Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS 4

MODUL ORGAN FORENSIK


KELOMPOK 5

Neneng Maya Ni Made Rai Wahyuni S Ni Nyoman Nami A Novia Alrosa Noviana Sie Nurul Vitria Nyoman Arya Adi Wangsa Oktaviani Halim

030.09.169 030.09.170 030.09171 030.09.172 030.09.173 030.09.175 030.09.177 030.09.178

P Gusti Ratih Permatasari Petrus Philipus Mekas Pradita Adiningsih Pramita Yulia Andini Pryta Widyaningrum Puteri Rahmia Putri Nabilah Candra N

030.09.179 030.09.181 030.09.182 030.09.184 030.09.186 030.09.187 030.09.188

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI Jakarta, 22 Oktober 2011

BAB I PENDAHULUAN Pengertian pengguguran kandungan menurut hukum adalah tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran, tanpa melihat usia kandungannya. Juga tidak dipersoalkan, apakah dengan pengguguran kehamilan tersebut lahir bayi hidup atau mati. Yang dianggap penting adalah bahwa sewaktu pengguguran kehamilan dilakukan, kandungan tersebut masih hidup. Pengertian pengguguran kandungan menurut hukum tentu saja berbeda dengan pengertian abortus menurut kedokteran, yaitu adanya faktor kesengajaan dan tidak adanya faktor usia kehamilan. Kita mengetahui bahwa abortus menurut pengertian kedokteran terbagi ke dalam Abortus spontan dan Abortus provokatus. Abortus provokatus terbagi lagi ke dalam Abortus provokatus terapeutkus dan Abortus provokatus kriminalis. Abortus provokatus kriminalis sajalah yang termasuk ke dalam lingkup pengertian kandungan menurut hukum. Pengguguran kandungan menurut hukum diatus dalam KUHP pasal 346, KUHP pasal 347, KUHP pasal 348, KUHP pasal 349, KUHP pasal 283, KUHP pasal 299.

BAB II LAPORAN KASUS Anda kebetulan sedang berdinas jaga di laboratorium di sebuah rumah sakit tipe B. Seorang anggota polisi membawa sebuah botol ukuran 2 liter yang disebutnya sebagai botol dari sebuah alat suction curret milik seorang dokter di kota anda. Masalahnya adalah bahwa dokter tersebut disangka telah melakukan pengguguran kandungan yang ilegal dan di dalam botol tersebut terdapat campuran darah dan jaringan hasil suction. polisi menerangkan dalam surat permintaannya, bahwa darah dan jaringan dalam botol berasal dari tiga perempuan yang saat ini sedang diperiksakaan ke Bagian kebidanan di rumah sakit anda. Penyidik membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang dapat menjelaskan apakah benar telah terjadi pengguguran kandungan dan apakah benar bahwa ketiga perempuan yang sedang diperiksa di kebidanan adalah perempuan yang kandungannya digugurkan oleh dokter tersebut. Hasil pemeriksaan tersebut penting agar dapat dilanjutkan ke proses hukum terhadap dokter tersebut.

BAB III PEMBAHASAN


A. Kronologis
Beberapa hari yang lalu terdapat pelaporan dari warga sekitar mengenai kasus aborsi yang dilakukan oleh seorang dokter ahli kandungan. Setelah diselidiki lebih lanjut, terdapat tiga orang wanita yang berkunjung pada hari yang sama namun dengan jam yang berbeda untuk menemui sang dokter. Dari hasil penyelidikan pula diketahui bahwa ada salah satu dari kedua wanita tersebut yang sedang dalam keadaan mengandung. Akhirnya, setelah diinterospeksi lebih lanjut, wanita tersebut mengaku bahwa pada waktu ia sedang dalam keadaan hamil muda dan sangat putus asa dengan kehamilan tersebut. Dari pengakuannya pulalah, wanita tersebut menyampaikan bahwa kehamilan ini merupakan hasil dari suatu hubungan terlarang. Sang wanita mengaku pada hari dimana ia pergi ke rumah sakit, ia ditemani oleh seorang pria yang diakuinya sebagai ayah dari anak tersebut. Mengetahui bahwa hubungan gelapnya membuahkan hasil, pria tersebut memaksa pacarnya untuk menggugurkan kandungannya. Bukan hanya memaksa pacarnya saja untuk segera mengugurkan kandungannya, tetapi ia pun juga memaksa sang dokter untuk melakukannya dengan ancaman kekerasan. Mengetahui akan hidupnya yang terancam, dokter tersebut melakukan tindakan penguguran kandungan. Beberapa hari setelahnya, seorang anggota polisi berpangkat pembantu letnan II datang menggeledah tempat praktik dokter tersebut dan akhirnya membawa sebuah botol berukuran dua liter ke sebuah rumah sakit terdekat untuk diperiksa lebih lanjut.

