Anda di halaman 1dari 51

BAB 6 PERKERASAN ASPAL SEKSI 6.1 LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT 6.1.1.

UMUM (1) Uraian Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan dan pemasangan material aspal pada permukaan yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk penghamparan Pelaburan Aspal atau Lapisan Campuran Aspal. Pada umumnya Lapis Resap Pengikat harus digunakan pada permukaan yang bukan beraspal (misalnya lapis pondasi agregat / batu pecahan), sedangkan Lapis Perekat harus digunakan pada permukaan yang beraspal (seperti lapis Penetrasi Macadam yang ada, Aspal beton, NACAS, ATB, HRS, Pelaburan Aspal, dll) (2) Standar untuk Rujukan ASSHTO M 81 75 ASSHTO M 82 75 ASSHTO M 140 70 ASSHTO M 208 72 ASSHTO M 226 80 ASSHTO M 179 76 B.S 3403 Aspal yang dilarutkan (cut back Asphalt) type yang pengeringannya cepat. Aspal yang dilarutkan type pengeringannya sedang Aspal emulsi (aspal yang diemulsi dengan air) Aspal emulsi type Kationik Viskositas Aspal Semen Pengaruh dari panas dan udara pada material aspal (Pengujian lapisan tipis aspal dalam oven) Tachometer Industri

(3) Pembatasan oleh Cuaca dan Musim Lapisan Resap Pengikat harus dipasang hanya pada permukaan yang kering atau sedikit lembab, dan lapis perekat harus dipasang hanya pada permukaan yang benar-benar kering. Pemasangan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat harus tidak dilaksanakan waktu angin kencang, hujan atau akan turun hujan. Kecuali mendapat persetujuan lain dari Direksi Teknik pekerjaan pemasangan Lapisan Resap Pengikat harus dilakukan selama musim kering. (4) Kwantitas Pekerjaan dan Perbaikan dari Pekerjaan yang tidak Memuaskan Lapisan yang telah selesai harus menutup keseluruhan permukaan yang dilapisi dan tampak merata, tanpa lokasi yang tidak tertutup atau beralur atau berlebihan aspalnya. Dalam hal lapis perekat permukaan harus mempunyai daya lekat yang cukup pada waktu pekerjaan pelapisan ulang. Untuk penampilan yang kelihat bintik-bintik, timbul dari bahan pengikat yang didistribusi sebagai butir-butir tersendiri boleh diterima untuk lapis perekat yang lebih ringan asalkan penampilannya kelihatan rata dan keseluruhan takaran-takaran pemakaiannya benar. Dalam Lapis Resap Pengikat setelah mengeringkan selama empat hingga enam jam, bahan pengikat harus telah meresap kedalam lapisan pondasi, meninggalkan sebagian bahan Pengikat untuk menunjukkan bahwa permukaannya berwarna hitam atau abu-abu tua yang merata dan tidak porous. Tektur untuk permukaan lapis pondasi Agregat harus rapi dan harus tidak ada genangan atau lapisan tipis bahan pengikat atau bahan pengikat yang bercampur dengan agregat halus yang cukup tebal harus dikikis dengan pisau. Perbaikan dari Lapis Resap Pengikat dan lapis Perekat yang tidak memuaskan harus seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik dan termasuk pembuangan bahan lebihan, penggunaan agregat penutup atau pengerjaan pelapisan tambahan seperlunya. Lubang kecil dari lapis resap jaris ditutup dengan segera. Direksi Teknik mungkin memerintahkan lubang yang benar atau kerusakan lain dibongkar dengan penggarukan dan dipadatkan kembali atau penggantian lapisan pondasi diikuti oleh pengerjaan kembali lapis resap pengikat.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(5) Pelaporan Kontraktor harus menyediakan bahan-bahan berikut ini kepada Direksi Teknik : (a) Lima meter contoh dari setiap bahan bitumen yang diusulkan oleh Kontraktor untuk digunakan dalam pekerjaan dilengkapi sertifikat dari pabrik pembuatnya, diserahkan sebelum konstruksi dimulai sertifikat tersebut harus menjelaskan bahwa bahan pengikat memenuhi ketentuan-ketentuan spesifikasi dan kelas yang sesuai untuk bahan pengikat untuk lapis resap pengikat atau lapis perekat, seperti yang ditentukan pada seksi 1.6.2 Spesifikasi ini. (b) Harus disiapkan catatan yang memuaskan untuk sertifikat kalibrasi dan semua instrumen dan meteran pengukur dan tongkat celup ukur untuk distributor aspal, seperti diuraikan dalam pasal 6.1.3 (3) dan (4), dan diserahkan tidak boleh kurang dari 30 hari sebelum pelaksanaan dimulai. Tongkat celup ukur, alat instrumen dan meteran ukur harus dikalibrasikan dengan toleransi ketelitian dan ketentuan-ketentuannya seperti diuraikan dalam pasal 6.1.3 (4) dan tanggal pelaksanaan kalibrasi harus tidak melebihi dua tahun sebelum pelaksanaan dimulai. (c) Diagram semprot yang memenuhi pasal 6.1.3 (5) diserahkan sebelum Konstruksi dimulai, supaya pemeriksaan peralatan dapat dilaksanakan. (d) Contoh-contoh bahan yang dipakai pada setiap hari kerja, menurut ayat 6.1.6. Catatancatatan harian untuk pekerjaan pelaburan yang telah dilakukan dan takaran-takaran pemakaian bahan harus memenuhi ketentuan ayat 6.1.6. (6) Kondisi Pekerjaan (a) Pekerjaan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga memberi ketidak nyamanan yang minimum bagi lalu lintas dan pembolehan lalu lintas satu arah tanpa merusak pekerjaan yang sedang di tangani. (b) Permukaan-permukaan dari struktur atau pepohonan atau harta benda disamping tempattempat kerja harus dilindungi dari kekotoran karena percikan. (c) Bahan bitumen tidak boleh dibuang kedalam sembarang selokan atau saluran air. (d) Kontraktor harus menyediakan dan tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran yang memadai, dan juga pengadaan serta fasilitas pertolongan pertama pada tempat pemanasan. (7) Pengendalian lalu lintas (a) Pengendalian lalu lintas harus dilaksanakan sesuai petunjuk Direksi. (b) Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap akibat-akibat karena lalu lintas dibenarkan terlalu dini diatas lapis resap pengikat atau lapis perekat yang baru dikerjakan, dan kontraktor harus melarang lalu lintas semacam itu apabila perlu dengan menyediakan jalan alih atau melaksanakan pekerjaan setengah lebar jalan. 6.1.2. MATERIAL (1) Bahan Lapis Resap Pengikat (a) Bahan aspal untuk lapis resap pengikat harus dari jenis aspal Semen AC-10 (yang kurang lebih ekivalen aspal Pen 80/100) atau jenis AC 20 (yang lebih kurang ekivalen dengan aspal Pen 60/70) mematuhi AASHTO M 226 80, dicairkan dengan minyak tanah. Perbandingan korosen pengencer yang digunakan harus sesuai dengan petunjuk Direksi Teknik, sesuai percobaan-percobaan diatas permukaan lapis pondasi yang telah dikerjakan mematuhi ayat 6.1.4 (2). Kecuali diperintah lain oleh Direksi Teknik, perbandingan pemakaian minyak tanah pada percobaan pertama harus dari 80 bagian minyak tanah per 100 bagian aspal semen (180 pph kurang lebih ekivalen dengan viskositas apal cutback hasil kilang jenis MC 30) (b) Agregat Penutup untuk lapis resap pengikat harus dari hasil penyaringan kerikil atau batu pecah, terbebas dari butiran-butiran lemah atau lunak, bahan kohesi atau bahan organik. Tidak kurang dari 98 persen harus lolos saringan ASTM 9.5 mm dan tidak lebih dari 2 persen harus lolos saringan ASTM 2.36 mm (no. 8)

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(2) Bahan-bahan untuk lapis perekat Bahan aspal untuk lapis perekat harus salah satu dari yang dibawah ini, seperti yang ditentukan oleh Direksi Teknik : (a) Salah satu jenis aspal semen AC-10 atau AC-20 yang memenuhi AASHTO M 226 80, diencerkan dengan 25 sampai 30 bagian minyak tanah per 100 bagian aspal. (b) Aspal Emulsi yang cepat waktu mengerasnya memenuhi ketentuan AASHTO M 140 atau M 208. Direksi Teknik boleh mengijinkan atau meminta pengenceran emulsi dengan 1 bagian air bersih per 1 bagian emulsi. 6.1.3. PERALATAN (1) Ketentuan Umum Perlengkapan yang digunakan oleh Kontraktor harus meliputi sebuah penyapu mekanis dan / atau pengembus mekanis, distributor aspal, peralatan untuk memanaskan bahan aspal dan peralatan yang sesuai untuk menyebarkan kelebihan bahan pengikat. (2) Aspal Distributor Batang Penyemprot (a) Distributor harus dipasang pada kendaraan beroda karet dan harus mematuhi semua peraturan keselamatan jalan. Beban pada roda bila dibenahi penuh harus tidak boleh melampui ketentuan yang dipersyaratkan pabrik pembuat ban pada saat operasi dengan kecepatan penuh. (b) Sistem tanki bahan pengikat, pemanasan, pemompaan dan penyemprotan harus sesuai dengan rekomendasi keamanan dair lembaga perminyakan kerajaan Inggris. (c) Alat penyemprot harus didesain, diperlengkapi, dipelihara dan dioperasikan sedemikian rupa sehingga bahan aspal dengan panas yang merata dapat disemprotkan secara merata pada perbaikan berbagai fariasi lebar permukaan, pada takaran yang terkendali dalam batas 0.15 sampai 2.4 liter / meter persegi. (d) Distributir harus dilengkapi dengan batang semprot yang mengsirkulaiskan aspal secara penuh yang dapat diatur kearah horisontal dan fertikal. Batang semprot harus terpasang jumlah minimum, 24 nosel, dipasang pada jarak yang sama 10 + 1 cm. Pipa semprot tangan juga harus dipasang. (3) Peralatan Perlengkapan distributor aspal harus meliputi sebuah tachometer (pengukur kecepatan putaran), meteran tekanan, satu tongkat celup yang telah dikalibrasi, sebuah termometer untuk mengukur tim peraturan isi tangki, dan peralatan untuk pengukur kecepatan pada kecepatan lambat. Seluruh perlengkapan pengukur pada distributor harus dikalibrasi untuk toleransi yang ditentukan dalam ayat 6.1.3 (4) dan rekanan dari kalibrasi yang teliti dan memuaskan harus diserahkan kepada Direksi Teknik. (4) Toleransi Peralatan Aspal Distributor Toleransi ketelitian dan ketentuan-ketentuan jarum baca yang dipasang pada aspal distributor dengan batang semprot harus sebagai berikut : Ketentuan-Ketentuan dan Toleransi yang benar Tachometer Pengukur + 1.5 persen dari skala putaran Kecepatan Kendaraan penuh sesuai ketentuan-ketentuan. Tachometer Pengukur + 1.5 persen dair skala putaran Kecepatan Putaran Pompa penuh sesuai ketentuan-ketentuan BS 3403 Pengukur Suhu + 5O C, skala antara 0o 250o C minimum garis tengah skala 70 mm. Pengukur volume atau + 2 persen dari total volume tangki Tongkat Celup nilai maksimum garis skala Tongkat Celup 50 liter

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(5) Diagram Semprot dan Buku Petunjuk Pelaksanaan Distributor harus dilengkapi dengan diagram semprot dan buku petunjuk pelaksanaan yang harus disertakan pada alat semprot, dalam keadaan baik, setiap saat. Buku petunjuk pelaksanaan harus menunjukkan bagan / diagram aliran pipa dan petunjukpetunjuk untuk semua cara bekerja alat distributor. Diagram semprot harus memperlihatkan hubungan antara kecepatan dan jumlah takaran pemakaian aspal distributor yang digunakan juga harus menunjukkan hubungan antara kecepatan pompa dan jumlah nosel yang digunakan, yang berdasar pada keluaran aspal yang tetap pada nosel. Keluaran aspal pada nosel (liter/menit) dalam keadaan konstan harus dicatat pada diagram semprotan demikian pula untuk tekanan semprotan. Diagram semprot juga harus memperlihatkan tinggi batang semprot dari permukaan jalan dan kedudukan sudut horizontal dari nosel semprot, hal ini untuk maksud menjamin adanya tumpang tindih semprotan sebanyak 3 lapis yang keluar dari nosel (yaitu lebar permukaan yang tertutup aspal oleh setiap nosel adalah tepat 3 kali jarak antara nosel-nosel) (6) Kinerja Distributor (a) Pihak Kontraktor harus menyiapkan distributor lengkap dengan perlengkapannya dan operatornya untuk pengujian lapangan dan harus menyediakan asisten yang dibutuhkan tujuan tersebut sesuai perintah Direksi Teknik. Setiap distributor yang menurut pendapat Direksi Teknik kinerja-nya tidak memuaskan bila dioperasikan sesuai persyaratan Diagram Takaran Semprot dan buku petunjuk perlengkapan atau tidak sesyai dengan persyaratan spesifikasi dalam segala seginya, maka peralatan tersebut tidak diperkenankan atau penggantian distributor pekerjaan. Setiap modifikasi atau penggantian distributor harus diuji sebelum digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan. (b) Penyemprotan dalam arah melintang dari takaran pemakaian aspal yang dihasilkan oleh distributor harus diuji dengan cara melintaskan batang semprot diatas daerah pengujian selebar 25 cm x 25 cm yang ditutupi dengan lembaran serap yang bagian belakangnya tak tembus aspal, yang beratnya harus ditimbulkan sebelum dan sesudah disemprot. Perbedaan berat harus ditimbang dalam menentukan takaran rata-rata untuk setiap lembar diukur melintang pada lebar penuh yang telah disemprot tidak boleh melampui 15 persen takaran rata-rata. (c) Ketelitian yang dapat dicapai distributor terhadap suatu sasaran takaran pemakaian tertentu harus diuji dengan cara yang sama dengan pengujian distribusi melintang pada (b) diatas. Lintasan penyemprotan minimum sepanjang 200 harus digunakan untuk kendaraan harus dijalankan dengan kecepatan tetap sehingga dapat mencapai sasaran takaran pemakaian yang telah ditentukan lebih dahulu yang diperintahkan oleh Direksi Teknik. Dengan minimum 5 penampang melintang yang berjarak sama harus dipasang 3 kertas hisap yang berjarak sama. Kertas hisap tidak boleh dipasang dalam jarak 0.5 m dari sisi bidang yang disemprot atau dalam jarak 10 m dari titik awal penyemprotan. Takaran pemakaian, yang diambil sebagai harga rata-rata dari semua kertas hisap tidak boleh berbeda lebih dari 5 persen dari sasaran takaran. Sebagai alternatif, takaran pemakaian rata-rata dapat dihitung dair pembacaan tongkat ukur yang telah dikalibrasi, seperti yang ditentukan dalam ayat 6.1.4 (3) (g). dalam hal ini, untuk tujuan pengujian ini distributor aspal minimum harus berisi 70 persen dari kapasitasnya untuk setiap satu pemakaian. 6.1.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN (1) Penyiapan permukaan yang akan disemprot aspal (a) Apabila pekerjaan lapis resap pengikat dan lapis perekat akan dilaksanakan pada perkerasan jalan yang ada atau permukaan batu, semua kerusakan perkerasan atau bahu harus diperbaiki. (b) Apabila pekerjaan lapis resap pengikat dan lapis perekat akan dilaksanakan pada perkerasan jalan atau permukaan bahu yang baru, perkerasan atau bahu itu harus sehingga pekerjaan pelapisan dilaksanakan. (c) Permukaan yang akan dilapisi itu harus dipelihara menurut standar-standar (a) dan (b) diatas sehingga pekerjaan pelapisan dilaksanakan.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(d)

(e) (f)

(g) (h) (2)

Sebelum penyemprotan aspal dimulai, debu dan bahan kotoran lainnya harus disingkirkan terlebih dahulu dari permukaan dengan memakai sikat mekanis atau semprotan angin atau kombinasi kedua-duanya. Jika pemakaian alat ini tidak menghasilkan permukaan bersih yang rata maka bagian-bagian yang belum bersih harus dibersihkan lagi dengan sapu ijuk. Pembersihan harus dilanjutkan / melewati 20 cm dari tepi bidang yang akan disemprot. Tonjolan yang disebabkan oleh benda-benda asing lainnya harus disingkirkan dari permukaan memakai penggaruk baja atau dengan cara lainnya yang telah disetujui atau sesuai dengan perintah Direksi Teknik dan bagian yang telah digaruk tersebut harus dicuci dengan air dan disapu. Untuk pelaksanaan lapis resap pengikat diatas lapis pondasi Agregat kelas A, permukaan akhir yang telah disapu harus rata, rapat, bermosaik agregat kasar dan halus, permukaan yang hanya mengandung agregat halus tidak akan diterima. Pekerjaan pengaspalan tak dapat sama sekali dimulai, sebelum perkerasan benar-benar telah dipersiapkan sampai memuaskan Direksi Teknik.

Takaran dan Temperatur Pemakaian dari Material Aspal (a) Kontraktor harus melakukan percobaan lapangan di bawah pengawasan Direksi Teknik untuk mendapatkan tingkat takaran yang tepat dan percobaan tersebut akan diulangi, sebagian diperintahkan oleh Direksi Teknik, bila tepi dari permukaan yang akan dilapisi, atau jenis material aspal berubah. Biasanya, takaran pemakaian yang dipadatkan akan berada dalam batas-batas sebagaii berikut : Lapis Resap Pengikat : 0.4 persen sampai 1.3 liter per meter persegi untuk pondasi agregat Klas A, 0.2 sampai 1.0 liter per meter persegi untuk pondasi tanah semen. Lapis Perekat : Sesuai dengan jenis permukaan yang akan menerima pelapisan dan jenis bahan pengikat yang akan dipakai. Lihat Tabel 6.1.4 (1) untuk jenis takaran pemakaian lapis pengikat. Tabel 6.1.4 (1) Takaran Pemakaian Lapis Perekat Jenis Bahan Pengikat Takaran pada Permukaan Takaran pada permukaan baru atau pada permukaan yang berporosi, permukaan yang sudah tua dan licin yang lapuk (liter per meter (liter per meter persegi) persegi) Cutback 25 pph 0.15 0.15 0.35 Aspal Emulsi 0.20 0.20 0.50 Aspal Emulsi Encer (1 : 1) 0.40 0.40 1.0* (b) Takaran pemakaian yang berlebihan akan mengalir pada bidang permukaan yang terjal, kemiringan melintang besar atau permukaan tidak rata.

Suhu penyemprotan harus sesuai dengan tabel 6.1.4 (2), kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknik. Suhu penyemprotan untuk aspal cutback yang mengandung minyak tanah yang berbeda dari yang ditentukan pada daftar, harganya didapat melalui interpolasi. Tabel 6.1.4 (2) Suhu Penyemprotan Jenis Bahan Pengikat Batas-batas suhu Semprotan Cutbak, 25 pph minyak tanah 110o + 10o C Cutback, 50 pph minyak 70o + 10o C (jenis cutback MC-30) Cutback, 100 pph minyak tanah 30o + 10o C Cutback, lebih dari 100 pph minyak tanah Tidak dipanaskan Aspal Emulsi atau 20o + 70o C Aspal Emulsi diencerkan Tindakan hati-hati harus dilaksanakan bila memanaskan setiap cutback. Prosedur pemanasan harus sesuai dengan rekomendasi buku dokumen rujukan Bina Marga RD 6.3.6.2 volume I : Lampiran E Praktek yang aman untuk penanganan, transportasi dan penyimpanan bitumen.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

Jumlah pemanasan yang berlebihan dari yang dibutuhkan atau pemanasan yang berkelanjutan pada temperatur tinggi haruslah dihindari. Setiap material yang menurut penapat Direksi Teknik, telah rusak akibat pemanasan berlebihan harus ditolak atas dan harus diganti atas biaya Kontraktor. (3) Pemanasan Pelapisan (a) Panjang permukaan yang akan disemprot oleh setiap lintasan penyemprot harus diukur dan ditandai diatas tanah. Kalau digunakan lapisan resap pengikat, batas-batas dari daerah yang akan disemprot harus ditandai dahulu memakai cat benang pembatas. (b) Bahan aspal yang disemprotkan harus merata diseluruh permukaan. Pemakaian aspal secara merata sesuai dengan jumlah takaran yang telah diperintahkan harus dilaksanakan memakai aspal proyek dengan batang semprot. Alat penyemprot aspal harus dioperasikan sesuai diagram semprot yang telah disetujui. Kecepatan pompa, ketinggian batas semprot dan penempatan nosel harus dipasang sesuai ketentuan diagram tersebut sebelum dan selama pelaksanaan penyemprotan. (c) Bila diperintahkan, bahwa penyemprotan aspal sekali jalan harus setengah atau lebih kecil setengah lebar dari permukaan yang akan diselesaikan maka dalam hal diperintahkan demikian, lebar bidang penyemprotan harus jalur. Bidang sambungan memanjang ini harus dibiarkan terbuka dan hanya dapat diberi agregat penutup setelah penyemprotan sekali jalan pada jalur sebelahnya setelah selesai dilaksanakan. Hal yang sama, berlaku pula untuk pemakaian lapis pengikat, yaitu lembaran yang telah disemprot harus lebih besar dari pada lebar yang ditetapkan pada tepi permukaan perkerasan atau tepi dair bahu jalan, hal ini dimaksudkan untuk memberi tempat bagi takaran pemakaian aspal pada tepian dimana tak terjadi tumpang tindih pengaspalan. (d) Alur yang dilindungi / ditutup dengan kertas semen atau bahan sejenisnya yang tidak porous kenyal harus dihampar pada daerah permulaan dan akhir dari permulaan yang akan diaspal. Aliran aspal ke nosel harus dimulai dan dihentikan pada saat memasuki batas pelindung, dengan demikian seluruh nosel bekerja dengan baik pada sepanjang bidang jalan yang akan dilapisi. Lebar kertas pelindung harus sedemikian rupa sehingga sasaran tersebut diatas dapat dicapai. Aspal distributor harus mulai bergerak tak boleh kurang 5 meter dimuka daerah yang disemprot dengan demikian kecepatan jelajahnya tempat sesuai ketentuan, bila batang semprot mencapai lembaran kertas dan kecepatan ini harus tetap dipertahankan sampai melalui titik akhir dari pemakaian bahan pengikat. Lembaran kertas harus segera disingkirkan dan dibuang sesuai petunjuk Direksi Teknik. (e) Harus disiapkan cadangan aspal pengikat sebesar 10 persen, atau sesuai yang ditetapkan oleh Direksi Teknik, dalam tanki aspal seprayer untuk setiap selesai semprotan lari. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah udara yang terperangkap dalam sistem penyemprotan dan sebagai cadangan untuk pemakaian aspal. (f) Takaran pemakaian rata-rata bahan pengikat pda setiap lintasan penyemprotan, harus dihitung sebagai volume bahan pengikat yang telah dipakai dibagi luas bidang yang disemprot. (g) Penyemprotan harus segera dihentikan jika ternyata ada ketidak sempurnaan peralatan semprot pada saat beroperasi dan penyemprotan ulangan sama sekali tak diperkenankan sebelum diadakan pekerjaan perbaikan alat. (h) Setelah pelaksanaan penyemprotan bahan resap pengikat, setiap daerah yang tergenangi bahan pengikat yang berlebihan harus secara menerus didistribusi ulang melintang diatas permukaan yang telah disemprot. Untuk tujuan ini boleh dipakai mesin giling prodak karet, sikat ijuk atau alat penyapu dari karet. (i) Tempat-tempat yang menunjukkan adanya bahan pengikat yang berlebihan harus ditutup dengan agregat penutup yang memenuhi ayat 6.1.2 (1) (b), sebelum pemasangan lapis berikutnya. Dalam keadaan bagaimanapun, agregat penutup tidak boleh dipasang sebelum 4 jam setelah penyemprotan lapis resap pengikat.

