Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Ke- 13 Biokimia Hewan

Hari/Tanggal Waktu PJP Asisten

: Jumat/17 Mei 2013 : 08.00-11.20 WIB : Syaefudin, M.Si : Nurul Syifa Yunan Nursyahbani

KALSIUM DARAH
Kelompok 7 Rosalin Gloria Valentin Agus Aprianto Ayu Luthfia J3P112023 J3P112050 J3P212066

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

Pendahuluan Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu trombosit, leukosit dan eritrosit. Fungsi utama eritrosit atau sel darah merah yang mengandung hemoglobin merupakan komponen hematologi utama dari transport oksigen. Hemoglobin adalah protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Kandungan dalam darah adalah air 91 %, protein 3% (albumin, globulin, protombin dan fibrinigen), Mineral 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam fosfat, magnesium, kalsium, dan zat besi), Bahan organik : 0,1% (glukosa, lemak asam urat, kreatinin, kolesterol, dan asam amino). Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat didalam tubuh manusia. Kira-kira 99% kalsium terdapat di dalam jaringan keras yaitu pada tulang dan gigi. 1% kalsium terdapat pada darah, dan jaringan lunak. Tanpa kalsium yang 1% ini, otot akan mengalami gangguan kontraksi, darah akan sulit membeku, transmisi saraf terganggu, dan sebagainya. Untuk memenuhi 1% kebutuhan ini, tubuh mengambilnya dari makanan yang dimakan atau dari tulang. Apabila makanan yanag dimakan tidak dapat memenuhi kebutuhan, maka tubuh akan mengambilnya dari tulang. Sehingga tulang dapat dikatakan sebagai cadangan kalsium tubuh. Jika hal ini terjadi dalam waktu yang lama, maka tulang akan mengalami pengeroposan tulang. Fungsi Kalsium antar lain untuk membentuk serta mempertahankan tulang dan gigi, mencegah osteoporosis, membantu proses pembekuan darah dan penyembuhan luka, menghantarkan signal ke dalam sel-sel saraf, mengatur kontraksi otot, sebagai komponen penting dalam produksi hormon dan enzim yang mengatur proses pencernaan, energi dan metabolisme lemak, juga meminimalkan penyusutan tulang selama hamil dan menyusui. Komponen darah yang digunakan dalam praktikum ini adalah serum darah. Proses pembuatan serum darah melibatkan alat pemusing yang disebut centrifug. Adapun prinsip kerja alat ini adalah. dengan menggunakan sedimentasi , di mana percepatan sentripetal menyebabkan zat yang lebih padat akan mengendap didasar tabung. Dengan cara yang sama, benda ringan akan cenderung bergerak ke atas tabung (melayang di dalam tabung). Gaya centrifugal yang dihasilkan berasal dari putaran motor listrik yang mendapat supply. Semakin tinggi putaran motor maka semakin besar gaya centrifugal yang dihasilkan,begitu juga sebaliknya. Centrifuge berfungsi untuk memisahkan partikel partikel dalam suatu larutan yang mempunyai berat molekul yang barbeda. Alat ini menggunakan kecepatan bervariasi antara 100060000 rpm. Kecepatan rendah biasanya digunakan untuk mengendapkan sedimen. Dan kecepatan tinggi digunakan untuk mengendapkan nematoda parasit pada tumbuhan dengan sampel tanah. (Yulinda.2008)

