Anda di halaman 1dari 15

Pengantar epidemiologi kesehatan lingkungab

Lingkungan dengan sumber daya alamnya merupakan sumber kehidupan bagi semua organisme termasuk didalamnya manusia. Untuk meningkatkan kesejahteraan manusia berbagai industri dilaksanakan dengan memanfaatkan sumber daya alam sebagai bahan baku yang disertai dengan membuang limbahnya kembali ke lingkungan dengan kualitas dan kuantitas yang beragam. Limbah industri yang dibuang ini tidak sedikit yang beracun dan berbahaya sehingga dapat merusak lingkungan sekitarnya. Dampak dari kerusakan lingkungan ini diantaranya adalah pemanasan global, kerusakan lapisan ozon, permukaan air laut meningkat, banjir, longsor, tsunami dan lainnya yang berimbas pada meningkatkan wabah penyakit dan kematian. Dalam buku ini diungkapkan dan dijelaskan ihwal penyakit yang berhubungan dengan lingkungan yang dimulai dari terjadinya penyakit dan wabah; agent yang merupakan faktor esensial yang harus ada sehingga penyakit dapat terjadi, agent ini dapat hidup, tidak hidup, energi, suasana sosial yang menjadi penyebab penyakit; host yang merupakan populasi atau organism yang diteliti dalam suatu studi yang diklasifikasikan sebagai faktor yang dibawa atau sudah ada sejak lahir dan faktor yang didapat setelah lahir; dan lingkungan itu sendiri. Selain itu dibahas pula pengukuran paparan yaitu pengalaman yang didapat populasi sebagai akibat terjadinya kontak dengan suatu faktor agent potensial yang berasal dari lingkungan; efek yang merupakan respons umum suatu organisme terhadap paparan yang salah satunya dapat berupa penyakit; cara pengendalian dan pencegahan berjangkitnya wabah dan penelitian tentang distribusi penyakit pada masyarakat dan penentu terjadinya distribusi dan frekuensi penyakit pada masyarakat.

Pengukuran Epidemiologi
I Putu Arya Ramadhan on 9 January 2012 Leave a Comment Dari 3 ukuran yang ada di atas yang paling sering dipakai dan menjadi ukuran dasar adalah rate. Rate ini digunakan dalam pengukuruan epidemiologi baik penyakit maupun kematian. Pengukuran epidemiologi penyakit dibagi manjadi 2 yaitu: 1. Insiden Insiden adalah gambaran tentang frekuensi penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu waktu tertentu di dalam kelompok masyarakat. Untuk dapat menghitung angka insidensi suatu penyakit, sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu tentang :

Data tentang jumlah penderita baru. Jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru

Secara umum angka insiden ini dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu : a. Incidence Rate Yaitu Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu(umumnya 1 tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru tersebut pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan. Rumus yang digunakan: Jumlah Penderita Baru Insiden rate = x K Jumlah penduduk yg mungkin terkena Penyakit tersebut pada pertengahan tahun K = Konstanta ( 100%, 1000 ) X K Manfaat Incidence Rate adalah : - Mengetahui masalah kesehatan yang dihadapi - Mengetahui Resiko untuk terkena masalah kesehatan yang dihadapi - Mengetahui beban tugas yang harus diselenggarakan oleh suatu fasilitas pelayanan kesehatan. b. Attack Rate Yaitu Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang sama. Manfaat Attack Rate adalah : - Memperkirakan derajat serangan atau penularan suatu penyakit. Makin tinggi nilai AR, maka makin tinggi pula kemampuan Penularan penyakit tersebut. Rumus yang digunakan : Jumlah Penderita Baru dlm Satu Saat Attack rate =xK Jumlah Penduduk yg. Mungkin terkena Penyakit

