Anda di halaman 1dari 29

MANAJEMEN BARANG BUKTI MEDIS

Tata Cara Pengelolaan Barang Bukti Di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia Prinsip-prinsip pengelolaan barang bukti dalam peraturan ini meliputi: 1. legalitas, yaitu setiap pengelolaan barang bukti harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; 2. transparan, yaitu pengelolaan barang bukti dilaksanakan secara terbuka; 3. proporsional, yaitu keterlibatan unsur-unsur dalam pelaksanaan pengelolaan barang bukti harus diarahkan guna menjamin keamanannya; 4. akuntabel, yaitu pengelolaan barang bukti dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, terukur, dan jelas; dan 5. efektif dan efisien yaitu setiap pengelolaan barang bukti harus dilakukan dengan mempertimbangkan adanya keseimbangan yang wajar antara hasil dengan upaya dan sarana yang digunakan. Penerimaan Dan Penyimpanan Dalam penerimaan penyerahan barang bukti oleh penyidik, PPBB wajib melakukan tindakan sebagai berikut: Meneliti Surat Perintah Penyitaan dan Berita Acara Penyerahan Barang Bukti yang dibuat oleh penyidik untuk dijadikan dasar penerimaan barang bukti; 1. mengecek dan mencocokan jumlah dan jenis barang bukti yang diterima sesuai dengan Berita Acara Penyerahan Barang Bukti; 2. memeriksa dan meneliti jenis baik berdasarkan sifat, wujud, dan/atau kualitas barang bukti yang akan diterima guna menentukan tempat penyimpanan yang sesuai; 3. mencatat barang bukti yang diterima ke dalam buku register daftar barang bukti,

ditandatangani oleh petugas yang menyerahkan dan salah satu PPBB yang menerima penyerahan, serta disaksikan petugas lainnya; 4. melakukan pemotretan terhadap barang bukti sebagai bahan dokumentasi; 5. mencoret dari buku register, barang bukti yang sudah dimusnahkan atau yang sudah diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum; dan 6. melaporkan tindakan yang telah dilakukan kepada penyidik dan Kasatker.

Pengamanan dan Perawatan 1. Ketua Pengelola Barang Bukti bertanggung jawab penuh terhadap keamanan dan keutuhan barang bukti baik secara kuantitas maupun kualitasnya. 2. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk kegiatan: 1. melakukan pemeriksaan dan pengawasan secara berkala paling lama 2 (dua) minggu sekali terhadap barang bukti yang disimpan di tempat penyimpanan barang bukti yang telah ditentukan atau tempat lain, dan dituangkan dalam buku kontrol barang bukti; 2. mengawasi jenis-jenis barang bukti tertentu yang berbahaya, berharga, dan/atau yang memerlukan pengawetan; 3. menjaga dan mencegah agar barang bukti yang disimpan tidak terjadi pencurian, kebakaran ataupun kebanjiran; 4. mengarahkan dan mengatur pembagian tugas bawahannya untuk menjaga, memelihara dan mengamankan barang bukti yang disimpan; 5. mencatat dan melaporkan kepada penyidik dan/atau atasan penyidik yang menyita bila terjadi kerusakan dan penyusutan serta kebakaran dan pencurian terhadap barang bukti yang disimpan; dan 6. menindak PPBB yang lalai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pengeluaran dan Pemusnahan (1) Pengeluaran barang bukti untuk keperluan penyidikan oleh penyidik, harus berdasarkan surat permintaan yang sah dari penyidik yang menyita dan diketahui oleh atasan penyidik. (2) Terhadap pengeluaran barang bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Ketua Pengelola Barang Bukti harus: 1. memeriksa dan meneliti surat permintaan pengeluaran barang bukti yang diajukan oleh penyidik yang diketahui oleh atasan penyidik; 2. membuat berita acara serah terima dan menyampaikan tembusannya kepada atasan penyidik; 3. mencatat lama peminjaman barang bukti dalam buku mutasi atau register yang tersedia; dan 4. menerima, memeriksa, meneliti dan menyimpan kembali barang bukti yang telah dipinjam dan diserahkan oleh penyidik.

Pengeluaran dan Pemusnahan Pasal 18 (1) Pengeluaran barang bukti untuk dikirimkan kepada Jaksa Penuntut Umum yang dilakukan oleh penyidik, harus berdasarkan surat permintaan yang sah dari penyidik yang menyita dan diketahui atasan penyidik dengan melampirkan bukti P21 dari Jaksa Penuntut Umum. (2) Pengeluaran barang bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Ketua Pengelola Barang Bukti harus melakukan tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf a dan b serta mencoret barang bukti dari buku register daftar barang bukti. Pasal 19 (1) Pengeluaran barang bukti untuk dikembalikan kepada orang atau dari siapa benda itu disita

atau kepada mereka yang berhak harus berdasarkan surat perintah dan/atau penetapan

pengembalian barang bukti dari atasan penyidik. (2) Pelaksanaan pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Ketua Pengelola Barang

Bukti harus melakukan tindakan: 1. memeriksa dan meneliti surat perintah dan atau surat penetapan pengembalian barang bukti dari atasan penyidik; 2. membuat berita acara serah terima yang tembusannya disampaikan kepada atasan penyidik; dan 3. mencatat dan mencoret barang bukti tersebut dari daftar yang tersedia.

