Anda di halaman 1dari 21

ACARA I ASIDIMETRI-ALKALIMETRI A. Tujuan praktikum Tujuan dari praktikum acara I Asidi-Alkalimetri adalah : 1.

Melakukan standardisasi NaOH dengan larutan baku primer (COOH)2.2H2O (asam oksalat) dan melakukan standardisasi HCl dengan larutan Natrium Hidroksida. 2. Menghitung kadar asam laktat pada susu dan susu asam serta menghitung kadar basa pada bermacam-macam soda. B. Tinjauan Pustaka 1. Tinjauan Bahan Titrasi asam basa biasanya dibuat larutan-larutan asam atau basa dengan sekitar konsentrasi yang diinginkan dan kemudian distandarisasikan salah satu dari larutan dengan suatu standar primer. Larutan yang dengan demikian telah distandarisasikan dapat dipkai sebagai suatu standar sekunder untuk memperoleh normalitas larutan yang lainnya. Untuk pekerjaan yang sangat teliti, sepatutnya kedua asam dan basa distandarisasikan sendiri-sendiri terhadap standar primer. Satu dari standar primer yang sangat luas dipergunakan untuk larutan-larutan basa ialah senyawa kalium hidrogen ftalat, KHC8H4O4 disingkat KHP. Asam sulfamat, HSO3NH2 dan kalium hidrogen iodat, KH(IO3)2, keduanya asam kuat yang sangat baik. Natrium karbonat Na2CO3 dan tris (hidroksimetri) aminometan, (CH2OH)3CNH2 dikenal sebagai TRIS atau THAM merupakan standar primer umum untuk asam-asam kuat (Underwood, 1981). Larutan baku primer berfungsi untuk membakukan atau memastikan konsentrasi larutan tertentu, yaitu larutan atau pereaksi yang ketepatan/kepastian konsentrasinya sukar diperoleh melalui pembuatannya secara langsung. Larutan yang sukar dibuat secara kuantitatif ini selanjutnya dapat berfungsi sebagai larutan baku (disebut larutan baku sekunder)

setelah dibakukan jika larutan tersebut bersifat stabil sehingga dapat digunakan untuk menetapkan konsentrasi larutan lain atau kadar suatu cuplikan. Larutan baku sekunder kemolarannya ditetapkan langsung terhadap larutan baku primer (Mulyono, 2008). Zat warna indikator metil merah merupakan zat warna anionik atau sering disebut dengan zat warna asam, yang sangat berguna sebagai larutan indikator asam bagi kepentingan analitik di berbagai laboratorium kimia. Laboratorium yang bersangkutan terus-menerus akan membuang zat-zat tersebut ke lingkungan. Zat warna metil merah secara perlahan akan mencemari lingkungan sekitar laboratorium. Sebagai masyarakat ilmiah yang setiap saat ada di laboratorium kimia dan menggunakan zat warna metil merah, harus mempunyai upaya mengurangi cemaran zat tersebut sebelum dibuang ke lingkingan perairan (Widhi, 2003). 2. Tinjauan Teori Reaksi antara zat yang dipilih sebagai standar primer dan asam atau basa jelas harus memenuhi persyaratan bagi analisa titrimetrik. Tambahan pula standar primer harus mempunyai sifat-sifat berikut: a. Harus mudah didapat dalam bentuk murni atau dalam keadaan kemurnian yang diketahui. b. Zat harus mudah dikeringkan dan tidak boleh demikian higroskopik sehingga menarik air sewaktu ditimbang. c. Standar primer sepatutnya mempunyai berat ekuivalen yang tinggi untuk dapat mengurahi akibat kesalahan penimbangan. d. Asam atau basanya, sebaiknya yang kuat yaitu terdisosiasi tinggi (Underwood, 1981). Dalam titrasi, suatu larutan yang hrus dinetralkan, misalnya asam, dimasukkan ke dalam wadah atau tabung. Larutan lain, yaitu basa, dimasukkan ke dalam buret lalu dimasukkan ke dalam asam, mula-mula cepat, kemudian tetes demi tetes, sampai titik setara dari titrasi tersebut tercapai. Salah satu usaha untuk mencapai titik setara adalah melalui perubahan warna dari indikator asam basa. Titik pada titrasi dimana

