Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN TERBAIK PRAKTIKUM KIMIA 3

JUDUL PERCOBAAN : ANALISA KUANTITATIF BIOMOLEKUL KELOMPOK 9 1. SISKA YULYANA T 2. SITI KHUMAIROH 3. SRI HANDAYANI 4. SUPRIHATIN 5. SUTEJA 6. TEGUH IMAN PRASETYO 7. TITI AGUSTIN 8. TUGU BAADILA 9. WAWAN PRASETYO ( J2C 008 066 ) ( J2C 008 067 ) ( J2C 008 068 ) ( J2C 008 069 ) ( J2C 008 070 ) ( J2C 008 071 ) ( J2C 008 072 ) ( J2C 008 097 ) ( J2C 008 098 )

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2009

ABSTRAK Telah dilakukan suatu percobaan yang berjudul Analisa Kuantitatif Biomolekul. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk melakukan analisis kuantitatif terhadap biomolekul yang meliputi : lipid, protein dan vitamin. Prinsip yang digunakan dalam percobaan lipid adalah hidrolisis lemak (pada percobaan angka penyabunan) dan reaksi halogenasi (pada percobaan angka iod). Pada uji protein, prinsip yang digunakan adalah adanya ion zwitter. Pada percobaaan vitamin C, prinsip yang digunakan dalam uji ini adalah reaksi redoks (oksidasi dan reduksi). Metode yang digunakan dalam percobaan lipid ini adalah penetuan angka penyabunan dengan titrasi netralisasi dan penentuan angka iod. Pada percobaan protein metodenya adalah titrasi formol. Pada percobaan vitamin C metode yang digunakan adalah titrasi iodometri. Dari percobaan dihasilkan, penentuan angka iod untuk minyak baru adalah sebesar 7,1064 dan untuk minyak lama adalah sebesar 5,3298. Penentuan angka penyabunan untuk minyak baru adalah sebesar 238 dan untuk minyak lama adalah sebesar -98. Kadar protein dalam sampel dapat ditentukan dengan cara titrasi formol, dari hasil percobaan diperoleh kadar protein dari susu kedelai adalah sebesar 3,502 x 10 -3% dan untuk sari kacang kedelai adalah sebesar 13,3076 x 10-3%. Hasil penentuan kadar asam askorbat untuk vitamin C tablet kadar vitamin C nya sebesar 27,22 mg/mL dan dalam jus jeruk (nutrisari) adalah sebesar 6,512 mg/mL

PERCOBAAN 10 ANALISA KUANTITATIF BIOMOLEKUL I.TUJUAN PERCOBAAN Melakukan analisa kuantitatif terhadap biomolekul yang meliputi: lipid, protein, dan vitamin. II.DASAR TEORI 2.1 Lemak 2.1.1 Pengertian Lemak Lemak adalah ester antara gliserol dan asam lemak dimana ketiga radikal hidroksil dari gliserol semuanya diesterkan. Jadi jelas bahwa lemak adalah trigliserida. Struktur kimia dari lemak yang berasal dari hewan atau manusia,tanaman maupun lemak sintetik,mempunyai bentuk umum sebagai berikut:

O H 2C HC H 2C O O O C O C C O R1 R2 R3

R1,R2,R3 adalah rantai hidrokarbon dengan jumlah atom karbon mulai dari 3 sampai 23,namun yang paling umum adalah 15 atau 17. (Kuswati,2001) 2.1.2 Fungsi Lemak Lipida mempunyai beberapa fungsi diantaranya ialah sebagai : a. Komponen struktural membran, b. Bahan bakar, c. Lapisan pelindung,

d.

Vitamin dan hormon. (Martoharsono,1993)

Fungsi lipida,termasuk : a. Penyimpan energi dan transport b. Struktur membraqn c. Kulit pelindung,komponen dinding sel d. Penyampai kimia (Page,1981) 2.2.Asam lemak 2.2.1. Keberadaan Asam Lemak Asam lemak jarang terdapat bebas dialam tetapi terdapat sebagai ester dalam gabungan dengan fungsi alkohol. Asam lemak pada umumnya adalah asam monokarboksilat berantai lurus. Asam lemak pada umumnya mempunyai jumlah atom karbon genap ( ini berarti banyak karena asam-asam lemak disintesa terutama dua karbon setiap kali ). Asam lemak dapat dijenuhkan atau dapat mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap. Walaupun asam lemak berantai linier terdapat dalam jumlah yang lebih besar dialam namun masih banyak jenis lain yang kita ketahui. Misalnya lemak wol dan sumber-sumber bacterial menghasilkan asam lemak yang berantai cabang. Juga ada asam lemak siklik. Misalnya asam lemak siklik tak jenuh,asam kaulmoograt adalah pereaksi penting untuk pengobatan penyakit kusta :
HC H2 C H C C H2 H C

C12H34

COOH

asam kautmoograt Bentuk sesungguhnya dari suatu asam lemak berkembang dari bentuk hidrokarbon induk. Konfigurasi ikatan rangkap dari asam-asam lemak yang terdapat dialam pada umumnya adalah cis :

R C R C R C C R

cis

trans

Kenyataan bahwa alam lebih menyukai asam-asam lemak tak jenuh cis mungkin bertalian dengan pentingnya senyawa-senyawa ini dalam struktur membran biologi. (Page,1981) 2.2.2.Klasifikasi Asam Lemak 2.2.2.1 Klasifikasi asam lemak berdasarkan ikatannya : a. Asam lemak jenuh Asam lemak jenuh tidak mempunyai ikatan rangkap dalam strukturnya. Beberapa contoh penting antara lain : C3H7 C5H11
C7H15
COOH COOH
COOH

: asam butirat : asam kaproat : asam kaprilat : asam laurat : asam miristat : asam stearat : asam arachidat (Sumardjo,1986)

C11H23 C13H27 C13H27 C19H39 b.