(c)

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

6.1.5. PEMELIHARAAN DAN PEMBUKAAN BAGI LALU LINTAS (1) Pemeliharaan dari Lapis Resap Pengikat (a) Kontraktor harus tetap memelihara permukaan yang telah diberi lapis aspal resap pengikat atau perekat sesuai standar yang ditetapkan dalam pasal 6.1.1 (5) sampai lapisan berikutnya dipasang. Lapisan berikut tersebut hanya dapat dipasang setelah pelapisan pertama dibiarkan untuk beberapa waktu untuk memberi kesempatan terserah dan mengeras secara penuh, hal ini untuk mencegah terjadinya aliran aspal kepermukaan dan pelunakan pada lapis berikutnya. Dalam hal Lapis Resap Pengikat yang akan dilapisi dengan laburan permukaan, periode pengunduran waktu harus menurut petunjuk Direksi Teknik, minimum 2 hari dan biasanya tak boleh lebih dari empat belas hari tergantung dari lalu lintas, cuaca, bahan pengikat dan bahan pondasi yang digunakan. (b) Lalu lintas harus tidak diijinkan melintasi permukaan sampai bahan aspal telah meresap dan mengering dan menurut pendapat Direksi Teknik, tidak akan melekat dibawah beban lalu lintas dalam keadaan khusus dimana perlu untuk mengijinkan lalu lintas melintasinya sebelum waktu tersebut, tetapi dalam segala keadaan tidak boleh lebih awal dari empat jam setelah pemasangan bahan aspal tersebut, agregat penutup yang bersih, yang sesuai dengan ketentuan ayat 6.1.2 (1) (b) harus dipasang seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik dan lalu lintas diijinkan menggunakan jalur yang telah disiapkan seperti itu. Agregat penutup harus disebar dari truk sedemikian agar tidak ada roda yang melindas material aspal basah yang tidak tertutup. Bila pemasangan agregat penutup pada jalur yang esdang dikerjakan yang bersebelahan dengan halur yang belum dikerjakan, sebuah alur yang lebarnya paling sedikit 20 cm sepanjang tepi sambungan harus dibiarkan terbuka, atau jika tertutup harus dibuka bila jalur kedua sedang dipersiapkan untuk ditangani, agar memungkinkan tumpang tindih bahan aspal sesuai dengan pasal 6.1.4 (3) (d). Pemakaian agregat penutup harus dilaksanakan seminimum mungkin. (2) Pemeliharaan dari Lapis Perekat Lapis perekat harus dipasang hanya sebentar sebelum pemasangan lapis aspal berikut diatasnya untuk memperoleh kondisi yang tepat dari kelengketannya. Lapisan aspal berikut tersebut harus dipasang sebelum lapis pengikat hilang kelengketannya melalui pengeringan yang berlebihan oksidasi, debu yang bertiup atau yang lainnya. Sewaktu lapis pengikat dalam keadaan tidak tertutup, kontraktor harus melindunginya dari kerusakan dan mencegah berkontak dengan lalu lintas. 6.1.6. PENGENDALIAN MUTU DAN PENGUJIAN DILAPANGAN (a) Satu contoh aspal dan sertifikat, seperti dipersyaratkan dalam ayat 6.1.6 (6) (a) harus disediakan pada setiap pengangkutan aspal ke lapangan pekerjaan. (b) Dua liter contoh bahan pengikat laburan permukaan yang telah tercampur harus diambil dari distributor, mulai dari permulaan dan dekat bagian akhir pekerjaan yang dilaksanakan tiap hari. (c) Aspal distributor harus diperiksa dan diuji sesuai denagn ketentuan ayat 6.1.3 (6) sebagai berikut : (i) Sebelum pelaksanaan pekerjaan penyemprotan pada kontrak tersebut. (ii) Setiap 6 bulan atau setiap 150.000 liter dari bahan pengikat yang telah disemprotkan oleh distributor, dipilih yang paling kering. (iii) Apabila distributor mengalami kerusakan atau modifikasi, atau kejadian apa saja yang menurut pendapat Direksi Teknik perlu dilakukan pemeriksaan ulang distributor tersebut. (d) Hasil percobaan ayakan basah dari agregat penutup yang diusulkan untuk dipakai harus dilaporkan kepada Direksi Teknik untuk mendapat persetujuan sebelum agregat tersebut digunakan. (e) Catatan harian yang terperinci mengenai pelaksanaan pengsapalan permukaan, tersebut pemakaian bahan pengikat pada setiap penyemprotan lari dan takaran pemakaian yang dicapai, harus dibuat dalam formulir bentuk standart 1.11 seperti terdapat pada gambar rencana.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

6.1.7. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN (1) Pengukuran untuk pembayaran (a) Kwartirtas dari material aspal yang diukur untuk pembayaran haruslah jumlah liter pada 150o C yang diperlukan yang memenuhi spesifikasi dan persyaratan Direksi Teknik, atau haruslah jumlah liter yang sesungguhnya pada 15o C yang digunakan dan diterima, yang mana yang lebih sedikit. Pengukuran volume harus diambil ketika material berada pada temperatur yang merada dalam keseluruhan volume dan bebas dari gelembung udara kwantitas dari aspal yang digunakan harus ditentukan setelah setiap lintasan penyemprotan. (b) Setiap agregat penutup yang digunakan harus dianggap termasuk pelengkap dalam pekerjaan untuk memproses lapis penyerap yang memuaskan dan harus tidak diukur atau dibayar secara terpisah. (c) Pekerjaan untuk penyiapan dan pemeliharaan formasi yang diatasnya diberi lapis resap pengikat dan lapis perekat menurut ayat 6.1.4 (a) dan (b) tidak akan diukur atau dibayar dibawah seksi ini, tetapi harus diukur dan dibayar sesuai dengan ayat yang relevan yang disyaratkan untuk perbaikan dan pelaksanaan sebagai rujukan didalam ayat 6.1.4. (d) Pembersihan dan persiapan akhir pada permukaan jalan menurut ayat 6.1.4 (d) sampai 6.1.4 (g) dan pemeliharaan permukaan lapis resap pengikat atau lapis perekat yang telah selesai menurut ayat 6.1.5, harus dianggap berhubungan dengan pekerjaan untuk pencapaian suatu lapis resap pengikat atau lapis perekat yang memuaskan dan tidak boleh diukur atau dibayar secara terpisah. (2) Pengukuran untuk Pekerjaan yang diperbaiki Bila perbaikan dari lapis resap atau lapis perekat yang tidak memuaskan telah diperintahkan Direksi Teknik dibawah pasal 6.1.1. (5) diatas, kwantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah berkwalitas yang akan dibayar bila pekerjaan awal (semula) dapat diterima. Tidak ada pembayaran tambahan akan dilakukan untuk tambahan pekerjaan, kwantitas maupun pengujian yang diperlukan oleh perbaikan ini. Dasar Pembayaran Kwantitas sebagaimana ditetapkan harus dibayar seperti ditunjukkan dibawah ini, dimana pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan dan pemasangan seluruh material, termasuk agregat penutup dan juga termasuk seluruh buruh. Perlengkapan dan perkakas, dan perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan dan memelihara pekerjaan yang diuraikan dalam pasal ini. No Mata Pembayaran 6.1 (1) 6.1 (2) Uraian Lapis Resap Pengikat Lapis Perekat Satuan Pengukuran Liter Liter

(3)

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

SEKSI 6.2 LABURAN ASPAL MEMAKAI BATUAN CHIP SATU LAPIS DAN DUA LAPIS (BURTU DAN BURDA) 6.2.1. UMUM (1) Uraian Pekerjaan ini mencakup pelaksanaan pekerjaan baik satu atau dua lapis laburan bahan chip untuk penutup permukaan, setiap lapis diberi bahan pengikat aspal dan ditutup dengan agregat chip. Lapis penutup permukaan bisa ditempatkan diatas satu lapis Pondasi agregat Kelas A yang baru dikerjakan dan sudah diberikan lapis peresap, atau pada suatu lapisan aspal yang sudah ada. (2) Standar Rujukan AASHTO T 96 77 Daya tahan terhadap abrasi (gerusan) dari agregat kasar berukuran kecil dengan menggunakan mesin Los Angels. AASHTO T 104 77 Penentuan mutu agregat dengan penggunaan Sodium Sulfat. AASHTO T 112 78 Gumpalan lempung dan partikel yang mudah pecah didalam agregat. AASHTO T 179 76 Efek dari panas dan udara pada material aspal (pengujian lapis tipis dalam tungku) AASHTO T 182 70 Pelapisan dan pengelupasan dari campuran agregat dengan aspal AASHTO M 226 80 Kekentalan dari Gradasi Aspal Semen (3) Pembatasan oleh Cuaca dan Musim Tidak boleh ada pekerjaan lapis labur aspal yang dilakukan diatas perkerasan basah, selama huhan, bila hujan tampaknya akan turun atau sewaktu angin kencang. Pekerjaan laburan aspal hanya dapat dilaksanakan selama musim kemarah, dan bila cuaca kemungkinan tetap paling tidak dalam waktu 24 jam setelah pengerjaan. (4) Standar Penerimaan dan Perbaikan dari Pekerjaan yang tidak memuaskan Suatu inspeksi resmi pada permukaan jalan lama, akan dilakukan oleh Direksi Teknik atau boleh wakilnya sebelum pekerjaan laburan dimulai, untuk menentukan apakah permukaan jalan yang ada telah benar-benar dipersiapkan dan telah dibersihkan sesuai ketentuan-ketentuan dalam pasal 6.2.5 (2). Pihak kontraktor tidak diperkenankan memulai pekerjaan pelaburan sebelum mendapat ijin tertulis dari Direksi Teknik. Standar penerimaan pekerjan BURTU, atau lapisan pertama BURDA, bahwa untuk setiap luas 0.1 M2 atau lebih perbandingan dari luas yang tertutup oleh kerikil rapat tidak boleh kurang dari 90 % lapisan permukaan yang dikerjakan tidak boleh lebih dari tebal suatu bantuan dan harus bebas dari bahan-bahan berdebu. Lapisan kedua dari BURDA harus dihamparkan hanya setelah lapisan pertama diselesaikan dengan standar diatas. Standar penerimaan dari lapisan kedua adalah bahwa tidak kurang dari 98% dari luas rongga-rongga permukaan dalam lapisan pertama dari agregat dalam setiap tempat yang lebih besar dari 0.1 M2 harus terisi dengan batu dari lapisan kedua. Lapisan kedua tidak boleh dalam adari satu batu diatas tiap lapisan batu dan permukaan harus bebas dari material lepas. Pekerjaan Burtu dan Burda yang telah selesai harus dapat memuaskan Direksi Teknik dan permukaannya harus terlihat seragam, dan bentuknya menerus terkunci dengan rapat harus kedap air tanpa ada lubang-lubang atau tanpa memperlihatkan adanya bagian yang kelebihan aspal. Pekerjaan perbaikan Burtu dan Burda yang tidak memuaskan harus sesuai Petunjuk Direksi Teknik dan termasuk pula bagian pekerjaan penyingkiran atau penambahan material, penyingkiran seluruh material dan pekerjaan penggantian pekerjaan atau pelapisan ulang seluruh pekerjaan dengan Burtu dan Burda yang baru sesuai keperluan sampai didapatkannya suatu hasil pekerjaan yang memuaskan.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(5)

(6)

(7)

(8)

Pemeliharaan Pekerjaan yang telah Diterima Tanpa mengabaikan tanggung jawab kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan perbaikan terhadap pekerjaan yang tidak memuaskan atau gagal seperti dipersyaratkan dalam pasal 6.2.1 (5) diatas. Pihak kontraktor harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan pemeliharaan rutin atas semua pekerjaan yang telah diselesaikan dan telah diterima dari pekerjaan pelaburan bantuan chip selama periode kontrak, termasuk periode jaminan. Pelaporan Pihak kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik hal berikut ini : (a) 5 liter contoh aspal yang diusulkan oleh kontraktor untuk dipakai pekerjaan dilampiri dengan sertifikat dari pabrik pembuatan, dan harus telah diserahkan sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai. Sertifikat tersebut harus menyatakan bahwa material pengikat tersebut sesuai dengan spesifikasi dan tingkat yang dipersyaratkan untuk aspal laburan, seperti diberikan dalam pasal 6.2.2 (2) dari spesifikasi ini. (b) Suatu catatan yang memuaskan dari sertifikat kalibrasi dari semua perlengkapan / perlatan dan meteran dan tongkat celup dari alat distribusi aspal, seperti diuraikan dalam pasal 6.1.3 (3) dan (4) harus diserahkan tidak boleh kurang dari 30 hari sebelum pekerjaan kontruksi dimulai tongkat celup, instrumen dan meteran harus dikalibrasi sampai toleransi ketelitian dan ketentuan-ketentuan seperti diuraikan dalam pasal 6.1.3 (4) dan tanggal pelaksanaan kalibrasi harus tidak boleh lebih dari dua tahun terhitung sebelum saat dimulainya konstruksi. (c) Grafik semprotan, harus memenuhi persyaratan pasal 6.1.3 (5) dan harus diserahkan sebelum pekerjaan kontruksi dimulai, dengan demikian pemeriksaan dari pada peralatan yang dipakai dapat dilaksanakan. (d) Contoh-contoh agregat yang diusulkan untuk dipakai pada pekerjaan laburan agregat, disertai lampiran daftar hasil pengujian seperti ditunjukkan pada ayat 6.2.2 (1) (b) dari spesifikasi ini, dan harus telah diserahkan tidak boleh kurang dari 30 hari sebelum produksi pelaburan agregat dimulai. (e) Harus diserahkan pula laporan produksi, lokasi timbunan material dan lokasi dair material yang diusulkan untuk dipakai dalam pekerjaan. Hasil pengujian atas agregat laburan, harus sesuai persyaratan pasal 6.2.2 (1) dan 6.2.6 dan harus dilaporkan paling kurang 5 hari sebelum timbunan agregat laburan akan digunakan dalam pekerjaan. (f) Contoh-contoh material yang telah digunakan pada setiap hari kerja, menurut pasal 6.2.6. Catatan harian pekerjaan laburan yang telah dilaksanakan dan takaran penggunaan material menurut pasal 6.2.6. Kondisi Tempat Kerja (a) Permukaan pohon atau struktur atau hak milik lainnya didekat daerah yang dilapisi harus dilindungi sehingga tidak tercemar dan tersemprot. (b) Tidak boleh ada material aspal yang dibuang kedalam selokan samping atau saluran. (c) Kontraktor harus menyediakan dan menjaga tempat pemanasan aspal dengan suatu pencegah kebakaran yang cukup serta tindakan-tindakan lainnya, dan juga fasilitas untuk P3K. Pengendalian Lalu Lintas dan Periode Pengamanan (a) Pengendalian lalu lintas harus dilaksanakan sesuai petunjuk Direksi. (b) Lalu lintas tidak diperbolehkan melintasi tempat kerja sewaktu penempatan material aspal, juga tidak boleh diijinkan untuk melindas ke tepi dari material aspal sampai tempat tersebut telah terlapisi agregat. (c) Lalu lintas tidak diijinkan lewat diatas pekerjaan baru sebelum paling tidak 3 lintasan mesin gilas diatas seluruh tempat yang dilapisi untuk memperkecil resiko agregat terganggu. Jika kendaraan diijinkan lewat diatas pekerjaan baru, rambu lalu lintas yang diijinkan dengan tulisan Aspal Cair dan 20 km/jam harus disediakan. Kerucut-kerucut rambu lalu lintas dan penghalang harus digunakan untuk mendapatkan suatu rintangan positif antara lalu lints dan agregat yang belum padat atau permukaan aspal yang masih terbuka. (d) Pengawasan dan pengendalian penuh pada operasi, arah dan kecepatan lalu lintas, menurut pasal 1.8.3, harus berlanjut selama 24 jam per hati, dari saat dimulainya pekerjaan pelaburan dalam tiap seksi sampai paling tidak 48 jam setelah pekerjaan pelaburan selesai,

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

pengendalian penuh atas lalu lintas di lanjutkan sampai periode tanpa gangguan selama 48 jam pada cuaca bagus berlaku, kecuali karena diperintah oleh Direksi Teknik. (e) Selama periode penyelesaian yang ditentukan dalam (d) diatas permukaan jalan harus disapu bersih seluruhnya dari agregat-agregat yang lepas dan diawasi oleh Direksi Teknik. Jika Direksi Teknik mendapatkan bahwa permukaan tampak kokoh, seluruh rambu dan penghalang lalu lintas harus disingkirkan. Sebagai pilihan lain, Direksi Teknik dapat memerintahkan kelanjutan pengendalian lalu lints sampai permukaan jalan menjadi kokoh dan seluruh perbaikan-perbaikan yang diperlukan di kerjakan. 6.2.2. MATERIAL (1) Agregat Penutup (a) Agregat penutup harus terdiri dari butiran yang bersih, kuat dari kerikil pecah atau batu pecah, bebas dari kotoran, lempung, debu atau benda lainnya yang dapat mencegah pelapisan yang menyeluruh dari aspal. (b) Sumber agregat yang digunakan untuk memproduksi agregat penutup memenuhi persyaratan berikut : Kehilangan akibat abrasi (AASHTO T96) .......................................... maks. 30% Aspal yang tertinggal setelah pengujian pengelupasan (AASHTO T182) ......................................................... min. 90% Bagian-bagian yang lunak (AASHTO T112) ...................................... maks. 5% (c) Agregat penutup sebenarnya harus dijaga supaya tetap dalam keadaan kering dan bebas dari debu dan kotoran, dan harus memenuhi persyaratan berikut : Persentase berat dari kerikil pecah yang tertahan saringan 4.75 mm yang mempunyaik paling tidak dua bidang pecah . Min. 90% (d) Batas ukuran partikel agregat laburan untuk BURTU dan untuk lapisan pertama BURDA ditentukan dalam ukuran agregat terkecil menurut tabel 6.2.2 (1) dibawah. Tabel 6.2.2 (1) Persyaratan Uraian Agregat Ukuran Ukuran terkecil Persentase ukuran Persentase Nominal (mm) Rata-Rata (ALD) terkecil rata-rata maksimum lolos Berkisar = dalam batas 2.5 mm saringan 4.75 mm dari ALD 13 6.4 9.5 65 2 Agregat harus berbentuk kubus, sedemikian bila diuji menurut lampiran 6.2 A dari spesifikasi ini, perbandingan ukuran terbesar rata-rata agregat terhadap ukuran terkecil rata-rata (AGD / ALD rasio) tidak boleh melampui angka 2.30 (e) Agregat lapisan ke dua laburan BURDA, harus mempunyai ukuran nominal 6 mm, dan harus sesuai dengan ketentuan dari tabel 6.2.2 (2) dibawah, dan harus berbentuk kubus (tidak pilih) Tabel 6.2.2. (2) Gradasi agregat lapisan penutup kedua BURDA Ukuran ayakan ASTM Prosentase yang lolos menurut berat mm 9.5 100 6.25 95 100 2.36 0 15 1.18 0-8 (f) Agregat untuk lapis kedua BURDA juga harus sanggup saling mengunci ke dalam ronggarongga permukaan dalam agregat lapisan pertama yang telah dipadatkan. Ini harus menjadi tanggung jawab kontraktor untuk memastikan bahwa agregat lapisan kedua ukurannya sesuai.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(2)

Bahan Aspal (a) Bahan aspal pengikat yang dipakai harus dari jenis AC-10 aspal semen (yang kurang lebih ekivalen dengan aspal pen. 80/100), atau jenis AC (kurang lebih ekivalen dengan aspal pen. 60/70), memenuhi persyaratan AASHTO M226-80, diencerkan memakai minyak tanah sesuai ketentuan tabel 6.2.2 (3), tabel ini harus dipakai untuk merencanakan material aspal pengikat, untuk semua lapisan pekerjaan pelaburan. Tabel 6.2.2 (3) Rencana Bahan Pengikat Minyak Tanah Perbandingan Bila Suhu Ruang Udara Terhadap Bila Memakai Aspal Suhu Semprotan C C memakai aspal Pen. 85/100 Pen. 60/70 17.5 13 15 151 20.0 11 13 157 22.5 9 11 162 25.0 7 9 167 27.5 5 7 172 30.0 3 5 177 32.5 1 3 182 34.0 0 2 185 Over 36 0 0 187 PH : Bagian Minyak tanah per 100 bagian volume aspal : Suhu semprotan yang sebenarnya harus berada antara harga + 10% persen dari nilai-nilai yang telah ditentukan dalam tabel diatas. Setiap material aspal yang dipanaskan untuk temperatur penyemprotan selama lebih dari 10 jam, atau telah dipanaskan melewati 20 C diatas suhu semprotan seperti ditentukan pada tabel 6.2.2 (3) diatas, harus ditolak, pengecualian dapat diberikan kalau ternyata hasil pengujian kekentalan (Voskositas) menunjukkan bahwa material aspal tersebut masih memenuhi persyaratan spesifikasi. (b) Dimana pelaksanaan pekerjaan pelaburan terpaksa harus dilaksanakan dibawa kondisi yang kurang menguntungkan atau dibawah kondisi cuaca tanggung, atau daya tahan pengelupasan agregat ada dalam batas akhir (AASHTO T182), maka Direksi Teknik dapat memerintahkan kontraktor untuk menambah bahan adhesi Additive (anti stripping) Additive yang dipakai harus jenis yang telah disetujui oleh Direksi Teknik dan perbandingan campuran (pph) dair bahan tersebut dengan material aspal harus menurut ketentuan yang dipersyaratkan oleh pabrik pembuatnya. Bahan adhesi tidak boleh disimpan lebih dari 10 jam didalam bahan pengikat yang panas atau dapat disimpan kalau diberi tambahan bahan adhesi. (c) Diaman minyak tanah atau bahan adhesi yang ditambah pada material aspal pencampurannya harus merata caranya dengan mensirkulasikan bahan tersebut pada seluruh tangki. Variasi hasil adukan tersebut boleh melebihi + 2 pph minyak tanah dari persyaratan campuran bahan pengikat berdasarkan pada hasil pada 2 liter contoh dan setiap campuran bahan pengikat. Jika pencampuran hendak dibuat didalam tangki distributor harus disirkulasikan paling kurang 30 menit pada kecepatan penuh pompa (pada sirkulasi mode intern) atau menurut waktu yang lebih lama yang diperlukan sehingga dicapai campuran yang rata pada suhu yang merata.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

6.2.3.

