Anda di halaman 1dari 16

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SINDROM CUSHING

OLEH: PUTRI DIANTARI NI KADEK PRATIWI NARAYANI I PUTU JUNIARTHA SEMARA PUTRA NI KETUT PUSPAWATI PUTU DEWI PRADNYANI (P07120011012) (P07120011013) (P07120011014) (P07120011015) (P07120011016)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN KELAS II.1 REGULER TAHUN 2013

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SINDROM CUSHING


I. KONSEP DASAR PENYAKIT A. PENGERTIAN Sindrom Cushing terjadi akibat aktivitas korteks adrenal yang berlebihan. Sindrom tersebut dapat terjadi akibat pemberian kortikorsteroid atau ACTH yang berlebihan atau akibat hiperplasia korteks adrenal. Sindrom Cushing adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh efek metabolik gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. (Price, 2005). Cushing syndrome adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh

hiperadrenokortisisme akibat neoplasma korteks adrenal atau adenohipofisis, atau asupan glukokortikoid yang berlebihan. Bila terdapat sekresi sekunder hormon adrenokortikoid yang berlebihan akibat adenoma hipofisis dikenal sebagai Cushing Disease (Dorland, 2002). Cushings Sindrom adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Kadar yang tinggi ini dapat terjadi secara spontan atau karena pemberian dosis farmakologik senyawa-senyawa glukokortikoid. (Sylvia A. Price; Patofisiolgi, Hal. 1088). Cushings Sindrom adalah penyakit akibat aktivitas korteks adrenal yang meningkat dalam pemberian kortikosteroid atau ACTH ( Suzzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare. 2001 : 1327-1328 ). Cushings Sindrom adalah causa primer yang tidak terletak di hipofisis akan tetapi di supraren sebagai suatu adenoma / karsinoma ( Harvey Cushing, 1932 ). Syndrom cushing adalah syndrom yang diakibatkan oleh aktivitas adrenolkortikal yang berlebihan ( Baughman dkk. 2001 : 486 ).

B. ETIOLOGI 1. Iatrogenik Pemberian glukokortikoid jangka panjang dalam dosis farmakologik. Dijumpai pada penderita artitis rheumatoid, asma, limpoma dan gangguan kulit umum yang menerima glukokortikoid sintetik sebagai agen antiinflamasi.

2. Spontan Sekresi kortisol yang berlebihan akibat gangguan aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal. 3. Tumor kelenjar hipofise Kelenjar yang menghasilkan ACTH dan menstimulusi korteks adrenal

untuk meningkatkan sekresi hormonnya. 4. Pemberian obat kortikosteroid atau ACTH. 5. Hiperplasi Adrenal terutama akibat kelainan hipotalamus dan akibat tumor yang memproduksi ACTH. 6. Tumor Hipofisis Tumor non-endokrin ( Karsinoma bronkus, thymoma, karsinoma pankreas, adenoma broncus ). 7. Hiperplasi adrenal noduler 8. Neoplasi adrenal akibat dari Adenoma dan Karsinoma.

C. PATOFISIOLOGI Cushings Sindrom disebabkan oleh sekresi kortisol atau kortikosteron yang berlebihan, kelebihan stimulasi ACTH mengakibatkan hiperplasia korteks anal ginjal berupa adenoma maupun carsinoma yang tidak tergantung ACTH juga mengakibatkan Cushings Sindrom. Demikian juga hiperaktivitas hipofisis, atau tumor lain yang mengeluarkan ACTH. Cushings Sindrom yang disebabkan tumor hipofisis disebut juga penyakit cushing. Cushings Sindrom dapat diakibatkan oleh pemberian glukortikoid jangka panjang dalam dosis farmakologik (latrogen) atau oleh sekresi kortisol yang berlebihan pada gangguan aksis hipotalamus-hipofise-adrenal (spontan) pada sindrom cusing spontan. Glukokortikoid mempunyai efek katabolik dan antianabolik pada protein, menyebabkan menurunnya kemampuan sel-sel pembentuk protein untuk mensistesis protein, sebagai akibatnya terjadi kehilangan protein pada jaringan seperti kulit, otot, pembuluh darah, dan tulang. Secara klinis dapat mengakibatkan kulit mengalami atropi dan mudah rusak, luka-luka sembuh dengan lambat. Ruptur serabut-serabut elastis pada kulit menyebabkan tanda regang pada kulit berwarna ungu atau strie. Otot-otot mengalami atropi dan menjadi lemah. Penipisan dinding pembuluh darah dan melemahnya jaringan penyokong vaskuler menyebabkan mudah timbul luka memar.

