Anda di halaman 1dari 21

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama Jenis Kelamin Umur Berat Badan Agama Suku Nama Ayah Pendidikan terakhir Pekerjaan Nama Ibu Pendidikan terakhir Pekerjaan Alamat Geografis Tanggal Masuk RS Tanggal Pemeriksaan Tanggal Pasien Pulang : An. A : Laki - Laki : 12 tahun : 33 kg : Islam : Jawa : Tn. S : STM : Swasta : Ny. J : SMP : Ibu Rumah tangga : Ds. Sambung Gede Kec. Merak Urak : Pasien Sejak lahir tinggal di Tuban : 26 Juli 2011 : 26 Juli 2011 : 30 Juli 2011

II.

AUTOANAMNESA & HETEROANAMNESA


Dilakukan heteroanamnesa juga karena pasien agak sulit untuk berbicara. > RPS :

Panas naik turun sejak 1 minggu yang lalu, menggigil (+) , panas jika malam hari, mengigau (+), mual muntah (-), pusing (-), nafsu makan normal, lidah terasa pahit, jika minum obat muntah, batuk pilek (-) > RPD : Sebelumnya ke rumah sakit semen gresik dangan KU panas 7 hari, tidak batuk, ,pusing (+), mual . Diagnosa Observasi Febris causa suspect demam typhoid Different Diagnosa Dengue Hemorrhagic Fever Demam Typoid pada umur 4 tahun, dirawat di RSUD Dr. Koesma Tuban > RPK : -

> Riwayat Antenatal

: - Kontrol rutin kehamilan ke bidan sampai melahirkan Waktu hamil ibu dalam keadaan sehat Obat obatan yang pernah diminum adalah Vitamin dari Bidan.

> Riwayat Natal

: - Lahir secara Spontan di Bidan - Keadaan lahir cukup bulan dengan berat bayi 3.200 gr. Berat Sesuai untuk Masa Kehamilan

> Riwayat Makanan

: - Sejak lahir diberi ASI sampai umur 2 tahun


2

Tidak mau minum susu Formula Umur 12 tahun mempunyai kebiasaan minum susu kaleng tanpa di beri air (susu kental).

> Riwayat Imunisasi

: - DPT 3x Polio 3x BCG Hepatitis B Campak

> Riwayat Tumbuh Kembang : - 6 bulan mencoba duduk - 12 bulan mulai merangkak - Umur 3 tahun lebih baru bisa jalan, sebelumnya belum Bisa lalu dikonsulkan ke dokter orthopedi tetapi hasilnya normal.

> Riwayat Keluarga : Sosial Ekonomi menengah ke bawah

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisasi Keadaan Umum : Lemah
3

Kesadaran Gizi Tanda-tanda Vital Berat Badan Suhu (axiller) Pernafasan

: Composmentis : Cukup

: 33.000 gr. : 37,8 C : 36 x/menit

Tensi Nadi

: 100/80 mmHg : 144 x/menit

Kepala dan Leher : Kepala : > Ukuran : Bentuk dan ukuran kepala dalam batas normal. > Anemia : Tidak didapatkan anemis pada konjungtiva mata. > Ikterus : Tidak didapatkan ikterus pada sclera mata. > Cyanosis: Tidak didapatkan tanda-tanda cyanosis di mukosa bibir. > Dispnue : tidak terdapat pernafasan dispnue/cuping hidung > Telinga dalam batas normal > Terdapat stomatitis di mukosa bibir > Bibir kering dan pecah-pecah. Leher : > Letak trakea ditengah (tidak ada deviasi) > Tidak ada pembesaran kelenjar limfe Thorax : > Inspeksi > Palpasi > Perkusi : bentuk dada simetris, tidak ada retraksi : frenitus suara normal : sonor pada kedua lapang paru
4

> Auskultasi

: vesikuler, suara tambahan Rhonki : -/- wheezeng : -/-

Jantung : Iktus cordis tidak tampak. Suara S1 & S2 tunggal. Murmur (-) Abdomen : > Inspeksi > Auskultasi > Perkusi > Palpasi : perut sejajar dengan dinding thoraks : Bising Usus normal : tympani : nyeri tekan epigastrium, hepar & lien tidak teraba

Ekstremitas : akral hangat +, oedem

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil laboratorium terlampir (tanggal 26 Juli 2011, 18:39)

V.