Pasal 20 (1) Dalam hal barang bukti yang disita lekas rusak dan/atau biaya penyimpanan terlalu

tinggi, sehingga tidak memungkinkan disimpan lama, dapat dilaksanakan pengeluaran barang bukti untuk dijual lelang berdasarkan surat perintah atau penetapan yang dikeluarkan oleh atasan penyidik. (2) Terhadap pelaksanaan pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Ketua

Pengelola Barang Bukti harus melakukan prosedur sebagai berikut: 1. memeriksa dan meneliti surat perintah dan/atau penetapan penjualan lelang terhadap barang bukti tersebut; 2. membuat berita acara serah terima yang tembusannya disampaikan kepada atasan penyidik dan tersangka; dan 3. mencatat dan mmencoret barang bukti tersebut dari daftar yang tersedia.

(3)

Hasil pelaksanaan lelang yang berupa uang, dipakai sebagai barang bukti dan disimpan

di Bank serta dicatat dalam buku register yeng tersedia.

(4)

Sebelum pelaksanaan lelang, barang bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

sedapat mungkin disisihkan sebagian kecil untuk keperluan pembuktian dan dicatat dalam buku register yang tersedia.

IDENTIFIKASI
Identifikasi forensik adalah penerapan ilmu forensik, dan teknologi untuk mengidentifikasi objek tertentu dari bukti-bukti jejak tersangka, yang ada di TKP atau tempat kejadian. Identifikasi Forensik ini berguna untuk pengadilan 1. Identifikasi positif a. Visual Paling umum dan mudah tapi masalah sering ditemui. Banyaknya luka dan perubahan dekomposisional menyebabkan keluarga tidak percaya bahwa itu adalah keluarganya. b. Fingerprints Keunikan fingerprints setiap individu c. Dental Seringkali Gigi buatan orang yang meninggal dapat diidentifikasi karena teknisi yang membuatnya menulis nama keluarga orang tersebut pada gigi buatan. d. X-rays Biasanya dipakai tulang tengkorak dan pelvis sebagai perbandingan terbaik. Tengkorak memiliki sinus yang berbeda pada tiap individu. e. DNA Fingerprinting Semua individu kecuali kembar identik memiliki sekuens DNA berbeda pada kromosomnya. Perbandingan dapat dipakai rambut, gigi, darah, semen, dan jaringan lainnya. 2. Identifikasi presumptif a. Sisa skeletal Biasanya diidentifikasi oleh forensic anthropologists yang ahli memperkirakan umur, jenis kelamin, ras, dan memakai rumus-rumus untuk menarik kesimpulan. Analisis umur saat ini dipermudah dengan analisis mikroskopik

b. Pakaian Model, ukuran, dan pembuat pakaian biasanya umum dipakai untuk identfikasi presumptive. Keluarga dan rekan korban mungkin ingat pakaian yang terkahir kali dipakainnya. Sayangnya pakaian seringkali hancur dan berubah bahkan sirna, terutama pada peristiwa kebakaran. c. X-rays identfikasi presumptive diperoleh jika X-rays konsisten dengan korban yang meninggal dan tidak ada alasan meyakini bahwa korban adalah orang lain. d. Tanda/ciri khas fisik Ada dan tidaknya tato, scar, tanda lahir, ketiadaan organ-organ karena operasi bedah, dan anomaly fisik lainnya mungkin berguna untuk identifikasi. e. Ruanglingkup di sekitar kematian Identifikasi mungkin tidak mungkin dibuat berdasarkan sedikit sisa di tempat kejadian. Namun ruanglingkup yang tersisa di sekitar kematian membolehkan untuk membuat identifikasi. Contohnya identifikasi tidak bisa dilakukan berdasarkan tes scientific hanya jika sedikit pecahan bagian tubuh terletak di rumah yang hancur terbakar. Tapi jika korban terakhir kali dilihat ada berada di dalam rumah tersebut sehingga diyakini bahwa yang ada di dalam rumah adalah korban, maka identifikasi presumptive bisa dibuat. Toksikologi Forensik adalah ilmu yang mempelajari tentang racun dan pengidentifikasian bahan racun yang diduga ada dalam organ atau jaringan tubuh dan cairan korban. Toksikologi Forensik sangat penting diberikan kepada penyidik dalam rangka membantu penyidik polisi dalam pengusutan perkara yaitu : mencari, menghimpun, menyusun dan menilai barang bukti di Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan tujuan agar dapat membuat terang suatu kasus pembunuhan yang ada indikasi korbannya meninggal akibat racun Pasal 1 Ketentuan Umum dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pengelolaan Barang Bukti disebutkan bahwa Barang Bukti adalah benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud yang