Matriks protein tulang menjadi rapuh dan menyebabkan osteoporosis, sehingga dapat dengan mudah terjadi fraktur patologis. Metabolisme karbohidrat dipengaruhi dengan merangsang glukoneogenesis dan menganggu kerja insulin pada sel-sel perifer, sebagai akibatnya penderita dapat mengalami hiperglikemia. Pada seseorang yang mempunyai kapasitas produksi insulin yang normal, maka efek dari glukokortikoid akan dilawan dengan meningkatkan sekresi insulin untuk meningkatkan toleransi glukosa. Sebaliknya penderita dengan kemampuan sekresi insulin yang menurun tidak mampu untuk mengkompensasi keadaan tersebut dan menimbulkan manifestasi klinik DM. Disamping itu Distribusi jaringan adiposa terakumulasi didaerah sentral tubuh Obesitas, Wajah bulan (moon face). Memadatnya fossa supraklavikulare dan tonjolan servikodorsal (punuk bison), Obesitas trunkus dengan ekstremitas atas dan bawah yang kurus akibat atropi otot memberikan penampilan klasik perupa penampilan Chusingoid. Secara klinis efek farmakologis yang bermanfaat dari glukokortikoid adalah kemampuannya untuk menekan reaksi peradangan. Dalam hal ini glukokortikoid dapat menghambat hiperemia, ekstravasasi sel, migrasi sel, dan permeabilitas kapiler, menghambat pelepasan kinin yang bersifat pasoaktif dan menekan fagositosis. Efeknya pada sel mast adalah menghambat sintesis histamin dan menekan reaksi anafilaktik akut yang berlandaskan hipersensitivitas yang diperantarai anti bodi. Penekanan peradangan sangat diperlukan, akan tetapi terdapat efek anti inflamasi yang merugikan penderita. Pada infeksi akut tubuh mungkin tidak mampu melindungi diri sebagai layaknya sementara menerima dosis farmakologik.

D. MANIFESTASI KLINIS 1. Penghentian pertumbuhan 2. Obesitas 3. Kulit menjadi tipis, rapuh dan mudah luka 4. Ekimosis 5. Striae 6. Lemah dan lelah 7. Gangguan tidur 8. Osteoporosis 9. Kifosis 10. Nyeri punggung 11. Moon face 12. Hiperglikemia 13. Pada wanita timbul ciri-ciri maskulin dan hilang ciri-ciri feminine

E. KOMPLIKASI 1. Krisis Addison Merupakan hipofungsi anak ginjal dengan gejala kehilangan tenaga dan perubahan warna kulit menjadi tengguli 2. Efek yang merugikan pada aktifitas korteks adrenal Fungsi dari korteks mengalami disfungsi dimana fungsi ginjal tidak maksimal

F. PENATALAKSANAAN Karena lebih banyak Sindrom Cushing yang disebabkan oleh tumor hipofisis dibanding tumor korteks adrenal, maka penanganannya sering ditujukan kepada kelenjar hipofisis. Operasi pengangkatan tumor melalui hipofisektomi transfenoidalis merupakan terapi pilihan yang utama dan angka keberhasilannya sangat tinggi (90%). Jika operasi ini dilakukan oleh tim bedah yang ahli. Radiasi kelenjar hipofisis juga memberikan hasil yang memuaskan meskipun di perlukan waktu beberapa bulan untuk mengendalikan gejala. Adrenalektomi merupakan terapi pilihan bagi pasien dengan hipertropi adrenal primer.