COOH COOH COOH COOH

Asam lemak tak jenuh Asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang mempunyai sebuah atau lebih ikatan rangkap 2 dalam struktur molekulnya. Beberapa contoh asam lemak tak jenuh :
H 3C H2 C H2 C

(CH2) 5

(CH2) 7

CH 2OOH

(asam lemak palmitoleat)

H 3C

(CH2) 7

H2 C

H2 C

(CH2) 7

COOH

(asam oleat)
H 3C H2 C C H C H H2 C C H C H H2 C C H C H

(CH2) 7

COOH

(asam linoleat) (Sumardjo,1986) 2.2.2.2 Klasifikasi asam lemak berdasarkan dapat atau tidaknya disintesis oleh tubuh : a. Asam lemak esensial Yaitu asam lemak yang dibutuhkan oleh tubuh,tetapi tubuh sendiri tidak dapat mensintesisnya. Asam lemak ini diperoleh dari luar,yaitu dari lemak makanan. Asam ini mempunyai 2 buah atau lebih ikatan rangkap dua didalam struktur molekulnya. Contoh : asam linoleat, asam arachidat. (Sumardjo,1986) b. Asam lemak nonesensial Yaitu asam lemak yang dibutuhkan oleh tubuh dan tubuh sendiri dapat mensintesisnya. (Sumardjo,1986) 2.3. Sifat-sifat Lemak Sifat-sifat fisik lemak adalah : 2.3.1 2.3.2 Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu Mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup. (Poedjiadi,1994) 2.4. Komponen penyusun lemak Komponen penyusun lemak adalah : 2.4.1Gliserol pelarut organik misalnya eter, aseton, kloroform, benzena yang

Pada suhu kamar,gliserol adalah zat cair yang tidak berwarna,netral terhadap lakmus,kental dan rasanya manis. Dalam keadaan murni bersifat higroskopis. Dehidrasi gliserol dapat terjadi karena penambahan KHSO4 pada suhu tinggi. Hasil dehidrasi adalah aldehid alifatik yang mempunyai aroma khas. Reaksi ini sering dipakai untuk identifikasi gliserol :
H 2C HC H 2C OH OH OH

(gliserol) (Sumardjo,1998) 2.5 Analisa Kuanitatif Lemak / Lipid 2.5.1 Angka Asam Penentuan Metode Analisa Kuantitatif Lemak dengan angka asam dengan menambahkan jumlah untuk menetralkan asam lemak bebas yang berasal dari 1 gram lemak. Angka asam tersebut untuk menentukan Berat Molekul (BM) lemak / minyak. ( Fessenden,1999 ) 2.5.2 Angka Penyabunan Angka Penyabunan digunakan metode kuantitatif dari proses penyabunan dengan menambahkan jumlah milligram KOH untuk menyabunkan 1 gram minyak / lemak. Angka tersebut digunakan untuk menentukan besarnya berat molekul (BM) minyak / lemak. ( Fessenden,1999 ) 2.5.3 Angka Iod Angka Iod digunakan untuk mengetahui besarnya derajat ketidakjenuhan asam lemak. Ketidakjenuhan mengandung banyak / sedikit ikatan rangkap. Penentuan dengan menambahkan jumlah gram iod yang diikat oleh 100 gram lemak. ( Fessenden,1999 ) 2.5.4 Angka Asetil

Angka Asetil digunakan untuk menentukan jumlah gugus hidroksil (OH-) pada asam lemak dengan menambahkan sejumlah milligram KOH untuk menetralkan asam asetat yang dibebaskan pada reaksi asetilasi 1 gram lemak. (Fessenden, 1989) 2.6. Penyabunan atau Saponifikasi Sabun merupakan garam alkali (biasanya garam natrium) dari asamasam lemak. Sabun mengandung terutama garam C16 dan C18 namun dapat juga mengandung beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih rendah. Reaksi penyabunan :
O H 2C HC H 2C O O O C O C C O R1 R2 R3 H 2C OH OH OH

R1 + R2 R3

CHOOH COOH CHOOH

+ H 2O

HC H 2C

trigliserida

gliserol

asam lemak

Kegunaan

sabun

adalah

kemampuannya

mengemulsi

kotoran

berminyak sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan 2 sifat sabun. Pertama rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam zat-zat nonpolar. Kedua ujung anion molekul sabun yang tertarik pada air,ditolak ujung anion molekul sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain. (Fessenden,1999) 2.7 Protein Kata protein berasal dari kata yunani protos atau proteos yang berarti pertama atau utama. Protein merupakan komponen penting atau komponen utama sel hewan atau manusia.Oleh karena sel itu utama dalam pembentukkan dan pertumbuhan tubuh. ( Poedjiadi,1994) 2.8 Ikatan Peptida merupakan pembentuk tubuh kita, maka protein yang terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat

Suatu ikatan kovalen yang menggabungkan asam-asam amino secara bersama-sama dalam protein. Strukturnya planar karena elektron-elektron terdelokalisasi dalam pertalian amida,yang memberikan ikatan C-N. (Arsyad,2001) 2.9 Fungsi Protein Sumber Energi a. Pembentukan dan perbaikan sel dan jaringan b. Sebagai sintesis hormon, enzim, dan antibody c. Pengatur kesetimbangan kadar asam basa dalam sel (Wikipedia, 2009) 2.10 Struktur Protein 2.10.1 Stuktur primer Susunan primer protein merupakan suatu rangkaiaan uhit-unit asam amino dengan gugus-gugus R berda dalam posisi trans. 2.10.2 Struktur sekunder Nama lainnya adalah stuktur helik, terjadi karenapa adanya ikatan hydrogen antara atom oksigen dari radikal karboksil dengan atom hydrogen dari radikal N-H yang terdapat pada 1 rantai peptide. 2.10.3 strutur tersier Struktur tersier menunjukkan kecenderungan peptide membentuk lipatan dan dengan demikian membentuk 5 struktur yang lebih kompleks. 2.10.4 struktur kuarterner struktur kuaterner menunjukkan derajat persekutuan unit-unit protein. (Sumardjo,1986) 2.11 Macam-macam amino penyusun protein

CH3CHCOOH NH2 ALANIN Alanin


H 2NCNHCH2CH2CH 2CHCOOH NH ARGININ Arginin NH2

O H2NCCH2CHCOOH NH2 ASPARAGINA Asparagina HO2CCH2CHCOOH NH2 Asam ASPARTAT Aspartat ASAM
HSCH2CHCOOH NH2

Sistein SISTEIN

HO2CCH2CH2CHCOOH NH2 ASAM GLUTAMAT Asam Glutamat


O H2NCCH2CH 2CHCOOH NH2

Glutamina GLUTAMINA CH2COOH NH2 GLISIN Glisin N N H CH 2CHCOOH NH2

HISTIDIN Histidin CH3 CH3CH2CHCHCOOH NH2 ISOLEUSIN Isoleusin (CH3)2CHCH2CHCOOH NH2 LEUSIN Leusin