JENIS DARI PEKERJAAN LABURAN Jenis pekerjaan laburan yang akan dipakai pada setiap bagian pekerjaan yang diperlihatkan pada lembar 2.01 dari gambar spesifikasi dan istilahnya disingkat dalam tabel 6.2.3 (1) dibawah Tabel 6.2.3 (1) Jenis dari pekerjaan laburan Jenis Laburan Laburan Satu Lapis Laburan Dua Lapis Singkatan Istilahnya BURTU BURDA

6.2.4. PERALATAN (1) Kebutuhan Umum Peralatan yang akan digunakan harus termasuk distributor aspal yang dapat menyemprot sendiri, dua mesin giling roda karet, alat penebar agregat paling kurang 2 (dua) dump truk tongkang belakang sapu lidi dan sikat dan peralatan untuk menuang drum dan untuk memanaskan bahan aspal. (2) Peralatan Distributor Aspal Peralatan distributor aspal harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan dari pasal 6.1.3. Dengan tambahan, tangki distributor harus benar-benar sempurna tersekat dalam menahan aliran panas, dengan demikian apabila diisi penuh oleh bahan pengikat pada temperatur 150o C, turunnya panas tidak boleh melampui 2.5 C perjam, aspal pengikat dan distributor dalam keadaan diam. (3) Mesin Giling Mesin giling roda karet harus mempunyai lebar pemdatan total tak boleh kurang dari 1.5 meter, dan harus mempunyai mesin penggerak sendiri. Dengan menunjukkan ketentuan dari ayat 6.2.5 (5) (a) Direksi Teknik menyetujui pemakaian mesin giling roda baja untuk penunjang, tapi tidak mengganti mesin penggiling roda karet. (4) Alat Penghampar Bantuan Chip Peralatan penghampar bantuan chip, harus mampu menghampar bantuan chip secara merata pada takaran kendali, diatas bidang permukaan dengan lebar paling kurang 2.4 meter dan suatu peralatan khusus harus sedemikian rupa pada sisi badan truk sehingga lebar hamparan dapat diatur. Desain dari alat penghampar bantuan chip dan kecepatan penghamparannya harus sedemikian rupa sehingga terjamin bahwa bantuan chip yang dituang / dihampar tak akan bertumpuk pada permukaan yang telah disemprot aspal. Paling kurang harus disiapkan 2 truk penghampar agregat atau paling tidak disiapkan satu alat penghampar bantuan chip yang dioperasikan secara otomatis memakai belt. (Dour wheel drive belt spreader). Penghampar / penebar bantuan chip memakai tangan hanya dapat dilakukan dalam hubungannya dengan pemakaian sikat baja (Garpu baja). (5) Sikat Sapu ijuk kasar untuk re-distribusi agregat dan sikat mekanis untuk menyingkirkan kelebihan agregat harus disiapkan. (6) Peralatan lain Peralatan tambahan lain yang boleh dipakai oleh kontraktor demi untuk meningkatkan kinerja hasil pekerjaan dapat ditambahkan hanya kalau telah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Direksi Teknik. 6.2.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN (1) Kuantitas dari Material yang akan dipakai (a) Takaran pemakaian bahan aspal pengikat, untuk setiap permukaan yang akan dilabur dan untuk setiap bagian jalan, harus ditetapkan oleh Direksi Teknik tergantung pada ukuran terkecil rata-rata dari agregat penutup, komposisi dair bahan aspal pengikat, kondisi dan tekstur dari permukaan yang ada dan jenis serta kepadatan dari lalu lintas yang akan menggunakan jalan, sesuai dengan cara yang diuraikan dalam lampiran 6.2 C dari spesifikasi ini selanjutnya Direksi Teknik dapat memodifikasi takaran pemakaian, tergantung pada hasil-hasil percobaan dilapangan yang dilaksanakan oleh kontraktor sesuai petunjuk Direksi Teknik.
Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(b) Takaran hamparan agregat harus cukup untuk menutupi permukaan, tanpa terlihat adanya kelebihan bahan sesudah pemdatan, sesuai dengan standar spesifikasi dalam pasal 6.2.1 (5). Lampiran 6.2 C yang memuat tentang cara menghitung perkiraan takaran hamparan. (2) Pekerjaan Persiapan Jalan Lama (a) Sebelum permukaan jalan lama diberi lapis resap pengikat, maka permukaan tersebut harus benar-benar bersih dari kotoran-kotoran dan bahan-bahan yang tidak dikehendaki lainnya. Pekerjaan pembersihan harus dilaksanakan memakai alat penyapu debu atau peniup debu atau kedua-keduanya jika hasil pekerjaan pembersihan tidak membersihkan hasil yang merata, maka bagian-bagian yang belum bersih dapat dibersihkan memakai sapu kawat baja. (b) Pembersihan Daerah permukaan harus dilebihkan paling kurang 20 centimeter dari tiap-tiap tepi yang akan disemprot. (c) Lubang-lubang atau tonjolan-tonjolan dari bahan-bahan yang tidak dikehendaki yang terlihat harus dikeluarkan dari permukaan memakai alat penggaruk baja atau cara lain yang disetujui dan bila atas perintah Direksi Teknik, bahwa daerah yang telah digaruk harus dicuci dengan air atau disikat memakai sikat tangan, maka kontraktor harus melaksanakannya. (d) Sama sekali tidak diperkenankan melaksanakan pekerjaan pelaburan sebelum pekerjaan pembersihan telah memuaskan Direksi Teknik. (e) Permukaan lama yang belum beraspal, belum dilaburi BURTU atau BURDA harus terlebih dahulu diberi lapis resap pengikat, sesuai ketentuan-ketentuan dalam seksi 6.1 spesifikasi. Bagian permukaan jalan yang sudah diberi lapis resap pengikat, harus diperksa kembali kesempurnaannya apabila ditemui adanya daerah-daerah / bagian-bagian yang belum terutup lapis resap pengikat maka harus diadakan pelaburan ulang lapis resap pengikat sesuai petunjuk Direksi Teknik. Laburan lapis resap pengikat harus dibiarkan kering, paling kurang 48 jam atau menurut periode waktu yang lebih lama sesuai petunjuk Direksi Teknik lapis resap pengikat harus dibiarkan sampai benar-benar kering, sebelum pekerjaan pelaburan dimulai. (f) Semua lubang-lubang harus ditutup / diperbaiki terlebih dahulu oleh pihak kontraktor, sebelum pekerjaan pelaburan aspal dimulai dan harus memuaskan Direksi Teknik. (3) Pemakaian Bahan Aspal (a) Pemakaian aspal harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga hasil penanganan yang diperoleh merata pada semua titik. Pemakaian bahan aspal yang merata sesuai takaran yang diperintahkan harus dibuat dengan menggunakan peralatan batang semprotan distributor aspal dengan pengecualian apabila penggunaan distributor tidak praktis pada daerah yang kecil, maka Direksi Teknik kemungkinan dapat menyetujui penggunaan terbatas peralatan semprot aspal tangan. Distributor aspal harus dioperasikan menurut grafik penyemprotan yang telah mendapat persetujuan. Kecepatan pompa, kecepatan kendaraan, tinggi batang semprot dan kedudukan nosel harus dipasang sesuai dengan grafik yang telah disetujui sebelumnya demikian pula selama setiap operasi penyemprotan. (b) Suhu pada saat penyemprotan tidak boleh bervariasi melebihi 10 C dari harga-harga yang telah diberikan dalam tabel 6.2.2 (3). (c) Apabila diperintahkan oleh Direksi Teknik bahwa pemakaian bahan aspal setiap lintasan semprotan hanyalah dilaksanakan setengah lebar atau lebih kecil dari lebar rencana dan bila hal tersebut dilaksanakan mak aharus ada suatu jalur tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang jalur yang berdekatan. Lebar jalur sambungan longitudinal yang 20 centimeter ini. Harus tetap dibiarkan tidak diberi agregat penutup sampai penyemprotan di daerah sampingnya tumpang tindih diatas sambungan 20 centimeter. Hal yang sama dilakukan pada lebar penyemprotan yang harus lebih besar dari pada lebar yang akan dilaburi pada tepi permukaan perkerasan atau dari tepi bahu jalan. Hal ini dimaksudkan untuk memberi tempat takaran pemakaian aspal yang kurang pada bagian tepi, karena tidak terjadi tumpang tindih dair aspal yang tersemprot keluar dari nozel. Lapis kedua BURDA harus mempunyai sambungan aspal selesai digeser paling kurang 15 centimeter dari pinggir sambungan yang terdahulu

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(d) Lembaran pelindung alur dari kertas bangunan atau material yang sama yang tidak berpori, dan lentur, dihamparkan diatas permukaan pada titik nula dan bagian akhir setiap lintasan semprotan. Aliran yang melalui nozel harus mulai dibuka dan ditutup (dihentikan) seluruhnya pada lur lembaran, dengan demikian semua nosel bekerja dengan benar pada seluruh panjang jalan yang dilabur. Lebar dari pada lembaran alur harus cukup sehingga menjamin hal-hal diatas tercapai. Distributor aspal haru mulai bergerak tidak boleh kurang dari 5 meter dimuka daerah yang akan disemprot, sehingga kecepatan jelajah harus cepat bila batang semprot mencapai kertas titik akhir dari pemakaian bahan pengikat. Lembaran kertas alur harus segera disingkirkan dan dibuang, dan harus memuaskan Direksi Teknik. (e) Setiap distributor aspal selesai menyemprot, diharuskan dalam tangkinya tetap ada cadangan aspal sebesar 10 persen dari volume terpasang tangki setiap selesai pengoperasian, atau sejumlah persentase lainnya seperti ditetapkan oleh Direksi Teknik, sedemikian untuk mencegah masuknya udara pada sistem penyemprotan aspal dan sebagai cadangan untuk pemakaian takaran yang sedikit berlebihan. (f) Jumlah dari aspal pengikat yang telah digunakan dalam setiap lintasan semprot, atau daerah yang disemprot tangan harus diukur dengan cara mencelup tangki aspal distributor segera sebelum dan sesudah setiap lintasan semprot, demikian pula pada pemakaian semprot tangan. (g) Daerah yang telah tertutupi aspal untuk setiap lintasan semprot dimaksudkan sebagai hasil kali panjang dari lintasan semprot antara alur yang terlindung lembaran dan lebar efektif dari semprotan yang didefisinisikan sebagai hasil kali dari jumlah nosel yang bekerja dan jarak antara nosel yang berdekatan. (h) Ukuran dari daerah jalan yang telah tertutup disetiap daerah yang disemprot tangan harus diukur dan ruasnya dihitung segera setelah penyemprotan daerah tersebut selesai. (i) Takaran rata-rata pemakaian bahan aspal pengikat pada setiap lintasan semprot atau daerah yang disemprot tangan, didefinisikan dari bahan pengikat aspal yang digunakan dibagi luas daerah yang tertutup aspal, dan jumlahnya harus sesuai dengan takaran yang diperintahkan oleh Direksi Teknik sesyai dengan ayat 6.2.5 (1) (a) dari spesifikasi ini, dengan toleransi sbagai berikut : Toleransi = + (4% dari takaran yang diperintahkan + 1% dari volume tanki Luas penyemprotan Takaran pemakaian yang dicapai harus dihitung sebelum lintasan semprotan berikutnya atau daerah semprotan tangan dimulai dan setiap penyesuaian yang perlu harus dibuat untuk menjamin bahwa takaran pemakaian yang diperintahkan telah dicapai pada semprotan berikutnya. (j) Penyemprotan harus segera dihentikan jika ditemui adanya kerusakan pada perlatan penyemprotan dan pekerjaan tidak boleh dimulai lagi sebelum kerusakan diperbaiki. (4) Penghamparan Agregat Penutup (a) Sebelum material aspal digunakan, agregat penutup yang kwantitasnya cukup sudah tersedia dalam bak truk dilapangan. Jumlahnya harus cukup untuk menutup seluruh daerah yang akan dilabuiri bantuan chips. Agregat tersebut harus bersih dan dalam kondisi sedemikian sehingga dapat dijamin ia akan melekat ke bahan pengikat dalam waktu 5 menit setelah penyemprotan. Penghamparan agregat tersebut harus dilaksanakan segera setelah penyemprotan aspal dimulai dan harus diselesaikan dalam jangka waktu 5 menit terhitung sejak selesainya penyemprotan atau selesai dalam jangka waktu yang lebih singkat sesuai perintah Direksi Teknik. (b) Agregat harus dihampar diatas permukaan yang telah disemprot aspal, menggunakan alat penghampar agregat yang telah disetujui Direksi Teknik. Setiap bagian yang tidak tertutup hamparan agregat atau tidak tertutup dengan cukup, harus segera ditutup kembali menggunakan peralatan penghamparan atau memakai tangan seperlunya sampai memberikan suatu permukaan yang tertutup seluruhnya dapat seragam. Setiap kelebihan agregat hamparan dari jumlah takaran yang dipersyaratkan atau diperintahkan harus dihamparkan kembali dan di distribusikan secara merata diatas permukaan jalan memakai garpu baja, atau singkirkan bahan tersebut dan tumpuk sesuai petunjuk-petunjuk Direksi Teknik.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(5)

Penyapuan dan Penggilasan (a) Segera setelah penghamparan agregat berukuran tunggal, yaitu setebal ukuran batu, dan telah memuaskan Direksi Teknik maka agregat tersebut harus digilas dengan mesin gilas roda karet. Mesin giling roda baja hanya dapat disetujui untuk digunakan oleh Direksi Teknik bila dijamin bahwa agregat tersebyt tidak akan pecah bila digilas dan harus dibatasi untuk maksimum dua lintasan (lebih dari tebal satu batu) atau tidak rata harus disingkirkan / didistribusikan dengan garpu baja ke tempat sekitarnya sebelum penyelesaian penggilasan. (b) Penggilasan harus segera dimulai setelah agregat ukuran tunggal (chip) telah disebarkan dan redistribusi memakai sapu dan harus dilanjutkan sampai seluruh daerah terebut telah mengalami penggilasan penuh sebanyak enam kali. (c) Jalan kemudian harus dibersihkan dari material agregat yang berlebihan sesuai dengan ketentuan dari ayat 6.2.1 (9) (d, e) PENGENDALIAN MUTU DAN PENGUJIAN LAPANGAN (a) Contoh aspal dan sertifikatnya, sesuai dengan ketentuan ayat 6.2.1 (6) (a), harus disediakan untuk penyerahan aspal di pekerjaan lapangan. (b) Dua liter contoh aspal laburan yang telah dicampur harus diambil dari distributor dekat tempat dimulainya pekerjaan dan bagian akhir pekerjaan setiap hari kerja. (c) Jumlah data uji pendukung yang diperlukan untuk persetujuan awal dari mutu sumber bahan agregat penutup harus sesuai petunjuk Direksi Teknik tapi harus termasuk semua pengujian seperti dipersyaratkan dalam ayat 6.2.2 (1) (b) dengan paling kurang tiga wakil contoh dari sumber bahan yang diusulkan akan dipakai, dipilih untuk mewakili batas-batas mutu bahan yang kira-kira sama untuk didapatkan dari sumber bahan. Menyusul pengujian ini harus diulangi lagi selanjutnya, sesuai petunjuk Direksi Teknik, dalam hal menurut hasil pengamatan ada perubahan pada material dan sumbernya. (d) Distributor aspal harus diinspeksi dan diuji sesuai dengan ayat 6.1.3 (6) sebagai berikut : (i) Mendahului dimulainya pekerjaan semprotan pada kontrak.Setiap 6 bulan atau setiap 150.000 liter aspal yang telah disemprot oleh distributor diambil yang mana lebih sering; dan (ii) Setelah terjadi kecelakaan atau diadakan modifikasi pada distributor atau ada kejadian lain yang menurut pendapat Direksi Teknik perlu diadakan pemeriksaan ulang terhadap distributor. (e) Keseluruhan jenis pengujian dan analisa ukuran butir tercantum dalam tabel dari ayat 6.2.2 (1) (c, d dan e) haruis dilakukan pada setiap tumpukan material sebelum setiap material tersebut dipakai. Tidak boleh kurang dari satu contoh harus diambil dan diuji untuk setiap 75 meter kubik dari agregat didalam timbunan persediaan. (f) Catatan terperinci dari setiap pekerjaan pelaburan harian, termasuk pemakaian aspak pengikat pada setiap lintasan semprotan dan takaran pemakaian yang dicapai harus dibuat dalam formulir standar seperti diperlihatkan padalembaran 1.11 dari gambar rencana.

6.2.6.

6.2.7 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN (1) Pengukuran aspal Pengikat untuk Pembayaran (a) Material aspal pengikat harus diukur untuk pembayaran dalam satuan liter sebagai sejumlah nominal dari volume yang telah dipakai dan telah diterima pada setiaplintasan semprotan, telah dikoreksi untuk penyesuaian akibat pemuaian karena panas dengan volume yang setara pada suhu 15 C. (b) Volume nominal harus didefinisikan sebagai luas permukaan yang telah disemprot dengan aspal pengikat, diukur sesuai dengan ayat 6.2.5 (3) (g) (h) dari spesifikasi ini, dan takaran pemakaian nominal aspal pengikat. Untuk tujuan pembayaran, takaran pemakaian nominal pengikat untuk setiap lintasan penyemprotan atau bagian pekerjaan penyemprotan tangan, harus dari hal berikut ini diambil mana yang lebih kecil :

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(2)

(3)

(4)

(5)

Takaran pemakaian yang telah diperintahkan Direksi Teknik ditambah toleransi relevan yang diperkanankan dalam ayat 6.2.5 (3) (i) dari spesifikasi ini; dan (ii) Takaran rata-rata pemakaian yang telah dipasang dan diukur sesuai dengan ayat 6.2.5 (3) (f) sampai 6.2.5 (3) (i) dari spesifikasi ini. Pengukuran Agregat BURTU untuk Pembayaran Agregat BURTU yang diukur untuk pembayaran harus dalam satuan meter persegi permukaan jalan yang telah tertutup pekerjaan BURTU yang telah diselesaikan dan diterima sesuai spesifikasi ini dan gambar dokumen kontrak. Pengukuran Agregat BURDA untuk Pembayaran Agregat BURDA yang diukur untuk pembayaran harus dalam satuan meter persegi permukaan jalan yang telah tertutup pekerjaan BURDA yang telah diselesaikan dan diterima sesuai spesifikasi ini dan gambar dokumen kontrak. Pengukuran dari Perbaikan Pekerjaan Bila telah diadakan pekerjaan perbaikan laburan chips sesuai perintah Direksi Teknik pada pasal 6.2.1 (5) diatas maka kwantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah merupakan pekerjaan yang seharusnya telah dibayar jika pekerjaan yang semula telah diterima. Tidak ada pembayaran tambahan untuk suatu pekerjaan perbaikan tersebut. Dasar Pembayaran Kwantita, seperti ditetapkan diatas, harus dibayar berdasarkan harga satuan kontrak per satuan pengukuran untuk mata pembayaran yang tercantum dalam jadwal penawaran, dimana hargaharga pembayaran itu harus merupakan komposisi penuh untuk pengadaan dan pemasangan seluruh material, termasuk seluruh buruh, peralatan, perlengkapan-perlengkapan, dan biaya tidak terduga yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan diuraikan dalam spesifikasi ini. Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran 6.2 (1) 6.2 (2) 6.2 (3) Agregat Penutup BURTU Agregat Penutup BURDA Material aspal untuk pekerjaan pelaburan Meter persegi Meter persegi Liter

(i)