Setelah pembedahan, gejala infusiensi adrenal dapat mulai terjadi 12 hingga 48 jam kemudian sebagai akibat dari penurunan kadar hormon adrenal dalam darah yang sebelumnya tinggi. Terapi penggantian temporer dengan hidrokortison mungkin diperlukan selama beberapa bulan sampai kelenjar adrenal mulai memperlihatkan respon yang normal terhadap kebutuhan tubuh. Jika kedua kelenjar diangkat (adrenalektomi bilateral), terapi penggantian dengan hormon hormon korteks adrenal harus dilakukan seumur hidup. Preparat penyekat enzim adrenal (yaitu, metyrapon, aminoglutethhimide, mitotane, ketokonazol) dapat digunakan untuk mengurangi hiperadrenalisme jika sindrom tersebut disebabkan oleh sekresi ektopik ACTH oleh tumor yang tidak dapat dihilangkan secara tuntas. Pemantauan yang ketat diperlukan karena dapat terjadi gejala insufisuensi adrenal dan efek samping akibat obat obat tersebut. Jika Sindrom Cushing merupakan akibat dari pemberian kortikosteroid eksternal (eksogen), pemberian obat tersebut harus diupayakan untuk dikurangi atau dihentikan secara bertahap hingga tercapai dosis minimal yang adekuat untuk mengobati proses penyakit yang ada dibaliknya (misalnya, penyakit otoimun serta alergi dan penolakan terhadap organ yang ditransplantasikan). Biasanya terapi yang dilakukan setiap dua hari sekali akan menurunkan gejala Sindrom Cushing dan memungkinkan pemulihan daya responsif kelenjar adrenal terhadap ACTH.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Uji supresi deksametason. Mungkin diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis peyebab sindrom cushing tersebut, apakah hipopisis atau adrenal. 2. Pengambilan sample darah. Untuk menentukan adanya varyasi diurnal yang normal pada kadar kortisol, plasma. 3. Pengumpulan urine 24 jam. Untuk memerikasa kadar 17 hiroksikotikorsteroid serta 17 ketostoroid yang merupakan metabolik kortisol dan androgen dalam urine. 4. Stimulasi CRF. Untuk membedakan tumor hipofisis dengan tempat tempat tropi.

5. Pemeriksaan radioimmunoassay Mengendalikan penyebab sindrom cushing 6. Pemindai CT, USG atau MRI. Untuk menentukan lokasi jaringan adrenal dan mendeteksi tumor pada kelenjar adrenal.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Biodata klien Pada tahap ini perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama, suku, bangasa, status perkawinan, pendidikan terakhir, nomor register, pekerjaan pasien, dan nama orang tua/ suami/ istri. 2. Riwayat Kesehatan a. Keluhan Utama Pasien biasanya mengeluh lemah dan mudah lelah, kesembuhan luka-luka ringan yang lambat dan gejala memar, kulitnya menjadi tipis, rapuh dan mudah luka b. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien akan menunjukkan gambaran wajah seperti bulan (moon-face) dan kulit tampak lebih berminyak serta tumbuh jerawat. Terjadi distres serta depresi akibat semakin parahnya perubahan fisik yang menyertai sindrom ini. c. Riwayat Kesehatan Lalu Tanyakan pada pasien apakah pernah mengalami penyakit yang sama. d. Riwayat Kesehatan Keluarga Tanyakan pasien apakah ada anggota keluarga yang mengalami penyakit syndrom chusing. 3. Pengkajian Doengoes a. Aktifitas/istirahat Gejala : Insomnia, sensitifitas, otot lemah, gangguan koordnasi, kelelahan berat. Tandanya : Atrofi otot b. Sirkulasi Gejala : Palpitasi, nyeri dada (angina). Tandanya : Distritnia, irama gallop, mur mur, takikardiasaat istirahat c. Eliminasi Gejala : Urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam feses : diare.. d. Integritas ego Gejala : Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik..

Tandanya : Emosi letal, depresi.

e. Makanan atau cairan Gejala : Kehilangan berat badan yang mendadak, mual dan muntah. f. Neurosensori Gejala : Bicara cepat dan parau, gangguan status mental dan prilaku seperti binggung, disorientasi, gelisa, peka rangsangan, delirium. g. Pernafasan Tandanya : Frekuensi pernafasan meningkatan, takepnia dispnea. h. Nyeri atau kenyamanan Gejala : Nyeri orbital, fotobia. i. Keamanan Gejala : Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan tandanya suhu meningkat diatas 37,4oC, retraksi, iritasi pada kunjungtiva dan berair. j. Seksualitas Tandanya : Penurunan libido, hipomenoria, amenoria dan impoten. k. Penyuluhan dan Pembelajaran Gejala : Riwayat penggunaan glukokortikosteroid yang lama, adanya penyakit neoplasti. 4. Pemeriksaan Fisik
a. b. c. d.

