Anda di halaman 1dari 37

TUGAS FORENSIK

Oleh :

Haryani Dwita 0818011023

Pembimbing:

dr. Agung W. Sp. F

KEPANITERAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNILA INSTALASI FORENSIK RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK LAMPUNG MEI 2013

PERLUKAAN Definisi Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan. Klasifikasi Luka Luka berdasarkan benda penyebabnya dapat diklasifikasikan menjadi: 1) Luka akibat kekerasan benda tumpul Dapat menyebabkan luka yaitu luka lecet, memar dan luka robek atau luka terbuka. Luka lecet Ada 4 ciri-ciri luka lecet (abrasion), yaitu : 1. Sebagian atau seluruh epitel hilang. 2. Kemudian luka akan tertutup oleh eksudat lalu luka mengering atau terbentuk krusta. 3. Terjadi reaksi radang dengan adanya infiltrasi PMN. 4. Tidak meninggalkan jaringan parut / sikatriks. Luka memar Mula-mula timbul pembengkakan kemudian timbul warna merah kebiruan lalu warnanya berubah menjadi biru kehitaman pada hari ke-1 sampai hari ke-3. Setelah itu warnanya berubah menjadi biru kehijauan kemudian coklat. Warna menghilang pada minggu pertama sampai minggu ke-4. Luka Robek Tepi yang tidak teratur Terdapat jembatan-jembatan jaringan yang menghubungkan kedua tepi luka Akar rambut tampak hancur atau tercabut bila kekerasannya di daerah yang berambut Disekitar luka robek sering tampak adanya luka lecet atau luka memar.

2) Luka akibat kekerasan benda tajam Putus atau rusaknya kontinuitas jaringan disebabkan karena trauma akibat alat/senjata yang bermata tajam dan atau berujung runcing. Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa : luka iris atau luka sayat 1. Tepi dan sudut luka tajam. 2. Jembatan jaringan tidak ada. 3. Rambut terpotong.

4. Permukaan luka rata 5. Sekitar luka tidak ada luka memar (contussion) atau luka lecet (abrasion). 6. Luka tidak mengenai tulang. 7. Panjang luka lebih besar daripada dalam luka. 8. Semua senjata bermata tajam berpotensi sebagai penyebab luka iris / luka sayat (incised wound) sehingga identifikasi alat tidak berguna. Luka tusuk 1. Tepi luka tajam atau rata. 2. Sudut luka tajam namun kurang tajam pada sisi tumpul. 3. Rambut terpotong pada sisi tajam. 4. Sekitar luka kadang terdapat luka memar (contussion). Ekimosis karena tusukan sampai mengenai tangkai pisau. 5. Kedalaman luka melebihi panjang luka. Luka bacok.

1.Ukuran luka bacok (chop wound) biasanya besar. 2. Tepi luka bacok (chop wound) tergantung pada mata senjata. 3. Sudut luka bacok (chop wound) tergantung pada mata senjata. 4. Hampir selalu mengakibatkan kerusakan pada tulang. 5. Kadang-kadang memutuskan bagian tubuh yang terkena bacokan. 6. Di sekitar luka dapat kita temukan luka memar (contussion) atau luka lecet (abrasion) atau aberasi. Tabel 1. Ciri-ciri luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri, atau kecelakaan Pembunuhan Sembarang Banyak Terkena ada Tidak ada Mungkin ada Bunuh diri Terpilih Banyak Tidak terkena Tidak ada ada Tidak ada Kecelakaan Terpapar Tunggal/banyak Terkena Tidak ada Tidak ada Mungkin ada

Lokasi luka Jumlah luka Pakaian Luka tangkis Luka percobaan Cedera sekunder

Tabel 2. Perbedaan luka akibat benda tumpul dan benda tajam Trauma Bentuk luka Tepi luka Jembatan jaringan Rambut Dasar luka Sekitar luka Tumpul Tidak teratur Tidak rata Ada Tidak ikut terpotong Tidak teratur Ada luka memar lecet Tajam Teratur Rata Tidak ada Ikut terpotong Berupa garis atau titik atau Tidak ada luka lain

3) Luka akibat tembakan senjata api Terdiri dari luka tembak masuk (LTM) dan luka tembak keluar (LTK). Deskripsi luka yang minimal untuk pasien hidup terdiri dari: 1. lokasi luka 2. ukuran dan bentuk defek 3. lingkaran abrasi 4. lipatan kulit yang utuh dan robek 5. bubuk hitam sisa tembakan, jika ada 6. tattoo, jika ada 7. bagian yang ditembus/dilewati 8. titik hitam atau tanda penyembuhan akibat bedah pengeluaran benda asing dan susunannya 9. penatalaksanaan luka, termasuk debridement, penjahitan, pengguntingan rambut, pembalutan, drainase, dan operasi perluasan luka. 4) Jenis luka akibat suhu / temperatur a) Benda bersuhu tinggi. b) Benda bersuhu rendah. Dapat menyebabkan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah superfisial sehingga terlihat pucat, selanjutnya akan terjadi paralise dari vasomotor kontrol yang mengakibatkan daerah tersebut menjadi kemerahan.

5) Luka akibat trauma listrik Sengatan oleh benda bermuatan listrik dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat berubahnya energi listrik menjadi energi panas. Tabel 3. Skema dari Legrand du Saule untuk Mendiagnosis Luka intravital dan Postmortem Luka intravital 1. Tepi luka : membengkak, keras, terpisah karena retraksi jaringan, infiltrasi darah, lambat laun akan terdapat eksudasi kelenjar limfe dan bernanah. 2. Perdarahan yang berlebihan, terdapat infiltrasi di sekeliling jaringan. 3. Terdapat darah yang membeku di dalam luka atau di atas luka. Luka Postmortem 1. Tepi luka : tidak membengkak, lunak, menutup secara bersamaan dan tidak mengalami retraksi, jarang terjadi eksudasi dari kelenjar limfe. 2. Perdarahan yang sedikit. 3. Penggumpalan darah yang sedikit.

Dalam kasus forensik, membedakan antara vital dan non vital adalah hal yang penting dalam menentukan cara kematian. Luka pada individu yang hidup terutama kulit, menunjukkan gambaran yang khas. Penentuan intravitalitas luka dapat dikatakan sebagai dasar dari pemeriksaan kedokteran forensik terhadap jenazah. Tanpa penentuan tentang intravital atau tidaknya suatu luka, suatu kasus pembunuhan dapat tinggal tersembunyi, atau sebaliknya suatu kematian wajar dapat terangkat menjadi kasus pembunuhan. Luka intravital akibat kekerasan benda tajam berdasarkan : a. Lokasi luka (lokasi luka berbeda-beda berdasarkan jenis kasusnya), yaitu: 1. Pada kasus pembunuhan Lokasi luka dapat ditemukan disembarangan tempat atau di berbagai bagian tubuh korban termasuk bagian-bagian yang sulit dijangkau oleh tangan korban. Biasanya benda tajam tersebut diarahkan ke bagian tubuh yang cepat mematikan misalnya leher, dada kiri, pergelangan tangan, perut dan lipatan paha. 2. Pada kasus bunuh diri Lokasi luka dapat ditemukan di bagian tubuh yang superfisial yang dapat dijangkau oleh tangan korban seperti wajah, leher, pergelangan tangan, perut, dan kaki.