Tujuan Praktikum ini bertujuan menentukan menggunakan metode Clark and Collips. Alat dan bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum antara tabung reaksi, labu erlemneyer, buret, kertas saring,pipet morh, bulb, batang pengaduk, tabung centrifug, centrifug, penangas air, dan gelas beaker. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum antara lain ammonium oksalat 4%, ammonia 25%, asam sulfat 1N, kalium permanganate 0,01N, Ca 0,2mg, serum darah, akuades, Prosedur kerja Penentuan kalsium dari serum/plasma menggunakan metode Clark & Collip. Empat buah tabung sentrifus disiapkan, satu untuk blanko dan tiga untuk sampel. Tabung blanko diisi dengan 4 mL akuades dan 1 mL amonium oksalat. Tabung sampel diisi dengan 2 mL serum, 2 mL akuades, dan 1 mL amonium oksalat. Isi tabung blanko dan sampel diaduk hingga terbentuk endapan menggunakan batang pengaduk kecil, bila perlu dicampurkan kembali dengan Vortex. Setelah pengadukan, kesemua tabung didiamkan selama 30 menit. Selanjutnya, keempat tabung tersebut disentrifus pada kecepatan 1500 rpm selama 5 menit. Selesai sentrifus, cairan dibunag dan tabung diletakkan terbalik di atas kertas saring selama 10 menit (cairan pada mulut tabung juga dikeringkan dengan kertas saring). Setiap tabung ditambahkan amonia 2% sebanyak 3 mL dan setelahnya diaduk juga dikocok. Kemudian, keempat tabung disentrifus kembali dengan kecepatan dan waktu yang sama. Selanjutnya, cairan hasil sentrifus dibuang dan pengeringan dilakukan kembali. Selesai itu, tiaptiap tabung ditambah dengan H2SO4 1 N sebanyak 2 mL. Lalu, isi setiap tabung diaduk hingga endapan larut dan segera setelahnya dimasukkan ke dalam penangas air 700C. Kemudian, blanko dan ketiga sampel tersebut dititrasi dalam keadaan hangat dengan larutan KMnO4 0.01 N hingga titik akhir berwarna merah jambu. Kadar kalsium darah pun dapat dihitung setelah mengetahui volume terpakai dari titrasi yang dilakukan. kadar kalsium dalam darah

Hasil pengamatan Tabel 1. Jonsentrasi kalsium darah


Tabung Blangko Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 V. awal 17,9 19 20 17,7 17,85 V. akhir 18 19,2 20,3 17,85 18 V. terpakai 0,1 0,2 0,3 0,15 0,15 [kadar kalsium] mg/dl 0 1 2 0,5 0,5

Rumus perhitungan : [Kalsium] = (A-B) x 0,2 x 100/2 mg % = (A-B) x 10 mg% A = volume terpakai sampel B = volume terpakai blanko Contoh perhitungan sampel 1 : [Kalsium] = (0,2 0,1) x 0,2 x 100/2 mg% = (0,2 0,1) x 10 mg% = 1 mg% Pembahasan Metode Collin & Clark yang digunakan dalam penentuan kadar kalsium memiliki prinsip pengendapan kalsium menjadi kalsium oksalat. Endapan tersebut terbentuk karena adanya penambahan asam (H2SO4) yang menghasilkan ion oksalat, kemudian dititrasi dengan KMnO4. Titik akhir titrasi ini berwarna merah muda. Pengerjaan metode ini harus memerhatikan beberapa hal, antara lain serum harus sesegera mungkin dipisahkan dari bekuan darah, sehingga konsentrasi dalam serum menurun karenan cenderung untuk berdifusi, amonium oksalat yang digunakan harus tidak terdapat endapan, dan suhu pada waktu titrasi harus di atas 700C. Bila suhunya tidak di atas 700C, reaksi antara oksalat dan permanganat tidak stoikiometri dan hasilnya lebih rendah. Adapaun penambahan amonium oksalat dimaksudkan terbentuknya endapan kalsium oksalat (Hide et al. 1977).

Bahas hasil dan perbandingan metode kompleksiometri dan metode clark and coliips.
Penentuan kadar kalsium yang dilakukan dalam percobaan yang telah dilakukan adalah menggunakan metode Collin & Clark. Sampel yang digunakan adalah serum dari sapi. Kadar kalsium yang didapatkan dari hasil percobaan adalah sampel 1 menunjukkan hasil 1 mg/dl, sampel 2 menunjukkan hasil 2 mg/dl, sampel 3 menunjukkan hasil 0,5 mg/dl dan sampel 4 menujukkan hasil 0,5 mg/dl. Kadar kalsium sapi menurut literatur adalah 8.10 10.60 mg/100 mL.(Arifin et al. 1999). Perbandingan kadar kalsium yang diperoleh dari praktikum dengan literatur menujukkan bahwa sapi tersebut mengalami kekurangan kalsium (hipokalsemia) dan

