Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN Rhinosinusitis atau secara populer dikenal sebagai sinusitis adalah penyakit peradangan mukosa yang melapisi

hidung dan sinus paranasal. Penyebab tersering adalah infeksi saluran nafas atas akibat virus yang disertai infeksi sekunder oleh bakteri patogen dari traktus respiratorius bagian atas.(1) Sinusitis baik yang akut maupun kronis, mempunyai prevalensi cukup tinggi di masyarakat. Data terbaru tahun 1999 dari bagian THT dan bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo, menunjukkan prevalensi sinusitis maksila akut yang cukup tinggi pada penderita ISNA anak-anak, yaitu 25 %. Angka ini adalah 2-3 kali lipat dari angka-angka di literatur luar negeri. Data lain dari sub bagian Rhinologi THT FKUI/RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo, juga menunjukkan angka sinusitis yang tinggi yaitu, 247 pasien (50 %) dari 496 pasien rawat jalan yang datang pada tahun 1996.(2) Sinusitis yang paling sering ditemukan adalah sinusitis maksila, diikuti dengan sinusitis etmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sfenoid.(3) Namun permasalahannya adalah bagaimana menegakkan diagnosa sinusitis maksilaris kronis dengan tujuan agar para klinisi dapat mengelola dengan baik dan tahu kapan harus merujuk ke dokter spesialis THT.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ANATOMI SINUS PARANASAL Sinus paranasal adalah rongga-rongga di dalam tulang kepala yang terletak sekitar hidung dan mempunyai hubungan dengan rongga hidung, melalui ostiumnya. Ada tiga pasang sinus yang besar, yaitu sinus maksila, sinus frontal, dan sinus sfenoid masing-masing kanan dan kiri. Sedangkan beberapa sinus dengan sel-sel kecil disebut sinus etmoid (anterior dan posterior). Tiap-tiap sinus melalui ostiumnya akan bermuara ke dinding lateral hidung.(4) Dinding lateral hidung merupakan organ penting karena di dalamnya berisi saluran-saluran sinus dan mempunyai tiga tonjolan tulang yang dilapisi mukosa, disebut konka superior, konka media, dan konka inferior. Diantara konka-konka tersebut terdapat rongga sempit yang disebut meatus, terdiri dari : Meatus superior Terletak diantara konka superior dan konka media. Merupakan muara dari sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. Meatus media Terletak diantara konka media dan konka inferior. Merupakan muara dari sinus frontal, sinus maksila, dan sinus etmoid anterior. Meatus inferior Terletak di bawah konka inferior. Merupakan muara duktus nasolakrimalis. Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, terdapat suatu daerah yang disebut kompleks ostiomeatal (KOM). Daerah ini sempit dan rumit. Terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang resesus unsinatus, resesus frontal, bula etmoid, dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya serta ostium sinus maksila. Seperti pada hidung dan bagian traktus respiratorius lainnya, sinus paranasal dilapisi oleh mukosa yang terdiri dari epitel torak berlapis semu bersilia. Diantara sel-sel tersebut terdapat sel goblet penghasil lendir. Di bawahnya terdapat tunika propria yang mengandung kelenjar seromukus. Sekresi sel goblet dan kelenjar ini membentuk palut lendir yang menutupi permukaan epitel. Silia dan palut lendir pada hidung dan sinus, merupakan sistem yang berfungsi untuk proteksi dan untuk melembabkan udara inspirasi yang disebut sebagai sitem mukosilier.(5) Silia akan selalu bergerak dengan teratur, sehingga mengalirkan lendir untuk dibuang dari hidung ke arah posterior, dan dari sinus-sinus menuju ostium alamiahnya, dengan jalur yang sudah tertentu polanya. Pada dinding lateral rongga hidung, terdapat 2 jalur transpor mukosilier dari sinus. Yaitu: 1) Jalur Pertama: Lendir dari sinus anterior yang bergabung di dalam infundibulum etmoid, dialirkan ke nasofaring, di depan muara tuba Eustachius.

