Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI P IDENTIFIKASI BAHAN KIMIA OBAT DALAM JAMU

DISUSUN OLEH: ARIESKA PRASASTI P07134111077

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA JURUSAN ANALIS KESEHATAN 2013

IDENTIFIKASI BAHAN KIMIA OBAT DALAM JAMU A. Hari, tanggal : Kamis, 11 April 2013 B. Metode : Kromatografi Lapis Tipis C. Prinsip : Memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan(eluen). Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan(n-heksan). Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut D. Dasar Teori : Kromatografi merupakan salah satu analisi kualitatif yang digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya berdasarkan perbedaan kepolaran. Pemisahan sampel berdararkan perbedaan kepolaan anatra sampel dengan pelarut yang dingunakan, biasanya menggunakan fase diam (dapat berupa \ padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakain terbawa oleh fase gerak tersebut. Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Gel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet, alasannya akan dibahas selanjutnya. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Analgetik atau obat-obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. 1. Analgesik Opioid/analgesik narkotika Merupakan kelompok obat yang memilikisifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri seperti pada fractura dan kanker. Obat Analgetik Non-narkotik Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer. Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga

2.

tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik). Efek samping obat-pbat analgesik perifer: kerusakan lambung, kerusakan hati dan ginjal, kerusakan kulit. Macam-macam obat Analgesik Non-Narkotik: Ibupropen Ibupropen merupakan devirat asam propionat yang diperkenalkan . Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama dengan aspirin. menyusui tidak di anjurkan meminim obat ini. 2. Paracetamol/acetaminophen/asetaminen Derivatt para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat menimbulkan nefropati analgesik. Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar . Dalam sediaannya sering dikombinasikan dengan cofein yang berfungsi meningkatkan efektinitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya

1.

Rumus bangun kimia paracetamol :

3.

Asam mefenamat Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung. Digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponenkomponennya. 4. Metampiron Metampiron adalah suatu senyawa analgetika non narkotik yang berkerja sebagai analgetika dan antiinflamasi. Merupakan natrium sulfonat dari aminopirin. Karena resiko efek samping yang baik dan serius, pemakaian obat ini hanya dibenarkan pada situasi yang serius. Metampiron adalah salah satu obat penghilang rasa sakit golongan NSAID (Nonsteroidal Anti Inflammatori Drugs)

atau sering disebut analgetika non narkotik. Senyawa ini merupakan turunan 5pirazolon yang secara umum digunakan untuk menghilangkan rasa sakit pada keadaan nyeri kepala, nyeri pada spasma usus, ginjal, saluran empedu dan urin, nyeri gigi, dan nyeri pada reumatik. Rumus bangun kimia metampiron :

E. Alat : 1. TLC plate 2. Chamber kromatografi 3. Pipet ukur 5ml,10ml 4. Tabung mikrokapiler 5. Tabung reaksi 6. Lampu UV 7. Corong,Kertas saring 8. Rak tabung reaksi F. Bahan : 1. Sampel jamu ASAM URAT & FLU TULANG 2. Standar : metamprion G. Reagen : 1. Metanol 2. Etanol 3. Aceton 4. Etil acetat 5. Asam Acetat glassial 6. Toluen H. Cara kerja : Persiapan sampel 1. Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Menimbang 1,5 gram sampel dan dimasukkan kedalam tabung reaksi. 3. Menambahkan metanol sebnayak 5 ml ke dalam tabung reaksi berisi sampel. 4. Campuran sampel disaring dengan keras Whatman no. 1 ke dalam tabung reaksi lain. 5. Menambahakn metanol ke dalam tabung reaksi berisi obat kemudian dihomogenkan.

6. 7. 8. 9. 10.

Menyaring campuran ke dalam tabung reaksi lain dengan kertas Whatman no. 1. Kedua filtrat hasik ekstraksi dicampur ke dalam gelas kimia. Mempekatkan filtrat hingga volume 2 ml. Menotolkan filtrat yang sudah dipekatkan dan standar TLC plate. Memasukkan TLC plate ke dalam TLC chamber.

Persiapan eluent 1. 2. 3. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan Chamber kromatografi dilapisi kertas saring Mengambil toluen sebanyak 12 ml.asam asetat glasial sebanyak 3ml,dietil eter sebanyak 3ml,methanol sebanyak 2ml dimasukkan kedalam Chamber kromatografi Ditunggu hingga larutan eluent jenuh

4.

