Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Mikroprosesor
Mikroprosesor adalah gabungan 2 kata yaitu mikro dan prosesor. Jadi,
mikroprosesor adalah sebuah alat yang berukuran kecil yang digunakan untuk
memproses data secara digital. Selain berukuran kecil, mikroprosesor memiliki
kemampuan komputasi yang lebih rendah dibandingkan dengan komputer yang
digunakan.

Mikroprosesor secara umum terdiri dari: ALU (Arithmetic Logic Unit),


Control and Timing Unit, dan Array Register (Register Larik). ALU berfungsi sebagai
bagian yang melakukan operasi aritmatik dan logika dalam memproses data. Bagian
ini yang melakukan operasi bagian dalam mikroprosesor. Sedangkan Register Larik
berfungsi untuk menyimpan data sementara hasil proses oleh mikroprosesor.
Fungsinya hampir sama dengan piranti memori mikroprosesor dengan perbedaan
bahwa: Memori berada diluar mikroprosesor sedangkan register berada didalam
mikroprosesor, Memori diidentifikasi dengan alamat sedangkan register diidentifikasi
oleh nama register oleh mikroprosesor. Bagian Timing & Control berfungsi sebagai
pembangkit daur-waktu untuk antarmuka dengan peripheral pada bus alamat, data dan
kontrol. Selain itu mengendalikan bus-bus tambahan lainnya seperti interupsi, DMA
dan lain sebagainya, tergantung arsitektur mikroprosesor itu sendiri. Arsitektur
mikroprosesor pada saat ini banyak ragamnya, mulai yang paling sederhana hingga
yang komplek. Dalam pembahasan ini akan dijelaskan tentang arsitektur
mikroprosesor 8085.

1.1.1 Arsitektur mikroprosesor 8085


Mikroprosesor 8085 merupakan mikroprosesor 8bit produksi INTEL,
diluncurkan sekitar tahun 1970. Lebih jelasnya lihat situs Sejarah Mikroprosesor
INTEL. Pada jamannya sempat dijadikan sebagai mikroprosesor standar untuk sistem
operasi CP/M. Arsitektur mikroprosesor INTEL 8085 diperlihatkan dalam gambar
berikut ini:

1
Sumber: Lembar Data INTEL 8085

Mikroprosesor 8085 ini dikemas dalam bentuk DIP (Dual Inline Package)
dengan jumlah penyemat sebanyak 40 buah. Dibandingkan pendahulunya 8080,
mikroprosesor 8085 hanya membutuhkan sumber tegangan.

Susunan penyemat mikroprosesor 8085


Mikroprosesor 8085 memiliki jumlah Bus Alamat sebanyak 16bit dengan
demikian dapat mengakses memori secara langsung sebanyak 216 alamat memori
atau sebanyak 65535 alamat, sering disebut sebagai 64K x 8Bit atau 64KByte memori

2
secara langsung. Jumlah Bus Data adalah 8bit, dengan demikian dapat menghubungi
peripheral dengan lebar data (Data Path Width) 8bit.
Mikroprosesor ini tidak memiliki buas alamat 16bit secara terpisah,
melainkan bus alamat byte terendah (low significant byte) yaitu A0..A7 dimultiplek
dengan Bus Data D0..D7. Dengan demikian mikroprosesor 8085 belum siap dijadikan
sebagai Unit Mikroprosesor (MPU - Microprocessor Unit). Selain itu bus kontrol
peripheral /MEMR, /MEMW, /IOR, dan /IOW belum terpisah sepenuhnya dan harus
dibangkitkan dari sinyal kontrol /RD (penyemat 32), /WR (penyemat 31), IO/M
(penyemat 34). Agar siap dijadikan sebagai MPU diperlukan beberapa komponen
tambahan yaitu rangkaian bus demultiplexer (pemisahan bus D0..D7 dan A0..A7) dan
rangkaian dekoder sinyal kontrol.
Register yang dimiliki mikroprosesor 8085 adalah:
o Register B, C, D, E, H, L. Dapat diperlakukan sebagai register 8bit atau pasangan
register 8bit menjadi 16bit yaitu BC, DE dan HL. Register ini disebut sebagai User
Register artinya register yang diperuntukkan pengguna agar bisa dilibatkan dalam
pemrograman.
o Register SP (Stack Pointer), berfungsi sebagai pointer tumpukan yaitu penyimpanan
data dalam memori yang disusun secara bertumpuk.
o Register PC (Program Counter), berfungsi sebagai pointer alamat program yang
akan dieksekusi.

