Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM IX Validasi Reagensia

OLEH KELOMPOK 1 1. Made Indah Kesuma Dewi 2. Ni Wayan Febi Suantari 3. A.A. Putu Sintya Darmayani 4. Ni Luh Komang Ita Purnama Sari 5. I Putu Wijaya Pradharma P 07134011001 P 07134011009 P 07134011017 P 07134011029 P 07134011037

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN DIII ANALIS KESEHATAN 2013

Validasi Reagensia
Hari, Tanggal Praktikum Tempat Praktikum : Senin, 3 Juni 2013 : Unit Transfusi Darah Pembina PMI Daerah Bali RSUP Sanglah

I. Tujuan 1. Mahasiswa dapat mengetahui validitas suatu reagen yang akan digunakan sehingga diperoleh hasil pemeriksaan yang sesuai 2. Mahasiswa mengetahui apakah reagensia yang diperiksa valid atau tidak valid

II. Metode Metode yang digunakan adalah metode aglutinasi dengan tube test dan plate test

III. Prinsip Antigen + antibodi menimbulkan aglutinasi

IV. Dasar Teori A. Tinjauan Umum Darah Darah adalah cairan yang terdapat pada hewan tingkat tinggi yang berfungsi sebagai alat transportasi zat seperti oksigen, bahan hasil metabolisme tubuh, pertahanan tubuh dari serangan kuman, dan lain sebagainya. Beda halnya dengan tumbuhan, manusia dan hewan level tinggi punya sistem transportasi dengan darah (Gustini, 2011). Darah merupakan suatu cairan yang sangat penting bagi manusia karena berfungsi sebagai alat transportasi serta memiliki banyak kegunaan lainnya untuk menunjang kehidupan. Tanpa darah yang cukup seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan dan bahkan dapat mengakibatkan kematian (Gustini, 2011).

Darah pada tubuh manusia mengandung 55% plasma darah (cairan darah) dan 45% sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah yang ada pada tubuh kita yaitu sekitar sepertigabelas berat tubuh orang dewasa atau sekitar 4 atau 5 liter (Gustini, 2011). Fungsi darah pada tubuh manusia yaitu (Gustini, 2011) : 1. 2. 3. Alat pengangkut air dan menyebarkannya ke seluruh tubuh Alat pengangkut oksigen dan menyebarkannya ke seluruh tubuh Alat pengangkut sari makanan dan menyebarkannya ke seluruh tubuh 4. 5. 6. 7. Alat pengangkut hasil oksidasi untuk dibuang melalui alat ekskresi Alat pengangkut getah hormon dari kelenjar buntu Menjaga suhu temperatur tubuh Mencegah infeksi dengan sel darah putih, antibodi dan sel darah beku 8. Mengatur keseimbangan asam basa tubuh.

B. Golongan Darah Sistem ABO Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam sistem ABO pada tahun 1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah dengan serum dari para donor (Mulyantari, 2011). Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal dengan golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan golongan darah O). Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan O (Mulyantari, 2011).

Dalam sistem ABO, golongan darah dibagi menjadi 4 golongan: Golongan A B AB O Sel Darah Merah Antigen A Antigen B Antigen A dan Antigen B (-) Plasma Antibodi B Antibodi A (-) Antibodi A dan Antibodi B

C. Rhesus Faktor Rh atau Rhesus (juga biasa disebut Rhesus Faktor) pertama sekali ditemukan pada tahun 1940 oleh Landsteiner dan Weiner. Dinamakan rhesus karena dalam riset digunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang paling banyak dijumpai di India dan Cina (Mulyantari, 2011). Pada sistem ABO, yang menentukan golongan darah adalah antigen A dan B, sedangkan pada Rh faktor, golongan darah ditentukan adalah antigen Rh (dikenal juga sebagai antigen D) (Mulyantari, 2011). Jika hasil tes darah di laboratorium seseorang dinyatakan tidak memiliki antigen Rh, maka ia memiliki darah dengan Rh negatif (Rh-), sebaliknya bila ditemukan antigen Rh pada pemeriksaan, maka ia memiliki darah dengan Rh positif (Rh+) (Mulyantari, 2011). Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B (Mulyantari, 2011). Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh (-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh (D) yang

mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat mempengaruhi janin pada saat kehamilan (Mulyantari, 2011). D. Antiglobulin Test