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

PASAL 6.3 CAMPURAN-CAMPURAN ASPAL PANAS 6.3.1 UMUM (1) Uraian (a) Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapis perata padat yang awet pondasi atas perlu lapisan atas pelindung aspal beton yang terdiri dari agregat dan material aspal dicampur dipusat pencampur, serta mengahpar dan memadatkan campuran tersebut diatas pondasi atau permukaan jalan yang telah disiapkan sesuai dengan persyaratan nini dan memenuhi bentuk sesuai gambar dalam hal ketinggian, penampang memanjang dan melintangnya atau sesuai dengan yang diperintahkan Direksi Teknik. (b) Beberapa campuran dirancang menggunakan prosedur khusus yang diberikan didalam spesifikasi ini untuk menjalin bahwa asumsi rancangan yang berkenan dengan kadar ditumen ekfektif minimum rongga udara, stabilitas, fleksibilitas dan ketebalan film aspal benar-benar terpenuhi. Dalam hal ini penting diingat bahwa, dalam pembuatan campuran lataston (HRS) dan ATB, metoda konvensional dalam merancang aspal beton, yang dimulai mendapatkan kepadatan agregat maksimum yang paling mungkin, tidak boleh digunakan karena pendekatan cara ini pada umumnya tidak akan manghasilkan campuran yang memenuhi spesifikasi ini. (2) Jenis-jenis campuran beraspal Jenis campuran dan ketebalan lapisan harus seperti yang ditentukan pada gambar rencana atau seperti yang diperintahkan oleh direksi Teknik. (a) Latasir (HRSS) Kelas A dan B Campuran-campuiran ini ditunjukkan untuk jalan-jalan dengan lalu lintas, khususnya pada daerah dimana agregat kasar tidak tersedia. Pemilihan Kelas A dan B terutama tergantung pada gradasi pasir yang digunakan. Campuran Latasir biasanya memerlukan penambahan filter agar memenuhi kebutuhan sifat-sifat yang disyaratkan. Campuran-campuran ini khusus mempunyai ketahanan rutting yang rendah loleh sebab itu tidak boleh digunakan dengan lapisan yang tebal, pada jalan-jalan dengan lalu lintas berat dan pada daerah tanjakan. (b) Lataston (HRS) Hot Rolled Sheet setara dengan Lataston (Spesifikasi Bina Marga 12/PT/B/1983) dan ditujukan untuk digunakan pada jalan-jalan yang memikul lalu lintas ringan atau sedang. Halhal karakteristik yang paling penting adalah keawetan, fleksibilitas dan ketahanan kelemahan yang tinggi, sedangkan pertimbangan kekuatan hanya kepentingan kedua asalkan batasbatas rendah dari spesifikasi ini dilampaui. (c) Laston ( AC ) LASTON yang direncanakan menurut spesifikasi ini setara dengan Laston (Spesifikasi Bina Marga 13/PT/B/1983) dan digunakan untuk jalan-jalan dengan lalu lintas berat, tanjakan, pertemuan jalan dan daerah-daerah lainnya dimana permukaan menanggung beban roda yang berat. (d) Asphalt Treated Base (ATB) Asphalt Treated Base (ATB) adalah khusus diformulasi untuk meningkatkan keawetan dan ketahanan kelelahan. Penting diketahui setiap penyimpangan dan spesifikasi ini, khususnya pengurangan dalam kadar bitumen, memungkinkan tidak berlakunya rancangan perkerasan proyek dan memerlukan pelapisan ulang yang lebih tebal.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

Tebal Lapisan dan Toleransi (a) Tebal dari Campuran aspal yang dihampar harus diamati dengan benda uji Inti (cores) pekerjaan yang diambil oleh kontraktor dibawah pengawasan Direksi Teknik selang antara dan lokasi pengembilan benda uji harus sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Teknik tetapi paling sedikit dua buah diambil arah melintang dari masing-masing setengah lebar penampang yang diselidiki dan selang antara potongan melintang kearah memanjang yang diselidiki tidak boleh lebih dari 200 M. (b) Tebal campuran aspal yang sesungguhnya dipasang, harus sama atau lebih dari tebal rancangan nominal pada tabel 6.3.1 (2) untuk lapis permukaan dan lapis permukaan yang bersifat sebagai lapisan merata, dan harus sama dengan atau lebih besar dari tebal yang ditentukan dalam gambar 2.01 pada buku 4 dari dokumen kontrak dalam hal lapisan pondasi atau lapis pondasi perata. Dalam beberala hal, Direksi Teknik atas dasar perataan perkerasan atau ukuran maksimum atau data rancangan yang lain boleh menyetujui atau menerima tebal rata-rata yang kurang dari tebal rancangan nominal asalkan campuran aspal yang dipasang pada ketebalan tersebut baik dalam segala hal lainnya. Meskipun begitu, sama sekali tidak ada bagian dari campuran aspal beton yang dipadatkan yang kekurangan ketebalannya melebihi 6 mm dari ketebalan nominal rancangannya. Tabel 6.3.1 (2) Tebal Rancangan Nominal Campuran Aspal TEBAL RANCANGAN NOMINAL JENIS CAMPURAN SIMBOL (Cm) Latasir Klas A Lataris Klas B Latastor Aspal Beton Pondasi Aspal Beton HRSS A HRSS B HRS AC ATB 1,5 2 3 4 4

(c) Untuk semua jenis campuran, yang dibayarkan menurut beratnya harus dengan mengadakan code dilapangan yang akan digunakan sebagai kontrol pembanding antara berat material yang benar-benar dihamparkan dengan berat meterial yang keluar dari pusat pencampuran. Untuk setiap penampang pekerjaan yang diukur untuk pembayaran, berat tertimabagng dari Laston Perata (ATBL) diukur untuk pembayaran dalam hal apapun harus diambil nilai terkecil dengan 1.05 kali berat terhitung dari sisi material yang telah ditempatkan seperti yang diturunkan dari tabel rata-rata dan kepadatan lapis ATBL yang diperoleh dari contoh inti (Cores). Dalam hal terjadi perbedaan yang nilainya lebih dari 5% antara kedua berat, maka Direksi Teknik harus melaksanakan serangkaian pemeriksaan terperinci untuk dapat menentukan mengenai nasib terjadinya perbedaan tersebut, sebelum menyetujui pembayaran untuk bahan yangtelah dihampar tersebut. Pemeriksaan yang dilakukan Direksi Teknik harus termasuk, tetapi tidak terbatas pada, hal berikut ini : Biaya untuk segala penambahan atau lebih seringnya pengambil coring, untuk tambahan survey geometris ataupun pengujian laboratorium, penerapan sistem pencatatan muatan truk, ataupun tindakan lainnya yang dianggap perlu oleh Direksi Teknik untuk memastikan alasan kelebihan toleransi beratnya harus ditanggung oleh kontraktor sendiri. (d) Variasi kerataan permukaan campuran lapisan pelindung (Latasir Kelas A dan B, Lastaston dan Aspal Beton) yang telah selesai ditangai diukur dengan mistar penyipat yang panjangnya 3 M harus tidak boleh lebih dari 5 mm pada setiap titik variasi. kerataan permukaan campuran aspal yang telah selesai digunakan sebagai lapisan pondasi atas dari tepi mistar yang panjangnya 3 m tidak boleh lebih dari 1 cm pada setiap titik. Keleluasan harus dibuat masing-masing kasus terutama untuk perubahan bentuk yang disebabkan perubahan rancangan punggung perkerasan dan lengkung vertikal pada profil memanjang.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(e) Pada keadaan dimana campuran aspal digunakan sebagai lapisan perata atau lapisan penguat dan bukan sebagai lapisan permukaan, maka tebal lapisan tidak boleh lebih dari 2.5 kali telab rancangan nominal yang diberikan pada tabel 6.3.1 (2) (3) Standar untuk rujukan (AASHTO) T T T T T T T T T T T T T T M M M (4) 49 78 50 78 96 77 104 77 164 76 165 77 176 73 166 78 168 55 170 73 179 76 182 70 209 74 245 78 17 77 20 70 226 78 Penetralisasi dari material aspal Pengujian daya apung dari material aspal Daya tahan terhadap gerusan dari agregat kasar berukuran kecil dengan menggunakan Los Angels. Kelapukan agregat menggunakan sodium sulfat atau magnesium sulfat. Quantitative Extraction dari aspal dalam campuran pekerjaan aspal. Pengaruh dari air pada kohesi campuran aspal yang dipadatkan. Plastisifas partikel harus agregat bergradasi dan menggunakan pengujian ekivalen pasir. Berat isi dari campuran aspal yang dipadatkan Pengambilan campuran aspal yang dipadatkan Memperoleh kembali aspal dari larutan dengan metode Abson. Pengaruh panas dan udara pada material aspal (pengujian lapisan tipis dengan oven/tungku). Penyelaputan dan pengelupasan aspal pada campuran Agregat Berat jenis maksimum dari campuran perkarasan aspal Daya tahan terhadap leleh (flow) plastik dari campuran aspal menggunakan peralatan marshall. Bahan pengisi (filler) mineral untuk campuran perkerasan aspal. Tingkat penetrasi aspal semen Tingkat keketalan (viscosity) aspal.

Pelaporan Kontraktor harus melengkapi Direksi Teknik dengan : (a) Contoh dari seluruh material-material yang disetujui untuk di gunakan, yang akan disimpan oleh Direksi Teknik selama periode kontrak untuk keperluan rujukan : (b) Laporan tertulis yang memberikan sifat-sifat hasil pengujian dari seluruh material, seperti dipersyaratkan dalam artikel 6.3.2; (c) Formula campuran dkerja dan data uji yang mendukungnya; seperti yang dipersyaratkan dalam artikel 6.3.6 dalam bentuk laporan tertulis; (d) Pengukuran pengujian permukaan seperti yang dipersyaratan dalam artikel 6.3.10 (1). Dalam bentuk laporan tertulis ; (e) Laporan tertulis mengenai kerapatan (density) dari campuran-campuran yang dihampar seperti yang dipersyaratkan dalam artikel 6.3.10 (2); (f) Dalam uji laboratorium dan lapangan seperti yang dipersyaratkan dalam artikel 6.3.10 (4) untuk pengendalian harian dari takarn campuran dan kwalitas campuran dalam bentuk laporan tertulis; (g) Catatan-catatan harian dari seluruh truk yang ditimbang pada alat penimbang, seperti yang dipersyaratkan dalam artikel 6.3.10 (5) ;

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(h) Catatan-catatan tertulis dari pengukuran tebal lapisan-lapisan dan dimensi perkerasan seperti yang dipersyaratkan dalam artikl 6.3.11 ; (i) Untuk setiap material aspal yang diusulkan konraktor untuk digunakan, persyaratan asal sumbernya bersama dengan data uji yang memberikan sifat-sifatnya baik sebelum maupun sesudah pengujian lapisan tipis dalam ofen (Thin film Oven Test) (AASHTO T 179), meliputi : ( i ) Penetrasi pada 250 C ( ii ) Penetrasi pada 350 C (iii) Ring end Ball softening Point (iv) Kekentalan pada 600 C (v) Keketalan pada 1350 C (6) Pembatasan Oleh Cuaca Campuran hanya bisa dihampar bila permukannya kering, bila tidak akan hujan dan bila dasar jalan yang sudah disiapkan dalam kondisi memasukan. (7) Perbaikan dari Campuran Aspal yang tidak memuaskan Lokasi-lokasi dengan tebal atau kepadatan yang kurang dari yang dipersyaratkan atau angkaangka yang disetujui, juga lokasi-lokasi yang tidak memuaskan dalam hal lainnya, tidak akan dibayar sampai diperbaiki oleh kontraktor seperti yang diperintahkan olehh Direksi Teknik. Perbaikan dapat meliputi pembongkaran dan penggantian, penambahan lapisan Campuran Aspal dan/atau tindakan lain yang dianggap perlu oleh Direksi Teknik. Bila perbaikan telah dipertahankan maka jumlah volume yang diukur untuk pekerjaan aslinya dapat diterima. Tidak ada pembayaran tambahan yang akan dilakukan untuk pekerjaan atau volume tambahan yang diperlukan untuk perbaikan. (8) Pengembalian Bentuk Perkerasan Setelah Pengujian Seluruh lubang uji yang dibuat dengan mengambil benda uji inti atau lainnya harus segera ditutup kembali dengan material campuran aspal oleh kontraktor dan dipadatkan sehingga kepadatan serta kerataan permukaan sesuai dengan toleransi yang diperkenankan yang dipersyaratkan dalam pasal ini. 6.3.2 MATERIAL (1) Agregat Umum (a) Agregat yang akan digunakan dalam pekerjaan harus sedemikian rupa agar campuran aspal, yang proposinya dibuat sesuai dengan rumus campuran kerja, akan memiliki kekuatan sisa yang tidak kurang dari 75% bila diuji untuk hilangnya kohesi akibat pengaruh air sesuai dengan AASHTO T 165 77 dan T 245 78. (b) Agregat tidak boleh digunakan sebelum disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Teknik, Material harus ditimbun sesuai dengan persyaratan dalam pasal 1.11. (c) Sebelum memulai pekerjaan kontraktor harus sudah menimbun paling sedikit 40% dari jumlah agregat pecah yang dibutuhkan untuk campuran aspal dan selanjutnya timbunan persediaan harus dipertahankan paling sedikit 40% dari sisa kebutuhannya. (d) Direksi Teknik dapat menyetujui, atau memerintahkan penggunaan agregat yang tidak memenuhi kebutuhan gradasi partikel dari pasal 6.3.2 (2), 6.3.2 (3) atau 6.3.2.2 (4) asalkan dapat di tunjukkan sampai memaskan Direksi Teknik bahwa campuran aspal yang dihasilkannya dapat memenuhi persyaratan-persyaratan sifat campuran yang diberikan dalam pasal 6.3.3. (e) Tiap-tiap agregat harus diangkut kepusat pencampuran lewat Cold Bin yang terpisah. Pencampuran lebih dulu agregat dari jenis atau sumber agregat yang berbeda, tidak diperbolehkan.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(2)

Agregat Kasar untuk Campuran Aspal (a) Agregat kasar pada umumnya harus memenuhi gradasi yang disyaratkan seperti dibawah dan harus terdiri dari batu pecah atau kerikil besi, kecuali fraksi agregat kasar untuk latasir Kelas A dan B boleh bukan batu pecah. Agregat kasar yang digunakan untuk setiap jenis campuran dapat diterima oleh Direksi Teknik hanya bila bahan tersebut diperagakan dengan pengujian laboratorium dan semua ketentuan sifat campuran dalam tabel 6.3.3 dapat dipenuhi. UKURAN SARINGAN PERSEN BERAT YANG LOLOS (mm) (ASTM) Campuran Normal Campuran Lapisan Perata 20 3/4 100 100 12,7 1/2 30 100 95 100 9,5 3/8 0 55 50 100 4,75 #4 0 10 0 50 0,075 # 200 01 05

Dalam keadaan apapun agregat kasar yang kotor dan berdebu dan mengandung partikel halus lolos ayakan No. 200 lebih besar dari 1% tidak lebih digunakan bahan-bahan seperti ini biasanya dapat memenuhi persyaratan bila dilakukan pencucian dengan alat pencuci yang memadai. (b) Agregat kasar harus terdiri dari material yang bersih, keras, awet yang bebas dari kotoran atau bahan yang tidak dikehendaki dan harus memiliki persentase keausan yang tidak lebih dari 40 pada 500 putaran seperti yang ditetapkan oleh AASHTO T 96. Bila diuji sebanyak 5 putaran dengan pengujian keausan dengan sodium sulfat menurut AASHTO T 104, kehilangan berat padakasar tidak boleh besar dari 12%. (c) Bila diuji dengan pengujian-pengujian penyelapuran dan pengeluoasan-pengelupasan (coating and Stripping Teste), AASHTO T 128, agregat tersebut harus memiliki luas yang terselaput tidak kurang dari 95%. (3) Agregat halus untuk campuran aspal (a) Biasanya diperlukan sejumlah abu bata hasil pengayakan batu pecah (chrusher dust) untuk menghasilkan suatu campuran yang ekonomis dan memenuhi persyaratan campuran yang dinyatakan dalam tabel 6.3.3. Abu batu harus diproduksi melalui pemecahan batu yang bersih dan tidak mengandung lempung atau lanau dan harus disimpan secara terpisah dari pasir alam yang akan digunakan dalam campuran. Pembuatan componen abu batu dan pasir alam kedalam mesin pencampur harus dipisahkan melalui Cold-bin feed yang terpisah sehingga pembandingan pasir terhadap abu batu dapat dikembalikan. UKURAN SARINGAN (mm) 9.5 4.75 2.36 600 micron 75 micron (ASTM) 3/8 #4 #8 # 30 # 200 LATASIR KLAS A 100 98 100 95 100 75 100 08 JENIS CAMPURAN LATASIR KLAS B 100 72 100 72 100 25 100 08

LATASTON LASTON & ATB 100 90 100 80 100 25 100 3 11

(b) Dalam keadaan apapun, pasir alam yang kotor dan berdebu dan mengandung partikel harus lolos ayakan no. 200 lebih besar dari 8 % dan atau mempunyai nilai ekivalen pasir kurang dari 50 menurut ASSHTO T 176, tidak boleh digunakan dalam campuran. (4) Bahan Pengisi untuk campuran aspal (AASHTO M 17)
Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(a) Bahan pengisi harus terdiri dari abu batu kapur (limestonedust). Semen Portland, abu terbang, abu tanur semen atau bahan mineral non platic lainnya dari sumber yang disetujui oleh Direksi Teknik. Bahan tersebut harus bebas dari bahan lain yang tidak dikehendaki. (b) Penggunaan kapur kotor sebagai bahan pengisi dapat memperbaiki daya tahan campuran, membantu penyeliputan dari partikel agregat dan membantu mencegah pengelupasan akan tetapi banyaknya fariasi kualitas dari sumber-sumber kapur dan kecenderungan dari kapur tersebut untuk membentuk gumpalan-gumpalan terbukti dapat menimbulkan masalah sewaktupenakaran. Pengembangan kapur karena hidrasi dapat menyebabkan keretakan campuran apabila kadar kapur tersebut terlalu tinggi. Apabila kapur yang dipergunakan maka, proporsi maksimum yang diijinkan adalah 1,0% dari berat keseluruhan campuran aspal. (5) Material aspal untuk campuran aspal Material aspal halus dari jensi AC 10 atau AC 20 aspal semen yang memenuhi persyaratanpersyaratan dalam AASHTO N 226 78 : Tabel 2 Untuk mencapai kekuatan campuran yang ditetapkan, lebih disukai pengunaan aspal yang lebih lunak AC 10. (6) Bahan Tambahan untuk aspal Direksi Teknik dapat menetapkan atau menyetujui penggunaan suatu bahan tambahan untuk mencapai stabilitas yang ditetapkan, stabilitas sisa atau syarat-syarat sifat lainnya, atau untuk meningkatkan keawetan, ketahanan terhadap devormasi atau sifat kelelahan. Bahan Tambahan tersebut harus dari jenis yang disetujui oleh Direksi Teknik. Takaran bahan tambahan dan metode percampuran dengan bahan tambahan lainnya, harus sesuai dengan petunjuk pabrik dan petunjuk Direksi Teknik. Bila diperlukan oleh Direksi Teknik kontraktor harus mengirimkan contoh bahan tambahan tersebut disertai data teknios dan data kimiawinya. (7) Sumber Pasokan (a) Persetujuan awal sumber-sumber pengadaan agregat dan bahan pengisi mineral harus diperoleh dari Direksi Teknik sebelum pengiriman material. Contoh-contohnya harus diserahkan seperti yang diperintahkan. (b) Dalam pemilihan sumber-sumber agregat, kontraktor harus memperhitungkan aspal yang akan hilang karena absorbsi (penyerapan) kedalam agregat, untuk memastikan penggunaan agregat setempat mempunyai daya penyerapan yang paling kecil. Variasi kadar aspal akibat tingkat absorbsi aspal yang berbeda-beda dari agregat tidak akan diterima sebagai dasar untuk merundingkan (negosiasi) kembali harga satuan dari campuran aspal.

6.3.3

PERSYARATAN SIFAT CAMPURAN ASPAL

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(1)

Campuran aspal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam tabel 6.3.3 Tabel 6.3.3 Persyaratan Sifat Campuran HRSS HRSS SIFAT CAMPURAN HRS AC ATB A B Kadar aspal efektif Min 9.1 7.9 6.8 5.5 Kadar penyerapan aspal Max 2.0 2.0 1.7 1.7 1.7 Kadar Aspal Total Minimum (terhadap Min 10.3 8.9 7.3 4.3-7.0 6.0 berat total) Kadar rongga udara dari campuran Min 4 4 4 3 4 pada ( % terhadap volume total Max 9 9 6 6 8 campuran) Marshall Quotient (1) Min 0.8 0.8 1.8 1.8 (AASHTO T245-78) (KN/mm) Max 4.0 4.0 4.0 5.0 5.0 Marshall Quotient (1) Min 200 200 450 750 750 (AASHTO T245-78) (KG) Max 850 850 850 850 Stabilitas Masrhsall tersisa setelah perendaman Selama 21 jam pada 600 ( % terhadap stabilitas semula) Min 75 75 75 75 75

(2)

Jenis campuran yang ditetapkan dalam gambar 2.01 berdasarkan asumsi kondisi jalan yang datar (atau kemiringan landai) dan kondisi lalu lintas jalan antar kota. Jenis campuran sebenarnya yang diperlukan pada setiap bagian jalan, harus sesuai dengan intruksi Direksi Teknik untuk memenuhi kondisi lalu lintas dan kelandaian jalan. (3) Bahan aspal yang terkandung dari benda uji pada campuran harus mempunyai nilai penetral tidak kurang dari 70 % terhadap nilai penetrasi tidak kurang dari 70 % terhadap nilai pentrasi aspal sebelum pencampuran dan nilai Duktilitas tidak kurang dari 40 cm, bila diperiksa masing-masing dengan ASSHTO T 47 dan T 51. (4) Bahan aspal harus diekstraksi dari benda uji sesuai dengan cara AASHTO T 164. Setelah konsentrasi bahan aspal yang terekstraksi mencapai 200 mm, partikel mineral yang terkandung harus dipindahkan ke suatu sentrifugal. 6.3.4. RANCANGAN CAMPURAN ASPAL BETON (AC) GRADASI MENERUS (1) Umum Metoda ini digunakan untuk campuran AC. Metoda yang diberikan pada pasal 6, 3, 5 digunakan untuk jenis campuran HRS dan ATB. Kontraktor bertanggungjawab atas rancangan campuran. Campuran harus memenuhi persyaratan yang diberikan pada tabel 6.3.3. (2) Rongga terisi Aspal Kadar Aspal dalam campuran harus sedemikian rupa sehingga mengisi 60 80 % dari rongga pada kombinasi agregat dan bahan pengisi. (3) Bahan-bahan Pengisi Bahan pengisi dengan kadar tindak kurang dari 1% harus ditambahkan kedalam campuran dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan dalam pasal 6, 3, 2 (4)

(4) Gradasi Optimum Campuran

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

Gradasi dari kombinasi agregat dengan bahan pengisi harus sedermikian rupa sehingga memenuhi persyaratan dalam tabel 6.3.4 (1). Kurva gradasi kombinasi harus sedermikian rupa sehingga bila digambarkan tidak menunjukkan adanya penyimpangan yang tajam dan terletak dengan baik diantara batas-batas gradasi. Selanjutnya, untuk kurva pada bagian bawah kurva gradasi kombinasi (bahan yang lolos ayakan 2,36 mm) harus sedemikian rupa sehingga tidak terdapat bagian yang mempunyai prosentase lolos ayakan tertentu menyimpang dari suatu batas atau batas terdekat, kesuatu atas atau batas terdekat lainnya. Tabel 6.3.4. (1) batas-batas gradasi untuk kombinasi agregat dan Bahan Pengisi pada campuran AC. Ukuran Ayakan 25,0 mm 19,0 mm 12,7 mm 9,5 mm 4,75 mm 2,36 mm 600 um 300 um 150 um 75 um Persentase Lolos 100 100 75 100 60 85 38 55 27 40 14 24 9 18 5 12 2-8

