Anda di halaman 1dari 11

AKTIVA (ASSET)

Penilaian aktiva merupakan proses pengukuran atribut keuangan (dulu, sekarang, atau yang akan datang) dari aktiva atau sekelompok aktiva. Di dalam struktur akuntansi tradisional, neraca menghubungkan dua perhitungan rugi-laba, dan penilaian aktiva telah menjadi suatu proses penghitungan berapa banyak nilai residu yang akan di-carry forward ke periode yang akan datang. Salah satu tujuan pelaporan keuangan haruslah menyajikan informasi yang

memungkinkan para investor dan kreditor meramalkan arus kas yang akan datang dari perusahaan. Jadi, pengukuran aktiva harus dievaluasi berdasarkan ciri perilaku dan juga berdasarkan makna interpretif logis.

SIFAT AKTIVA Jika teori akuntansi berfungsi untuk menyediakan pedoman yang tepat bagi pengembangan pemikiran akuntansi dan prinsip-prinsip akuntansi, maka akan besar manfaatnya untuk mendefinisikan aktiva secara jelas dan menganalisis sifat dasar semua aktiva. Salah seorang yang pertama mengusahakan definisi yang cukup lengkap adalah Canning, yang memberikan definisi aktiva (asset) sebagai berikut: Aktiva adalah jasa yang akan datang dalam bentuk uang atau jasa mendatang yang dapat ditukarkan menjadi uang (kecuali jasa-jasa yang timbul dari kontrak yang belum dijalankan kedua belah pihak secara sebanding) yang di dalamnya terkandung kepentingan yang bermanfaat yang dijamin menurut hukum atau keadilan bagi orang atau sekelompok orang tertentu. Jasa seperti ini adalah aktiva hanya bagi orang atau sekelompok orang tertentu tersebut. Oleh karena penekanannya pada penentuan laba, maka banyak dari pembahasan sebelumnya mengenai aktiva menekankan, untuk secara langsung ataupun tidak langsung, sifat aktiva sebagai biaya yang belum dialokasikan atau sebagai jumlah yang akan di-carry forward ke periode mendatang. Misalnya, APB Statement No. 4 merumuskan aktiva sebagai sumber daya ekonomi perusahaan yang diakui dan diukur berdasarkan prinsip-prinsip

akuntansi yang lazim, termasuk beban tertentu yang ditangguhkan yang tidak merupakan sumber daya. Suatu perubahan dasar dalam penekanan ini dibuat oleh FASB Statement of Financial Accounting Concepts No.3 (SFAC No.3), Aktiva di sini diartikan sebagai manfaat ekonomik mendatang yang mungkin, yang diperoleh atau dikendalikan oleh kesatuan ekonomi tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa yang lalu. Dalam definisi dasar ini, sifat-sifat berikut sangat hakiki: 1. 2. 3. Harus ada hak khusus atas manfaat mendatang atau potensi jasa. Hak tersebut harus dimiliki oleh individu atau perusahaan tertentu. Harus terdapat klaim yang dapat dipaksakan secara hukum atas hak atau jasa atau bukti lainnya yang menunjukkan bahwa penerimaan manfaat di masa datang adalah mungkin. 4. Manfaat ekonomi haruslah merupakan akibat dari transaksi atau peristiwa masa lalu.

TUJUAN PENGUKURAN AKTIVA Penilaian sebagai suatu metode pengukuran laba Di dalam interpretasi laba secara ekonomik, konsep pemeliharaan modal mensyaratkan penilaian aktiva sedemikian rupa sehingga laba dapat dihitung dari pertambahan dalam penilaian ini sepanjang waktu. Dari segi perilaku, penilaian harus memungkinkan perhitungan laba yang bermanfaat dalam peramalan atau sebagai masukan langsung ke dalam modelmodel keputusan investasi.

Penilaian sebagai langkah dalam proses penandingan (matching) Pendekatan yang lazim terhadap penilaian adalah mencatat aktiva moneter berdasarkan nilai netto yang dapat direalisasi dan aktiva nonmoneter berdasarkan nilai masukan sampai dialokasikan ke beban dan ditandingkan (matched) dengan pendapatan produk atau dibebankan ke suatu periode tertentu. Oleh karena itu, tujuan penilaian untuk aktiva nonmoneter adalah untuk mendapatkan dasar bagi penghitungan laba kotor operasi dan laba dari seluruh transaksi.