Molekul antibodi dan komponen komplemen adalah globulin. Antibodi adalah globulin , komplemen adalah globulin . Bila globulin manusia diinjeksikan ke hewan akan terbentuk antihuman globulin (AHG). AHG akan bereaksi dg globulin yg terikat pada eritrosit sehingga menghasilkan aglutinasi eritrosit. Bila AHG bereaksi dg globulin bebas dalam serum maka tidak terjadi aglutinasi eritrosit. Perlu proses pencucian eritrosit untuk menghilangkan globulin bebas. Reagen AHG dapat polispesifik atau

monospesifik. Polispesifik AHG mengandung antibodi terhadap human IgG atau C3d, kadang-kadang juga mengandung anti komplemen lain dan anti imunoglobulin lain. Monospesifik AHG mengandung hanya satu antibodi apakah IgG saja atau anti C3b-C3d. Antiglobulin test mampu mendeteksi 150 sampai 500 molekul IgG tiap sel darah merah. Aglutinasi lengkap terjadi bila sel tersensitisasi oleh 1000 molekul IgG. Pada IAT, hasil reaksi positif bila terdapat 100 sampai 200 molekul IgG atau C3 pada sel. Bila pengikatan globulin pada eritrosit (sensitisasi) terjadi in vivo disebut uji antiglobulin direk (Direct Coombs test). Bila sensitisasi dilakukan in-vitro disebut uji antiglobulin indirek (Indirect Coombs test). DAT digunakan untuk mendeteksi antibodi atau komplemen yang menyelubungi sel darah merah invivo dengan menggunakan AHG, terutama IgG dan C3d. Setelah sel darah merah dicuci dengan saline kemudian ditambahkan reagen AHG. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi , misalnya penyakit auto immune hemolytic anemia (AIHA), drug induced hemolisis, allo imun reaksi oleh karena reaksi tranfusi. Indirect Antiglobulin test (IAT) atau ICT digunakan untuk mendeteksi reaksi antara sel darah merah dengan antibodi atau komplemen yang melekat / menyelubungi pada sel darah merah invitro. Serum pasien diinkubasikan dengan sel darah merah, kemudian sel darah merah dicuci dengan saline dan ditambah AHG. Adanya aglutinasi setelah penambahan AHG menandakan, bahwa serum tersebut mengandung antibodi yang reaktif dengan antigen antigen yang terdapat pada sel darah merah. Pemeriksaan

ICT dapat digunakan pada pemeriksaan skrining, identifikasi antibody dan uji silang serasi.

E. Transfusi Darah Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah (Anonim, 2012). Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) dan resipien (penerima) adalah sangat penting. Darah donor dan resipien harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor (Anonim, 2012). Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat

menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit (Anonim, 2012). Pada seluruh proses yang berkaitan dengan transfusi darah, sangat perlu memperhatikan validitas dari reagensia yang digunakan agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan (Anonim, 2012).

F. Validitas Reagen Menurut Azwar (1986) validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Menurut Arikunto (1999) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Reagen atau dikenal juga dengan Reaktan merupakan istilah yang sering digunakan didunia kimia. Reagen memiliki banyak kegunaan dan sebagian besar melibatkan menyelamatkan nyawa aplikasi. Zat atau dua zat membuat, mengukur atau membangun keberadaan reaksi kimia dengan bantuan reagen. Kimia organik mungkin juga menetapkan reagen sebagai

campuran atau zat-zat yang berbeda yang akan membuat perubahan pada substrat pada kondisi tertentu. Uji validitas reagen adalah suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content) dari suatu reagen, dengan tujuan untuk mengukur ketepatan reagen yang digunakan dalam suatu pemeriksaan. Untuk mengetahui apakah tes itu valid atau tidak harus dilakukan melalui pengujian dari reagen itu sendiri agar hasil dari pemeriksaan dapat berlangssung dengan baik dan benar. Dengan melakukan uji validitas reagen juga bermanfaat untuk mengetahui kondisi reagen. Oleh karena itu, validitas reagen penting dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan menggunakan reagen tersebut.

V.

