Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kecelakaan lalulintas merupakan penyebab cedera terutama berupa fraktur tertinggi.

Menurut WHO, cidera akibat kecelakaan lalu lintas membunuh setidaknya 1,2 juta orang tiap tahunnya. Ini berarti rata-rata di seluruh dunia 3242 orang terbunuh tiap harinya di jalan. Hampir 90% dari kematian tersebut terjadi pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dimana 81% penduduk dunia tinggal. Jika tindakan tidak segera dilakukan, jumlah cidera dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas akan terus meningkat dikebanyakan bagian di dunia. Sebagaimana kendaraan meningkat, cidera akibat kecelakaan lalu lintas diprediksikan meningkat dan menjadi penyebab kematian ketiga tertinggi di dunia tahun 2020, setelah kematian serangan jantung dan depresi. Di Asia Pasifik, kecelakaan lalu lintas di jalan telah menelan korban 235 ribu orang meninggal, dan 3 juta orang menderita luka-luka setiap tahun. Krisis nyawa akibat kecelakaan ini diperkirakan akan terus berlanjut dan semakin meningkat seiring dengan peningkatan kendaraan bermotor. Sementara itu, data tahun 2000 sampai tahun 2004 menunjukkan rata-rata pertumbuhan angka kecelakaan di Indonesia sebesar 9,65%. Angka kematian di jalan raya mencatat rekor tertinggi jika dibandingkan dengan kematian akibat kecelakaan kapal laut, pesawat terbang, ataupun kereta api (Simarmata, 2008). Penanganan dengan cara cepat dan tepat merupakan salah satu langkah yang tepat untuk mengurangi angka kesakitan, kematian, dan cedera lebih lanjut. Sehingga, diperlukan perumusan asuhan keperawatan fraktur yang merupakan dampak dari kecelakaan yang sering terjadi.

B. Rumusan Masalah 1. Mengetahui definisi dan konsep asuhan keperawatn gawat darurat pada klien dengan fraktur. 2. Menegakkan diagnosa dan rencana asuhan keperawatan gawat darurat pada klien dengan fraktur.

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARUDAT PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR

A. Definisi 1. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2003). 2. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer, 2001). 3. Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang (Capernito, 1999). B. Etiologi dapat disebebkan oleh hal-hal berikut: 1. Trauma :

a. Langsung (kecelakaan lalulintas) b. Tidak langsung (jatuh dari ketinggian dengan posisi berdiri/duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang ) 2. Patologis 3. Degenerasi 4. Spontan : Terjadi tarikan otot yang sangat kuat. : Metastase dari tulang

Hal-hal yang lebih sering menjadi faktor predisposisi fraktur adalah: 1. Kekerasan langsung Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring. 2. Kekerasan tidak langsung Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan. 3. Kekerasan akibat tarikan otot Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat

berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan. (Oswari E, 1993) C. Patofisiologi Tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, 1999). Ketika terjadi patah tulang kerusakan akan terjadi di daerah korteks, pembuluh darah, sumsum tulang, dan jaringan lunak. Akibat hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang di bawah periosteum dengan jaringan tulang yang mengalami fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Ketika terjaid kerusakan tulang, tubuk mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera. Tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan. Hematom yang terbentuk bias menyebabkan peningkatan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk ke dalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom menyebabkan dilatasi kapiler, kemudian menstimulasi

histamine pada otot yang ishkemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke jaringan intersisial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf yang bila derlangsung lama bias menyebabkan syndrome comportemen (Black, 1995). D. Pathway (Terlampir) E. Klasifikasi Fraktur Para ahli menggolongkan fraktur menjadi bebrapa klasifikasi, diantaranya adalah: 1. Mansjoer (2003) mengklasifikasikan fraktur menjadi: a. Fraktur tertutup Bila tidak ada hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. b. Fraktur terbuka