DIAGNOSA KERJA
> Obs. Febris, Suspect Demam Typoid

VI.

PENATALAKSANAAN (Terapi Dokter Jaga)


> Infus RL 20 Tpm > Cefotaxim 3 x 750 mg > Antrain 3 x 330 mg (bila febris)

VII.

FOLLOW UP
Perawatan hari pertama/ Selasa, 26 Juli 2011 S : Panas naik turun sejak 1 minggu yang lalu, panas jika malam hari,menggigil, mengigau, lidah terasa pahit, pusing (-), mual (-), muntah(-), muntah jika minum obat saja, nafsu makan normal, BAB & BAK Normal. RPD : Tifus
5

O: TTV : Suhu : 37,8 C Nadi : 144 x/menit RR Kepala : 36 x/menit : a/i/c/d : -/-/-/Terdapat stomatitis di mukosa bibir. Bibir pecah-pecah. Leher Thoraks : Pembesaran KGB : (-) : inspeksi Palpasi Perkusi : Simetris : Simetris : Sonor

Auskultasi : Vesikuler, Rh -/-, Wh -/Abdomen : inspeksi : sejajar dengan thoraks

Auskultasi : bising usus (+) Palpasi Perkusi : nyeri tekan epygastrium : Tympani

Ektremitas : Akral hangat (+) A : Obs Febris P : > Infus RL > Injeksi > Injeksi : 20 tpm : Cefotaxim 3 x 750 mg : Antrain 3 x 330 mg (bila febris)

Perawatan Hari kedua/ Rabu, 27 Juli 2011


6

S : Panas masih naik turun, panas seluruh badan, tangan dan kaki terasa dingin sampai gemetar, bila pagi suhu badan biasa, siang panas, malam lebih panas lagi, kalau panas tinggi sering mengigau, mual muntah (-), lidah terasa pahit, minum obat langsung kemudian dimuntahkan karena pahit, batuk pilek (-), BAB & BAK normal O: TTV : Suhu : 38,2 C Nadi : 144 x/menit RR Kepala : 36 x/menit : a/i/c/d : -/-/-/Terdapat stomatitis di mukosa bibir. Bibir pecah-pecah. Leher Thoraks : Pembesaran KGB : (-) : inspeksi Palpasi Perkusi : Simetris : Simetris : Sonor

Auskultasi : Vesikuler, Rh -/-, Wh -/Abdomen : inspeksi : sejajar dengan thoraks

Auskultasi : bising usus (+) Palpasi Perkusi : supel : Tympani

Ektremitas : Akral hangat (+) Oedem (-) A :


7

P : > Infus ganti > Injeksi > Injeksi : Ka en IB 15 tpm : Colsan 3 x 1 gr : Antrain 3 x 400 mg

Perawatan Hari ketiga/ Kamis, 28 Juli 2011 S : Panas naik turun tadi malam sampai pagi, menggigil (-), mual muntah (-), lidah pahit (+), nafsu makan baik, tapi tidak pernah habis karena lidah pahit, batuk pilek (-), pusing (-), BAB 1 x kemarin, pagi blm, BAK normal. O: TTV : Suhu : 39,1 C Nadi : 128 x/menit RR Kepala : 36 x/menit : a/i/c/d : -/-/-/Terdapat stomatitis di mukosa bibir. Bibir pecah-pecah. Leher Thoraks : Pembesaran KGB : (-) : inspeksi Palpasi Perkusi : Simetris : Simetris : Sonor Tensi : 100/70 mmHg

