Anda di halaman 1dari 8

Cardiovascular drugs !

by @septinsutiin
Fungsi dari sistem kardiovaskuler adalah TRANSPORT: Functional matter : O2, Nutrisi, dan Hormon Waste Products

Komponen-komponen sistem kardiovaskuler : Jantung Pembuluh darah Darah Saraf Simpatetik Jantung Mempercepat detak jantung Saraf Parasimpatetik Memperlambat jantung Arteri Kontriksi (Mempersempit) Dilatasi (Melebarkan) detak

Di dinding jantung ada 2 macam simpul atau nodus, yakni SA node (simpul Sinoatrium) yang terletak di dinding atrium dexter dekat dengan vena cava superior dan AV node (simpul Atrioventricular) yang terletak di dinding jantung antara atrium dexter dan ventrikel dexter. SA node membangkitkan impuls listrik lalu menyebar ke sel-sel otot jantung di seluruh dinding atrium sehingga menyebabkan atrium berkontraksi secara serentak. Impuls listrik itu terus menyebar sampai mencapai AV node dan pada titik itu, aliran ditahan 0,1 detik untuk menjamin bahwa atrium berkontraksi terlebih dahulu dan benar-benar kosong sebelum akhirnya ventrikel yang berkontraksi. Proses kelistrikan : Normalnya, ion-ion Na+ berada lebih banyak di luar sel daripada di dalam sel (keadaan potensial membran negatif atau disebut juga polarisasi) lalu ketika ada impuls yang lewat, maka keadaan berubah sebaliknya, yakni ion-ion Na+ berada lebih banyak di dalam sel daripada di luar sel (keadaan potensial membran positif atau disebut juga depolarisasi). Terjadinya depolarisasi sel membran secara tiba-tiba disebut potensial aksi. Setelah impuls lewat, maka keadaan akan kembali lagi menjadi polarisasi (repolarisasi). Penyakit-penyakit kardiovaskular: 1. Gagal Jantung Kongestif (Cardivascular Heart Failure/CHF) Merupakan keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi jantung, sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme

jaringan. Penyebab utamanya ialah hipertensi dan infark myocardia. Ada 2 macam, yakni: a. Gagal jantung kanan Bila venterikel kanan gagal memompakan darah, maka yang menonjol adalah kongestif visera dan jaringan perifer. Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak mampu mengosongkan volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara normal kembali dari sirkulasi vena. Manifestasi klinis yang tampak meliputi edema subkutan, splenomegali,

hepatomegali, dan asites (penimbunan cairan di dalam rongga peritoneal). b. Gagal jantung kiri Kongestif paru terjadi pada venterikel kiri, karena venterikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari paru. Peningkatan tekanan dalam sirkulasi paru menyebabkan cairan terdorong ke jaringan paru. Manifestasi klinis yang dapat terjadi meliputi dispnea, batuk, mudah lelah, denyut jantung cepat (takikardi) dengan bunyi S3, kecemasan dan kegelisahan. Obat-obatan untuk gagal jantung: a. Diuretik digunakan pada semua keadaan dimana dikehendaki peningkatan

pengeluaran air, khususnya pada hipertensi dan gagal jantung. Diuretik yang sering digunakan golongan diuterik loop dan thiazide. Diuretik Loop (bumetamid, furosemid) meningkatkan ekskresi natrium dan cairan ginjal dengan tempat kerja pada ansa henle asenden. Diuretik ini menyebabkan hiperurisemia. Diuretik Thiazide (bendroflumetiazid, klorotiazid, hidroklorotiazid, mefrusid, metolazon) mampu menghambat reabsorbsi garam di tubulus distal dan membantu reabsorbsi kalsium. Thiazide juga memiliki efek vasodilatasi langsung pada arterior perifer dan dapat menyebabkan intoleransi karbohidrat. Diuretik ini kurang efektif dibandingkan dengan diuretic loop. Penggunaan kombinasi diuretic loop dengan diuretic thiazude bersifat sinergis. Indikasi diuretik ini adalah peningkatan ekskresi Na + dan H2O, terapi antihipertensif, dan terapi CHF karena diuretik ini mampu menurunkan resistensi peripheral. b. Vasodilator dapat bekerja pada sistem vena (nitrat) atau arteri (hidralazin) atau memiliki efek campuran vasodilator dan dilator arteri (penghambat ACE, antagonis reseptor angiotensin, prazosin dan nitroprusida).