COOH N H Prolina PROLINA


H 2NCH 2CH2CH2CH 2CHCOOH NH 2 Lisin LISIN

CH3SCH2CH2CHCOOH NH2 METIONIN Metionin


O H2N CH C OH CH2

Fenilalanin FENILALANIN O H 2N CH C OH CH2

HN Triptofan TRIPTOFAN

O H2N CH C OH CH2 OH SERINA Serina O H2N CH C OH CH2

OH TIROSIN Tirosin O H2N CH C OH CH OH CH3 TREONIN Treonin O H2N CH C OH CH CH3 CH3 Valin VALIN (Fessenden,1982) 2.12 Sifat-Sifat Protein 2.12.1Kelarutan Kelarutan protein dalam berbagai molekul berbeda. 2.12.2 Sifat Koloid Didalam pelarut air,protein akan membentuk koloid disamping itu protein memiliki gugus hidrofilik seperti NH 2.-COOH,-OH

sehingga koloid yang terbentuk koloid hidrofil.Karena molekulnya cukup besar maka protein tidak dapat berdifusi melalui membrane. 2.12.3 Sifat Asam Basa Sifat asam basa protein ditentukan gugus asam basa pada gugus R-nya.Adanya gugus asam basa menyebabkan protein bersifat amfoter.Protein juga bersifat sebagai larutan padat,meskipun daya mengendapkan lemah. 2.12.4 Denaturasi dan Koagulasi Pada proses danaturasi protein mengalami perubahan sifat fisik dan kereaktikan biologisnya disebabkan pemanasan dan penyinaran 2.12.5 Penguraian Protein oleh Mikroba. Mikroba mengeluarkan enzim-enzim proteolitik yang menghidrolisis protein menjadi asam-asam amino.Perubahan selanjutnya bergantung pada jenis miukroba tersebut,dalam hal ini dapat terjadi deaminasi,deterboksilasi,oksidasi,mereduksi (Mayes,1992) 2.13 Analisis Kuantitatif Protein 2.13.1 Penetapan Kadar Protein dengan Metode FeCl3 Protein dapat diendapkan dengan asam Tannat.Kompleks asam Tannat /protein yang terjadi dapat bereaksi dengan ion Ferri membentuk kompleks stabil berwarna merah.Sebelumnya,kelebihan asam Tannat harus dihilang dengan pencucian menggunakan larutan NaCl fisiologis. (www.wikipedia.com) 2.13.2 Penetapan Kadar Protein dengan Metode Lowry Merupakan pengembangan dari metode biuret.Dalam metode ini terlibat 2 reaksi.Awalnya,kompleks Cu(II)-protein akan terbentuk sebagaimana metode biuret yang dalam suasana alkalis Cu(II) akan tereduksi menjadi Cu(I) (www.wikipedia.com)

2.13.3 Penetapan Kadar Protein dengan Metode Bradford Metode ini didasarkan pada pengikatan secara langsung zat warna coomasine Brilliant Blue G250(GBBG) oleh protein yang mengandung residu asam amino dengan rantai sampai aromatik (Thyrosin,Thryptophan,dan Phenylalanine)atau bersifat basa(Arginine,Histidine,dan Leucine) (www.wikipedia.com) 2.14 Vitamin Vitamin adalah senyawa organik yang tidak bisa disintesis dalam tubuh, walaupun dalam jumlah sedikit. Vitamin dikenal sebagai suatu kelompok senyawa organik yang termasuk dalam golongan protein, karbohidrat, lemak dan sangat penting peranannya bagi beberapa fungsi tertentu tubuh untuk menjaga kelangsungan hidup serta pertumbuhan. Vitamin-vitamin tidak dapat dibuat oleh manusia. Oleh karena itu harus diperoleh dari bahan. Sebagai perkecualian adalah vitamin D yang dapat dibuat dalam bahan pangan yang dikonsumsi mendapat cukup kesempatan. (Poedjiadi, 1994) 2.15 Klasifikasi Vitamin Vitamin dapat dibedakan menjadi: 2.15.1 Vitamin yang larut dalam air. a. Vitamin C Vitamin C disintesis secara alami baik dalam tanaman maupun hewan. Vitamin C mudah di uji secara sintesis dari gula darah dengan biaya sangat murah. Vitamin C mempunyai peranan dalam pembentukan kolagen interselular, pembentukan hormon steroid dari kolesterol dan menjaga kestabilan tubuh. (Winarno, 1982)

Stuktur vitamin C
O C HO HO C C HC HO CH CH2 OH O

asam askorbat

(Poedjiadi, 1994)

b. Vitamin B kompleks Vitamin B kompleks merupakan tianin, riboflafin, pereduksi (vitamin B6), asam pentofenat, bioflasin, serta vitamin B12. (Winarno, 1982)
NH 2 H2 C N N C H 3C N Cl H S CH3 C C CH2 CH2 OH

Tiamin

TIAMIN

(Poedjiadi, 1994)

2.15.2 Vitamin yang larut dalam lemak a. Vitamin A Merupakan jenis vitamin yang aktif dan terdapat dalam berbagai bentuk yang umumnya stabil, mudah teroksidasi oleh udara. Bila dipanaskan pada suhu tinggi bersama udara. Vitamin A berperan dalam penglihatan. Sumber vitamin A adalah susu, wortel, keju dan ikan. (Winarno, 1982)

H 3C C

CH3 C C H C H CHCH C H C H CHCH CHCH 2

H 3C C CHCH HC

CH3

H 3C

Retinol RETINOL b.Vitamin D Vitamin D sangat penting bagi metabolisme kalsium dan fosfor. Dengan adanya vitamin D diadsopsi kalium oleh alkohol pencernaan akan diperbaiki, kalsium dan fosfor dari tulang dimobilisai. Pengeluaran dan kesetimbangan mineral dalam darah ikut dikendalikan. Sumber vitamin D diperoleh dari dalam bahan nabati dan dalam minyak hati ikan dan vitamin D dapat diperoleh dari sinar matahari pagi. (Winarno, 1982)
H 3C H C CH 3 C H C H H C CH 3 H C CH 3 CH 3

CH 2

HO

VITAMIN D

Vitamin D c.Vitamin E

(Mulyono, 2001)

Vitamin E merupakan salah satu faktor yang larut dalam lemak. Vitamin E dalam tubuh kita berperan sebagai zat antioxidan, membantu mencegah oksidasi terhadap vitamin A dalam saluran pencernaan serta membantu dan mempertahankan fungsi membran sel. (Winarno, 1982)

