 Tamat SD Tamat SMA -

Ibu Rumah Tangga Ibu Rumah Tangga pelajar Swasta Swasta -

D. Genogram Keluarga

Keterangan: : : : Laki-laki Perempuan Tinggal 1 rumah : Meninggal : Pasien

E. Nilai Apgar Keluarga.

Apgar keluarga adalah suatu penentu sehat / tidaknya keluarga dikembangkan oleh Rosen, Geymon, dan Leyton dengan menilai 5 fungsi pokok keluarga / tingkat kesehatan keluarga yaitu :

TABEL NILAI APGAR


Respons KRITERIA PERTANYAAN Hampir selalu Adaptasi Apakah pasien puas dengan keluarga karena keluarga masing-masing sudah anggota menjalankan Hampir Kadang tidak pernah

kewajiban sesuai dengan seharusnya Apakah pasien puas dengan keluarga Kemitraan karena dapat membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi Apakah Pertumbuhan pasien puas dengan

kebebasan yang diberikan keluarga untuk mengembangkan kemampuan yang pasien miliki Apakah pasien puas dengan

Kasih Sayang

kehangatan / kasih sayang yang diberikan keluarga Apakah pasien puas dengan waktu

Kebersamaan

yang

disediakan

keluarga

untuk

menjalin kebersamaan TOTAL Skoring : Hampir selalu=2 , kadang-kadang=1 , hampir tidak pernah=0 Total skor 8-10 = fungsi keluarga sehat 4-7 = fungsi keluarga kurang sehat 0-3 = fungsi keluarga sakit Dari tabel APGAR keluarga diatas total nilai skoringnya adalah 7, ini menunjukan fungsi keluarga kurang sehat.

F. SCREEM Keluarga SCREEM adalah alat yang digunakan untuk menilai sumber daya dalam keluarga. Aspek Sosial Pasien Sumber Daya dapat beriteraksi Patologi

dengan baik dengan tetangga Kultural sekitarnya Pasien dan keluarga tidak mempercayai Religius mitos-mitos yang tidak jelas kebenarannya Pasien dan keluarga

mengajarkan

moral-moral

agama dan menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agama dengan rajin dan baik Ekonomi Pendidikan Pendidikan keluarga cukup, pasien dan suami lulusan SD, anak anak mendapatkan pendidikan bahkan Kesehatan ada yang yang cukup, sampai cukup Kesadaran dari pasien tentang kondisi kesehatan kurang. Pasien sebagai kepala rumah tangga, tidak bekerja

Perguruan tinggi. Masalah kesehatan

bagus, dekat dengan akses yankes dan memiliki jaminan jamkesmas

H. IDENTIFIKASI MASALAH PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT No. Kriteria yang dinilai Jawaban Skor 1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan. 2. Memberi ASI ekslusif. 3. Menimbang balita setiap bulan. 4. Menggunakan air bersih. Ya 1 5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. Tidak 0 6. Menggunakan jamban sehat. Ya 1 7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu. Tidak 0 8. Makan buah dan sayur setiap hari. Tidak 0 9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari. Tidak 0 10. Tidak merokok di dalam rumah. Ya 1 Total jawaban ya 3 Interpretasi: Total skor adalah 3 yang berarti keluarga Bp. TSM tidak menerapkan PHBS dengan baik.

I. PELAKSANAAN PROGRAM
NO 1. WAKTU 26 Desember 2012 KEGIATAN Anamnesa, pemeriksaan fisik, identifikasi masalah HASIL Pada saat anamnesa , pasien cukup kooperatif dan saat fisik dilakukan ditemukan: - Keluhan pasien gatal-gatal di daerah bahu sejak 4 bulan yang lalu. - Pengetahuan pasien terhadap 2. 27 Desember 2012 Follow Konseling penyakitnya. gaya hidup. Menjelaskan konsultasi ke up anamnesa pasien penyakitnya kurang dan Pasien dan keluarga lebih paham mengenai penyakitnya dan akan mengenai mengikuti menjaga saran untuk diri lebih dan kebersihan pemeriksaan

pemeriksaan fisik.

Edukasi tentang penyakit dan lingkungan. Pasien akan kontrol ke puskesmas untuk memantau pentingnya perkembangan pelayanan penyakitnya. kesembuhan

kesehatan.

3.