Dua pendekatan dasar terhadap penilaian untuk tujuan penghitungan laba adalah: 1. Penekanan dapat diberikan pada penilaian masukan pada saat kadaluwarsa 2. Aktiva nonmoneter dapat dinyatakan kembali pada tanggal neraca atau secara periodic selama tahun berjalan, sehingga memungkinkan penandingan yang diasumsikan pada saat aktiva itu kadaluwarsa. Kesulitan utama dalam penggunaan proses penandingan sebagai dasar untuk menghitung penilaian aktiva adalah, bahwa sebagian besar kegiatan perusahaan tidak memungkinkan penandingan yang cermat. Sebagai akibatnya sebagian atau banyak pengalokasian nilai

aktiva ke produk atau beban bersifat arbitrer. Penilaian sebagai ukuran pertambahan nilai (accretion). Menurut konsep pertambahan nilai (accretion concept), laba perusahaan terjadi pada saat nilai aktiva naik dalam hal tidak adanya transaksi modal. Jadi, laba berasal dari meningkatnya penilaian dari nilai masukan menjadi nilai keluaran atau dari meningkatnya diskonto nilai netto yandg dapat direalisasi menjadi nilai kas. Kemudian diskonto nilai netto yang dapat direalisasi itu dapat naik menjadi nilai kas apabila piutang ditagih atau dikonversi ke dalam kas. Pentingnya pendekatan ini terhadap penilaian adalah karena penekanannya pada pengakuan dan pencatatan seluruh perubahan dalam nilai yang didasarkan pada bukti terbaik nilai keluaran akhir atau jumlah kas yang pada akhirnya akan diterima. Jadi, nilai bersih yang dapat direalisasi harus didahulukan daripada nilai-nilai masukan; harga perolehan pengganti berlaku mungkin lebih mendekati nilai bersih bagi perusahaan dari pada harga perolehan historis; dan harga perolehan historis dapat relevan jika ia menggambarkan nilai berlaku perusahaan.

Penyajian posisi keuangan kepada para investor Istilah posisi keuangan sering digunakan untuk neraca karena neraca diambil dari buku besar akuntansi dan didasarkan pada ketentuan serta praktek akuntansi yang berlaku. Sebagai akibatnya, laporan posisi keuangan merupakan laporan residu- suatu langkah diantara dua perhitungan rugi-laba. Suatu pandangan alternative adalah bahwa laporan posisi keuangan yang disajikan kepada para investor seharusnya dikembalikan pada status yang lebih berguna dengan memasukkan konsep penilaian dan informasi lain yang lebih berarti untuk keputusankeputusan investasi.

Neraca sebagai langkah penghubung antara dua perhitungan laba-rugi. Neraca telah menjadi laporan jumlah residu yang akan di carry forward ke periode mendatang. Memang neraca dianggap menjadi titik awal dan akhir dalam proses akuntansi, tetapi lebih berkaitan ke masa lampau ketimbang ke masa mendatang. Jenis neraca yang hanya menunjukkan residu ini memiliki pula segi-segi positif. Pertama diakui bahwa neraca yang lazim memberikan akuntabilitas atas rupiah yang diinvestasikan pemiliknya. Kedua, salah satu fungsi laporan keuangan adalah mengikhtisarkan sifat operasi perusahaan dan sifat aktiva moneter serta jasa perusahaan yang belum digunakan. Laporan posisi keuangan sebagai sarana peramalan. Agar laporan posisi keuangan menyediakan informasi yang relevan untuk meramalkan arus kas pada waktu mendatang, maka laporan itu harus juga mencakup pengukuran sumber-sumber daya dan komitmen secara kuntitatif untuk dibandingkan dengan periode lainnya atau dengan perusahaan lainnya. Akan tetapi, kuantitas sumber daya yang tersedia bagi perusahaan relevan untuk peramalan hanya jika dikaitkan dengan arus kas yang mungkin dihasilkan oleh perusahaan itu. Penyajian klaim dari beberapa pemilik ekuitas. Beberapa kelompok pemilik ekuitas diperlihatkan dalam struktur modal perusahaan, termasuk beberapa kelompok yang haknya mengalami perubahan melalui konversi obligasi ke saham atau konversi satu kelompok ke kelompok lainnya. Banyak dari hubungan ini tidak dapat diuraikan dengan pengukuran tunggal atau secara kuantitatif sekalipun, tetapi prosedur penilaian tertentu paling tidak memberikan informasi sebgaian, seperti jumlah relative penyangga yang mungkin ada untuk melindungi pemilik ekuitas dengan hak prioritas. Penilaian untuk digunakan para kreditor. Pada bagian awal abad ke- 20 dan sebelumnya. Salah satu tujuan utama neraca adalah menyajikan informasi keuangan bagi kreditor. Karena kurangnya informasi yang terandal, para kreditor terpaksa sangat mengandalkan indikasi keamanan pinjaman. Dengan demikian nilai likuidasi dianggap lebih penting dari pada konsep-konsep penilaian lainnya, dan ajaran konservatisme sangat mempengaruhi pelaporan. Penilaian untuk digunakan manajemen. Untuk maksud-maksud manajerial, proses penilaian harus menyediakan informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan operasi. Para manajemen harus terus membuat keputusan-keputusan yang menentukan rangkaian tindakan yang akan datang. Oleh karena itu manajemen lebih membutuhkan informasi mengenai penilaian yang timbul dari rangkaian tindakan yang berbeda.