Tersebut pd. Saat yg. Sama. c. Secondary Attack Rate Jumlah penderita baru suatu penyakit yang terjangkit pada serangan kedua dibandingkan dengan jumlah penduduk dikurangi orang/penduduk yang pernah terkena penyakit pada serangan pertama. Digunakan menghitung suatu panyakit menular dan dalam suatu populasi yang kecil ( misalnya dalam Satu Keluarga ). Rumus yang digunakan : Jumlah Penderita Baru pd. Serangan Kedua SAR = xK (Jml. Penddk Pendd. Yg. Terkena Serangan Pertama ) 2. Prevalen Gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu di sekelompok masyarakat tertentu. Pada perhitungan angka Prevalensi, digunakan jumlah seluruh penduduk tanpa memperhitungkan orang/penduduk yang Kebal atau Pendeuduk dengan Resiko (Population at Risk). Sehingga dapat dikatakan bahwa Angka Prevalensi sebenarnya BUKAN-lah suatu RATE yang murni, karena Penduduk yang tidak mungkin terkena penyakit juga dimasukkan dalam perhitungan. Secara umum nilai prevalen dibedakan menjadi 2, yaitu : a) Period Prevalen Rate Jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan Nilai Periode Prevalen Rate hanya digunakan untuk penyakit yang sulit diketahui saat munculnya, misalnya pada penyakit Kanker dan Kelainan Jiwa. Rumus yang digunakan : Jumlah penderita lama & baru Periode Prevalen Rate = xK Jumlah penduduk pertengahan b) Point Prevalen Rate

Jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit pada suatu saat dibagi dengan jumlah penduduk pada saat itu. Dapat dimanfaatkan untuk mengetahui Mutu pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Rumus : Jumlah Penderita lama & baru Saat itu Point Prevalen Rate = xK Jumlah Penduduk Saat itu

UKURAN-UKURAN EPIDEMIOLOGI
Posted: Februari 24, 2011 in DASAR DASAR EPIDEMIOLOGI

13 UKURAN-UKURAN EPIDEMIOLOGI 1. UKURAN MORBIDITAS Ukuran atau angka morbiditas adalah jumlah penderita yang dicatat selama 1 tahun per 1000 jumlah penduduk pertengahan tahun Angka ini dapat digunakan untuk menggambarakan keadaan kesehatan secara umum, mengetahui keberahasilan program program pemberantasan penyakit, dan sanitasi lingkungan serta memperoleh gambaran pengetahuan pendudukterhadap pelayanan kesehatan Secara umum ukuran yang banyak digunakan dalam menentukan morbiditas adalah angka, rasio, dan pororsi 1. RATE Rate atau angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus perbandingan antara pembilang dengan penyebut atau kejadian dalam suatu populasi teterntu dengan jumlah penduduk dalam populasi tersebut dalam batas waktu tertentu. Rate terdiri dari berbagai jenis ukuran diataranya adalah . Proporsi atau jumlah kelompok individu yang terdapat dalam penduduk suatu wilayah yang semula tidak sakit dan menjadi sakit dalam kurun waktu tertentu dan pembilang pada proporsi tersebut adalah kasus baru. Tujuan dari Insidence Rate adalah sebagai berikut Mengukur angka kejadian penyakit Untuk mencari atau mengukur faktor kausalitas Perbandinagan antara berbagai populasi dengan pemaparan yang berbeda Untuk mengukur besarnya risiko yang ditimbulkan oleh determinan tertentu Rumus: P= (d/n)k Dimana: P= Estimasi incidence rate d= Jumlah incidence (kasus baru) n= Jumlah individu yang semula tidak sakit ( population at risk) Hasil estimasi dari insiden dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan penanggulangan masalah kesehatan dengan melihat, Potret masalah kesehatan, angka dari beberapa periode dapat digunakan untuk melihat trend dan fluktuasi, untuk pemantauan dan evaluasi upaya pencegahan maupun penanggulangan serta sebagai dasar untuk membuat perbandingan angka insidens antar wilayah dan antar waktu b) PR ( Prevalence) Ukuran prevalensi suatu penyakit dapat digunkan Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit

Untuk penyusunan perencanaan pelayanan kesehatan. Misalnya, penyediaan obat-obatan, tenaga kesehatan, dan ruangan Menyatakan banyaknya kasus yang dapat di diagnosa Digunakan untuk keperluan administratif lainnya Angka prevalensi dipengaruhi oleh tingginya insidensi dan lamanya sakit. Lamanya sakit adalah suatu periode mulai dari didiagnosanya suatu penyakit hingga berakhirnya penyakit teresebut yaitu sembuh, kronis, atau mati c) PePR (Periode Prevalence Rate) PePR yaitu perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah penduduk selama 1 periode Rumus: PePR =(P/R)k P = jumlah semua kasus yang dicatat R = jumlah penduduk k = pada saat tertentu d) PoPR (Point Prevlene Rate) Point Prevalensi Rate adalah nilai prevalensi pada saat pengamatan yaitu perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah penduduk pada saat tetentu Rumus: PoPR =(Po/R)k Po = perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat R =jumlah penduduk k = selama 1 perode Point prevalensi meningkat pada : 1. Imigrasi penderita 2. Emigrasi orang sehat 3. Imigrasi tersangka penderita atau mereka dengan risiko tinggi untuk menderita 4. Meningkatnya masa sakit 5. Meningkatnya jumlah penderita baru Point prevalensi menurun pada : 1. Imigrasi orang sehat 2. Emigrasi penderita 3. Meningkatnya angka kesembuhan 4. Meningkatnya angka kematian 5. Menurunnya jumlah penderita baru 6. Masa sakit jadi pendek e) AR (Attack Rate) Attack rate adalah andala angaka sinsiden yang terjadi dalam waktu yang singkat (Liliefeld 1980) atau dengan kata lain jumlah mereka yang rentan dan terserang penyakit tertentu pada periode tertentu Attack rate penting pada epidemi progresif yang terjadi pada unit epidemi yaitu kelompok