indikator berubah warna dinamakan titik akhir dari indikator. Ini dapat tercapai jika dapat menemukan indikator perubahan warnanya terjadi dalam selang pH yang meliputi pH sesuai dengan titik setara (Petrucci, 1992). Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-basa) yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji, kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya. Jadi apabila larutan tersebut merupakan larutan asam maka harus diberikan basa sebagai larutan ujinya, begitu pula sebaliknya. Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan metode yang sederhana dan sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri (riset dan pengembangan). Pada pengukuran konsentrasi larutan dengan menggunakan metode titrasi asam-basa, biasanya cara umum yang sering dilakukan adalah dengan menetesi larutan yang diuji, yang sebelumnya telah diberi larutan indikator, dengan larutan uji. Ditetesi hingga terjadi perubahan warna dari larutan indikator, apabila terjadi perubahan warna yang disebut titik akhir maka penetesan larutan uji dihentikan (Shevchenko, 2008). Ada sedikitnya dua sumber kesalahan dalam penentuan titik akhir suatu titrasi dengan menggunakan indicator visual. Satu terjadi apabila indicator yang digunakan tidak berubah warna pada pH yang sesuai. Ini merupakan kesalahan tetap dn dapat dibetulkan dengan penentuan suatu blangko indicator. Ini hanyalah volume asam atau basa yang diperlukan untuk merubah pH dari pH pada titik ekivalen ke pH pada saat indicator berubah warna. Blangko indicator biasanya ditentukan secara eksperimental (Soendoro, 1980). Titrasi asam basa akan menjadi setimbang (pH) apabila jumlah asam setara dengan jumlah basa. Kesetimbangan asam basa adalah salah satu dari ketentuan yang terjadi pada hukum alam yang mendasari penciptaan dan makrokosmos. Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan

ekuivalen. Keadaan ini disebut titik ekuivalen. Pada saat titik ekuivalen ini maka titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita dapat menghitung kadar titrant (Dani, 2009). Dalam titrasi, suatu larutan yang harus dinetralkan, misalnya asam, dimasukan kedalam wadah atau tabung. Larutan lain yaitu basa, dimasukkan kedalam buret lalu dimasukkan kedalam asam mula-mula cepat, kemudian tetes demi tetes, sampai titik setara dari titrasi tersebut tercapai. Salah satu usaha untuk mencari titik setara adalah melalui perubahan indikator asam basa. Titik pada titrasi di mana indikator berubah warna dinamakan titik akhir (Petrucci, 1987). C. Metodologi 1. Alat a. Propipet b. Erlenmeyer c. Buret d. Pipet ukur e. Statip 2. Bahan a. HCl b. Larutan NaOH 0,053 c. Soda abu (Na2CO3) d. Caustic soda (NaOH) e. Indikator metil merah f. Asam okasalat (COOH)2.2H2O 0,1 N g. Indikator PP 1% h. NaOH i. Yoghurt

j. Susu UHT 3. Cara kerja a. Standardisasi HCl dengan larutan baku primer NaOH 10 ml NaOH 0,053 N dipipet ke dalam Erlenmeyer

Ditambahkan 2-3 tetes indikator metil merah

NaOH dititrasi dengan HCl, perhatikan perubahan warna

Normalitas HCl dihitung dengan menggunakan rumus : (V . N) NaOH = (V . N) HCl

b. Penentuan kadar basa pada bermacam-macam soda Ditimbang 0,1 gr bahan

Dilarutkan dengan aquades dalam labu takar 50 ml

10 ml larutan di atas dipipet ke dalam Erlenmeyer

Ditambahkan 2-3 tetes indikator merah metil

dititrasi soda abu dan causatic soda dengan HCl 0,027 N, diperhatikan titik perubahan warna dan intervalnya.