B. Prosedur Medikolegal Peraturan Medikolegal diatur dalam KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana). Dimana didalamnnya memuat tatalaksana bagaimana suatu perkara pidana itu harus ditangani. Penanganan Kasus Pidana itu sendiri antara lain: I. Penemuan dan Pelaporan Penemuan dan pelaporan dilakukan oleh warga masyarakat yang melihat, mengethui atau mengalami suatu kejadian yang diduga merupakan suatu tindak pidana. Pelaporan dilakukan ke pihak yang berwajib dan dalam hal ini yaitu Kepolisian RI,

dll. Pelaporan juga bisa dilakukan melalui instansi pemerintah terdekat seperti RT (Rukun Tetangga) atau RW(Rukun Warga). Hak dan kewajiban pelaporan ini diatur didalam pasal 108 KUHAP.

II. Penyelidikan Yaitu serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknnya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur oleh undang-undang. Penyelidik yang dimaksud adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia yang tertera didalam Pasal 4 KUHAP. Didalam Pasal 5 KUHAP disebutkan wewenang dan tindakan yang dilakukan oleh penyelidik: 1. Penyelidik sebagaimana dimaksud pasal 4: a. Karena kewajibannya mempunyai wewenang: 1. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana 2. Mencari keterangan dan barang bukti 3. Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri 4. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab b. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa: 1. Penangkapan, penyitaan 2. Pemeriksaan dan penyitaan surat 3. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang 4. Membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan

2. Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebgaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan b kepada penyidik.

III.Penyidikan Adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang di atur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangka. Penyidikan dilakukan oleh penyidik yaitu pejabat polisi Negara RI dan pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang sebagaimana diatur di dalam pasal 6 KUHAP. Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli dan didalam hal kejadian mengenai tubuh manusia, maka penyidik dapat meminta bantuan dokter untuk dilakukan penanganan secara kedokteran forensik. Kewajiban seorang dokter antara lain: 1. Melakuakan pemeriksaan kedokteran forensik atas korban apabila diminta secara resmi oleh penyidik. 2. Menolak melakukan kedokteran pemeriksaan kedokteran forensik tersebut diatas dapat dikenai pidana penjara, selama lamanya 9 bulan. Kewajiban untuk membantu peradilan sebagai seorang dokter forensik itu diatur dalam asal 133 KUHAP dimana seperti yang disebutkan diatas penyidik berwenang muntuk mengajukan permintaan keterangan ahli pada dokter forensik atau kedokteran kehakiman. Untuk hak dokter menolak menjadi saksi/ahli diatur dalam Pasal 120,168,170 KUHAP. Sedangkan sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter diatur di dalam Pasal 216, 222, 224, 522 KUHP. Untuk melakukan prosedur bedah mayat klinis, anatomis, dan transplantasi oleh seorang dokter forensik diatur menurut peraturan pemerintah No.18 Tahun 1981. Bagi seorang dokter forensik yang membuat sebuah keterangan palsu didalam hasil akhir pemeriksaan dikenakan Pasal 267 KUHP dan pasal 7 KODEKI.

IV. Pemberkasan Perkara

Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya termasuk hasil pemeriksaan kedokteran forensik yang dimintakan kepada dokter. Hasil berkas perkara ini diteruskan ke penuntut umum.

V. Penuntutan Yaitu tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undangundang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim disidang pengadilan.

VI. Persidangan Didalam persidangan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim, dimana di dalam persidangan itu dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa, para saksi, dan juga para ahli. Dokter dapat dihadirkan di sidang pengadilan untuk bertindak selaku saksi ahli atau selaku dokter pemeriksan. Dokter pun berhak menolak menjadi saksi/ahli yang sebagaimana diatur di dala pasal 120, 168, 179 KUHAP.

