Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH MATA KULIAH HUKUM BISNIS PERJANJIAN Penyelesaian Sengketa Pemutusan Kontrak Perjanjian Sepihak oleh Hyund ai Motor

Company dengan Korindo Heavy Industry Di susun Oleh : EKO SUDARMAKIYANTO ( 1M101535 ) SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI BANK BPD JATENG SEMARANG 2012 i

KATA PENGANTAR Puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya sehing ga makalah Hukum Bisnis yang bertema perjanjian dengan judul Penyelesaian Sengketa Pemutusan Kontrak Perjanjian Sepihak oleh Hyundai Motor Company dengan Korindo H eavy Industry ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Semoga dengan adanya makal ah ini pembaca dapat memperoleh suatu pengetahuan lebih dalam mengenai hukum bis nis, sebagai referensi bagi kalangan akademisi pada khususnya dan untuk pengetah uan masyarakat pada umumnya. Dalam penulisan makalah ini tidak jarang penulis me ngalami kesulitan, maka disampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut membantu sehingga makalah ini dapat disusun. Dsadari bahwa masih banyak kekuran gan yang ada dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Semoga makalah ini berman faat bagi pembaca pada umumnya. Semarang, 29 Maret 2012 Penulis ii

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................. .............................. KATA PENGANTAR .................................. ............................................................ i ii DAFTAR ISI ..................................................................... ....................................... iii BAB I. BAB II BAB III PENDAHULUAN .. ............................................................................... PERMASALAHAN ................................................................... ............ PEMBAHASAN ........................................................ ............................ 3.1 Perikatan HMC dengan KHI karena Kontrak atau Pe rsetujuan ...... 3.2 Penyelesaian Sengketa Bisnis .............................. ........................... 3.3 Penyelesaian Sengketa Pemutusan Kontak Kerjasama HMC dengan KHI ................................................................ .................... 10 BAB IV PENUTUP ......................................... ..................................................... 13 4.1 Kesimpulan ........ ............................................................................. 13 4.2 Saran ..................................................................... ........................... 13 1 2 4 4 6 DAFTAR PUSTAKA ................................................................. .............................. 14 iii

BAB I PENDAHULUAN Dalam dunia bisnis sudah tidak asing adanya perjanjian kerjasama atau lebih dike nal dengan istilah kontrak. Kontrak ini dilakukan dengan pertimbangan adanya hub ungan saling menguntungkan. Orang atau perusahaan bisa berusaha dan bekerja di m anapun tanpa ada halangan, yang penting dapat menghadapi lawannya secara kompeti tif. Suatu hal yang sering dihadapi dalam situasi semacam ini adalah timbulnya s engketa. Dalam hal ini sengketa dapat berwujud sengketa antara sesama rekan bisn is atau antar perusahaan yang terlibat dalam perjanjian. Sengketa yang timbul da lam kehidupan manusia ini perlu untuk diselesaikan. Masalahnya, siapa yang dapat menyelesaikan sengketa tersebut? Cara yang paling mudah dan sederhana adalah pa ra pihak yang bersengketa menyelesaikan sendiri sengketa tersebut. Cara lain yan g dapat ditempuh adalah menyelesaikan sengketa tersebut melalui forum yang peker jaannya atau tugasnya memang menyelesaikan sengketa. Forum resmi untuk menyelesa ikan sengketa yang disediakan oleh negara adalah Pengadilan , sedangkan yang disediakan oleh lembaga swasta adalah Arbitrase . Penyelesaian sengketa di luar lembaga peradilan sering disebut juga dengan Alternative Dispute Resolution (ADR) atau dalam isti lah Indonesia diterjemahkan menjadi Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS). Sepe rti berita di media yang sedang hangat di dunia bisnis saat ini, adanya sengketa yang melibatkan PT Korindo Heavy Industry (KHI) dan Hyundai Motor Company (Hyun dai) yaitu pemutusan kerjasama secara sepihak. Berdasarkan kasus tersebut, akan dibahas bagaimana membuat perjanjian yang sah, bagaimana prosedur pembatalan ata u pemutusan perjanjian, bagaimana tindakan jika salah satu pihak dalam perjanjia n melanggar, termasuk bagaimana penyelesaian sengketa tersebut berdasarkan teori -teori hukum perdata. 1