3.

Pada kasus kecelakaan Lokasi luka dapat ditemukan di seluruh tubuh korban tergantung daerah mana yang terkena paparan dari benturan benda tajam tersebut.

b. Ukuran luka Ukuran luka dapat ditentukan dari jenis senjata tajam yang digunakan oleh pelaku. c. Gambaran luka Tepi yang rata, berbentuk garis Tidak terdapat jembatan jaringan Dasar luka berbentuk garis atau titik Keadaan sekitar luka tidak ada luka lecet atau luka memar

d. Daerah Sekitar luka Tidak menunjukkan adanya luka lecet atau luka memar, kecuali bila sebagian gagang turut membentur kulit. e. Derajat Luka Derajat luka dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu : 1. Luka ringan (luka derajat pertama), yaitu luka yang tidak mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau jabatan untuk sementara waktu. Pasal 352 (1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi bawahannya. (2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. 2. Luka sedang (luka derajat kedua), yaitu luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau jabatan untuk sementara waktu 3. Luka berat (luka derajat ketiga), luka yang termasuk dalam pengertian hukum luka berat (pasal 90 KUHP), terdiri atas:

Luka atau penyakit yang tidak dapat diharapkan akan sembuh dengan sempurna. Luka yang dapat mendatangkan bahaya maut. Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya. Kehilangan salah satu dari panca indera. Jika trauma menimbulkan kebutaan satu mata atau kehilangan pendengaran satu telinga, tidak dapat digolongkan kehilangan indera. Cacat berat. Lumpuh. Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa amnesia, disorientasi, anxietas, depresi atau gangguan jiwa lainnya. Keguguran atau kematian janin seorang perempuan.

ASPEK MEDIKOLEGAL. Didalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang menderita luka akibat kekerasan pada hakekatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan dari permasalahan dan kewajiban dokter didalam membuat Visum Et Repertum hanyalah menentukan secara objektif adanya luka , dan bila ada luka dokter harus menentukan derajatnya. sebagai berikut : a. Jenis luka apa yang terjadi. b. Jenis kekerasan/senjata apakah yang menyebabkan luka. c. Bagaimana kualifikasi luka itu

DESKRIPSI LUKA Perlu dijelaskan bahwa deskripsi luka harus seobjektif mungkin, meliputi: 1. Jumlah luka 2. Lokasi luka, meliputi: a. Lokasi berdasarkan regio anatomiknya b. Lokasi berdasarkan garis aksis (garis hayal yang mendatar melalui umbilikus atau papilla mammae atau ujung skapula ) dan garis ordinat (garis hayal yang melalui sternum atau vertebra).

3. Bentuk luka meliputi bentuk sebelum dirapatkan dan bentuk sesudah dirapatkan. 4. Ukuran luka meliputi ukuran sebelum dirapatkan dan sesudah dirapatkan. 5. Sifat-sifat luka, yaitu: a. Garis batas luka, meliputi: - Bentuk (teratur atau tidak teratur). - Tepi (rata atau tidak) - Sudut luka (ada atau tidak, jumlahnya berapa dan bentuknya runcing atau tidak) b. Daerah di dalam garis batas luka, meliputi: - Tebing luka (rata atau tidak serta terdiri dari jaringan apa saja) - Antara kedua tebing ada jembatan jaringan atau tidak - Dasar luka (terdiri atas jaringan apa, warnanya, perabaannya, ada apa di atasnya) c. Daerah di sekitar garis batas luka, meliputi: - Memar (ada atau tidak) - Tato (ada atau tidak) - Jelaga (ada atau tidak) - Bekuan darah (ada atau tidak)

TENGGELAM
Drowning (tenggelam) didefinisikan sebagai kematian akibat mati lemas (asfiksia) disebabkan masuknya cairan di dalam saluran pernapasan. Hal-hal yang perlu diketahui pada kasus tenggelam: 1. Apakah korban meningal pada kasus tenggelam ? 2. Apakah meninggal di air tawar atau asin ? 3. Apakah ada cedera ante-mortem, bila ada apakah berpengaruh dengan pada kematiannya? 4. Apakah ada sebab kematian wajar atau keracunan, dan apakah ini menyebabkan kematian? 5. Bagaimanakah cara kematiannya ?

Pembagian tenggelam (drowing) Dibagi menjadi 2 kelompok besar, sebagai berikut: I. Primary drowing Korban meninggal dalam beberapa menit setelah permulaan peristiwa tenggelam tanpa pertolongan pernafasan buatan. Ada dua macam : 1. Dry drowing Kematian korban oleh karena cardiac arrest yang mendadak dan sirkulasi refleks oleh karena vagal refleks dan sirkulasi kolaps. Tidak ada air yang masuk ke dalam traktus gastrointestinalis maupun traktus respiratorius. Tidak ditemukan kelainan patologis yang bermakna.

2. Wet drowing Tenggelam di air tawar (fresh water) Secara teoritis adalah akibat ventrikular fibrilasi. Kelainan patologis yang ditemukan berupa hipervolemia, hemolisis, hiperkalemia, hipoklorida, hiponatremia. Korban yang tenggelam di air tawar akan mengalami :

1. Air tawar akan dengan cepat diserap dalam jumlah besar sehingga terjadi hemodilusi yang hebat sampai 72% yang berakibat terjadinya hemolisis. 2. Oleh karena terjadi perubahan biokimia yang serius, dimana kalium dalam plasma meningkat dan natrium berkurang, juga terjadi anoksia pada miokardium. 3. Hemodilusi menyebabkan cairan dalam pembuluh darah dan sirkulasi berlebihan berlebihan, terjadi penurunan tekanan sistol dan dalam waktu beberapa menit terjadi fibrilasi ventrikel. 4. Jantung untuk beberapa saat masih berdenyut dengan lemah, terjadi anoksia serebri yang hebat, hal ini menereangkan mengapa kematian terjadi dengan cepat. Tenggelam di air asin (salt water) Kematian akibat oedema pulmoner. Kelainan patologis yang ditemukan berupa hipovolemia, hipoproteinemia, hipernatremia, hiperklorida. Korban tenggelam di air asin dapat terjadi : 1. Terjadi hemokonsentrasi, cairan dari sirkulasi tertarik keluar sampai dengan 42% dan masuk kedalam jaringan paru sehingga terjadi edema pulmonum yang hebat dalam waktu yang relatif singkat. 2. Pertukaran elektrolit dari asin kedalam darah mengakibatkan

meningkatnya hematokrit dan peningkatan kadar natrium plasma darah. 3. Fibrilasi ventrikel tidak terjadi, tetapi terjadi anoksia pada miokardium dan disertai peningkatan viskositas tekanan darah akan menyebabkan payah jantung 4. Tidak terjadi hemolisis melainkan hemokonsetrasi, tekanan sistolik akan menentap dalam beberapa menit. Kematian dapat terjadi dalam waktu 8-12 menit setelah tenggelam II. Secondary drowing Korban meninggal dalam waktu 30 menit sampai beberapa hari setelah tenggelam dan sempat dilakukan pernafasan buatan. Biasanya korban meninggal oleh karena oedema pulmoner, asidosis dan pneumonitis.