Venodilators

: Menurukan preload (pengisian darah kembali di jantung) pada

pasien yang mengonsumsi diuterik dosis tinggi, menurunkan curah jantung, dan menyebabkan hipotensi postural. Arteriolar dilators : Menurunkan afterload jantung dan tegangan dinding

ventrikel, menurunkan konsumsi oksigen miokard, meningkatkan curah jantung, dan menurunkan tekanan darah. c. Digoksin, pada tahun 1785, William Withering dari Birmingham menemukan

penggunaan ekstrak foxglove (Digitalis purpurea). Glikosida seperti digoksin meningkatkan kontraksi miokard yang menghasilkan inotropisme positif yaitu memperkuat kontraksi jantung, hingga volume pukulan, volume menit dan dieresis diperbesar serta jantung yang membesar menjadi mengecil. Digoksin tidak

meneyebabkan perubahan curah jantung pada subjek normal karena curah jantung ditentukan tidak hanya oleh kontraktilitas namun juga oleh beban dan denyut jantung. Pada gagal jantung, digoksin dapat memperbaiki kontraktilitas dan menghilangkan mekanisme kompensasi sekunder yang dapat menyebabkan gejala. d. Beta Blocker (carvedilol, bisoprolol, metoprolol). Penyekat beta adrenoreseptor biasanya dihindari pada gagal jantung karena kerja inotropik negatifnya. Namun, stimulasi simpatik jangka panjang yang terjadi pada gagal jantung menyebabkan regulasi turun pada reseptor beta jantung. Dengan memblok paling tidak beberapa aktivitas simpatik, penyekat beta dapat meningkatkan densitas reseptor beta dan menghasilkan sensitivitas jantung yang lebih tinggi terhadap simulasi inotropik katekolamin dalam sirkulasi. Juga mengurangi aritmia dan iskemi miokard.

Penggunaan terbaru dari metoprolol dan bisoprolol adalah sebagai obat tambahan dari diuretic dan ACE-blokers pada dekompensasi tak berat. Obat-obatan tersebut dapat mencegah memburuknya kondisi serta memperbaiki gejala dan keadaan fungsional. Efek ini bertentangan dengan khasiat inotrop negatifnya, sehingga perlu dipergunakan dengan hati-hati. Referensi: 1. 2. 3. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24518/4/Chapter%20II.pdf http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21382/4/Chapter%20II.pdf http://staff.unud.ac.id/~suarsana/wp-content/uploads/2010/03/MatakuliahBiolistrik.pdf 4. http://books.google.co.id/books?id=x9OOphMNmxwC&pg=PA48&lpg=PA48&dq=impul s+saraf+S-

A&source=bl&ots=McpU2EA0Cj&sig=ITzZMAgLjl3iBmFVDuo_x8I3ktE&hl=id&sa=X& ei=9E2wUfm5I8qCrgfuuoDQDQ&redir_esc=y#v=onepage&q=impuls%20saraf%20SA&f=false

2.

Aritmia Jantung Aritmia jantung atau gangguan irama jantung, merupakan kondisi denyut jantung

yang tidak menentu dan atau tidak teratur (menjadi terlalu cepat atau terlalu lambat). Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti konsumsi alkohol atau kafein, obat-obatan, stres, dan akibat penyakit tertentu seperti jaringan parut pada jantung, kardiomiopati, arteri koroner, tekanan darah tinggi, diabetes, hipertiroid, obesitas. Aritmia jantung seringkali tidak bergejala, namun pada beberapa orang dapat muncul gejala seperti jantung berdebar, timbul takikardia ataupun bradikardia, terasa nyeri dada, sesak nafas, pusing, pingsan, dan mudah lelah. Patofisiologi penyakit ini ada 3 macam, yakni aritmia supraventrikular, aritmia ventrikular, dan bradiaritmia dimana ketiganya ini menentukan terapi apa yang nantinya akan diberikan pada pasien. Terapi obatnya disebut dengan AARDs (Antiaritmia Drugs) yang tujuan umumnya adalah untuk mengembalikan irama jantung, mencegah komplikasi tromboemboli, mencegah kekambuhan. Mekanisme umumnya: Change gating properties of cardiac ion channels (Na+, Ca2+, K+) directly Change neuromodulatory control of cardiac ion channel opening/closing

Klasifikasi obat-obat antiaritmia 1. Tipe Ia : Memperlambat laju konduksi, memperpanjang refractoriness, dan

menurunkan jumlah natrium yang masuk ke dalam jaringan. Efektif pada aritmia supraventrikular disopyramide 2. Tipe Ib : Mekanisme kerja hampir sama dengan golongan Ia, tetapi lebih efektif pada aritmia ventrikular. Contoh: lidocaine, mexiletine 3. Tipe Ic : Memperlambat laju konduksi, refraktori tetap. Efektif pada aritmia dan aritmia ventrikular. Contoh: quinidine, procainamide,

supraventrikular dan aritmia ventrikular (penggunaan dibatasi karena dapat memicu aritmia/proaritmia). Contoh: Flecainide, Propafenone, Moricizine 4. Tipe IIb blocker. : Antagonis reseptor -adrenergik. Efektif pada takikardia. Contoh:

5.

