Anda di halaman 1dari 28

PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PADA PENGADILAN NEGERI KELAS I-A PADANG

Disusun Untuk Memenuhi Nilai Uji Kompetensi Dasar III Matakuliah Hukum Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial

Disusun Oleh : RINALDI YUSHAR ROSADI (E0009291)

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PADA PENGADILAN NEGERI KELAS I-A PADANG A. LATAR BELAKANG Dalam kehidupan ini manusia mempunyai kebutuhan yang beraneka ragam, untuk dapat memenuhi semua kebutuhan tersebut manusia bekerja, baik pekerjaan yang diusahakan maupun bekerja pada orang lain. Bekerja pada orang lain maksudnya adalah bekerja dengan bergantung pada orang lain, yang member perintah dan mengutusnya, karena ia harus tunduk dan patuh pada orang lain yang memberikan pekerjaan tersebut.1 Hal ini melahirkan hubungan perburuhan. Menurut Charles D. Drake dalam Aloysius Uwiyono perselisihan antara pekerja/buruh karena didahului oleh pelanggaran hukum juga dan dapat terjadi karena bukan pelanggaran hukum. Perselisihan perburuhan yang terjadi akibat pelanggaran hukum pada umumnya disebabkan oleh karena: 1.) Terjadi perbedaan paham dalam pelaksanaaan hukum perburuhan. Hal ini tercermin dari tindakan pekerja/buruh atau pengusaha yang melanggar suatu ketentuan hukum. 2.) Tindakan pengusaha yang diskriminatif, misalnya jabatan, jenis pekerjaan, pendidikan, masa kerja yang sama tapi karena perbedaan jenis kelamin lalu diperlakukan berbeda. Sedangkan perselisihan perburuhan yang terjadi tanpa didahului oleh suatu pelanggaran, umumnya disebabkan oleh:

H. Zainal Asikin, Pengertian, Sifat dan Hakikat Hukum Perburuhan dalam Dasar-dasar Hukum Perburuhan, PT. Raja Grasindo Persada, 1993, hal. 1

a. b.

Perbedaan dalam menafsirkan hukum perburuhan Terjadi karena ketidaksepemahaman dalam bentuk perubahan syarat-syarat kerja.2

Sistem hukum perburuhan yang berkembang dari industrialisasi di Eropa abad ke-19, yang kemudian diadopsi oleh negara-negara lain di dunia, pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk menertibkan konflik antara majikan dan buruh kedalam suatu sistem rasionalitas legal. Teori-teori hukum positivis menekankan peran yang netral dari aturan-aturan dalam memelihara kepentingankepentingan dari semua kelompok kedalam apa yang didefenisikan sebagai aturan-aturan permainan (rules of the game). Sementara institusi pengadilan dan para hakimnya dipandang sebagai wasit atau pengawas dari aturan-aturan permainan ini.3 Peraturan perundangan yang berkaitan dengan proses penyelesaian perburuhan yang pernah diberlakukan di Indonesia adalah melalui UU Darurat Nomor 16 Tahun 1951 yakni melalui perantaraan, memberi putusan yang berupa anjuran kepada pihak-pihak yang berselisih. Jika usaha Menteri Perburuhan itu tidak berhasil, perselisihan diserahkan kembali kepada panitia pusat. Cara penyelesaian perselisihan perburuhan menurut UU No. 22 Tahun 1957 yang berpegang pada suatu asas musyawarah untuk mufakat dengan berpijak pada tahap pertama bila terjadi perselisihan penyelesaiannya diserahkan kepada para pihak yang berselisih. Dalam hal tidak dicapainya perdamaian antara pihak yang berselisih setelah dicari upaya penyelesaian para pihak maka baru diusahakan penyelesaiannya oleh Badan Penyelesaian Perburuhan.4

Lalu Husni, Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Melalui Pengadilan & Diluar Pengadilan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 41-42. 3 Surya Tjandra, Makalah tentang Pengadilan Hubungan Industrial di Indonesia, Quo Vadis? Beberapa Catatan dari Awal Ruang Sidang, disampaikan pada Current Issues on Indonesian Laws Conference, School of Law, The University of Washington, Seattle, Amerika Serikat, 28 Februari 2007, hal. 1. 4 Zaeni Asyhadie , op.cit, hal. 201

Di Indonesia, keberadaan pengadilan perburuhan yang dikenal dengan UU Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (UU PHI) telah disetujui dalam rapat paripurna DPR RI pada tanggal 16 Desember 2003. Tepat sebulan kemudian, tanggal 14 Januari 2004, UU PHI diundangkan oleh Presiden menjadi UU No. 2 Tahun 2004, dan akan berlaku secara efektif setahun kemudian. Spirit UU PHI No. 2 Tahun 2004 ini adalah menjamin penyelesaian perselisihan industrial menjadi adil, cepat dan murah. Itulah ungkapan yang keluar dari Menakertrans Erman Suparno dalam peresmian gedung PHI di Padang Sumatera Barat.5 Dengan berlakunya UU No. 2 Tahun 2004, maka UU No. 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan, dan UU No. 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja pada Perusahaaan Swasta dinyatakan tidak berlaku lagi. Ini berarti UU No. 2 Tahun 2004 menghapus sistem penyelesaian perselisihan melalui P4P/D (Panitia Perselisihan Perselisihan Perburuhan Pusat/Daerah). Dalam hal ini sistem P4P/D dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mekanisme penyelesaian perselisihan yang cepat, tepat, adil dan murah.6 Selain itu pemberlakuan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 dirasakan tidak lagi dapat menampung perkembangan masyarakat dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial, yang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut7: 1. Penyelesaian perselisihan di lingkungan Badan Usaha Milik

Negara/Badan Usaha Milik Daerah belum diatur dalam ketentuan tersebut.