KONSEP-KONSEP PENILAIAN Penilaian dalam akuntansi merupakan proses pemberian jumlah moneter kuantitatif yang bermakna pada aktiva. Karena perusahaan bukanlah unit yang mengkonsumsi sendiri, maka nilai ekonomik yang didasarkan pada kegunaan subjektif tidaklah relevan dalam akuntansi. Oleh karena itu, konsep-konsep penilaian yang relevan harus didasarkan pada nilai tukar atau nilai konversi. Perusahaan beroperasi di dua pasar dan menghadapi dua jenis nilai tukar, yaitu nilai masukan dan nilai keluaran. Nilai keluaran mencerminkan dana yang diharapkan akan diterima perusahaan pada waktu mendatang, yang terutama didasarkan pada harga tukar untuk produk atau keluaran perusahaan itu.

KONSEP- KONSEP PENILAIAN Penilaian dalam akuntansi merupakan proses pemberian jumlah moneter kuantitatif yang bermakna pada aktiva. Karena perusahaan bukanlah unit yang mengkomsumsi sendir i , maka nilai ekonomik yang didasarkan pada kegunaan subyektif tidaklah relevan dalam akuntansi. Oleh karena itu konsep konsep yang relevan harus didasarkan pada nilai tukar atau nilai konversi. Ada dua jenis nilai tukar yaitu nilai masukan dan nilai keluaran. Nilai keluaran mencerminkan dana yang diharapkan akan diterima perusahaan pada waktu mendatang, yang terutama didasarkan pada harga tukar untuk produk atau keluaran perusahaan itu. Sedangkan nilai masukan mencerminkan suatu ukuran alat tukar yang dikorbankandalam memperoleh aktiva yang digunakan oleh perusahaan di dalam operasinya yaitu masukan. Canning membuat perbedaan antara penilaian langsung dan penilaian tak langsung yang dalam beberapa aspek mirip dengan perbedaan antara konsep nilai keluaran dan nilai masukan. Penilaian langsung berlaku untuk aktiva yang pengkonversiannya m,enjadi arus kas mendatang dapat diukur dengan cukup terandal. Penilaian tak langsung harus diterapkan apabila tidak ada cara lain lagi untuk menaksir secara langsung dana yang harus disediakan . canning menyatakan bahwa secara ideal dikehendaki untuk memiliki ukuran langsung atas semua aktiva. Nilai Keluaran Tukar (Exchange Output Values) Nilai keluaran didasarkan pada jumlah kas atau nilai pengorbanan lainnya yang akan diterima pada saat suatu aktiva atau jasanya akhirnya meninggalkan perusahaan dengan pertukaran