Alat dan Bahan A. Alat 1. Centrifuge 2. Rak tabung serologis 3. Tabung serologi 4. Plate 5. Labu semprot 6. Stopwatch

B. Bahan 1. Anti-A 2. Anti-B 3. Anti-D 4. Test Sel A 5% 5. Test Sel B 5% 6. Test Sel O 5% 7. Test Sel A 10% 8. Test Sel B 10% 9. Test Sel O 10%

10. Coombs serum 11. Bovine albumin 22% 12. Coombs Control Cells (CCC)

VI. Langkah Kerja A. Test Validasi Reagen Anti-A, Anti-B, Anti-D 1. Reagen anti-A Identitas anti-A 2 tetes anti-A + 1 2 tetes anti-A + 1 2 tetes anti-A + 1 tetes suspensi sel tetes suspensi sel tetes suspensi sel A 10% B 10% O 10%

Plate digoyang ke depan dan belakang hingga tercampur rata

2. Reagen anti-B Identitas anti-B 2 tetes anti-B + 1 2 tetes anti-B + 1 2 tetes anti-B + 1 tetes suspensi sel tetes suspensi sel tetes suspensi sel A 10% B 10% O 10%

Plate digoyang ke depan dan belakang hingga tercampur rata

3. Reagen anti-D Identitas anti-D 2 tetes anti-D 2 tetes anti-D 2 IgM positif + 1 IgM positif 1 tetes BA 2 tetes BA 22 + 1 tetes

22% + 1 tetes %

tetes +

tetes suspensi sel A suspensi sel A 10 %

suspensi sel A suspensi sel B 10 % 10 % 10 %

Plate digoyang ke depan dan belakang hingga tercampur rata

B. Test Validasi Reagen Bovine Albumin 22% dan Anti Human Globulin Validasi Bovine 1 tetes suspensi sel 1 tetes suspensi sel 1 tetes suspensi sel A 5% + 2 tetes B 5% + 2 tetes BA O 5% + 2 tetes

Albumin 22%

BA 22%

22%

BA 22%

Dikocok agar homogen, kemudian dinkubasi pada suhu 37oC. Tabung diputar 3000 rpm selama 15 detik kemudian dibaca reaksinya. Validasi Anti Tabung dicuci 3 kali dengan menggunakan saline kemudian Human Globulin reaksi dilanjutkan dengan menambahkan ke dalam masing masing tabung 2 tetes anti human globulin. Tabung dikocok perlahan lahan, kemudian diputar 3000 rpm selama 15 detik kemudian hasil reaksinya dibaca. Coombs Control Cell (CCC) Kontrol semua tabung bila hasil pemeriksaan negatif dengan Coombs serum. Ditambahkan ke dalam masing masing tabung dengan 1 tetes CCC. Tabung dikocok perlahan lahan, kemudian diputar 3000 rpm selama 15 detik kemudian hasil reaksinya dibaca.

VII. Hasil Pengamatan No 1 Gambar 1. Anti Keterangan A monoklonal.

(Batch No : 060413, Exp. date : Agustus 2013, Suhu penyimpanan : 2-80C). 2. Anti B monoklonal.

(Batch No : 060413, Exp. date : April 2014, Suhu penyimpanan : 2-80C). 3. Anti D (Anti Rho). 1 2 3 (Batch No : 040313, Exp. date : Maret 2014, Suhu penyimpanan : 2-80C). 2 Coombs serum. (Batch No : SGA 060812, Exp. date : Agustus 2013, Suhu penyimpanan : 2-80C).

Bovine Albumin 22%. (Batch No : 111212, Exp. date: Desember 2013, Suhu penyimpanan : 2-80C).

1. Test Sel A standar 5 % Tanggal pembuatan : 3 Juni 2013 2. Test Sel B standar 5 % Tanggal pembuatan : 3 Juni 2013 3. Test Sel O standar 5 % Tanggal pembuatan : 3 Juni 2013

3
1

2
1

1
1

1. Test Sel A standar 10 % Tanggal pembuatan : 3 Juni 2013 2. Test Sel B standar 10 % Tanggal pembuatan : 3 Juni 2013 3. Test Sel O standar 10 % Tanggal pembuatan : 3 Juni 2013

3
1

2
1

1
1

Coombs Control Cells. 6 Tanggal pembuatan : 3 Juni 2013

Hasil validasi pada reagen Anti A : 1. Terjadi aglutinasi (Positif 3) 2. Tidak terjadi aglutinasi

(Negatif) 3. Tidak tejadi aglutinasi

(Negatif)

1 8

3 Hasil validasi pada reagen Anti A : 1. Tidak terjadi aglutinasi (Negatif) 2. Terjadi aglutinasi (Positif 3) 3. Tidak tejadi aglutinasi (Negatif)

1 9

3 Hasil validasi pada reagen Anti D: 1. Terjadi aglutinasi (Positif 2) 2. Terjadi aglutinasi (Positif 2)

Hasil Pengujian Autocontrol untuk Anti-D : 3. Tidak (negatif) 4. Tidak (negatif) terjadi aglutinasi terjadi aglutinasi