5

Majalah Nakertrans Edisi 01-Februari 2006 dalam Agung Hermawan, Masih Adakah Keadilan Bagi Buruh, LBH Bandung, Fikri Print Production, April 2008, hal. 38. 6 Della Feby dkk, Praktek Pengadilan Hubungan Industrial: Panduan Bagi Serikat Buruh, TURC, Jakarta, 2007, hlm.2. 7 MSM Simanihuruk, Tanggungjawab Pemerintah dalam Menegakkan Peraturan dan Menjalankan Pengawasan atas Putusan Lembaga Penyelesaian dalam Perspektif Pengawasan , disampaikan pada Focus Group Discussion Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Hotel Cemara, tanggal 23-24 November 2005.

2. Hak-hak pekerja/buruh secara perorangan ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak dapat diakomodir untuk menjadi pihak dalam perselisihan hubungan industrial. 3. Tidak mengatur perselisihan antara Serikat Pekerja/Serikat Buruh dalam satu perusahaan. 4. Tidak menjamin rasa keadilan bagi pekerja/buruh dan pengusaha karena penyelesaian perselisihan yang ditawarkan hanya melalui jalur non litigasi. 5. Terkesan kuatnya campur tangan Pemerintah, dalam hal: a. Veto Menteri Adanya kewenangan Menteri untuk menunda atau membatalkan putusan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P) melalui Hak Veto berdampak pada terbentuknya paradigma masyarakat tentang besarnya campur tangan pemerintah yang seharusnya dikurangi. b. Hanya ada Pegawai Perantara di bagian Hubungan Industrial dan Syarat- Syarat Kerja yang berasal dari Pegawai Negeri Sipil (tidak memberikan alternatif pilihan penyelesaian melalui konsiliasi dan arbitrase) 6. Keanggotaan P4P dan P4D diangkat tanpa seleksi yang menimbulkan asumsi bahwa lembaga P4D dan P4P tidak independen. PHI merupakan Pengadilan khusus yang berada pada lingkup peradilan umum atau biasa disebut Pengadilan Negeri.8 Sebagaimana disampaikan oleh Ketua MA Bagir Manan, pengertian Pengadilan khusus disini bukan hanya dari obyek perkara yang adalah sengketa perburuhan dalam hubungan perburuhan,

Pasal 55 UU No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 6 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4356.

tetapi juga dari segi susunan majelis hakim yang terdiri hakim biasa (karir) dan hakim ad hoc (ahli), cara-cara beracara khusus seperti tidak adanya upaya hukum banding dan penjadwalan waktu penyelesaian perkara yang terbatas.9 UU No. 2 Tahun 2004 merombak total sistem penyelesaian perburuhan yang telah ada sebelumnya. UU ini membagi perselisihan industrial menjadi empat macam, yaitu perselisihan hak, perselisihan kepentingan, perselisihan PHK, dan perselisihan antar serikat buruh dalam satu perusahaan. Meski pada tahap awal penyelesaian perselisihan diisyaratkan harus menempuh mekanisme bipartit, namun pembagian keempat macam perselisihan ini membawa konsekuensi yang berbeda satu sama lain dalam tahap penyelesaian berikutnya.10 PHI pada PN. Kelas I-A Padang sejak tahun 2006-2010 telah menerima 105 perkara perselisihan hubungan industrial, 101 perkara PHK, 1 perkara perselisihan hak, 1 perselisihan kepentingan, 2 perkara perlawanan. Walaupun telah disyaratkan sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya PHK, namun fakta yang terjadi justru sebaliknya. Di PHI pada PN. Kelas IAPadang, dari 4 (empat) jenis sengketa hubungan industrial, sengketa PHK-lah yang mendominasi perkara yang masuk. Didorongnya perselisihan perburuhan ke ranah formal pada sebuah lembaga penyelesaian perselisihan perburuhan, mau tidak mau memaksa pekerja maupun pengusaha untuk menempuh jalur tersebut, sehingga perlu untuk mengukur keefektifan jalur penyelesaian perselisihan perburuhan di lembaga penyelesaian hubungan industrial dengan mengaitkannya dengan ketentuan Pasal 4 ayat 2 UU No.4 Tahun 2004 tentang Kehakiman yang menyatakan: Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan.

Website Tempo Interaktif, http://www.tempointeractive.com, terakhir dikunjungi 26 Mei 2013 Pk. 13.15 WIB. 10 Dela Feby dkk, op.cit, hal.3.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana praktik Pemutusan Hubungan Kerja oleh Pengusaha yang diselesaikan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas I-A Padang? 2. Bagaimana efektivitas Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas I-A Padang dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial di Sumatera Barat?

D. Pembahasan 1. Hubungan Industrial dan Perselisihannya a. Hubungan Industrial Di Indonesia konsep hubungan Industrial yang dianut adalah Hubungan Industrial Pancasila (HIP) yang lahir dari hasil Lokakarya Nasional yang diselenggarakan dari tanggal 4 sampai 7 Desember 1974 dan diikuti oleh wakil dari organisasi buruh/pekerja, organisasi pengusaha, wakil pemerintah, dan unsur perguruan tinggi. HIP adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara pelaku dalam proses produksi barang dan jasa yang didasarkan atas nilai-nilai yang merupakan manifestasi dari keseluruhan sila-sila dari Pancasila dan UUD 1945, yang tumbuh dan berkembang diatas kepribadian bangsa dan kebudayaaan nasional Indonesia.11 Hubungan Industrial pada dasarnya adalah proses terbinanya komunikasi, konsultasi musyawarah serta berunding ditopang oleh kemampuan dan komitmen yang tinggi dari semua elemen yang ada dalam perusahaan. Undang-undang ketenagakerjaan telah mengatur prinsip-prinsip dasar yang perlu kita kembangkan dalam bidang hubungan industrial. Arahnya adalah untuk menciptakan sistem dan kelembagaan yang ideal, sehingga tercipta kondisi kerja yang produktif, harmonis, dinamis, dan berkeadilan.12 Dalam dalam era industrialisasi, masalah perselisihan hubungan industrial menjadi semakin meningkat dan kompleks, sehingga diperlukan institusi dan mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang cepat, tepat, adil, dan murah13. Oleh karena Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta sudah tidak sesuai
11 12