telah dilakukan penyitaan oleh penyidik untuk keperluan pemeriksaan dalam tingkat penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan. Pengelolaan Barang Bukti adalah tata cara atau proses penerimaan, penyimpanan, pengamanan, perawatan, pengeluaran dan pemusnahan benda sitaan dari ruang atau tempat khusus penyimpanan barang bukti. Dalam Pasal 5 ayat 1,2, dan 3 disebukan bahwa Benda bergerak merupakan benda yang dapat dipindahkan dan/atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Benda bergerak berdasarkan sifatnya antara lain: mudah meledak, mudah menguap, mudah rusak, dan mudah terbakar. Benda bergerak berdasarkan wujudnya antara lain: padat, cair, dan, gas. Benda bergerak juga termasuk benda yang terlarang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Dalam Pasal 6 disebutkan bahwa Benda tidak bergerak merupakan benda selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, antara lain: 1. tanah beserta bangunan yang berdiri di atasnya; 2. kayu tebangan dari hutan dan kayu dari pohon-pohon yang berbatang tinggi selama kayukayuan itu belum dipotong; 3. kapal laut dengan tonase yang ditetapkan dengan ketentuan; dan 4. pesawat terbang. Ada beberapa jenis barang bukti antara lain barang bukti medis, barang bukti biologis, barang bukti non-biologis. Dalam ringkasan ini kami akan membahas sedikit tentang barang bukti biologis seperti rambut dan sidik jari. Beserta cara identifikasinya dan cara penyimpanan barang bukti dan pengeluarannya untuk di jadikan bukti di pengadilan.

Manajemen barang bukti berupa sidik jari dan proses identifikasinya


Istilah visum et repertum dapat ditemukan pada lembaran negara tahun 1973 Nomor : 350 pasal 1 yang terjemahannya adalah visum et repertum pada dokter yang dibuat baik atas sumpah dokter yang diucapkan pada waktu menyelesaikan pelajarannya di negri belanda atau indonesia, maupun atas sumpah khusus seperti yang tercantum dalam pasal 2, mempunyai daya

bukti yang sah dalam perkara pidana selama visa et reperta tersebut berisi keterangan mengenai hal-hal yang diamati oleh dokter itu pada benda-benda yang diperiksa. Penegak hukum sendiri mengartikan visum et repertum sebagai laporan tertulis yang dibuat dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan peradilan tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang sebaik-bainya. Salah satu tahap dari VER(visum et repertum) adalah verifikasi sidik jari. Verifikasi ini bertujuan untuk mengetahui identitas seseorang terhadap suatu masalah pidana atau perdata, contohnya kasus korban kecelakaan, tengelam, dan lain-lainnya. Verifikasi sidik jari ini mengunakan metode minutite based matching dengan dua template sidik jari di data storage (kepolisian) dan kedua, template sidik jari dari sampel yang ada di TKP(tempat kejadian perkara). Dalam pengunaan metode minutiae based matching ditemukan beberapa kelemahan, salah satunya kemungkinan tidak ditemukannya citra sidik jari. Hal ini terjadi karena hilang atau bertambahnya poin-poin minutiae dalam proses citra digital pada salah satu citra atau dapat disebabkan perbedaan kedua jumlah poin minutiae kedua template citra. Poin minutiae adalah sejenis titik yang terbentuk pada sidik jari. Minutiae terdiri dari 3 jenis ridge, yaitu, ridge ending(akhir), ridge crossing(persilangan), ridge bifurcation(fitur kecil yang terbentuk pada percabangan ridge pada sidik jari).

Proses verifikasi Verifikasi merupakan proses pencocokan sejenis dengan identifikasi hanya saja pada proses verifikasi sidik jari dicocokan satu persatu. Setiap sidik jari akan dibandingkan dengan satu sample sidik jari tertentu yang sudah tersimpan sebelumnya. Hasil test tersebut adalah verifikasi berhasil (valid) atau verifikasi gagal(invalid). Tahapan dari verifikasi sidik jari sebagai berikut, 1. Perbaikan citra Tahapan pertama adalah pemrosesan citra sidik jari. Pada tahap ini sidik jari akan ditingkatkan kualitasnya melalui beberapa proses dimulai dari proses scanning sampai mendapatkan hasil yang lebih terang.

Scaning, citra sidik jari di baca di dalam komputer Proses grayscaling dilakukan dengan mengkonversi citra warna menjadi citra hitam putih dengan merata-rata nilai ketiga elemen warna setiap piksel.

Segmentasi merupakan proese untuk memisahkan obyek pada suatu citra dengan menyesuaikan cakupan derajat keabuan sehingga berada pada cakupan nilai yang diharapkan.

Proses image orientation da image frequency digunakan untuk proses penapisan citra sidik jari. Penapisan yang digunakan adalah penapisan gabor

Persamaan penapisan Gabor,

2. Ekstrasi minutiae Ada tiga tahapan dalam ekstrasi minutiae, a. Binerisasi Konversi citra pada proses binerisasi dilakukan dengan operasi thresholding (pengembangan) sehingga didapatkan keberadaan obyek berupa alur guratan sidik jari. b. Penipisan pola(skeletonization) Bertujuan untuk mengurangi bagian yang tidak perlu(redundant). Kemudian tahap dekteksi minutie. c. Deteksi minutiae Poin minutie didekteksi dengan memindai tetangga lokal pada masing-masing piksel ridge pada citra yang mengunakan window ukuran 3x3, cara ini dikenal dengan metode Crossing number. Crossing Number didefinisikan sebagai separuh penjumlahan dari perbedaan antara pasangan-pasangan piksel yang bersebelahan

pada eight-neighbourhood. Kemudian nilai crossing number(CN)pada ridge piksel P dapat dihitung dengan persamaan berikut,

Dimana Pi merupakan nilai tetangga dari P. Untuk semua piksel P, kedelapan piksel tetangganya diperiksa dengan arah berlawanan jarum jam.