(5) Pemeriksaan fariasi kadar aspal Suatu campuran yang mengandung agregat bergradasi terpilih harus diperiksa dengan tidak kurang dari 5 fariasi kadar aspal. Variasi kadar aspal harus dipilih dengan penambahan 0,5% menurut berat sekurang-kurangnya harus terdapat 2 fariasi diatas dan dua fariasi dibawha kadar aspal yang diperkirakan. Benda uji harus diperiksa untuk stabilitas Marshall, Marshall Flow, berat satuan dan kadar rongga udara. Pemeriksaan berikut harus digambarkan : Stabilitas terhadap kadar aspal Flow terhadap kadar aspal Berat satuan terhadap kadar aspal Kadar rongga udara terhadap kadar aspal Kadar rongga pada agregat terhadap kadar aspal (6) Penentuan kadar aspal optimum sementara Kadar aspal optimum sementara adlah rata-rata dari nilai-nilai berikut yang ditentukan dari penggambaran data yang diperlukan menurut pasal 6.3.4. (5) : Kadar aspal yang memberikan stabilitas maksimal. Kadar aspal yang memberikan berat satuan maksimal Kadar aspal yang memberikan kadar rongga udara udara 4,5% Dalam hal dimana kadar optimum sementara sangat berbeda dari yang diperkirakan Direksi Teknik dapat memerintahkan penambahan jumlah pengujian. Campuran yang dipilih dengan cara ini disebut campuran kerja sementara. (7) Penyesuaian sifat campuran Campuran kerja sementara harus diperiksa untuk meyakinkan bahwa campuran tersebut memenuhi semua sifat yang ditentukan jika campuran menyimpang dari setiap sifat yang ditentukan, fariasi gradasi agregat, jenis agregat, kadar bahan yang mengisi atau jenis dan kadar bahan tambahan harus diselidiki secara sistematis hingga diperoleh suatu campuran yang ekonomis dan memenuhi syarat.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(8) Valuasi terhadap batas-batas penyimpangan produksi Direksi Teknik akan menyiapkan, atau akan memerintahkan kepada kontraktor untuk menyiapkan, benda uji tambahan untuk menilai kerentanan campuran kerja sementara terhadap penyimpangan gradasi kombinasi dan kadar aspal yang memungkinkan terjadi secara produksi campuran yang diperbolehkan pada pasal 6.3.6 (3) Untuk keperluan ini harus disiapkan tiga benda uji tambahan untuk setiap penyimpangan berikut terhadap campuran kerja sementara : Rancangan gradasi kombinasi agregat / bahan pengisian ditambah penyimpangan maxsimum yang diperolehkan dan rancangan kadar aspal ditambah penyimpangan maxsimum yang diperbolehkan : Rancangan gradasi kombinasi agregat / bahan pengisi dikurangi penyimpangan maximum yang diperbolehkan dan rancangan kadar aspal dikurangi penyimpangan maximum yang diperbolehkan. Rancangan gradasi kombinasi agregat / bahan pengisi ditambah penyimpangan maximum yang diperbolehkan dan rancangan kadar aspal dikurangi penyimpangan maximum yang diperbolehkan. Rancangan gradasi kombinasi agregat / bahan pengisi dikurangi penyimpangan maximum yang diperbolehkan dan rancangan kadar aspal ditambah penyimpangan maximum yang diperbolehkan. Sifat-sifat dari setiap fariasi campuran ini harus memenuhi semua batas sifat yang diisyaratkan. Jika campuran kerja sementara tidak dapat memenuhi ketentuan ini, harus diselidiki penyesuaian rancangan campuran selanjutnya. Campuran yang paling memenuhi semua syarat yang ditetapkan dipilih sebagai campuran kerja. 6.3.5. RANCANGAN JENIS CAMPURAN LAINNYA (1) Komposisi umum dari campuran Campuran aspal terdiri dari agregat dan bahan aspal. Dalam beberapa hal, penambahan bahan pengisi akan diperlukan untuk meyakinkan sifat-sifat campuran dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam pasal 6.3.3. Akan tetapi umumnya pemakaian bahan pengisi harus sesedikit mungkin. (2) Kadar Bitumen dari Campuran Kadar butumen dari campuran harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga kadar aspal efektif (yaitu setelah kehilangan akibat asborbsi agregat) tidak boleh kurang dari nilai minimum yang dipersyaratkan dalam tabel 6.3.3. Persentase aspal yang sesungguhnya harus ditambahkan kedalam campuran akan tergantung pada daya absorbsi dari agregat yang digunakan dan yang akan ditetapkan oleh Direksi Teknik sewaktu menyetujui rumus campuran kerja. Nilai kadar aspal yang ditetapkan akan didasarkan atas data uji yang diberikan oleh kontraktor menurut pasal 6.3.3. (5) dan harus lebih besar dari batasan yang dipersyaratkan dalam tabel 6.3.3. (3) Proporsi komponen agregat (a) Komponen-komponen agregat campuran harus ditetapkan menurut Fraksi Rancangan yang diisyaratkan yang didefinisikan sebagai berikut : Fraksi agregat kasar : Persentase berat dari campuran keseluruhan dari material yang tertahan pada saringan 2.36 mm. Fraksi agregat halus : Persentase berat dari campuran keseluruhan dari material yang lolos saringan 2.36 mm tetapi tertahan pada pada saringan 75 micron. Fraksi bahan pengisi : Persentase berat dari campuran keselurhan dari material yang lolos saringan 75 micron

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(b) Perlu diperhatikan bahwa fraksi rancangan tersebut pada umumnya tidak sama dengan proporsi takanan yang diperlukan untuk agregat kasar, pasir dan bahan pengisi tambahan. Dalam menetapkan campuran yang benar / tepat dari beberapa agregat yang ada dan bahan pengisi untuk menghasilkan fraksi rancangan yang diperlukan, maka gradasi dari masing-masing agregat yang ada dan bahan pengisi harus ditetapkan dengan penyaringan basah untuk menjamin pengukuran yang teliti dari material yang lolos saringan 3,36 mm dan 75 micron. (c) Fraksi rancangan dari campuran umumnya harus berada dalam batas-batas komposisi yang diberikan dalam tabel 6.3.5. (3). Walaupun demikian Direksi Teknik dapat menyetujui atau langsung dapat menggunakan campuran yang melampui batasan asalkan memenuhi sifat-sifat campuran yang ditentukan pada tabel 6.3.3. 6.3.3. (3) Fraksi Rancangan Campuran PERSEN BERAT TOTAL CAMPURAN ASPAL Proporsi Rancangan Campuran Proporsi Agregat kasar (CA) terhadap ayakan Proporsi Agregat halus (FA) lolos 8 terhadap 200 Proporsi Bahan pengisi (FF) Lolos 200) LATASIR A LATASIR B LATASTON LASTON ATB

0 10

5 23

20 40

30 50

40 00

54, 3-78,3

53,6 72,6

47 67

39 59

26 49,5

12 - 15

8 - 13

5-9

4,5 7,5

4,5 7,5

(4) Penyesuaian proposri campuran dengan cara Campuran Percobaan (a) Kontraktor harus membuktikan bahwa seluruh agregat-agregat yang diusulkan serta proporsi komponen campuran yang diusulkan memenuhi syarat dengan membuat serta menguji campuran-campuran percobaan di laboratori juga campuran-campuran percobaan yang dibuat dalam alat pencampur (mixing plant) segera sebelum penghamparan campuran. (b) Pengetesan-pengetesan yang diperlukan akan meliputi gradasi, berat jenis (spesific gravity) dan absirbsi air pada agregat kasar dan halus yang akan digunakan, serta pengujian-pengujian sifat-sifat lain dari agregat yang mungkin diminta oleh Direksi Teknik. Pengujian penentuan Berat Jenis Maximum dari campuran-campuran perkerasan Aspal (Maximum Specific Gavity of Bituminious Paving Mixtures) (AASHTO T 209 74) dan pengujian sifat-sifat Marshall (AASHTO T 245 78) (c) Percobaan rancangan pertama harus dilaksanakan dengan menggunakan persediaan material untuk menetapkan perbandingan pasir terhadap abu batu yang optimum. Jika mungkin, campuran-campuran percobaan akhir harus dibuat dari agregat-agregat yang berkondisi sama seperti sebelum penakaran campuran untuk alat campur (mixing plants) untuk alat-alat penakar sistem timbang (weigh batching plants), dalam hal ini berarti menggunakan contoh-contoh agregat yang diambil dari Hot bin, sedangkan untuk alatalat pemasok sistem menerus contoh-contohnya harus diambil dari cold feed hoppers. Untuk campuran-campuran percobaan pada tahap awal dengan menggunakan contoh agregat dari tempat-tempat penimbunan setiap rumus campuran pekerjaan yang ditentukan harus dianggap sebagai sementara sampai ditetapkan (atau disesuaikan) sebagai mempunyai gradasi-gradasi agregat yang tepat dan sifat-sifat yang sesuai pada waktu pencampuran.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(d) Pengujian campuran percobaan laboratorium harus dilaksanakan dalam tiga langkah dasar, sebagai berikut : (i) Seleksi resep campuran. Nominal untuk digunakan sebagai suatu dasar referensi untuk campuran-campuran percobaan. (ii) Melakukan campuran-campuran percobaan untuk memilih suatu resep campuran yang optimum (iii) Penegasan campuran yang optimum dengan cara pengujian, bila perlu dengan mengadakan penyesuaian dari resep campuran yang dipilih. (e) Sebelum percobaan laboratorium dimulai, suatu resep campuran nominal yang cocok terhadap bahan-bahan campuran yang diusulkan harus diperkirakan atas dasar pertimbangan rancangan campuran teroritis. Ditentukan perbandingan pencampuran agregat yang nominal, kadar aspal dan kadar bahan pengisi yang ditambahkan, kemudian digunakan sebagai titik permulaan dan dasar referensi untuk variasi-variasi campuran yang diselidiki dalam percobaan-percobaan laboratorium dan jika diperkirakan secara tepat maka akan memudahkan dan memperbaiki ketepatan dari proses pengujian cobacoba yang diperlukan di Laboratorium. Prosedur yang harus digunakan untuk menaksir suatu resep campuran nominal yang tepat adalah sebagai berikut : (i) Proporsi takaran campuran nominal Proporsi ini ditentukan dengan mempertimbangkan bentuk kurva gradasi untuk agregat yang diusulkan dan derajad kesenjangan gradasi yang diperlukan pada campuran kombinasi, seperti ditunjukkan sebagai perkiraan dalam gambar 1.07.4 pada Buku 4. Untuk agregat-agregat cukup memenuhi batas-batas gradasi yang dipersyaratkan pada pasal 6.3.2. (2) dan 6.3.2. (3), fraksi-fraksi rancangan untuk agregat kombinasi yang tepat, darimana perbandingan-perbandingan takaran nominal yang diminta dapat dihitung ditunjukkan dalam Tabel 6.3.3. (4). Jika pengaruh gradasi senjang yang dapat diperoleh terhadap agregat kombinasi jauh lebih kecil atau lebih besar dari yang ditunjukkan dalam gambar 1.07.4, maka rancangan fraksi untuk agregat kasar masing-masing harus lebih rendah atau mencapai nilai yang diberikan dalam Tabel 6.3.5 (4). Perhitungan resep takaran campuran rancangan harus dicatat pada form yang diberikan dalam Gambar 1.07.5 (4) Proporsi Campuran Nominal (hanya sebagai pedoman) PROPORSI CAMPURAN NOMINAL KOMPONEN PERSEN BERAT TOTAL CAMPURAN ASPAL CAMPURAN HRSSA HRSSB HRS AC Agregat kasar 0 10 5 23 35 45 (A) (> saring # 8) Agregat halus 88 CA b 92 CA- b 65 FF b 55 FF b (A) (# 8 s/d 200) Agregat Filler 12 8 >7 > 4.5 (F) # 200) Aspal Kadar b b b b Aspal dalam campuran Total 100 100 100 100 Catatan : untuk batas harga b lihat Tabel 6.3.3. 6.3.3.

ATB 50 50 FF b > 4.5 b 100

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(ii)

(f)

Kadar Bahan Tambahan (Filler) Nominal Kadar bahan tambahan (Filler) Nominal harus Nol, kecuali kriteria batas terbawah untuk FF didalam campuran Nominal seperti diberikan pada Tabel 6.3.3. (4) tidak terpenuhi dalam hal ini, jumlah Filler yang ditambahkan hanyakan sekedar cukup untuk memenuhi kriteria FF pada campuran nominal dan jumlah ini harus ditetapkan sebagai tambahan filler nominal yang diperlukan untuk campuran-campuran percobaan. (iii) Kadar Aspal Nominal Nilai Laboratorium untuk daya serap air agregat yang diusulkan, akan digunakan untuk memperoleh perkiraan dari banyaknya aspal yang mungkin dapat diserap oleh gabungan agregat dalam campuran nominal. Besarnya penyerapan agregat terhadap aspal dapat diperkirakan sebesar 50% dari nilai penyerapan terhadap air yang telah diukur. Aspal yang terserap tersebut harus diperhitungkan sebagai tambahan terhadap aspal efektif minimum seperti ditentukan pada Tabel 6.3.3, dan jumlahnya diatur jika perlu, jadi hasilnya juga memenuhi total minimum aspal yang sebenarnya diperlukan menurut Tabel 6.3.3, yang harus merupakan kadar aspal nominal untuk percobaanpercobaan campuran. Campuran-campuran percobaan Laboratorium harus disiapkan berdasarkan resep campuran nominal tetapi dengan variasi dalam perbandingan campuran agregat, kadar bahan pengisi yang ditambahkan dan kadar aspal. Untuk setiap parameter yang akan diselidiki, serangkaian contoh-contoh pengujian Marshall harus disiapkan dimana mutu atau dua dari angka parameter campurannya dicoba dengan beberapa macam variasi, sedangkan parameter campuran lainnya dipertambahkan tetap pada nilai atau nilai-nilai yang ditetapkan untuk campuran nominal. Variasi-variasi campuran berikut yang harus diselidiki : Variasi campuran agregat (i) LATASIR : Jenis pasir mempunyai pengaruh yang utama pada stabilitas dari campuran Latasir. Oleh sebab itu penting untuk meneliti semua kemungkinan sumber pasir. Apabila digunakan dua macam pasir, maka paling tidak tiga buah campuran pasir tersebut harus dicoba. Untuk tes variasi penggabungan pasir dalam penambahan filler maka perbandingan campuran untuk aspal dan penambahan filler harus dipertahankan tetap pada nilai campuran nominal. Latasir Klas B dapat dibuat dengan atau tanpa penambahan agregat kasar, tergantung pada gradasi pasir yang tersedia. Apabila agregat kasar yang digunakan maka paling tidak tiga perbandingan agregat kasar memenuhi semua batas-batas yang ditentukan pada Tabel 6.3.3 (3) harus dicoba untuk masing-masing penggabungan pasir alam tersebut. Abu batu, paling tidak tiga perbandingan agregat kasar yang terpisah, yang memenuhi semua batas-batas pada tabel 6.3.3. (3) harys dicoba, demikian pula paling tidak tiga campuran yang berbeda dari perbandingan campuran pasir alam dan agregat pecah. Perbandingan campuran pasir terhadap abu batu yang dipilih harus merupakan nilai yang sesuai dengan campuran nominal, sedangkan nilai-nilai yang lainnya harus dipilih sehingga kebutuhan batas-batas variasi tercakup dengan baik dan dengan interval yang sama. Untuk semua variasi tes agregat ini perbandingan campuran dan penambahan filler (bila ada) harus dipegang pada nilai campuran nominal tertentu. (ii) Variasi Kadar Aspal Nilai kadar-kadar Aspal sebesar 1% dan 2% (dari berat total campuran aspal) dibawah kadar aspal dari campuran nominal harus dicoba, dan juga nilai-nilai 1% dan 2% diatasnya. (iii) Pentingnya Kadar Bahan Pengisi yang Ditambahkan Kadar bahan pengisi (Filler) yang ditambahkan sebesar 2% dan 4% diatas nilai campuran nominal harus dicoba begitu juga nol apabila nilai nominalnya belum juga mencapai nol.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(g) Untuk masing-masing variasi campuran yang dicoba, paling sedikit dua bricket Marshall yang harus disiapkan dan dites, dan sifat-sifat campuran harus dihitung menggunakan formulir yang diberikan pada Gambar Rencana 1.07.7 Buku 4. Nilai luas Permukaan Agregat yang diperlukan harus dihitung dengan menggunakan formulir yang diberikan pada Gambar Rencana 1.07.6. Sifat-sifat campuran yang diperoleh harus di plot dengan menggunakan formulir yang diberikan pada Gambar rencana 1.07.8 dan resep campuran optimum ditentukan dengan membandingkan data grafik dengan batas-batas sifat-sifat campuran yang telah ditetapkan pada Tabel 6.3.3, dan dengan dihitung terhadap batas-batas yang diberikan pada Tabel 6.3.5 (3). Kriteria utama adalah bahan kadar rongga udara berada dekat dengan nilai tengah dari batas-batas yang ditentukan. Stabilitas Marshall serta perbandingan stabilitas terhadap kelelehan dan ketebalan film aspal juga harus memenuhi tetapi yang berakhir ini merupakan kepentingan kedua asalkan nilai-nilainya berada dalam batas-batas yang ditetapkan. Untuk perbandingan ekonomis proporsi-proporsi campuran dapat diptimasikan sedemikian rupa sehingga kadar aspal dapat diperkecil dalam batas-batas yang diijinkan yang ditentukan dalam Tabel 6.3.3, tetapi bagaimanapun juga kadar aspal tidak boleh dikurangi sampai lebih rendah dari batas bawah yang dipersyaratkan. Dalam memeriksa apakah campuran optimum memenuhi batas bawah yang ditentukan untuk kadar aspal effektif, nilai kadar aspal yang diserap yang akan digunakan, pada umumnya harus nilai yang dihitung dari hasil-hasil pengujian AASHTO 209-74, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.07.7. Pilihan lain dari nilai-nilai absorpsi aspal, diperkirakan secara kasar atas dasar berat jenis (spesifik gravity) agregat atau nilai-nilai absorpsi air, maka umumnya tidak akan diterima untuk maksud mengevaluasi pemenuhan persyaratan. (h) Apabila proses optimalisasi campuran yang diuraikan diatas memerlukan interpilasi yang cukup besar terhadap data pengujian, sehingga resep akhir yang dipilih tidak sama dengan setiap resep yang sebenarnya diuji selama percobaan-percobaan tersebut. Direksi Teknik bisa memerintahkan agar disiapkan suatu percobaan campuran lagi dan diuji untuk memastikan sifat-sifat dari campuran optimum yang sudah dipilih. Dengan membandingkan hasil-hasil dari tes pemastian percobaan membandingkan hasil-hasil yang diperoleh dari serangkaian campuran percobaan, maka selanjutnya penyesuaian kecil dari resep campuran yang dipilih mungkin masih diperlukan. Dengan cara yang sama, selama pengontrolan berturut-turut atas kwalitas campuran tersebut, modifikasi-modifikasi kecil dari resep campuran dapat didasarkan secara mudah dengan hanya satu perbandingan terhadap hasil-hasil pengujian tunggal (setiap pengujian memerlukan paling sedikit tiga benda uji) dengan perluasan-perluasan (trenda) parameter campuran yang diperoleh dari percobaan-percobaan laboratorium sebelumnya. Prosedur campuran percobaan yang lengkap (seperti yang diuraikan diatas), meliputi pengujian paling sedikit, 15 macam campuran yang berbeda, pada umumnya tidak perlu diulang kecuali ada suatu perubahan besar dalam material-material campuran (yaitu perubahan jenis agregat atau sumbernya, perubahan jenis mesin pemecah, perubahan jenis aspal, dan sebagainya). 6.3.6. RUMUS CAMPURAN KERJA (1) Persetujuan (a) Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik rumus campuran kerja yang diusulkan secara tertulis, untuk campuran yang akan digunakan di proyek. Formula yang diserahkan harus menetapkan, ukuran nominal maksimum dari partikel, sumber-sumber agregat, persentase dari gabungan agregat yang lolos saringan 2.36 mm (no. 8) dan 75 micron (no. 200), jumlah total dan kadar aspal efektif yang dinyatakan sebagai persentase berat dari campuran total, satu temperatur yang pasti pada mana campuran harus dikeluarkan dari pengadukan, dan satu temperatur yang pasti pada mana campuran harus dikirim ke tempat penghamparan, yang mana semuanya harus dalam batas komposisi umum dan batasbatas temperatur yang ditentukan. Formula yang diusulkan harus didukung dengan data campuran percobaan laboratorium dan grafik-grafik yang dijelaskan dalam pasal 6.3.5. (4) atau pasal 6.3.4. (5) hingga Pasal 6.3.4 (8).

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(b) Dalam menyetujui campuran kerja, Direksi Teknik atas dasar pertimbangan dapat menggunakan formula yang diserahkan, secara keseluruhan atau sebagian, atau dapat meminta kontraktor untuk melaksanakan pengujian campuran percobaan tambahan atau untuk menyelidiki alternatif agregat-agregat lainnya. (c) Sewaktu menyetujui Rumus Campuran Kerja, Direksi Teknik akan menunjuk agregat tertentu, dan sumber-sumbernya, yang mendasari formula campuran kerja yang ditetapkan. (d) Campuran kerja harus ditetapkan dan kualitas campuran tersebut harus dikendalikan, dalam bentuk ancaman Fraksi untuk agregat yang berbeda-beda, seperti diuraikan dalam pasal 6.3.5 (3) diatas, bukannya dalam bentuk prepinsi takaran agregat. (2) Menyusul persetujuan atas rumus campuran kerja oleh Direksi Teknik, Kontraktor harus menghampar percobaan paling sedikit 8 ton dengan menggunakan produk peralatan penghampar dan prosedur yang diusulkan. Apabila percobaan tersebut gagal mempunyai spesifikasi pada salah satu seginya perlu dibuat penyesuaian dan percobaan diulang kembali. Pekerjaan pengaspalan yang permanen belum dapat dimulai hingga percobaan yang memuaskan telah dilaksanakan dan disetujui oleh Direksi Teknik. (3) Penerapan Formula Campuran Kerja dan Toleransi yang Diijinkan (a) Seluruh campuran yang dihasilkan harus sesuai dengan formula campuran kerja yang ditetapkan oleh Direksi Teknik, dalam batas rentang toleransi yang dipersyaratkan dibawah ini : Toleransi komposisi campuran : Gabungan agregat yang lolos saringan 9,5 mm Gabungan agregat yang lolos saringan 2,36 mm Gabungan agregat yang lolos saringan 150 micron Gabungan agregat yang lolos saringan 75 micron Kadar bahan aspal Toleransi Temperatur : Material yang meninggalkan tempat campuran Material yang diterima ditempat penghamparan : + 10o C : + 10o C : + 7 % berat total campuran : + 5 % berat total campuran : + 2 % berat total campuran

: + 1,5 % berat total campuran : + 0,3 % berat total campuran

(b) Setiap hari Direksi Teknik harus mengambil contoh dari material dan campuran seperti yang dituturkan dalam pasal 6.3.10 (3) dan 6.3.10 (4), atau contoh-contoh tambahan yang dianggap perlu untuk pemeriksaan keseragaman yang diperlukan dari campuran. (c) Jika terjadi perubahan dalam material atau bila ada perubahan dari sumber material, suatu formula campuran kerja yang baru harus diserahkan dan disetujui sebelum campuran yang mengandung material baru dikirimkan. Material kerja akan ditolak bila ternyata mempunyai pori atau sifat-sifatnya membutuhkan, untuk menghasilkan campuran yang seimbang. Kadar aspal yang lebih tinggi atau lebih kecil dari pada batas yang dipersyaratkan.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

6.3.7.