3 10

4 Hasil validasi pada reagen Bovine Albumin 22% : 1. Tidak terjadi aglutinasi

(Negatif) 2. Tidak terjadi aglutinasi (Negatif) 3. Tidak terjadi aglutinasi (Negatif)

2 2 q

3 2 q

11

Hasil validasi pada reagen Coombs serum (Anti Human Globulin) : 1. Pada suspensi sel A 5% : Tidak terjadi aglutinasi

(Negatif) 2. Pada suspensi sel O 5% : Tidak terjadi aglutinasi

(Negatif) 3. Pada suspensi sel B 5% : Tidak 1 2 3 terjadi aglutinasi

(Negatif)

13

Hasil

validasi

reagen

Coombs Control Cells (CCC) pada suspensi sel A 5% : terjadi aglutinasi

14

Hasil

validasi

reagen

Coombs Control Cells (CCC) pada suspensi sel B 5% : terjadi aglutinasi

15

Hasil

validasi

reagen

Coombs Control Cells (CCC) pada suspensi sel O 5% : terjadi aglutinasi

VIII. Pembahasan Pereaksi atau sering disebut juga reagensia (inggris : reagent) adalah suatu zat yang berperan dalam suatu reaksi kimia atau diterapkan untuk tujuan analisis. Istilah reagen juga digunakan untuk menunjuk pada zat kimia dengan kemurnian yang cukup untuk sebuah analisis atau percobaan. Sebelum digunakan untuk analisis, suatu reagen harus melalui proses validasi dahulu untuk mengetahui kualitas dari reagen tersebut. Validasi reagen adalah suatu dilakukan untuk tindakan yang

menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu reagen.

Validasi reagen merupakan salah satu pemantapan mutu internal. Pemantapan mutu internal adalah kegiatan pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh setiap laboratorium secara terus-menerus agar diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat. Uji validitas reagen adalah suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content) dari suatu reagen, dengan tujuan untuk mengukur ketepatan reagen yang digunakan dalam suatu pemeriksaan. Untuk mengetahui apakah tes itu valid atau tidak harus dilakukan melalui pengujian dari reagen itu sendiri agar hasil dari pemeriksaan dapat berlangsung dengan baik dan benar. Dengan melakukan uji validitas reagen juga bermanfaat untuk mengetahui kondisi reagen. Jadi, tujuan validasi reagen adalah untuk menguji validitas suatu reagen sehingga

dapat diketahui kualitas dari reagen sebelum digunakan untuk pemeriksaan dan juga untuk menetapkan reagen yg digunakan valid atau invalid sehingga

diperoleh hasil pemeriksaan yang akurat. Oleh karena itu, validitas reagen penting dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan menggunakan reagen tersebut. Dalam praktikum ini, dilakukan uji validitas reagen, khususnya reagen yang digunakan pada pemeriksaan golongan darah untuk tujuan transfusi darah. Uji kualitas reagen harus dilakukan pada : a. Setiap kali batch larutan kerja (working solution) dibuat. b. Setiap minggu c. Bila sudah mendekati masa daluwarsa. d. Bila ditemukan / terlihat tanda-tanda kerusakan (timbul kekeruhan, perubahan warna, timbul endapan) e. Bila terdapat kecurigaan terhadap hasil pemeriksaan Reagen yang akan divalidasi dalam praktikum ini adalah reagen Anti-A, Anti-b, Anti-D, Bovine Albumin 22 %, Coombs serum, dan Coombs Control Cell. Sebelum memulai proses validasi, masing-masing reagen harus diperhatikan terlebih dahulu nomor batch dan tanggal kadaluarsanya. Nomor Batch atau bets (lot) adalah penandaan yang terdiri dari angka atau huruf atau gabungan keduanya, yang merupakan tanda pengenal suatu bets, yang memungkinkan penelusuran kembali riwayat lengkap pembuatan bets tersebut, termasuk seluruh tahap produksi, pengawasan dan distribusi. Sedangkan tanggal kadaluarsa merupakan gambaran dari stabilitas reagen dalam penyimpanan. Stabilitas reagen merupakan kemampuan suatu produk reagen untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan. Sifat dan karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat produk dibuat. Kestabilan reagen dapat dilihat dari beberapa hal dengan suatu perubahan dalam penampilan fisik seperti warnanya. Sedangkan dalam hal lain perubahan kimia dapat terjadi yang tidak bisa dibuktikan sendiri dan hanya bisa dibuktikan melalui analisis kimia. Nomor batch dan tanggal kadaluarsa masing-masing reagen dicatat pada form validasi reagen. Bila tanggal kadaluarsa reagen telah lewat, maka validasi