CH 3 H3 C CH 3 O CH3

CH3 HO CH 3

CH 3

CH 3

Vitamin E VITAMIN E (Mulyono, 2001) d.Vitamin K Disebut juga vitamin koagulasi. Vitamin K dapat mendorong terjadinya peredaran darah secara normal, pembentukan tulang dan pembentukan otot. Sumber vitamin K antara lain adalah hati dan sayuran yang banyak berzat besi seperti bayam, kubis, dan bunga kol. (Winarno, 1982)
O

CH3

Vitamin K VITAMIN K 2.16 Titrasi Asam Basa

(Mulyono, 2001)

Cara yang digunakan untuk mengetahui secara tepat jumlah suatu larutan dengan titrasi yang mereaksikan larutan tersebut dengan larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya. Larutan yang ada di dalam buret adalah penitrasi, lalu diteteskan perlahan melalui kran ke dalam erlenmeyer yang terdapat pereaksi lain. Titik akhir titrasi ditentukan di dalam erlenmeyer atau gelas kimia. (Brady,1999) 2.17 Titik Akhir Titrasi Titik dalam suatu titrasi di mana suatu indikator berubah warna.

(Underwood,1989) 2.18 Titik Ekuivalen Titik dalam suatu titrasi di mana jumlah ekuivalen titran sama dengan jumlah ekuivalen analit. (Underwood,1989) 2.19 Indikator Asam Basa Adalah zat yang dapat berubah warnanya atau membentuk flouresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Indikator asam basa terletak pada titik ekuivalen dan ukuran dari pH. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa, larut, stabil, dan menunjukan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah zat organik. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron.

(Khopkar,1990) 2.20 Analisa Bahan 2.20.1 Aquadest Air yang diperoleh pada pengembunan uap air melalui proses penguapan atau pendidihan air; tidak berwarna; tidak berasa; titik leleh 0 derajat Celcius; titik didih 100 derajat Celcius; bersifat polar pelarut organik yang baik. (Mulyono,2001) 2.20.2 Kloroform Sebagai pelarut organik yang bersifat volatile. Cairan ini tidak berwarna berbau menyengat dan berasa manis. Berat molekul kloroform 119,5 titik didihnya 59 derajat celcius dan titik lelehnya seesar -6,12 derajat celcius.berat jenis kloroform adalah 1,498.

(Grant,1969) 2.20.3 KI Berbentuk kristal putih, tidak berwarna. Larut dalam air, titik lelehnya 600 derajat celcius. Dapat digunakan sebagai reagen. (Parker,1986) 2.20.4 NaOH Senyawa basa padatan putih; higroskopis; mudah menyerap Cu2 membentuk Na2CO3; digunakan dalam pembuatan rayon, kertas, detergen; titik leleh 318 derajat Celcius dan titk didih 139 derajat Celcius; larut dalam alkohol, gliserol, air. (Mulyono,2001) 2.20.5 Asam nitrat Merupakan asam anorganik; zat cair tidak berwarna; bersifat korosif dan oksidator kuat. (Basri,1996) 2.20.6 Asam Sulfat Zat cair kental tak berwarna menyerupai minyak dan bersifat higroskopis dalam larutan cair; bersifat asam kuat dalam keadaan pekat bersifat oksidator dan zat pendehidrasi; titik leleh 10 derajat Celcius; titik didih 315-338 derajat Celcius; massa jenis 1,8. (Mulyono,2001) 2.20.7 Amilum Merupakan polisakarida yang terbentuk dari cara sintetis. Banyak terdapat dalam tanaman, campuran 10-20% amilosa dan 80-90% amilopektin. Jika bereaksi dengan iodine akan membentuk warna keunguan. (Basri,1996) 2.20.8 Etanol Cairan encer tak berwarna dapat bercampur dengan eter, benzena, gliserol, air; bersifat hidrofob dan hidrofil. (Fessenden,1997)

2.20.9 Phenolftalain Larut dalam alcohol, namun tidak larut dalam air. Perubahan mulai dari merah muda hingga merah. Merupakan senyawa hablur putih, rentan pH antara 8,6-10. titih leleh 261 derajat celcius. (Basri,1996) 2.20.10 Formaldehida Tidak berwarna, berbau menyengat. Merupakan suatu pereduksi yang kuat dengan alkali. Tidak bereaksi dengan air, alcohol dan aseton. (Mulyono,2005) 2.20.11 Eter Sebagai pelarut, sebagai zat anestesik dalam medis. Zat cair, mudah menguap, mudah terbakar. Merupakan suatu pelarut yang tak berwarna. (Mulyono,2005) 2.20.12 HCl Dibuat dengan mereaksikan NaCl dan H2SO4 pekat. Larut dalam air, dengan membentuk asam kuat. Tidak berwarna dan berbau tajam. Titik lelehnya 114 derajat celcius dan titik didihnya -85 derajat celcius (Mulyono,2005) 2.20.13 Asam Asetat Glasial Berfungsi sebagai penyambung gas asetil dimana gugus ini tidak diperoleh oleh asam asetat glacial. Bm 102,09 g/L merupakan cairan tidak berwarna, titik didih 139,6 derajat celcius. (Murray,1995) 2.20.14 Larutan Hubl Iodin Larutan yang dibuat dengan melarutkan 2,5 g iodin dan 3 gr raksa (III) klorida dalam 100 cm3 etanol 95%; larutan ini dipakai sebagai penguji adanya lemak tidak jenuh (Mulyono,2001)

2.20.15 HCl Merupakan asam kuat, tidak berwarna, berbau tajam, dibuat dengan mereaksikan NaCl dan H2SO4 pekat, dapat larut dalam air dengan membentuk asam kuat, titik didih 850C dan titik leleh 1440C, dapat digunakan sebagai reagen reaksi. (Mulyono, 2001) 2.20.16 Minyak Minyak yang diperoleh dari buah kelapa; berguna untuk minyak makan dan pembuatan kue. (Basri,1996) 2.20.17 Susu Hasil dari kelenjar putih; berupa emulsi putih mengandung air, protein, lemak, gula, dan garam. (Basri,1996)