Auskultasi : Vesikuler, Rh -/-, Wh -/Abdomen : inspeksi : sejajar dengan thoraks

Auskultasi : bising usus (+)


8

Palpasi Perkusi

: supel : Tympani

Ektremitas : Akral hangat (+) Oedem (-) A : P : > Infus > Injeksi > Injeksi : Ka en IB 15 tpm : Colsan 3 x 1 gr : Antrain 3 x 400 mg

> Syrup Curvit Cl 3 x cth

Perawatan hari keempat/ Jumaat, 29 Juli 2011 S : Panas masih, kemarin sore masih 36 C, tapi setelah itu naik 38 C, kemudian naik turun 39 C dan 38 C, mengigau (-), pusing (-), mual muntah (-), lidah masih pahit, nafsu makan baik, BAB sudah tadi malam jam 24.00, kental seperti bubur, warna hitam, BAK normal, batuk pilek (-).. O: TTV : Suhu : 38,2 C Nadi : 128 x/menit RR Kepala : 32 x/menit : a/i/c/d : -/-/-/9

Stomatitis di mukosa bibir membaik. Bibir pecah-pecah. Leher Thoraks : Pembesaran KGB : (-) : inspeksi Palpasi Perkusi : Simetris : Simetris : Sonor

Auskultasi : Vesikuler, Rh -/-, Wh -/Abdomen : inspeksi : sejajar dengan thoraks

Auskultasi : bising usus (+) Palpasi Perkusi : supel : Tympani

Ektremitas : Akral hangat (+) A : P : > Infus > Injeksi > Injeksi : Ka en IB 15 tpm : Colsancetin 3 x 1 gr drip inf .NACL 100 cc (8, 16, 24) : Antrain 3 x 400 mg

Perawatan hari kelima/ Sabtu, 30 Juli 2011 S : Panas masih naik turun dari 36,5 C, 36,2 C, 37,2 C, mengigau (-), pusing (-), mual muntah (-), lidah tidak terasa pahit lagi, nafsu makan meningkat, BAB hari ini(-), BAK normal, batuk pilek (-).. O:
10

TTV : Suhu : 36,7 C Nadi : 128 x/menit RR Kepala : 36 x/menit : a/i/c/d : -/-/-/Stomatitis di mukosa bibir (-) Bibir pecah-pecah. Leher Thoraks : Pembesaran KGB : (-) : inspeksi Palpasi Perkusi : Simetris : Simetris : Sonor

Auskultasi : Vesikuler, Rh -/-, Wh -/Abdomen : inspeksi : sejajar dengan thoraks

Auskultasi : bising usus (+) Palpasi Perkusi : supel : Tympani

Ektremitas : Akral hangat (+) A : P : Pulang

11

DEMAM TYPHOID
Demam tifoid adalah salah satu demam enterik yang merupakan sindrom klinis sistemik yang dihasilkan oleh organisme Salmonella, Demam tyfoid sendiri ialah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi.(1,3,5) Pertimbangan demam tyfoid jika anak demam dan mempunyai salah satu tanda berikut ini : diare atau konstipasi, muntah, nyeri perut, sakit kepala atau batuk, terutama jika demam telah berlangsung selama 7 hari atau lebih dan diagnosis lain sudah di sisihkan.(2)

ETIOLOGI Penyebab demam tyfoid adalah Salmonella typhi, berasal dari spesies Salmonella
enteritidis, genus Salmonella yg merupakan Motil, tidak membentuk spora, tidak berkapsul, batang gram negatif, bergerak dengan rambut getar. Mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen yaitu :

> antigen flagela (H) > antigen dinding sel (O) : somatik terdiri dari zat kompleks lipopolisakarida dan
> antigen Vi. (1,3,4,5)