Pada pemeriksaan korban tenggelam, hal penting yang perlu ditentukan pada pemeriksaan adalah : 1. Menentukan identitas korban. Indentifikasi korban ditentukan dengan mmeriksa antara lain : a. Pakaian dan benda-benda milik korban b. Warna dan distribusi rambut dan identitas lain c. Kelainan atau deformitas dan jaringan parut d. Sidik jari e. Pemeriksaan gigi f. Teknik identifikasi lain 2. Apakah korban masih hidup sebelum tenggelam Pada mayat yang masih segar, untuk menentukan apakah korban masih hidup atau sudah meninggal pada saat tenggelam, dapat diketahui dari hasil pemeriksaan. a. Metode yag memuaskan untuk menentukan apakah orang masih hidup waktu tenggelam ialah pemeriksaan diatom. b. Untuk membantu menentukan diagnosis, dapat dibandingkan kadar elektrolit magnesium darah dari bilik jantung kiri dan kanan. c. Benda asing dalam paru dan saluran pernafasan serta isi lambung dan usus. 3. Penyebab kematian yang sebenarnya dan jenis drowning. Gambaran pasca mati dapat menunjukkan tipe drowning dan juga penyebab kematian lain seperti penyakit, keracunan atau kekerasan lain. Pada kecelakaan di kolam rennag benturan antemortem (antemortem impact) pada tubuh bagian atas, misalnya memar pada muka, perlukaan pada vertebra servikalis dan medula spinalis dapat ditemukan. 4. Tempat korban pertama kali tenggelam Pemeriksaan diatom dari air tempat korban ditemukan dapat membantu menentukan apakah korban tenggelam ditempat itu atau ditempat lain.

Pemeriksaan otopsi pada korban tenggelam

1. Pemeriksaan Luar 1. Mayat dalam keadaan basah, mungkin berlumuran pasir, lumpur dan bendabenda asing lain yang terdapat dalam air, kalau seluruh tubuh terbenam dalam air. 2. Busa halus putih yang berbentuk jamur (mushroom-like mass) tampak pada mulut atau hidung atau keduanya. Terbentuknya busa halus tersebut dikarenakan masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan merangsang terbentuknya mukus, substansi ini ketika bercampur dengan air dan surfaktan dari paru-paru dan terkocok oleh karena adanya upaya pernapasan yang hebat. Pembusukan akan merusak busa tersebut dan terbentuknya pseudofoam yang berwarna kemerahan yang berasal dari darah dan gas pembusukan 3. Mata setengah terbuka atau tertutup, jarang terdapat perdarahan atau perbendungan. 4. Gambaran kulit angsa atau kutis anserine pada kulit permukaan anterior tubuh terutama pada ekstremitas akibat kontraksi otot erector pili dapat terjadi karena rangsang dinginnya air. Gambaran seperti cutis anserine kadangkala dapat juga akibat rigor mortis pada otot tersebut. 5. Pembusukan sering tampak, kulit berwarna kehijauan atau merah gelap. Pada pembusukan lanjut tampak gelembung-gelembung pembusukan, terutama bagian atas tubuh, dan skrotum serta penis pada pria dan labia mayora pada wanita, kulit telapak tangan dan kaki mengelupas. 6. Washer womans hand, telapak tangan dan kaki berwarna keputihan dan berkeriput yang disebabkan karena imbibisi cairan ke dalam kutis dan biasanya membutuhkan waktu lama. 7. Cadaveric spasme, merupakan tanda intravital yan terjadi pada waktu korban berusaha untuk menyelamatkan diri dengan memegang apa saja seperti rumput atau benda-benda lain dalam air. 8. Luka-luka lecet pada siku, jari tangan, lutut, dan kaki akibat gesekan pada benda-benda dalam air. Puncak kepala mungkin terbentur pada dasar waktu terbenam, tetapi dapat pula terjadi luka post mortal akibat bendabenda atau binatang dalam air. Luka-luka tersebut seringkali

mengeluarkan darah, sehingga tidak jarang memberi kesan korban dianiaya sebelum ditenggelamkan. 9. Pada pria genitalianya dapat membesar, ereksi atau semi-ereksi. Namun yang paling sering dijumpai adalah semi-ereksi. 10. Pada lidah dapat ditemukan memar atau bekas gigitan, yang merupakan tanda bahwa korban berusaha untuk hidup, atau tanda sedang terjadi epilepsi, sebagai akibat dari masuknya korban ke dalam air.

2. Pemeriksaan Dalam 1. Busa halus dan benda asing (pasir, tumbuh-tumbuhan air) dalam saluran pernapasan (trakea dan percabangannya) 2. Paru-paru membesar seperti balon, lebih berat, sampai menutupi kandung jantung. Pada pengirisan banyak keluar cairan. Edema dan kongesti paruparu dapat sangat hebat sehingga beratnya dapat mencapai 700-1000 gram, dimana berat paru-paru normal adalah sekitar 250-300 gram. 3. Paru-paru pucat dengan diselingi bercak-bercak merah di antara daerah yang berwarna kelabu. Pada pengirisan tampak banyak cairan merah kehitaman bercampur buih keluar dari penampang tersebut, yang pada keadaan paru-paru normal, keluarnya cairan bercampur busa tersebut baru tampak setelah dipijat dengan dua jari. Gambaran paru-paru seperti tersebut diatas dikenal dengan nama emphysema aquosum atau emphysema hydroaerique. 4. Petekie sedikit sekali karena kapiler terjepit diantara septum interalveolar. Mungkin terdapat bercak-bercak perdarahan yang disebut bercak Paltauf akibat robeknya penyekat alveoli (Polsin). Petekie subpleural dan bula enfisema jarang terdapat dan ini mungkin merupakan tanda khas tenggelam, tetapi mungkin disebabkan oleh usaha respirasi. 5. Dapat juga ditemukan paru-paru yang biasa karena cairan tidak masuk kedalam alveoli atau cairan sudah masuk kedalam aliran darah (melalui proses imbibisi), ini dapat terjadi pada kasus tenggelam di air tawar. 6. Otak, ginjal, hati dan limfa mengalami pembendungan.