PERSYARATAN PERALATAN PELAKSANAAN (1) Umum Unit pencampuran (mixing plant), yang dapat berupa pusat pencampuran dengan penakaran (batching) atau pusat pencampuran menerus (continous), harus memiliki kapasitas yang cukup untuk melayani mesin penghampar secara menerus (tidak terhenti-henti) sewaktu menghampar campuran pada kecepatan normla dan ketebalan yang disyaratkan. Pusat pencampuran harus dirancang, yang disyaratkan dan dioperasikan sedemikian rupa untuk menghasilkan campuran dalam batas toleransi campuran kerja. (2) Timbangan pada pusat pencampuran (a) Timbangan untuk setiap kotak timbangan atau penampung seharusnya berupa tipe pembacaan jarum tanpa pegas, dan harus merupakan produksi rancangan standar yang ketepatannya berkisar antara % dari beban maximum yang diperlukan. (b) Bila timbangan-timbangan tipe pembacaan jarum tanpa pegas di gunakan, ujung jari jarum harus dipasang sedekat mungkin dengan permukaan dan harus berupa tipe yang bebas dari Parallax (Penyimpangan Sinar) yang berlebihan. Timbangan harus dilengkapi dengan petunjuk yang dapat disetel untuk memberi tanda berat masing-masing material yang akan di timbang kedalam campuran. Timbangan harus memiliki konstruksi yang kokoh, dan timbangan yang mudah berubah harus diganti. Semua meteran harus diletakkan sedemrikian rupa sehingga selalu dapat terlihat secara mudah oleh operator. (c) Timbangan untuk menimbang material aspal harus memenuhi persyaratan sebagai timbangan agregat. Perbedaan minimum antara angka-angkanya dalam segala hal harus tidak melebihi dari 1 kg. Cakram pembacaan timbangan (meteran) untuk menimbang material aspal harus memiliki kapasitas yang tidak lebih dari tulisan dua kali material yang akan ditimbang dan harus dapat dibaca sampai satu kilogram yang terdekat. (d) Timbangan harus telah disetujui oleh Direksi Teknik dan akan diperiksa berulang kali, sebagaimana dianggap perlu oleh Direksi Teknik, untuk selalu menjamin ketepatannya kontraktor harus menyediakan dan siap ditempat itdak kurang dari 10 buah beban standar seberat 20 kg untuk pengujian-pengujian penimbangan. (3) Peralatan untuk penyimpan bahan aspal Tangki untuk penyimpanan material aspal harus dilengkapi dengan pemanas yang selalu dapat dikendalikan secara efektif dan positif sampai pada temperatur dalam batas yang dipersyaratkan. Pemanasan harus dilakukan dengan spiral uang (steam coils), listrik, atau cara lainnya yang mana api harus tidak berhubungan langsung dengan tangki pemanas. Sistem sirkulasi untuk material aspal harus mempunyai ukuran yang memadai untuk menjamin sirkulasi yang tepat serta menerus selama periode operasi. Suatu cara yang tepat harus disediakan baik dengan selimut uap (steam jackets) ataupun cara isolasi lainnya, untuk mempertahankan temperatur yang dipersyaratkan dari material aspal dalam aspal saluransaluran pipa, meteran, ember penimbang, batang penyemprot dan tempat-tempat lainnya dari saluran pengaliran. Dengan persetujuan tertulis dari Direksi Teknik, material aspal dapat dipanaskan dahulu didalam tangki dan kemudian temperatur dinaikkan sampai temperatur yang dipersyaratkan dengan menggunakan alat pemanas Booster (penguat) yang berada diantara tangki dan pengadukan. Kemampuan penyimpanan tangki harus 30.000 liter dan paling sedikit dua tangki berkapasitas sama harus disediakan. Tangki-tangki tersebut harus dihubungkan ke sistem sirkulasi sedemikian rupa agar masing-masing tangki dapat diisolasi secara terpisah tanpa mengganggu sirkulasi aspal kepengadukan. (4) Pemasok untuk mesin pengering (Feeder for Drier) Harus disiapkan pemasok untuk masing-masing agregat yang akan dipakai pada pencampuran. Pemasok untuk agregat halus harus dari tipe ban (belt conveyor). Atas persetujuan Direksi Teknik diperkenankan memakai tipe lain, hanya jika alat tersebut menyalurkan / mengangkut bahan basah pada kecepatan yang tepat tanpa menyebabkan terjadinya penyumbatan. Seluruh pemasok (feeder) harus dikalibrasi dan demikian pula untuk bukan pintu dan pengatur kecepatan untuk setiap campuran kerja yang telah disetujui, dan harus jelas ditunjukkan pada pintu-pintu dan pada panel mesin pengendali. Sekali ditetapkan, kedudukan dari pemasok tak boleh dirubah sama sekali tanpa persetujuan dari Direksi Teknik.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(5) Alat Pengering (Drier) Alat pengering yang berputar dengan rancangan yang baik untuk pengering dan pemanasan agregat harus disediakan. Alat pengering tersebut harus mampu mengertingkan dan memanaskan agregat mineral sampai ke temperatur yang disyaratkan. (6) Ayakan Ayakan yang mampu menyaring seluruh agregat sampai ukuran dan proporsi yang dipersyaratkan dan yang memiliki kapasitas normal sedikit diatas kapasitas penuh dari pencampur, harus disediaka. Alat penyaring tersebut harus memiliki efisiensi pengoperasian yang sedemikian rupa sehingga agregat yang tertampung dalam setiap penampung (Bin) harus tidak boleh mengandung lebih dari 10 % material yang berukuran terlampau besar atau terlampau kecil. (7) Penampung / Bin Perlengkapan harus termasuk penampung-penampung (Bins) yang berkapasitas cukup untuk melayani pencampur sewaktu beroperasi pada kapasitas penuh. Penampung harus dibagi paling sedikit dalam tiga bagian (ruang) dan harus diatur untuk menjamin penyimpanan yang terpisah serta memadai untuk masing-masing fraksi agregat, tidak termasuk bahan pengisi masing-masing bagian (ruang) harus dilengkapi dengan pipa pengeluar yang sedemikian rupa agar baik ukuran maupun lokasinya dapat mencegah masuknya material kedalam penampung lainnya. Penampung harus dikonstruksi sedemikian rupa agar contoh (sampel) dapat diperoleh dengan mudah. (8) Unit pengontrol aspal (a) Harus disediakan suatu cara yang memuaskan, baik dengan menimbang atau mengukur aliran, untuk memperoleh jumlah yang tepat dari material aspal didalam campuran dalam batas toleransi yang dipersyaratkan untuk campuran kerja itu. (b) Perangkat pengukur aliran untuk material aspal haruslah tipe pompa meteran aspal dengan sistem pemindahan secara putar dan positif. Dengan susunan penyemprot pada pencampur yang baik. Untuk unit pencampur dengan takaran, harus dapat menyediakan kwantitas aspal yang direncanakan untuk setiap takaran campuran. Untuk pusat pencampur menerus, kecepatan operasi dari pimpa harus disinkronkan dengan aliran dari agregat kedalam pencampur dengan pengendalian penguncian otomatis, dan perangkat ini harus dapat disetel dengan mudah dan tepat. Cara untuk memeriksa kwantitas atau kecepatan aliran dari material aspal kedalam pencampur harus disediakan. (9) Perlengkapan pengukur panas (a) Termometer yang dilindungi yang dapat digunakan dari 100 C sampai 200 C harus dipasang dalam saluran pemasukan aspal pada tempat yang tepat dekat katup pengeluaran (discharge) pada unit pencampur. (b) Unit harus juga dilengkapi dengan termometer dengan skala cakram tipe air rakya (mercury actuated), pyrometer listrik atau perlengkapan pengukur panas lainnya yang disetujui, yang dipasang pada corong pengeluaran dari alat pengering untuk mencatat secara otomatis atau menunjukkan temperatur dari agregat yang dipanaskan. Sebuah thermo couple (pengukur listrik yang mengukur perbedaan temperatur) atau tahanan lampu (resistance bulb) harus dipasang dekat dasar penampung untuk mengukur temperatur agregat halus sebelum memasuki pencampur. (c) Untuk pengaturan temperatur agregat yang lebih baik, penggantian dari setiap termometer dengan alat pencatat temperatur yang disetujui mungkin diminta oleh Direksi Teknik, dan juga Direksi Teknik dapat meminta grafik temperatur harian untuk disimpan sebagai arsip. (10) Pengumpul Debu (Dist Collector) Unit pencampur harus dilengkapi dengan alat pengumpul debu yang dibuat sedemikian rupa agar membuang atau mengembalikannya secara merata ke elefator seluruh atau sebagian dari material yang dikumpulkannya, sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(11) (12)

(13)

(14)

Pengendalian Waktu Pencampur Unit harus dilengkapi dengan cara yang positif untuk mengontrol waktu pencampuran dan mempertahankannya terkecuali kalau dirubah atas perintah Direksi Teknik. Timbangan dan Rumah Timbang Timbangan dan rumah timbang harus disediakan untuk menimbang truk yang bermuatan material yang siap untuk dikirim ketempat pekerjaan. Timbangan tersebut harus memenuhi persyaratan sebagai timbangan seperti yang dijelaskan diatas. Persyaratan Keselamatan Kerja (a) Tangga yang memadai secara aman untuk kelandasan (platform) pencampur dan tangga berpagar ke unit lainnya harus dipasang pada seluruh tempat yang diperlukan untuk menuju pengoperasian semua alat-alat perlengkapan. Untuk mencapai bak dari truk harus disediakan landasan atau perangkat lainnya yang sesuai untuk memungkinkan Direksi Teknik memperoleh contoh serta data temperatur campuran. Untuk memudahkan penanganan perlengkapan kalibrasi (peneraan) dari timbangan, perlengkapan pengambil contoh dan lain-lain, suatu karena atau sistem penarik harus disediakan untuk menaik turunkan perlengkapan tersebut dari tanah ke platform atau sebaliknya. Semua roda gigi, roda beralur, rantai-rantai gigi dan bagian bergerak lainnya yang berbahaya harus selalu dipagar dan dilindungi dengan baik. (b) Lorong-lorong yang cukup dan tidak terhalang harus selalu disediakan pada dan sekitar tempat pemuatan truk. Tempat ini harus selalu dijaga agar bebas dari jatuhan dari platform pencampur. Persyaratan khusus untuk unti pencampur batch (Batching Plant) (a) Kotak penimbang atau penampung. Perlengkapan ini harus mencakup suatu cara untuk menimbang secara teliti masing-masing penampung ukuran agregat tertentu dalam kotak penimbang atau penandah, yang digantung pada timbangan, berukuran cukup untuk menampung campuran satu takaran penuh tanpa harus diratakan dengan tangan atau tanpa tumpah. Lengan timbangan dan sudut pisau (knife adge) harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah terlempar keluar dari kedudukannya atau dari setelannya. Semua pinggiran-pinggiran, ujung-ujung dan tepi-tepi dari penampung timbangan (weighing hoppers) harus bebas dari sentuhan dengan batang-batang penahan dan tiang-tiang atau perlengkapan lainnya yang akan mempengaruhi fungsi yang sebenarnya dari penampung. Juga harus tersedia ruang bebas yang cukup antara penampung dan perlengkapan pendukung untuk mencegah terkumpulnya material-material yang tak dikehendaki. Pintu pengeluaran (discharge gate) dari kotak penimbang harus digantung sedemikian rupa agar agregat tidak mengalami segregasi sewaktu ditumpukkan kedalam pencampur dan harus tertutup rapat bila penampung kosong sehingga tidak ada material yang bocor kedalam campuran di dalamnya pencampur sewaktu proses penimbangan untuk campuran berikutnya. (b) Pencampur (Mixer) pencampur batch harus dari tepi twin pugmill (Pengaduk putar ganda) yang disetujui yang mampu menghasilkan campuran merata dalam toleransi campuran kerja. Pencampur harus dipanasi dengan selubung uang, minyak panas, atau cara lainnya yang disetujui Direksi Teknik. Juga rancangannya (design) harus sedermikian agar memungkinkan pengamatan visual dari campuran. Pencampur harus memiliki kapasitas pencampuran yang tidak kurang dari 5 kg dan konstruksinya harus sedemikian rupa untuk mencegah kebocoran isinya. Jika tidak disertai kotak pencampur harus dilengkapi dengan penutup debu untuk mencegah hilangnya debu. Pencampur harus memiliki pengontrol waktu yang tepat untuk pengendalian operasi satu siklus (daur) pencampuran lengkap dengan penguncian gerbang kotak timbangan setelah pengisian kepencampur sampai penutupan gerbang pencampur pada saat selesainya siklus tersebut. Pengontrol waktu harus mengunci ember aspal selama periode pencampuran kering dan basah. Periode pencampuran kering didefinisi sebagai selang waktu antara pembukuan gerbang kotak timbangan dan waktu dimulainya pemberian aspal. Periode pencampuran basah didefinisi sebagai selang waktu antara penghamparan material aspal ke agregat dan saat pembukuan gerbang pencampur.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(15)

Pengendalian waktu harus fleksibel dan dapat disetel untuk suatu selang waktu tidak lebih dari 5 detik sampai dengan 3 menit untuk keseluruhan siklus. Penghitung bacth secara mekanis untuk campuran harus dipasang sebagai bagian dari perangkat pengatur waktu dan harus dirancang sedemikian rupa sehingga hanya mencatat batch campuran. Pencampur harus dilengkapi dengan jumlah pengadk atau pisau (blade) yang cukup dengan pengaturan yang tepat untuk dapat menghasilkan batch campuran yang benar dan merata. Ruang bebas dari pisau-pisau (blades) kebagian yang tidak bergerak maupun yang bergerak harus tidak melebihi 2 cm, kecuali dalam hal agregat memiliki ukuran nominal maksimum lebih dari 1, dalam hal ini ruang bebas harus disetel sedemikian rupa untuk mencegah pecahnya agregat kasar selama operasi pencampuran. Persyaratan khusus untuk unit pencampuran menerus (Continous Mixing Plant) (a) Unit pengontrol gradasi. Unit harus memiliki suatu alat untuk mengatur proporsi secara teliti masing-masing penampung dengan ukuran agregat tertentu baik dengan penimbangan atau dengan pengukuran volume. Bila pengontrol gradasi dengan volume, unit ini harus mempunyai sebuah pemasok (feeder) yang dipasang dibawah ruang penampung. Masing-masing penampung harus memiliki pintu bukaan tersendiri yang dikontrol secara teliti untuk membentuk lubang guna mengukur volume material yang keluar dari masing-masing ruang / bidang penampung. Lubang terbentuk harus bersegi, kira-kira berukuran 20 x 25 cm, dengan salah satu dimensinya dapat disetel dengan cara mekanis yang positif dan dilengkapi dengan pengunci. Masing material yang mengalir keluar dari penampung melalui bukaan dapat dilewatkan secara memuaskan ke kotak-kotak penguji yang cocok, masing-masing penampung material dibatasi secara terpisah. Unit harus dapat menangani contoh uji seberat 150 kg atau lebih, berupa gabungan contoh-contoh dari seluruh penampung, dan tidak kurang dari 50 kg untuk setiap contoh dari satu penampung. Sebuah timbangan landasan (Platform) yang tepat yang berkapasitas 150 kg atau lebih harus disediakan. (b) Sinkronisasi pemasukan agregat dan aspal. Suatu cara yang memuaskan harus disediakan yang mampu melaksanakan kontrol saling mengunci antara aliran agregat dari penampung dengan aliran aspal dari meteran atau sumber pengatur lainnya. Kontrol ini harus disertai dengan cara penguncian mekanis atau metoda positif lainnya yang memuaskan Direksi Teknis. (c) Unit pencampur untuk metoda menerus. Perlengkapan ini harus mencakup pencampur menerus tipe pengaduk ganda yang dalam batas toleransi campuran kerja. Pengaduk harus dari tipe yang dapat disetel untuk pengaturan sudut dari sumbunya dan dapat berputar balik untuk melawan arah aliran dari yang memberikan isi bersih dari pencampur pada beberapa ketinggian tertentu serta grafik yang disediakan pabrik pembuat yang menunjukkan tingkat pemasukan dari agregat permenit, pada kecepatan operasi mesin Penetapan waktu pencampuran harus dengan metode berat, menggunakan rumus sebagai berikut (Beratnya harus ditetapkan untuk pekerjaan itu dari pengujian yang dilakukan oleh Direksi Teknik)

Waktu Pencampuran dalam detik : Kapasitas pencampur penuh dalam kg Hasil pencampur dalam kg per detik (a) Penampung. Pencampur harus dilengkapi dengan sebuah penampung pada bagian pengeluaran, dengan ukuran serta rancangan yang tidak akan mengakibatkan terjadinya segregasi tiapo elefator (Pengangkat) yang digunakan untuk memuat campuran keatas kendaraan harus juga memiliki penampung yang memuaskan juga.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(16)

(17)

(18)

Peralatan Pengangkut (a) Truk untuk pengangkut campuran aspal harus mempunyai bak dari logam yang rapat, bersih dan rata yang telah disemprot dengan sedikit air sabun, minyak yang telah diencerkan, minyak tanah, atau larutan kapur untuk mencegah melekatnya campuran ke bak. Jika ada genangan minyak pada bak truk setelah penyemprotan harus dibuang sebelum campuran dimasukkan dalam truk. Tiap muatan harus ditutup dengan kanfas / terpal atau bahan lainnya yang cocok dengan ukuran yang sedermikian rupa agar dapat melindungi campuran terhadap cuaca. (b) Truk yang menyebabkan segregasi yang berlebihan akibat sistem pegasnya atau faktor lain, atau yang menunjukkan kebocoran oli yang nyata, atau yang menyebabkan kelambatan yang tidak perlu, atas perintah Direksi Teknik harus dikeluarkan dari pekerjaan sampai kondisinya diperbaiki. (c) Bila dianggap perlu, agar campuran yang dikirim ke tempat pekerjaan pada temperatur yang dipersyaratkan, bak truk hendaknya di isolasi untuk memperoleh temperatur dimana campuran mudah dikerjakan dan seluruh penutup harus diikat kencang. Peralatan Penghampat dan Pembentuk (a) Peralatan penghampar dan pembentuk harus dari mesin mekanis yang telah disetujui, mempunyai mesin sendiri yang mampu menghampar dan membentuk campuran sampai sesuai dengan garis, permukaan serta penampung melintang yang diperlukan. (b) Mesin penghampar harus dilengkapi dengan penadah serta ulir pembagi dari tipe yang berlawanan untuk menempatkan campuran secara merata dimuka screed (Sepatu) yang dapat disetel. Mesin ini harus dilengkapi dengan perangkat kemudi yang cepat dan efisien dan harus dapat bergerak mundur dan maju. (c) Mesin penghampar harus mempunyai perlengkapan mekanis seperti penyeimbang (aqualizing runners), pisau (straight edge runners), lengan perata (evener arms), atau perlengkapan lainnya untuk mempertahankan kelurusan permukaan dan kelurusan garis tepi perkerasan tanpa perlu menggunakan pembentuk tepi yang tetap. (d) Mesin penghampar harus dilengkapi dengan screed (sepatu) atau yang dengan tipe fibrator yang dapat digerakkan dan perangkat untuk pemanas screed pada temperatur yang di perlukan untuk penghamparan campuran tangan menghusur atau merusak permukaan. (e) Istilah screed meliputi pemangkasan, penutup, atau tindakan praktis lainnya yang efektif untuk menghasilkan permukaan akhir dengan keataan atau tekstur yang dipersyaratkan, tanpa terbelah tergeser atau beralur. (f) Jika selama pelaksanaan diketahyi bahwa perlengkapan penghampar dan pembentuk dalam operasinya meningkat bekas pada permukaan atau cacat atau ketidak rataan permukaan lainnya yang tidak diperbaiki dengan memuaskan dengan pelaksanaan yang dijadwalkan, maka penggunaan peralatan tersebut harus dihentikan dan peralatan penghampar dan pembentuk lainnya yang memuaskan harus disediakan oleh kontraktor. Peralatan Pemadat (a) Setiap mesin penghampar harus disertai dengan dua mesin gilas baja (steel wheel roller) dan satu mesin gilas ban bertekanan. Semua mesin gilas harus mempunyai tenaga penggerak sendiri. (b) Mesin gilas ban bertekanan (penumatic tired rollers) harus dari tipe yang disetujui yang memiliki tidak kurang dari tujuh roda dengan ban halus dengan ukuran dan konstruksi yang sama yang mampu beroperasi pada tekanan 8,5 kg/cm (120 psil). Roda-roda harus berjarak sama satu sama lain pada kedua garis sumbu yang satu jatuh diantaranya tanda roda yang lainnya (tumpang tindih). Masing-masing ban harus dipertahankan tekanannya pada tekanan operasi yang dipersyaratkan sehingga selisih antara dua ban harus tidak melebihi 350 grm/ cm2 (5 psi). suatu alat harus disediakan untuk memeriksa dan menyetel tekanan ban dilapangan setiap saat. Untuk setiap ukuran dan tipe ban yang digunakan, kontraktor harus memberikan kepada Direksi Teknik grafik atau tabel yang menunjukkan hubungan antara beban roda, tekanan ban, dan tekanan ban pada bidang yang menyentuh, lebar dan luas. Masing-masing mesin gilas harus dilengkapi dengan suatu cara penyetelan berat keseluruhannya