III. METODE PERCOBAAN 3.1. Alat a b c d e f g 3.2 Bahan a. Tablet vitamin C b. Jus jeruk c. Sari kacang hijau d. Susu kedelai e. Minyak bekas f. Minyak baru g. Kloroform h. Larutan Hubl A i. Larutan Hubl B j. KI k. Aquades l. Na2S2O3 m. Indikator amilum n. Etanol o. eter p. KOH alkoholisis q. HCl r. Phenolphthalein s. K2C2O4 t. Formaldehida u. Laritan Standar Iodin v. Susu Kedelai w. Sari Kacang Hijau x. Minyak Baru y. Minyak Bekas z. Tablet Vitamin C aa. Jus Jeruk Gelas ukur Pengaduk Pipet tetes Penangas Air Pemanas/Kompor Termometer Erlenmeyer 250 ml h i j k l n Buret Statif Klem Timbangan Tabung reaksi Gelas Beker

m Analitis

3.3 Skema Kerja 3.3.1 Percobaan Lipida a. Penentuan Angka Iod

Minyak kelapa 0,5 g erlenmeyer Hasil Penambahan 10 mL kloroform Penambahan 12,5 mL larutan hubl A Penambahan 12,5 larutan hubl B Penyimpanan 1 jam dalam kamar gelap dan ditutup Penambahan 10 mL aquades dan ditutup Penitrasian 0,1 N Na2S2O3 dengan indikator amilum

b. Penentuan Angka Penyabunan 1 g lemak/minyak erlenmeyer - Penambahan 3 mL pelarut lemak (95 % etanol + 5 % eter) - Pengocokan hingga larut - Penambahan 25 mL KOH alkoholis 0,5 M - Penempatan erlenmeyer ke gelas beker berisi air - Pemanasan selama 20 menit - Pendiaman dalam suhu ruang - Penitrasian dengan HCl 0,5 M - Penambahan indikator hingga jernih Hasil

3.3.2 Percobaan Protein a. Penentuan kadar protein dengan metode titrasi formol 10 mL larutan protein (susu) erlenmeyer - Penambahan 20 mL aquades - Penambahan 0,4 mL K2C2O4 jenuh (33%) - Pemnambahan 1 mL indikator pp - Pendiaman selama 2 menit - Penitrasian denngan NaOH 0,1 M sampai warna merah jambu - Penambahan 2 mL formaldehid - Penitrasian dengan NaOH - Pencatatan volume Hasil

3.3.3 Percobaan Vitamin a. Penetuan Kadar Asam Askorbat/Vitamin C 10 mL larutan vitamin C erlenmeyer - Penambahan 2 mL indikator amilum - Penitrasian dengan larutan Iodin 0,01N sampai terjadi perubahan warna Hasil

IV.DATA PENGAMATAN & PERHITUNGAN 4.1 Data Pengamatan NO PERLAKUAN 1 LIPID/LEMAK a)Penentuan angka iod minyak kelapa 0,5gram minyak kelapa Ditambah 10ml kloroform Ditambah 12,5ml larutan Hubl A dan 12,5 larutan Hubl B Simpan selama 1jam dalam kamar gelap dan ditutup Ditambah 10ml larutan KI 30% Ditambah ditutup Penitrasian 0,1N Na2S2O3,dengan indicator amilum. Untuk blangko lakukan seperti di atas b)Penentuan angka penyabunan Penimbangan 1gram lemak Penambahan 3ml pelarut lemak (95% etanol + 5% eter) Pengocokan Penambahan 25ml KOH alkoholis 0,5M Pemanasan selama 20menit Pendiaman Penitrasian Untuk dengan HCl 0,5M VHCl minyak baru = 19,3ml minyak 31,5ml blanko = 28ml bekas = 100ml aquades dan HASIL minyak baru : lebih kuning minyak bekas : lebih bening blanko : jingga V Na2S2O3 minyak baru = 0,8 mL minyak bekas = 1,5 mL blanko = 3,6 mL

dengan indicator PP hingga jernih larutan blangko,lakukan

seperti perlakuan di atas PROTEIN 10ml larutan susu dalam erlenmeyer Penambahan 20ml aquades Penambahan 0,4ml kalium oksalat jenuh (33%) Penambahan 1ml indicator PP Pendiaman selama 2menit Penitrasian dengan NaOH

V titrasi Formol Sampel 1 (Kedelai) = 0,25 Sampel 2 ( Kacang Hijau )= 0,95

0,1M,hingga warna menjadi pink Penambahan 2ml formaldehida 40% Penitrasian dengan NaOH

0,1M,hingga warna pink Pencatatan volume Untuk blangko: 20ml aquades + 2ml larutan 3 40%,penitrasian formaldehida dengan NaOH Volume Iodin Vitamin C tablet = 27,22 VITAMIN C 10ml vitamin C dalam Erlenmeyer Penambahan 2ml indikator amilum yang 0,01N warna dititrasikan hingga larutan iodine terjadi perubahan Jus Jeruk = 6,512

0,1M,lakukan seperti di atas

4.2 Perhitungan 4.2.1 Penentuan Angka Iod NaOH yang dibutuhkan Minyak baru = 0,8 mL Minyak bekas = 1,5 mL Blanko = 3,6 mL

Bilangan Iod Minyak Baru


BilanganIod = (3,6 0,8) x0,1x0,1269 x100 0,5

= 7,1064 Bilangan Iod Minyak Lama


BilanganIod = (1,5 0,8) x 0,1x 0,1269 x100 0,5

= 5,3298 4.2.2 Penentuan Angka Penyabunan Diketahui: VHCl minyak baru = 19,3ml VHCl minyak bekas = 31,5ml VHCl blanko Ditanya = 28ml

: Angka penyabunan dan BM rata-rata lemak?