Tipe III

: Memperpanjang refraktori pada serat atrium dan ventrikel, menunda

repolarisasi dengan menghambat kanal kalsium. Contoh: Amiodarone, dofetilide, sotalol. 6. Tipe IV: Menghambat masuknya kalsium kedalam sel, memperlambat konduksi, memperpanjang refraktori, dan menurunkan automatisitas nodus SA dan AV. Contoh: Verapamil, diltiazem.

Efek samping obat antiaritma: Quinidine :cinchonism, diare, kejang perut, mual, muntah, hipotensi, TdP,

memperburuk gagal jantung, aritmia ventrikuler, demam, hepatitis, trombositopenia, anemia hemolitik. Procainamide :

Systemic

lupus

erythematosus,

diare,

mual,

muntah,

TdP,

memperburuk gagal jantung, gangguan konduksi/aritmia ventrikular, agranulositosis. Dysopiramide: Gejala-gejala antikolinergik (mulut kering, retensi urin, konstipasi, pandangan kabur), mual, tidak nafsu makan, tDP, gagal jantung, memperburuk gangguan konduksi (aritmia ventrikular), hipoglikemia. Lidocaine :Pusing, sedasi, bicara kacau, pandangan kabur, kejang otot, bingung,

mual, muntah, kejang, psikosis, terhentinya sinus, memperburuk gangguan konduksi. Mexiletine : Pusing, sedasi, cemas, bingung, parestesia, tremor, ataksia,

pandangan kabur, mual, muntah, anoreksia, memperburuk gangguan konduksi (aritmia ventrikel). Moncizine : Pusing, sakit kepala, lelah, insomnia, mual, diare, pandangan kabur,

memperburuk gangguan konduksi atau aritmia ventrikular. Propafenone : Pusing, lelah, bronkospasme, sakit kepala, gangguan indra pengecap, mual, muntah, bradikardia/blok AV, memperburuk gagal jantung, gangguan konduksi atau aritmia ventrikel. Amiodarone : Tremor, ataksia, paresthesia, insomnia, mikrodeposit kornea,

neuropati/neuritis optic, mual, muntah, anoreksia, TdP (<1%), bradikardia/AV blok (IV dan oral), fibrosis paru, kelainan tes fungsi hati, hepatitis, hipotiroid, hipertiroid, fotosensitivitas, perubahan warna kulit menjadi biru-kelabu, hipotensi (IV), flebitis (IV). Dofetilide Ibutilide : Sakit kepala, pusing, TdP. : Sakit kepala, TdP, hipotensi.

Sotalol

: Pusing, lemah, kelelahan, mual, muntah, diare, bradikardia, TdP,

bronkospasme, memperburuk gagal jantung.

3.

Hemostasis dan Thrombosis

a. Hemostasis adalah upaya tubuh untuk mencegah terjadinya perdarahan dan mempertahankan keenceran darah di dalam sirkulasi supaya tetap bisa mengalir dengan baik. Hemostasis ada 3 macam, yakni: 1. Hemostasis primer. Jika terjadi desquamasi dan luka kecil pada pembuluh darah, akan terjadi hemostasis primer. Hemostasis primer ini melibatkan tunika intima pembuluh darah dan trombosit. Luka akan menginduksi terjadinya vasokonstriksi dan sumbat trombosit. Hemostasis primer ini bersifat cepat dan tidak tahan lama. Karena itu, jika hemostasis primer belum cukup untuk mengkompensasi luka, maka akan berlanjut menuju hemostasis sekunder. 2. Hemostasis Sekunder. Jika terjadi luka yang besar pada pembuluh darah atau jaringan lain, vasokonstriksi luka ini. dan Maka, sumbat trombosit belum cukup sekunder untuk yang

mengkompensasi

terjadilah

hemostasis

melibatkan trombosit dan faktor koagulasi. Hemostasis sekunder ini mencakup pembentukan jaring-jaring fibrin. Hemostasis sekunder ini bersifat delayed dan long-term response. Kalau proses ini sudah cukup untuk menutup luka, maka proses berlanjut ke hemostasis tersier. 3. Hemostasis Tersier. Hemostasis tersier ini bertujuan untuk mengontrol agar aktivitas koagulasi tidak berlebihan. Hemostasis tersier melibatkan sistem fibrinolisis.