Kadar basa dihitung dengan menggunakan rumus : Kadar basa (%w/w) =


(N x ml)HCl x BE x 100/10 x 100% gr bahan x 1000

c. Standardisasi NaoH dengan Larutan Baku Primer (COOH)2.2H2O Asam oksalat dipipet sebanyak 10 ml ke dalam tabung Erlenmeyer Ditambahkan 3 tetes indikator PP 1%

Larutan NaOH disiapkan dalam buret

Asam oksalat dititrasiakan dengan NaOH dalam buret hingga terjadi (tepat) perubahan warna, titrasi dihentikan

Setelah itu normalitas dihitung d. Penentuan Kadar Asam Laktat pada Susu dan Susu Asam 5 ml yogurt/susu segar/yakult/susu UHT dipipet dan dimasukkan ke dalam tabung erlenmeyer 50 ml Bahan kemudian dicampur dengan 5 ml aquadest (khusus yogurt) dan ditambahkan 5 tetes indikator pp 1% Titrasi dilakukan dengan standart NaOH (0,053 N) Lalu kurva titrasi digambar pada kertas millimeterblok

Diperhatikan titik perubahan warna dan intervalnya

Setelah itu kadar asam laktat dihitung

D. Hasil dan Pembahasan Pada percobaan acara 1 yaitu asidimetri ini ada 2 tahap yang kita harus kita lakukan, yaitu tahap standarisasi HCl dengan larutan baku primer NaOH dan tahap menghitung kadar basa pada beberapa macam soda. Pada tahap yang Standarisasi kali ini digunakan larutan baku standar NaOH sebagai titratnya dan HCl sebagai titrannya. Serta menggunakan indikator metil merah yang di teteskan pada larutan tersebut. a. Standardisasi HCl dengan larutan baku primer NaOH Tabel 1.1 Hasil standardisasi HCl dengan larutan baku primer NaOH Kel 1,11 12 23 N NaOH (N) 0,053 0,053 0,053 Rata-rata V NaOH (ml) 10 ml 10 ml 10 ml N HCl (N) 0,027 0,027 0,027 0,027 V HCl (ml) 20 20 20,35 Perubahan warna bening merah bening Kuning bening merah bening Kuning merah

Sumber : laporan sementara

Tujuan menstandarisasi HCl ini karena HCl merupakan larutan baku sekunder yang mudah dipengaruhi oleh karbondioksida dalam udara yang menyebabkan HCl tidak murni lagi dan bila ditimbang dalam jumlah tertentu, sukar untuk mengetahui berapa sebenarnya HCl murni yang terkandung di dalamnya, karena jumlah karbondioksida yang ditarik oleh HCl tidak dapat ditentukan.

Setelah standarisasi dengan larutan NaOH, dan dimasukan 2-3 tetes indikator metil merah di dalam erlenmeyer. Kemudian dititrasi dengan HCl. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : NaOH + HCl NaCl + H2O Pada kelompok 1 dan 11, volume HCl yang diperlukan dalam titrasi ini adalah 20 ml dengan perubahan warna dari bening menjadi merah bening. Pada praktikum kali ini diketahui normalitas NaOH sebesar 0,0538 N. Sedangkan normalitas HCl adalah 0,0269 N. Dan untuk kelompok 12, volume HCl yang diperlukan dalam titrasi ini adalah 20 ml dengan perubahan warna dari bening kuning menjadi merah muda. Pada praktikum kali ini diketahui normalitas NaOH sebesar 0,0538 N. Sedangkan normalitas HCl adalah 0,0269 N. Sedangkan kelompok 23 yang menggunakan NaOH 10 ml dengan normalitas 0,053 N, diperlukan HCl dengan volume 20,35 ml dan normalitasnya 0,026 N. Normalitas yang diperoleh masing-masing kelompok tidak sama. Hal ini disebabkan oleh volum titrasi HCl yang tidak sama dan normalitas HCl yang didapat juga tidak sama. Kurang tepatnya normalitas HCl ini dikarenakan beberapa faktor antara lain kebocoran pada buret dan juga kekurangtelitian praktikan dalam pembacaan skala volume. Faktor-faktor yang mempengaruhi normalitas NaOH yaitu massanya, BEnya, dan volume larutan. Sedangkan yang mempengaruhi normalitas HCl yaitu volume HCl, volume NaOH, dan normalitas NaOH. Semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin cepat dicapainya titik ekuivalen dalam suatu titrasi.