Lalu Husni, op.cit, hal 23 Adrian Sutedi, Hukum Perburuhan, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal 23 13 Landasan menimbang huruf b UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.

dengan kebutuhan masyarakat, maka lahirlah Undang-undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselesihan Hubungan Industrial. b. Perselisihan Hubungan Industrial. Perselisihan yang terjadi antara pihak-pihak dalam sebuah perusahaaan dalam dunia kerja disebut Perselisihan Hubungan Industrial (PHI). PHI secara ringkas dapat diartikan sebagai perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja atau serikat pekerja.14 Dalam ketentuan Pasal 1 angka 1 UU No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Perselisihan Hubungan Hubungan Industrial Industrial adalah (UU PPHI) disebutkan yang

perbedaan

pendapat

mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja/ buruh atau serikat pekerja/serikat buruh karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan. 2. Proses Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di lembaga Penyelesaian Hubungan Industrial Apabila pada tahap mediasi atau konsiliasi tidak tercapai kesepakatan, maka salah satu pihak dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial. Pengadilan Hubungan Industrial adalah Pengadilan khusus yang berada pada lingkungan peradilan umum. Pengadilan Hubungan Industrial bertugas dan berwenang, memeriksa dan memutus: a. di tingkat pertama mengenai perselisihan hak; b. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan kepentingan;

14

Libertus Jehani, Hak-hak pekerja Bila di PHK, Visi Media, Jakarta, 2006, hal.11

c. di tingkat pertama mengenai perselisihan pemutusan hubungan kerja; d. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan (Pasal 56 UU PPHI). Susunan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri terdiri dari: a. Hakim; b. Hakim Ad-Hoc; c. Panitera Muda; dan d. Panitera Pengganti. Susunan Pengadilan Hubungan Industrial pada Mahkamah Agung (MA) terdiri dari: a. Hakim Agung; b. Hakim Ad-Hoc pada Mahkamah Agung; dan c. Panitera. (Pasal 60 UU PPHI) Hukum acara yang berlaku pada Pengadilan Hubungan Industrial adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, kecuali yang diatur secara khusus dalam UU PPHI (Pasal 57 UU PPHI). Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial melalui Pengadilan Hubungan Industrial tidak membuka kesempatan untuk mengajukan upaya banding ke Pengadilan Tinggi. Putusan Pengadilan Hubungan Industrial yang menyangkut perselisihan hak dan perselisihan PHK dapat langsung dimintakan kasasi ke MA. Sedangkan menyangkut perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat pekerja/SB dalam satu perusahaan merupakan putusan tingkat pertama dan terakhir yang tidak dapat dimintakan kasasi ke MA.

Secara singkat prosedur pengajuan gugatan dan persidangan di PHI sebagai berikut15: a. Gugatan diajukan ke PHI yang daerah hukumnya meliputi tempat domisili pekerja. b. Gugatan harus dilampiri dengan risalah penyelesaian melalui mediasi atau konsiliasi. Jika risalah tidak disertakan Pengadilan wajib mengembalikan gugatan kepada penggugat. c. Gugatan harus mencantumkan pokok-pokok persoalan yang menjadi perselisihan beserta identitas para pihak dan dokumen yang menguatkan gugatan. d. Apabila perselisihan tersebut menyangkut perselisihan hak/ kepentingan yang diikuti dengan perselisihan pemutusan hubungan kerja, pengadilan hubungan industrial memutuskan terlebih dahulu perkara perselisihan hak atau kepentingan (Pasal 87 UU PPHI). e. Apabila proses beracaranya adalah proses cepat sesuai permohonan tertulis salah satu pihak maka dalam tujuh hari kerja setelah permohonanditerima, Ketua PN mengeluarkan penetapan tentang dikabulkan atau ditolaknya permohonan tersebut. Bila permohonan dikabulkan ketua PN dalam jangka waktu tujuh hari kerja setelah keluar penetapan menentukan majelis hakim, hari, tempat, dan waktu sidang tanpa prosedur pemeriksaan. Tenggat waktu untuk jawaban dan pembuktian kedua belah pihak masing-masing ditentukan tidak melebihi 14 hari kerja (Pasal 98 dan Pasal 99 UU PPHI). f. Apabila dengan proses acara biasa, maka dalam waktu paling lama tujuh hari kerja setelah penetapan majelis hakim, Ketua majelis akan melakukan sidang pertama.
15