7. Lambung dapat membesar, berisi air, lumpur dan sebagainya yang mungkin pula terdapat dalam usus halus.

Tabel 1. Perbedaan tenggelam di air tawar dan air laut


No. 1. 2. 3. 4. Tenggelam Dalam Air Tawar Paru-paru kering Paru-paru besar tapi ringan Batas anterior menutupi jantung Warna merah pucat dan emfisematous Tenggelam Dalam Air Asin Paru-paru basah Paru-paru besar dan berat Batas anterior menutupi mediastinum Warna mengkilat 5. Paru-paru bila dikeluarkan dari thorax Paru-paru bila dikeluarkan dari thorax, tidak kempis bentuknya mendatar dan bila ditekan menjadi cekung. 6. Bila diiris terdengar krepitasi, tindak Bila diiris terdengar krepitasi menurun, mengempis, tidak mengandung cairan, tanpa ditekan akan keluar banyak cairan. dipijat keluar buih. ungu/kebiruan, permukaan

Banyak cairan dalam lambung. Perdarahan telinga bagian tengah (dapat ditemukan pada kasus asfiksia lain).

Bila jenazah sudah beberapa hari berada dalam air maka terjadi bleaching dan terjadi pembusukan dimana kulit ari banyak terkelupas. Pembusukan terjadi dalam 2 hari setelah tenggelam dalam iklim yang panas. Pada iklim dingin dapat tahan sampai 1 minggu. Pembusukan dimulai pada bagian kepala dan atas tubuh, karena dalam air kepala mempunyai kecendrungan lebih rendah letaknya oleh karena lebih berat. Bila pembusukan sudah merata, seluruh tubuh akan mengapung karena timbunan gas, hal ini disebut floater. Pada stadium tertentu, kulit dapat terkelupas seluruhnya, kadang terjadi mutilasi dari bagian-bagian tubuh akibat persentuhan dengan benda-benda dalam air atau baling-baling kappa atau dimakan binatang air.

Pemeriksaan Khusus Pada Tenggelam : 1. Percobaan Getah Paru Pada penmeriksaan ini dicari benda-benda asing dalam getah paru yang diambil pada daerah subpleura, antara lain : pasir, lumpur, telur cacing, tanaman air, dll (percobaan getah paru positip). Syarat untuk melakukan percobaan getah paru yaitu paru-paru harus belum membusuk. Menurut beberapa ahli, cairan masih dapat mengalir kedalam saluran napas setelah korban meninggal, tetapi tidak sampai pada alveoli. Jadi bila ada benda asing dalam alveoli, maka diagnosisnya adalah tenggelam.Jika percobaan ini positif dan tidak ada sebab kematian lain, kesimpulannya adalah tenggelam. Dengan tenggelam korban belum tentu mati, mungkin mati oleh sebab lain. Bila percobaan tes getah paru negatif dan sebab kematian lain tidak ditemukan, maka kesimpulannya : tidak hal-hal yang menyangkal kalau korban meninggal karena tenggelam. 2. Pemeriksaan Darah Secara Kimia Pemeriksaan ini harus dilakukan secepatnya karena pada post mortem kadar elektrolit (Cl, Na, K, Mg) dalam darah akam mengalami perubahan. Menurut Gettler :
Kadar Elektrolit Tenggelam Dalam Air Tawar Cl Na K Dalam jantung kiri < kanan Dalam plasma menurun Dalam plasma meningkat Dalam jantung kiri > kanan Dalam plasma meningkat jelas Dalam plasma sedikit meningkat Tenggelam Dalam Air Asin

3. Destruction Test Dan Analisa Isi Lambung Usaha untuk mencari diatom (binatang bersel satu) dalam tubuh korban. Karena adanya anggapan bahwa bila orang masih hidup pada waktu tenggelam, maka akan terjadi aspirasi, dan oleh force of respiration terjadinya kerusakan bronkioli/bronkus sehingga terdapat jalan dari diatom untuk masuk kedalam tubuh. Tidak ditemukannya diatom, tidak dapat menyingkirkan bahwa kematian korban bukan karena tenggelam. 4. Pemeriksaan histopatologi jaringan paru

Mungkin ditemukan bintik-bintik perdarahan sekitar bronkioli yang disebut paltauf spot. Dapat juga terjadi asphyxia oleh karena penutupan jalan napas secara mekanis yang lain. Ada tanda-tanda emfisema yang akut dengan pecahnya banyak alveoli. 5. Menentukan berat jenis plasma (BJ plasma)

Pemeriksaan Diatom Diatom merupakan organisme mikroskopik algae uniseluler yang autotropik di alam dan memiliki berbagai macam jenis yang dapat ditemukan di air laut dan air tawar . Pada saat tenggelam berlangsung, diatom masuk ke rongga paru-paru seseorang yang terbuka ketika air terisap, dan air yang masuk menekan rongga paru-paru dan memecahkan alveoli. Melalui alveoli yang pecah diatoms dapat masuk ke jantung, hati, ginjal, sumsum tulang dan otak. Pada diameter dan ketebalan alveoli paru-paru diketahui sangat kecil akan tetapi tidak mustahil semua diatom-diatom dapat masuk ke dalam organ dan rongga paru-paru dimana dapat menembus melalui jaringan kapiler ini disebut Drowning Associated Diatoms(DAD). Analisa diatom merupakan suatu yang dapat menentukan ya atau tidaknya kematian terjadi akibat tenggelam. Sebelum hasil diagnosa kematian dengan korban tenggelam haruslah diketahui morfologi dan morphometric suatu diatom dari korban tenggelam sebab penetrasi suatu diatom di kapiler paru-paru tergantung atas kepadatan dan ukuran diatom tersebut

ASFIKSIA
A. Pengertian

Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbondioksida (hiperkapneu) sehingga organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian.

B. Etiologi Asfiksia Dari segi etiologi, asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut: a. Penyebab alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernapasan seperti laringitis difteri atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru. b. Trauma mekanik yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang mengakibatkan emboli udara vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral; sumbatan atau halangan pada saluran napas, penekanan leher atau dada, dan sebagainya. c. Keracunan bahan kimiawi yang menimbulkan depresi pusat pernapasan, misalnya karbon monoksida (CO) dan sianida (CN) yang bekerja pada tingkat molekuler dan seluler dengan menghalangi penghantaran oksigen ke jaringan.