VII. Vonis Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan sebagai berikut: Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu tindak pidana dan bahwa terdakwa memang bersalah melakukan tindak pidana tersebut Keyakinan hakim harus ditunjang oleh sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah yang diatur dalam pasal 184 KUHAP (keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa) Hubungan dengan kasus: Pada kasus ini yang termasuk dalam prosedur medikolegal yaitu, penemuan, pelaporan, penyelidikan, dan penyidikan. Pada kasus diketahui bahwa seorang anggota polisi

membawa sebuah botol ukuran 2 liter yang disebutnya sebagai botol dari sebuah alat suction curret milik seorang dokter, ke laboratorium rumah sakit. Dokter disangka telah melakukan pengguguran kandungan yang illegal dan di dalam botol tersebut terdapat campuran darah dan jaringan hasil suction. Penyidik juga membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang dapat menjelaskan apakah benar telah terjadi penguguran kandungan dan apakah benar bahwa ketiga perempuan yang diperiksa di kebidanan adalah perempuan yang kandungannya digugurkan oleh dokter tersebut. C. Aspek Hukum Pasal 299 KUHP berbunyi sebagai berikut : (1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati, dengan memberitahukan atau menimbulkan harapan bahwa dengan pengobatan itu kandungannya dapat digugurkan, diancam pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh lima ribu rupiah. (2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pekerjaan atau kebiasaan, atau bila dia seorang dokter, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga. (3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pekerjaannya, maka haknya untuk melakukan pekerjaan itu dapat dicabut. Dalam pasal 299 KUHP ini yang perlu dibuktikan adalah tentang memberitahukan dan menimbulkan harapan terhadap wanita hamil tersebut. Juga perlu dibuktikan bahwa wanita itu betul-betul mengandung, karena jika dalam hal itu salah dikira bahwa wanita itu hamil, maka orang yang mengerjakannya itu tidak dapat dihukum, oleh karena tidak ada kandungan atau objek yang diganggu.

Pasal 346 KUHP berbunyi sebagai berikut : "Seorang wanita yang dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun." Pasal 347 KUHP berbunyi sebagai berikut : (1). Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang

wanita tanpa persetujuan wanita itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2). Jika perbuatan itu mengakibatkan wanita itu meninggal, dia diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Dalam hal ini berarti wanita hamil itu berada dibawah pengaruh daya paksa. Pasal 348 KUHP berbunyi sebagai berikut : (1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya seorang wanita dengan izin wanita itu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam penjara paling lama tujuh tahun. Dalam pasal 348 ini, aborsi dilakukan dengan persetujuan dari wanita hamil itu sendiri. Pasal 349 KUHP berbunyi sebagai berikut : Jika seorang dokter, bidan atau ahli obat-obatan membantu melakukan kejahatan yang tersebut dalam pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal-pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut haknya untuk menjalankan pekerjaannya dalam mana kejahatan itu dilakukan. bulan. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan wanita itu meninggal, dia diancam dengan pidana

Unsur-unsur dalam pasal ini ditujukan terhadap dokter/bidan/tabib/ahli obat-obatan yang bersalah atau membantu kejahatan dalam pasal 346,347,dan 348 KUHP. Sebaliknya, apabila dokter dan sebagainya itu menggugurkan kandungan sesuai dengan indikasi medis, untuk menolong jiwa perempuan atau menjaga kesehatannya, tidak dihukum. Pasal 535 KUHP berbunyi sebagai berikut : Barang siapa secara terang- terangan mempertunjukan suatu sarana untuk menggugurkan kandungan, maupun secara terang-terangan atau tanpa diminta menawarkan sarana atau

pertolongan untuk menggugurkan kandungan, ataupun secara terang-terangan atau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta, menyatakan bahwa sarana atau pertolongan yang demikian itu bisa didapat, diancam dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pelaksanaan aborsi diluar syarat-syarat yang telah ditetapkan termasuk perbuatan melanggar hukum dan terhadap pelaku aborsi, bagi dokter dapat diberlakukan ketentuan pidana dalam Undang-undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 Bab X Pasal 80 ayat (1) yang berbunyi : Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (1) dan (2), dipidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

Pro dan kontra terhadap aborsi akan selalu ada, selama masyarakat masih perduli pada kehidupan. Tetapi, dengan perkembangan dalam masyarakat saat ini, hak wanita untuk aborsi juga terus diharapkan. Inti persoalan aborsi adalah adanya konflik antara dua kewajiban antara kewajiban menghormati hidup baru dalam kandungan, dan kewajiban membantu si ibu hamil beserta keluarganya.