Dijawab : a)Pada minyak baru Angka penyabunan=(VHCl blanko-VHCl minyak baru) x M.KOHalkoholis x 56

=(28ml-19,5ml) x 0,5M x 56 =8,5ml x 0,5M x 56 =238


BMrata rataLemak = 3 x56 x1000 AngkaPenyabunan

168000 238

= 705,882 b)Pada minyak bekas Angka penyabunan=(VHCl blanko-VHCl minyak bekas) x M.KOH alkoholis x 56 =(28ml-31,5ml) x 0,5M x 56 =-3,5ml x 0,5M x 56 =-98
BMrata rataLemak = 3 x56 x1000 AngkaPenyabunan

3 x56 x1000 98

=-1714,286 4.2.3. Penentuan kadar protein dengan titrasi formol Diketahui: a. b. Sampel 1 (Susu Kedelai) Sampel 2 (Sari Kacang Hijau)

ml titrasi formal = ml NaOH sampel ml NaOH blangko % protein = 1,83 x ml titrasi formal % kasein = 1,63 x ml titrasi formal %N = mL titrasi formol x M . NaOH x 14, 08 gram protein x 10

a. Sampel 1 (Kedelai) VNaOH1 = (0,5 + 0,3)ml = 0,8 ml VNaOH2 = (0,4 + 0,1) ml = 0,5 ml ml titrasi formal = (0,8 + 0,5)/2 0,4 = 0,25 % protein = 1,83 x 0,25 = 0,4575% % kasein = 1,63 x 0,25 = 0,4075%
%N = 0,25 x 0,1Nx14,008 10 x10

= 3,502 x 10-3% b. Sampel 2 (Kacang Hijau) VNaOH1 = (0,4 + 1,1)ml = 1,5 ml VNaOH2 = (0,4 + 0,8)ml = 1,2 ml VNaOH blangko = 0,4 ml ml titrasi formal = (1,5 + 1,2)/2 0,4 = 0,95 % protein = 1,83 x 0,95 = 1,7385% % kasein = 1,63 x 0,95 = 1,5485%
%N = 0,95 x 0,1Nx14,008 10 x10

= 13,3076 x 10-3% 4.2.4 Percobaan Vitamin C Perhitungan penentuan kadar asan askorbat (Vitamin C) Diketahui Ditanya Jawab : : : 1 mL larutan Iodium (digunakan titrasi) = 0,88 mg asam askorbat a. Kadar Vitamin C dalam tablet 31,5 mL larutan iodin (digunakan titrasi) = 0,88 mg 31,5 mL = 27,22 mg/mL b. Kadar Vitamin C dalam jus jeruk 7,4 mL larutan iodin (digunakan titrasi) = 0,88 mg 7,4 mL = 6,512 mg/mL Vitamin c dalam tablet Vitamin c dalam jus jeruk = 31,5 mL = 7,4 mL

kadar asam askorbat (vitamin C) . . .?

V.HIPOTESIS Percobaan analisa kuantitatif biomolekul dilakukan terhadap lipid, protein, dan vitamin. Sampel yang akan digunakan adalah pada lipid digunakan sampel minyak baru dan minyak lama, pada protein digunakan sampel susu kedelai dan sari kacang hijau, pada vitamin digunakan sampel vitamin C tablet dan minuman jus jeruk. Pada lipid akan dilakukan analisa kuantitatif penentuan angka iod dan angka penyabunan, pada protein akan dilakukan analisa kuantitatif penentuan kadar protein dengan titrasi formol, pada vitamin akan dilakukan analisa kuantitatif penentuan kadar asam askorbat (vitamin C). Perkiraan hasil yang akan diperoleh pada percobaan lipid penentuan angka iod adalah angka iod pada minyak baru lebih besar dari pada minyak bekas. Perkiraan hasil yang akan diperoleh pada percobaan lipid penentuan angka penyabunan adalah angka penyabunan minyak baru lebih besar dari angka penyabunan minyak bekas. Perkiraan hasil yang akan diperoleh pada percobaan protein penentuan kadar protein dengan metode titrasi formol adalah kadar protein pada sari kacang hijau lebih tinggi daripada kadar protein pada susu kedelai. Perkiraan hasil yang akan diperoleh pada percobaan vitamin C adalah kadar vitamin C dalam tablet lebih besar daripada kadar vitamin C dalam jus jeruk.

VI. PEMBAHASAN 6.1. Penentuan Angka Iod Percobaan kali ini bertujuan untuk menentukan angka iod, angka iod merupakan jumlah garam iodium yang diserap oleh 100 gram lemak tak jenuh. Angka iod ini dapat digunakan untuk memberikan gambaran tentang derajat ketidak jenuhan suatu lemak. Prinsip yang digunakan dalam percobaan ini adalah reaksi halogenasi.Metode yang digunakan adalah titrasi. Dalam percobaan ini sampel yang digunakan adalah minyak goreng, ada 2 jenis minyak goreng yang digunakan, yaitu minyak goreng baru dan minyak goreng bekas, serta digunakan blangko yaitu aquadest. Tiap sampel diberi perlakuan yang sama yaitu dengan penambahan kloroform. Fungsi penambahan kloroform adalah agar minyak dapat larut dengan sempurna, hal ini dikarenakan kloroform bersifat non polar demikian juga dengan minyak sehingga keduanya dapat mudah tercampur dengan sempurna. Hal ini sesuai dengan prinsip pelarutan like disolve like. Kemudian larutan ditambah dengan Hubl A dan Hubl B. Hubl A ini suatu larutan yang terdiri dari iodin dalam etanol (Mulyono,2001). Fungsi penambahan dari Hubl A ini adalah untuk memutus ikatan rangkap pada lemak. Hubl B ini suatu larutan yang terdiri dari HgCl dalam etanol(Mulyono,2001), tujuan dari penambahan reagen ini adalah untuk mempermudah ikatan rangkap dalam lemak semakin mudah terputus yang nantinya akan berikatan dengan atom karbon pada KI. Setelah larutan ditambah dengan Hubl A dan Hubl B, larutan didiamkan selama 1 jam dalam kamar gelap. Tujuan dari penyimpanan di kamar gelap adalah agar larutan tidak terkena cahaya. Karena jika terkena cahaya, miyak dapat mengalami oksidasi, sehingga ikatan rangkap akan semakin sulit putus. Setelah didiamkan selama 1 jam, larutan ditambah dengan KI. Tujuan dari penambahan