Libertus Jehani, Op.Cit, hal. 25-26

g. Apabila dalam sidang pertama secara nyata-nyata pengusaha terbukti tidak melaksanakan kewajibannya untuk membayar upah serta hak-hak lainnya selama menunggu penyelesaian PHK, hakim Ketua sidang segera menjatuhkan putusan sela yang memerintahkan pengusaha untuk membayar upah beserta hak-hak lainnya yang biasa diterima pekerja yang bersangkutan. h. Apabila pengusaha mengabaikan putusan sela tersebut maka hakim ketua sidang memerintahkan sita jaminan dalam sebuah penetapan Pengadilan Hubungan Industrial. Putusan sela tersebutpun tidak dapat diadakan upaya perlawanan atau upaya hukum (Pasal 96 UUPPHI). i. Selambat-lambatnya 50 hari kerja sejak sidang pertama Majelis Hakim memberikan putusannya. j. Putusan Majelis Hakim tentang perselisihan kepentingan dan

perselisihan antar pekerja dalam satu perusahaan bersifat final. Sedangkan putusan Majelis hakim Pengadilan Hubungan Industrial mengenai perselisihan hak dan PHK mempunyai kekuatan hukum yang tetap apabila dalam waktu 14 hari kerja tidak diajukan permohonan kasasi oleh pihak yang hadir atau 14 hari kerja setelah putusan diterima oleh pihak yang tidak hadir. 3. Prosedur PHK Oleh Pengusaha PHK yang dilakukan oleh Pengusaha harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam ketentuan Pasal 151 UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dinyatakan: a. Pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah, dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja.

b. Dalam hal segala upaya telah dilakukan, tetapi pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindari, maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh. c. Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) benarbenar tidak menghasilkan persetujuan, pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. Sementara ketentuan Pasal 152 UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengisyaratkan: (1) Permohonan penetapan pemutusan hubungan kerja diajukan secara tertulis kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial disertai alasan yang menjadi dasarnya. (2) Permohonan penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diterima oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial apabila telah dirundingkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat (2). (3) Penetapan atas permohonan pemutusan hubungan kerja hanya dapat diberikan oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial jika ternyata maksud untuk memutuskan hubungan kerja telah dirundingkan, kesepakatan. PHK tanpa penetapan sebagaimana dimaksud Pasal 151 ayat 3 batal demi hukum (Pasal 155 ayat 1 UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan). Pengusaha maupun pekerja/buruh harus tetap melaksanakan kewajibannya selama belum adanya penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial tetapi perundingan tersebut tidak menghasilkan

(Pasal 155 ayat 2 UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan). Pengusaha dapat melakukan penyimpangan selama proses PHK berlangsung dengan menjatuhkan skorsing pada pekerja/buruh dengan tetap membayar upah beserta hak-hak lainnya yang biasa diterima buruh (Pasal 155 ayat 3 UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan). Perkara perselisihan hubungan industrial yang masuk di PHI pada PN. Kelas I-A Padang dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 1. Gambaran Umum Jumlah Perkara Perselisihan Hubungan Industrial tahun 2006-2010 di PHI pada PN. Kelas I-A Padang
Tidak Termasuk Jenis Perselisihan Jumlah PHK Hak Kepentingan Antar SP/SB Dalam Satu Perusahaan Perlawanan Terhadap Sita

Jenis Perselisihan No. Tahun

2006

19

20

2007

16

18

2008

29

30

2009

19

19

2010

18

18

Jumlah Total = 105

Sumber: PHI pada PN. Kelas I-A Padang

Dari tabel-tabel diatas tampak bahwa perkara PHK sangat dominan dengan jumlah 101 perkara, 98 perkara PHK dilakukan oleh Pengusaha secara sepihak, 2 kasus PHK yang diminta oleh Pekerja/buruh dengan alasan Pengusaha melanggar

ketentuan Pasal 169 Ayat (1) huruf C UU No. 13 tahun 2003 yang yang pada intinya menyatakan karena pengusaha tidak membayar upah tepat pada waktu yang telah ditentukan selama 3 (tiga) bulan berturut-turut atau lebih, pekerja/buruh dapat mengajukan gugatan ke lembaga PPHI dan 1 perkara PHK yang diajukan Pengusaha. Dari 105 perkara tersebut, 6 diantaranya masih diperiksa di Mahkamah Agung Republik Indonesia (MARI) yaitu 1 (satu) perkara tahun 2008 atas nama Ermawati Cs berhadapan dengan YSO Adabiah (masih dalam proses Peninjauan Kembali), 4 (empat) perkara tahun 2009 yaitu Khairul Bakri CS berhadapan dengan PT. Basko Minang Plaza (masih dalam proses Peninjauan Kembali), Hendri Marizal CS berhadapan dengan PT. Basko Minang Plaza (masih dalam proses Peninjauan Kembali), Mohd. Ihsan berhadapan dengan Yayasan RS Islam (Yarsi) Sumbar (masih dalam proses Peninjauan Kembali), Firsta Cs berhadapan dengan Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional (masih dalam proses Peninjauan Kembali), 1 (satu) perkara tahun 2010 yaitu Tisna Refianti berhadapan dengan PT. BPR Sungai Puar (masih dalam proses kasasi).16 Adapun alasan-alasan PHK yang dilakukan oleh Pengusaha dari kasuskasus yang masuk di PHI pada PN. Kelas I-A Padang adalah: 1. Ada rasa suka dan tidak suka; 2. Pengusaha kurang memahami UU No. 13 tahun 2003 dan UU No. 2 tahun 2004; 3. Pekerja dianggap melanggar disiplin kerja; 4. Efisiensi; 5. Tanpa ada kesalahan; 6. Tidak harmonis lagi hubungan kerja;
16