3. K-Means Clustering Algoritma K-Means clustering merupakan algoritma yang digunakan untuk melakukan pencocokan dua template sidik jari yang telah digabungkan. Dengan adanya K-means clustering diharapkan dapat mengatasi kelemahan sistem algoritma minutiae based. Proses dari K-means clustering sebagai berikut, a. Menentukan K titik yang merepresentasikan obyek(centroid) b. Repeat c. Menetapkan setiap obyek pada kelompok dengan posisi centroid terdekat berdasarkan nilai mean dari object cluster, mengunakan rumus euclidean d. Uptdate mean cluster, hitung nilai mean masing-masing cluster

e. Tunggu sampai Posisi cluster tidak berubah atau konvergen Menentukan nilai kecocokannya dengan cara sebagai berikut, a. Menghitung alone cluster (AC) dengan memeriksa apakah jumlah point minutiae gabungan lebih besar dari pada dua kali jumlah minutiae k(cluster) b. Menentukan nilai fitness setiap cluster, dengan persamaan berikut,

c. Menentukan nilai matching skor Setiap cluster yang terbentuk memiliki nilai fitness, maka dilakukan rata-rata, yaitu, jumlah jarak terdekat tiap cluster dibagi dengan jumlah cluster.

Rambut Sebagai barang bukti dan identifikasi


Pada kasus-kasus kriminal seperti pembunuhan, pemerkosaan, perkelahian, pengguguran kandungan dan lain-lain, sangat diperlukan penyidik ditempat kejadian peristiwa(TKP). Untuk memperhatikan benda-benda kecil disekitarnya yang dapat membantu pengusutan suatu perkara. Dalam tulisan ini hanya akan membahas mengenai rambut yang sering ditemui pada tempat kejadian perkara, benda dan lain sebagainya. Pada kejahatan seksual pemeriksaan rambut merupakan hal yang sangat penting. Pemeriksaan rambut yang teliti dapat mengungkapkan, apakah rambut berasal dari tubuh si korban sendiri, rambut tersangka ataupun rambut manusia. Cara pemeriksaan rambut Pada pemeriksaan rambut haruslah terlebih dahulu di perhatikan hal-hal pokok sebagai berikut:

1. Struktur rambut Disini ditentukan terlebih dahulu apakah yang di periksa itu benar-benar rambut atau hanya serat lain. 2. Bila benar rambut, hendaknya diselidiki asalnya, ataukah rambut manusia atau binatang . 3. Bila rambut berasal dari manusia , hendaknya dapat ditentukan : - Suku bangsa ( Race ) - Jenis kelaminya - Situasi dan hal-hal lain suatu kejadian 4. Apakah kejadian ada hubungan dengan kejahatan 5. Bila rambut jenazah, kemungkinan dapat ditentuksan namanya sesuda kematian .

Bahan bukti kriminal Pada pemeriksaan rambut menentukan penyidikan yang berharga seperti cara kejahatan dan sebab kematian. Sebab dalam kejahatan seksual, rambut kemaluan pelaku dapat ditemukan dengan pada tubuh si korban. Pada kasusu kejahatan seksual, rambut kemaluan harus disisir untuk mengumpulkan rambut si pria. Perlukaan pada rambut memberi perubahan-perubahan yang khas. Luka pada kepala umpamanya dapat merusak rambut sewaktu mendapat pukulan dan indikasi untuk ini dapat dilihat dengan ruptur pada lapisan korteks, rambut dapat terbakar atau hangus selama luka bakar atau tembak. Pada kasus-kasus pembunuhan, beberapa nilai rambut pelaku sering tergenggam oleh si korban. Ini membantu identifikasi terhadap si penjahat. Adanya rambut yang ditemui pada senjata memberikan hubungan antara senjata dan korban. Pemeriksaan yang teliti diharapkan dapat mendeteksi adanya rambut untuk menunjukkan penyerangan oleh pelaku. Rambut berhenti tumbuh sejak kematian, tetapi disebabkan pengerutan kulit, dapat ditemui pertumbuhan rambut muka sekitar 0,4mm/ hari. Pemeriksaan

Pemeriksaan yang terutama dilakukan adalah pemeriksaan golongan darah rambut, penentuan sex kromatin dan pemerikasaan kutikula. Kesimpulan Pemeriksaan rambut dapat memakai identifikasi manusia. Rambut manusia dapat dibbedakan dengan seratserat yang mirip rambut, bahkan masih dapt dibedakan dari bulu hewan. Dari rambut dapat ditentukan golongan darah si pemilik rambut. Bahkan dapat ditentukan jenis kelamin, meskippun secara teknis sulut dikerjakan. Namun demikian, pemeriksaan rambut ini masih dapat dipergunakan untuk membantu identifikasi seseorang.