BAB II PERMASALAHAN PT Korindo Heavy Industry (KHI) sebagai agen tunggal untuk kendaraan niaga merek Hyundai di Indonesia mengalami kerugian sekitar Rp1,6 triliun akibat diakhiriny a perjanjian keagenan secara sepihak dan dihentikannya pasokan suku cadang oleh prinsipal Hyundai Motor Company (Hyundai), Korea Selatan. Kerugian dihitung dari investasi yang sudah berjalan selama 5 tahun dan stok kendaraan dan suku cadang . Korindo memiliki tiga perjanjian kerja sama dengan Hyundai Motor Company menya ngkut pasokan, distribusi dan lisensi teknis. Mulai 29 Maret 2012 Hyundai Motor Company memutuskan kerja sama. Dikhawatirkan dengan dihentikannya pasokan suku c adang tersebut, akan menggangu operasi kendaraan niaga Hyundai di Indonesia. Tid ak sedikit konsumen KHI yang menggunakan truk atau bus Hyundai sebagai sumber pe nghasilan mereka. Penolakan atau penghentian pasokan suku cadang ini secara otom atis mengurangi pendapatan mereka, karena unit-unit yang rusak dan harus diganti suku cadangnya tidak bisa beroperasi. Padahal permintaan suku cadang setiap har i makin meningkat. KHI menyesalkan tindakan pihak Hyundai yang memutus kerjasama itu. Padahal selama pelaksanaan perjanjian keagenan yang diteken pada 16 Juni 2 006 itu berlangsung, KHI sudah berupaya memenuhi kewajibannya untuk menjual prod uk kendaraan niaga merek Hyundai jenis truk dan bus dengan sepenuh hati dan maks imal secara profesional. Diantaranya dengan melakukan investasi dalam bentuk lah an gedung, pabrik, mesin dan alat pendukung penjualan serta perakitan lainnya. B ahkan, sejak 2007 penjualan bus dan truk meningkat. Dari 2007 hingga 2012 penjua lan kendaraan niaga Hyundai telah mencapai 7.361 unit. Penjualan tertinggi terja di pada 2008 yang mencapai 3.240 unit. 2

Hotma Sitompoel, kuasa hukum KHI mengakui, pada 2010 penjualan mengalami penurun an. Hal itu tidak disebabkan oleh internal KHI, melainkan sebagai imbas dari kon disi perekonomian di Indonesia saat itu. Mulai 2007 sampai 2008 penjualan KHI te rus mengalami kenaikan dan KHI memperoleh penghargaan dari Hyundai sebagai distr ibutor terbaik. Sehingga pihak KHI kaget, tiba-tiba diputuskan hubungan kerjasam a tersebut. Sementara pihak KHI yang telah beberapa kali meminta penjelasan, tet api hingga kini juga tidak kunjung mendapatkan balasan. HMC diminta membuktikan KHI melanggar kontrak yang ada atau tidak. Kemudian akan lihat apakah KHI mengho rmati ketentuan [hukum] yang ada di Indonesia. Selanjutnya, HMC diketahui tengah digugat perusahaan local PT Korindo Heavy Indu stry di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam gugatan yang terdaftar pada No1 66/Pdt.G/2012/PN.Jkt.Sel tersebut, Korindo menuding Hyundai melakukan perbuatan melawan hukum karena mengakhiri perjanjian bisnis yang telah disepakati secara s epihak. Gugatan tersebut telah diajukan KHI pada 15 Maret 2012 KHI berharap deng an diajukannya gugatan ini, tergugat dapat bertaggungjawab atas kerugian yang di tanggung KHI karena pemutusan kontrak secara sepihak. Dalam gugatannya KHI menun tut Hyundai untuk membayar ganti rugi materiil sebesar Rp1,2 triliun dan immater iil sebesar Rp200 miliar. Hyundai telah membuat kesepakatan yang berisi pemberia n hak eksklusif untuk menjual dan merakit produk tergugat yang berbentuk commerc ial vehicle, pada 16 Juni 2006. Perjanjian tersebut diperpanjang setiap tahunnya . Namun pada September 2010 perjanjian tersebut diputus secara sepihak tanpa pem beritahuan sebelumnya. Sementara, KHI telah mengirimkan surat teguran namun samp ai dengan adanya gugatan tersebut tidak mendapat tanggapan dari Hyundai. KHI aka n melihat apakan Hyundai akan taat terhadap hukum di Indonesia atau tidak dengan adanya pemanggilan sidang oleh pengadilan. 3