Legalitas aborsi di negara-negara modern, di satu pihak memungkinkan profesi medis membantu perempuan yang membutuhkan, dilain pihak berusaha melindungi kehidupan yang belum dilahirkan dengan membatasi kemungkinan aborsi melalui syarat-syarat yang ketat. Legalisasi aborsi dilakukan setelah mempertimbangkan semua nilai dan perundangan yang berbeda, melalui proses pengambilan keputusan yang demokratis. Jika penafsiran indikasi medis dari Undang-undang No. 23 Tahun 1992 diperluas secara fisik juga psikis, maka korban perkosaan yang kemudian hamil dapat melakukan pengguguran kandungan. Hanya saja, aborsi sebaiknya dilakukan pada usia dini kehamilan yaitu sebelum janin berusia 120 hari, sesudah pembuahan terjadi. Karena, menurut ahli medis hal itu merupakan usia kehamilan yang aman untuk di aborsi dan janin belum memiliki jiwa.

Secara logis perlindungan hukum terhadap tindakan aborsi pada korban perkosaan haruslah bisa diterapkan dengan menunjuk pada hukum positif, penerapan Pasal 48 KUHP pada tindakan aborsi pada korban perkosaan didefenisikan adanya suatu dorongan kondisi dari pelaku tindak pidana (terdesak, terjepit diantara dua kepentingan yang sama buruknya) sehingga aborsi dipilih sebagai satu-satunya jalan pembenaran atas tindakannya yang harus dilindungi hukum. UU Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 Tentang kesehatan Pasal 75 1. Setiap orang dilarang melakukan aborsi 2. Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan: a) Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa Ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan; atau b) kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psokologis bagi korban perkosaan 3. Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang 4. Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah Pasal 76 Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:

a) sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis; b) Oleh tenaga kesehatan yang memiliki ketrampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri c) dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan d) Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan e) Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri Pasal 77 Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan perundang-undangan.

D. Pemeriksaan Medis Pemeriksaan terhadap barang bukti Ditemukan sebagai barang bukti tindak aborsi: Alat yang digunakan untuk suction Botol berisi darah dan jaringan hasil suction Pada darah dan jaringan ini dilakukan pemeriksaan golongan darah ABO dan dicocokkan dengan golongan darah tersangka. Jika perlu lakukan pemeriksaan DNA dan dicocokkan dengan milik tersangka. Pemeriksaan terhadap tersangka

Dalam pemeriksaan medis terhadap tersangka, sebaiknya kita perlu memperhatikan beberapa hal yang dapat menjelaskan pada kita apakah telah terjadi aborsi oleh tersangka. 1. Anamnesis Dalam anamnesis terutama ditanyakan tentang riwayat kehamilan dari ibu tersebut. 2. Tanda kehamilan Pada tersangka yang melakukan abortus, biasanya untuk memastikan korban tersebut pernah mengandung dalam waktu yang dekat biasa dapat dilihat dari tanda-tanda kehamilan diantaranya dapat dilihat payudara mulai dari ukurannya, bentuk serta dapat dilihat juga bagian dari areola mammae yang biasanya mengalami hiperpigmentasi. Selain itu juga dapat dilihat adanya perubahan-perubahan hormonal pada tersangka (ibu) abortus tersebut yang biasanya meningkat adalah estrogen dan progesteron yang dapat menyebabkan pembesaran mammae seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Selain itu juga dapat dilihat uterusnya apakah ada kelainan-kelainan atau tanda-tanda yang mengindikasikan ada kehamilan sebelumnya. 3. Usaha penghentian kehamilan Selain diperiksa tanda kehamilannya, kita juga periksa bagian genitalia interna maupun eksterna dan daerah perut bagian bawah untuk melihat adanya tandatanda kekerasan seperti luka pada jalan lahir atau ada sisa jaringan tertinggal, adanya perdarahan dan juga diperiksa adanya lebam, memar dan sebagainya. Selain itu pada uterusnya dapat juga kita lihat jika ada luka atau perforasi.

4. Komplikasi abortus Selain pemeriksaan diatas kita juga harus memeriksa dan melihat adanya komplikasi komplikasi yang sering dilhat pada ibu pasca abortus diantaranya perdarahan akibat luka jalan lahir, juga dapat terjadi shock akibat refleks vasovagal atau neurogenik, selain itu dapat pula terjadi emboli udara ,inhibisi vagus yang terjadi akibat tindakan abortus tanpa anestesi pada ibu dalam keadaan stres,gelisah dan panik, dan juga dapat

terjadi infeksi dan sepsis yang biasanya tidak segera timbul tetapi memerlukan waktu.