tidak dilakukan lagi, karena dapat dipastikan reagen tersebut stabilitasnya berkurang dan tidak baik untuk pemeriksaan. Pada praktikum ini, semua reagen belum melewati tanggal kadaluarsa sehingga uji validasi reagen dilakukan. 1. Uji Validasi Reagen Anti-A dan Anti-B Anti-D Seraclone Anti-A (ABO1) dan Seraclone Anti-B (ABO2) sebagai komponen reaktif mengandung antibodi monoclonal manusia dari

imunoglobulin kelas IgM. Mereka berasal dari jalur sel hibridoma yang dibuat dengan menggabungkan antibodi tikus memproduksi limfosit B dengan sel myeloma tikus. Antibodi ini diencerkan dalam larutan protein yang mengandung sapi buffered albumin, etilendiamin tetraacetate (EDTA), dan sebagai pewarna Paten Biru (Anti-A) atau Tartrazin (Anti-B) dan dengan pengawet 0,1% sodium azide. Reaktivitas semua reagen harus dikonfirmasi oleh pengujian dengan sel darah merah positif dan negatif pada setiap hari gunakan. Untuk mengkonfirmasi reaktivitas atau spesifisitas Reagen Biotest monoklonal Darah (Anti-A dan Anti-B), masing-masing harus diuji dengan antigen-positif dan antigen-negatif sel darah merah mereka masing-masing. Misalnya, untuk menguji reagen Anti-A, digunakan suspensi sel darah A (sebagai antigen positif) dan digunakan juga suspensi sel darah B dan O (sebagai antigen negatif). Masing-masing reagen yang baik untuk digunakan adalah reagen yang hanya bereaksi dengan sel darah merah antigen-positif. Sebelum dilakukan validasi, dicatat terlebih dahulu nomor batch dan tanggal kadaluarsa reagen, yaitu : Anti A monoklonal. (Batch No : 060413, Exp. date : Agustus 2013, Suhu penyimpanan : 2-80C). Anti B monoklonal. (Batch No : 060413, Exp. date : April 2014, Suhu penyimpanan : 2-80C). Dari hal diatas dapat diketahui bahwa reagen belum melewati masa kadaluarsa, sehingga validasi reagen dapat dikerjakan. Dalam praktikum ini. Validasi reagen Anti-A dilakukan dengan metode bloodgrouping plate, dengan formula sebagai berikut :

Sumur 1 Sumur 2 Sumur 3

: 2 tetes anti-A + 1 tetes suspensi sel A 10% : 2 tetes anti-A + 1 tetes suspensi sel B 10% : 2 tetes anti-A + 1 tetes suspensi sel O 10%

Validasi reagen Anti-B dilakukan dengan metode bloodgrouping plate, dengan formula sebagai berikut : Sumur 1 Sumur 2 Sumur 3 : 2 tetes anti-B + 1 tetes suspensi sel A 10% : 2 tetes anti-B + 1 tetes suspensi sel B 10% : 2 tetes anti-B + 1 tetes suspensi sel O 10%

Masing-masing plate lalu digoyangkan untuk menghomogenkan isinya. Setelah itu, diamati aglutinasinya. Hasil validasi pada reagen Anti A adalah pada sumur 1 yang berisi suspensi sel A 10% terjadi aglutinasi (Positif 3), pada sumur 2 yang berisi sel darah B 10% tidak terjadi aglutinasi (Negatif), dan sumur 3 yang berisi suspensi sel O 10% tidak tejadi aglutinasi (Negatif). Hasil validasi pada reagen Anti B adalah pada sumur 1 yang berisi suspensi sel A 10% tidak terjadi aglutinasi (Negatif), pada sumur 2 yang berisi sel darah B 10% terjadi aglutinasi (Positif 3), dan sumur 3 yang berisi