penduduk yang terdapat pada ruang lingkup terbatas, seperti asrama, barak, atau keluarga. f) SAR g) CI (AAIR) h) ID i) Specifik menurut karakteristik . 2. RASIO Rasio adalah nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai kuantittif yang pembilangnya tidak merupakan bagian dari penyebut Contoh: Kejadian Luar Biasa(KLB) diare sebanyak 30 orang di suatu daerah. 10 diantaranya adalah jenis kelamn pria. Maka rasio pria terhadap wanita adalah R=10/20=1/2 3. PROPORSI Proporsi adalah perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya merupakan bagian dari penyebut Penyebaran proporsi adalah suatu penyebaran persentasi yang meliputi proporsi dari jumlah peristiwa-peristiwa dalam kelompok data yang mengenai masing-masing kategori atau subkelompok dari kelompok itu. Pada contoh di atas, proporsi pria terhadap permapuan adalah P= 10/30=1/3 2. UKURAN FERTILITAS a) Crude Birth Rate (CBR) Angka kelahiran kasar Angka kelahiran kasar adalah semua kelahiran hidup yang dicatat dalam 1 tahun per 1000 jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama. Rumus: CBR = (B/P)k B = semua kealhiaran hidup yang dicata P = Jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama. k = konstanta(1000) Angka kelahiran kasar ini dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat fertilitas secara umum dalam waktu singkat tetapi kurang sensitif untuk Membandingkan tingkat fertilitas dua wilayah Mengukur perubahan tingkat fertilitas karena perubahan pada tingkat kelahiran akan menimbulkan perubahan pada jumlah penduduk b) Age Spesific Fertilty Rate (ASFR) Angka fertilitas menurut golongan umur Angka fertilitas menurut golongan umur adalah jumlah kelahiran oleh ibu pada golongan umur tertentu yang dicatat selam 1 tahun yang dicata per 1000 penduduk wanita pada golongan umur tertentu apda tahun yang sama Rumus: ASFR = (F/R)k

F = Kelahiran oleh ibu pada golongan umur tertentu yang dicata R = Penduduk wanita pada golongan umur tertentu pada tahun yang sama Angka fertilitas menurut golongan umur ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan pada angka kelahiran kasar karena tingkat kesuburan pada setiap golongan umur tidak sama hingga gambaran kelahiran menjadi lebih teliti c) Total Fertility Rate ( TFR) Angka fertilitas total Angka fertilitas total adalah jumlah angka fertilitas menurut umur yang dicatat sealma 1 tahun Rumus: TFR = Jumlah angka fertilitas menurut umur X k 3. UKURAN MORTALITAS a) Case Fatality Rate (CFR) Angka kefatalan kasus CFR adalah perbandingan antara jumlah kematian terhadap penyakit tertentu yang terjadi dalam 1 tahun dengan jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama Rumus: CFR = (P/T)k P = Jumlah kematian terhadap penyakit tertentu T = jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama perhitungan ini dapat digu8nakan uutk mengetahui tingakat penyakit dengan tingkat keamtia yang tinggi. Rasio ini dapat dispesifikkan menjadi menurut goklongan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan lain-lain b) Crude Death Rate (CDR) Angka Kematian Kasar Angka keamtian kasar adalah jumlah keamtian ang dicata selama 1 tahun per 1000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Disebut kasar karena akngka ini dihitung secatra menyeluruh tanpa memperhatikan kelompok-kelompok tertentu di dalam populasi denga tingkat kematian yang berbeda-beda. Rumus: CDR= (D/P)k D= jumlah keamtian yang dicata selama 1 tahun P=Jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama Manfaat CDR a) Sebagai gambaran status kesehatan masyarakat b) Sebagai gambaran tingkat permasalahan penyakit dalam masyarakat c) Sebagai gambaran kondisi sosial ekonomi d) Sebagai gambaran kondisi lingkungan dan biologis e) Untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk c) Age Spesific Death Rate (ASDR) angka kematian menurut golongan umur Angka kematian menurut golongan umur adalah perbandingan antara jumlah kematian yang diacata selama 1 tahun padas penduduk golongan umur x dengan jumlah penduduk golongan umur x pada pertengaha n tahun