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat

Bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat, yaitu: 1) Derajat 1 a) Luka < 1cm b) Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk. c) Fraktur sederhana, transversal, obelik, atau kominutif ringan. 2) Derajat 2 a) Laserasi > 1cm b) Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/ avulsi c) Fraktur kominutif sedang d) Kontaminasi sedang 3) Derajat 3 Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovascular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat 3 terbagi atas: a) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulse, atau fraktur segmental/ sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka. b) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi massif. c) Luka pembuluh darah/ arteri saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak. 2. Menurut Depkes RI (1995) berdasarkan luas dan garis fraktur: a. Fraktur komplit Patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyebrang dari satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh korteks. b. Fraktur inkomplit

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat

Patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyeberang sehingga tidak mengenai korteks (masih ada korteks yang utuh). 3. Berdasarkan garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma Mansjoer (2003) a. Garis patah melintang, trauma angulasi atau langsung b. Garis patah oblik, trauma angulasi c. Garis patah spiral, trauma rotasi d. Fraktur kompresi, trauma aksial fleksi pada tulang spongiosa e. Fraktur avulse, trauma tarikan/ traksi otot pada insersinya di tulang misalnya fraktur patella. 4. Berdasarkan jumlah garis patah Mansjoer (2003) a. Fraktur kominutif: garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan b. Fraktur segmental: garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Jika dua garis patah disebut juga bifocal. c. Fraktur multiple: garis patah lebih dari satu tapi pada tulang yang berlainan tempatnya misalanya fraktur femur, fraktur kruris, dan fraktur tulang belakang. 5. Berdasarhan bergeser atau tidak bergesernya tulang Mansjoer (2003) a. Fraktur undisplaced (tidak bergeser), garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh. b. Fraktur displaced (bergeser), terjadi pergeseran fragemen-fragmen fraktur juga disebut lokasi fragmen, terbagi: 1) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum ( pergeseran searah sumbu dan overlapping) 2) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut) 3) Dislokasi ad latus (pergeseran kedua fragmen saling menjauh) F. Gambaran Klinik Lewis (2006) menyatakan bahwa manifestasi klinik faktur adalah: 1. Nyeri

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat

Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini terjadi karena adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang, aatu kerusakan jaringan sekitarnya. 2. Edema Edema muncul karena serosa yang dilokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya. 3. Ekimosis Perubahan warna kulit akibat extravasi daerah jaringan di sekitarnya. 4. Spasme otot Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi di sekitar fraktur. 5. Penururnan sensasi Terjadi karena kerusakan saraf, tertekannya saraf karena edema. 6. Gangguan fungsi Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang patah, nyeri atau spasme otot 7. Mobilitas abnormal Adanya pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergearakan, ini terjadi pada fraktur tulang panjang. 8. Krepitasi Merupakan rasa kemeretak yang terjadi pada bagian-bagian tulang digerakan atau pada sendi. 9. Deformitas Abnormalnya dari posisi tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya. 10. Shock hopovolemik Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat. 11. Gambaran X-ray menentukan fraktur Gambaran ini akan menetukan lokasi fraktur G. Komplikasi

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat

Menurut dongoes (2000), komplikasi yang mungkin akibat fraktur antara lain: 1. Shock 2. Infeksi 3. Nekrosis divaskular 4. Cidera vasekular 5. Mal union 6. Pressure ulcus H. Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan menurut Mansjoer (2003) terbagi menjadi penatalaksanaan konservatif dan operatif, yaitu: 1. Konservatif: a. Proteksi misalnya mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik. b. Imobilisasi saja tanpa reposisi, misalnya pemasangan gips pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan kedudukan baik c. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips, misalnya pada fraktur suprakondilus, fraktur colles, fraktur smith, reposisi dapat dalam anestesi umum atau lokal d. Traksi untuk reposisi secara perlahan. Pada anak-anak dipakai reposisi traksi kulit (traksi Hamilton Russel, traksi Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban <5 Kg. untuk traksi dewasa/ traksi definitive harus traksi skeletal berupa balanced traction. 2. Operatif Terdiri dari: a. Reposisi terbuka, fiksasi interna b. Reposisi tertutup dengan control radiologis diikuti fiksasi eksterna. Terapi operatif dengan reposisi anatomis diikuti dengan fiksasi interna (open reduction and internal fixation), artoplasti eksisional, eksisi fragmen, dan pemasangan endoprostesis. Tindakan pada fraktur terbuka harus dilakukan secepat mungkin, penundaan waktu dapat