Pemeriksaan sampel 1. 2. 3. 4. 5. Menyiapkan alat dan bahan yangdigunakan Membilas mikropipet dengan methanol. Membuat ukuran silica gel ukuran 10 x 5 cm,jarak antar bercak 1,5 cm, jarak rambat 8 cm Mengambil sampel dengan mikropipet ditotolkan pada silica gel pada bagian sampel ditunggu kering kembali ditotolkan hingga ukuran totolan 1cm Mengambil standart metamerol dengan mikropipet ditotolkan pada silica gel pada bagian std 1 ditunggu kering kembali ditotolkan hingga ukuran totolan 1cm, dan mengambil standart asetosal dengan mikropipet ditotolkan pada silica gel pada bagian std 2 ditunggu kering kembali ditotolkan hingga ukuran totolan 1cm std sampel campuran 0,5 cm

10 cm 8cm

1.5cm 5cm

6. 7. 8. G. Hasil 1. 2.

Memsukkan kedalam chamber kromatografi yang telah jenuh Tunggu hingga resapan mencapai garis batas yang telah ditentukan,diambil dikering anginkan Dibaca dengan sinar UV 254 : Data sampel Bentuk sampel Tanggal pengambilan Tempat pengambilan

: Sampel jamu ASAM URAT & FLU TULANG : Kamis, 5 April 2013 :-

3.

Data Jarak bercak sampel Jarak bercak standar (metamprion) = 6,0 cm = 1,15 cm = Bercak ke 1 = 2,7 cm = Bercak ke 2 = 3,9 cm = Bercak ke 3 = 5,1 cm Perhitungan Nilai Rf Rf=jarak yang ditempuh oleh komponen jarak yang ditempuh oleh pelarut Niali Rf std 1 (parasetamol) Rf = Niali Rf std 2 (asetosal) Rf1 = Rf2 = Rf3 = Nilai Rf sampel = = = = 0,3375 = 0,4875 = 0,6375 = = 0,2625

Rf =
nilai Rf nilai Rf standart 1

= 0,3750
standart 2 0,3375 sampel 0,3750

0,2625

0,4875 0,6375

H. Pembahasan

Pemeriksaan obat analgesik terhadap sampel no 11 dengan mengunakan metode kromatografi lapis tipis menunjukkan hasil nilai Rf sebesar 0,3750 mendekati nilai hRf standart 1 (metasol) sebagai standart Nilai Rf didefinisikan sebagi perbandingan jarak yang ditempuh oleh senyawa pada permukaan fase diam dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut sebagai fase gerak. Nilai Rf sebesar 1 secara teori menunjukkan bahwa sampel mempunyai distribusi dan faktor retensi sama dengan nol artinya sampel berpindah dengan kecepatan yang sama dengan fase gerak. Nilai ini merupakan nilai maksimum. Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin besar pula jarak bergeraknya senyawa tersebut pada plat kromatografi lapis tipis. Saat membandingkan dua sampel yang berbeda di bawah kondisi kromatografi yang sama, nilai Rf akan besar bila senyawa tersebut kurang polar dan berinteraksi dengan adsorbent polar dari plat kromatografi lapis tipis. Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasikan senyawa. Bila identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang sama maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki karakteristik yang sama atau mirip. Sedangkan, bila nilai Rfnya berbeda, senyawa tersebut dapat dikatakan merupakan senyawa yang berbeda
Beberapa hal yang sangat menentukan hasil nilai Rf pada kromatigrafi lapis tipis yang harus diperhatiakan 1. Penotolkan sampel dan standar pada plat silika yang telah dibuat sebelumnya. Penotolan harus dilakukan sekecil dan sesempit mungkin. Jika penotolan terlalu besar maka akan menurunkan resolusi. 2. Selain itu juga plat yang dibuat terlalu tebal yang dapat menyebabkan senyawa yang akan diidentifikasi tidak dapat terdistribusi dengan baik pada silika. Silika gel ini menghasilkan perbedaan dalam efek pemisahan dan mempunyai kadar air yang berpengaruh nyata terhadap daya pemisahnya. 3. Larutan eluent harus ditunggu hingga jenuh karena akan berpengaruh pada kecepatan distribusu sampel dan standart

I. Kesimpulan

: Dari hasil praktikum pemeriksaan analgesik didapatkan sampel jamu ASAM URAT & FLU TULANG mempunyai nilai Rf sebesar 0,3750. Sampel jamu mengandung obat metamprion karena nilai Rf sampel melebuhi nilai Rf obat metamprion. Yogyakarta ,11 April 2013 Praktikan

Tim Toksikologi

ARIESKA PRASASTI P07134111077