BAB III PEMBAHASAN 3.1. Perikatan HMC dengan KHI karena Kontrak atau Persetujuan Berkaitan dengan p emutusan kerjasama antara HMC dengan KHI secara sepihak, maka yang perlu ditinja u adalah bagaimana melakukan perikatan di awal kontrak. Perikatan adalah suatu h ubungan hukum (mengenai kekayaan harta benda) antara dua orang atau lebih yang m elahirkan hak dan kewajiban menuntut suatu barang. Pihak yang berhak disebut kre ditur, dan pihak yang berkewajiban disebut debitur. Barang sesuatu yang dapat di tuntut dinamakan prestasi, dapat berupa (1.) Menyerahkan suatu barang, (2.) Mela kukan suatu perbuatan, (3.) Tidak melakukan suatu perbuatan. Suatu perikatan itu sendiri dapat berasal dari perjanjian dan dapat juga berasal dari undang-undang . Berdasarkan KUH Perdata pasal 1320 Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat : (1.) kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; (2.) k ecakapan untuk membuat suatu perikatan; (3.) suatu pokok persoalan tertentu; (4. ) suatu sebab yang tidak terlarang(halal). Pasal 1331 Suatu persetujuan adalah s uatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih. Melihat penjelasan tersebut, Setelah memenuhi persyaratan, dan terbentuk kontrak, HMC terikat pada persetujuan untuk menyerahkan suatu barang, yaitu memberikan pasokan suku cadang pada KHI selaku agen Hyundai. Disamping it u KHI juga telah memiliki hak menjual, distribusi, dan lisensi teknis. Wanpresta si adalah apabila si debitur tidak memenuhi kewajibannya, berupa: (1.) Tidak mel akukan apa yang disanggupi untuk dilakukan; (2.) Melaksanakan apa yang dijanjika n tetapi tidak sebagaimana dijanjikan; (3.) 4

Melakukan apa yang dijanjikan, tetapi terlambat; (4.) Melakukan sesuatu yang men urut perjanjian tidak boleh dilakukannya. Terhadap kelalaian tersebut dapat diancam sanksi berupa: membayar kerugian yang diderita kreditur, pembatalan perjanjian, peralihan resiko, membayar biaya perka ra, kalau sampai di pengadilan. Pada kasus ini HMC tidak memenuhi kewajibannya s esuai dengan isi kontrak. Tiba-tiba melakukan penghentian pasokan suku cadang pa da KHI. Sehingga wajar, jika HMC dapat diamcam membayar kerugian yang diderita K HI baik materiil maupun immaterial. HMC tidak dikatakan bersalah apabila perikat an itu terhapus. Berdasarkan pasal 1381 ada 10 cara hapusnya perikatan, yaitu : (1.) Pembayaran. Menurut pasal 1393 KUHP, disebutkan pembayaran harus dilakukan yang ditentukan dalam perjanjian, atau kalau berkaitan dengan suatu barang terte ntu dapat dilakukan ditempat barang tersebut berada pada saat perjanjian dibuat. Pembayaran juga dapat dilakukan oleh pihak ketiga. (2.) Penawaran pembayaran tu nai diikuti dengan penyimpanan penitipan (3.) Pembaharuan hutang. Apabila seseor ang yang berhutang membuat suatu perikatan hutang baru, mengganti hutang yang la ma hapus karnanya. Dan apabila debitur baru ditunjuk sebagai pengganti debitur l ama dan debitur lama dibebaskan karnanya. (4.) Perjumpaan hutang atau kompensasi . Terjadi jika 2 orang saling berhutang satu sama lain maka terjadilah suatu per jumpaan yang menghapuskan hutang keduanya (Pasal 1424 KUHP). (5.) Pencampuran hu tang. Terjadi apabila kedudukan sebagai kreditur dan debitur berkumpul pada 1 or ang. Misalnya si debitur menerima testamen dari krediturnya atau si debitur kawi n dengan kreditur dalam suatu persatuan hata kawin. 5