suspensi sel O 10% tidak tejadi aglutinasi (Negatif). Hasil uji kedua reagen ini (Anti-A dan Anti-B), dapat dikatakan valid, karena baik Anti-A maupun Anti-B beraglutinasi dengan antigen yang sesuai, yaitu Anti-A dengan aglutinogen A dan Anti-B dengan aglutinogen B. Prinsip yang digunakan dalam hal ini adalah hemaglutinasi dimana Anti-A (ABO1) maupun Anti-B (ABO2) mengikat antigen yang sesuai pada sel darah merah yang diuji dan menyebabkan reaksi antigen-antibodi terlihat sebagai sel darah merah aglutinasi. Dari hal tersebut dapat dinyatakan bahwa reagen Anti-A dan Anti-B layak untuk digunakan pemeriksaan. 2. Uji Validasi Reagen Anti-D Reagen Anti-D digunakan untuk menguji keberadaan atau tidak adanya antigen D. Antigen D (RH1) adalah antigen yang penting setelah antigen sel darah merah A dan B. Sel yang memiliki D (RH1) adalah antigen "Rh positif" sedangkan sel yang tidak memiliki D (RH1) adalah antigen "Rh negatif".

Sebagai Seraclone komponen reaktif, Anti-D berisi antibodi monoklonal manusia dari imunoglobulin kelas IgM. Antibodi ini berasal dari sel kultur supernatan dan menunjukkan kekhususan dan karakteristik reproduktifitas untuk antibodi monoklonal. Antibodi ini diencerkan dalam larutan garam isotonik yang mengandung buffer albumin sapi dan potensiator

makromolekul. Seperti halnya dengan uji validasi Anti-A dan Anti-B, untuk mengkonfirmasi reaktivitas atau spesifisitas, reagen Anti-D harus diuji dengan antigen-positif dan antigen-negatif sel darah merah masing-masing. Reagen yang baik untuk digunakan adalah reagen yang hanya bereaksi dengan sel darah merah antigen-positif. Nomor batch dan tanggal kadaluarsa reagen Anti-D dicatat dahulu, yaitu, Batch No : 040313, Exp. date : Maret 2014, dengan suhu penyimpanan : 280C. Jadi, dapat diketahui bahwa reagen belum melewati masa kadaluarsa, sehingga validasi reagen dapat dikerjakan. Validasi reagen Anti-D dilakukan dengan metode bloodgrouping plate pula, dengan formula sebagai berikut : Sumur 1 Sumur 2 Sumur 3 Sumur 4 : 2 tetes anti-D IgM positif + 1 tetes suspensi sel A 10 % : 2 tetes anti-D IgM positif + 1 tetes suspensi sel B 10 % : 2 tetes BA 22% + 1 tetes suspensi sel A 10 % : 2 tetes BA 22 % + 1 tetes suspensi sel A 10 %

Suspensi sel yang digunakan merupakan sel darah dengan rhesus positif. Hal ini dilakukan karena sangat jarang terdapat sel darah dengan rhesus negatif. Bovine Albumin 22 % digunakan sebagai autocontrol untuk Anti-D yang menunjukkan apakah uji validasi reagensia anti D yang dilakukan telah dikerjakan dengan benar atau tidak dimana hasilnya harus selalu negatif. Masing-masing plate lalu digoyangkan untuk menghomogenkan isinya. Setelah itu, diamati aglutinasinya. Hasil validasi pada reagen Anti D adalah pada sumur 1 dan 2 terjadi aglutinasi dengan tingkat aglutinasi positif 2. Prinsip yang digunakan dalam hal ini adalah hemaglutinasi dimana Anti- D (RH1) mengikat antigen D pada sel

darah merah dan menyebabkan terjadinya reaksi antigen- antibodi yang terlihat sebagai aglutinasi sel darah merah. Sedangkan pengujian 1 tetes suspensi sel A 10 % dengan 2 tetes Bovine Albumin 22 % pada sumur 3 dan 4 menunjukkan hasil negatif dimana digunakan sebagai autocontrol. Hal ini menunjukkan bahwa reagen Anti-D valid karena Anti-D bereaksi dengan antigennya yang sesuai yaitu sel darah A atau B yang rhesus positif. Sehingga reagen Anti-D layak untuk digunakan pemeriksaan. 3. Uji Validasi Reagen pada Bovine Albumine 22 %, Coombs Serum, dan Coombs Control Cell Pada praktikum ini, uji validasi pada Bovine Albumine 22 %, Coombs Serum, dan Coombs Control Cell, dijadikan satu rangkaian dengan metode tabung. Sebelumnya, dicatat dahulu nomor batch dan tanggal kadaluarsa dari reagen, yaitu : Bovine Albumin 22% : (Batch No : 111212, Exp. date: Desember 2013, Suhu penyimpanan : 2-80C). Coombs serum : (Batch No : SGA 060812, Exp. date : Agustus 2013, Suhu penyimpanan : 2-80C). Coombs Control Cells : tanggal pembuatan 3 Juni 2013