Rumus: ASDR= (dx/px)k dx = jumlah kematian yang dicatat selama 1 tahun pada golongan umur x px = jumlah penduduk pada golonga umur x pada pertengahan tahun yang sama k = Konstanta Manfaat ASDR sebagai berikut: 1. untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesahatan masyarakat dengan melihat kematian tertinggi pada golongan umur 2. untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di bebagai wilayah 3. untuk menghitung rata-rata harapan hidup d) Under Five Mortality Rate (UFMR) Angka kematian Balita Angka kematian Balita adalah gabungan antara angka kematian bayi dengan angka kematian anak umur 1-4 tahun yaitu jumlah kematian balita yang dicatat selam satu tahun per 1000 penduduk balita pada tahun yang sama Rumus: UFMR = (M/R)k M = Jumlah kematian balita yang dicatat selama satu tahun R = Penduduk balita pada tahun yang sama ` k = Konstanta Angka kematian balita sangat penting untuk mengukur taraf kesehatan masyarakat karena angka ini merupakan indikator yang sensitif untuk sataus keseahtan bayi dan anak e) Neonatal Mortality Rate (NMR) Angka Kematian Neonatal Neonatal adalah bayi yang berumur kurang dari 28 hari. Angka Kematian Neonatal adalah jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari yang dicatata selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama Rumus: NMR = (d1/ B)k di = Jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari B = Kelahiran hidup pada tahun yang sama k = konstanta Manfaat dari angka kematian neonatal adalah sebgai berikut; 1. untuyk mengetahuai tinggi rendahnya perawatan post natal 2. Untuk mengetahui program Imuninsasi 3. Untuk pertolongan persalina 4. untuk mengetahui penyakit infeksi f) Perinatal Mortality Rate (PMR) angka kematian perinatal Angka kematian perinatal adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari yang dicatat dalam 1 tahun per 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang sama. Rumus: PMR = (P+M/R)k P = jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan berumur 28 minggu M =ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 har

R = 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang sama. Manfaat dari angka kematian perinatal adalah untuk menggambarkan keadaan kesehatan masyarakat terutama kesehatan ibu hamil dan bayi Faktor yang mempengaruhi tinggnya PMR adalah sebagai berikut: Banyak bayi dengan berat badan lahir rendah Status gizi ibu dan bayi Keadaan sosial ekonomi Penyakit infeksi terutama ISPA Pertolongan persalinan g) Infant Mortality Rate (IMR) Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi adalah perbandingan jumlah penduduk yang berumur kurang dari 1 tahun yang diacat selama 1 tahun dengan 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Rumus: IMR = (d0 /B)k d0 = Jumlah penduduk yang berumur kurang dari 1 tahun B = Jumlah lahir hidup pada thun yang sama k = Konstanta Manfaat dari perhitungan angka kematian bayi adalah sebagai berikit: 1. Untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi 2. Untuk Mengetahui tingkat pelayanan antenatal 3. Untuk mengetahui status gizi ibu hamil 4. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Program Keluaga berencana (KB) 5. untuk mengetahui kondisi lingkungan dan social ekonomi h) Maternal Mortality Rate (MMR) Angka Kematian Ibu Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Rumus: MMR = (I/T)k I = adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas T = Kelahiran hidup pada tahun yang sama. k = konstanta Tinggi rendahnya angka MMR tergantung kepada: Sosial ekonomi Kesehatan ibu sebellum hamil, persalinan, dan masa nasa nifas Pelayanan terhadap ibu hamil Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas Referensi: 1. Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 2. Bustan MN ( 2002 ). Pengantar Epidemiologi, Jakarta, Rineka Cipta 3. Nasry, Nur dasar-dasar epidemiologi 4. Arsip mata kuliah FKM UNHAS 2006