E. Pemeriksaan Laboratorium Telah ditemukan darah pada botol, disini perlu ditentukan apakah darah tersebut merupakan darah atau bukan darah. Di dapatkan : 1. Tes penyaring (Benzidin tes) Sepotong kertas saring digosokkan pada darah yang terdapat pada botol kemudian di teteskan 1 tetes H2O2 20% dan 1 tetes reagen benzidin Hasil : timbul warna biru gelap pada kertas saring (+) Interpretasi : mungkin merupakan darah 2. Tes penentu (reaksi teichman) Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek, tambahkan 1 butir Kristal NaCl dan 1 tetes asam asetat glacial, tutup dengan kaca penutup dan dipanaskan Hasil : Tampak Kristal hemin-HCl berbentuk batang berwarna coklat pada mikroskop (+) Intepretasi : merupakan darah 3. Tes penentuan spesies (reaksi cincin) Serum anti globulin manusia dimasukkan ke dalam tabung reaksi kecil kemudian dituangkan ekstrak darah perlahan melalui tepi tabung. Di diamkan selama 1 jam 30 menit. Hasil : tampak cincing presipitasi keruh pada perbatasan kedua cairan (+) Interpretasi : merupakan darah manusia

4. Golongan darah Darah dalam botol : 1 tetes serum anti A , anti B , dan serum anti AB di teteskan pada obyek glass kemudian di tambahkan 1 tetes darah (di ambil dari dalam botol) Hasil : terjadi penggumpalan (aglutinasi ) pada obyek glass yang berisi serum anti A Interpretasi : golongan darah A 5. PA jaringan (mikroskopik ) Hasil : Pemeriksaan mikroskopik pada jaringan dalam botol: Terlihat adanya kerusakan pada jaringan Terlihat sel trofoblas Ditemukan sel PMN

Interpretasi : jaringan dalam botol kemungkinan berasal dari jaringan sisa kuretase yang mengindikasikan adanya kehamilan yang di terminasi karena ditemukan trofoblas yang merupakan tanda kehamilan dan sel PMN yang merupakan tanda intravitalitas. Pemeriksaan Laboratorium pada wanita tersangka 1. Tes golongan darah a) Pada wanita A : 1 tetes serum anti A , anti B , dan serum anti AB di teteskan pada obyek glass kemudian di tambahkan 1 tetes darah (di ambil dari darah pada ujung jari wanita A) Hasil : terjadi penggumpalan (aglutinasi ) pada obyek glass yang berisi serum anti A Interpretasi : golongan darah A

b) Pada wanita B : 1 tetes serum anti A , anti B , dan serum anti AB di teteskan pada obyek glass kemudian di tambahkan 1 tetes darah (di ambil dari darah pada ujung jari wanita B) Hasil : terjadi penggumpalan (aglutinasi ) pada obyek glass yang berisi serum anti B Interpretasi : golongan darah B c) Pada wanita C : 1 tetes serum anti A , anti B , dan serum anti AB di teteskan pada obyek glass kemudian di tambahkan 1 tetes darah (di ambil dari darah pada ujung jari wanita C) Hasil : terjadi penggumpalan (aglutinasi ) pada obyek glass yang berisi serum anti B Interpretasi : golongan darah B 2. Pemeriksaan Lokia Hasil : lokia berwarna merah terang berisi eritrosit. Interpretasi : Lokia adalah cairan yang keluar dari vagina selama seminggu atau lebih pasca melahirkan. Perubahan warna dan jumlah lokia menggambarkan adanya perubahan yang terjadi di dalam endometrium. Selama 2-4 hari pertama setelah kelahiran bayi, lokia mengandung sel darah, fragmen amnion dan korion (lokia rubra), dan biasanya berwarna merah (awalnya merah terang, berubah menjadi merah gelap kemudian cokelat akibat penurunan proporsi sel darah di dalam lokia). Dari hari ke-3 sampai ke-4, warna lokia berubah menjadi merah muda (lokia serosa) dan juga berisi leukosit dan organisms. Kemudian lokia berubah menjadi rabas putih kekuningan yang keluar antara hari ke-10 dan ke-14 pascanatal (lokia alba) (Blackburn & Loper, 1992). Perubahan ini dapat dilihat dengan memeriksa pembalut yang dikenakan oleh ibu.