Karena ketiga reagen ini belum melewati tanggal kadaluarsa, maka uji validasi dapat dilakukan. Hal pertama yang dilakukan adalah menguji Bovine Albumine 22 %. Dalam pemeriksaan, Bovine Albumin 22 % ditambahkan ke suspensi sel untuk meningkatkan kemampuan antibodi untuk dapat bergabung dengan antigen spesifik dimana reagen ini tidak akan mempengaruhi tahap pertama haemagglutination (penyerapan antibodi) tetapi akan meningkatkan tahap kedua (aglutinasi) dengan membiarkan sel darah merah yang dilapisi antibodi berdekatan atau dengan kata lain, penambahan Bovine Albumin 22 % berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas test. Pengujian dilakukan dengan cara pada tabung dibuat campuran berikut: Tabung 1 : 1 tetes suspensi sel A 5% + 2 tetes BA 22%

Tabung 2 Tabung 3

: 1 tetes suspensi sel B 5% + 2 tetes BA 22% : 1 tetes suspensi sel O 5% + 2 tetes BA 22%

Kemudian diinkubasi selama 15 menit pada suhu 37C. Lalu, disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 detik. Lalu, diamati aglutinasi yang terbentuk. Hasil yang diperoleh adalah pada tabung 1, 2, dan 3 tidak terjadi aglutinasi (negatif). Karena semua hasilnya adalah negatif, dapat dikatakan bahwa Bovine Albumine 22 % valid, maka validasi dapat dilanjutkan ke pengujian reagen Coombs Serum. Pengujian reagen Coombs Serum dilakukan dengan cara, pada ketiga tabung yang menunjukkan hasil negatif tadi, dicuci 3 kali dengan menggunakan saline untuk menghilangkan bovine albumin 22% yang sebelumnya masih terdapat pada ketiga tabung tersebut. Selain itu pencucian ini juga berfungsi untuk menghilangkan antibodi bebas karena Coombs Serum akan lebih memilih untuk bereaksi pertama dengan antibodi bebas dan kemudian baru bereaksi dengan sel darah yang dilapisi antibodi. Antibodi bebas ini akan menetralisir AHG (Coombs serum) sehingga tidak akan bereaksi dengan sel darah merah yang terikat dengan antibodi dan menimbulkan hasil negatif palsu. Setelah dicuci, masing- masing tabung ditambahkan dengan 2 tetes Coombs Serum. Tabung dikocok perlahan lahan, kemudian diputar 3000 rpm selama 15 detik. Coombs Serum merupakan anti-human monoglobulin. Antibodi di dalam Coombs Serum akan bereaksi dengan antibodi atau komplemen pada sel darah merah, sehingga menyebabkan terjadinya aglutinasi. Namun dalam pengujian ini, hasil yang diperoleh pada tabung 1, 2, dan 3 adalah tidak terjadi aglutinasi (negatif) yang berarti tidak ada antibodi atau komplemen pada sel darah merah. Untuk mengetahui valid atau tidaknya uji validitas reagen Coombs Serum yang dilakukan, maka ketiga tabung tersebut yang memberikan hasil negatif ditambahkan masing masing 1 tetes Coombs Control Cells (CCC). Tabung dikocok perlahan lahan, kemudian diputar 3000 rpm selama 15 detik. CCC adalah sel yang dilapisi dengan antibodi IgG dimana CCC ini akan bereaksi dengan antibodi dalam Coombs serum yang masih mengambang

disekitar dalam tabung. Coombs serum masih mengambang disekitar dalam tabung karena tidak ada antibodi atau komplemen sel darah merah yang berikatan dengan Coombs serum. Sehingga Coombs serum (anti-human globulin) akan berikatan dengan CCC (antibodi IgG) dan membentuk aglutinasi. Jadi, hasil yang diperoleh pada tabung 1, 2, dan 3 adalah terjadi aglutinasi (positif). Karena semua hasilnya adalah positif, dapat dikatakan bahwa pengujian reagen Coombs Serum yang memberikan hasil negatif tadi adalah benar (reagen Coombs serum valid). Hal ini sekaligus juga menguji validitas reagen Coombs Controll Cell (CCC), sehingga reagen Coombs Controll Cell (CCC) juga valid dan baik untuk digunakan dalam pemeriksaan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan antigen dan antisera : a. Penggunaannya harus mengikuti petunjuk pabrik. b. Setiap akan digunakan, antigen atau antibodi dalam botol harus dikocok dahulu dan sesuaikan suhunya dengan suhu kamar. c. Simpan pada suhu yang dianjurkan. d. Ada beberapa reagen serologik yang tidak boleh dibekukan. e. Hindari pembekuan dan pencairan yang berulang-ulang. f. Periksa masa kadaluarsanya, jangan memakai antigem-antisera bila masa kadaluarsanya terlampaui. g. Pemeriksaan selalu dilakukan dengan mengikutsertakan beberapa serum kontrol yang sudah diketahui reaktifitasnya. h. Pasangan serum masa akut dan konvalesen dari penderita yang sama harus diperiksa dengan nomor batch yang sama. i. Setiap batch pemeriksaan serologis harus diikuti : 1. Serum kontrol negatif (kontrol spesifisitas) 2. Serum reaktif yang lemah (kontrol sensitifitas) 3. Serum reaktif yang kuat (kontrol titrasi)