atau konversi. Aktiva yang menunjukkan uang atau hak atas uang (claims to maney) harus dinyatakan dalam nilai berlakunya. Aktiva moneter yang memiliki harga tukar yang cukup pasti yang mungkin akan diterima pada periode tertentu diwaktu mendatang, dapat diperlakukan sama seperti piutang. Apabila harga tukar yang akan datang kurang, maka harga keluaran tukar berlaku (current exchange output price) yang digunakan sebagai pengganti. Konsep penilaian memerlukan pengetahuan atau penaksiran tiga faktor pokok yaitu jumlah yang akan diterima , faktor diskonto, dan periode waktu yang terlibat. Contoh berikut menunjukkan proses teknis penilaian apabila faktor- faktor ini dapat dikuantifikasi. Misalnya: $1.000 akan diterima pada akhir tiga tahun , jika faktor diskonto yang tepat adalah 12% maka nilai sekarang aktiva itu adalah 711,78. Dengan menggunakan u untuk nilai sekarang aktiva, a untuk nilai moneter yang akan diterima , i untuk faktor diskonto, dan n untuk jumlah tahun penungguan maka rumusnya adalah: u = a (1 + i) , u=

Meskipun konsep diskonto arus kas sahih dalam penilaian yang dilakukan investor atas perusahaan secara keseluruhan, atau dalam penilaian oleh para pemilik usaha tunggal, namun kesahihannya diragukan apabila diterapkan pada aktiva yang terpisah, karena: 1. Penerimaan uang kas yang diharapkan, umumnya tergantung pada distribusi probabilitas yang subyektif, yang pada hakikatnya tidak dapat diverifikasi. 2. Walaupun tingkat diskonto kesempatan bisa diperoleh, namun penyesuaian untuk preferensi risiko harus dievaluasi oleh manajemen atau para akuntan, dan mungkin akan sulit menyampaikan arti penilaian yang dihasilkan kepada para pembaca laporan keuangan. 3. Apabila dua faktor atau lebih, termasuk sumber daya manusia maupun aktiva fisis menuyumbang produk atau jasa perusahaan dan arus kas kemudian, maka alokasi yang logis ke faktor- faktor jasa yang terpisah umumnya tidaklah mungkin. 4. Nilai diskonto arus kas diferensial dari semua aktiva terpisah perusahaan tidak dapat dijumlahkan bersama- sama untuk mendapatkan nilai perusahaan. Hal ini sebagian karena kebersamaan sumbangan aktiva- aktiva yang terpisah tetapi juga karena fakta bahwa beberapa aktiva seperti aktiva tak mberwujud tidak dapat diidentifikasi secara terpisah. Meskipun terdapat kesulitan diatas, namun konsep diskonto arus kas memiliki beberapa kebaikan sebagai konsep penilaian untuk usaha tunggal dimana tidak terdapat faktor faktor gabungan yang menuntut akuntansi terpisah atau dimana penggabungan aktiva dapat

dilakukan cukup jauh untuk mencakup semua faktor gabungan. Tetapi konsep itu juga relevan untuk aktiva moneter dimana masa menunggu merupakan faktor utama yang menentukan manfaat netto yang akan diterima dalam bentuk kas oleh pengusaha.

Harga keluaran yang berlaku (current output price) apabila produk perusahaan umumnya dijual dipasar yang teratur, maka harga pasar berlaku dapat merupakan taksiran yang layak atas harga jual sebenarnya dalam waktu dekat. Oleh karena harga keluaran berlaku dapat menjadi pengganti yang cukup mendekati untuk diskonto nilai penerimaan kas yang diharapkan dari persediaan barang dagang , dan produk atau produk sampingan pada atau mendekati tahap penyelesaian. Nilai berlaku ini disebut sebagai nilai bersih yang dapat direalisasi (net realizable value). Harga keluaran yang berlaku memiliki keterbatasan serius sebagai suatu konsep penilaian yang umum yaitu: 1. Harga keluaran berlaku ini hanya dapat diterapkan pada aktiva yang dimiliki untuk dijual seperti barang dagang, produk khusus, investasi, pabrik, dan peralatan atau tanahyang tidak lagi digunakan perusahaan dalam operasinya. 2. Harga merupakan pengganti harga jual diwaktu mendatang, maka relevansi perubahan bentuk ini pantas dipertanyakan. Harga jual berlaku menunjukkan jumlah yang akan dibayar oleh pembeli marginal dan tidak harus menunjukkan jumlah yang akan dibayar diwaktu mendatang kecuali dalam kondisi cateris paribus. 3. Semua aktiva perusahaan tidak dapat dinilai atas dasar harga jual berlaku, maka metode penilaian yang berbeda harus diterapkan sebagai pengganti dan gabungan aktiva yang diukur dengan konsep penilaian yang berbeda hanya dapat diinterpretasikan jika semua metode yang digunakan menunjukkan harga jual berlaku atau pengganti yang sahih. Penggunaan harga keluaran berlaku mengakibatkan pelaporan laba atau kerugian sebelum transaksi akhir produk atau jasa.