Tabel 1.2 Penentuan Kadar Basa pada berbagai Soda Bahan Uji Kelompok 3,7 Soda abu gr bahan V HCl (ml) 6 N HCl (N) Perubaha n Warna Kuning pucatbening Kuning beningkuning semburat merah Kuningmerah Kuningorange Kuningmerah pekat Kuningmerah Kadar basa (%) 8,552

14,18

0,1

6,1

0,027

8,695

25 5,9 Soda kaustik 16,20 27


Sumber : Laporan Sementara

6,5 10 0,1 9,8 9,7 0,027

9,299 10,757 10,542 10,473

Tahapan selanjutnya setelah standardasi HCl dengan larutan baku primer adalah penentuan kadar basa berbagai macam soda. Prinsip asidimetrinya adalah penentuan kadar basa dengan larutan baku standar. Dalam percobaan ini HCl sebagai larutan baku asam (titran), sedangkan berbagai macam jenis soda seperti soda abu dan causatic soda akan ditentukan kadar basanya (titrat). Pada praktikum ini, sebelum dititrasi, titrat diteteskan indikator metil merah sebanyak 2-3 tetes. Indikator ditambahkan pada titrat sebelum proses titrasi dilakukan. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka

titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik ekuivalen, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indikator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Indikator yang digunakan dalam praktikum ini adalah metil merah, indikator visual yang menandakan terjadinya reaksi sempurna. Yaitu ketika warna larutan yang semula kuning menjadi merah muda. Reaksi yang terjadi antara soda abu dan causatic soda dengan HCl adalah sebagai berikut : NaOH + HCl Na2CO3 + 2HCl NaCl + H2O 2NaCl + H2O + CO2

Semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin cepat dicapainya titik ekuivalen dalam suatu titrasi. Pada praktikum ini kadar basa tertinggi yang dicapai oleh sampel soda causatic yaitu 10,757% sedangkan yang terendah yaitu 10,473 %. Untuk kadar basa soda abu, tertinggi yaitu 9,299 % dan terendah yaitu 8,552 %. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar basa dari suatu contoh yaitu normalitas HCl, volume HCl, BE sampel, serta massa soda. Tabel 1.3 Titik Kurva Bahan Uji Berupa Soda Abu dan HCl 0,027 N ml titran (x) pH (y) 0 10,83 2 9,76 5 6,77 x = 5,7 6,09 10 1,8 15 1,5 Sumber : Laporan Sementara Tabel 1.4 Titik Kurva Bahan Uji Berupa Soda Caustic dan HCl 0,027 N ml titran (x) pH (y) 0 11,8 2 11,7 5 11,5 x = 10 6,2 15 1,79 Sumber : Laporan Sementara

Cara untuk menentukan titik ekuivalen yaitu dengan berbagai cara; 1) Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalen. 2) Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan. Titik ekuivalen secara stoikiometri titrat dan titran tepat habis bereaksi, dan biasanya di tandai dengan perubahan warna. Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa. Untuk titrasi diatas digunakan indicator mm disebabkan trayek pH indicator metil merah adalah 4,4 6,2 dengan kisaran warna dari merah menjadi kuning. Pada praktikum asidimetri ini dapat diketahui hasilnya sebagai berikut: Pada pembahasan hasil percobaan titrasi antara soda causatic dengan HCl, titik ekuivalen dicapai pada pH 6,09 dengan volume HCl sebanyak 5,7 ml. Hal ini telah sesuai dengan teori, karena sesuai dengan penggunakan indikator, seharusnya titik ekuivalen dicapai dengan kisaran pH 4,4-6,2.