1.2 Bahasa Assembly


Bahasa Assembly adalah bahasa komputer yang kedudukannya di antara bahasa
mesin dan bahasa level tinggi misalnya bahasa C atau Pascal. Bahasa C atau Pascal
dikatakan sebagai bahasa level tinggi karena memakai kata-kata dan pernyataan yang
mudah dimengerti manusia, meskipun masih jauh berbeda dengan bahasa manusia
sesungguhnya. Bahasa mesin adalah kumpulan kode biner yang merupakan instruksi
yang bisa dijalankan oleh komputer. Sedangkan bahasa Assembly memakai kode
Mnemonic untuk menggantikan kode biner, agar lebih mudah diingat sehingga lebih
memudahkan penulisan program.

Program yang ditulis dengan bahasa Assembly terdiri dari label; kode mnemonic
dan lain sebagainya, pada umumnya dinamakan sebagai program sumber (Source
Code) yang belum bisa diterima oleh prosesor untuk dijalankan sebagai program, tapi
3
harus diterjemahkan dulu menjadi bahasa mesin dalam bentuk kode biner. Program
sumber dibuat dengan program editor biasa, misalnya Note Pad pada Windows atau
SideKick pada DOS, selanjutnya program sumber diterjemahkan ke bahasa mesin
dengan menggunakan program Assembler.

Bagan kerja proses Assembly

1.2.1 Konstruksi Program Assemble

Program sumber dalam bahasa Assembly menganut prinsip 1 baris untuk satu
perintah, setiap baris perintah tersebut bisa terdiri atas beberapa bagian (field), yakni
bagian Label, bagian mnemonic, bagian operand yang bisa lebih dari satu dan terakhir
bagian komentar.

Untuk membedakan masing-masing bagian tersebut dibuat ketentuan sebagian


berikut:

1. Masing-masing bagian dipisahkan dengan spasi atau TAB, khusus


untuk operand yang lebih dari satu masing-masing operand dipisah-
kan dengan koma.
2. Bagian-bagian tersebut tidak harus semuanya ada dalam sebuah ba-
ris, jika ada satu bagian yang tidak ada maka spasi atau TAB seba-
gai pemisah bagian tetap harus ditulis.
3. Bagian Label ditulis mulai huruf pertama dari baris, jika baris
bersangkutan tidak mengandung Label maka label tersebut diganti-
kan dengan spasi atau TAB, yakni sebagai tanda pemisah antara ba-
gian Label dan bagian mnemonic.

Label mewakili nomor memori-program dari instruksi pada baris bersangku-


tan, pada saat menulis instruksi JUMP, Label ini ditulis dalam bagian operand untuk
menyatakan nomor memori-program yang dituju. Dengan demikian Label selalu me-
wakili nomor memori-program dan harus ditulis dibagian awal baris instruksi. Di-
samping Label dikenal pula Symbol, yakni satu nama untuk mewakili satu nilai ter-
tentu dan nilai yang diwakili bisa apa saja tidak harus nomor memori-program. Cara
penulisan Symbol sama dengan cara penulisan Label, harus dimulai di huruf pertama

4
dari baris instruksi. Mnemonic (arttinya sesuatu yang memudahkan diingat) merupa-
kan singkatan perintah, dikenal dua macam mnemonic, yakni manemonic yang dipa-
kai sebagai instruksi mengendalikan prosesor, misalnya ADD, MOV, DJNZ dan lain
sebagainya. Ada pula mnemonic yang dipakai untuk mengatur kerja dari program
Assembler misalnya ORG, EQU atau DB, mnemonis untuk mengatur kerja dari pro-
gram Assembler ini dinamakan sebagai ‘Assembler Directive’. Operand adalah bagian
yang letaknya di belakang bagian mnemonic, merupakan pelangkap bagi mnemonic.
Kalau sebuah instrksi di-ibaratkan sebagai kalimat perintah, maka mnemonic merupa-
kan subjek (kata kerja) dan operand merupakan objek (kata benda) dari kalimat
perintah tersebut. Tergantung pada jenis instruksinya, operand bisa berupa berbagai
macam hal. Pada instruksi JUMP operand berupa Label yang mewakili nomor memo-
ri-program yang dituju misalnya LJMP Start, pada instruksi untuk pemindahan/pen-
golahan data, operand bisa berupa Symbol yang mewakili data tersebut, misalnya
ADD A,#Offset. Banyak instruksi yang operandnya adalah register dari prosesor, mi-
salnya MOV A,R1. Bahkan ada pula instruksi yang tidak mempunyai operand, misal-
nya RET. Komentar merupakan bagian yang sekedar sebagai catatan, tidak ber-
pengaruh pada prosesor juga tidak berpengaruh pada kerja program Assembler, tapi
bagian ini sangat penting untuk keperluan dokumentasi.

