Anda di halaman 1dari 4

TUGAS INDIVIDU BLOK 12 UNIT PEMBELAJARAN 5 PEMERIKSAAN BURUNG

ANABELLA PURNAMA FIRDAUSYIA 10/296818/KH/6476 KELOMPOK 6

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

PEMERIKSAAN BURUNG

I.

LEARNING OBJECTIVE 1) Bagaimana pemeriksaan secara legeartis pada burung, meliputi a. Handling dan restrain b. Sexing c. Pemeriksaan fisik 2) Jelaskan tentang penyakit-penyakit respirasi pada burung!

II.

PEMBAHASAN 1) PEMERIKSAAN BURUNG a. Handling dan Restrain Sebelum mulai menghandle atau restrain telebih dahulu kenali spesies burung yang akan diperiksa. Ada burung yang mempunyai tingkat stress yang sangat tinggi dan ada burung yang sangat hiperaktif. Disamping itu ada juga jenis burung yang boleh dihandle dan burung yang tidak boleh dihandle. Ada burung yang aman dihandle, ada burung yang dapat menimbulkan luka serius apabila salah handle. Hal-hal yang harus diperhatikan handling : 1. Kepala, kepala dikontrol untuk menghindari patukan dengan cara menutupi kepala dengan kain yang gelap agar burung dapat tenang dan tidak stress 2. Badan dan sayap, agar kerusakan pada bulu burung. 3. Kaki dan cakar, mengontrol kaki dan cakar agar terhindar dari cakaran burung tersebut dapat menggunakan alat bantu kain atau dengan cara mengikat difokuskan pada kedua tarsusnya dengan menyatukan secara kuat ( Gallerstein, 1994 ) Handling burung kecil dapat dilakukan dengan cara : menjepit leher dengan dua jari dan ibu jari serta jari yang lain menahan bagian tubuh lainnya. Memegang paruh, memegang kedua kaki dan membungkus dengan kain/ kertas (dibedong). burung tidak dapat terbang dan tidak mengalami

Handing burung sedang-besar : memegang kedua kaki dan ekor dengan satu tangan dan bias juga memegang kedua kaki dan merapatkan ke badan.

(Sheldon, 2006) b. Sexing Sexing pada burung dibedakan antara yang dimorfisme dan monomorfisme. Pada burung dimorfisme, secara morfologis berbeda antara jantan dan betina. Contoh: burung puyuh jantan memiliki bintik-bintik abu-abu pada bulu bagian dada, sedangkan yang betina tidak terdapat bintik-bintik tetapi bulunya berwarna kecoklatan. Burung parkit dibedakan dari ceresnya, pada jantan, ceres berwarna kebiruan, sedangkan betina kuning kecoklatan. Untuk burung monomorfisme, misalnya jalak bali dan cucak rowo, secara morfologis memiliki kesamaan antara jantan dan betina sehingga sulit dibedakan. Biasanya sexing dilakukan dengan melihat kloaka atau apakah bisa berkicau atau tidak. Pada burung jantan, kloaka lebih menonjol daripada betina (Gallerstein, 1994). Untuk sexing pada anak ayam, dilihat dari panjang dan warna bulu halusnya. Anak ayam jantan berwarna putih dan yang betina berwarna coklat. Bisa juga dilihat dari tonjolan kloakanya. Untuk burung kenari yang masih bayi, dapat dibedakan melalui bentuk kepalanya. Kepala yang jantan pipih, dan yang betina agak bundar (Anonim 1, 2011).

c. Pemeriksaan Fisik

2) PENYAKIT RESPIRATORIK III. DAFTAR PUSTAKA