C. Jenis-jenis Asfiksia Adapun beberapa jenis kejadian yang dapat digolongkan sebagai asfiksia, yaitu: 1. Strangulasi a. Gantung (Hanging) b. Penjeratan (Strangulation by Ligature) c. Pencekikan (Manual Strangulation) 2. Pembengkapan (Smothering) 3. Tenggelam (Drowning)

4. Crush Asphyxia 5. Keracunan CO dan SN

Dari pandangan patologi, kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu: 1. Primer (akibat langsung dari asfiksia) Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh, tidak tergantung pada tipe dari asfiksia. Sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen. Bagian-bagian otak tertentu membutuhkan lebih banyak oksigen, dengan demikian bagian tersebut lebih rentan terhadap kekurangan oksigen. Perubahan yang karakteristik terlihat pada sel-sel serebrum, serebellum, dan basal ganglia. Di sini sel-sel otak yang mati akan digantikan oleh jaringan glial, sedangkan pada organ tubuh yang lain yakni jantung, paru-paru, hati, ginjal dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan oksigen langsung atau primer tidak jelas. 2. Sekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh) Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang rendah dengan mempertinggi outputnya, akibatnya tekanan arteri dan vena meninggi. Karena oksigen dalam darah berkurang terus dan tidak cukup untuk kerja jantung, maka terjadi gagal jantung dan kematian berlangsung dengan cepat. Keadaan ini didapati pada: Penutupan mulut dan hidung (pembekapan). Obstruksi jalan napas seperti pada mati gantung, penjeratan, pencekikan dan korpus alienum dalam saluran napas atau pada tenggelam karena cairan menghalangi udara masuk ke paru-paru. Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan (Traumatic asphyxia). Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat pernafasan, misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk keracunan.

D. Gejala Klinis Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul 4 (empat) Fase gejala klinis, yaitu: 1. Fase Dispnea Terjadi karena kekurangan O2 disertai meningkatnya kadar CO2 dalam plasma darah. Dengan gejala wajah cemas, bibir mulai kebiruan, mata menonjol, denyut nadi, tekanan darah meningkat dan sianosis terutama pada muka dan tangan. 2. Fase Kejang Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan susunan saraf pusat sehingga terjadi kejang (konvulsi). 3. Fase Apnea Korban kehabisan nafas karena depresi pusat pernafasan, otot pernapasan menjadi lemah, kesadaran menurun, tekanan darah semakin menurun, pernafasan dangkal dan semakin memanjang, akhirnya berhenti bersamaan dengan lumpuhnya pusat-pusat kehidupan.

4. Fase Akhir Terjadi paralisis pusat pernapasan yang lengkap. Pernapasan berhenti setelah berkontraksi otomatis otot pernapasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut beberapa saat setelah pernapasan terhenti. E. Tanda Kardinal (Klasik) Asfiksia Berdasarkan pemeriksaan autopsi untuk mendiagnosis kematian akibat asfiksia, telah ditetapkan beberapa tanda klasik, yaitu: 1. Tardieus spot (Petechial hemorrages) Tardieus spot terjadi karena peningkatan tekanan vena secara akut yang menyebabkan overdistensi dan rupturnya dinding perifer vena, terutama pada jaringan longgar, seperti kelopak mata, dibawah kulit dahi, kulit dibagian belakang telinga, jantung, paru dan otak. konjungtiva, sklera mata, permukaan

2. Kongesti dan Oedema Kongesti adalah terbendungnya pembuluh darah, sehingga terjadi akumulasi darah dalam organ yang diakibatkan adanya gangguan sirkulasi pada pembuluh darah, menimbulkan perembesan cairan plasma ke dalam ruang interstitium. 3. Sianosis Merupakan warna kebiru-biruan yang terdapat pada kulit dan selaput lendir yang terjadi akibat peningkatan jumlah absolut Hb tereduksi (Hb yang tidak berikatan dengan O2). 4. Tetap cairnya darah Akibat peningkatan fibrinolisin paska kematian.

F. Gambaran Umum Post Mortem Asfiksia a. Pemeriksaan Luar Pada pemeriksaan luar jenazah didapatkan: 1. Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku.

2. Pembendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung kanan merupakan tanda klasik pada kematian akibat asfiksia. 3. Warna lebam mayat merah-kebiruan gelap dan terbentuk lebih cepat. 4. Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan aktivitas pernapasan pada fase dispneu yang disertai sekresi selaput lendir saluran napas bagian atas. 5. Kapiler yang lebih mudah pecah misalnya pada konjungtiva bulbi dan palpebra 6. Pelebaran pembuluh darah konjungtiva bulbi dan palpebra yang terjadi pada fase kejang. Selain itu, hipoksia dapat merusak endotel kapiler sehingga dinding kapiler yang terdiri dari selapis sel akan pecah dan timbul bintik-bintik perdarahan yang dinamakan sebagai Tardieus spot. b. Pemeriksaan Dalam Pada pemeriksaan dalam (Autopsi) jenazah didapatkan: 1. Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer, karena fibrinolisin darah yang meningkat paska kematian. 2. Busa halus di dalam saluran pernapasan. 3. Pembendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi lebih berat, berwarna lebih gelap dan pada pengirisan banyak mengeluarkan darah. 4. Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium pada bagian belakang jantung belakang daerah aurikuloventrikular,

subpleura viseralis paru terutama di lobus bawah pars diafragmatika dan fisura interlobaris, kulit kepala sebelah dalam terutama daerah otot temporal, mukosa epiglotis dan daerah sub-glotis. 5. Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan hipoksia. 6. Kelainan-kelainan yang berhubungan dengan kekerasan, seperti fraktur laring langsung atau tidak langsung, perdarahan faring terutama bagian belakang rawan krikoid (pleksus vena submukosa dengan dinding tipis)

KEJAHATAN ASUSILA

Undang-Undang Tentang Kejahatan Seksual Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undang-undang, dapat dilihat pada pasal-pasal yang tertera pada bab XIV KUHP, yaitu bab tentang kejahatan terhadap kesusilaan; yang meliputi baik persetubuhan di dalam perkawinan maupun persetubuhan di luar perkawinan.

KUHP pasal 284, KUHP pasal 285 ,KUHP pasal 286 , KUHP pasal 287, KUHP pasal 288, KUHP pasal 289, KUHP pasal 290, KUHP pasal 291, KUHP pasal 292, KUHP pasal 293, KUHP pasal 294, KUHP pasal 295, KUHP pasal 296

Pada

kasus perkosaan dan kejahatan seksual lainnya perlu diperjelas

keterkaitan antara: 1) bukti-bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara, 2) pada tubuh atau pakaian korban, 3) pada tubuh atau pakaian pelaku dan 4) pada alat yang digunakan pada kejahatan ini (yaitu penis).