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

dengan pengaturan beban (ballasting) sehingga beban per lembar roda dapat dirubah dari 1.500 sampai 2.500 kg. Dalam operasi tekanan ban dan beban roda harus disetel sesuai dengan permintaan Direksi Teknik, untuk memenuhi kebutuhan pemadatan tertentu. Pada umumnya pemadatan dari setiap lapisan dengan mesin gilas ban bertekanan harus dengan tekanan yang setinggi mungkin yang dapat dipikul material. (c) Mesin gilas yang dapat bergerak sendiri dapat dibagi dalam tiga tipe : - Mesin gilas tiga roda - Mesin gilas dua roda, tandem - Mesin gilas tandem dengan tiga sumbu Mesin gilas harus mampu menimbulkan beban tekanan pada roda belakang tidak kurang dari 400 kg per 0.1 m selebar minimum roda 0.5 m. Paling sedikit satu dari mesin gilasnya mampu menimbulkan tekanan gilas sebesar 600 kg per 0.1 m lebar. Mesin gilas harus bebas dari permukaan yang datar (flat), proyek, robek-robek atau tonjolan yang akan merusak permukaan perkerasan. 6.3.8. PEMBUATAN DAN PRODUKSI CAMPURAN (1) Kemajuan Pekerjaan Tidak ada pencampuran takaran yang boleh dilakukan bila tidak cukup tersedia peralatan pengangkutan, penghamparan atau pembentukan, atau buruh yang cukup, untuk menjamin kemajuan dengan kecepatan tidak kurang dari 60% kapasitas alat pencampur. (2) Penyiapan material aspal Material aspal harus dipanaskan sampai temperatur antara 140 C dan 160 C didalam tangki yang dirancang sedemikian rupa sehingga menapat pencegah terjadinya pemanasan setempat dan mampu mengalirkan bahan aspal secara berkesinambungan pada temperatur yang merat setiap saat, kealat pencampur. Sebelum operasi pencampuran dimulai setiap hari, harus paling sedikit ada 30.000 liter aspal panas yang siap untuk dialirkan kepencampur. (3) Penyiapan agregat (a) Agregat untuk campuran harus dikeringkan dan dipanaskan pada alat pengering sebelum dimasukkan kedalam alat pencampur. Api yang digunakan untuk pengeringan dan pemanasan harus di atur secara tepat untuk mencegah rusaknya agregat dan mencegah terbentuknya selaput jelaga pada agregat (b) Bila dicampur dengan material aspal, agregat tersebut harus kering dan pada rentang temperatur yang dipersyaratkan untuk material aspal, tetapi tidak lebih dari 14 C diatas temperatur material aspal. (c) Bahan pengisi tambahan (filler), jika diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gradasi, harus ditakar secara terpisah dari penampung kecil yang dipasang tepat di atas pencampur. Menaburkan bahan pengisi diatas tumpukan agregat atau penumpukannya kedalam penampung pada alat pemecah batu tidak diijinkan. (4) Penyiapan campuran (a) Agregat kering, yang disiapkan seperti yang dijelaskan di atas, harus digabung diunit pengelola dalam proporsi yang akan menghasilkan fraksi agregat rancangan sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam rumusan campuran kerja. Proporsi takaran ini harus ditentukan dari penyaringan basah pada contoh-contoh yang diambil dari penampung panas (hot bin) segera sebelum produksi campuran dimulai dan pada selang waktu tertentu sesudahnya, sebagaimana ditetapkan oleh Direksi Teknik, untuk menjamin mutu dari penakaran campuran. Material aspal harus ditimbang atau diukur dan dimasukkan ke dalam alat pencampur dengan jumlah yang ditetapkan oleh Direksi Teknik. Bila digunakan alat pencampur bacth, agregat harus dicampur secara menyeluruh dalam keadaan kering, baru sesudah itu aspal dengan jumlah yang tepat ditambahkan kedalam agregat tersebut dan keseluruhannya diaduk selama paling sedikit 45 detik, atau lebih lama lagi jika diperlukan untuk menghasilkan campuran yang merata dan seluruh butir agregat tersebut terselaput secara merata. Total waktu pencampuran harus ditetapkan oleh Direksi Teknik dan diatur dengan alat pengatur waktu yang sesuai. Untuk unit pencampuran menerus, waktu pencampuran yang

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

dibutuhkan harus juga paling sedikit 45 detik dan dapat diatur dengan menetapkan alat pengukur minimum dalam unit pencampur dan / atau dengan setelan unit pencampur lainnya. (b) Sewaktu dikeluarkan dari pencempur temperatur campuran harus pada temperatur batas absolut seperti, yang dijelaskan pada tabel 6.3.8 termasuk toleransi yang dibolehkan. (5) Pengangkutan dan penyerahan ditempat kerja (a) Campuran harus diangkut dari ke mesin pencampur dengan temperatur yang batas mutlaknya ditunjukkan pada tabel 6.3.8 (b) Masing-masing kendaraan yang telah dimuati harus ditimbang ditempat pencampuran, dan harus dibuat catatan yang menyangkut berat kotor. Berat kosong dan berat netto dari tiap muatan. Muatan tidak boleh dikirim terlalu sore agar penyelesaian penghamparan dan pemadatan campuran sewaktu hari masih terang terkecuali tersedia penerangan yang memuaskan. Persyaratan batas untuk Viskositas Aspal dan Suhu Campuran Aspal Suhu Campuran Aspal () C Campuran Campuran Viskositas memakai AC-20 memakai AC 10 Prosedur Pelaksanaan Aspal Bit (kira-kira Bit (Kira-kira (centistokes) ekivalen dgn ekivalen dgn Aspal Aspal Pen. 60/70) Pen. 80 / 100) Campuran benda uji marshall 170 + 20 155 145 Kepadatan benda uji Marshall 280 + 30 140 130 Pencampuran maks. Di AMP di < 165 < 155 kosongkan pencampur AMP ke dalam truk Penyerahan ke Paver 100 400 > 135 > 125 Penggilasan Break down (silinder) 400 - 1000 150 120 140 110 Penggilasan kedua (ban karet) 1000 1800 125 110 111 102 Penggilasan akhir (silinder baja) 1800 10000 110 95 102 83 10000 - 100000 95 - 80 83 63 Catatan : Direksi Teknik harus menyetujui atau bila dianggap perlu memerintahkan untuk mengadakan perubahan yang pada batas-batas suhu dalam tabel yang diberikan diatas, berdasarkan pengujian viskositas untuk aspal yang dipakai, untuk menjamin bahwa atas viskositas yang dipersyaratkan terpenuhi. Dengan demikian batas viskositas inilah yang merupakan syarat kriteria spesifikasi, bukan batas suhu itu. 6.3.9. PENGHAMPARAN CAMPURAN (1) Menyiapkan permukaan yang akan dilapisi (a) Sesaat sebelum penghamparan pencampuran aspal, permukaan yang ada harus dibersihkan dari material yang lepas dan yang tidak dikehendaki dengan satu mesin, dan dibantu dengan cara manual (dengan tangan) jika diperlukan. Lapis aspal perekat (Tack coat) atau lapis aspal resap pengikat (prime coat) harus digunakan sesuai dengan pasal 6.1, kecuali ditentukan lain oleh Direksi Teknik. (b) Bila permukaan yang akan dilapisi, terdapat ke tidak rataan itu rusak, atau menunjukkan ketidak stabilan, atau mengandung material permukaan lama yang telah rusak secara berlebihan atau tidak melekat dengan baik keperkerasan di bawahnya, harus dibuat rata terlebih dahulu sebagaimana di perintahkan, seluruh material yang lepas atau lunak harus dibuang, dan permukaannya dibersihkan dan / atau diperbaiki dengan campuran aspal atau material lain yang disetujui oleh Direksi Teknik dan kemudian dipadatkan. Toleransi permukaan setelah diperbaiuki harus sama dengan yang diperlukan untuk konstruksi pondasi agregat 6.3.8.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(2) Sepatu (screed) tepi Balok kayu atau kerangka lain yang disetujui harus dipasang sesuai dengan garis serta ketinggian yang diperlukan pada tepi-tepi dari tempat dimana Campuran Aspal panas akan dihampar. (3) Penghamparan dan Pembentukan (a) Sebelum memulai operasi pelapisan, sepatu (screed) dari mesin penghampar harus dipanaskan. Campuran harus dihampar dan diratakan sesuai dengan kelandaian, elafasi, serta bentuk melintang yang disyaratkan. (b) Mesin penghampar harus dioperasikan pada suatu kecepatan yang tidak akan menyebabkan retak permukaan, belahan atau bentuk ketidak teraturan lainnya pada dipermukaan. Kecepatan penghamparan harus disetujui oleh Direksi Teknik dan ditaati. (c) Jika terjadi segregasi, belahan atau alur pada permukaan mesin penghampar harus dihentikan dan tidak dijalankan lagi sampai penyebabnya telah diketemukan dan diperbaiki. Tempat-tempat yang kasar atau tersegregasi dapat diperbaiki dengan menaburkan bahan yang halus (fine) dan perlahan-lahan di ratakan. Perataan (raking) kembali sebaiknya dihindari sedapat mungkin. Butir-butir kasar tidak boleh ditaburkan diatas permukaan yang dihampar dengan rapi. (d) Harus diperhatikan agar campuran tidak terkumpul dan mendingin pada tepi-tepi penadah atau tempat lainnya dimesin (e) Dimana jalan akan di aspal hanya separo dari lebarnya untuk setiap operasi, urutan pengaspalan itu harus dilakukan sedemikian rupa sehingga panjang pengaspalan setengah lebar jalan itu pada akhir tiap hari kerja dibuat sependek mungkin. (4) Pemadatan (a) Segera setelah campuran dihampar dan diratakan, permukaannya harus diperiksa dan setiap ketidak rataan diperbaiki temperatur campuran yang terhampar dalam keadaan lepas harus dimonitor dan penggilasan harus dimulai dalam batas viskositas aspal yang ditunjukkan pada tabel 6.3.8 (b) Penggilasan campuran harus terdiri dari tiga operasi yang berbeda sebagai berikut : Waktu setelah penghamparan 1. Penggilasan awal atau pemecahan 0 10 menit 2. Penggilasan sekunder atau antara 10 20 menit 3. Penggilasan akhir atau penyelesaian 20 45 menit (c) Penggilasan awal atau pemecahan dan penggilasan akhir atau penyelesaian harus seluruhnya dilakukan dengan mesin golas roda baja. Penggilasan sekunder antara harus dilakukan dengan mesin gilas roda baja. Penggilasan sekunder atau antara harus dilakukan dengan mesin gilas dan angin. Mesin gilas pemecah harus beroperasi dengan roda penggerak berada di arah mesin penghampar. (d) Penggilasan sekunder atau antara harus mengikuti sederkat mungkin penggilasan pemecah dan harus dilakukan sewaktu campuran masih berada pada temperatur yang akan menghasilkan pemadatan maksimum. Pemadatan akhir harus dilakukan sewaktu material masih berada dalam kondisi yang masih dapat dikerjakan untuk menghilangkan bekas tanda-tanda penggilasan. (e) Sambungan melintang harus di gilas pertama-tama dan dalam penggilasan awal harus digilas kearah melintang dengan menggunakan papan (ditepi perkerasan) yang mempunyai ketebalan yang diperlukan untuk menyediakan ruang gerak mesin gilas diluar batas perkerasan. Bila sambungan memanjang tersebut akan dibuat sebelah jalur yang telah diaspal, gilasan pertama harus dilakukan sepanjang sambungan memanjang tersebut untuk suatu jarak yang pendek (f) Pada sambungan penggilasan harus dimulai kearah memanjang dan selanjutnya pada tepi luar dan sejajar dengan sumbu jalan kearah tengah jalan, kecuali pada superelevasi pada tikungan harus dimulai pada bagian yang rendah dan berherak ke arah bagian yang tinggi. Lintasan yang berurutan harus saling menutupi dengan paling sedikit setengah dari lebar roda dan lintasan-lintasan harus tidak berakhir pada detik yang berjarak kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya. Usaha penggilasan harus diutamakan pada tepi luar dari lebar yang dihampar.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(g) Ketika menggilas sambungan memanjang mesin gilas pemecah harus terlebih dahulu pindah kejalur yang telah dihampar sebelumnya sehingga tidak lebih dari 15 cm dari roda penggerak akan menggilas tepi yang belum dipadatkan mesin gilas harus meneruskannya sepanjang jalur ini, dengan menggeser posisinya sedikit demi sedikit melewati sambungan dengan beberapa lintasan, sampai tercapai sambungan yang terpadatkan dengan rapi. (h) Kecepatan dari mesin gilas harus tidak melebihi 4 km / jam untuk roda baja dan 15 km/jam untuk ban angin dan kecepatannya harus selalu cukup rendah sehingga tidak mengakibatkan tergesernya campuran panas tersebut. Arah dari penggilasan harus tidak berubah secara tiba-tiba begitu pula arah dari penggilasan harus tidak berbalik secara tiba-tiba, yang akan menyebabkan tersorongnya campuran. (i) Penggilasan harus berlangsung secara menerus sebagaimana diperlukan untuk memperoleh pemadatan yang merata sewaktu campuran masih dalam kondisi yang dapat dikerjakan dan hingga seluruh bekas tanda gilasan dan ketidak rataan hilang. (j) Untuk mencegah pelekatan campuran keroda mesin gilas, roda-roda tersebut harus dibasahkan secara menerus, tetapi air yang berlebihan tidak diijinkan. (k) Peralatan berat atau mesin gilas tidak diperbolehkan berada diatas lapisan yang baru selesai, sampai lapisan-lapisan tersebut betul-betul telah mendingin dan mengeras. (l) Setiap produk minyak bumi yang tumpah atau tercecer dari kendaraan atau perlengkapan yang digunakan oleh kontraktor diatas tiap bagian pekerjaan yang sedang dikerjakan, dapat menjadi sebab pembongkaran dan penggantian dari perkerasan yang rusak tersebut (oleh kontraktor) (m) Permukaan campuran setelah pemadatan harus licin dan sesuai dengan bentuk dan ketinggian permukaannya yang masih dalam batas-batas toleransi yang dipersyaratkan. Tiap campuran yang menjadi lepas atau rusak, tercampur dengan tanah, atau rusak dalam bentuk apapun harus dibongkar dan diganti dengan campuran panas yang baru, yang harus dipadatkan secepatnya agar sama dengan daerah sekitarnya. Campuran yang dipasang pada daerah seluas 100 cm 2 atau lebih yang menunjukkan kelebihan atau kekurangan material aspal beton harus dibongkar dan diganti. Seluruh tonjolan, tonjolan sambungan, lengkungan, dan permukaan yang kasar (cacat) harus diperbaiki sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik. (n) Sewaktu permukaan sedang dipadatkan dan diselesaikan, kontraktor harus memotong tepi-tepi perkerasan agar bergaris rapi. Setiap material yang berlebihan harus dipotong tegak lurus setelah penggilasan akhir, dan dibuang oleh kontraktor di luar daerah milik jalan sehingga tidak kelihatan dari jalan. (5) Sambungan-sambungan (a) Baik sambungan memanjang maupun melintang dalam lapisan yang berurutan harus diatur sedermikian rupa agar tidak berada satu diatas yang lainnya. Sambungan memanjang harus diatur sedermikian rupa agar sambungan yang berada di lapisan paling atas akan berlokaso di pemisah jalur lalu lintas. Sambungan melintas harus dipasang secara bertahap dengan minimum jarak antaranya 25 cm dan harus lurus. (b) Campuran tidak boleh di hampar pada material yang baru saja digilas kecuali kalau tepinya tegak lurus atau telah di potong tegak lurus. Sapuan aspal untuk melekatkan kedua lapisan permukaan harus dibersihkan sesaat sebelum campuran tambahan dipasang diatas material yang sebelumnya digilas. 6.3.10. PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN MUTU DI LAPANGAN (1) Pengujian Permukaan dari Perkerasan (a) Permukaan harus diuji dengan mistar penyipat yang panjangnya 3 m yang disediakan oleh konrtaktor, diletakkan masing-masing secara tegak lurus dan sejajar dengan sumbu jalan. Kontraktor harus menugaskan beberapa pegawainya untuk menggunakan mistar tersebut dibawah petunjuk Direksi Teknik untuk memeriksa seluruh permukaan. (b) Pengujian-pengujian untuk pemeriksa apakah bentuk permukaan telah memenuhi ketinggian yang dipersyaratkan harus dilakukan segera setelah pemadatan awal, dan perbedaan harus diperbaiki dengan membuang atau menambah materal sebagaimana diperlukan. Selanjutnya penggilasan harus diteruskan sebagaimana disyaratkan.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(2)

(3)

(4)

(5)

Setelah penggilasan akhir, kehalusan dari lapisan harus diperiksa kembali dan setiap ketidakrataan dan permukaan yang melewati batas toleransi yang disebutkan diatas, serta lokasi-lokasi yang mempunyai kerusakan tekstur, kepadatan atau komposisi harus diperbaiki sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik. Persyaratan Kepadatan (a) Kerapatan dari campuran yang telah dipadatkan, seperti yang ditentukan dalam ASSHTO T166, harus tidak kurang dari 98% untuk jenis campuran lainnya dari kerapatan benda uji yang dipadatkan di laboratorium dari material yang dan dengan proporsi yang sama. (b) Cara pengambilan contoh material dan pemadatan dari benda uji harus masing-masing sesuai dengan AASHTO T168 dan AASHTO T245. Pengambilan contoh untuk pengendalian mutu campuran (a) Contoh-contoh di bawah ini harus diambil untuk pengujian harian : (i) Agregat dari Hot bin untuk gradasi-gradasi hasil pencucian. (ii) Gabungan agregat panas untuk gradasi-gradasi hasil pencucian (iii) Campuran aspal untuk ekstrasi dan stabilitas marshall (b) Sebagai tambahan, bila mengganti formula campuran kerja, atau sewaktu-waktu sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik, contoh tambahan untuk (i), (ii), dan (iii) akan diambil untuk memungkinkan penentuan bulk spesific grafity untuk agregat dari Hot bin dan kerapatan teoritis maksimum dari campuran aspal (AASHTO T209-74) Pengujian pengendalian mutu campuran (a) Kontraktor harus menyimpan catatan dari seluruh pengujian dan catatan-catatan ini harus dikirim dengan segera ke Direksi Teknik. (b) Kontraktor harus menyampaikan kepada Direksi Teknik hasil-hasil dan catatan-catatan pengujian yang berikut, yang dilaksanakan pada tiap hari produksi bersama dengan lokasi yang tepat dimana produksi tersebut dihampar (i) Analisa saringan (metoda pencucian) untuk paling sedikit dua contoh dari tiap Hot Bin. (ii) Analisa saringan (metoda pencucian) untuk paling sedikit dari dua contoh dari gabungan agregat panas. (iii) Temperatur dari campuran sewaktu pengambilan contoh di pusat pencampur dan diatas jalan (setiap satu jam) (iv) Kerapatan dari campuran yang dipadatkan di laboratorium (kerapatan Marshall) untuk paling sedikit dua contoh. (v) Kerapatan dari pemadatan dan persentase pemdatan dari campuran dibandingkan dengan kerapatan Marshall di laboratorium untuk paling sedikit dua contoh. (vi) Stabilitas Marshall serta leleh (flow) nya dan hasil angka perbandingan Marshall seperti di definisikan dalam pasal 6.3.3 untuk paling sedikit dua contoh. (vii) Kadar aspal dan gradasi agregat dari campuran seperti yang ditetapkan dari pengujian ekstraksi aspal untuk paling sedikit dua contoh. Jika memakai metoda ekstraksi centrifuge, koreksi abu harus dilakukan sesuai dengan ketentuan AASHTO T 164 C1 8.6 (viii) Rongga udara dalam campuran, dihitung menurut Maxsimum Spesifik Grafity of Bituminous Paving Mixtures (AASHTO T209 74) (ix) Aspal yang diabsorbsi oleh agregat, sebagaimana di hitung atas dasar maksimum Specific Gravity of Bituminous Paving Mixtures (AASHTO T209 74) Pengendalian mutu dengan menimbang campuran (a) Untuk pengecekan pada pengukuran kwantitas untuk pembayaran, tiket pengiriman muatan dari tempat-tempat penimbangan truk menurut pasal 6.3.1 (3) d. Harus selalu dimonitor dengan berat campuran yang dihampar. (b) Penentuan kadar aspal campuran kerja (Job mix) dilaboratorium harus dilaksanakan paling sedikit satu kali per hari produksi dan paling sedikit satu contoh setiap 200 ton campuran yang diproduksi. Pengambilan contoh dari campuran kerja harus dilakukan di bawah pengawasan Direksi Teknis.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

6.3.11. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN (1) Pengukuran Tebal rata-rata hamparan Pengukuran tebal rata-rata dari hamparan campuran harus dipantau memakai cores inti perkerasan yang dilaksanakan oleh kontraktor dan dibawah pengawasan Direksi Teknik. Penempatan dan lokasi dari lubang core harus sesuai Petunjuk Direksi Teknik. (2) Pengukuran hasil pekerjkaan untuk pelaksanaan pembayaran (a) Kwantitas yang diukur untuk pembayaran hasil pelaksanaan campuran harus berdasarkan jumlah matrik ton dari bahan yang dipakai dari perkerasan yang diterima, dan hasilnya harus diambil dari hasil monitoring angkutan beban (memakai karcis) dari timbangan truk. (b) Apabila ternyata ada kelebihan kwantitas adukan pada hamparan dan melebihi persyaratan toleransi yang diberikan maka kelebihan tersebut tidak dibenarkan diperhitungan dalam pengukuran kwantitas untuk pembayaran dan tidak dipernankan untuk pembayaran. (c) Kwantitas yang diterima untuk pengukuran harus tidak termasuk daerah yang mengalami kerusakan seperti misalnya daerah yang terkelupas, serpihan, mengalami retakan atau kerusahan lainnya yang menurut pertimbangan Direksi Teknik adalah tidak memuaskan. (d) Bagian pekerjaan yang mempunyai kadar aspal dibawah yang minimum dipersyaratkan akan tidak diukur untuk pembayaran. Penentuan dari kadar aspal dari campuran kerja harus dilaksanakan memakai alat ekstraksi laboratorium, paling kurang sekali per hari bilamana adukan telah diproduksi dan paling kurang satu contoh dari setiap 200 ton produksi campuran. Contoh-contoh dari campuran kerja harus diambil dibawah Pengawasan Direksi Teknik. (e) Untuk semua pekerjaan Campuran Aspal Panas yang dimasukkan dalam perhitungan pengukuran untuk pembayaran, kadar rata-rata aspal dari bahan yang diukur, seperti didapatkan dari hasil percobaan ekstraksi laboratorium harus sama dengan atau lebih besar dari kadar aspal yang dipersyaratkan dalam formula campuran adukan. Dalam hal Pihak Direksi Teknik sama sekali tidak menerima setiap hasil pekerjaan Campuran Aspal Panas dengan hasil pengukuran kadar aspal rata-rata lebih kecil dari pada nilai yang dipersyaratkan maka pembayaran untuk pekerjaan campuran aspal panas tersebut akan dilakukan menurut harga satuan tambahan yang besarnya : Satuan Penawaran x Hasil Pengukuran kadar aspal rata-rata___________ Kadar aspal yang dipersyaratkan dlm Formula Camp Tidak diperkenankan mengadakan penyesuaian harga kadar aspal yang telah diterima yang diperhitungkan formula campuran kerja yang telah ditetapkan. (3) Pengukuran atas Pekerjaan Perbaikan Pekerjaan perbaikan dari pekerjaan campuran aspal panas yang tidak memuaskan sesuai pengamatan Direksi Teknik, Kwantitas yang akan diukur untuk Pembayaran harus dianggap termasuk bagian yang sudah dibayar untuk pekerjaan sebenarnya yang telah diterima. Tak diperkenankan mengadakan pembayaran tambahan untuk pekerjaan ekstra atau adanya tambahan kwantitas akibat pekerjaan perbaikan.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(4) Dasar Pembayaran Kwantitas, seperti yang ditetapkan diatas harus dibayar menurut harga kontrak per matrik ton untuk Mata Pembayaran seperti data dibawah menurut surat penawaran, dimana harga dan pembayarannya sudah dipertimbangkan termasuk seluruh biaya untuk pengadaan dan penempatan seluruh bahan-bahan, dan termasuk seluruh biaya-biaya untuk buruh, peralatan, perlengkapan / menyempurnakan pekerjaan seperti yang diuraikan dalam Pasal ini. No Mata Pelajaran 6.3. (1) 6.3. (2) 6.3. (3) 6.3. (4) 6.3. (5) Uraian LATASIR (HRSS) Klas A LATARIS (HRSS) Klas B LATASTON (HRS) Aspal Beton (AC) Aspalt Treated Base (ATB Satuan Pengukuran Meter Persegi Meter Persegi Ton Ton Ton

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

SEKSI 6.6 PENETRASI MACADAM LEVELING DAN PENETRASI MACADAM LAPIS PERMUKAAN

6.6.1.