Data PHI pada PN. Kelas I-A Padang pertanggal 13 Juli 2011

7. Ketidakpuasan pengusaha; 8. Dikualifikasikan mengundurkan diri oleh perusahaan; 9. Tidak menjalankan tugas; 10. Pekerja melakukan kejahatan diperusahaan; Dari 10 (sepuluh) alasan diatas, jika ditarik secara umum, maka hanya 2 alasan PHK dengan penetapan yang sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu dengan alasan efisiensi dan alasan pekerja/buruh melanggar disiplin kerja/peraturan perusahaan/perjanjian bersama. Sedangkan alasan PHK tanpa penetapan ada 2 yaitu pekerja/buruh mangkir dan melakukan tindak pidana. Alasan-alasan lain yang mengemuka sama sekali bukanlah alasanalasan sebagaimana maksud UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. PHK dengan alasan efisiensi yang dilakukan pengusaha tidak dilakukan tertulis. PHK dengan alasan efisiensi membawa konsekwensi pengusaha harus membayar uanga pesangon 2 kali lipat kepada pekerja/buruh. Sehingga menjadi hal yang bisa dimaklumi kenapa kemudian pengusaha enggan untuk membuat SK PHK secara tertulis, apalagi didalam SK PHK dicantumkan perusahaan memPHK karena sedang melakukan efisiensi. Pengusaha biasanya akan membantah dengan keras jika dianggap telah melakukan PHK dengan alasan efisiensi. Didalam praktek pengusaha biasanya melakukan PHK sepihak, tanpa terlebih dahulu meminta penetapan ke lembaga PPHI, namun justru pihak pekerja yang dominan mengajukan gugatan ke PHI pada PN Kelas I-A Padang. Tercatat hanya 2 kasus PHK yang diajukan oleh Pengusaha dalam kurun waktu 2006 sampai dengan 2010. Pekerja/buruh yang menempuh jalur sampai ke PHI pada PN. Kelas I-A Padang mempunyai berbagai macam alasan, antara lain: 1. SK berhenti tidak sesuai dengan ketentuan yang ada;

2. Merasa tidak ada kesalahan; 3. Tidak diberi tugas/jadwal. 4. Menuntut hak dan mengembalikan nama baik. 5. Pekerja merasa dirugikan dan dibodoh-bodohi. 6. Diberhentikan secara lisan tanpa ada uang pesangon karena dianggap melakukan kesalahan berat; 7. Gaji tidak dibayar oleh Pengusaha diiringi dengan tidak boleh masuk kerja.26 8. Menuntut hak dan kepastian hukum. Dari perkara yang masuk di PHI pada PN. Kelas I-A Padang, lamanya proses sampai dilaksanakannya putusan bervariasi. Jika terjadi perdamian, perkara perselisihan hubungan industrial di PHI pada PN Kelas I-A Padang bisa selesai dalam waktu sangat singkat, yaitu 6 hari. Sedangkan jika tidak, maka bisa memakan waktu bertahun-tahun. Sebagai contoh perkara No. 27/G/2008/ PHI.PDG, mendaftarkan gugatan sejak tanggal 5 September 2008 dan sidang pertama tanggal 16 September 2008 sampai saat ini masih menunggu hasil putusan peninjauan kembali yang baru diajukan pengusaha pada tanggal 3 Maret 2011. Demikian juga dengan Firsta Cs yang 3 kali mengajukan gugatan, dengan 2 kali membayar panjar biaya perkara karena nilai gugatannya diatas Rp. 150 juta. Gugatan pertama pada tanggal 22 Februari 2008, gugatan kedua pada tanggal 29 Agustus 2008, kedua gugatan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima. Pada gugatan ke-3 yang diajukan pada 23 Desember 2009, Firsta Cs memenangkan gugatannya. Perkara inipun saat ini masih dalam pemeriksaan peninjauan kembali yang dilakukan pengusaha pada tanggal 8 Maret 2011.

4. Efektivitas PHI pada PN. Kelas I-A Padang dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial dihubungkan dengan asas sederhana, cepat dan biaya ringan. Pasal 4 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman menyatakan Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Selanjutnya penjelasan pasal 4 ayat 2 menyebutkan yang dimaksud dengan sederhana adalah pemeriksaan dan penyelesaian perkara dilakukan dengan acara yang efisien dan efektif. Yang dimaksud dengan biaya ringan adalah biayaperkara yang dapat terpikul oleh rakyat Namun demikian, dalam pemeriksaan dan penyelesaian perkara tidak mengorbankan ketelitian dalam mencari kebenaran dan keadilan, pengertian cepat diartikan berkaitan dengan proses beracara yang dapat dilaksanakan secepat mungkin. Kemudian Pasal 5 ayat (2) menyatakan Pengadilan membantu pencari keadilan dengan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk tercapainya peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan. Praktik penyelesaian perselisihan hubungan industrial di PHI pada PN. Kelas I-A Padang secara teori memang menciptakan kepastian hukum, namun jika dihubungkan dengan asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan maka masih banyak kekurangannya. Secara umum praktik penyelesaian perselisihan hubungan industrial di PHI pada PN. Kelas I-A Padang jika dihubungkan dengan asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan dapat dilihat sebagai berikut: a. Tahap pra pendaftaran gugatan Karena proses penyelesaian perselisihan di PHI pada PN Kelas I-A Padang sudah masuk ke ranah hukum formil, maka para pihak biasanya mengajukan secara tertulis. Walaupun gugatan dapat diajukan secara lisan (Pasal 144 R.bg hanya memperbolehkan gugatan lisan diajukan hanya oleh orang yang tidak dapat menulis, tidak dapat diajukan oleh