Keadaan umum : Lemah Kesadaran : Compos mentis Tanda vital : Suhu meningkat, TD meningkat, nadi cepat dan lemah. Pemeriksaan cepalo caudal Pada kepala akan ditemukan penipisan rambut,terjadi penurunan penglihatan bila terjadi tumor hipofise, bibir atas menonjol, penampilan moon face, kulit yang berminyak dan berjerawat, hirsutisme.

e. Leher

Pada leher terjadi penumpukan lemak (Buffalo hump) pada bagian posterior dan klavikula.
f. Kulit

Pada kulit terjadi penipisan, rapuh, kering, mudah trauma, ekimosis, dan strie.
g. Dada

Terjadi atrofi payudara terutama pada wanita, adanya aritmia.


h. Genetalia

Pada genetalia wanita akan ditemukan pembesaran klitoris, siklus haid yang memanjang dan menopause dini.
i. Ekstremitas

Akan tampak lebih kurus dan terjadi kelemahan otot.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri berhubungan dengan perlukaan pada mukosa lambung 2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan edema, gangguan kesembuhan dan kulit yang tipis serta rapuh 3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan, perasaan mudah lelah, atropi otot dan perubahan pola tidur. 4. Risiko cedera berhubungan dengan kelemahan dan perubahan metabolisme protein serta respon inflamasi. 5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik, gangguan fungsi seksual dan penurunan tingkat aktifitas. 6. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan kelemahan dan perubahan metabolisme protein serta respon inflamasi.

C. RENCANA KEPERAWATAN 1. Nyeri berhubungan dengan perlukaan pada mukosa lambung. Tujuan : setelah diberikan skep selama.....x 24 jam diharapkan nyeri pasien berkurang. Kriteria Evaluasi :
- Pasien mengatakan nyeri berkurang/ hilang - Menunjukkan postur tubuh rileks dan mampu tidur dengan tepat.

Intervensi : a. Catat keluhan nyeri, lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10) Rasional : nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien.

b. Kaji ulang faktor yang meningkatkan dan menurunkan nyeri Rasional : membantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi. c. Berikan makanan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien. Rasional : makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster, makanan sedikit mencegah distensi dan haluran gaster. d. Berikan obat sesuai indikasi, misal antasida. Rasional : menurunkan keasaman gaster dengan absorbsi atau dengan menetralisir kimia.

2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan edema, gangguan kesembuhan dan kulit yang tipis serta rapuh Tujuan : Setelah diberikan askep selama... x 24 jam diharapkan pasien dapat meningkatkan perawatan kulit. Kriteria hasil : a. Pasien memiliki kulit yang utuh tanpa ada bukti adanya luka atau infeksi. b. Pasien menunjukkan bukti berkurangnya edema pada ekstremitas dan badan. c. Pasien dapat mengubah posisi dengan sering dan memeriksa bagian kukit yang menonjol setiap hari. Intervensi : a. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor , vaskular. Rasional : menandakan area sirkulasi buruk/ kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan infeksi. b. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa. Rasional : mendeteksi adanya dehidrasi/ hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan pada tingkat seluler. c. Inspeksi area tergantung edema. Rasional : jaringan edema lebih cenderung rusak/ robek. d. Berikan perawatan kulit, berikan salep atau krim. Rasional : lotion dan salep mungkin diinginkan untuk menghilangkan kering, robekan kering.

e. Anjurkan menggunakan pakaian katun dan longgar. Rasional : mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit. f. Kolaborasi dalam pemberian matras busa. Rasional : menurunkan tekanan lama pada jaringan.

3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan, perasaan mudah lelah, atropi otot dan perubahan pola tidur. Tujuan : Setelah diberikan askep selama ....x 24 jam diharapkan :
a. Pasien dapat meningkatkan keikutsertaan dalam aktifitas diri. b. Pasien bebas dari komplikasi imobilitas.

Kriteria hasil a. Pasien dapat meningkatkan partisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri b. Pasien dapat merencanakan aktivitas perawatan dan latihan untuk memungkinkan periode istirahat. c. Pasien dapat Melaporkan perbaikan perasaan sehat. d. pasien bebas komplikasi mobilitas

Intervensi : a. Dorong pasien untuk merencanakan dan melakukan latihan aktivitas fisik seharihari Rasional : untuk menghindari terjadinya kakauan otot. b. Rujuk pasien ke fisioterapi Rasional : memberikan pelatihan otot dan mengembalikan pada keadaan normal.