PENYELIDIKAN WABAH

penyelidikan wabah
Kegiatan penyelidikan wabah meliputi : 1. Menetapkan Terjangkitnya Keadaan Wabah Informasi tentang terjadinya wabah biasanya datang dari sumber-sumber masyarakat, yaitu laporan pasien, keluarga pasien, kader kesehatan, atau warga masyarakat. Tetapi informasi tentang terjadinya wabah bisa juga berasal dari petugas kesehatan, laporan kematian, laporan hasil pemeriksaan laboratorium, atau media lokal (suratkabar dan televisi). Pada dasarnya wabah merupakan penyimpangan dari keadaan normal karena itu wabah ditentukan dengan cara membandingkan jumlah kasus sekarang dengan rata-rata jumlah kasus dan variasinya di masa lalu (minggu, bulan, tahun). Terjadinya wabah dan teridentifikasinya sumber dan penyebab wabah perlu ditanggapi dengan tepat. Jika terjadi kenaikan signifikan jumlah kasus sehingga disebut wabah, maka pihak dinas kesehatan yang berwewenang harus membuat keputusan apakah akan melakukan investigasi wabah. Pada penerapannya, pada sistem kesehatan perlu ddilakukan investigasi wabah dan mengambil langkahlangkah segera dan tepat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut penyakit tersebut.. 2. Melakukan Investigasi Wabah Pada langkah investigasi yang pertama dilakukan penegakan dagnosa dari penyakit yang menjadi wabah tersebut dengan mendefinisikan kasus. Pada investigasi kasus, peneliti melakukan verifikasi apakah kasus-kasus yang dilaporkan telah didiagnosis dengan benar (valid). Penegakan diagnose yang utam dengan dilakukan pemeriksaan labolatorium. Dengan menggunakan definisi kasus, maka individu yang diduga mengalami penyakit akan dimasukkan dalam salah satu klasifikasi kasus. Berdasarkan tingkat ketidakpastian diagnosis, kasus dapat diklasifikasikan menjadi: (1) kasus suspek (suspected case, syndromic case), (2) kasus mungkin (probable case, presumptive case), dan (3) kasus pasti (confirmed case, definite case). Klasifikasi kasus (yang berbeda tingkat kepastiannya tersebut) memungkinkan dilakukannya upaya untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas pelaporan. Kasus suspek bersifat sensitive tetapi kurang spesifik, dengan tujuan mengurangi negatif palsu. Kasus mungkin dan kasus pasti bersifat lebih sensitif dan lebih spesifik daripada kasus suspek, dengan tujuan mengurangi positif palsu. Langkah selanjutnya dengan dilakukan penentuan apakah peristiwa tersebut suatu letusan wabah atau bukan. Hal ini dilihat berdasarkan penyebab terjadinya wabah. Pada investigasi penyebab terjadinya wabah dapat dilakukan dengan wawancara dan epidemiologi deskriptif. Pada wawancara intinya, tujuan

wawancara dengan kasus dan nara sumber terkait kasus adalah untuk menemukan penyebab terjadinya wabah. Dengan menggunakan kuesioner dan formulir baku, peneliti mengunjungi pasien (kasus), dokter, laboratorium, melakukan wawancara dan dokumentasi untuk memperoleh informasi berikut: (1) Identitas diri (nama, alamat, nomer telepon jika ada); (2) Demografis (umur, seks, ras, pekerjaan); (3) Kemungkinan sumber, paparan, dan kausa; (4) Faktor-faktor risiko; (5) Gejala klinis (verifikasi berdasarkan definisi kasus, catat tanggal onset gejala untuk membuat kurva epidemi, catat komplikasi dan kematian akibat penyakit); (6) Pelapor (berguna untuk mencari informasi tambahan dan laporan balik hasil investigasi). Pemeriksaan klinis ulang perlu dilakukan terhadap kasus yang meragukan atau tidak didiagnosis dengan benar (misalnya, karena kesalahan pemeriksaan laboratorium). Informasi tersebut dugunakan untuk membandingkan informasi yang didapat dengan definisi yang sudah ditentukan tentang KLB dan membandingkan dengan incidende penyakit itu pada minggu/bulan/tahun sebelumnya. Inti dari pertanyaan yang diajukan adalah mengenai waktu (kapan mulai sakit), tempat (dimana penderita mendapatkan infeksi), orang (siapa yang terkena, informasi yang diambil adalah gender, umur, imunisasi). Dengan menghitung jumlah kasus, menganalisis waktu, incidence rate, dan risiko, peneliti wabah mendeskripsikan distribusi kasus menurut orang, tempat, dan waktu, menggambar kurva epidemi, mendeskripsikan kecenderungan (trends) kasus sepanjang waktu, luasnya daerah wabah, dan populasi yang terkena wabah. Dengan epidemiologi deskriptif wabah bisa mendapatkan hipotesa penyebab dan sumber wabah, distribusi penderita. Hipotesa digunakan untuk mengarahkan pada penelitian lebih lanjut. Hipotesis yang diterima, dapat menerangkan pola penyakit : (a) Sesuai dengan sifat penyebab penyakit, (b)Sumber infeksi, (c) Cara penularan, (d)Faktor lain yang berperan. 3. Melaksanakan Penanganan Wabah