Titik

Gambar 1.1 Kurva Titrasi soda abu dan soda kaustik terhadap HCl 0,027 N

Titrasi asam basa melibatkan reaksi netralisasi dimana asam akan bereaksi dengan basa dalam jumlah yang ekuivalen. Titran yang dipakai dalam titrasi asam basa selalu asam kuat atau basa kuat. Titik akhir titrasi mudah diketahui dengan membuat kurva titrasi yaitu plot antara pH larutan sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan. Pada bagian permulaan kurva, pH menurun dengan cepat seiring dengan penambahan asam, tetapi kemudian kurva segera berubah dengan tingkat kecuraman yang berkurang. Hal ini karena terbentuk larutan penyangga. Pada percobaan kali ini titik awal sebelum penambahan HCl pHnya adalah 10,83 untuk soda abu dan 11,8 untuk soda kaustik. Disini perpindahan pH dari titik awal ke titik ekuivalen sangat cepat sekali sehingga pH cepat sekali bergerak kearah asam, yang kemudian membuat kurva menurun drastis. Titik ekuivalen pada soda abu diperoleh saat pHnya menjadi 6,09 dengan volume HCl 15,7 ml, disini pH menurun dengan cepat seiring dengan penambahan asam, tetapi kemudian kurva segera berubah dengan tingkat kecuraman yang berkurang hingga pada volume 15 ml menjadi pH 1,5. Sedangkan da soda kaustik titik ekuivalen diperoleh saat pHnya 6,2 dengan volume HCl 10 ml. Pada percobaan kali ini pH yang didapat tidak akurat karena banyak pH yang besarnya sama seiring dengan penambahan HCl. Faktor-faktor pada penyimpangan ini dikarenakan pada ketidakakuratan saat pengukuran menggunakan pH meter, hasilnya selalu tidak stabil. Kemudian akuades yang digunakan untuk pencuci pHmeter telah terkontaminasi larutan lain. Begitu juga terjadi kebocoran pada buret, sehingga pada pengukuran volume tidak bisa secara tepat. Seharusnya hasil kurva menunjukkan garis yang landai pada awalnya dan curam ke bawah ketika terjadi titik ekuivalen, setelah titik ekuivalen akan landai kembali (Ghunter, 1997).

Gambar 1.2 kurva titrasi soda kaustik terhadap HCl yang seharusnya

Gambar 1.3 kurva titrasi soda abu terhadap NaOH yng seharusnya

Semakin banyak volume HCl yang di titrasi maka akan semakin asam larutan basa tersebut. Semakin asam suatu larutan, maka perubahan warna akan bergerak dari merah menjadi kuning, hal ini karena indikator yang di gunakan adalah metil merah. Pengaruh konsentrasi HCl terhadap kurva titrasi adalah semakin tinggi konsentrasi suatu HCl maka semakin asam suatu larutan, sehingga hanya sedikit volume HCl yang di butuhkan dalam titrasi hingga

mencapai titik ekuivalen. Maka kurva titrasi akan semakin curam turun ke bawah. Alkalimetri adalah penentuan kadar asam dari suatu bahan dengan menggunakan larutan baku standar basa, serta indikator pH yang sesuai. Pada praktikum kali ini NaOH digunakan sebagai penetrasi dan asam oksalat sebagai titrat (larutan asam yang digunakan akan diketahui kadarmya). Selain itu juga digunakan indikator penophetalein. Standardisasi dalam praktikum ini dikerjakan untuk mendapatkan nilai normalitas NaOH. b. Standardisasi NaOH dengan larutan baku primer (COOH)2.2H20 Tabel 1.5 Standardisasi NaOH dengan Larutan Baku Primer (COOH)2.2H2O (Asam Oksalat) N V (COOH)2 (COOH)2. .2H2O 2H2O (N) (ml) 2 0,1 10 13,22 0,1 10 24 0,1 10 Sumber : Laporan Sementara Kelompok N NaOH (N) 0,054 0,0535 0,051 V NaO H (ml) 18,5 18,7 19,37 Perubahan warna Bening-Pink Bening-Pink Bening-Pink