KI ini adalah sebagai reagen yang berfungsi dalam proses iodometri yaitu penetapan proses oksidasi. Reaksi yang berlangsung adalah: Oksidator + KI I2 + hasil reduksi (Fessenden,1982) Setelah ditambah dengan KI larutan diencerkan dengan aquadest. Tujuan dari penambahan aquadest ini adalah agar larutan dapat dapat terpisahkan dari miselnya. Misel yaitu sekumpulan molekul lemak dalam pelarut air, dimana bagian hidrofob lemak saling menyatu (ke dalam) dan bagian hidrofil ke luar (ke pelarut air) (Fessenden, 1982). Kemudian larutan segera ditutup agar tidak terjadi oksidasi lanjut. Setelah ditambah dengan aquadest, larutan di titrasi dengan menggunakan larutan standard yaitu Na2S2O3 sebagai titran. Sebelum dititrasi larutan ditambah dengan indikator amilum. Pemilihan amilum sebagai indikator adalah karena amilum dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya iod. Reaksi yang terjadi saat titrasi adalah : 2 Na2S2O3 + I2 2 NaI + NaS2O3 (Fessenden, 1982) Dari hasil percobaan didapat larutan yang berwarna kuning yang telah terpisah dari miselnya. Setelah dititrasi dengan Na2S2O3, warna larutan berubah menjadi putih dan warna misel yang didapat berwarna merah muda. Angka iod yang didapat adalah sebesar 7,1064 untuk minyak baru dan 5,3298 untuk minyak bekas. Kesimpulannya adalah bahwa pada percobaan ini minyak baru angka iodnya lebih besar daripada minyak bekas sebagaimana telah sesuai dengan hipotesis 6.2 Penentuan Angka Penyabunan Percobaan penentuan Angka Penyabuan bertujuan untuk menentukan berat molekul (BM) pada minyak. Prinsip yang digunakan dalam penentuan angka penyabunan yaitu hidrolisis lemak. Metode yang digunakan adalah reaksi netralisasi. Angka penyabunan adalah jumlah miligram KOH yang diperlukan untuk menyabunkan 1 gram lemak /minyak (Fessenden, 1982).

Pada percobaan ini digunakan 1 gram minyak yang ditambahkan dengan 3 ml pelarut lemak dengan komposisi (95% etanol dan 5% eter).Tujuan dari perbedaan prosentase antara etanol dan eter adalah untuk melarutkan lemak dan mengikat KOH,karena etanol lebih bersifat polar sehingga prosentasenya dibuat lebih besar dibanding eter.Setelah itu,larutan ditambahkan dengan KOH alkoholis sehingga timbul basa.Tujuan dari penambahan KOH alkoholis adalah untuk menyabunkan minyak yaitu menghidrolisis lemak sehingga menghasilkan gliserol dan garam asam lemak atau sabun.Reaksinya:
O H 2C HC H 2C O O O C O C C O R1 R2 R3 H 2C OH OH OH

R1 + R2 R3

CHOOH COOH CHOOH

+ H 2O

HC H 2C

trigliserida

gliserol

asam lemak

Proses hidrolisis dengan menggunakan basa inilah yang disebut dengan proses penyabunan.Setelah itu dilakukan pemanasan diatas penangas air ketika temperatur naik,maka partikel-partikel molekul yang terdapat dalam larutan bergerak dengan cepat sehingga reaksi dalam larutan tersebut juga cepat. Kemudian larutan ditambahkan dengan PP yang berfungsi sebagai indikator sehingga dapat menentukan titik akhir titrasi sehimgga terjadi perubahan warna menjadi merah muda. PP merupakan asam diprotik dan tidak berwarna.Indikator ini terurai dahulu menjadi tidak berwarna dan kemudian hilangnya proton kedua menjadi ion dengan sistem terkonjugat menghasilkan warna merah dan penambahan proton menghasilkan kation berwarna merah muda. Angka penyabunan pada minyak baru sebesar 238 sedangkan angka penyabunan pada minyak bekas sebesar -98. Kesimpulannya adalah bahwa angka penyabunan pada minyak baru lebih besar daripada pada minyak bekas sehingga sesuai dengan hipotesis. 6.3 Penentuan kadar protein dengan titrasi formol

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar protein didalam suatu sampel.Prinsip dari percobaan ini adalah adanya ion zwitter. Pada percobaan ini digunakan dua buah sampel yaitu sari kacang hijau dan susu kedelai. Percobaan dilakukan dengan menambahkan aquades agar encer (untuk pengenceran). Lalu ditambahkan kalium oksalat jenuh agar asam amino dalam larutan membentuk zwitter ion/ ion amfoter, yaitu ion positif dan ion negatif. Reaksi pengionan: (Khopkar,1980) NH3 R-C-OOH HOH2C-N-CH2OH R-C-OOH

Zwitter ion

asam amilum dimaterial

Selain itu fungsinya juga agar larutan menjadi asam. Suasana asam diperlukan untuk menetralisir asam amino. Fungsi PP sebagai indikator titrasi asam basa dan juga untuk menetralisis asam amino. Hasil titrasi dengan sampel kacang hijau didapat V NaOH sebesar 2,7 ml. Setelah titrasi dilakukan penambahan formaldehida dengan tujuan membentuk asam amino dimaterial hasil pereduksi kuat formaldehida. Titrasi kedua dilakukan bertujuan untuk menghitung kadar protein pada sampel. Reaksinya: H H O H-N-C-C OH +NaOH K2C2O4 O H-N-C-C-ONa +H2O R (Poedjiadi,1994) Dari hasil perhitungan didapatkan kadar N pada kacang hijau sebesar 13,3076 x 10-3%, kadar protein sebesar 1,7385%, kadar kasein 1,8485%.

Titrasi dilakukan dua kali karena akan memprotonisasi sisa karboksil dalam larutan sehingga pada titrasi lebih lanjut akan diperoleh gugus karboksil dan gugus aminodimana glisin secara keseluruhan tidak bermuatan (zwitter ion). Pada sampel sampel kedua menggunakan susu kedelai dengan perlakuan yang sama dengan sampel kacang hijau. Didapatkan hasil titrasi adalah sebesar 1,3 ml untuk volume NaOH. Dari hasil perhitungan didapat kadar protein sebesar 0,4575%, kasein 0,4075%, dan kadar N sebesar 3, 502 x 10-3. Dari hasil ini diketahui bahwa kadar protein dan N pada susu kedelai lebih tinggi dari pada kadar protein dan N pada sari kacang hijau. 6.4 Percobaan Vitamin C Dalam percobaan ini dilakukan dengan tujuan menentukan kadar asam askorbat yang terdapat dalam vitamin C. Prinsip analisa kuantitatif pada vitamin C adalah reaksi redoks. Metode yang digunakan adalah titrasi Iodometri. Titrasi merupakan suatu metode penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan dianalisis (Poedjiadi,1994). Dalam percobaan ini digunakan 2 sampel yang berbeda namun memiliki kandungan Vitamin C. Sampel yang digunakan yaitu tablet vitamin C dan jus jeruk. Indikator atau reagen yang digunakan dalam percobaan ini adalah amilum dan iodin. Fungsi penambahan amilum untuk identifikasi adanya glukosa karena asam askorbat disintesis dari glukosa. Fungsi penambahan iodin dalam titrasi sebagai reagen volumetri pada titrasi iodometri, penitrasian menggunakan iodin untuk mengetahui volume iodin yang digunakan dengan mengetahui perubahan warna menjadi kuning kebiruan pada Vitamin C yang telah ditambahkan amilum. Perubahan menjadi warna biru menunjukkan kandungan iodin. Reaksi yang terjadi : H H | | | | | O H H | | OH H | | | | O