VISUM ET REPERTUM
Pengertian Visum Et Repertum. Visum Et Repertum Menurut bahasa berasal dari kata latin yaitu visum (sesuatu yang dilihat) dan repertum (melaporkan). Menurut istilah adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah jabatannya terhadap apa yang dilihat dan diperiksa berdasarkan keilmuannya. Menurut lembar negara 350 tahun 1973. Suatu laporan medik forensik oleh dokter atas dasar sumpah jabatan terhadap pemeriksaan barang bukti medis (hidup/mati) atau barang bukti lain, biologis (rambut, sperma, darah), non-biologis (peluru, selongsong) atas permintaan tertulis oleh penyidik ditujukan untuk peradilan. Maksud dan Tujuan Pembuatan Visum et Repertum Maksud pembuatan Visum et Repertum adalah sebagai salah satu barang bukti (corpus delicti) yang sah di pengadilan karena barang buktinya sendiri telah berubah pada saat persidangan berlangsung. Jadi Visum et Repertum merupakan barang bukti yang sah karena termasuk surat sah sesuai dengan KUHP pasal 184. Ada 5 barang bukti yang sah menurut KUHP pasal 184, yaitu: 1. Keterangan saksi

2. Keterangan ahli 3. Keterangan terdakwa 4. Surat-surat 5. Petunjuk Ada 3 tujuan pembuatan Visum et Repertum, yaitu: 1. Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim 2. Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat 3. Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat kesimpulan Visum et Repertum yang lebih baru Pembagian Visum et Repertum Ada 3 jenis visum et repertum, yaitu: 1. Visum et Repertum hidup Visum et Repertum hidup dibagi lagi menjadi 3, yaitu: Visum et Repertum definitif, yaitu Visum et Repertum yang dibuat seketika, dimana korban tidak memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga tidak menghalangi pekerjaan korban. Kualifikasi luka yang ditulis pada bagian kesimpulan yaitu luka derajat I atau luka golongan C; Visum et Repertum sementara, yaitu Visum et Repertum yang dibuat untuk sementara waktu, karena korban memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga menghalangi pekerjaan korban. Kualifikasi luka tidak ditentukan dan tidak ditulis pada kesimpulan. Ada 5 manfaat dibuatnya Visum et Repertum sementara, yaitu

Menentukan apakah ada tindak pidana atau tidak Mengarahkan penyelidikan

Berpengaruh terhadap putusan untuk melakukan penahanan sementara terhadap terdakwa

Menentukan tuntutan jaksa Medical record Visum et Repertum lanjutan, yaitu Visum et Repertum yang dibuat dimana luka korban

telah dinyatakan sembuh atau pindah rumah sakit atau pindah dokter atau pulang paksa. Bila korban meninggal, maka dokter membuat Visum et Repertum jenazah. Dokter menulis kualifikasi luka pada bagian kesimpulan Visum et Repertum.

2. Visum et Repertum jenazah Visum et Repertum jenazah yaitu Visum et Repertum yang dibuat terhadap korban yang meninggal. Tujuan pembuatan Visum et Repertum ini adalah untuk menentukan sebab, cara, dan mekanisme kematian. 3. Ekspertise Ekspertise yaitu Visum et Repertum khusus yang melaporkan keadaan benda atau bagian tubuh korban, misalnya darah, mani, liur, jaringan tubuh, tulang, rambut, dan lain-lain. Ada sebagian pihak yang menyatakan bahwa ekspertise bukan merupakan Visum et Repertum. Susunan Visum et Repertum Ada 5 bagian visum et repertum, yaitu: 1. Pembukaan Ditulis pro justicia yang berarti demi keadilan dan ditulis di kiri atas sebagai pengganti materai. 2. Pendahuluan

Bagian pendahuluan berisi: Identitas tempat pembuatan visum berdasarkan surat permohonan mengenai jam, tanggal, dan tempat; Pernyataan dokter, identitas dokter; dentitas peminta visum; Wilayah; Identitas korban; dentitas tempat perkara 3. Pemberitaan Pemberitaan memuat hasil pemeriksaan, berupa: Apa yang dilihat, yang ditemukan sepanjang pengetahuan kedokteran; Hasil konsultasi dengan teman sejawat lain; Untuk ahli bedah yang mengoperasi ? dimintai keterangan apa yang diperoleh. Jika diopname ? tulis diopname, jika pulang ? tulis pulang; Tidak dibenarkan menulis dengan kata-kata latin; Tidak dibenarkan menulis dengan angka, harus dengan huruf untuk mencegah pemalsuan; Tidak dibenarkan menulis diagnosis, melainkan hanya menulis ciri-ciri, sifat, dan keadaan luka.

4. Kesimpulan Bagian kesimpulan memuat pendapat pribadi dokter tentang hubungan sebab akibat antara apa yang dilihat dan ditemukan dokter dengan penyebabnya. Misalnya jenis luka, kualifikasi luka, atau bila korban mati maka dokter menulis sebab kematiannya. 5. Penutup Bagian penutup memuat sumpah atau janji, tanda tangan, dan nama terang dokter yang membuat. Sumpah atau janji dokter dibuat sesuai dengan sumpah jabatan atau pekerjaan dokter Kualifikasi Luka Pada Visum et Repertum. Ada 3 kualifikasi luka pada korban hidup, yaitu: 1. Luka ringan / luka derajat I/ luka golongan C Luka derajat I adalah apabila luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau tidak menghalangi pekerjaan korban. Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 352 ayat 1.

2. Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B Luka derajat II adalah apabila luka tersebut menyebabkan penyakit atau menghalangi pekerjaan korban untuk sementara waktu. Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 351 ayat 1. 3. Luka berat / luka derajat III / luka golongan A Luka derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6, yaitu:

Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh atau membawa bahaya maut Luka atau penyakit yang menghalangi pekerjaan korban selamanya Hilangnya salah satu panca indra korban Cacat besar Terganggunya akan selama > 4 minggu Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibu

Prosedur Permintaan, Penerimaan, dan Penyerahan Visum et Repertum. Pihak yang berhak meminta Visum et Repertum:
1. Penyidik, sesuai dengan pasal I ayat 1, yaitu pihak kepolisian yang diangkat negara untuk

menjalankan undang-undang. 2. Di wilayah sendiri, kecuali ada permintaan dari Pemda Tk II. 3. Tidak dibenarkan meminta visum pada perkara yang telah lewat. 4. Pada mayat harus diberi label, sesuai KUHP 133 ayat C. Syarat pembuat:

Harus seorang dokter (dokter gigi hanya terbatas pada gigi dan mulut) Di wilayah sendiri

Memiliki SIP Kesehatan baik

Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat Visum et Repertum korban hidup, yaitu: 1. Harus tertulis, tidak boleh secara lisan.
2. Langsung menyerahkannya kepada dokter, tidak boleh dititip melalui korban atau

keluarganya. Juga tidak boleh melalui jasa pos. 3. Bukan kejadian yang sudah lewat sebab termasuk rahasia jabatan dokter.

4. Ada alasan mengapa korban dibawa kepada dokter. 5. Ada identitas korban. 6. 7. Ada identitas pemintanya. Mencantumkan tanggal permintaan.

8. Korban diantar oleh polisi atau jaksa.

Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat VeR jenazah, yaitu: 1. Harus tertulis, tidak boleh secara lisan. 2. Harus sedini mungkin.
3. Tidak bisa permintaannya hanya untuk pemeriksaan luar.

4. Ada keterangan terjadinya kejahatan. 5. Memberikan label dan segel pada salah satu ibu jari kaki. 6. Ada identitas pemintanya.

7. Mencantumkan tanggal permintaan.

8. Korban diantar oleh polisi. Saat menerima permintaan membuat Visum et Repertum, dokter harus mencatat tanggal dan jam, penerimaan surat permintaan, dan mencatat nama petugas yang mengantar korban. Batas waktu bagi dokter untuk menyerahkan hasil Visum et Repertum kepada penyidik selama 20 hari. Bila belum selesai, batas waktunya menjadi 40 hari dan atas persetujuan penuntut umum.

PENGELOLAAN BARANG SITAAN, TEMUAN DAN RAMPASAN


Permasalahan atau penyimpangan dalam pengelolaan barang bukti/barang sitaan dan barang rampasan oleh oknum penegak hukum sebenarnya ibarat fenomena gunung es. Sebelumnya muncul kasus-kasus sejenis, namun sayangnya kasuskasus penyalahgunaan barang bukti/barang sitaan seperti ini hanya selesai pada pemberian sanksi administrative berdasarkan PP No. 30 Tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Ini menimbulkan pertanyaan bagaimana sebenarnya barang bukti atau barang sitaan tersebut dikelola oleh aparat penegak hukum, khususnya pihak Kejaksaan.

Penyitaan diartikan sebagai proses, cara, perbuatan menyita atau pengambilan milik pribadi oleh pemerintah tanpa ganti rugi. Proses penegakan hukum mengesahkan adanya suatu tindakan berupa penyitaan. Oleh karenanya penyitaan merupakan tindakan hukum berupa pengambil alihan dari penguasaan untuk sementara waktu barang-barang dari tangan seseorang atau kelompok untuk kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan. Pengertian Penyitaan itu sendiri dirumuskan dalam Pasal 1 Angka 16 KUHAP yang berbunyi: "Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan di bawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penunjukan dan peradilan". Tujuan penyitaan adalah untuk kepentingan "pembuktian" terutama ditujukan sebagai barang bukti dimuka sidang peradilan. Kemungkinan besar tanpa barang bukti perkara tidak dapat diajukan ke sidang pengadilan, oleh karena itu agar perkara lengkap dengan barang bukti

penyidik melakukan penyitaan untuk dipergunakan sebagai barang bukti dalam penyidikan, dalam penuntutan dan dalam pemeriksaan persidangan pengadilan. Dalam Pasal 39 KUHAP itu sendiri telah menggariskan "prinsip hukum" dalam penyitaan benda yang memberi batasan tentang benda yang dapat dikenakan penyitaan. Selama ini sudah ada lembaga yang dinamakan Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (RUPBASAN), sebagaimana telah diatur dalam UU NO. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, PP No. 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP, dan Peraturan Menteri Kehakiman Nomor : M.05.UM.01.06 Tahun 1983 tentang Pengelolaan Benda Sitaan dan Barang Rampasan Negara di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara, tapi itu tidak termanfaatkan. Barang/benda yang disita semuanya disimpan di kantor kepolisian atau kantor kejaksaan, padahal kalau disimpan dan dibiarkan begitu saja tanpa dikelola dengan baik maka akan ada penurunan nilainya. Pengelolaan Barang Sitaan Negara (Basan) dan Barang Rampasan Negara (Baran) di RUPBASAN adalah suatu rangkaian kegiatan yang merupakan suatu sistem dimulai sejak proses penerimaan sampai pada pengeluaran Basan dan Baran. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi : 1. Penerimaan, penelitian, penilaian, pendaftaran dan penyimpanan Basan dan Baran; 2. Pemeliharaan Basan dan Baran; 3. Pemutasian Basan dan Baran; 4. Pengeluaran dan Penghapusan Basan dan Baran; dan 5. Penyelamatan dan Pengamanan Basan dan Baran. PENERIMAAN
1.