3. Tes B-HCG (urin) a) Pada wanita A : Hasil : timbul 2 garis pada alat Interpretasi : sedang hamil/pasca abortus b) Pada wanita B : Hasil : timbul 1 garis pada alat Interpretasi : tidak sedang hamil c) Pada wanita C : Hasil : timbul 1 garis pada alat Interpretasi : tidak sedang hamil 4. Uji toksikologi (urin) Pada wanita A : Hasil : terdeteksi adanya aminopterin dalam urin Interpretasi : menkonsumsi obat abortivum 5. Tes DNA Bahan diambil dari jaringan yang tedapat dalam botol, di cocokan dengan sample darah pada wanita A, yang sebelumnya pada tes darah telah diketahui memiliki kecocokan golongan darah dengan darah pada botol Hasil : ditemukan kecocokan DNA pada jaringan dengan sample darah wanita A Interpretasi : jaringan dan darah dalam botol berasal dari wanita A F. Kesimpulan Pada kasus ini, salah seorang dari ketiga wanita ditemukan merupakan hasil temuat forensik di kampus. G. Visum et Repertum

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Jl. Kyai Tapa No.1, Grogol, Jakarta 11440

Jakarta, 21

Oktober 2011

Nomor: 10------------------------------------

3456-SK.III/2345/2sampul

Lamp.: Satu tersegel-------------------------------------

Perihal:-------------------------------------------------------

PRO JUSTITIA

VISUM ET REPERTUM Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Anang Lemos, dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan pada bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Jakarta Barat No. Pol.: B/111/VR/X/11/Serse tertanggal delapan belas oktober tahun dua ribu sebelas, maka pada tanggal sembilan belas oktober dua ribu sebelas, pukul sepuluh lebih dua puluh lima menit waktu Indonesia Barat telah melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan nomor rekam medis nol satu nol lima tiga sembilan empat satu yang berdasarkan surat tersebut------------------------------------------------------------------------------------------------------------Nama Jenis kelamin Umur : Nona Syahrini-------------------------: Perempuan------------------------------: Sembilan belas tahun--------------------

Kewarganegaraan: Indonesia------------------------------Pekerjaan Alamat : Mahasiswa------------------------------: ----------------------------------------

Pada pemeriksaan ditemukan: a. Perempuan tersebut adalah seorang wanita berumur sembilan belas tahun dengan kesadaran baik, gelisah, rambut rapi, penampilan bersih, sikap selama pemeriksaan membantu-------b. Pakaian rapi, tanpa robekan--------------------------------c. Tanda kelamin sekunder sudah berkembang--------------------d. Keadaan umum jasmaniah baik, tekanan darah seratus dua puluh per delapan puluh milimeter air raksa, denyut nadi sembilan puluh dua kali per menit, pernapasan dua puluh kali per menit----------------------------------------------------e. Luka-luka : tidak ditemukan adanya luka-luka pada korban---f. Rambut : nampak bersih, tidak ada ketombe, hitam, lurus g. Muka------------------------------------------------ Cloasma gravidarum : tidak ada--------------------- Conjungtiva : tidak anemi-------------------------- Sklera : tidak ikterus----------------------------h. Mulut------------------------------------------------------ Stomatitis : tidak ada----------------------------------- Gigi : tidak ada caries----------------------------------i. Leher---------------------------------------------------- Pembesaran vena jugularis : tidak ada--------------------j. Payudara--------------------------------------------------- Bentuk : simetris---------------------------------------- Areola : Hyperpegmentasi-------------------------------- Puting susu : menonjol-----------------------------------k. Perut--------------------------------------------------- Pembesaran : terdapat bekas pembesaran--------------- Strie : Albican-------------------------------------- Linea : Alba----------------------------------------- Luka perut : tidak ada luka bekas SC------------l. Alat kelamin dan kandungan: Mulut alat kelamin: Pada kedua bibir kecil kemaluan tampak kemerahan------------------------------------- Selaput dara: tampak robekan pada selaput dara di beberapa tempat tanpa disertai peradangan, hal ini dapat diakibatkan oleh trauma------------------------ Liang senggama :tampak terbuka-------------------- Mulut leher rahim :tampak perdarahan yang keluar dari mulut rahim----------------------------------------- Rahim: dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis dan kavum uteri-------------------------- Pada pemeriksaan tes kehamilan PPT hasilnya negative Pemeriksaan laboratorium toksikologi positif. Dalam urin ditemukan adanya sitostastika (aminopterin) yang dapat menyebabkan penghentian kehamilan--------------m. Benda bukti yang diserahkan kepada polisi:---------------

n. Kesimpulan `` Dari pemeriksaan didapatkan tampak robekan pada selaput dara di beberapa tempat tanpa disertai peradangan diakibatkan oleh trauma yang merupakan akibat dari proses penghentian kehamilan (pengguguran kandungan)-----------Demikian Visum et Repertum ini saya buat dengan sebenarbenarnya dengan mengingat sumpah jabatan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana----------------------------------------------