UMUM (1) Uraian Pekerjaan ini terdiri dari pengadaan suatu lapisan perata dan lapiran permukaan dari agregat yang distabilisasi oleh aspal pada lapis permukaan aspal yang ada sebelum melaksanakan pekerjaan pelapisan aspal. Pekerjaan ini dilaksanakan dimana biaya untuk menggunakan campuran aspal panas tidak memungkinkan dan karena itu harus digunakan hanya pada lokasi tertentu seperti pekerjaan pengembalian kondisi. MATERIAL Material harus terdiri dari agregat kasar, agregat pengunci, chip penutup (untuk lapis permukaan) dan aspal (1) Agregat Agregat harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang berikut dan harus bebas dari gumpalan lempung. (a) Abrasi dengan pengujian abrasi Los Angeles pada Putaran 500 (PB 0206 76) tidak melebihi maksimum 40% (b) Indeks kepipihan (Flakiness) (BS, 812 Pasal I : 1975 ayat 1,3) maksimum 25% (c) Daya lekat dengan aspal (PB 0205 76) lebih dari 95%. (d) Gradasi untuk agregat kasar dan agregat pengunci harus memenuhi ketentuanketentuan dari Tabel 6.6.1 Tabel 6.6.1 JENIS AGREGAT Agregat Kasar : Lolos 75 mm 60 mm 50 mm 40 mm 24 mm 18 mm Agregat Pengunci : Lolos 25 mm 18 mm 9 mm UKURAN AGREGAT TEBAL LAPISAN (7 10) Cm (5 8) Cm PERSEN 100 90 100 35 75 0 15 05 100 95 100 0-5 100 95 100 35 70 0 15 0-5 100 95 100 0-5

6.6.2.

(4 5) Cm

100 95 100 05 100 95 100 05

(2) Aspal Aspal yang digunakan harus dari jenis aspal semen, aspal cutback atau aspal emulsi dan harus memenuhi ketentuan spesifikasi dalam seksi 6.2 Spesifikasi ini.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

6.6.3.

PENENTUAN JUMLAH AGREGAT DAN ASPAL Kwantitas untuk agregat dan aspal harus diambil dari tabel 6.6.3 dibawah ini. Tabel 6.6.3. PENETRASI MAKADAM SEBAGAI LAPIS PERATA AGREGAT KASAR TEBAL LAPISAN ASPAL AGREGAT KG/M2 (Cm) KG / M2 KG/M2 7 10 5 8 4 - 5 8,5 200 8,5 25 7,5 180 7,5 25 6,5 180 6,5 25 6,5 152 6,0 25 5,5 140 5,5 25 5,5 133 5,2 25 4,4 144 4,4 25 3,7 105 3,7 25 3,7 80 2,5 25 Tabel Penetrasi Macadam sebagai Lapisan Permukaan : Agregat Pokok Tebal Lapisan Aspal Kg/m2 LAPEN Kg / m2 (Cm) 7-10 5-8 4-5 10 140 8,5 9 180 7,5 8 160 6,5 8 152 6 7 140 5,5 7 133 5,2 6 114 4,4 5 105 3,7 5 80 2,5 Agregat Pengunci Kg/m2 25 25 25 25 25 25 25 25 25

Aspal Kg/m2 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5

Agregat Kg/m2 14 14 14 14 14 14 14 14 14

6.6.4.

PERALATAN Peralatan berikut ini harus disediakan : (i)Timbunan Persediaan - Dump Truk - Loader (ii) Peralatan di Lapangan (a) Mekanis Penggilas tandem 6 8 ton atau penggilas beroda tiga 6 8 ton. (b) Manual Penyapu, sikat, karung Bakul, Kaleng aspal Sekop, gerobak dorong dan peralatan kecil yang lain Cerek aspal PEMASANGAN LAPIS MACADAM LEVELING / PERMUKAAN (1) Pemasangan Lapangan Permukaan yang diperbaiki dengan Penetrasi Macadam harus dipersiapkan seperti di bawah ini : (a) Profil memanjang atau melintang harus dipersiapkan menurut potongan melintang rancangan. (b) Permukaan harus bebas dari benda-benda yang tidak diinginkan seperti debu dan bahan-bahan yang terlepas lainnya. (c) Permukaan yang beraspal harus diberikan lapis perekat dengan takaran pemakaian maksimum 0,5 1/m2
Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

6.6.5.

(2) Penghamparan dan Pelapisan (i) Metode Mekanis (a) Penyebaran Agregat Kasar Kombinasi Penyebar agregat / truk harus menebarkan agregat pada kecepatan yang tetap supaya kuantitas agregat adalah tempat untuk ketebalan yang dirancang. (b) Pemadatan Agregat Pemadatan awal harus menggunakan penggilas 6 8 ton yang bergerak dengan kecepatan kurang dari 3 km/jam. Pemadatan harus diteruskan sehingga permukaan yang rata dan stabil tercapai (minimum 6 lintasan) (c) Penyemprotan aspal keatas lapisan agregat kasar Temperatur harus dipertahankan seperti yang ditentukan untuk jenis bitumen yang digunakan. Kecepatan aspal distributor dan tekanan penyemprotannya harus distel untuk mendapatkan jumlah aspal per meter persegi yang dirancang. Lembaran kertas harus diletakkan pada akhir tempat yang disemprot supaya batas semprotan diketahui dengan jelas. Garis pedoman harus disertakan untuk mengatur pergerakan alat distributor. Aspal distributor harus digerakkan dengan kecepatan konstan untuk menghasilkan intensitas semprotan yang diperlukan. Technometer harus dapat dilihat sepenunya oleh operator. Setiap bagian permukaan yang tidak disemprot sepenuhnya harus disemprot dengan tangan. (d) Penebaran Agregat Pengunci Setelah penyemprotan aspal, agregat pengunci harus ditebarkan dengan cara yang sama seperti penebaran agregat kasar. (e) Pemadatan agregat pengunci Pemadatan harus seperti yang ditentukan dalam (1) b diatas dan harus diteruskan sehingga agregat pengunci benar-benar terkunci dan tertanam kedalam permukaan dibawahnya. (ii) Metode Manual Agregat dan aspal harus tersedia dilapangan sebelum pekerjaan mulai dilaksanakan. Kedua bahan harus ditangani dengan cermat supaya bahannya bersih dan mudah pengoperasiannya. (a) Penebaran Agregat Kasar Penebaran harus dilaksanakan dengan menggunakan bakul dengan suatu cara tertentu supaya jumlah bahan yang digunakan dan kerataan yang diperlukan dicapai. (b) Pemadatan Agregat Kasar Pemadatan harus seperti yang ditentukan untuk metode mekanis. (c) Penyemprotan aspal boleh dikerjakan dengan penyemprot tangan atau kaleng aspal, dengan temperatur aspal seperti yang telah ditentukan, takaran pemakaian aspal harus serata mungkin dengan jumlah permeter persegi yang ditentukan. (d) Penebaran dan pemadatan agregat pengunci harus dilaksanakan dengan cara yang sama untuk agregat kasar. Pemadatan harus diteruskan sehingga agregat pengunci terkunci didalam dan lapisan agregat kokoh seluruhnya oleh roda penggilas (iii) Pemeliharaan Agregat Pengunci Kontraktor harus memelihara permukaan agregat pengunci seperti yang dikerjakan diatas supaya berada didalam kondisi yang baik sehingga pada waktunya lapisan terakhir dipasang seperti yang ditentukan menurut pekerjaan pelapisan permukaan.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

6.6.6.

PENGENDALIAN MUTU Pengendalian mutu harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang dibawah ini : (a) Penyimpanan untuk setiap fraksi harus terpisah untuk menghindarkan pencampuran, dan dijaga kebersihannya dari benda asing. (b) Penyimpanan aspal harus dengan cara tertentu agar supaya tidak terjadi kebocoran atau dimasuki air. (c) Suhu pemanasan untuk aspal harus seperti di bawah ini : - Aspal semen penetrasi jenis 80/100 suhu maksimum 160o C (135o C 155o C) - Aspal Cutback MC 800 pada suhu 80o C 110o C MC 3000 pada suhu 100o C 130o C (d) Tebal Lapisan Tebal padat untuk lapisan penetrasi macadam harus seperti yang ditentukan dan berada di dalam toleransi 1 cm. Pemeriksaan untuk ketebalan lapis perataan penetrasi macadam harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik. (e) Kerataan Permukaan Sewaktu Pemadatan Pada setiap tingkat pemadatan, kerataan permukaan harus dijaga. Material harus ditambah pada tiap tempat dimana terdapat penurunan. (f) Kerataan Pemadatan Agregat Kasar Kerataan harus diukur dengan menggunakan mistar penyipat yang panjangnya 3 meter. Penurunan dibawah permukaan tidak boleh lebih dari 8 mm (g) Sambungan memanjang dan melintang harus diperiksa dengan cermat.

Lalu Lintas
Penetrasi macadam boleh dibuka untuk lalu lintas 2 jam setelah penggilasan dan bentuk lalu lintas normal setelah 4 jam. Pengendalian lalu lintas harus memenuhi ketentuan-ketentuan dari seksi 1,8 spesifikasi ini. 6.6.7. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN (1) Pengukuran (a) Pekerjaan Minor Kwantitas penetrasi macadam untuk pekerjaan minor yang diukur untuk pembayaran harus merupakan volume padat yang dipasang, yang ditentukan atas dasar luas permukaan yang diukur dan tebal penetrasi macadam yang disetujui untuk setiap kelas perbaikan sebagai mana didefinisikan dalam seksi 8. Kontraktor harus menyimpan catatan dari luas dan tebal material penetrasi macadam dan kuantitas lapis perekat yang dipasang pada pekerjaan minor pada setiap Kilometer proyek. Catatan itu harus disampaikan ke Direksi Teknis secara mingguan. (b) Pelapisan Ulang (i) Kuantitas yang diukur untuk pembayaran dari Penetrasi Macadam Levelling (Permukaan yang digunakan untuk pelapisan ulang harus merupakan jumlah meter kubik meterian yang dipasang dan diterima yang dihitung sebagai hasil kali luas yang diukur yang dihitung sebagai hasil kali luas yang diukur dan diterima dan tebal nominal rancangan. (ii) Kuantitas yang diterima untuk pengukuran tidak boleh mencakup tempat-tempat dimana Penetrasi Macadam Levelling / Permukaan yang lebih tipis dari tebal minimum yang diterima atas bagian-bagian yang terlepas, terbelah retak, atau menipis sepanjang tepi perkerasan atau di tempat lain. (iii) Lebar daerah Penetrasi Macadam Levelling / Permukaan yang akan dibayar harus seperti yang tercantum dalam Gambar Rencana atau yang telah disetujui Direksi Teknik dan harus ditentukan dengan survey pengukuran yang dilakukan Kontraktor dibawah pengawasan Direksi Teknik. Pengukuran harus dilaksanakan tegak lurus pada sumbu jalan dan harus tidak boleh termasuk material yang tipis dan dengan kata lain tidak memuaskan sepanjang tepi Penetrasi Macadam Levelling yang dipasang. Jarak selang pengukuran memanjang harus seperti yang diperhatikan Direksi Teknik tetapi harus sama dan tidak boleh kurang dari satu untuk setiap 20 meter. Lebar yang digunakan untuk menghitung luas untuk

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

keperluan pembayaran untuk setiap bagian perkerasan yang diukur harus merupakan harga rata-rata dari pengukuran lebar yang diambil dan disetujui. (iv) Panjang Penetrasi Macadam Levelling / Permukaan sepanjang jalan harus diukur sepanjang sumbu jalan, dengan menggunakan prosedur survey tehnik standar. (2) Dasar Pembayaran Kwantitas yang diukur menurut ketentuan diatas, harus dibayar menurut harga kontrak per satuan pengukuran, untuk mata pembayaran yang tercantum dibawah ini dan dalam Jadwal Penawaran, dimana harga dan Pembayaran tersebut harus merupakan konpensasi penuh untuk menyediakan, menghasilkan mencapur dan memasang seluruh material, termasuk semua buruh, alat pengujian, alat-alat kecil dan hal-hal yang diperlukan untuk menyeleaikan pekerjaan seperti yang ditentukan dalam seksi ini. No Mata Pembayaran 6.6 Uraian Penetrasi Macadam Levelling / Permukaan Satuan Pengukuran Meter Kubik

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

SEKSI 6.7 PEMELIHARAAN DENGAN LABURAN 6.7.1. UMUM (1) Uraian Pekerjaan ini harus meliputi laburan permukaan dari tempat diperkerasan yang luasnya kecil dengan menggunakan aspal panas maupun aspal emulsi untuk menutup retakan, mencegah terlepasnya agregat, pemeliharaan agar tambalan dan perbaikan lubang menjadi kedap air, memelihara perkerasan aspal yang telah tua dan tujuan yang lain. (2) Standar Rujukan (AASHTO) M 140 82 : Aspal Emulsi M 208 81 : Aspal Emulsi Kationik M 226 80 : Kelas Aspal Semen berdasarkan Viskositas (3) Pembatasan oleh Cuaca Pemeliharaan dengan laburan setempat tidak boleh dilakukan pada perkerasan yang basah, selama hujan turun atau bila diperkirakan akan turun hujan. Pengikat aspal emulsi tidak boleh dipakai setelah jam 3 sore. Bila digunakan pengikat aspal panas suhu perkerasan tidak boleh kurang dari 25o C pada waktu aspal emulsi digunakan, sampai emulsi telah pecah seluruhnya. (4) Ketentuan-ketentuan untuk Lalu Lintas Tempat kerja yang harus ditutup untuk lalu lintas sementara pekerjaan sudah berjalan dan bila pengikat aspal emulsi digunakan, sampai emulsi telah pecah seluruhnya. MATERIAL (1) Umum Setiap material tidak boleh digunakan dalam pekerjaan sebelum disetujui oleh Direksi Teknik. (2) Agregat Penutup (a) Rujuk Pasal 6.2.2. (1) (a) (b) Rujuk Pasal 6.2.2. (1) (b) (c) Agregat penutup harus bersih dan bebas dari kotoran dan harus memenuhi salah satu batas ukuran dalam Tabel 6.7.3. (1) & (2). Ukuran nominal 10 atau 14 mm adalah lebih baik. (3) Material Taburan Material harus berupa butiran pasir atau abu batu yang dan harus bebas dari gumpalan atau bola tepung. (4) Material Aspal Aspal harus kelas AC 10 atau AC 20 yang memenuhi AASHTO M 226 80. Aspal Emulsi harus memenuhi AASHTO M 208 81 jenis CR2 atau AASHTO M 140 82 jenis RS2. Jenis-jenis lain yang sesuai dapat diperbolehkan untuk dipakai dengan persetujuan Direksi Tehnik. METODE PEMAKAIAN (1) Umum Perkerasan harus dibersihkan benar-benar dengan sapu atau kompressor. Tidak boleh ada genangan air pada perkerasan. Retakan yang lebar harus diperbaiki. Untuk semua laburan yang ditutup agregat kasar, dengan menggunakan emulsi standar, emulsi harus digunakan dengan dua lapis. Lapis pertama harus ditutup dengan agregat dan lapis kedua dengan material taburan. (2) Material Bahan Pengikat Metode pemakaian harus mendapat persetujuan tertulis dari Direksi Teknik dan harus diikuti dengan ketat. Penyemprot mesin harus mampu mencapai distribusi pengikat yang merata dengan menggunakan penyemprot tangan atau batang penyemprot. Atas kebijakan Direksi Teknik metode tangan boleh digunakan untuk aspal emulsi. Pemakaian dengan tangan harus menggunakan ember penyiram dengan dipasang lembar deflektor atau cara lain yang

6.7.2.

6.7.3.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

disetujui. Pengikat emulsi umumnya harus dipakai pada suhu udara. Bila digunakan emilsi dengan viskositas tinggi harus dipakai suhu yang disarankan oleh Pabrik pembuatnya. Dalam keadaan apapun emulsi tidak boleh dipakai pada suhu melebihi 90o C. Pengikat aspal panas harus disemprotkan pada 180o C. dalam keadaan apapun pengikat aspal panas tidak boleh dipanaskan lebih dari 190o C. takaran pemakaian pengikat harus sesuai dengan tabel 6.7.3. (1) atau 6.7.3 (2). (3) Pemakaian Agregat Agregat harus dihampar segera setelah pemakaian pengikat pertama. Agregat dapat dihampar dengan setiap metode yang sesuai (termasuk metode tangan) sampai mencapai lapisan yang rapat, merata dan setebal satu batu, tanpa adanya tempat yang masih tanpa penutup atau butiran yang bertumpuk. Agregat harus digilas dengan menggunakan mesin gilas roda karet yang sesuai atau mesin gilas roda baja dengan berat kotor tidak kurang dari satu Ton. (4) Pemakaian Emulsi Kedua Bila diperlukan pemakaian emulsi kedua, emulsi tidak boleh dipakai sebelum lapis pertama telah pecah seluruhnya dan setiap kelebihan agregat disapu. Tabel 6.7.3. (1) Takaran Pemakaian Nominal untuk Aspal Panas Ukuran Nominal 3 Agregat 10 14 20 (Pasir) (mm) LD nominal (mm) 4.1 7.1 6.4 9.7 8.6 13.7 Takaran Pemakaian 0,5 0.8 1.2 1.6 Aspal Residual 1/m2 Tabel 6.7.3. (2) Takaran Pemakaian Nominal untuk Aspal Emulsi Ukuran Nominal 3 Agregat 10 (Pasir) (mm) LD nominal (mm) 4.1 7.1 Jenis Emulsi (3) RS2 RS2 Atau CRS1 Atau CRS1 CRS2 CRS2 Pemakaian emulsi 0.6 0.6 1.0 0.6 Pertama 1/m2 Pemakaian emulsi 0.3 0.7 Pertama 1/m2 Total pemakaian 0.6 0.6 1.3 1.3 emulsi 1/m2 Perkiraan Total 0.4 0.4 0.8 0.8 Pemakaian Aspal Residual 1/m2 Jenis yang lebih v v baik

14 6.4 9.7 RS2 Atau CRS1 CRS2 1.0 0.6 0.7 1.7 1.1 1.2 1.8 1.1

20 8.6 13.7 RS2 CRS1 Atau CRS2 (2) 1.0 1.5 2.5 1.6 -

Catatan : (1) Takaran Pemakaian yang tercantum dalam tabel 6,7,3 (1) dan (2) diperiksa kebenarannya dan disesuaikan bila perlu oleh Direksi Teknik untuk setiap sumber agregat baru dengan melaksanakan sejumlah percobaan sebelum memulai pekerjaan pemeliharaan di jalan. (2) Tidak disarankan

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008

(3) Bila digunakan kelas emulsi lain diluar yang tercantum diatas, takaran pemakaian harus dipilih atas dasar bahwa total takaran pemakaian aspal residual paling tidak harus sama dengan nilai yang tercantum dalam Tabel 6,7,3 (2) (5) Pemakaian Material Taburan Bila diperlukan material taburan, maka material taburan harus dihampar secara merata segera setelah pemakaian emulsi yang kedua dan harus hanya cukup untuk menutup permukaan saja. Kelebihan material taburan harus dibuang dengan sapu setelah pemakaian emulsi kedua telah pecah seluruhnya. 6.7.4. PEMAKAIAN DAN PEMBAYARAN Tidak boleh ada pengukuran dan pembayaran di bawah Seksi ini. Kompensasi penuh untuk pekerjaan harus dibuat dibawah seksi 8.1 dan / atau 10.1 dari Spesifikasi ini.

Dokumen Lelang Pemkot Pasuruan 2008