Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penderita paraplegia memiliki masalah yang kompleks diantaranya dalam pemenuhan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) yang mengalami perubahan keterbatasan mobilitas akibat dari kecacatan yang terjadi, sehingga menjadikan suatu hambatan bagi individu dalam melaksanakan tugasnya. Paraplegi adalah kelayuhan anggota gerak bagian bawah akibat kerusakan pada medulla spinalis dibagian thorakal,lumbal dan sacrum (Powell,1986). Adapun penyebab paraplegia antara lain : trauma yang menimpa tulang punggung,infeksi tulang punggung,H.N.P. (Hernia Nucleus Pulposus),tumor pada tulang belakang dan dapat dari cacat bawaan (Soeharso,1980). Penyuluhan kesehatan kepada penderita paraplegia merupakan salah satu intervensi dalam meningkatkan kemandirian aktivitas kehidupan sehari-hari. Penyuluhan kesehatan berusaha mengembangkan pengertian penderitas paraplegia tentang penyakit yang dideritanya, mencakup hal-hal yang perlu diketahui dan dikerjakan oleh penderita paraplegia dan keluarganya untuk berperan secara positif dalam usaha penyembuhan dan meningkatkan pemenuhan aktivitas kehidupan sehari-hari. Penyuluhan kesehatan masyarakat, disingkat PKM merupakan program pokok yang disebutkan pada urutan pertama, diantara 7 program pokok dan 10 program unggulan dalam pembangunan kesehatan masyarakat mempunyai peran menetukan

dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang merupakan focus pembangunan nasional. Oleh karena itu program PKM perlu diselenggarakan dengan sebaik-baiknya, agar dapat memberikan sumbangan yang nyata dalam pembangunan kesehatan pada khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya. Berdasarkan studi pendahuluan dari penderita Paraplegia yang berada di Ruang Lontara RSUP DR.Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Juni,Juli,Agustus tahun 2002 terdapat 25 orang dan semuanya (100 %) memerlukan bantuan orang lain dalam memenuhi aktivitas sehari-sehari. Hal ini dikarenakan beratnya kecacatan yang diderita oleh penderita Paraplegia, karena selain mengalami gangguan pada system syaraf, juga mengakibatkan gangguan pada system eliminasi yaitu inkontinensia alfi dan inkontinensia uri. Kecacatan penderita Paraplegia dapat bersifat permanen sehingga dapat mempengaruhi perilakunya, kadang-kadang terjadi keputusasaan dalam menghadapi kehidupannya, merasa dirinya tidak berguna lagi. Oleh karena itu Perawat harus pandaipandai didalam memberikan penyuluhan kesehatan agar penderita Paraplegia mempunyai semangat untuk menghadapi kehidupannya.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis mengambil rumusan masalah yaitu : Bagaimana Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap tingkat kemandirian dalam pemenuhan aktivitas kehidupan sehari-hari pada penderita Paraplegia di Rumah Sakit Umum Pusat DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar ?