(6.) Pembebasan hutang. Adalah apabila kreditur dengan tegas tidak mengkehendaki lagi prestasi dari kreditur sehingga melepaskan haknya atas pemenuhan prestasi. (7.) Musnahnya barang atau hutang. Juga menjadi penyebab hapusnya perikatan kar na dipandang force mayor, artinya diluar kekuasaan debitur. (8.) Kebatalan atau Pembatalan. Dalam pasal 1446 KUHP berkaitan dengan tidak terpenuhinya syarat obj ektif atau syarat subjektif. (9.) Berlakunya suatu syarat batal. Berkaitan denga n perjanjian bersyarat (10.) Lewat waktu atau daluarsa. Menurut pasal 1967 KUHP adalah apabila telah lewat 30 tahun, sehingga akan muncul natuurlijike verbinten is, artinya kalau dibayar boleh tetapi tidak dapat dituntut didepan hakim. 3.2. Penyelesaian Sengketa Bisnis A. Penyelesaian Sengketa Bisnis Melalui Jalur Litigasi Dalam menjalankan kegiatan bisnis, kemungkinan timbulnya sengketa suatu hal yang sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, dalam peta bisnis modern dewas a ini, para pelaku bisnis sudah mulai mengantisipasi atau paling tidak mencoba m eminimalisasi terjadinya sengketa. Langkah yang ditempuh adalah dengan melibatka n para penasehat hukum (legal adviser) dalam membuat dan ataupun menganalisasi k ontrak yang akan ditanda tangani oleh pelaku usaha. Yang menjadi soal adalah, ba gaimana halnya kalau pada awal dibuatnya kontrak, para pihak hanya mengandalkan saling percaya, kemudian timbul sengketa, bagaimana cara penyelesaian sengketa y ang tengah dihadapi pebisnis. Secara konvensional atau tepatnya kebiasaan yang b erlaku dalam beberapa dekade yang lampau jika ada sengketa bisnis, pada umumnya para pebisnis tersebut membawa kasusnya ke lembaga peradilan ditempuh, baik lewa t prosedur gugatan perdata maupun secara pidana. Jika pilihannya penyelesaian se ngketa dilakukan melalui lembaga peradilan, para pihak memperhatikan asas yang b erlaku dalam gugat-menggugat melalui pengadilan. Satu asas yang cukup penting ad alah siapa 6

yang mendalilkan, wajib membuktikan kebenaran dalilnya. Asas ini dijabarkan dala m pasal 1865 KUHPdt yang mengemukakan bahwa: Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suat u hak orang lain, menunjuk suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak at au peristiwa tersebut. Untuk itu, jika penyelesaian sengketa bisnis dipilih lewat l embaga peradilan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangan, yakni pihak penggu gat wajib membuktikan kebenaran dalilnya. Di samping itu, penggugat harus tahu p ersis di mana tempat tinggal tergugat, sebagai gugatan harus diajukan di tempat tinggal tergugat, Asas ini dikenal dengan istilah Actor Secuitor Forum Rei. B. P enyelesaian Sengketa Bisnis Melalui Jalur Non Litigasi B.1. Diluar Lembaga Perad ilan B.1.1. Lembaga Arbitrase sebagai Alternatif Mencermati penyelesaian sengket a melalui lembaga peradilan, butuh waktu dan biaya yang cukup mahal. Penyelesaia n sengketa bisnis oleh pihak ketiga ataupun suatu lembaga swasta sebagai suatu a lternative yakni melalui lembaga arbitrase. Lembaga ini sering pula disebut lemb aga perwasitan. Para anggota dari lembaga arbitrase terdiri dari berbagai keahli an, antara lain, ahli dalam perdagangan, industri, perbankan, dan hukum. Sebenar nya, masalah penyelesaian sengketa bisnis atau perdagangan melalui lembaga arbit rase bukanlah sesuatu hal yang baru dalam praktek hukum di indonesia. Disebut de mikian karena pada zaman hindia Belanda pun sudah dikenal. Hanya saja, pada wakt u itu berlaku untuk golongan tertentu saja sehingga pengaturan lembaga ini pun d iatur tersendiri yakni dalam hukum acara perdata yang berlaku bagi golongan Erop a yang termuat dalam reglement op de rechtelijke rechtsvordering (RV). Dalam Pas al 615 Rv ditegaskan adalah diperkenankan kepada siapa saja yang terlibat dalam suatu sengketa mengenai hak-hak yang berada dalam kekuasaannya untuk menyelesaik an sengketa tersebut kepada seseorang atau beberapa orang wasit (arbiter). 7