Ekivalen kas baru Ekivalen ini merupakan jumlah kas atau daya beli umum yang dapat diperoleh dengan menjual setiap aktiva dalam keadaan likuidasi yang teratur, yang yang dapat diukur dengan harga pasar yang ditetapkan untuk barang-barang sejenis dan dengan kondisi yang serupa.

Salah satu kesulitan utama dengan konsep ekivalen kas berlaku adalah bahwa konsep ini membenarkan peniadaan semua pos yang tidak memiliki harga pasar kontemporer dari laporan posisi keuangan. Misalnya peralatan khusus yang tidak dapat dijual, dan juga sebagian besar aktiva takberwujud, akan dihapuskan pada saat perolehan karena ketidakmampuan untuk memperoleh harga pasar berlakunya. Nilai likuidasi Nilai likuidasi mengasumsikan penjualan terpaksa, kepada pelanggan biasa dengan pengurangan harga besar-besaran ataupun kepada perusahaan atau penyalur lain dengan harga yang jauh dibawah harga pokok. Karena nilai likuiditas tidak realistic dalam keadaan yang normal, maka nilai likuidasi seharusnya hanya digunakan dalam dua keadaan yang normal, maka nilai likuidasi seharusnya hanya digunakan dalam dua keadaan utama (1) apabila barang dagang atau aktiva lainnya telah kehilangan kegunaan normalnya, telah menjadi using, atau sebaliknya telah kehilangan pasar normalnya, dan (2) apabila perusahaan bermaksud akan menghentikan kegiatan usahanya dalam waktu dekat, sehingga tidak mampu menjualnya dipasar yang normal. Nilai masukan tukar (exchange input values) Walaupun nilai keluaran secara konseptual mungkin lebih baik untuk penyajian laporan keuangan sebagaimana telah dibahas diatas, namun di dalam berbagai keadaan nilai masukan ternyata lebih tepat karena dapat menunjukkan nilai maksimum bagi perusahaan atau karena pasar keluaran (output market) tidak ada, sehingga mustahil memperoleh nilai keluaran tukar. Harga perolehan historis Harga perolehan adalah pengorbanan ekonomik yang dinyatakan dalam unit moneter yang diperlukan untuk memperoleh aktiva tertentu atau sekelompok aktiva. Salah kelemahan utama penilaian harga perolehan historis adalah bahwa nilai aktiva bagi perusahaan dapat berubah sepanjang waktu; setelah periode yang lama maka harga perolehan historis mungkin sama sekali tidak mempunyai makna lagi sebagai ukuran kuantitas sumber daya yang tersedia bagi perusahaan.

Harga perolehan masukan berlaku Harga perolehan berlaku merupakan harga tukar yang dipelukan sekarang untuk mendapatkan aktiva yang sama atau ekivalennya. Akan tetatapi, harus diingat bahwa harga tukar berlaku ini adalah harga pokok (cost price) hanya jika diperoleh dari kutipan harga pasar dimana perusahaan memeperoleh aktiva dan jasanya; harga itu tidak dapat diperoleh dari kutipan harga pasar dimana perusahaan biasanya menjual aktiva atau jasa dalam kegiatan operasi yang normal, kecuali kalau kedua pasar itu terjadi bersamaan. Didalam sejumlah situasi lainnya, harga perolehan berlaku merupakan ukuran yang teoat dari nilai wajar, entah dalam menetapkan harga perolehan semula (sebagaimana didalam pertukaran aktiva nonmoneter tertentu) atau dalam menetapkan nilai maksimum (seperti dalam menentukan nilai sekarang lease modal untuk lessee ) Diskonto harga perolehan yang akan datang Sebagian besar aktiva nonmoneter merupakan barang atau jasa yang diperoleh dimuka. Harga perolehan ekivalen dasri jasa pada waktu penggunaan mungkin merupakan konsep penilaian yang paling relevan. Didalam konteks ini, nilai sekarang dari jasa-jasa ini (aktiva) merupakan nilai diskonto dari biaya yang akan datang. Dalam kasus ini dimana jasa akan tersedia tersedia dalam waktu dekat, proses pendiskontoan tidak mempengaruhi secara material penilaian aktiva. Misalnya, banyak beban yang dibayar dimuka akan mempunyai harga perolehan yang sama seandainya diperoleh pada saat dibutuhkan dan bukannya dimuka; dengan demikian pencatatan aktiva ini dengan harga perolehan mungkin akan sangat mendekati penilaian yang didasarkan pada harga perolehan mendatang yang diharapkan atau harga perolehan mendatang didiskontokan. Oleh karena itu, konsep diskonto harga perolehan mendatang memiliki semua kelemahan harga perolehan historis ditambah keterbatasan konsep potensi jasa yang didiskontokan.