5
BAB II
Perangkat Keras

Perangkat keras mikroprosesor terdiri dari:


1. MPU 8085
2. ROM 8 KB
3. Input unit
4. Output unit
Alamat memori pada 0000 H – 1FFF H
Input unit pada 32 H
Output unit pada 30 H

2.1 Pemetaan Memori


Kapasitas memori 8KB = 213 byte
Memori memiliki 13 bit bus alamat
Mikroprosesor memiliki 16 bit bus alamat
A15 A14 A13 A12 A11 A10 .. .. .. A2 A1 A0 HEX
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8
.. .. .. .. .. .. .. .. .. .. KB
0 0 0 1 1 1 1 1 1 1

ADDRESS MEMORI
DECODER

Rangkaian Memori Address Decoder

2.2 Pemetaan Input


Alamat input pada 32 H

6
Bit A9 A8 A7 A6 A5 A4 A3 A2 A1 A0

32H 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0

ADDRESS INPUT
DECODER

Rangkaian Input dan Address Decoder

7
2.3 Pemetaan Output
Alamat output pada 30 H

Bit A9 A8 A7 A6 A5 A4 A3 A2 A1 A0

30H 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0

ADDRESS INPUT
DECODER

Rangkaian Output dan Address Decoder

8
2.4 Skema Perangkat Keras
MEMORI
ADDRESS
DECODER
A15 A12
CS
A14
A13 :
A12 A0 2764
A11 8 kB
A10
A9
MPU : OE WR D0--D7
A2
8085 A1
A0

D7
:
D0

MEM R
MEM W

IOR INPUT
ADDRESS
IOW
DECODER
CS
A1

A0

INPUT
RD D7—D0

OUTPUT
ADDRESS
DECODER
CS
A1

A0

OUTPUT
WR D7—D0

9
BAB III
Perangkat Lunak

Diberikan tabel seperti berikut:


0AH
0FH
0AH
F0H
1AH
00H
05H
FFH
20H
00H
40H
FFH
50H
00H
00

ket:
Urutan program dari atas ke bawah adalah ketentuan delay dalam heksa dan
kemudian nyala lampu dari port output yang dikeluarkan melalui port output dalam
heksa.

Untuk mengatur nyala lampu seperti tabel di atas, maka yang pertama harus kita
persiapkan adalah logika pemrograman atau alur algoritma pemrograman yang biasa
disebut flowchart.
Setelah selesai dengan flowchart, barulah kita mulai dengan listing algoritma
progaram dengan menggunakan bahasa asembler.

10
A. Flowchart

Flowchart untuk program utama:

start A B

A(0FH) (30H)A (30H)A

ACMA JMP start


Call dly-1

end
(30H)A Call dly-4

ACMA
(30H)A

Call dly-1 ACMA

(30H)A
Call dly-5

ANI 00
(30H)A

Call dly-2
ACMA

(30H)A
Call dly-6

ACMA
B

Call dly-3

A
11
Flow chart untuk sub-program (delay)

DLY-X

Bn1

Cn2

CC-1
false

C=
0

true
BB-1

false true

B=
0

RET

12
B.Cara Kerja
Cara kerja dari program ini adalah :
1. Isi accumulator sebanyak 0FH.
2. Beri delay sebesar 0AH (10 mS), kemudian keluarkan melalui port 30H.
3. Complementkan isi accumulator menjadi F0H.
4. Kembali ke langkah 2.
5. AND-kan accumulator dengan 00H, dan menjadi 00H.
6. Beri delay sebesar 1AH (26 mS), kemudian keluarkan melalui port 30H.
7. Complementkan isi accumulator menjadi FFH.
8. Beri delay sebesar 05H (5 mS), kemudian keluarkan melalui port 30H.
9. Complementkan isi accumulator menjadi 00H.
10. Beri delay sebesar 20H (32 mS), kemudian keluarkan melalui port 30H.
11. Complementkan isi accumulator menjadi FFH.
12. Beri delay sebesar 40H (64 mS), kemudian keluarkan melalui port 30H.
13. Complementkan isi accumulator menjadi 00H.
14. Beri delay sebesar 50H (80 mS), kemudian keluarkan melalui port 30H.
15. Kembali ke awal.