Pembuktian adanya persetubuhan

Persetubuhan adalah peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina, penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi. Dengan demikian hasil dari upaya pembuktian persetubuhan dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya: besarnya penis dan derajat penetrasinya bentuk dan elastisitas hymen ada tidaknya ejakulasi dan keadaan ejakulat itu sndiri posisi persetubuhan keaslian barang bukti serta waktu pemeriksaan

Dengan demikian, tidak terdapatnya robekan pada hymen, tidak dapat dipastikan bahwa pada wanita tidak terjadi penetrasi; sebaliknya adanya robekan pada hymen hanya merupakan adanya suatu benda (penis atau benda lain), yang masuk ke dalam vagina. Apabila pada persetubuhan tersebut disertai dengan ejakulasi dan ejakulat tersebut mengandung sperma, maka adanya sperma di dalam liang vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan. Apabila ejakulat tidak mengandung sperma maka pembuktian adanya persetubuhan dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap ejakulat tersebut. (1) Anamnesis Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan pada visum et repertum di bawah kalimat keterangan yang diperoleh dari korban. Dalam mengambil anamnesis dokter meminta kepada korban untuk menceritakan segala sesuatu tentang kejadian itu. Umum Umur, tanggal lahir Status perkawinan Haid: siklus haid, haid terakhir Penyakit kelamin dan penyakit kandungan Penyakit lain Apakah pernah bersetubuh, kapan persetubuhan terakhir, apakah menggunakan kondom. b. Khusus Waktu kejadian Dimana terjadinya Apakah korban melawan Jika korban mengadakan perlawanan, pada pakaian mungkin didapatkan robekan, dan pada tubuh korban mungkin ditemukan tandatanda kekerasan. Nail scrapping (goresan kuku) menunukkan adanya sel-sel epitel dan darah yang berasal dari penyerang. Pada penyerang mungkin dapat ditemukan tanda-tanda bekas dilawan. Apakah korban pingsan

Ada kemungkinan korban menjadi pingsan karena ketakutan, tetapi mungkin juga korban dibuat pingsan oleh pelaku dengan pemberian obat-obatan. Dalam hal ini pengambilan sampel urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologi wajib dilakukan. Apakah telah terjadi penetrasi dan ejakulasi Apakah setelah kejadian korban mencuci, mandi, dan mengganti pakaian.

2. Pemeriksaan Fisik c. Pemeriksaan pakaian d. Pemeriksaan badan Umum Lukisan rupanya (rambut, wajah) rapi atau kusut. Keadaan emosi: tenang, sedih, gelisah, dan sebagainya. Adakah tanda-tanda bekas hilag kesadaran atau tanda-tanda bekas berada di bawah pengaruh alkohol, obat tidur, atau obat bius. Apakah ada tanda-tanda needle mark, bila ada maka merupakan indikasi untuk mengambil sampel darah dan urin. Adakah tandatanda bekas kekerasan.Memar atau luka lecet pada daerah mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam, punggung. Perkembangan alat seks sekunder Pupil Tekanan darah, kor, pulmo, abdomen, refleks Khusus (pemeriksaan daerah genital) Adakah rambut kemaluan yang melekat menjadi satu karena air mani yang mengering. diperiksa. Adakah bercak air mani di sekitar alat kelamin. Bila ada, hapus dengan lidi berkapas yang dibasahi larutan garam fisiologis. Pada vulva teliti adanya tanda bekas kekerasan seperti hiperemi, edema, memar, dan luka lecet. Bila ada, rambut tadi digunting untuk

Periksa jenis selaput dara, adakah ruptur atau tidak.

Bila ada,

tentukan ruptur lama atau baru dan catat lokasi ruptur tersebut, teliti apakah sampai insertio atau tidak. Tentukan besar orifisium. Periksa frenulum labiorum pudendi dan comissura labiorum posterior utuh atau tidak. Periksa vagina dan spekulum bila keadaan alat genital

memungkinkan. Periksa tanda-tanda adanya penyakit kelamin. Periksa tanda-tanda kehamilan (2) Pemeriksaan laboratorium cairan vagina Sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan

pengambilan sampel. Sampel didapat dari cairan vagina untuk pemeriksaan air mani dan sekret uretra untuk pemeriksaan penyakit kelamin. Cairan vagina disedot dengan pipet Pasteur, atau diambil dengan ose. Pada anak-anak, atau jika selaput dara utuh sebaiknya pengambilan bahan dibatasi sampai vestibulum. a. Penentuan spermatozoa Tanpa pewarnaan Setetes cairan vagina diletakkan di atas kaca benda dan diperiksa dengan pembesaran 500x dengan kondensor diturunkan. Perhatikan apakah spermatozoa bergerak. Dapat diambil sebagai patokan bahwa spermatozoa masih bergerak kira-kira 4 jam postkoital. Dengan pewarnaan Buat sediaan apus dari cairan vagina pada kaca benda, keringkan di udara, fiksasi dengan api, warnai dengan Malachite-green 1% dalam air, tunggu 10-15 menit, cuci dengan air, warnai dengan eosinyellowish 1% dalam air, tunggu 1 menit, cuci dengan air, keringkan dan diperikasa di bawah mikroskop. Hasil yang diharapkan adalah bagian basis kepala sperma berwarna ungu, bagian hidung berwarna merah muda. b. Penentuan cairan mani Reaksi asam fosfatase

Cairan mani menunjukkan aktitifitas enzim fosfatase yang tinggi, ratarata 2500 unit K.A. sedangkan dalam sekret vagina, setelah 8 hari abstinensia seksualis, ditemukan 0-6 unit. Sebagai reagen digunakan brentamin fast blue b yang dilarutkan di dalam larutan buffer yang telah ditambah sodium a-naphtyl fosfat. Enzim asam fosfatase menghidrolisis a-naphty fosfat; a-naphtol yang telah dibebaskan bereaksi dengan brentamine di atas kertas saring, disemprot dengan reagen, ditentukan dalam berapa detik warna violet timbul (reaction time). Davis dan Wilson menyatakan bahwa bila waktu reaksi kurang dari 30 detik dapat dianggap indikasi baik dan adanya cairan mani, jika kurang dari 65 detik dapat dianggap sebagai indikasi cukup, tetapi masih perlu dikuatkan dengan pemeriksaan elektroforetik. Waktu reaksi yang lebih dari 65 detik belum dapat menyingkirkan sepenuhnya adanya cairan mani, karena pernah ditemukan waktu reaksi yang lebih dari 65 detik, tetapi spermatozoa ditemukan. Tes Florence Cairan vagina ditetesi larutan yodium. Kristal yang terbentuk diamati di bawah mikroskop. Hasil yang diharapkan tampak kristal-kristal kholin-peryodida tampak berbentuk arum-jarum yang berwarna coklat. Tes Berberio Cairan vagina ditetesi larutan asam pikrat, kemudian kristal yang terbentuk diamati di bawah mikroskop. Hasil yang diharapkan adalah terbentuknya kristal-kristal spermin pikrat berbentuk rhombik atau jarum kompas yang berwarna kuning kehijauan. Elektroimmunodifusi Digunakan serum anti air mani manusia. Selain spesifik terhadap

antigen manusia, serum ini juga mengandung zat anti terhadap enzim fosfatase. Apabila serum ini direaksikan dengan air mani akan

terbentuk enzim antibodi kompleks yang ternyata masih memiliki sifat enzimatik dan dapat dinyatakan dengan reagen asam phospatase.