Biaya standar Biaya standar dapat didefenisikan sebagai suatu penilaian berdasarkan berapa biaya yang seharusnya menurut asumsi tertentu mengenai tingkat efisiensi produktif dan pemanfaatan kapasitas yang dikehendaki. Keunggulan utama konsep biaya standar yaitu bahwa biaya ketidakefisienan ditiadakan. Kelayakan konsep biaya standar sebagai ukuran yang baik atas nilai masukan tukar sebagian besar terganung pada jenis biaya standar yang dipilih dan cara penerapannya. Penilaian yang terendah antara harga perolehan dan harga pasr (the lower of-cost-ormarket valuation) Konsep yang terendah antara harga perolehan dan harga pasar tidak dapat diterima dalam teori akuntansi karena alasan-alasan berikut: 1. Sebagai suatu metode konservatisme, konsep ini cenderung menilai terlalu rendah total penilaian aktiva. Aktiva secara individual dapat juga dinilai terlalu rendah, tetapi karena penilaian tidak naik atas harga perolehan dalam kasus dimana jasa mendatang atau nilai jual telah naik, maka total penilaian akan cenderung dinilai terlalu rendah kapan saja konsep harga perolehan atau harga pasar diterapkan. 2. Konservatisme dalam penilaian aktiva diimbangi penilaian laba bersih yang tidak konservatif dalam periode mendatang. Penilaian aktiva yang lebih rendah dalam periode berjalan akan menyebabkan laba yang dilaporkan lebih besar atau kerugian yang lebih kecil dalam suatu periode mendatang apabila penilaian aktiva dihapuskan sebagai beban. Karena keuntungan (gain) tidak dilaporkan pada periode berjalan , maka laba bersih yang dihasilkan akan menjadi kurang berfaedah sebagai alat peramal atau ukuran efisensi. 3. Meskipun konsep harga perolehan atau pasar dapat diterapkan secara konsisten dari tahun ketahun ,secara internal konsep itu tidaklah konsisten. Tidak satupun konsep penilaian yang digunakan secara konsisten; satu konsep penilaian dapat diterapkan satu tahun dan konsep lain untuk tahun berikutnya. Juga tidak ada konsep penilaian yang diterapkan secara konsisten terhadap satu golongan aktiva pada tahun yang sama. 4. Suatu argumen yang kurang meyakinkan adalah bahwa prinsip harga perolehan atau pasar diterapkan terhadap penurunan harga perolehan dan juga pengurangan kegunaan yang disebabkan kerusakan,keusangan, atau kurangnya

kapasitas untuk menghasilkan laba. Mungkin tidak terdapatperubahan didalam nilai bersih yang dapat direalisasi hanya karna harga perolehan telah berubah.

Evaluasi Konsep Pengukuran Tujuan penilaian aktiva ditinjau dari sudut interpretasional adalah menyediakan pengukuran relatif atas sumber-sumber daya yang tersedia bagi perusahaan untuk menghasilkan penerimaan kas pada waktu mendatang. Pemisahan biaya tetap dan biaya variabel dapat juga memungkinkan peramalan yang lebih baik atas arus kas yang akan datang. Dalam

meramalkan penerimaan kas yang akan datang, pada umumnya konsep-konsep keluaran (output concept) lebih unggul daripada