Anda di halaman 1dari 4

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Malpraktek atau malpraktek medik adalah istilah yang sering digunakan orang untuk tindak pidana yang dilakukan oleh orang-orang yang berprofesi didalam dunia kesehatan atau biasa disebut tenaga kesehatan. Mal praktek dikehidupan masyarakat sangat membawa dampak yang buruk misalnya rasa was-was setiap pasien yang akan melakukan pengobatan karena mereka merasa takut akan menjadi korban berikut dari mal praktek. Ketakutan mereka sangat beralasan karena korban dari mal praktek tersebut buruk misalnya saja setiap korban mal praktek akan cacat permanen, bahkan nyawa pun bisa menjadi bahan taruhannya. Pada sisi lain misalnya saja dari yang bersangkutan dalam hal ini adalah dokter gigi, mereka tidak begitu memahami apa arti dari pelayanan dan bahkan tidak menuntut kemungkinan bahwa mereka akan melanggar kode etik, yang merupakan pegangan mereka dalam mejalankan profesinya, dan merupakan pengetahuan dalam menyesuaikan perkembangan ilmu kedokteran yang semakin lama semakin maju. Banyak persoalan malpraktek, atas kesadaran hukum pasien diangkat menjadi masalah pidana. Hal tersebut memberi kesan adanya kesadaran hukum masyarakat terhadap hak-hak kesehatannya.

1.2 Rumusan Masalah 1. 2. 3. Apa definisi dan perbedaan Malpraktek dan Resiko Medis? Bagaimana prosedur penanganan kasus Malpraktek? Apa perbedaan Malpraktek etika, disiplin, pidana, perdata dan administrasi? 4. Apa saja sanksi yang didapatkan dokter gigi dalam scenario?

1.3 Tujuan 1. Definisi dan perbedaan Malpraktek dan Resiko Medis.

2. 3. 4.

Prosedur penanganan kasus Malpraktek. Perbedaan Malpraktek etika, disiplin, pidana,perdata dan administrasi. Sanksi yang didapatkan dokter gigi dalam scenario.

BAB 4. KESIMPULAN

1.

Definisi dan perbedaan Malpraktek dan Resiko Medis. Perbedaan Resiko medis dan Malpraktek adalah pada Resiko Medis, resiko yang timbul sebagai akibat dari proses tindakan medis yang dilakukan kepada pasien. Apabila dalam praktek, dokter sudah melakukan tindakan medis secara hati-hati dan teliti menurut standart profesi medis maka dokter yang bersangkutan tidak dapat dipersalahkan. Sedangkan Malpraktik medik adalah kegagalan dokter untuk memenuhi standar pengobatan dan perawatan terhadap pasien atau adanya kekurangan keterampilan atau kelalaian dalam pengobatan dan perawatan yang menimbulkan cedera pada pasien.

2.

Perbedaan Malpraktek etika, disiplin, pidana,perdata dan administrasi.

Yuridis Etika Dibuat dan disepakati oleh organisasi profesi (IDI/PDGI) Kode etik Diatur, norma perilaku pelaksanaan profesi Sanksi, yaitu moral Disiplin (Pidana, perdata, & Administrasi) organisasi profesi standar profesi diatur, norma prilaku pelaksanaan profesi sanksi psikologis moral dan dibuat pemerintah dan dewan perwakilan rakyat UU, PP, Keppres, dsb Diatur, norma prilaku manusia pada umumya Untuk pidana: mati/ kurungan penjara, denda. Untuk perdata: ganti mengadili: rugi. Adm:

teguran/pencabutan SIP/STR

psikologis Yang ikatan/ terkait: kehormatan kedokteran (MKDKI) mengadili: organisasi majelis etik gigi -

yang

teguran/pencabutan STR/SIP Pengadilan: Perdata: gugatan ke pengadilan Pidana: laporan/tuntutan

badan yang dibentuk: majelis disiplin kehormatan kedokteran

indonesia (MKDKI)

Adm: gugatan ke pengadilan

3.

Prosedur penanganan kasus Malpraktek. Setiap pasien atau keluarganya diharapkan dapat secara asertif meminta agar haknya dapat dipenuhi pada saat ia memperoleh pelayanan medis. Dalam upaya memperoleh haknya tersebut, pasien harus memperhatikan bahwa upaya pemenuhan haknya tersebut tidak

mengorbankan hak orang lain ataupun mengabaikan kewajiban orang lain. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa bilamana ditemukan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi yang terkait dengan aspek etika, disiplin dan hukum. Untk prosedur penanganannya pun berbeda dari segi etika, disiplin dan hukum. 4. Sanksi yang didapatkan dokter gigi dalam scenario. Kasus pada skenario menunjukkan bahwa dokter gigi tersebut melanggar kode etik kedokteran, yaitu melakukan tindakan yang tidak sesuai standar prosedur operasional. Selain melanggar kode etik, kasus tersebut juga menunjukkan bahwa dokter gigi tersebut juga melanggar hukum, yaitu tidak memiliki STR dan SIP, tidak membuat rekam medik dan informed consent, serta tidak melakukan perawatan sesuai prosedur.