C. Hipotesis Penyuluhan kesehatan dapat meningkatkan kemandirian aktivitas kehidupan sehari-hari pada penderita Paraplegia dibandingkan dengan penderita Paraplegia yang tidak diberikan penyuluhan kesehatan. D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap tingkat kemandirian dalam pemenuhan aktivitas kehidupan sehari-hari pada penderita Paraplegia di RSUP Dr. Wahidin sudirohusodo Makassar 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui tingkat kemandirian penderita Paraplegia dalam pemenuhan aktivitas kehidupan sehari-hari. b. Untuk mengetahui peningkatan pengethauan,sikap kemandirian, sarana pendukung dan dukungan keluarga E. Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan masukan kepada pihak Pendidikan S1 Ners Universitas Hasanuddin Makassar didalam mengembangkan konsep penyuluhan terhadap pasien dengan Paraplegia 2. Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, bagi penderita yang dirawat dengan diagnosa Paraplegia 3. memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya penyuluhan kesehatan terhasdap penderita Paraplegia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A . Kemandirian Kemandirian menurut pendapat Elkind dan Meiner mencakup pengertian kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung pada orang lain, tidak terpengaruh lingkungan dan bebas mengatur kebutuhan sendiri (Nuryoto dalam jurnal Psikologis, 1993). B. Kebutuhan Aktivitas Tubuh oraang yang menderita paraplegia seringkali lemah pada permulaan. Kekakuan yang cenderung menjadi kontraktur kelangsungannya berjalan lamban. Persendian menjadi fleksi yang menetap dalam posisi tidak terpakai dengan deformitasm bila tindakan pencegahan tidak dilakukan oleh perawat. (Barbara C. Long dalam Keperawatan Medikal Bedah 1996). C. . Paraplegia Paraplegia adalah penderita yang luyuh kedua belah kakinya dan pada umumnya disebabkan oleh rusaknya sum-sum tulang belakang sebagai akibat peluru atau senjata lainnya atau kerusakan pada tul;asng punggungnya ( Soeharso, 1980 ) D. Penyuluhan Kesehatan Penyuluhan kesehatan adalah penyuluhan kesehatan yang khusus dikembangkan untuk membantu pasien dan keluarganya untuk dapat menangani kesehatannya, hal ini merupakan tanggung jawab bersama dan berkesinambungan petugas kesehatan dan pasien. Penyuluhan dimul;ai sejak pasien masuk Rumah Sakit. Karena itu pengalaman positif yang dialami pasien sejak awal ia berinteraksi dengan tenaga kesehatan sangat

mempengaruhi keberhasilan program pwenyuluhan kesehatan masyarakat Rumah Sakit ini (Dep.Kes. RI, 1990). Perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang tersebut,

ketersediaan dan ketidaktersediaan fasilitas kesehatan serta sikap dan perilaku para petugas kesehatan (Notoatmodjo, S. 1988). Membuat data akhir tentang Aktifitas Kehidupan Sehari-hari pada penderita paraplegia saat akan pulang dari RSUP Dr.WAHIDIN SUDIROHUSODO. Kemudian membandingkan antara data awal dan data akhir sehingga memperoleh hasil tingkat kemandirian tentang Aktifitas Kehidupan Sehari-hari pada penderita paraplegia yang dirawat di Ruang Lontara RSUP Dr.WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR yaitu Mandiri, Partial Mandiri, dan Tidak Mandiri.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah Penelitian Eksperimental Semu (quasi experimental research). Alasan memilih penelitian eksperimental semu karena pada kenyataannya sulit mendapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian (Sugiyono, 2000). Eksperimen adalah suatu desain yang umum digunakan dalam ilmu pengetahuan alam atau ilmu dasar. Desain ini memungkinkan peneliti untuk menegakkan hubungan sebab akibat dan karenanya secara akurat meramalkan dan menjelaskan fenomena. Dalam melaksanakan suatu eksperimen, peneliti berusaha untuk memastikan bahwa hasil-hasil dari syudi dapat secara akurat terkait dengan memanipulasi variable-variabel yang diteliti. Untuk memastikan bahwa hasil-hasil studi dapat dihubungkan dengan intervensi, suatu perbandingan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrok diperlukan. Dalam riset keperawatan randomisasi pada peserta kedalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol seringkali tidak mungkin dilaksanakan. Untungnya, terdapat desain riset yang disebut quasi eksperimental, yang memungkinkan suatu tingkat terhadap kontrol yang beralasan tanpa menggunakan susunan randomisasi. Peneliti yang menggunakan desain ini dapat merasakan lebih

yakin terhadap intervensi hasil-hasilnya dari mereka yang menggunakan pre eksperimental , tetapi tidak dapat mengambil kesimpulan penyebabnya. Desain quasi eksperimental memerlukan manipulasi variable bebas tetapi kurang setidaknya salah satu dari dua karakteristik lain pada eksperimen, yakni apakah randomisasi atau suatu kelompok kontrol. Tujuan penelitian eksperimental semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan semua variable yang relevan (Suryabrata, 1998). Rancangan penelitian ini adalah One Group Pretest-Postes Design. Dalam rancangan ini digunakan satu kelompok subyek. Pertama-tama dilakukan pengukuran awal (T1), lalu dikenakan perlakuan untuk jangka waktu tertentu, kemudian dilakukan pengukuran akhir (T2).

Rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut : Pretest T1 Treatment X Posttest T2

B. Prosedur Penelitian - Kenakan T1 yaitu pretest, untuk mengukur mean kemandirian Aktivitas Kehidupan Sehari-hari sebelum subyek diberi penyuluhan/pelatihan pada hari pertama rawat inap di RSUP Dr.WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR. - Kenakan subyek dengan X, yaitu metode penyuluhan/pelatihan kepada penderita paraplegia pada hari kedua rawat inap di RSUP Dr.WAHIDIN

SUDIROHUSODO sampai 1 hari sebelum pulang dari RSUP Dr.WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR. -. Berikan T2 yaitu posttest, untuk mengukur kemandirian Aktivitas Kehidupan

Sehari-hari setelah subyek dikenakan variable eksperimental X, pada saat akan pulang dari RSUP Dr.WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR. Bandingkan T1 dan T2 untuk menentukan seberapakah perbedaan yang timbul -. Terapkan test statistik yang cocok, dalam hal ini test untuk menentukan apakah perbedaan itu signifikan. Instrumen yang digunakan dalam pengukuran Pretest adalah sama dengan instrumen pada waktu Posttest.

C. Alat dan Bahan Penelitian 1. Alat 1.1. Lokasi Penelitian ini dilakukan di ruang perawatan Lontara RSUP Dr.WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR. Dipilihnya lokasi ini karena tempat tersebut merupakan ruang khusus untuk perawatan penderita paraplegia. 1.2. Populasi Populasi penelitian ini adalah penderita paraplegia yang sedang dirawat di ruangan perawatan lontara IV Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahisin Sudirohusodo Makassar sampai boleh pulang dari Rumah Sakit dengan izin dokter yang merawatnya. 1.3. Sampel Sampel diambil dari jumlah populasi penderita paraplegia yang dirawat di ruang Lontara IV RSUP Dr. Wahidsin Sudirohusodo Makassar mulai bulan Desember 2002 hingga mendapatkan minimal 30 penderita, karena jumlah populasinya sangat sedikit. 1.4 Panduan Observasi Panduan observasi ini digunakan sebagai alat ukur penelitian. Alat yang digunakan berbentuk check list yaitu untukj mengetahui sikap terhadap

kemandirian dan sarana pewnunjang kemandirian

1.5. Kuesioner Mengadakan wawancara dengan penderita paraplegia dan keluarganya, hal ini untuk mwngetahui : umur,pendidikan,pengetahuan,dukungan keluarga.

2. Bahan Penyuluhan Bahan penyuluhan yang digunakan dalam penelitian ini berupa pesan materi tentang aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS). Adapun materi penyuluhan ini akan dikemas dalam bentuk modul yang disusun oleh peneliti dengan studi kepustakaan dari Handbook For Paraplegic and Quadriplegics, Activities Of Daily Living for Physical Rehabilitation; Buku Ajar Geriatri; Diarrhoeal Disease Control Examples of Health Education Material. D. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas adalah merupakan variable yang menjadi sebab

perubahannya atau timbulnya variable terikat ( Sugiyono, 2000 ). Variabel bebas dalam penelitian yaitu: pengetahuan, sikap terhadap

kemandirian, sarana pendukung kemandirian. 2. Variabel terikat adalah merupakan variable yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variable bebas (Sugiyono, 2000). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah: tindakan dalam

melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari. 3. 4. Variabel tak terkendali yaitu : dukungan keluarga Variabel terkendali yaitu : umur,pendidikan

10

E. Kerangka Konsep Penelitian

Klien Paraplegia

Dampak Immobilisasi dan Kecacatan

Penyuluhan Kesehatan

Peningkatan Pengetahuan Klien

Hasil Peningkatan Kemandirian Klien

Peningkatan Kemandirian Aktivitas Keseharian Klien

Penyuluhan Kesehatan Berkelanjutan

Ukur Hasil Peningkatan Kemandirian Aktivitas Klien

11