kuasanya), namun dari seluruh gugatan perkara perselisihan yang masuk di PHI pada PN Kelas I-A Padang, semuanya diajukan secara tertulis. Bagi seorang buruh, untuk memformulasikan gugatan bukanlah persoalan yang gampang, walaupun berlatarbelakang pendidikan sarjana hukum. Proses ini dianggap jauh dari sederhana oleh para buruh, bahkan sangat menyulitkan. Hal ini bisa diatasi dengan membayar jasa seorang advokat, namun hal tersebut juga tidaklah menjamin, karena walaupun telah didampingi Advokat masih saja perkara yang gugatannya tidak dapatditerima (NO/Niet van Onkelijke). NO-nya perkara tersebut bukanlah karena masalah substansi, hal yang seharusnya tidak perlu terjadi. b. Tahap pendaftaran gugatan Gugatan yang telah disusun oleh penggugat kemudian didaftarkan ke PHI pada PN Kelas I-A Padang dengan dibubuhi materai Rp. 6000,-. Biasanya gugatan difotokopi sekian rangkap (minimal 6 rangkap) dengan melampirkan risalah mediasi/konsoliasi maupun anjuran mediator/konsiliator. Untuk gugatan yang nilai ganti ruginya dibawah Rp. 150 juta, maka tidak akan dikenakan biaya, namun jika nilai ganti ruginya melebihi Rp. 150 juta, maka penggugat harus mengeluarkan biaya. Bagi seorang buruh hal ini sangat memberatkan, sehingga mereka cenderung untuk memecah gugatannya menjadi 2 atau lebih gugatan. Hal ini malah menimbulkan masalah baru, proses menjadi tidak sederhana. Disamping itu belum tentu putusannya akan sama pula. c. Tahap persidangan (pembacaan gugatan sampai putusan) Pada tahap ini para pihak akan hadir dipersidangan 2 kali seminggu. Untuk pihak-pihak berperkara yang berdomisili di Kota Padang, biaya yang dikeluarkan untuk transportasi jauh lebih sedikit daripada mereka yang berdomisili di luar Kota Padang. Disamping adanya biaya

transportasi yang lebih, jarak tempuh yang jauh juga menjadi sebuah hal yang terasa sangat memberatkan buruh/pekerja. Proses beracara selanjutnya adalah acara jawab menjawab, setelah gugatan dibacakan, maka tergugat akan mengajukan jawaban. Tahap ini adalah salah satu tahap yang menentukan, karena jawaban tersebut bisa saja berdampak gugatan penggugat dinyatakan NO. Setelah jawaban, acara selanjutnya adalah replik dan duplik. Bagi pekerja/buruh yang tidak didampingi Advokat maka hal ini akan terasa menyulitkan. Hal iniberimpilikasi kepada pertimbangan putusan karena hakim akan sulit membuat pertimbangan hukum untuk membuat putusannya. Selanjutnya para pihak akan mengajukan alat-lat bukti tertulis sebagai salah satu pembuktian. Pada agenda ini bukti-bukti yang akan diajukan terlebih dahulu difotokopi, diberi materai dan stempel di kantor pos. Kemudian dilegalisir dibagian kepaniteraan PHI pada PN Kelas I-A Padang. Setelah itu diperlihatkan kepada majelis hakim untuk dicocokkan dengan yang aslinya. Pada proses ini juga ada biaya yang harus dikeluarkan oleh para pihak, walaupun telah digariskan tidak dikenakan biaya untuk gugatan yang nilai gantiruginya kurang dari Rp. 150 juta. Para pekerja/buruh sering kesulitan dalam proses ini, disamping karena tidak mempunyai sistim dokumentasi yang baik, mereka juga bingung akan mengajukan bukti tertulis yang dapat mendukung dalil-dalil positanya. Kalupun ada mereka juga bingung tentang cara pengajuan ke persidangan walaupun telah diberi arahan oleh majelis hakim. Demikian juga pada saat pengajuan saksi, pekerja buruh juga akan kesulitan untuk menghadirkan saksi, kalaupun ada, mereka juga kesulitan untuk mengajukan pertanyaanpertanyaan kepada saksi.

Selajutnya para pihak akan mengajukan kesimpulan terhadap seluruh rangkaian proses persidangan secara tertulis. Walaupun tidak

diwajibkan untuk menyerahkan kesimpulan, namun bagi pihak yang membuat, proses ini juga terasa menyulitkan. Walaupun telah digariskan bahwa perkara yang disidangkan harus diputus 50 hari kerja sejak persidangan pertama, namun faktanya di PHI pada PN Kelas I-A Padang masih ada perkara yang diputus melebihi waktu tersebut. Belum lagi jika ada upaya hukum sampai dengan Peninjauan Kembali, sebuah perkara bisa memakan waktu bertahuntahun untuk memperoleh sebuah kepastian hukum. d. Tahap eksekusi Setelah perkara memiliki kekuatan hukum tetap, maka pihak yang dimenangkan akan mengajukan eksekusi. Jika eksekusi bisa dilakukan secara damai, maka hal tersebut tidaklah akan berlangsung rumit, sebaliknya jika pihak yang dikalahkan tidak mau melaksanakan eksekusi, maka proses selanjutnya akan rumit. Berikut ini pendapat para pihak berkaitan dengan efektivitas PHI dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial: 1. Basrul Efendi, Juru sita PHI pada PN Kelas I-A Padang Keberadaan PHI lebih menguntungkan bagi pekerja dari segi waktu karena jangka waktunya ditentukan. Dari segi biaya, nilai gugatannya yang kurang dari Rp.150.000,-biaya ditanggung oleh negara. Di PHI nilai kompensasi lebih banyak menguntungkan pekerja. Di P4D dan P4P justru sebaliknya, nilai kompensasi pesangon lebih banyak menguntungkan pengusaha.