EPIDEMIOLOGI
12

Di indonesia Demam tifoid terdapat dalam keadaan endemik dan Demam tifoid sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan dunia, terutama di Negara berkembang dan Insiden sangat menurun di Negara maju Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 6 tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan penyakit-penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang, sehingga dapat menimbulkan wabah. Di Indonesia demam tifoid jarang dijumpai secara epidemik, tetapi lebih sering bersifat sporadis, terpencar-pencar di suatu daerah, dan jarang menimbulkan lebih dari satu kasus pada orang-orang serumah. Sumber penularan biasanya tidak dapat ditemukan. Manusia merupakan satu-satunya reservoir alamiah Salmonella typhi, kontak langsung atau tidak langsung dengan orang yang terinfeksi diperlukan untuk terjadinya infeksi. Penelanan makanan atau air yang terkontaminasi dengan tinja manusia merupakan cara penularan yang paling sering. Ada dua sumber penularan S.Typhi : Pasien dengan demam tifoid dan Carrier yaitu orang yang sembuh dari demam tifoid dan masih terus mengekskresi S.typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari satu tahun. Orang-orang tersebut mengekskresi 109 sampai 1011 kuman per-gram tinja. Di daerah endemik transmisi terjadi melalui air yang tercemar. Makanan yang tercemar oleh carrier merupakan sumber penularan yang paling sering di daerah nonendemik.(1,4,5)

PATOGENESIS Infeksi terjadi pada saluran pencernaan melalui makanan dan air yang tercemar. setelah melalui asam lambung, Basil diserap menembus di usus halus (Ileum) ditangkap oleh sel mononuklear. Melalui pembuluh limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ-organ terutama hati dan limpa. Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ-organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Kemudian basil masuk kembali ke dalam darah (bakteremia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak Peyeri. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi

13

usus. Gejala demam disbabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.(3,5,6)

GEJALA KLINIS Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan yang terlama sampai 30 hari jika infeksi melalui minuman. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, perasaan tidak enak diperut, batuk dan tidak bersemangat. Kemudian menyusul gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu: 1. Demam Pada kasus-kasus yang khas, dernam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggn ketiga. 2. Gangguan pada saluran pencernaan Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pccah (ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa mernbesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare. 3. Gangguan kesadaran Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah.

14

Di samping gejala-gejala yang biasa ditemukan tersebut, mungkin pula ditemukan gejala lain. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola, yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit. Biasanya ditemukan dalam minggu pertama demam. Kadangkadang ditemukan bradikardia pada anak besar dan mungkin pula ditemukan epistaksis.(3,5) Relaps (kambuh) Yaitu keadaan berulangnya gejala penyakit Demam Tifoid, akan tetapi berlangsung lebih ringan dan lebih singkat. Terjadi dalam minggu kedua setelah suhu badan normal kembali. Terjadinya sukar diterangkan, seperti halnya keadaan kekebalan alam, yaitu tidak pernah menjadi sakit walaupun mendapat infeksi yang cukup berat. Menurut teori, relaps terjadi karena terdapatnya basil dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh zat anti. Mungkin pula terjadi pada waktu penyembuhan tukak, terjadi invasi basil bersamaan dengan pembentukan jaringan-jaringan fibroblas.(5)

Komplikasi Dapat terjadi pada: 1. Usus halus Umumnya jarang terjadi, akan tetapi sering fatal, yaitu : a) Perdarahan usus. Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Bila perdarahan banyak terjadi melena dan bila berat dapat disertai perasaan nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan. b) Perforasi usus. Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelah itu dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara di antara hati dan diafragma pada foto Rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.

15

c) Peritonitis. Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang (defense musculair) dan nyeri pada tekanan. 2. Komplikasi di luar usus Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakteremia) yaitu meningitis, kolesistitis, ensefelopati dan lain-lain. Terjadi karena infeksi sekunder, yaitu bronkopneumonia. Dehidrasi dan asidosis dapat timbul akibat masukan makanan yang kurang dan perspirasi akibat suhu tubuh yang tinggi.(5) DIAGNOSIS Beberapa hal yang dapat menegakkan diagnosa pada pemeriksaan adalah Demam > dari 7 hari Gejala konstitusional : nyeri kepala, malaise, mialgia, anoreksia Gejala gastrointestinal : obstipasi, diare, mual, muntah atau kembung. Gangguan saraf sentral : apatis, kesadaran menurun, mengigau, Delirium. Hepatomegali ringan Splenomegali. Lidah kotor tepi hiperemis.(2,7)