Dalam percobaan standarisasi NaOH dengan asam oksalat digunakan asam oksalat (COOH)2.2H2O sebagai larutan baku primernya sebanyak 10 ml dengan 0,1N. Lalu dilakukan titrasi sampai terjadi perubahan warna dari bening menjadi semburat warna pink. Langkah selanjutnya penambahan indikator penophetalien (PP) pada titrat sebanyak 2-3 tetes, hal ini karena NaOH menyerap CO 2 maka akan berpengaruh apabila ditambahkan indikator PP. Fenolftaleindigunakan untuk indikator pertama dikarenakan trayek PP 8,0 ke 9,6 dan pH suatu larutan NaHCO3 adalah 8,35. Indikator ini akan merubah warna larutan dari bening menjadi merah mudaakibat dari perubahan pH larutan pada saat penitrasian. Hasil praktikum telah sesuai dengan teori. Dari hasil perhitungan kelompok 2 dapat diperoleh volume NaOH yang digunakan dalam titrasi sebanyak 18,5 ml dan memiliki nilai

normalitas 0,054 N, kelompok 13 dan 22 diperoleh volume NaOH sebanyak 18,7 ml dan memiliki normalitas 0,0535 N. Sedangkan kelompok 24 diperoleh volume NaOH 19,37 ml dengan normalitas 0,051 N. Normalitas rata-ratanya 0,0538 N. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya normalitas NaOH adalah volume asam oksalat dan normalitas asam oksalat. Diketahui bahwa normalitas asam oksalat berbanding lurus dengan volume asam oksalat dan berbanding terbalik terhadap volume dari NaOH. Tabel 1.6 Penentuan Kadar Asam Laktat pada Susu dan Susu Asam Bahan Uji Kelompok gr atau ml bahan 10 V NaOH (ml) 5,5 5 4,7 1 1 10 26 Sumber : Laporan Sementara Asam asam laktat laktat (lactic acid) adalah dengan salah satu asam gula organik yang penting di industri, terutama di industri makanan. Produksi mayoritas dilakukan fermentasi (glucose) oleh lactic acid bacteria, seperti Lactobacillus. Penentuan kadar asam laktat pada praktikum ini dapat diketahui dengan menitrasi NaOH standar dengan sampel. Digunakan 2 sampel berbeda yaitu yogurt dan susu UHT yang diambil sebanyak 5 ml ditiap masing-masing sampel. Pada percobaan kelompok 6, 10, 17, 21 dan 28 bahan yang digunakan adalah 5 ml yoghurt. Setelah dititrasi didapatkan volume NaOH kelompok 6 dan 10 5,5 ml dengan normalitas 0,0538 N dan kadar asam laktatnya 0,532 %, kelompok 17 dan 21 sebesar 5 ml dengan normalitas 1 0,0538 Putih-Pink 0,097 0,0538 N NaOH (N) Perubahan warna Kadar (%)