Apabila diperhatikan secara sepintas isi Pasal tersebut, seolah-olah setiap seng keta dapat diselesaikan oleh lembaga ini, tetapi tidaklah demikian halnya karena yang dapat diselesaikan oleh lembaga arbitrase adalah hanya yang menyangkut kek uasaan para pihak yang bersengketa, yakni tentang hak dan kewajiban yang timbul dalam perjanjian. Untuk itu ada baiknya perlu diperhatikan asas yang tercantum d alam Pasal 1338 ayat (1) KUHPdt yang mengemukakan bahwa : semua perjanjian yang dib uat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Jadi apa yang telah disepakati oleh kedua belah pihak yang berjanji, maka bagi mereka hal tersebut dianggap merupakan suatu undang-undang yang harus ditaati. Dalam prakt ek dunia bisnis yang berlaku sekarang, sudah ada suatu standar kontrak yang baku , karenanya para pihak tinggal mempelajarinya, apakah ia setuju atau tidak terha dap syarat-syarat yang tercantum dalam kontrak tersebut. Biasanya dalam standar kontrak dicantumkan suatu klausul bahwa apabila terjadi suatu perselisihan atau perbedaan penafsiran tentang isi perjanjian, akan diselesaikan oleh lembaga arbi trase (badan perwasitan). Hal ini berarti sejak para pihak menyetujui dan menand atangani kontrak tersebut, sudah menyatakan diri bahwa perselisihan yang mungkin akan terjadi diselesaikan oleh lembaga arbitrase. Tetapi, dapat pula terjadi ba hwa dalam suatu kontrak tidak ada klausul tersebut, tetapi jika dikehendaki oleh para pihak apabila ada perselisihan masih dapat diselesaikan oleh lembaga arbit rase, yakni berdasarkan persetujuan kedua belah pihak, tetapi harus dibuat secar a tertulis. Adapun tugas lembaga arbitrase adalah menyelesaikan persengketaan ya ng diserahkan kepadanya berdasarkan suatu perjanjian yang telah disepakati oleh para pihak yang bersengketa. B.1.2. Badan arbitrase Nasional Indonesia Apabila d ikaji terlebih jauh tentang tugas dan peranan lembaga arbitrase ini, ternyata ya ng paling membutuhkan adalah para pengusaha sehingga kalau diperhatikan, pusat-p usat lembaga arbitrase di negara-negara industri yang telah 8

maju, seperti Jepang, dikenal The Japan comercial arbitration Association yang b erkedudukan di Tokyo; di USA dikenal dengan The American Arbitration association yang berkedudukan di New York, sedangkan pusat arbitrase internasional yang pal ing tua dan terkenal adalah court of Arbitration of the International Chamber of Commerce yang didirikan sejak tahun 1919 dan berkedudukan di Paris. Bagaimana h alnya dengan Indonesia, apakah sudah ada lembaga arbitrase yang permanen? Rupa-r upanya para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yan g notabene adalah juga anggota dari Kamar Dagang International (The Internationa l chamber of Commerce) ingin mendirikan lembaga tersebut secara permanen. Usaha ini ternyata berhasil pada tahun 1877 di Indonesia telah berdiri lembaga arbitra se yang diberi nama Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Hubungan antara K adin dan BANI erat sekali, masalah ini dapat dilihat dalam Pasal 1 ayat 1 Anggar an Dasar BANI yang mengemukakan: Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) adalah s ebuah badan yang didirikan atas prakarsa kamar dagang dan industri (Kadin), yang bertujuan memberikan penyelesaian yang adil dan cepat dalam sengketa-sengketa p erdata yang bersifat nasional dan bersifat internasional. Melihat tujuan dibentukny a BANI adalah menyelesaikan sengketa perdata yang cepat dan adil, mungkin timbul pertanyaan apakah BANI dapat dipaksakan andai kata para pihak tidak mematuhinya ? Dalam hal ini, peraturan prosedur BANI menentukan bahwa jika suatu putusan tel ah dijatuhkan, namun para pihak tidak memenuhinya, ketua BANI dapat memohon kepa da ketua pengadilan negeri di wilayah hukum mana putusan BANI telah ditetapkan a gar putusan BANI dapat dijalankan. Jika dicermati dalam praktik dunia bisnis yan g berkembang dewasa ini, tampak bahwa dalam suatu kontrak apakah ia yang sudah b aku ataupun belum sudah ada suatu klausul arbitrase, artinya jika timbul perseli sihan akan diselesaikan oleh 9