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat

mengakibatkan komplikasi infeksi. Waktu yang optimal untuk bertindak adalah sebelum 6-7 jam (golden period). I. Pengkajian 1. Pengkajian perimer a. Airway Kaji adanya sumbatan atau obstruksi jalan nafas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan refleksi batuk. b. Breathing Kaji adanya kelemahan menelan, batuk, dan tibulnya kesulitan bernafas perinsip kerja pada breathing support adalah look, feel and listen. 1) Look : status mental, kecemasan, agitasi, pergerakan dada dan usaha pernafasan. 2) Feel : aliran udara dan krepitasi dinding dada. 3) Listen : suara sumbatan ( stridor ) selama mengeluarkan nafas, suara nafas, dan suara lainya. c. Circulation Kaji adanya kemungkinan kenaikan tekanan darah, hipotensi yang terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut. 2. Anamnesis Dilihat apakah ada riwayat trauma, bila tidak ada riwayat trauma berarti fraktur patologis. Trauma harus diperinci kapan terjadinya, di mana terjadinya, jenisnya, berat-ringan trauma, arah trauma, dan posisi passion atau ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme trauma). Serta meneliti kembali trauma di tempat lain secara sistematik dari kepala, muka, leher, dada, dan perut (Mansjoer, 2003). 3. Pemeriksaan umum

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat

Dilihat apakah ada kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur multiple, praktur pelvis, fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi (Mansjoer, 2003) 4. Pemeriksaan status lokalis Tanda-tanda klinis pada fraktur tulang panjang: a. Look, dicari apakah terdapat: Deformitas, terdiri dari penonjolan yang abnormal misalnya fraktur kondilus lateralis humeris, angulasi, rotasi, dan pemendekan Funcio laesa, hilangnya fungsi. Misalnya pada fraktur kruris maka klien tidak bisa berjalan. Dilihat juga ukuran panjang tulang dibandingkan dengan yang lain kiri dan kanannya. b. Feels, apakah terdapat nyeri tekan. Pemeriksaan nyeri sumbu saat ini tidak lagi dilakukan karena dapat menambah trauma. c. Move, untuk mencari: Krepitasi, terasa bila fraktur digerakkan. Tetapi tulang spongiosa atau tulang rawan epifisis tidak terasa krepitasi. Sebaiknya pemeriksaan ini tidak dilakukan karena dapat menambah trauma Nyeri bila digerakkan pada bagian yang aktif maupun pasif Seberapa jauh gangguan-gangguan fungsi, gerakan-gerakan yang tidak mamapu dilakukan, Range of Motion (derajat ruang lingkup gerakan sendi), dan kekuatan. 5. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Radiologi Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan

gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan patologi yang dicari karena adanya

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat

superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada xray: (1) Bayangan jaringan lunak. (2) Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi. (3) Trobukulasi ada tidaknya rare fraction. (4) Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi. Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu teknik khususnya seperti: (1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya. (2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma. (3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa. (4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak. b. Pemeriksaan Laboratorium (1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang. (2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. (3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat

c. Pemeriksaan lain-lain (1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi. (2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi. (3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur. (4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan. (5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang. (6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. J. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik. 2. Kerusakan mobilisasi fisik berhubungan dengan Kehilangan integritas struktur tulang. 3. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan fraktur terbuka, bedah perbaikan. 4. Risiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa maupun tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. 2. Diagnosa keperawatan yang mungkin pada asuhan keperawatan gawat darurat pada klien dengan fraktur adalah: a. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik. b. Kerusakan mobilisasi fisik berhubungan dengan Kehilangan integritas struktur tulang. c. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan fraktur terbuka, bedah perbaikan. d. Risiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan B. Saran 1. Bila dicurigai adanya fraktur penting untuk mengimobilisasi bagian tubuh segera sebelum pasien dipindahkan. 2. Segera kaji air way, breathing, dan circulation pada klien yg dicurigai fraktur.

Kumpulan makalah, semoga bermanfaat