6,10 Yoghurt 17,21 28 4,8 Susu UHT 15,19

Putih-Pink Putih-Pink Putih-Pink Putih-Pink Putih-Pink

0,532 0,484 0,448 0,097 0,097

0,0538 N dan diperoleh kadar asam laktat sebesar 0,484%. Sedangkan kelompok 28 yang diperoleh NaOH 4,7 ml dengan normalitas 0,053 N sehingga kadar asam laktatnya sebesar 0,448 %.. Dengan begitu, rata-rata kadar asm laktat sebesar 0,488%. Dari percobaan yang dilakukan dengan menggunakan bahan susu UHT, didapatkan hasil kadar asam laktat yang berbeda-beda. Pada percobaan oleh kelompok 4 dan 8 yang dititrasi dengan NaOH 0,0538 N dan volume sebesar 1 ml, kadar asam laktatnya sebesar 0,097%. Kelompok 15 dan 19 kadar asam laktatnya sebesar 0,097% juga dengan volume NaOH sebesar 1 ml dan normalitas juga 0,0538 N. Sedangkan kelompok 26, diperoleh kadar asam lakat sebesar sebesar 0,095% dengan volume NaOH 1 ml dan normalitas sebesar 0,053 N. sehingga rata-rata kadar asam laktat adalah sebesar 0,0963%. Faktor yang mempengaruhi besarnya dan berbedanya kadar dari asam laktat adalah volume dari NaOH, berat bahan yang ditimbang, BE asam laktat dan normalitas NaOH. Tabel 1.7 Titik Kurva Bahan Uji Berupa Susu UHT dan NaOH 0,053 N ml titran (x) 0 0,2 0,5 x=1 2 5 10 Sumber : Laporan Sementara pH (y) 7,4 7,34 7,82 8,98 10,05 11,74 11,63

Tabel 1.3 Titik Kurva Bahan Uji Berupa Yoghurt dan NaOH 0,053 N ml titran (x) pH (y) 0 3,95 0,2 4,12 0,5 4,23 2 4,92 x=4 6 5 9,49 10 11,2 Sumber : Laporan Sementara

Dalam percobaan titrasi susu UHT dengan NaOH 0,053 N didapatkan beberapa titik titrasi. Pada titrasi 0 ml didapatkan pH sebesar 7,4. Saat 0,2 ml didapatkan pH sebesar 7,34. Saat titrasi 0,5 ml pH nya 7,82. Pada ml ke 0 sampai 0,5 belum terjadi perubahan warna. Saat 1 ml terjadi perubahan warna dari putih susu penjadi semburat pink dan pHnya menjadi 8,98. Setelah itu diteruskan sampai 10 ml dan pHnya terus naik. Untuk percobaan titrasi susu yoghurt dengan NaOH 0,053 N didapatkan beberapa titik titrasi. Pada titrasi 0 ml didapatkan pH sebesar 3,95. Saat 0,2 ml didapatkan pH sebesar 4,12. Saat titrasi 0,5 ml pH nya 4,92. Pada ml ke 2 pH yang diperoleh sebesar 4,92. Pada ml ke 0 sampai 2 belum terjadi perubahan warna. Saat 4 ml terjadi perubahan warna dari putih susu penjadi semburat pink dan pHnya menjadi 6. Setelah itu diteruskan sampai 10 ml dan pHnya terus naik. Perubahan warna yang terjadi, sebagai akibat terjadinya larutan buffer.

Titik

Gambar 1.4 Kurva Titrasi susu UHT dan yoghurt terhadap NaOH 0,053 N Kurva hasil percobaan menunjukkan bahwa terjadi penyimpangan dibandingkan kurva yang seharusnya. Pada percobaan kali ini pH yang

didapat tidak akurat karena banyak pH yang besarnya sama seiring dengan penambahan NaOH. Faktor-faktor pada penyimpangan ini dikarenakan pada ketidakakuratan saat pengukuran menggunakan pH meter, hasilnya

selalu tidak stabil. Kemudian akuades yang digunakan untuk pencuci pHmeter telah terkontaminasi larutan lain. Begitu juga terjadi kebocoran pada buret, sehingga pada pengukuran volume tidak bisa secara tepat. Seharusnya hasil kurva menunjukkan garis yang landai pada awalnya dan curam ke atas ketika terjadi titik ekuivalen, setelah titik ekuivalen akan landai kembali.

Gambar 1.5 kurva titrasi terhadap NaOH yang seharusnya Semakin banyak volume NaOH yang di titrasi maka akan semakin basa larutan asam tersebut. Semakin basa suatu larutan, maka perubahan warna akan bergerak dari kuning menjadi merah, hal ini karena indikator yang di gunakan adalah PP. Pengaruh konsentrasi NaOH terhadap kurva titrasi adalah semakin tinggi konsentrasi suatu NaOH maka semakin basa suatu larutan, sehingga hanya sedikit volume NaOH yang di butuhkan dalam titrasi hingga mencapai titik ekuivalen. Maka kurva titrasi akan semakin curam naik ke atas. E. Kesimpulan Kesimpulan yang diperoleh dari acara I Asidimetri ini adalah sebagai berikut :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Standarisasi