Setelah data mengenai investigasi kasus dan penyebab telah memberikan fakta tentang penyebab, sumber, dan cara transmisi, maka langkah pengendalian hendaknya segera dilakukan. Makin cepat respons pengendalian, makin besar peluang keberhasilan pengendalian. Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan cara penanggulangan yang paling efektif dan melakukan surveilence terhadap faktor lain yang berhubungan.. Prinsip intervensi untuk menghentikan wabah sebagai berikut: (1) Mengeliminasi sumber patogen; (2) Memblokade proses transmisi; (3) Mengeliminasi erentanan. Eliminasi sumber patogen mencakup: (1) Eliminasi atau inaktivasi patogen; (2) Pengendalian dan pengurangan sumber infeksi (source reduction); (3) Pengurangan kontak antara penjamu rentan dan orang atau binatang terinfeksi (karantina kontak, isolasi kasus, dan sebagainya); (4) Perubahan perilaku penjamu dan/ atau sumber (higiene perorangan, memasak daging dengan benar, dan sebagainya); (5) Pengobatan kasus. Blokade proses transmisi mencakup: (1) Penggunaan peralatan pelindung perseorangan (masker, kacamata, jas, sarung tangan, respirator); (2) Disinfeksi/ sinar ultraviolet; (3) Pertukaran udara/ dilusi; (4) Penggunaan filter efektif untuk menyaring partikulat udara; (5) Pengendalian vektor (penyemprotan insektisida nyamuk Anopheles, pengasapan nyamuk Aedes aegypti, penggunaan kelambu berinsektisida, larvasida, dan sebagainya). Eliminasi kerentanan penjamu (host susceptibility) mencakup: (1) Vaksinasi; (2) Pengobatan (profilaksis, presumtif); (3) Isolasi orang-orang atau komunitas tak terpapar (reverse isolation);

(4) Penjagaan jarak sosial (meliburkan sekolah, membatasi kumpulan massa). Hal terkhir dan merupakan hal terpenting dalam penanganan wabah adalah menentukan cara pencegahan di masa yang akan datang. 4. Menetapkan Berakhirnya Wabah Penetapan berakhirnya wabah berdasarkan informasi tentang terjadinya wabah dari laporan pasien, keluarga pasien, kader kesehatan, atau warga masyarakat. Informasi juga bisa berasal dari petugas kesehatan, laporan kematian, laporan hasil pemeriksaan laboratorium, atau media lokal (suratkabar dan televisi). Hal ini untuk menganalisis apakah program penanganan wabah dapat menurunkan kasus yang terjadi. Jika kasus yang terjadi menurun maka dapat dikatakan bahwa penanganan wabah berhasil dan dapat segera dilakukan penetapan berkahirnya wabah. 5. Pelaporan Wabah Pada akhir kegiatan dilakukan pelaporan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang penyelidikan epidemiologi, dengan format yang terdiri dari: (1) Pendahuluan, (2) Latar belakang, (3) Uraian tentang penelitian yang telah dilakukan, (4) Hasil penelitian, (5) pembahasan, (6) kesimpulan, dan (7) Tindakan penanggulangan, (8) Dampak-dampak Penting, (9)rekomendasi. Laporan tersebut mencakup langkah pencegahan dan pengendalian, catatan kinerja sistem kesehatan, dokumen untuk tujuan hukum, dokumen berisi rujukan yang berguna jika terjadi situasi serupa di masa mendatang. Selain itu juga berguna untuk perencanaan-perencanaan program, pelaksanaan rencana penanggulangan wabah itu sendiri. http://emiliadiasri.blogspot.com/ http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com