Sedangkan untuk memberikan delay adalah dari setiap ketentuan tabel bisa
kita lakukan dengan cara mengisi register B dan C dan kemudian dikosongkan dengan
logika seperti flowchart di atas.
Cara keja dari delay ini sendiri adalah:
1. Mengisi register B sebanyak n1H.
2. Mengisi register C sebanyak n2H.
3. Kurangi isi register C sampai berisi 00H.
4. Apabila C belum bernilai 00H., kurangi isi register B.
5. Apabila B belum bernilai 00H., kembali ke langkah 2.
6. Apabila B bernilai 00H, kembali ke urutan program utama.
Untuk pengisian ke-2 register tersebut digunakan:
Program Perintah CLOCK CYCLE TOTAL CC.
MVI D,n1 7 7
MVI E,n2 7 7n1
DCR E 4 4n1n2
JNZ DLY2 10/7 n1((n2-1)10+7)
DCR D 4 4n1
JNZ DLY1 10/7 (n1-1)10+7
RET 10 10
14n1n2+21n1+11

• 14n1n2+21n1+11 = X mS
Ket:
Karena frekuensi running 1 MHz, maka 1 clock cycle = 10-6 s
n1H, n2H diisi sesuai dengan perhitungan yang didapat.
X mS adalah delay dalam satuan mili second (10-3 second) yang dikehendaki
oleh user.
C. Program <kompilasi>

13
Setelah flow chart selesai, barulah kita bisa menuliskan atau
menterjemahkannya ke dalam bahasa assembler atau bahasa mesin yang dapat
dimengerti oleh mikroprosesor.
Dan listing dari program tersebut adalah:

START: MVI A,0Fh


CALL DLY-1
OUT 30h
CMA
CALL DLY-1
OUT 30h
ANI 00h
CALL DLY-2
OUT 30h
CMA
CALL DLY-3
OUT 30h
CMA
CALL DLY-4
OUT 30h
CMA
CALL DLY-5
OUT 30h
CMA
CALL DLY-6
OUT 30h
JMP START

;===================================
DLY-1: MVI B,30
ISI-1: MVI C,23
KRG-1: DCR C

14
JNZ KRG-1
DCR B
JNZ ISI-1
RET
;==================================
DLY-2: MVI B,45
ISI-2: MVI C,40
KRG-2: DCR C
JNZ KRG-2
DCR B
JNZ ISI-2
RET
;==================================
DLY-3: MVI B,25
ISI-3: MVI C,13
KRG-3: DCR C
JNZ KRG-3
DCR B
JNZ ISI-3
RET
;===================================
DLY-4: MVI B,60
ISI-4: MVI C,37
KRG-4: DCR C
JNZ KRG-4
DCR B
JNZ ISI-4
RET
;==================================
DLY-5: MVI B,80
ISI-5: MVI C,56
KRG-5: DCR C
JNZ KRG-5
DCR B
JNZ ISI-5
RET
;==================================
DLY-6: MVI B,100
ISI-6: MVI C,56
KRG-6: DCR C
JNZ KRG-6
DCR B
JNZ ISI-6
RET
END

Sedangkan tampilan nyala lampu tersebut adalah:

Pola O 00H

15
Pola 1 0FH
Pola 2 F0H
Pola 3 00H
Pola 4 FFH
Pola 5 00H
Pola 6 00H
Pola 7 0FH
Pola 8 F0H
Pola 19 00H
Pola 10 FFH
Pola 11 00H
Pola 12 FFH
Pola 13 00H
Pola 14 0FH

Ket:

: Lampu mati

: Lampu hidup

Pola 0 adalah tampilan sebelum program dijalankan.


Saat program dijalankan setelah pola 14, nyala lampu akan kembali ke pola 1

BAB IV
Penutup

16
Sekian isi dari makalah ini. Semoga dengan makalah ini kita dapat lebih
mengerti tentang mikroprosesor. Bagaimana cara kerja dari mikroprosesor dan cara
membuat program sederhana menggunakan bahasa assembler.

17