Sebagai medium digunakan plat agar yang mengandung serum anti dalam konsentrasi kecil. Elektroforetik Digunakan plat akrilamide, dikembangkan dalam suatu larutan buffer pH 3 dan dilihat di bawah sinar ultraviolet. Asam fosfatese seminal bergerak sejauh 4 cm dan asam fosfatase vaginal sejauh 3 cm. (3) Pemeriksaan air mani yang terdapat pada pakaian a. Visual Tampak sebagai bercak yang berbatas jelas dan lebih gelap dari sekitarnya. Bercak yang sudah agak tua berwarna sedikit kekuning-kuningan. Pada bahan sutera atau nilon batasnya sering tidak jels, tetapi selalu lebih gelap dari sekitarnya. b. Sinar ultraviolet Menunjukkan flouresensi putih. Apa yang menyebabkan hal ini tidak diketahui. Cara ini kurang memuaskan. Bercak air mani pada sutera buatan, nilon, biasanya tidak memberikan flourosensi.bahan makanan, urine, sekret vagina juga sering menimbulkan flourosensi. c. Taktil Diraba dengan ari-ari tangan terasa kaku seperti cairan kanji yang tidak menyerap. Bila diraba permukaan bercak terasa kasar. d. Penapisan dengan reagen asam fosfatase Selembar kertas saring yang dibasahi dengan aqua destilata dilekatkan di atas pakaian atau sprei yang diperiksa. Setelah 5-10 menit kertas saring diangkat, didiamkan sampai hampir kering dan disemprot dengan reagen. Ika terbentuk bercak violet, kertas saring diletakkan kembali di atas bahan sesuai dengan letaknya semula. Dengan demikian letak bercak mani pada bahan dapat dilokasi. e. Pencairan spermatozoa Konsentrasi spermatozoa yang terbesar terdapat di bagian sentral dari bercak. Dari bagian itu diambil sebagian kecil, dipulas dengan pewarnaan Baeechi.

Pemeriksaan DNA

Pada kasus perkosaan ditemukannya pita-pita DNA dari benda bukti atau karban yang ternyata identik dengan pita-pita DNA tersangka menunjukkan bahwa tersangkalah yang menjadi donor sperma. Ditemukannya metode penggandaan DNA secara enzimatik (Polymerase Chain Reaction atau PCR) membuka lebih banyak kemungkinan pemeriksaan DNA. Dengan metode ini bahan sampel yang amat minim jumlahnya tidak lagi menjadi masalah karena DNAnya dapat diperbanyak jutaan sampai milyaran kali lipat di dalam mesin yang dinamakan mesin PCR atau thermocycler. Dengan metode ini waktu pemeriksaan juga banyak dipersingkat, lebih sensitif serta lebih spesifik pula. Pada metode ini analisis DNA dapat dilakukan dengan sistim dotblot yang berbentuk bulatan berwarna biru, sistim elektroforesis yang berbentuk pita DNA atau dengan pelacakan urutan basa dengan metode sekuensing.

Kesimpulan Visum Et Repertum Kesimpulan Visum Et Repertum korban perkosaan berisi : 1. Usia korban 2. Tanda persetubuhan Tanda penetrasi Tanda ejakulasi

3. Tanda kekerasan (di seluruh tubuh dan di sekitar alat kelamin ) 4. Jenis kekerasan

KESIMPULAN Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan. Luka berdasarkan benda penyebabnya dapat diklasifikasikan menjadi

luka akibat kekerasan tumpul Luka akibat kekerasan tajam

Klasifikasi Luka

luka akibat tembakan senjata api

Luka akibat suhu

Luka akibat trauma listrik

Perbedaan luka akibat benda tumpul dan benda tajam Trauma Bentuk luka Tepi luka Jembatan jaringan Rambut Dasar luka Sekitar luka Tumpul Tidak teratur Tidak rata Ada Tidak ikut terpotong Tidak teratur Ada luka lecet atau memar Tajam Teratur Rata Tidak ada Ikut terpotong Berupa garis atau titik Tidak ada luka lain

Luka intravital akibat kekerasan benda tajam berdasarkan : b. Lokasi luka (lokasi luka berbeda-beda berdasarkan jenis kasusnya) b. Ukuran luka c. Gambaran luka d. Daerah Sekitar luka e. Derajat Luka Terbagi menjadi luka ringan, sedang, dan luka berat

Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbondioksida (hiperkapneu) sehingga organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian. Adapun beberapa jenis kejadian yang dapat digolongkan sebagai asfiksia, yaitu: 6. Strangulasi a. Gantung (Hanging) b. Penjeratan (Strangulation by Ligature) c. Pencekikan (Manual Strangulation) 7. Pembengkapan (Smothering) 8. Tenggelam (Drowning) 9. Crush Asphyxia 10. Keracunan CO dan SN

Tardieu's spot Kongesti dan oedema


Tanda Kardinal Asfiksia

Sianosis

Tetap cairnya darah

Pemeriksaan Luar

1. Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku.


2. Pembendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung kanan merupakan tanda klasik pada kematian akibat asfiksia. 3. Warna lebam mayat merah-kebiruan gelap dan terbentuk lebih cepat. 4. Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan aktivitas pernapasan. 5. Kapiler yang lebih mudah pecah misalnya pada konjungtiva bulbi dan palpebra 6. Pelebaran pembuluh darah konjungtiva bulbi dan palpebra

Pemeriksaan Dalam
1. Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer. 2. Busa halus di dalam saluran pernapasan. 3. Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium pada bagian belakang jantung belakang daerah aurikuloventrikular, subpleura viseralis paru terutama di lobus bawah pars diafragmatika dan fisura interlobaris. 4. Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan hipoksia.

TENGGELAM

Drowning (tenggelam) didefinisikan sebagai kematian akibat mati lemas (asfiksia) disebabkan masuknya cairan di dalam saluran pernapasan. Hal-hal yang perlu diketahui pada kasus tenggelam: 6. Apakah korban meningal pada kasus tenggelam ? 7. Apakah meninggal di air tawar atau asin ? 8. Apakah ada cedera ante-mortem, bila ada apakah berpengaruh dengan pada kematiannya? 9. Apakah ada sebab kematian wajar atau keracunan, dan apakah ini menyebabkan kematian? 10. Bagaimanakah cara kematiannya ?