Jakarta, dua puluh satu oktober dua ribu sebelas Dokter yang memeriksa,

dr. Anang Lemos NIP 13028769

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA A. Aspek Hukum Pasal 346 Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Pasal 347 (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 348 (1) Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 349 Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan HR 1 November 1897 Pengguguran dalam kandungan hanya dapat dipidana apabila pada waktu perbuatan itu dilakuakan kandungannya masih hidup,Undang-Undang tidak mengenal suatu dugaan menurut hukum darimana dapat disimpulkan bahwa ada kehidupan atau kepekaan hidup HR 12 April 1898 Untuk Pengguguran yang dapat dihukum vide pasal-pasal 346,348 KUHP disyaratkan bahwa kandungan ketika perbuatan dilakukan masih hidup dan adalah tidak perlu bahwa kandungan itu mati karena pengguguran Keadaan bahwa anak itu lahir hidup,tidak menghalangi bahwa kejahatan telah dilakukan.Undang-undang tidak membedakan antara tingkat kehidupan kandungan yang jauh atau kecil akan tetapi mengancam dengan hukuman pengguguran yang tidak tepat. HR 20 Desember 1943 Dari Bukti-Bukti yang dipakai oleh hakim dalam keputusannya harus dapat disimpulkan bahwa wanita itu mengandung kandungan yang hidup dan bahwa terdakwa mempunyai niat dengan sengaja hendak menyebabkan pengguguran dan kematian. Pasal 394 KUHP Jika seorang dokter bidan atau juru obat membanatu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346,ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan

B. Pemeriksaan Medis Pada korban hidup perlu diperhatikan tanda kehamilan misalnya perubahan payudara, pigmentasim hormonal, mikroskopik dan sebagainya. Perlu pula dibukti adanya usaha penghentian kehamilan, misalnya tanda kekerasan pada genitalia interna/eksterna, daerah perut bagian bawah. Pemeriksaan toksikologik dilakukan untuk mengetahui adanya obat/zat yang dapat mengakibatkan abortus. Perlu pula dilakukan pemeriksaan terhadap hasil usaha penghentian kehamilan, misalnya yang berupa IUFD kematian janin di dalam rahim dan pemeriksaan mikroskopik terhadap sisa-sisa jaringan. Temuan autopsy pada korban yang meninggal tergantung pada cara melakukan abortus serta interval waktu antara tindakan abortus dan kematian. Abortus yang dilakukan oleh ahli yang trampil mungkin tidak meninggalkan bekas dan bila telah berlangsung satu hari atau lebih, maka komplikasi yang timbul atau penyakit yang menyertai mungkin mengaburkan tanda-tanda abortus criminal. Pemeriksaan luar dilakukan seperti biasa, sedangkan pada pembedahan jenazah, bila didapatkan cairan dalam rongga perut, atau kecurigaan lainm lakukan pemeriksaan toksikologik. Uterus diperiksa apakah ada pembesaran, krepitasi, luka atau perforasi. Lakukan pula tes emboli udara pada vena kaca inferior dan jantung. Periksa alat-alat genitalia interna apakah pucat, mengalami kongeti atau adanya memar. Uterus diiris mendatar dengan jarak antar irisan 1 cm untuk mendeteksi perdarahan yang berasal dari bawah. Ambil darah dari jantung (segera setelah tes emboli) untuk pemeriksaan toksikologi. Ambil urin untuk tes kehamilan/toksikologik dan periksaan organ-organ lain dilakukan seperti biasa. Pemeriksaan mikroskopik meliputi adanya sel trofoblas yang merupakan tanda kehamilan, kerusakan jaringan yang merupakan jejas/tanda usaha penghentian kehamilan. Ditemukannya sel radang PMN menunjukkan tanda intravitalitas. C. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Darah Bercak darah yang ditemukan pada barang bukti atau yang terdapat pada Tempat Kejadian Perkara dapat dipakai sebagai sampel untuk pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah pada forensik bertujuan untuk membantu identifikasi pemilik darah tersebut. Sebelum dilakukan pemeriksaan darah yang lebih lengkap, terlebih dahulu dipastikan apakah bercak berwarna merah itu darah. Maka perlu dilakukan pemeriksaan untuk menentukan :