terdapat kesalahan dalam proses pemusingan (centrifuge) sehingga pelet yang diperpoleh hanya 1 %. Dan juga metode clark and collips sudah tidak terjamin lagi keakuratannya. Kelebihan dan kekurangan kalsium dalam tubuh dapat menyebabkan terganggunya metabolisme. Kelebihan kalsium atau hiperkalsemia dapat disebabkan kelebihan pemecahan tulang, hiperparatisordisme, penyakit ganas atau terkadang imobilitas, dan yang tersering adalah metastasis osteolitik di dalam tulang. Hiperkalsemia ini dapat menyebabkan kelemahan otot gejala-gejala gastrointestinalis, giddiness, haus berat disertai poliuria, hiperkalsiuria, dan kalkulus renalis. Hiperkalsemia yang sudah kronis dapat membawa resiko berhentinya jantung (cardiac arrest). Adapun kekurangan kalsium atau hipokalsemia disebabkan oleh defisiensi asupan atau absorbsi kalsium. Hal tersebut dapat dikarenakan hipoparatirodisme, kehilangan kalsium berlebih melaui ginjal pada kerusakan tubulus atau asidosis. Hipokalsemia ini merupakan bagian dari kegagalan ginjal kronik, kadang juga pankreatitis. Hipokalsemia dapat juga disebabkan oleh makanan berfosfat tinggi yang mengikat kalsium di dalam usus yang disebut neonetus. Penyakit lainnya dari defisiensi kalsium adalah osteomalasia dan osteoporosis yang menunjukkan kadar mineral dan kepadatan tulang menurun, tanpa atau dengan diikuti oleh penurunan bahan organic tulang. Osteomalasia biasanya terjadi pada usia muada, misalnya defiensi kalsium saat kehamilan. Defisiensi kalsium ini disebabkan susunan zat pada tulang tidak memiliki konsentrasi kalsium dan fosfat yang cukup untuk proses pengerasan tulang, sehingga tulang menjadi lebih lunak. Adapun osteoporosis adalah kegagalan pertumbuhan tulang yang dapat mengakibatkan satu atau lebih patah tulang dengan gejala trauma minimal (Schuette & Linkswiler 1988). Kalsium dalam tubuh berfungsi untuk mengaktifkan enzim lipase. Selain itu, kalsium diperlukan dalam proses kontraksi otot dan fungsi saraf yang berhubungan dengan proses penghantar rasangan. Peranan kalsium dalam tubuh ini dapat juga dibagi menjadi dua, yaitu membantu membentuk tulang dan gigi juga mengukur proses biologi dalam tubuh. Kebutuhan kalsium terbesar terjadi pada waktu pertumbuhan, tetapi keperluan kalsium masih diteruskan hingga dewasa. Kalsium yang terdapat pada tulang dan gigi memberi struktur tulang dan gigi. Tulang dan gigi tersebut berfungsi sebagai sumber kalsium bagi tubuh (Winarno 1989).

Simpulan Kalsium dalam tubuh paling banyak ditemukan pada tulang. Namun, kalsium juga dapat ditemukan pada darah. Kadar kalsium dapat ditentukan dengan mengukurnya dari serum. Percobaan yang dilakukan menggunakan serum darah sapi untuk penentuan kadar kalsium dengan metode Collin & Clark. Kadar kalsium yang didapat adalah < 8 mg%.

Daftar Pustaka Arifin Z et al. 1999. Konsentrasi mineral makro (Ca, Mg dan P) dalam serum sapi selama masa kebuntingan. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner: 315317. Hide W et al. 1977. Analytica l Toxicology Methods Manual. Iowa State: University Press. Schuette SA, Linkswiler HM. 1988. Pengetahuan Gizi Mutakhir: Mineral. Jakarta: Gramedia. Winarno FG. 1995. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Yulinsa. 2008. Alat Penelitian Mikroorganisme [internet].[diunduh pada 2013 Mei 21]. Tersedia pada : http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/18/jtptunimus-gdl-s12008-nitayulind-899-2-bab2.pdf.