2. Hendri Marizal, Pekerja. Secara subtansi bisa menyelesaikan persoalan, Cuma untuk jangka waktu terlalu lama, apalagi kalau ada upaya hukum. Tentu akan berdampak terhadap nilai uang/pesangon. Kalau nilai Rp. 20 jt hari ini tentu tidak akan sama dengan nilai 20 juta dua tahun yang akan datang. Jadi harapannya agar bisa dikenakan denda. 3. Dwi Gusnayati, Pekerja. Dari segi waktu lama, apalagi ada upaya hukum. Ada biaya yang harus dikeluarkan, biaya leges, biaya sumpah dan biaya bolak-balik sidang, tapi demi harga diri semuanya tidak ada masalah. 4. Desmon Ramadhan, Kuasa Hukum Pengusaha Dari segi waktu agak lama, soal biaya misalnya harus ada biaya untuk HRD yang mewakili pengusaha, terlebih jika pengusaha menggunakan jasa advokat. Sementara jika menggunakan sistem yang lama P4D, bisa satu-dua kali sidang putus. 5. Amiruddin, Kuasa Hukum Pengusaha. Dari segi waktu cukup efektif karena ada jangka waktu 50 hari harus diputus, dari segi biaya juga karena nilai gugatan dibawah Rp. 150 juta, ditanggung negara. Secara umum hakimnya cukup fair karena memberikan kesempatan yang sama terhadap para pihak. 6. Firsta, Pekerja. Dari segi waktu tidak efektif apalagi kalau ada upaya hukum, keindependenan hakim adhoc tidak terjaga, karena lebih condong memihak dari unsur mana hakim tersebut berasal, yang terlihat dari pertanyaaan-pertanyaan yang dilontarkan, tapi yang menguntungkan proses di Pengadilan ini lebih transparan ketimbang waktu P4D.

7. Alvian, Pekerja. Dari segi waktu agak lama dan agak berbelit-belit, kadang pihak datang, terus tidak datang. 8. Bambang Irawan, Pekerja. Dari segi waktu agak lama, tidak perlu ada daluarsa untuk mengajukan gugatan terhadap perkara PHK, karena merugikan pekerja. 9. Adri, Hakim Adhoc PHI pada PN Kelas I-A Padang Keberdaaan PHI sudah efektif, tapi pemahaman pekerja dan pengusaha masih kurang, misalnya soal biaya 10. Amjelvis, Hakim Adhoc PHI pada PN. Kelas I-A Padang Dari segi waktu, cukup efektif karena ada jangka waktu misalnya 50 hari di PHI, 30 hari di MA. Jadi waktunya lebih cepat dari P4D/P4P. Tapi seharusnya MA memprioritaskan kasus yang masuk, setelah PHI ada, baru dilanjutkan dengan kasus limpahan P4D/P$P. Ada kasus yang NO, seharusnya ini tidak terjadi karena menurut saya kadang bukanlah hal yang substansi sehingga seharusnya ada proses dismisal proses. 11. Masri, Hakim Adhoc PHI pada PN. Kelas I-A Padang Dari segi waktu cepat dan efektif walaupun kadangkala ada kendala misalnya soal barang yang akan dieksekusi, buruh /pekerja tidak tahu sehingga tidak bisa dieksekusi. 12. Syahrial Yakub, Hakim Adhoc PHI pada PN. Kelas I-A Padang Dari segi aturan waktu cukup efektif, di PHI 50 hari, di MA 30 hari. Tapi dalam praktek selesainya perkara bisa 1-2 tahun. Kelebihan lain di PHI kepastian hukum didapat, di P4D/P4P kepastian hukum sulit didapat.

13. Rusdi Zein, Kuasa Hukum Pengusaha. PHI tidak efektif karena prosesnya lama, biaya yang harus dikeluarkan juga tinggi. Seharusnya Penyelesaian hubungan indusrial kembali pada cara yang lama, melalui mekanisme P4D/P4P, dengan catatan hak veto menteri dihilangkan. Pada P4D/P4P terdapat semua komponen, dari pekerja, pengusaha dan pemerintah. Dari segi biaya lebih murah karena tidak ada biaya untuk hakim dan biaya lain. Waktu pemeriksaan lebih cepat, paling lama 2 kali sidang. Selain itu, jika kita berbicara soal sengketa maka yang paling menonjol yang harus dikedepankan adalah aspek keadilan bagi buruh dan pengusaha. Ada beberapa hal berkaitan dengan efektivitas PHI pada PN. Kelas I-A Padang jika dikaitkan dengan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan yaitu: 1. Proses penyelesaian perselisihan di PHI pada PN. Kelas I-A Padang yang mengacu pada hukum acara bukanlah sebuah proses yang sederhana. Seluruh rangkaian proses sejak membuat dan mendaftarkan gugatan sampai adanya proses eksekusi bahkan sampai pelelangan menimbulkan kesulitan bagi pihak-pihak yang berpekara, terutama pihak pekerja. Bahkan majelis hakim yang memeriksa perkara-pun merasa kesulitan ketika akan membuat pertimbangan-pertimbangan putusan jika yang berperkara sama sekali tidak didampingi oleh kuasa hukum. Disisi lain, penyelesaian perselisihan di PHI pada PN. Kelas I-A Padang lebih terasa transparan, putusannyapun cenderung sesuai dengan peraturanperundangan (berkaitan dengan uang pesangon), berbeda dengan P4D yang terasa lebih sederhana tapi tidak transparan dan putusannya lebih banyak menguntungkan pengusaha. 2. Walaupun penyelesaian perselisihan di PHI pada PN. Kelas I-A Padang secara teori dibatasi oleh UU PPHI selama 50 hari kerja sejak sidang pertama harus diputus dan ditingkat MA diputus 30 hari kerja sejak ada