2) Jalur Kedua: berasal dari kelompok sinus posterior, yang bergabung di resesus sfenoetmoidalis, dialirkan ke nasofaring, di sebelah posterosuperior muara tuba Eustachius. Inilah sebabnya mengapa pada sinusitis terdapat postnasal drip, yaitu ingus yang mengalir ke arah nasofaring, dari sinus-sinus akibat gerakan silia, tetapi belum tentu ada sekret di dalam rongga hidung. Dari nasofaring, lendir turun ke tenggorok, karena gaya berat atau akibat gerakan menelan.(6) Sinus maksila atau Antrum Highmore merupakan sinus paranasal yang terbesar. Bentuknya piramid, dengan apeks di prosesus zigomatikus dan basis di dinding lateral rongga hidung. Batasnya adalah: - dinding anterior : permukaan fasialis os maksilla - dinding posterior : fossa infra temporal dan pterigomaksila - dinding superior : dasar orbita - dinding inferior : prosesus alveolaris dan palatum (7)

B. FISIOLOGI SINUS PARANASAL Fungsi sinus paranasal adalah : 1. sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning) 2. untuk keseimbangan kepala 3. untuk menjaga suhu udara inspirasi 4. untuk resonansi suara Sinus yang sehat akan berisi udara serta kuman aerob dan anaerob. Fungsi sinus yang normal dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu fungsi silia normal, sekresi kelenjar yang adekuat, serta patensi ostium sinus. Kelainan pada salah satu fungsi tersebut akan mengarah pada sinusitis. Sekresi sel goblet dan kelenjar pada mukosa sinus akan membentuk lendir yang menutupi permukaan epitel, disebut mukus blanket yang berfungsi sebagai drainase, pertahanan, serta memberi kelembaban udara yang akan masuk ke sinus. Jika terdapat

partikel, benda asing, atau kuman yang masuk bersama dengan udara akan melekat pada mukus membran, kemudian akan terdapat sel lekosit PMN, sel mast, eosinofil, lisozym, dan imunoglobulin G di sekitarnya. Karena gerakan silia maka mukus membran akan bergerak secara alamiah ke arah ostium sinus menuju hidung. Aliran mukus membran di sinus maksila mulai dari dasar ke arah dinding depan, medial, posterolateral, dan atap sinus kemudian ke ostium sinus maksila. Semua mukus membran yang keluar dari ostium sinus akan mengalir ke nasofaring kemudian menuju arah orofaring, laringofaring dan selanjutnya mengalir ke dalam esofagus ikut dalam proses menelan. C. PATOGENESIS SINUSITIS Infundibulum etmoid dan prosesus frontal yang termasuk bagian dari KOM. Berfungsi sebagai serambi depan sinus maksila dan frontal, berperan penting pada patofisiologi sinusitis. Permukaan mukosa di tempat ini, berdekatan satu sama lain. Dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka, terjadi gangguan drainase dan ventilasi dari sinus maksila dan sinus frontal, sehingga akibatnya aktifitas silia terganggu dan terjadi genangan lendir. Sehingga lendir menjadi kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen. Bila sumbatan berlangsung terus, maka akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga bakteri anaerob pun akan berkembangbiak. Bakteri juga memproduksi toksin yang akan merusak silia. Selanjutnya, dapat terjadi perubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau terbentuk polip dan kista.(3,8)

Patogenesis sinusitis dapat digambarkan sebagai suatu siklus sinusitis : Adanya Faktor Predisposisi: a) Faktor Anatomi : - Deviasi septum - Konka hipertrofi b) Faktor Alergi : - Rinitis alergi c) Adanya massa : - Tumor Jinak: Polip nasi Angiofibroma - Tumor Ganas: Ca Nasofaring Edema mukosa cavum nasi & mukosa Kompleks Osteo Meatal ( KOM ) Sumbatan Kompleks Osteo Meatal (KOM)

Sekret terbendung

perubahan jaringan jadi hipertrofi dan polipoid

silia tidak dapat bergerak, lendir tidak dapat mengalir

toksin bakteri merusak silia

gangguan drainase & ventilasi sinus maksila

bakteri anaerob berkembang biak hipoksia & retensi lendir

perubahan lingkungan sebagai medium yang baik untuk pertumbuhan kuman di rongga tertutup