Pembagian tenggelam (drowing) Dibagi menjadi 2 kelompok besar, sebagai berikut: III. Primary drowing Ada dua macam : 3. Dry drowing 4. Wet drowing Tenggelam di air tawar (fresh water) Tenggelam di air asin (salt water)

IV. Secondary drowing

Pemeriksaan Luar
1. Mayat dalam keadaan basah, 2. Busa halus putih yang berbentuk jamur (mushroom-like mass) tampak pada mulut atau hidung atau keduanya. 3. Mata setengah terbuka atau tertutup, jarang terdapat perdarahan atau perbendungan. 4. Gambaran kulit angsa atau kutis anserine pada kulit permukaan anterior tubuh 5. Pembusukan sering tampak, kulit berwarna kehijauan atau merah gelap. 6. Washer womans hand, telapak tangan dan kaki berwarna keputihan dan berkeriput 7. Cadaveric spasme 8. Luka-luka lecet 9. Pada pria genitalianya dapat membesar, ereksi atau semi-ereksi. 10. Pada lidah dapat ditemukan memar atau bekas gigitan.

Pemeriksaan Dalam

1. Busa halus dan benda asing dalam saluran pernapasan 2. Paru-paru membesar seperti balon dan lebih berat 3. Paru-paru pucat dengan diselingi bercak-bercak merah di antara daerah yang berwarna kelabu. 4. Petekie sedikit sekali karena kapiler terjepit diantara septum interalveolar. 5. Otak, ginjal, hati dan limfa mengalami pembendungan. 6. Lambung dapat membesar, berisi air, lumpur dan sebagainya yang mungkin pula terdapat dalam usus halus.

KEJAHATAN ASUSILA

Pasal-pasal yang tertera pada bab XIV KUHP, yaitu bab tentang kejahatan terhadap kesusilaan; yang meliputi baik persetubuhan di dalam perkawinan maupun persetubuhan di luar perkawinan yaitu KUHP pasal 284, KUHP pasal 285 ,KUHP pasal 286 , KUHP pasal 287, KUHP pasal 288, KUHP pasal 289, KUHP pasal 290, KUHP pasal 291, KUHP pasal 292, KUHP pasal 293, KUHP pasal 294, KUHP pasal 295, KUHP pasal 296 (4) Anamnesis Terbagi menjadi anamnesa umum dan khusus Umum Umur, tanggal lahir Status perkawinan Haid: siklus haid, haid terakhir Penyakit kelamin dan penyakit kandungan Penyakit lain Apakah pernah bersetubuh, kapan persetubuhan terakhir, apakah menggunakan kondom. b. Khusus Waktu kejadian Dimana terjadinya Apakah korban melawan

Jika korban mengadakan perlawanan, pada pakaian mungkin didapatkan robekan, dan pada tubuh korban mungkin ditemukan tandatanda kekerasan. Nail scrapping (goresan kuku) menunukkan adanya sel-sel epitel dan darah yang berasal dari penyerang. Pada penyerang mungkin dapat ditemukan tanda-tanda bekas dilawan. Apakah korban pingsan

Ada kemungkinan korban menjadi pingsan karena ketakutan, tetapi mungkin juga korban dibuat pingsan oleh pelaku dengan pemberian obat-obatan. Dalam hal ini pengambilan sampel urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologi wajib dilakukan. Apakah telah terjadi penetrasi dan ejakulasi Apakah setelah kejadian korban mencuci, mandi, dan mengganti pakaian. 2. Pemeriksaan Fisik c. Pemeriksaan pakaian d. Pemeriksaan badan Umum Lukisan rupanya (rambut, wajah) rapi atau kusut. Keadaan emosi: tenang, sedih, gelisah, dan sebagainya. Adakah tanda-tanda bekas hilang kesadaran atau tanda-tanda bekas berada di bawah pengaruh alkohol, obat tidur, atau obat bius. Adakah tanda-tanda bekas kekerasan. Perkembangan alat seks sekunder Khusus (pemeriksaan daerah genital) Adakah rambut kemaluan yang melekat menjadi satu karena air mani yang mengering. diperiksa. Adakah bercak air mani di sekitar alat kelamin. Bila ada, hapus dengan lidi berkapas yang dibasahi larutan garam fisiologis. Pada vulva teliti adanya tanda bekas kekerasan seperti hiperemi, edema, memar, dan luka lecet. Periksa jenis selaput dara, adakah ruptur atau tidak. Bila ada, tentukan ruptur lama atau baru dan catat lokasi ruptur tersebut, teliti apakah sampai insertio atau tidak. Tentukan besar orifisium. Periksa frenulum labiorum pudendi dan comissura labiorum posterior utuh atau tidak. Bila ada, rambut tadi digunting untuk

Periksa

vagina

dan

spekulum

bila

keadaan

alat

genital

memungkinkan. Periksa tanda-tanda adanya penyakit kelamin. Periksa tanda-tanda kehamilan (5) Pemeriksaan laboratorium cairan vagina Sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan

pengambilan sampel. Sampel didapat dari cairan vagina untuk pemeriksaan air mani dan sekret uretra untuk pemeriksaan penyakit kelamin. a. Penentuan spermatozoa Tanpa pewarnaan Dengan pewarnaan

f. Penentuan cairan mani Reaksi asam fosfatase Tes Florence Tes Berberio Elektroimmunodifusi Elektroforetik

(6) Pemeriksaan air mani yang terdapat pada pakaian a. Visual b. Taktil Pemeriksaan DNA Pada kasus perkosaan ditemukannya pita-pita DNA dari benda bukti atau karban yang ternyata identik dengan pita-pita DNA tersangka menunjukkan bahwa tersangkalah yang menjadi donor sperma. Kesimpulan Visum Et Repertum korban perkosaan berisi : 5. Usia korban 6. Tanda persetubuhan Tanda penetrasi Tanda ejakulasi

7. Tanda kekerasan (di seluruh tubuh dan di sekitar alat kelamin ) 8. Jenis kekerasan

DAFTAR PUSTAKA

1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997; p.131-168. 2. Hueske E. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks, Practice and Resource. 2006 3. Budiyanto A., Widiatmaka W., Sudiono S, et al., Kematian Karena Asfiksia Mekanik, Ilmu Kedokteran Forensik Universitas Indonesia, Jakarta: 1997. 4. Dahlan S, Asfiksia, Ilmu Kedokteran Forensik, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang: 2000. 5. Iedris M, dr., Tjiptomartono A.L, dr., Asfiksia., Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan., Sagung Seto., Jakarta: 2008. 6. Amir A, Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik, ed 2, Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan, 2007. 7. Anonim, 1994, Peraturan Perundang-Undangan Bidang Kedokteran, Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta. 8. Munim A. Tenggelam. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi 1. Binarupa Aksara.Jakarta. 2005