Penerimaan Benda Sitaan dan Barang Rampasan Negara (Basan dan Baran) di RUPBASAN wajib didasarkan pada surat-surat yang sah; Penerimaan Basan dan/atau Baran dilakukan oleh petugas penerima; Petugas Penerima segera memeriksa sah tidaknya surat-surat yang melengkapinya dan mencocokkan jenis, mutu, macam dan jumlah Basan dan Baran yang diterima sebagaimana tertulis dalam surat-surat tersebut;

2. 3.

4.

Selanjutnya petugas penerima mengantarkan Basan dan Baran berikut surat-suratnya kepada petugas peneliti; Terhadap Basan dan Baran yang tidak bergerak, petugas penerima setelah memeriksa surat-surat lalu mencocokkannya dan pemotretan ditempat mana barang bukti itu berada bersama-sama dengan petugas peneliti dan petugas yang menyerahkan; dan

5.

6.

Setelah Pemeriksaan, pencocokan, pemotretan selesai, petugas Peneliti, membuat berita acara penelitian dengan dilampiri spesifikasi; hasil identifikasi Basan dan Baran dan petugas penerima membuat berita acara serah terima, kemudian mengantarkan Basan dan Baran kepada petugas pendaftaran.

PENELITIAN DAN PENILAIAN a. Petugas peneliti melakukan penelitian, penilaian, pemeriksaan dan penaksiran tentang keadaan, jenis, mutu, macam dan jumlah. Basan dan Baran dengan disaksikan oleh petugas yang menyerahkan; b. c. Penelitian, penilaian, pemeriksaan dan penaksiran dilaksanakan da!am ruangan khusus serta wajib dilakukan oleh petugas peneliti; Terhadap Basan dan Baran tertentu dilakukan pemotretan untuk kelengkapan alat bukti; dan d. Berita acara serah terima ditandatangani, setelah selesai melakukan penelitian, penilaian dan identifikasi Basan dan Baran. PENDAFTARAN a. Petugas pendaftaran meneliti kembali sah tidaknya surat-surat penyitaan atau surat penyerahan beserta berita acara penelitian Basan dan Baran dan mencocokkan dengan barang bukti yang bersangkutan; b. Mencatat dan mendaftarkan Basan dan Baran sesuai dengan tingkat pemeriksaan; dan tersebut kepada petugas penyimpanan. c. Setelah selesai dicatat dan didaftar petugas pendaftaran menyerahkan Basan dan Baran

PENYIMPANAN a. Benda Sitaan dan Barang Rampasan Negara yang baru diterima disimpan berdasarkan tingkat pemeriksaan, tempat penyimpanan dan jenisnya. b. penyimpanan berdasarkan tingkat pemeriksaan adalah : 1) Tingkat Penyidikan; 2) Tingkat Penuntutan; 3) Tingkat Pengadilan Negeri; 4) Tingkat Pengadilan Tinggi atau Banding; dan 5) Tingkat Mahkamah Agung (Kasasi). c. penyimpanan berdasarkan tempat resiko adalah : 1) Basan dan Baran Umum; 2) Basan dan Baran Berharga; 3) Basan dan Baran Berbahaya; 4) Basan dan Baran Terbuka; dan 5) Basan dan Baran Hewan Ternak. d. penyimpanan berdasarkan jenisnya adalah : 1) Kertas; 2) Logam; 3) Non logam; 4) Bahan kimia dan obat-obatan terlarang; 5) Peralatan listrik elektronik; 6) Peralatan bermesin mekanik; 7) Berbentuk gas; 8) Alat-alat rumah tangga; 9) Bahan makanan dan minuman; 10) Tumbuh-tumbuhan atau tanaman; 11) Hewan ternak; 12) Rumah, bangunan gedung; 13) Tanah; 14) Kapal laut dan kapal udara.