lembaga ini. Tampaknya, penyelesaian sengketa bisnis di luar pengadilan (Out of Court Settlement) semakin banyak diminta sebab ada beberapa keuntungan yang dapa t diperoleh, yakni prosedurnya cukup cepat dan rahasia perusahaan lebih terjamin . Penyelesaian sengketa di luar pengadilan dikenal dengan Alternative Dispute Re solution atau Metode Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR atau MAPS). Asas peny elesaian sengketa di luar pengadilan, yaitu putusan harus dijalankan secara suka rela oleh pihak yang bersengketa. Di Indonesia sendiri, penyelesaian sengketa di luar pengadilan diatur dalam Unda ng-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Seng keta, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 138 tahun 1999 tanggal 12 Agustus 1999. selanjutnya, disebut UUAPS. 3.3. Penyelesaian Sengketa Pemutusan Kontak K erjasama HMC dengan KHI Pada asasnya, para pihak yang terlibat dalam dunia bisni s ingin agar segala sesuatunya dapat berjalan sesuai dengan apa yang direncanaka n begitu juga dengan HMC dan KHI. Akan tetapi, dalam praktik ada kalanya apa yan g telah disetujui oleh kedua belah pihak tidak dapat dilaksanakan karena salah s atu pihak mempunyai penafsiran yang berbeda dengan apa yang telah disetujui seba gaimana yang tercantum dalam kontrak sehingga dapat menimbulkan perselisihan. Mu nculnya perselisihan tersebut dapat menimbulkan berbagai hal yang tidak diingink an oleh kedua belah pihak. Oleh karena itu, untuk merealisasikan kembali perjanj ian diperlukan kesepakatan lagi. Dengan demikian, ditinjau dari sudut bisnis jel as kurang menguntungkan karena hal ini dapat menimbulkan kerugian bukan saja mat eriil, melainkan juga kemungkinan terjadinya kerugian immaterial, yaitu nama bai k yang selama ini terjaga dengan baik. Dalam kasus ini, proses awal dilakukan de ngan itikad untuk negoisasi yaitu berupa pengiriman surat teguran dari KHI kepad a HMC. Namun, HMC ternyata tidak merespon surat tersebut. DI proses selanjutnya ternyata sengketa ini diselesaikan melalui jalur litigasi karena HMC diketahui t engah digugat 10

perusahaan local PT Korindo Heavy Industry di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam gugatan yang terdaftar pada No166/Pdt.G/2012/PN.Jkt.Sel tersebut, Korindo menuding Hyundai melakukan perbuatan melawan hukum karena mengakhiri perjanjian bisnis yang telah disepakati secara sepihak. Sebagai pihak penggugat, KHI tentu saja wajib membuktikan gugatanya atas pemutusan kontrak kerjasama yang dilakuka n bersama HMC. KHI harus dapat menyajikan bukti-bukti atau pihak yang dapat memb enarkan gugatannya termasuk ganti rugi yang diajukan kepada HMC Selanjutnya keti ka masalah HMC dan KHI dibawa ke Pengadilan, ada beberapa hal yang perlu diperti mbangkan oleh kedua belah pihak selain waktu dan biaya yang harus dikeluarkan cu kup banyak, juga identitas para pihak yang bersengketa akan diketahui oleh masya rakat. Sebagaimana diketahui prinsip yang dianut oleh lembaga peradilan adalah p ada asasnya terbuka untuk umum. Tentunya, jika benar-benar terbukti HMC menyalah i hukum, maka akan dikethui oleh masyarakat dan tentu akan mempengaruhi kebonafi ditasannya. Oleh karana itu, jika diikuti prosedur yang biasa, yaitu menggugat m elalui pengadilan, ada dua hal yang dapat merugikan para pihak yakni identitas y ang bersangkutan akan diketahui oleh umum dan waktu untuk menyelesaikan persengk etaan cukup lama. Tentunya, kedua hal tersebut tidak dikehendaki oleh kalangan p ebisnis. Dari seluruh mekanisme yang ada, litigasi dianggap sebagai yang paling tidak efisien oleh para pelaku dunia ekonomi komersial, berkaitan dengan waktu d an biaya yang dibutuhkan. Rendahnya kesadaran hukum juga ikut mempengaruhi, di mana para pihak yang berperkara dipengadilan bukan untuk mencar i keadilan melainkan untuk memenangkan perkara. Beberapa faktor lain yang mengak ibatkan pengadilan bersikap tidak responsif, kurang tanggap dalam merespon tangg apan umum dan kepentingan rakyat miskin (ordinary citizen). Hal yang paling utam a adalah kemampuan hakim yang sifatnya generalis (hanya menguasai bidang hukum s ecara umum tanpa mengetahui secara detil mengenai suatu perkara). 11