Urutan mekanisme hemostasis dan koagulasi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Segera setelah pembuluh darah terpotong atau pecah, rangsangan dari pembuluh darah yang rusak itu menyebabkan dinding pembuluh berkontraksi sehingga dengan segera aliran darah dari pembuluh darah yang pecah akan berkurang (terjadi vasokontriksi). 2. Setelah itu, akan diikuti oleh adhesi trombosit, yaitu penempelan trombosit pada kolagen. ADP (adenosin difosfat) kemudian dilepaskan oleh trombosit kemudian ditambah dengan tromboksan A2 menyebabkan terjadinya agregasi (penempelan trombosit satu sama lain). Proses aktivasi trombosit ini terus terjadi sampai terbentuk sumbat trombosit, disebut juga hemostasis primer.

3.

Setelah itu dimulailah kaskade koagulasi (lihat gambar.1) yaitu hemostasis sekunder, diakhiri dengan pembentukan fibrin. Produksi fibrin dimulai dengan perubahan faktor X menjadi faktor Xa. Faktor X diaktifkan melalui dua jalur, yaitu jalur ekstrinsik dan jalur intrinsik. Jalur ekstrinsik dipicu oleh tissue factor/tromboplastin. Kompleks lipoprotein tromboplastin selanjutnya bergabung dengan faktor VII bersamaan dengan hadirnya ion kalsium yang nantinya akan mengaktifkan faktor X. Jalur intrinsik diawali oleh keluarnya plasma atau kolagen melalui pembuluh darah yang rusak dan mengenai kulit. Paparan kolagen yang rusak akan mengubah faktor XII menjadi faktor XII yang teraktivasi. Selanjutnya faktor XIIa akan bekerja secara enzimatik dan mengaktifkan faktor XI. Faktor XIa akan mengubah faktor IX menjadi faktor IXa.

4.

faktor IXa akan bekerja sama dengan lipoprotein trombosit, faktor VIII, serta ion kalsium untuk mengaktifkan faktor X menjadi faktor Xa.

5.

faktor Xa yang dihasilkan dua jalur berbeda itu akan memasuki jalur bersama. Faktor Xa akan berikatan dengan fosfolipid trombosit, ion kalsium, dan juga faktor V sehingga membentuk aktivator protrombin.

6.

Selanjutnya senyawa itu akan mengubah protrombin menjadi trombin. Trombin selanjutnya akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin (longgar), dan akhirnya dengan bantuan fakor VIIa dan ion kalsium, fibrin tersebut menjadi kuat. Fibrin inilah yang akan menjerat sumbat trombosit sehingga menjadi kuat.

7.

Selanjutnya apabila sudah tidak dibutuhkan lagi, bekuan darah akan dilisiskan melalui proses fibrinolitik. Proses ini dimulai dengan adanya proaktivator plasminogen yang kemudian dikatalis menjadi aktivator plasminogen dengan adanya enzim streptokinase, kinase jaringan, serta faktor XIIa. Selanjutnya plasminogen akan diubah menjadi plasmin dengan bantuan enzim seperti urokinase. Plasmin inilah yang akan mendegradasi fibrinogen/fibrin menjadi fibrin degradation product.

b. Trombosis Trombosis adalah sehingga menghambat proses koagulasi dalam pembuluh aliran darah, atau bahkan darah yang berlebihan aliran

menghentikan

tersebut. Trombosis di pembuluh darah dipicu adanya lesi atau kerusakan pada dinding pembuluh darah (endotel). Pada keadaan ini, faktor-faktor pembekuan darah seperti platelet atau keping darah dan trombosit diaktifkan sedemikian rupa sampai

akhirnya dihasilkan fibrin yang stabil yang mengikat gumpalan komponen darah yang telah lebih dulu menyumbat lesi tersebut. Bila terjadi ketidakseimbangan antara faktor pembeku darah dan fibrin bisa menyebabkan trombosis ataupun perdarahan.

Farmakologi: Antikoagulan adalah zat yang mencegah penggumpalan darah dengan cara mengikat kalsium atau dengan menghambat pembentukan trombin yang diperlukan untuk mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin dalam proses pembekuan.