IX. Kesimpulan Dalam praktikum ini hasil uji validasi terhadap reagen Anti-A, Anti-b,
Anti-D, Bovine Albumin 22 %, Coombs serum, dan Coombs Controll Cell pada Senin, 3 Juni 2013 diperoleh hasil yang valid untuk semua reagen sehingga semua reagen ini baik digunakan untuk pemeriksaan

X.

Daftar Pustaka Anti-human Globulin (Coombs) Reagent. Diakses dari :

Anonim. tt.

http://www.sopachem.com/Anti-human-globulin-Coombsreagent.100.0.html Diakses pada : Minggu, 9 Juni 2013 Anonim. tt. Blood Grouping Reagents Anti-A dan Anti-B. Diakses dari : http://www.fda.gov/downloads/BiologicsBloodVaccines/BloodBloodProdu cts/ApprovedProducts/LicensedProductsBLAs/BloodDonorScreening/Bloo dGroupingReagent/ucm081725.pdf Diakses pada : Minggu, 9 Juni 2013 Anonim. tt. Blood Grouping Reagent Anti-D (RH1). Diakses dari :

http://www.fda.gov/downloads/BiologicsBloodVaccines/BloodBloodProdu cts/ApprovedProducts/LicensedProductsBLAs/BloodDonorScreening/Bloo dGroupingReagent/ucm081726.pdf Diakses pada : Minggu, 9 Juni 2013 Anonim. tt. BSA 22% (Bovine Serum Albumin). Diakses dari :

http://www.sanquin.nl/repository/reagentia/ifu/K1106_BSA22__01072005 _en.pdf Diakses pada : Minggu, 9 Juni 2013 Anonim. tt. Coombs Control Cells 970 Diakses dari :

http://www.lornelabs.com/reagents/item/coombs-control-cells.html. Diakses pada : Minggu, 9 Juni 2013 Anonim. 2010. Transfusi Darah. Diakses dari :

http://www.scribd.com/doc/83584521/Transfusi-Darah-ComPlete. Diakses pada : Minggu, 9 Juni 2013 Gustini, Yulisa. 2011. Pemeriksaan Golongan Darah ABO. Diakses dari : http://yulisa-gustini.blogspot.com/2011/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html. Diakses pada : Minggu, 9 Juni 2013

Nasution, Arman Tonny. 2013. Cara Pemeriksaan Coombs Test. Diakses dari : http://armantonnynasution.blogspot.com/2013/01/cara-pemeriksaancoombs-test.html. Diakses pada : Minggu, 9 Juni 2013 Zuensik, Sovasilin. 2012. Transfusi Darah. Diakses dari :

http://sovasilinzuensik.blogspot.com/2012/07/transfusi-darah.html. Diakses pada : Minggu, 9 Juni 2013

LEMBAR PENGESAHAN Denpasar, 10 Juni 2013

Mahasiswa 1. Made Indah Kesuma Dewi 2. Ni Wayan Febi Suantari 3. A.A. Putu Sintya Darmayani 4. Ni Luh Komang Ita Purnamasari 5. I Putu Wijaya Pradharma ( ( ( ( ( ) ) ) ) )

Pembimbing I

Pembimbing II

(dr. Tjok. Gede Oka, MS., Sp.PK)

(dr. Ni Kadek Mulyantari, Sp.PK)

Pembimbing III

Pembimbing IV

(I Gede Putu Sudana)

(Ni Made Darmaasih )

Pembimbing V

Pembimbing VI

(Gusti Ayu Ngurah Wardani)

(Surya Bayu Kurniawan, A.Md.AK)