PEMERIKSAAN PENUNJANG Untuk memastikan diagnosis perlu dikerjakan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut : 1. Pemeriksaan yang berguna untuk menyokong diagnosis.
16

a) Pemeriksaan darah tepi. Terdapat gambaran leukopenia, limfositosis relatif dan aneosinofilia pada permulaan sakit. Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan. b) Pemeriksaan sumsum tulang. Terdapat gambaran sumsum tulang berupa hiperaktif RES dengan adanya sel makrofag, sedangkan sistem eritropoesis, granulopoesis dan trombopoesis berkurang. 2. Pemeriksaan laboratorium untuk membuat diagnosis. Biakan empedu untuk menemukan Salmonella typhosa dan pemeriksaan Widal ialah pemeriksaan yang dapat dipakai untuk membuatdiagnosis tifus abdominalis yang pasti. Kedua pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada waktu masuk dan setiap minggu berikutnya. a) Biakan empedu Basil Salmonella typhosa ditemuka dalam darah penderita pada minggu pertama. sakit. Selanjutnya minggu kedua dalam urin dan feses dan mungkin akan tetap positif untuk waktu yang lama. Positif dari contoh darah digunakan untuk menegakkan diagnosis, Negatif dari contoh urin dan feses 2 kali berturut-turut digunakan untuk Menentukan bahwa penderita telah benar-benar sembuh dan tidak menjadi Pembawa kuman (karier). b) Pemeriksaan Widal Dasar pemcriksaan ialah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita dicampur dengan suspensi antigen Salmonella typhosa. Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi. Untuk membuat diagnosis yang diperlukan ialah titer zat anti terhadap antigen O yang bernilai 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan yang progresif digunakan untuk membuat diagnosis. Titer terhadap antigen H tidak diperlukan untuk diagnosis, karena dapat tetap tinggi setelah mendapat imunisasi atau bila penderita telah lama sembuh..(5)
17

DIAGNOSIS BANDING Bila terdapat demam yang lebih dari 1 minggu sedangkan penyakit yang dapat menerangkan penyebab demam tersebut belum jelas, maka perlulah dipertimbangkan penyakit-penyakit sebagai berikut : Paratifoid A, B dan C Influenza Malaria Tuberkulosis Dengue Pneumonia lobaris dll (1,2,3,5) PENATALAKSANAAN Penderita yang dirawat dengan diagnosis observasi Demam tifoif harus dianggap dan diperlakukan langsung sebagai penderita Demam tifoid dan diberikan Penatalaksanaan sebagai berikut : > Perawatan yang baik untuk menghindarkan komplikasi, mengingat sakit yang lama, lemah dan anoreksia dan lain-lain. > Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu normal kembali, yaitu istirahat mutlak, berbaring terus di tempat tidur. Seminggu kemudian boleh duduk dan selanjutnya boleh berdiri dan berjalan. > Diet. Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas. Susu 2 kali satu gelas sehari perlu diberikan. Jenis makanan untuk penderita dengan kesadaran menurun ialah makanan cair yang dapat diberikan melalui pipa lambung. Bila anak sadar dan nafsu makan balk, maka dapat diberikan makanan lunak.
18

> Obat pilihan ialah kloramfenikol, kecuali bila penderita tidak serasi dapat diberikan obat lain misalnya ampisilin, kotrimoksazol dan lain-Iain. Dianjurkan pemberian klorarnfenikol dengan dosis yang tinggi, yaitu 100 mg/kgbb/hari, diberikan 4 kali sehari peroral atau intramuskulus atau intravena bila diperlukan. Pemberian kloramfenikol dosis tinggi tersebut memberikan manfaat yaitu waktu perawatan dipersingkat dan relaps tidak terjadi. Akan tetapi mungkin pembentukan zat anti kurang, oleh karena basil terlalu cepat dimusnahkan. Penderita yang dipulangkan perlu diberikan suntikan vaksin Tipa. > Bila terdapat komplikasi harus diberikan terapi yang sesuai. Misalnya pemberian cairan intravena untuk penderita dengan dehidrasi dan asidosis. Bila terdapat bronkopneumonia harus ditambahkan penisilin dan lain lain. (3,5)