e. terhadap Basan dan Baran yang tidak disimpan di RUPBASAN, dititipkan oleh Kepala RUPBASAN kepada Instansi atau badan Organisasi yang berwenang atau yang kegiatannya bersesuaian. f. terhadap Basan dan Baran yang dipinjam oleh pihak peradilan dan diserahkan kembali ke RUPBASAN wajib dilakukan penelitian ulang, penilaian, pemeriksaan dan penyimpanan. PEMELIHARAAN Kepala RUPBASAN bertanggung jawab atas pemeliharaan keutuhan jenis, mutu, macam dan jumlah basan baran. Pelaksanaan tugas sehari-hari dilaksanakan oleh petugas pemeliharaan yang wajib : a. mengadakan pengawasan dan pemeriksaan secara berkala terhadap Basan dan Baran; b. memperhatikan Basan dan Baran yang memerlukan pemeliharaan khusus; c. mencatat dan melaporkan apabila terjadi kerusakan atau penyusutan basan baran. Tugas Pemeliharaan meliputi : a. menjaga keutuhan barang bukti guna kepentingan proses peradilan pidana; b. usaha untuk mempertahankan mutu, jumlah dan kondisi Basan dan Baran agar tetap Terjamin keutuhan dan keasliannya; c. mengadakan stok opname terhadap seluruh Basan dan Baran secara periodik. PEMUTASIAN Pemutasian Basan dan Baran meliputi : a. Mutasi administratif; b. Mutasi fisik. Pemutasian Basan dan Baran didasarkan pada surat permintaan dari pejabat yang bertanggung jawab menurut tingkat pemeriksaan yaitu : a. Surat permintaan atau surat perintah pengambilan dari instansi yang menyita; b. Surat permintaan penuntut umum; dan c. Surat penetapan atau putusan hakim yang memperoleh kekuatan hukum tetap.

PENGELUARAN DAN PENGHAPUSAN Dasar pelaksanaan pengeluaran/penghapusan adalah : a. Surat putusan/penetapan pengadilan; b. Surat perintah penyidik/penuntut umum; c. Surat permintaan dari instansi yang bertangung jawab secara yuridis. Tugas pengeluaran ada 3 (tiga) macam : a. Pengeluaran sebelum adanya putusan pengadilan meliputi kegiatan : 1) Kepentingan penyidikan dan penuntutan tidak memerlukan lagi; 2) Perkara tersebut tidak jadi dituntut karena tidak cukup bukti atau ternyata tidak merupakan tindak pidana; 3) Perkara tersebut dikesampingkan untuk kepentingan umum atau perkara tersebut ditutup demi hukum; 4) Pengeluaran Basan melalui tindakan jual lelang yang dilakukan oleh penyidik, penuntut umum terhadap Basan yang mudah rusak, membahayakan, biaya penyimpanan tinggi; hasil lelang barang bukti tersebut berupa uang disimpan di RUPBASAN untuk dipakai sebagai barang bukti; 5) Pengeluaran Basan atas permintaan pejabat yang bertanggung jawab secara yuridis. b. Pengeluaran setelah adanya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap : 1) kembali kepada yang paling berhak; 2) dirampas untuk kepentingan negara dengan cara dilelang, dimusnahkan, dan atau diserahkan kepada instansi yang berkepentingan berdasarkan putusan pengadilan. c. Pengeluaran yang dilakukan setelah proses penghapusan. Pelaksanaan penghapusan basan baran berdasarkan atas usul Kepala RUPBASAN karena adanya kerusakan, penyusutan, kebakaran, bencana alam, pencurian, barang temuan, barang bukti tidak diambil. PENYELAMATAN DAN PENGAMANAN

Tugas pokok penyelamatan dan pengamanan RUPBASAN adalah : a. Menjaga agar tidak terjadi pengrusakan, pencurian, kebakaran, kebanjiran, atau karena adanya gangguan bencana alam lainnya; b. Melakukan pengamanan terhadap gangguan keselamatan dan keamanan; c. Memelihara, mengawasi, dan menjaga barang-barang inventaris RUPBASAN; dan d. Melaksanakan administrasi keselamatan dan keamanan RUPBASAN. Sasaran penyelamatan dan pengamanan diarahkan pada RUPBASAN yang meliputi : a. Basan dan Baran; b. Pegawai; c. Bangunan dan perlengkapan; d. Aspek-aspek ketatalaksanaan; dan e. Lingkungan sosial atau masyarakat luar. PELAPORAN Untuk kepentingan pengawasan dan pengendalian semua kegiatan pengelolaan Benda Sitaan Negara dan Barang Rampasan Negara harus dilaporkan secara tertulis kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan tembusannya kepada Direktur Jenderal Pemasyarakatan. PENGELUARAN AKHIR Pengeluaran akhir Basan dan Baran laporannya disampaikan pada instansi yang berkepentingan, tembusan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan kepada Direktur Jenderal Pemasyarakatan. Dalam hal terjadi peristiwa yang luar biasa, segera dilaporkan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Direktur Jenderal Pemasyarakatan dan instansi-instansi yang berkepentingan melalui telepon atau dengan cara lain dan kemudian segera disusuli dengan laporan lengkap secara tertulis.

DAFTAR PUSTAKA
Afandi D, Mukhyarjon, Roy J. The Quality of visum et repertum of the living victims In Arifin Achmad General Hopital during January 2004-September 2007. Jurnal Ilmu Kedokteran, Maret 2008 ; 2 (1) : 19-22 Amir, Amri. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Ramadhan, Medan, 2005 Dix, Jay.2000. Color atlas of forensic pathology . USA: CRC Press LLC

Pratama, A, B, 2008, Verifikasi citra sidik jari poin minutiae dalam visum et repertum mengunakan K-means clustering: Jurnal Ilmu Komputer UB, Vol XX, Malang: Universitas Brawijaya. Dilihat 10 desember 2010. Sampurna B, Samsu Z. Peranan Ilmu Forensik dalam Penegakan Hukum. Jakarta: Pustaka Dwipar, 2003. Ohoiwutun, Triana, Profesi Dokter dan Visum Et Repertum, Dioma, Malang, 2006