Faktor lain yang mengakibatkan badan pengadilan dianggap tidak kondusif bagi kep entingan penyelesaian sengketa. Rumitnya proses pemeriksaan perkara di pengadila n mengakibatkan lambatnya pengambilan keputusan. Ketika KHI dan HMC menyelesaika n sengketanya melalui litigasi di pengadilan negeri Jakarta Selatan, maka hasil penyelesaiannya sangat bergantung pada proses jalannya sidang dan putusan hakim. 12

BAB IV PENUTUP 4.1 KESIMPULAN 4.1.1 Sengketa Pemutusan Kontrak Perjanjian Sepihak oleh Hyundai Motor Company dengan Korindo Heavy Industry merupakan salah satu bentuk kasus pe langgaran perjanjian yang diatur dalam KUHPerdata. Akibat pelanggaran kontrak at au perjanjian yang disepakati bersama sebelumnya adalah ganti rugibaik secara ma teriil maupun immaterial. 4.1.2 Penyelesain sengketa dapat dilakukan dengan berm acam cara, tetapi penyelesaian sengketa antara pihak HMC dengan KHI ini dilakukan melalui Litigasi yaitu KHI melakukan gugatan kepada HMC melalui lembaga peradilan dalam hal ini Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dimana penyelesaian tersebut bergantung pada jalannya sidang dan putusan hakim yang membutuhkan waktu yang cukup lama dalam p rosesnya. 4.2 SARAN 4.2.1. Perlu ditekankan dalam melakukan perikatan dengan kontrak atau perjanjian harus dibuat secara matang dengan mempertimbangkan berbagai kemungkin an resiko yang terjadi. Dalam pembuatannya pun perlu melibatkan pihak hukum yang ahli sehingga jika terjadi hal di luar perjanjian dapat langsung diselesaikan. 4.2.2. Dalam penyelesaian sengketa, sebaiknya mengutamakan musyawarah atau negoi sasi yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang bersengketa. Selain Lebih murah, efisien waktu, kerahasiaan tetap terjaga. 13

DAFTAR PUSTAKA Sembiring, Sentosa. 2008. Hukum Dagang. Bandung: Citra Aditya Bakti. Ami. 2011. Aspek Hukum Perikatan. http://amiefieles.blogspot.com/2011/06/aspek-hukum-perika tan.html. Diakses tanggal 29 Maret 2012 Berliana, Dina. 2010. Penyelesaian Sengketa Dagang Melalui Litigasi dan Non Liti gasi. http://dinatropika.wordpress.com/2010/07/21/penyelesaian-sengketadagang-me lalui-litigasi-dan-non-litigasi/. Diakses tanggal 29 Maret 2012 Mayestika, Dewi. 2012. Hyundai Motor Digugat. http://www.bisnis.com/articles/sengketa-bisnis-hyu ndai-motor-digugat. Diakses tanggal 29 Maret 2012 Sarwani, M. 2012. Hyundai Putu s Kontrak Korindo Rugi Rp1,6 Triliun. http://www.bisnis.com/articles/gejolak-oto motif-hyundai-putus-kontrakkorindo-rugi-rp1-6-triliun. Diakses tanggal 29 Maret 2012 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA (Burgerlijk Wetboek voor Indonesie). Dium umkan Dengan Maklumat, Tanggal 30 April 1847 14