KOMPLIKASI > Perforasi dan perdarahan usus > Peritonitis > Syok sepsis > Miokarditis > Meningitis > Anemia(1,2,3,5) PENCEGAHAN Pencegahan demam tifoid diupayakan melalui berbagai cara : umum dan khusus/imunisasi. > Termasuk cara umum antara lain adalah peningkatan higiene dan sanitasi karena perbaikan higiene dan sanitasi saja dapat menurunkan insidensi demam tifoid. (Penyediaan air bersih, pembuangan dan pengelolaan sampah).

19

Menjaga kebersihan pribadi dan menjaga apa yang masuk mulut ( minuman / makanan ) tidak tercemar Salmonella typhi. Pemutusan rantai transmisi juga penting yaitu pengawasan terhadap penjual (keliling) minuman/makanan. > Untuk cara khusus/ imunisasi Pada saat ini telah ada di pasaran berbagai vaksin untuk pencegahan demam tifoid. Vaksin chotypa dari kuman dimatikan (whole cell) tidak digunakan lagi karena efek samping yang terlalu berat dan daya lindungnya pendek.Dua vaksin yang aman dan efektif telah mendapat lisensi dan sudah ada di pasaran. Satu vaksin berdasar subunit antigen tertentu dan yang lain berdasar bakteri (whole cell) hidup dilemahkan. Vaksin pertama, mengandung Vi polisakarida, diberikan cukup sekali, subcutan atau intramuskular. Diberikan mulai usia > 2 tahun. Re-imunisasi tiap 3 tahun. Kadar protektif bila mempunyai antibodi anti-Vi 1 g/ml. . Vaksin Kedua : Vaksin 'I`y21a hidup dilemahkan diberikan secara oral, bentuk kapsul enterocoated atau sirup. Diberikan 3 dosis, selang sehari pada perut kosong. Untuk anak usia 5 tahun Reimunisasi tiap tahun. Tidak boleh diberi antibiotik selama kurun waktu 1 minggu sebelum sampai l minggu sesudah imunisasi.(6)

DAFTAR PUSTAKA 1. Cleary TG & Ashkenazi infeksi Salmonella & Demam Enterik. Dalam : Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM, Eds. Nelson Textbook of Pediatrics, edisi 15. Philadelphia : WB Saunders Company, Philadelphia, 1996 : 965-967; 970-973. 2. World Health Organization : Demam Typhoid, Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit, BAB 6, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 2008, 167-168. 3. Mansjoer.Arif.,dkk: Penyakit Tropik Demam Tifoid, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1, BAB VII, EDISI KETIGA, Media Aesculapius FKUI, Jakarta, 2001, 421-425. 4. Rachmat Juwono.Prof.dr. : Demam Tifoid, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, BAB III, Balai Penerbit FKUI, Jakarta,1999, 435-442.

20

5. Hassan.Rusepno.dr dkk : Infeksi Bakteri Salmonelosis : Ilmu Kesehatan Anak jilid 2, BAB 21, Bag. Ilmu Kesehatan Anak FK UI, Jakarta, 2007,598-600.

6. Darmono. Widodo & Kaspan.MF : Tropik dan menular DEMAM TIFOID, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Bag/SMF Ilmu Kesehatan Anak, Buku Satu, Edisi III 2008, RSUD Surabaya.98-101. 7. Mirzanie H & Leksana. : Trop Med Demam tifoid, PEDIATRICIA. TOSCA ENTERPRICE, Jogjakarta 2010. VIII 14-16

21