Sebagai faktor predisposisi terjadinya sinusitis adalah adanya deviasi septum, konka bulosa, konka hipertrofi, adenoid hipertrofi, polip, kista, jamur. Sedangkan etiologi sinusitis maksila dapat dibedakan menjadi : 1. Faktor rinogen, seperti deviasi septum nasi, benda asing, massa tumor, infeksi saluran napas atas. Sebagian besar sinusitis maksila disebabkan oleh faktor rinogen. 2. Faktor odontogen, terdapat pada 10 % sinusitis maksila. Penyebab tersering adalah ekstraksi gigi molar terutama molar 1 atas, karena tulang yang membungkus antrum maksila dan memisahkannya dari socket gigi sangat tipis. Penyebab lain adalah infeksi periapikal dan infeksi periodontal. D. DIAGNOSIS SINUSITIS MAKSILA Sinusitis dibedakan menjadi sinusitis akut (gejala berlangsung 1 hari sampai 12 minggu), sinusitis kronik (gejala lebih dari 12 minggu). Diagnosis sinusitis maksila ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 1. Anamnesis (gejala subyektif) Sinusitis akut : demam, rasa lesu, terdapat ingus kental kadang berbau pada rongga hidung dan dirasakan mengalir ke nasofaring. Hidung terasa tersumbat. Pada sinusitis maksila, rasa nyeri dirasakan di bawah kelopak mata kadang menyebar ke alveolus sehingga gigi terasa nyeri. Nyeri alih dirasakan di dahi dan di depan telinga. Sinusitis kronik : hidung terasa tersumbat dan mengeluarkan ingus yang kental dan berwarna kuning atau hijau. Dan kadang-kadang menyebabkan nafas berbau, disertai adanya ingus yang turun ke tenggorok. Sering disertai gangguan indera penciuman dan iritasi kronis pada tenggorok, yang menyebabkan batuk yang tidak sembuhsembuh. Biasanya, tidak ada rasa nyeri. Tetapi ada sakit kepala yang lokasinya tergantung sinus yang terkena. Dan sakit kepala ini lebih berat dirasakan, pada pagi hari sewaktu bangun tidur dan berkurang setelah melakukan aktivitas sehari-hari. 2. Pemeriksaan fisik (gejala obyektif) Sinusitis akut : - tampak pembengkakan di daerah muka. - nyeri tekan / nyeri ketok daerah pipi infraorbita - rinoskopi anterior : mukosa hiperemis, konka udem dan hiperemis, tampak sekret purulen/mukopurulen di meatus media. - rinoskopi posterior : post nasal drip (sekret di nasofaring). Sinusitis kronik : gejala obyektif tidak seberat sinusitis akut, serta tidak pembengkakan di daerah wajah. Dikatakan bahwa pada sinusitis, ada trias gejala: - Hidung tersumbat dan batuk produktif - Ingus di meatus medius - Post nasal drip(9,10) terdapat

3. Pemeriksaan penunjang - Transiluminasi (diafanoskopi) Dilakukan di kamar gelap, memakai sumber cahaya penlight yang dimasukkan ke dalam mulut dan bibir dikatupkan. Pada sinus normal tampak gambaran bulan sabit terang di infraorbita. Pada sinusitis tampak suram. - Pemeriksaan radiologik Dengan x foto sinus paranasal posisi waters dan caldwell, akan tampak penebalan mukosa (radioopaq), dapat disertai gambaran air fluid level pada sinus maksilaris. Pemeriksaan ini tidak dapat menampilkan kompleks ostiomeatal. - CT scan Gambaran sinus paranasal dan kompleks ostiomeatal tampak jelas. ini dilakukan jika dicurigai telah terdapat komplikasi sinusitis.

Pemeriksaan

- Pungsi sinus Pungsi sinus dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis dan untuk terapi. Kultur dilakukan pada sekret yang keluar dari pungsi ini. - Endoskopi (Sinoskopi) Pada saat dilakukan pungsi sinus melalui meatus inferior atau fosa kanina, trokar yang terpasang dihubungkan dengan endoskop. Menurut Saphiro dan Rachelefsky diagnosis klinis sinusitis berdasarkan 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor dengan 2 kriteria minor.(1) Kriteria mayor : 1. sekret hidung purulen, kental kuning atau kehijauan. 2. sekret nasofaring purulen, kental kuning atau kehijauan. 3. batuk kering/ produktif. Kriteria minor : 1. nyeri wajah, daerah pipi, sekitar kedua mata. 2. nyeri kepala. 3. nafas berbau yang diketahui oleh penderita/ orang lain. 4. sakit gigi waktu mengunyah/ spontan di daerah kaninus/ premolar. 5. sakit tenggorok yang dapat disertai keluhan nyeri telan. 6. demam, pada orang dewasa biasanya tidak tinggi. 7. nyeri telinga atau telinga terasa penuh.