28 Desember 2012

Follow Konseling

up

anamnesa pasien

dan Pasien dan keluarga lebih paham mengenai penyakitnya dan akan mengikuti menjaga saran untuk diri lebih dan

pemeriksaan fisik. mengenai penyakitnya. gaya hidup. Menjelaskan konsultasi kesehatan. ke

kebersihan

Edukasi tentang penyakit dan lingkungan. Pasien akan kontrol ke puskesmas untuk memantau pentingnya perkembangan pelayanan penyakitnya. kesembuhan

L. DIAGNOSIS KESEHATAN KELUARGA Bentuk Keluarga Fungsi yang terganggu : Keluarga kecil : Ekonomi dan Kesehatan

Faktor yang mempengaruhi : kebersihan diri pasien dan kebersihan lingkungan yang kurang Diagnosis Holistik : Laki-laki 63 tahun dengan Tinea Corporis dengan

disfungsi keluarga, tidak menerapkan PHBS dengan baik, dan sumber daya keluarga yang kurang dibidang ekonomi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil kunjungan rumah pasien penderita Tinea korporis yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Wirobrajan Kota Yogyakarta dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Tinea korporis lebih sering ditemukan sebagai asimptomatik atau gatal ringan. Secara obyektif tipikal lesinya mulai sebagai makula eritematosa atau papul yang menjalar dan berkembang menjadi anular, dan lesi berbatas tegas, skuama atau vesikel, tepi yang berkembang dan healing center. Tinea korporis lebih sering pada permukaan tubuh yang terbuka antara lain lengan dan bahu.

2. Dokter keluarga melalui institusi Puskesmas dapat menjadi salah satu sektor yang berperan dalam menangani kasus diabetes dan dislipidemia yang mencakup promotif, preventif, kuratif sampai rehabilitative dan merujuk ke pusat pelayanan kesehatan yang berkompeten dalam menangani kasus. 3. Kerjasama antara petugas kesehatan, pasien dan keluarga menentukan keberhasilan terapi. B. Saran 1. Bagi mahasiswa Berusaha lebih mendalami, aktif, kreatif, dan variatif dalam menganalisa permasalahan kesehatan, baik pada keluarga maupun lingkungannya Meningkatkan profesionalisme sebelum terjun ke masyarakat 2. Bagi Puskesmas Hendaknya terus melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan usaha promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif

DAFTAR PUSTAKA 1. Patel S, Meixner JA, Smith MB, McGinnis MR. Superficial mycoses and dermatophytes. In : Tyring SK, Lupi O, Hengge UR, editors. Tropical dermatology. China: Elsenvier inc, 2006. p.185-92. 2. Nelson MM, Martin AG, Heffernan MP. Fungal disease with cutaneus involvement. In : Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI. Fitzpatricks: Dermatology in general medicine. 6th ed. New York: Mc graw hill, 2004.p:1908-2001. 3. Sobera JO, Elewski BE. Fungal disease. In : Bolognia JL, Jorizzo JL, Raiini RP, editors. Dermatology. Spain : Elsevier Science; 2003. p.117483. 4. Rook, Willkinson, Ebling. Mycology. In : Champion RH, Burton JL, Ebling FJG, editors. Text book of dermatology. 5 th ed. London : Blackwell scientific publication,1992. p.1148-9. 5. Habif TP. Clinacal dermatology. 4th ed. Edinburgh: Mosby, 2004 6. Goedadi MH, Suwito PS. Tinea korporis dan tinea kruris. In : Budimulja U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widaty S, editors. Dermatomikosis superfisialis. Jakarta: Balai penerbit FKUI, 2004.p.31-4 7. Rushing ME. Tinea corporis. Online journal. 2006 June 29; available from; http://www.emedicine.com/asp/tinea corporis/article/page type=Article.htm 8. Fitzpatrick TB, Johnson RA, Wolff K, Suurmond D. Colour atlas and synopsis of clinical dermatology. Athed New York: Mc graw hill.1999. 9. Noble SL, Forbes RC, Stamm PL. Diagnosis and management of common tinea infections. 1998 July 1, available from: <http://www.afp.org/journal/asp/.htm> 10. Amiruddin MD. Ilmu penyakit kulit. Makassar: Percetakan LKiS, 2003. 11. Allen Hb, Rippon JW. Superficial and deep mycoses. In : Moschella SL, Hurley HJ. Dermatology. 2nd ed. Philadelphia: W.B. Sauders company, 1992. p.739-75 12. Budimulja U. Mikosis. In : Djuanda A, Hamzah M, Aisyah S. editors. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 3rd ed. Jakarta: Balai penerbit FKUI, 2002.p.92-3. 13. Arndt KA, Bowers KE. Manual of dermatology therapeutics with essential of diagnostic. 6th ed. Philadelphia: Lippincot Williams & willkins.2002. 14. Nugroho SA. Pemeriksaan penunjang diagnosis dermatomikosis superfisialis. In : Budimulja U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widaty S, editors. Dermatomikosis superfisialis. Jakarta: Balai penerbit FKUI, 2004.p.99-106. 15. Kuswadji, Widaty KS. Obat anti jamur. In : Budimulja U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widaty S, editors. Dermatomikosis superfisialis. Jakarta: Balai penerbit FKUI, 2004.p.10816.