HO C C C C = C C = O + I- OH C C C C C C = O OH H OH H OH

( Poedjiadi,1994 ) Volume iodin yang didapat pada titrasi Vitamin C dalam tablet sebanyak 31,5 mL dengan kadar asam askorbat (Vitamin C) yang diperoleh 27,72 mg/mL dan volume iodin yang didapat pada titrasi Vitamin C dalam jus jeruk sebanyak 7,4 mL dengan kadar asam askorbat (Vitamin C) yang diperoleh 6,512 mg/mL. Volume yang diperlukan dalam titrasi Vitamin C dalam tablet lebih banyak daripada volume yang diperlukan dalam titrasi Vitamin C dalam jus jeruk karena dalam tablet, Vitamin C yang terkandung lebih banyak dan murni sehingga membutuhkan volume iodin yang cukup banyak dalam titrasi sedangkan dalam jus jeruk, Vitamin C yang terkandung sudah bereaksi dengan komponen senyawa yang lain sehingga tidak terlalu banyak volume iodin yang dibutuhkan dalam titrasi. Kadar vitamin C pada vitamin C tablet adalah sebesar 27,22 mg/mL sedangkan pada jus jeruk adalah sebesar 6,512 mg/mL.

VII. KESIMPULAN 7.1.Hasil penentuan angka iod untuk minyak baru adalah sebesar 7,1064 dan untuk minyak lama adalah sebesar 5,3298 7.2 Hasil penentuan angka penyabunan untuk minyak baru adalah sebesar 238 dan untuk minyak lama adalah sebesar -98 7.3 Kadar protein dalam sampel dapat ditentukan dengan cara titrasi formol, dari hasil percobaan diperoleh kadar protein dari susu kedelai adalah sebesar 3,502 x 10-3% dan untuk sari kacang kedelai adalah sebesar 13,3076 x 10-3% 7.4 Hasil penentuan kadar asam askorbat untuk vitamin C tablet kadar vitamin C nya sebesar 27,22 mg/mL dan dalam jus jeruk (nutrisari) adalah sebesar 6,512 mg/mL

VII .DAFTAR PUSTAKA Basri,Sarjoni, 1996, Kamus Kimia, Rineka Cipta, Jakarta. Fessenden,Ralph, 1982, Organic Chemistry, edisi ke 2, Publisher, USA. Fessenden,Ralph, 1997, Kimia Organik, edisi ke 3, jilid 1, Erlangga, Jakarta. Hart,Harold, 1990, Organic Chemistry-A Short Course, edisi ke 5, Houghton Miffin Company, Boston. Kusnawidjaja, 1993, Biokimia, Erlangga, Jakarta. Kuswati,dkk, 2004, Sains Kimia, Bumi Aksara, Jakarta. Manan,Mulyono, 2001, Kamus Kimia, cetakan ke 2, Ganesindo, Bandung. Martoharsono,Soeharsono, 1993, Biokimia, jilid 1, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Page,David.S., 1989, Prinsip-prinsip Biokimia, Erlangga, Jakarta. Poedjiadi, 1994, Dasar-dasar Biokimia, Universitas Indonesia, Jakarta. Soemardjo,Damin, 1998, Kimia Kedokteran Undip, edisi ke 3, Universitas Diponegoro, Semarang. Vogel, 1985, Buku Teks Analisis Anorganik Kuantitatif Makro Dan Semimikro , PT Kalman Media Pustaka, Jakarta. Willard Grant Press

LEMBAR PENGESAHAN Asisten Semarang, 11 Januari 2010

ANNISA RACHMA NIM. J2C 005 100

TEGUH IMAN PRASETYO NIM. J2C 008 071

SISKA YULYANA T. NIM. J2C 008 066

SITI KHUMAIROH NIM. J2C 008 067

SRI HANDAYANI NIM. J2C 008 068

SUPRIHATIN NIM. J2C 008 069

SUTEJA NIM. J2C 008 070

TITI AGUSTIN NIM. J2C 008 072

TUGU BAADILA NIM. J2C 008 097 Mengetahui,

WAWAN PRASETYO NIM. J2C 008 098

Koordinator Praktikum Kimia 3

ABDUL BASIT NIP. 198112022005011002

LAMPIRAN DATA PENGAMATAN KELOMPOK 4 Percobaan lipid Penentuan angka iod V Na2S2O3 pada minyak = 1,6 mL V Na2S2O3 pada blanko = 1,2 mL Penetuan angka penyabunan V HCl untuk sampel = 25,6 mL V HCl untuk blanko = 26 mL Percobaan Protein (Susu sapi) V NaOH titrasi 1 = 2 mL V NaOH titrasi 2 = 0,5 mL V NaOH pada blanko = 0,1 mL DATA PENGAMATAN KELOMPOK 5 Percobaan lipid Angka iod = 2,28 Angka penyabunan = -148,4 Percobaan Protein Kacang hijau = 0,00595 % Susu kedelai = 9,8x10-3 % Percobaan Vitamin C Larutan vitamin C = 6,16 mg Jus Mangga = 11 mg

DATA PENGAMATAN KELOMPOK 7 Percobaan lipid Angka iod = 3,807 Angka penyabunan = 15000 Percobaan Protein Formol = 1,05 Percobaan Vitamin C Vitamin C = 30,967 DATA PENGAMATAN KELOMPOK 2 Percobaan lipid Angka iod = -179,122 Angka penyabunan = 12000 Percobaan Protein Susu kedelai = 0,0105 Susu kental = 0,0126 Percobaan Vitamin C Vitamin = 48,1 %kadar = 42,33 % DATA PENGAMATAN KELOMPOK 1 Percobaan lipid Angka iod Minyak baru = 20 mL Minyak lama = 30 mL Blanko = 15,5 mL Angka penyabunan Minyak baru = 24,1 mL Minyak lama = 24,3 mL Blanko = 35,6 mL