4. Risiko cedera berhubungan dengan kelemahan dan perubahan metabolisme protein serta respon inflamasi. Tujuan : Setelah diberikan askep selama......x 24 jam diharapkan pasien bebas dari cedera

Kriteria hasil :
- Pasien bebas fraktur atau cedera jaringan lunak. - Pasien bebas dari area ekimotik

Intervensi : a. Kaji tanda-tanda ringan infeksi Rasional : efek antiinflamasi kortikosteroid dapat mengaburkan tanda-tanda umum infeksi dan inflamasi b. Ciptakan lingkungan yang protektif Rasional : mencegah jatuh, fraktur, dan cedera, lainnya pada tulang dan jaringan lunak. c. Bantu pasien ambulasi Rasional : mencegah terjatuh atau terbentur pada sudut furniture yang tajam. d. Berikan diet tinggi protein, kalsium, dan vitamin D Rasional : meminimalkan penipisan massa otot dan osteoporosis

5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik, gangguan fungsi seksual dan penurunan tingkat aktifitas.

Tujuan : Setelah diberikan askep selama...diharapkan citra tubuh pasien kembali seperti normal. Kriteria hasil : a. Pasien dapat mengutarakan perasaan tentang perubahan penampilan, fungsi seksual dan tingkat aktivitas. b. Pasien dapat mengungkapkan kesadaran bahwa perubahan fisil merupakan akibat dari pemberian kortikosteroid yang berlebihan. Intervensi : a. Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang kondisi dan pengobatan. Rasional : mengidentifikasi luas masalah dan perlunya intervensi. b. Diskusikan arti perubahan pada pasien.

Rasional : beberapa pasien memandang situasi sebagai tantangan, beberapa sulit menerima perubahan hidup/ penampilan peran dan kehilangan kemampuan control tubuh sendiri. c. Anjurkan orang terdekat memperlakukan pasien secara normal dan bukan sebagai orang cacat. Rasional : menyampaikan harapan bahwa pasien mampu untuk mengatur situasi dan membantu untuk memperthankan perasaan harga diri dan tujuan hidup. d. Rujuk ke perawatan kesehatan, contoh : kelompok pendukung Rasional : memberikan bantuan tambahan untuk manajemen jangka panjang dari perubahan pola hidup.

6. Resiko infeksi berhubungan dengan kelemahan dan perubahan metabolisme protein serta respon inflamasi. Tujuan : setelah diberikan askep selama ...... x 24 jam diharapkan pasien tidak mengalami kenaikan suhu tubuh, kemerahan, nyeri atau tanda-tanda inflamasi. Kriteria hasil : a. b. pasien tidak mengalami kenaikan suhu, kemerahan, rasa nyeri pasien tidak menunjukkan tanda-tanda lain infeksi serta inflamasi.

Intervensi : a. Beri perawatan dengan teknik aseptik dan antiseptik. Rasional : untuk mencegah terjadinya infeksi silang, peningkatan kadar glukosa merupakan media yang baik untuk pertumbuhan tulang. b. Observasi jaringan yang mengalami kerusakan, catat bila adanya inflamasi. Rasional : untuk mengetahui gejala awal infeksi dan mencegah perluasan infeksi. c. Batasi pengunjung yang dapat menularkan infeksi. Rasional : mencegah terjadinya infeksi silang d. Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis bila terjadi infeksi. Rasional : untuk mencegah perluasan infeksi e. Ciptakan lingkungan yang aman.

Rasional : untuk mencegah terjadinya kecelakaan seperti terjatuh, fraktur, dan cedera lain pada jaringan tulang serta jaringan lunka lain. f. Bila pasien dalam kondisi sangat lemah. Memerlukan bantuan dalam mobilisasi. Rasional : mencegah terjatuh atau terbentur.

D. IMPLEMENTASI Implementasi dilakukan berdasarkan rencana keperawatan yang dibuat oleh perawat kepada pasien.

E. EVALUASI Evaluasi merupakan hasil perkembangan klien dengan berpedoman pada hasil dan tujuan yang hendak dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.Askep Dengan Cushing Syndrom.http://www.google.com/gwt/x?hl=id&u=http://nursevieluppy.blogspot.com/2012/0 5/askep-dengan-chusing-syndrom/ (diakses 7 April 2013) Anonim.2012.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Sindroma Cushing.http://iputujuniarthasemaraputra.wordpress.com/2012/09/03/asuhan keperawatanpada-pasien-dengan-sindroma-cushing/ (diakses 7 April 2013) Smeltzer Suzanne, C. 1997. Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart Edisi 8 Vol 2. Jakarta : EGC