permohonan, namun pada prakteknya masih ada perkara yang diputus lebih dari 50 hari kerja sejak sidang pertama. Disamping itu, jika ada upaya hukum, proses administrasi di PHI pada PN. Kelas I-A Padang dan MA berkaitan dengan pengiriman dan pendaftaran berkas perkara memakan waktu lebih lama. Jika perkara sampai pada upaya Peninjauan Kembali, maka akan memakan waktu bertahun-tahun. 3. Dalam teori untuk nilai gugatan di bawah Rp. 150 juta tidak akan dikenakan biaya, namun prakteknya masih ada biaya-biaya yang harus dikeluarkan para pihak. Untuk nilai gugatan diatas Rp. 150 juta, pihak yang mengajukan akan dikenakan biaya. Untuk menghindari hal ini, maka biasanya pihak yang mengajukan gugatan akan memecah gugatannya menjadi 2 atau lebih jika hal tersebut memungkinkan. Hal ini menandakan bahwa biaya berperkara di Pengadilan bagi sebagian orang terutama pekerja masih mahal apalagi jika menggunakan jasa advokat.

E. PENUTUP a. Kesimpulan 1. Perselisihan antara pengusaha dan pekerja disebabkan karena didahului oleh pelanggaran hukum dan dapat terjadi karena bukan pelanggaran hukum. Mekanisme Penyelesaian Hubungan Industrial dilakukan dengan upaya bipartit, jika tidak berhasil maka dilanjutkan dengan upaya mediasi, konsialiasi atau Arbitrase. Jika upaya mediasi dan konsiliasi gagal, maka salah satu pihak dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial dan melakukan upaya hukum sampai ke Mahkamah Agung. Dalam praktek di PHI Padang, dari empat perselisihan yang menjadi kewenangan Pengadilan Hubungan Industrial, perkara perselisihan yang dominan adalah PHK. Dari total 105 kasus yang masuk sejak tahun 2006 hinggatahun 2010, 101 adalah perselisihan PHK, 1 perselisihan kepentingan, 1 perkara perselisihan hak, 2 perkara perlawanan. Dari 101 kasus tersebut, 2 kasus PHK yang diminta oleh Pekerja dengan alasan Pengusaha melanggar ketentuan Pasal 169 Ayat (1) huruf C UU No. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. 99 perkara PHK dilakukan oleh Pengusaha secara sepihak dan tanpa ada penetapan dari lembaga PHI yang berakibat PHK batal demi hukum. PHI pada PN Kelas I-A Padang justru terjebak dan menjadi lembaga yang mensyahkan PHK yang tidak sah; 2. Bahwa efektivitas PHI pada PN Kelas I A Padang dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial belum maksimal karena faktor sumber daya manusia baik dari pekerja, pengusaha dan fungsionaris pengadilan, aturan hukum yang tidak jelas dan tegas terutama dalam UU No. 2 tahun 2004 tentang PHI;

b. Saran 1. Jika pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak dapat lagi dihindarkan, agar pengusaha dalam mem-PHK pekerja benar-benar menjalankan ketentuan Pasal 151 ayat 3 UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu dengan meminta penetapan terlebih dahulu dari Lembaga Penyelesaian Perselisihan perburuhan. Jika telah ada penetapan, dapat dipastikan tidak akan terlalu banyak perkara yang akan masuk ke PHI, karena sudah dapat dipastikan pula penetapan tersebut akan mencantumkan hak dan kewajiban pengusaha maupun pekerja, termasuk uang pesangon. 2. Keberadaan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) sebagai lembaga yang memiliki kewenangan sebagai lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial perlu dikaji ulang, karena PHI tidak mampu melaksanakan asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan. Untuk itu perlu membuat mekanisme yang dapat memenuhi asas tersebut.

F. DAFTAR PUSTAKA Adrian Sutedi, Hukum Perburuhan, Sinar Grafika, Jakarta, 2009. Della Feby dkk, Praktek Pengadilan Hubungan Industrial: Panduan Bagi Serikat Buruh, TURC, Jakarta, 2007. Lalu Husni, Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Melalui Pengadilan & Diluar Pengadilan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004. Libertus Jehani, Hak-hak pekerja Bila di PHK, Visi Media, Jakarta, 2006. Simanihuruk, MSM, Tanggungjawab Pemerintah dalam Menegakkan Peraturan dan Menjalankan Pengawasan atas Putusan Lembaga Penyelesaian dalam Perspektif Pengawasan, disampaikan pada Focus Group Discussion Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Hotel Cemara, tanggal 23-24 November 2005. Surya Tjandra, Makalah tentang Pengadilan Hubungan Industrial di Indonesia, Quo Vadis? Beberapa Catatan dari Awal Ruang Sidang, disampaikan pada Current Issues on Indonesian Laws Conference, School of Law, The University of Washington, Seattle, Amerika Serikat, 28 Februari 2007. Surya Tjandra dan Jafar Suryomenggolo, Makalah tentang Sekedar Bekerja? Analisis UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Indusrtial: Perspektif Buruh, Jakarta, 19 Maret 2004. Majalah Nakertrans Edisi 01-Februari 2006 dalam Agung Hermawan, Masih Adakah Keadilan Bagi Buruh, LBH Bandung, Fikri Print Production, April 2008, hal. 38. Zainal Asikin, Pengertian, Sifat dan Hakikat Hukum Perburuhan dalam Dasardasar Hukum Perburuhan, PT. Raja Grasindo Persada, 1993. Website Tempo Interaktif, http://www.tempointeractive.com, terakhir dikunjungi 26 Mei 2013 Pk. 13.15 WIB. UU No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 6 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4356. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan