Anda di halaman 1dari 5

Khoir et al., PENGARUH SARI KEDELAI (Glycine max L.

) TERHADAP APOPTOSIS SEL PADA KANKER PARU TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI 7,12-Dimetilbenz(a)antrasen (DMBA)

PENGARUH SARI KEDELAI (Glycine max L.) TERHADAP APOPTOSIS SEL PADA KANKER PARU TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI 7,12Dimetilbenz(a)antrasen (DMBA) Effect of Soya (Glycine max.L) Against Cells Apoptosis of Wistar Rats ( Rattus norvegicus) Lung Cancer which Induced 7,12 Dimethylbenz(a)antrhacene (DMBA)
Alfa Miftahul Khoir, dr. Heni Fatmawati, M. Kes., dr. Nindya Shinta Rumastika, M. Ked. Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Jember (UNEJ) Jln. Kalimantan 37, Jember 68121 E-mail: fatmawatiheni@ymail.com

Isoflavon adalah salah satu zat aktif dalam kedelai ( glicyine max.L) yang diduga memiliki kemampuan sebagai anti kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari sari kedelai terhadap apoptosis sel pada kanker paru tikus wistar. Penilitian ini menggunakan post test only control group design, menggunakan 25 ekor tikus yang dibagi dalam 5 kelompok, 2 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Kelompok kontrol negatif (K-) adalah kelompok yang diberi makan dan minum biasa (tanpa perlakuan). Kelompok kontrol positif (K+) adalah kelompok yang diberi makan normal dan DMBA 4,2 mg/hari. Kelompok perlakuan (P1, P2 dan P3) diberikan sari kedelai dengan dosis 5 mg/hari, 10 mg/hari, dan 20 mg/hari dan DMBA dengan dosis tunggal 4,2 mg selama 30 hari. Sediaan apoptosis jaringan paru dilakukan pewarnaan dengan imunohistokimia metode TUNEL. Hasil penelitian menunjukkan kedelai berpengaruh terhadap apoptosis sel pada kanker paru, dan terdapat peningkatan apoptosis sel seiring dengan bertambahnya dosis kedelai. Pemberian dosis sari kedelai 20 mg/hari mampu menunjukkan hasil yang paling baik. Kata Kunci: Apoptosis, DMBA, kanker Paru, Sari kedelai.

Abstrak

Isoflavone is one of the active substances in soya (glicyine max.L) who allegedly has the ability as an anti-cancer. This study aims to determine the effect of soya against cells apoptosis of wistar rats lung cancer. The studies using post test only control group design, using 25 rats were divided into 5 groups, 2 control groups and 3 treatment groups. Negative control group (K-) is the group given normal food and drink (no treatment). Positive control group (K+) is a group fed a normal food and DMBA 4.2 mg/day. The treatment groups (P1, P2 and P3) are given soya with a dose of 5 mg/day, 10 mg/day, and 20 mg/day and a single dose of DMBA 4.2 mg for 30 days. Preparations apoptosis of lung tissue performed staining with immunohistochemical TUNEL method. Results showed soya affects cells apoptosis in lung cancer, and there is an increase in cells apoptosis along with increasing doses of soya. Giving soya dose of 20 mg/day was able to show the best results. Keywords: Apoptosis, DMBA, Lung Cancer, Soya.

Abstract

Pendahuluan
Kanker menjadi masalah kesehatan dari banyak negara di dunia dan termasuk penyakit yang menjadi perhatian serius pada bidang kedokteran. Di Indonesia kanker menempati peringkat keenam penyebab kematian setelah penyakit infeksi, kardiovaskular, kecelakaan lalu lintas, defisiensi nutrisi dan penyakit kongenital. Diperkirakan ada 170-190 kasus baru pada setiap 100.000 penduduk tiap tahun [1]. Sel kanker dapat tumbuh pada berbagai organ manusia salah satunya yaitu paru. Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran nafas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel jaringan yang normal. Kanker paru menduduki urutan kedua penyebab utama kematian seseorang akibat kanker, setelah kanker payudara. Menurut World Health Organization (WHO) terdapat sekitar 1,2 juta kasus baru setiap tahun dan merupakan 17,8% penyebab kematian karena kanker. The American Cancer Society memperkirakan pada tahun 2006 terdapat 174.470 (12%)

kasus baru kanker paru. Lebih dari 3 juta orang pasien kanker paru, terutama berasal dari negara berkembang [2]. Kanker paru bisa disebabkan oleh banyak faktor, merokok merupakan faktor yang berperan paling penting, yaitu 85% dari seluruh kasus. Kejadian kanker paru pada perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang dihisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya berhenti merokok. Selain merokok faktor penyebab kanker paru yaitu perokok pasif, polusi udara, paparan zat karsinogen (asbestos, uranium, radon, arsen, kronium), penyakit paru dan genetik [3]. Selama 20 tahun terakhir sejumlah percobaan telah dilakukan untuk mengurangi angka kematian pada penderita kanker paru, penggunaan terapi pembedahan, radio terapi, kombinasi kemoterapi ataupun kombinasi seluruhnya, namun perbaikan kelangsungan hidup masih kecil. Hasil pengobatan kanker paru saat ini masih kurang memuaskan, jadi dibutuhkan usaha pencegahan, salah satu usaha pencegahan kanker yaitu gaya hidup sehat dengan cara mengkonsumsi makanan yang memiliki kandungan yang bisa menghambat pertumbuhan kanker. Kedelai (Glycine max L.) adalah salah satu sumber makanan yang berpotensi sebagai agen kemopreventif kanker. Antioksidan

UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2012, I (1): 1-5

Khoir et al., PENGARUH SARI KEDELAI (Glycine max L.) TERHADAP APOPTOSIS SEL PADA KANKER PARU TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI 7,12-Dimetilbenz(a)antrasen (DMBA)
pada kedelai berguna mengikat radikal bebas yang dapat berpotensi terhadap timbulnya penyakit kanker [4]. Kedelai merupakan tanaman yang termasuk dalam suku polong-polongan (Leguminoceace ). Kedelai mengandung senyawa antioksidan diantaranya adalah vitamin E, vitamin A, provitamin A, vitamin C dan senyawa flavonoid golongan isoflavon, genistein dan daidzein. Isoflavon dalam kedelai dipercaya memiliki efek anti kanker dengan menghambat aktivitas enzim penyebab kanker, aktifitas antioksidan, meningkatan kekebalan sel dan sebagai zat anti estrogen. Selain berfungsi untuk mencegah kanker, biji kedelai juga berfungsi untuk menurunkan resiko terkena penyakit jantung, diabetes, ginjal dan osteoporosis [5]. Berdasarkan potensi kedelai sebagai agen kemopreventif kanker salah satunya untuk kanker paru, maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai Pengaruh Sari Kedelai (Glycine max L.) terhadap Apoptosis Sel Pada Kanker Paru Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Yang Diinduksi 7,12-Dimetilbenz( a)antrasen (DMBA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sari kedelai (Glycine max L.) terhadap apoptosis sel pada kanker paru tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi DMBA. serta mengetahui pengaruh perbedaan pemberian dosis sari kedelai terhadap apoptosis sel pada kanker paru tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi DMBA. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa sari kedelai (Glycine max L.) dapat digunakan sebagai agen kemopreventif alami untuk kanker paru, sebagai sumbangan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran tentang efek antikanker sari kedelai (Glycine max L.), serta memberikan informasi dan pengetahuan mengenai kanker paru dan cara pencegahannya.

lambung bertujuan mencegah bahan tersebut dimuntahkan dari jumlah yang telah ditetapkan. Pengambilan jaringan paru dilakukan dengan cara tikus dianastesi dengan menggunakan larutan eter sehingga saat didekaputasi tikus dalam keadaan tenang. Tikus diletakkan pada papan dengan keempat ekstremitas difiksasi menggunakan jarum pentul. Abdomen sampai daerah toraks tikus dieksisi kemudian organ paru diambil. Setelah itu dibuat sediaan apoptosis jaringan paru. Kemudian dilakukan Pewarnaan sel apoptosis dengan Terminal Transferase and Biotin-16-dUTP (TUNEL Fluorescent Method). Pengamatan dan penghitungan apoptosis sel jaringan paru dilakukan dengan mikroskop cahaya dengan perbesaran 400 kali pada 10 lapang pandang dan dinyatakan dalam satuan N sel per 10 lapang pandang. Jumlah apoptosis sel pada kanker paru tikus wistar adalah hasil total sel dengan inti yang berwarna coklat, mengalami penyusutan (shrinkage ), fragmentasi dan dikelilingi oleh halo yang jernih yang bereaksi positif terhadap pewarnaan imunohistokimia metode TUNEL. Data yang diperoleh dianalisis dan disajikan dalam bentuk grafik setelah sebelumnya dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas kemudian dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA untuk membandingkan rerata data. Kemudian dilanjutkan dengan uji statistik Post Hoc Tukey HSD.

Hasil Penelitian
Berdasarkan uji Kolgomorov-Smirnov didapatkan hasil bahwa data berdistribusi normal dengan nilai signifikansi >0,05. Berdasarkan uji homogenitas Levene didapatkan hasil bahwa data homogen dengan nilai signifikansi >0,05. Karena data memiliki distribusi normal dan homogen maka dilanjutkan dengan uji parametrik one way ANOVA. Dari hasil uji one way ANOVA kelompok kontrol dan kelompok perlakuan diperoleh nilai signifikansi 0,00 atau terdapat perbedaan antar kelompok. Untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki perbedaan bermakna, maka dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey HSD. Didapatkan ada beberapa kelompok menunjukkan perbedaan bermakna dan beberapa kelompok tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Kelompok K- tidak berbeda secara bermakna dengan kelompok K+ dan P1. Kelompok K+ tidak berbeda secara bermakna dengan kelompok K-, P1 dan P2. Kelompok P1 tidak berbeda secara bermakna dengan kelompok K-, K+ dan P2. Kelompok P2 tidak berbeda secara bermakna dengan kelompok K+, P1 dan P3. Sedangkan kelompok P3 berbeda secara bermakna dengan kelompok K-, K+ dan P1.

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian experimental dengan rancangan Post Test Only Control Group Design [6]. Sampel penelitian ini menggunakan tikus putih betina strain wistar (Rattus norvegicus) sebanyak 25 ekor, berumur 8-12 minggu dengan berat badan sekitar 120 gram dan ditempatkan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Jumlah sampel penelitian menurut rumus Federer [7], yaitu minimal 5 ekor binatang coba tiap satu kelompok perlakuan. Sari kedelai dibuat dengan cara menghaluskan kedelai hingga menjadi bubuk kedelai, kemudian bubuk kedelai diukur dengan berbagai dosis, yaitu 5mg, 10mg, dan 20mg. Berikutnya setiap dosis kedelai dilarutkan dengan 1 ml aquadest, lalu disaring dengan kertas saring agar terbebas dari ampas kedelai. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok dengan randomisasi sederhana, yaitu 2 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Kelompok kontrol negatif (K-) adalah kelompok kontrol yang diberi makan dan minum biasa (tanpa perlakuan). Kelompok kontrol positif (K+) adalah kelompok kontrol yang diberi makan dan minum biasa serta pemberian DMBA 4,2 mg per sonde. Kelompok perlakuan P1, P2 dan P3 diberikan sari kedelai dengan dosis 5 mg/hari, 10 mg/hari, dan 20 mg/hari per sonde dan DMBA dengan dosis tunggal 4,2 mg DMBA setiap hari selama 30 hari. Pemberian DMBA dan sari kedelai dilakukan per oral dengan menggunakan alat bantu sonde

Tabel 1. Hasil Rerata Apoptosis Sel Paru Pada Tiap Kelompok

Kelompok Kontrol + Kontrol Perlakuan 1 Perlakuan 2

N 5 5 5 5

Mean 20,60 31,40 31,00 37,20

SD 5,27 5,41 6,52 6,30

UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2012, I (1): 1-5

Khoir et al., PENGARUH SARI KEDELAI (Glycine max L.) TERHADAP APOPTOSIS SEL PADA KANKER PARU TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI 7,12-Dimetilbenz(a)antrasen (DMBA)
Perlakuan 3 5 46,60 11,28

Gambar 1. Diagram Rerata Apoptosis Sel Paru Pada Berbagai Kelompok

Berdasarkan hasil rerata apoptosis sel pada berbagai kelompok, dapat dilihat bahwa kelompok kontrol negatif yang tidak diinduksi DMBA mempunyai rerata apoptosis sel paling rendah dibandingkan semua kelompok, yaitu sebesar 20,60 sel dengan standar deviasi 5,27. Sedangkan rerata apoptosis sel pada kanker paru terbesar terdapat pada kelompok perlakuan 3 dengan pemberian sari kedelai 20mg/hari, yaitu sebesar 46,60 dengan standar deviasi 11,28. Selain itu, pada kelompok perlakuan (P1, P2, P3) terdapat kenaikan jumlah apoptosis sel pada kanker paru seiring dengan meningkatnya dosis sari kedelai.

gambar 2. Gambaran histopatologi apoptosis sel paru pada tiap kelompok dengan pewarnaan imunohistokimia metode TUNEL. Keterangan:(a) kontrol negatif; (b) kontrol positif; (c) perlakuan I; (d) perlakuan II; (e) perlakuan III

Pembahasan
Pada penelitian ini digunakan tikus wistar ( Rattus Novergicus) betina sebagai hewan uji. Berdasarkan European Respiratory Society (ERS) terjadi peningkatan kasus kanker paru di kalangan non perokok, khususnya wanita. Pada tahun 2010 ditemukan sebanyak 24,4% pasien kanker paru adalah wanita, meningkat 16% dibandingkan pada tahun 2000. Menurut penelitian yang dilakukan di Amerika, wanita yang sudah memasuki masa menopause angka resiko terkena kanker paru sama besarnya dengan laki-laki [8]. Oleh karena itu dipilih tikus wistar betina sebagai model percobaan. Pada penelitian ini digunakan 7,12Dimetilbenz(a)antrasen (DMBA) dengan dosis 4,2 mg/hari sebagai induksi karsinogenesis sel kanker paru. UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2012, I (1): 1-5

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, DMBA merupakan karsinogen poten yang banyak digunakan pada hewan pengerat seperti tikus. Prokarsinogen DMBA dapat menimbulkan kanker pada organ seperti paru, hati, jantung, kolon, lambung, ovarium, uterus, dan ginjal [9]. Jalur metabolisme DMBA melalui aktivasi enzim sitokrom P450 yang diekspresikan oleh payudara dan hati akan membentuk proximate carcinogen serta ultimate carcinogen . Ultimate carcinogen merupakan metabolit akhir dari karsinogen induk yang akan membentuk DNA adduct . Minyak wijen merupakan pelarut yang efektif untuk DMBA [10]. Sari kedelai yang digunakan dalam penelitian ini mengandung senyawa antioksidan di antaranya adalah vitamin E, vitamin A, provitamin A, vitamin C dan senyawa flovanoid golongan isoflavon [11]. Jenis senyawa isoflavon ini terutama adalah genistein, daidzein, dan glisitein [12]. Keistimewaan isoflavon yang telah diketahui sampai saat ini ialah kemampuan sebagai antioksidan dan antikanker [13]. Detoksifikasi senyawa karsinogen atau ultimate carcinogen di lakukan oleh enzim pemetabolisme terutama pada fase II yaitu enzim glutathion S-transferase (GST). Kemampuan detoksifikasi akan meningkat apabila ada peningkatan aktivitas (induksi) enzim ini. Peningkatan detoksifikasi menyebabkan senyawa reaktif menjadi tidak aktif dan mudah diekskresikan keluar tubuh, aktifitas selanjutnya terjadi penurunan DNA adduct (kerusakan DNA) dan proses inisiasi karsinogen dihambat. Kandungan isoflavon dalam flavonoid yang sangat tinggi pada sari kedelai mampu meningkatkan ekspresi enzim GST yang dapat mendetoksifikasi karsinogen reaktif menjadi tidak reaktif dan lebih polar sehingga cepat dieliminasi dari tubuh [14]. Hasil uji normalitas dengan Kolmogorof-Smirnov Test, diperoleh data terdistribusi normal. Hal ini dapat dilihat dari nilai significancy semua kelompok lebih besar dari 0,05 yang artinya data tersebut terdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas dengan Uji Levene . Hasil Uji Levene didapatkan nilai significancy (sig.) semua kelompok lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan varian antar kelompok sampel yang diteliti atau varian antar kelompok sampel adalah sama (homogen). Dari hasil uji tersebut didapatkan data yang terdistribusi normal dan homogen, sehingga analisis data dapat dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA untuk membedakan rerata semua kelompok data dengan cara membandingkan variansinya. Output Anova menunjukkan bahwa nilai significancy 0,00. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antar semua kelompok. Oleh karena itu diperlukan uji lanjutan melalui uji Tukey HSD untuk mengetahui perbedaan antar kelompok tersebut. Pada hasil yang didapatkan dari analisis data dengan uji lanjutan melalui tes Tukey HSD dapat dilihat perbandingan rerata apoptosis sel pada tiap kelompok. Perbandingan rerata apoptosis sel pada kelompok K- tidak terdapat perbedaan secara bermakna dengan kelompok K+, ini berarti pada kelompok yang diberi makanan saja dan kelompok yang diberi DMBA induksi apoptosis sel hanya minimal. Perbandingan rerata apoptosis sel pada kelompok P1 tidak terdapat perbedaan secara bermakna dengan kelompok K-, ini berarti pemberian dosis sari kedelai 5 mg/hari (P1), belum dapat menunjukkan induksi apoptosis

Khoir et al., PENGARUH SARI KEDELAI (Glycine max L.) TERHADAP APOPTOSIS SEL PADA KANKER PARU TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI 7,12-Dimetilbenz(a)antrasen (DMBA)
sel yang optimal. Sedangkan pada kelompok P2 dan kelompok P3 terdapat perbedaan secara bermakna dengan kelompok K-, ini berarti pemberian sari kedelai 10 mg/hari (P2) dan 20 mg/hari (P3) mampu menginduksi terjadinya apoptosis sel lebih banyak dari pada pemberian sari kedelai 5 mg/hari (P1). Perbandingan rerata apoptosis sel pada kelompok P1 dan kelompok P2 tidak terdapat perbedaan secara bermakna dengan kelompok K+, ini berarti pemberian dosis sari kedelai 5 mg/hari (P1) dan 10 mg/hari (P2) belum dapat menunjukkan induksi apoptosis sel yang optimal. Sedangkan pada kelompok P3 terdapat perbedaan secara bermakna dengan kelompok K+, ini berarti pemberian sari kedelai 20 mg/hari (P3) mampu menginduksi terjadinya apoptosis sel lebih banyak dari pada pemberian sari kedelai 5 mg/hari (P1) dan 10 mg/hari (P2). Perbandingan rerata apoptosis sel pada kelompok P3 terjadi perbedaan secara bermakna dengan kelompok Kdan kelompok K+, ini berarti pemberian dosis sari kedelai 20 mg/hari (P3) mampu menginduksi apoptosis sel yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberi makanan saja dan kelompok yang diberi DMBA. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, didapatkan perbedaan pengaruh pemberian dosis sari kedelai terhadap apoptosis sel pada kanker paru tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi 7,12-Dimetilbenz(a)antrasen (DMBA). Pemberian sari kedelai dengan dosis 20 mg/hari pada kelompok perlakuan 3 (P3) mampu memberikan hasil apoptosis sel yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok tanpa pemberian sari kedelai atau dengan pemberian dosis sari kedelai 5 mg/hari dan 10 mg/hari. Hasil yang tidak signifikan pada perbandingan beberapa kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dapat disebabkan karena pemberian dosis sari kedelai pada kelompok tersebut belum dapat menghasilkan pengaruh terhadap apoptosis sel. Selain itu dapat juga karena stress selama perlakuan. Stress yang terjadi dapat diakibatkan karena ketidaknyamanan akibat kondisi kandang yang tidak luas sehingga ruang gerak tikus terbatas. Pemicu stress yang lain dapat disebabkan oleh proses penyondean dalam memberikan cairan. Proses penyondean yang dilakukan secara paksa dapat membuat tikus merasa tidak nyaman dan stress [15]. Ada korelasi positif antara stress dengan penurunan sistem imun baik spesifik ataupun non spesifik. Penurunan sistem imun mengakibatkan penurunan produksi antioksidan seperti glutation. Seperti yang telah diketahui bahwa tubuh menghasilkan radikal bebas secara alami dari proses metabolisme. Kurangnya jumlah antioksidan tubuh untuk menetralisir radikal bebas yang ada dapat menyebabkan stress oksidatif. Pada kondisi tubuh yang seperti ini, sel tubuh rentan untuk mengalami kerusakan akibat serangan dari benda asing maupun dari radikal bebas itu sendiri [16].

Saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang sari kedelai dengan dosis lebih dari 20 mg/hari sebagai agen kemopreventif kanker paru, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang mekanisme kerja sari kedelai dalam proses apoptosis. Selain itu, perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan ragam jenis olahan kedelai lainnya untuk mengetahui manfaat lain yang dikandungnya.

Daftar Pustaka/Rujukan
[1]

[2] [3] [4]

[5]

[6]

[7] [8]

[9]

[10]

[11]

[12] [13]

[14]

Kesimpulan dan Saran


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Sari kedelai ( Glycine max L.) berpengaruh terhadap peningkatan apoptosis sel pada kanker paru tikus wistar (Rattus norvegicus ). Selain itu, Ada pengaruh perbedaan pemberian dosis sari kedelai (Glycine max L.) terhadap apoptosis sel pada kanker paru tikus wistar (Rattus norvegicus ).

[15]

Tjindarbumi, D., dan Mangunkusumo, R. 2002. Cancer in Indonesia, Present and Future, Jpn J Clin Oncol: 32 (Supplement 1): S17-S21. Hidayat, H. 2008. Trends in lung cancer morbidity and mortality . America: America Lung Association. Van Houtte P et al, 2001. Lung Cancer Clinical Oncology . Edisi 8. Philadelphia : Education limited. Li Y., Amer, S. M. 1999. Induction of Apoptosis in Breast Cancer Cell MDA MB-231 byGenestein. Oncogene ; 18: 3166-72. Koswara, Sutrisno. 2006. Isoflavon Senyawa Multi Manfaat dalam Kedelai . Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Pratiknya, A. W. 2003. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan . Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Budiarto, E. 2001. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat . Edisi 2. Jakarta: EGC. Asali, A. R. 2012. Deteksi Dini Kanker Paru Dengan Low Dose Helical CT Scan . Departemen Anatomi Fakutas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya. CDK-189/vol.1. Hlm 70 Munim, A., Andrajati, R., Susiowati, H. 2006. Uji Hambatan Tumorigenesis Sari Buah Merah (Pandanus Conoideuslam) Terhadap Tikus Putih Betina Yang Diinduksi 7,12 Dimetilbenz(a)antrasen (DMBA). Majalah Ilmu Kefarmasian Vol. III, No. 3. ISSN: 1693-9883. Syukri, Y. S. 2008. Aktivitas Antikarsinogenesis Ekstrak Etanol Daging Buah Mahkota Dewa pada Mencit yang Diinduksi 7,12-Dimetilbenz(a)antrasena . Jurnal Ilmu kefarmasian Indonesia . ISSN 1693-1831. Rahma, Heny. 2010. Karakterisasi Senyawa Bioaktif Isoflavon dan Uji Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Etanol Tempe Berbahan Baku Kedelai Hitam . Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Ayuningtias, A. 2009. Isoflavon dalam Kedelai Memberi Banyak Manfaat Bagi Tubuh. Jatinangor. Pawiroharsono, Suyanto. 2008. Prospek dan Manfaat Isoflavon pada Kesehatan, Direktorat Teknologi Bioindustri, Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Susilowati. 2010. Efek Kemopreventif ekstrak Metanol Kulit Kayu Nangka (Artocarpus Heterophylla Lmk.) Pada Karsinogenesis Kanker Payudara Tikus Betina yang Diinduksi DMBA . Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Balcombe J.P., Barnard N.D., Sandusky C. 2004. Laboratory Routine Cause animal Stress. American Association for Laboratory Animal Science 43. Hlm 42-49

UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2012, I (1): 1-5

Khoir et al., PENGARUH SARI KEDELAI (Glycine max L.) TERHADAP APOPTOSIS SEL PADA KANKER PARU TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI 7,12-Dimetilbenz(a)antrasen (DMBA)
[16]

Gunawan, Setiabudy, Nafrialdi, dan Elysabeth. 2009. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik, FK UI.

UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2012, I (1): 1-5