Bercak tersebut benar darah Darah dari manusia atau hewan Golongan darahnya bila darah tersebut benar dari manusia 1 Pemeriksaan mikroskopik Meliputi penemuan sel trofoblas sebagai tanda kehamilan, adanya kerusakan jaringan yang merupakan jejas atau tanda usaha penghentian kehamilan, terdapatnya sel radang Polimorfonuklear (PMN) menunjukkan tanda intravitalitas. Tentukan pula umur janin/usia kehamilan, namun penentuan usia kehamilan kadang kala diperlukan oleh penyidik dalam rangka penyidikan perkara secara keseluruhan. 1 Pemeriksaan toksikologi Tujuannya untuk mengetahui adanya obat atau zat yang dapat menyebabkan abortus. Perlu pula dilakukan pemeriksaan terhadap hasil usaha penghentian kehamilan, misalnya yang berupa IUFD, kematian janin di dalam rahim dan pemeriksaan mikroskopik terhadap sisa-sisa jaringan. 1 Pemeriksaan DNA Pola DNA divisualisasikan berupa urutan pita-pita yang berbaris yang bersifat spesifik terhadap individu, sehingga tak ada orang yang memiliki pita yang sama persis dengan orang lain, sehingga pada kasus tindak pidana pemeriksaan DNA dipakai untuk identifikasi personal, kasus paternitas, identifikasi pelaku, dan pelacakan sumber bahan biologis. Tes DNA ini memiliki kelebihan yaitu spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi, luas pilihan sampelnya, bisa dari darah, rambut, kuku, dsb, dapat digandakan, dan stabilitas bahan biologis. Tujuan dari pemeriksaan DNA ini adalah penentuan spesies, sex, individu, dan pelacakan hubungan genetik. Etode yang dapat digunakan saat ini adalah adalah melacak satu lokus (single locus probe) dengan metode penggandaan DNA secara enzimatik yaitu metode PCR. hCG (Human Chorionic Gonadotropin) Hormon ini merupakan hormon yang disekresikan ke dalam sirkulasi ibu hamil dan diekskresikan melalui urin. Hormon ini dapat dideteksi pada sekitar 26 hari setelah konsepsi dan peningkatan ekskresinya sebanding meningkatnya usia kehamilan antara 30-60 hari, produksi puncaknya adalah pada usia kehamilan 60-70 hari dan kemudian menurun secara bertahap dan menetap hingga akhir kehamilan setelah usia kehamilan 100-130 hari

KESIMPULAN Pengguguran kandungan menurut hukum ialah tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran, tanpa melihat usia kandungannya. Juga tidak

dipersoalkan, apakah dengan pengguguran kehamilan tersebut lahir bayi hidup atau mati. Yang dianggap penting adalah sewaktu pengguguran kehamilan dilakukan, kandungan tersebut masih hidup. Abortus menurut pengertian kedokteran terbagi kedalam abortus spontan dan abortus provokantus, sedangkan untuk abortus provokantus terbagi lagi menjadi dua jenis yaitu abortus provokantus terapeutikus dan abortus provokantus kriminalis. Abortus provokantus kriminalis sajalah yang termasuk ke dalam lingkup pengertian pengguguran kandungan menurut hukum. Aspek hukum pada kasus tersebut ialah KUHP terutama pasal 346, pasal 347, pasal 348, pasal 349. Pada korban hidup yang ingin diketahui apakah pernah melakukan tindakan aborsi maka perlu dilakukan pemeriksaan medis seperti pemeriksaan fisik dan ginekologis. Perlu diperhatikan tanda kehamilan misalnya perubahan payudara, pigmentasi,hormonal. Selain pemeriksaan fisik diperlukan pula pemeriksaan toksikologik untuk mengetahui adanya obat atau zat yang dapat menyebabkan abortus. Hal-hal mengenai sebab dan mekanisme kematian telah tercantum dalam Visum et Repertum berdasarkan temuan pemeriksaan luar serta bedah jenazah yang telah dilakukan sebaikbaiknya oleh dokter pemeriksa berdasarkan ilmu kedokteran.

DAFTAR PUSTAKA 1.