NaOH

dengan

larutan

baku

primer

asam

oksalat

(COOH)2.2H2O bertujuan untuk menentukan normalitas NaOH. Kadar asam laktat pada susu asam lebih tinggi dari susu non fermentasi.. Standarisasi HCl dengan larutan NaOH bertujuan untuk menentukan normalitas HCl. Kadar basa pada soda kaustik sedikit lebih banyak dibandingkan pada soda abu. Perubahan warna yang terjadi pada standarisasi NaOH dari bening menjadi merah muda. Faktor-faktor yang mempengaruhi normalitas NaOH yaitu volume NaOH, volume asam oksalat dan normalitas asam oksalat. Perubahan warna yang terjadi pada standarisasi HCL dari kuning bening menjadi merah bening. Faktor-faktor yang mempengaruhi normalitas HCl yaitu volume HCl, volume NaOH dan normalitas NaOH. Kadar basa tertinggi yang diperoleh adalah sebagai berikut : a. Pada HCl 0,027 N = Soda abu 9,299 % b. Pada HCl 0,027 N = Soda Kaustik 10,757 % 10. Kadar basa terendah yang diperoleh adalah sebagai berikut : a. Pada HCl 0,027 N = soda abu 8,552 % b. Pada HCl 0,027 N = Caustic soda 10,473 % 11. Kadar asam tertinggi yang diperoleh adalah sebagai berikut : a. Pada NaOH 0,0538 N = Susu UHT 0,097 % b. Pada NaOH 0,0538 N = yoghurt 0,532 % 12. Kadar asam terendah yang diperoleh adalah sebagai berikut : a. Pada NaOH 0,0538 N = Susu UHT 0,097 % b. Pada NaOH 0,0538 N = yoghurt 0,448 % 13. Perubahan warna yang terjadi selama titrasi yaitu kuning bening menjadi merah bening dengan menggunakan indikator Metil merah dan trayek pH antara 4,4 6,2.

14. Perubahan warna yang terjadi selama titrasi yaitu bening menjadi merah muda dengan menggunakan indikator PP 1% dan trayek pH antara 8,0 9,6. 15. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar basa dari suatu contoh yaitu normalitas HCl, volume HCl, BE sampel, serta massa soda. 16. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar asam dari suatu contoh yaitu normalitas NaOH, volume NaOH, BE sampel, serta massa sampel.

DAFTAR PUSTAKA

Gunther, A.R, dkk. 1977. PH Titration Of Native And Unfolded -Trypsin: Evaluation Of The G0 Titration And The Carboxyl Pk Values. Brazilian Journal of Medical and Biological Research vol. 30 no. 11 Ribeiro Preto Nov. Ika, Dani. 2009. Alat Otomatisasi Pengukur Kadar Vitamin C dengan Metode Titrasi Asam Basa. Jurnal Neutrino Vol. 1 No. 2, April. Maharmani, F. Widhi, dan Woro Sumarni. 2003. Kajian Termodinamika Penyerapan Zat Warna Indikator Metil Merah dalam Larutan Air oleh Adsorben Kitosan. Jurnal JSKA Vol. 6, No. 2. Mulyono, HAM. 2008. Membuat Reagen Kimia. PT Bumi Aksara. Jakarta. Nuryanti, Siti, dkk. Indikator Titrasi Asam-Basa dari Ekstrak Bunga Sepatu. Jurnal Identifikasi Ilmiah Kimia, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Petrucci, Ralph H. 1992. Kimia Dasar. Erlangga. Jakarta. Shevchenko, G.M, dkk. 2008. Experiment with the Titration Curve. Journal of Chemical Papers Vol. 62 No. 4, hal 435-439. Soendoro, R, dkk. 1980. Analisa Kimia Kuantitatif. PT Gelora Aksara Pratama. Surabaya. Underwood, Day. 1980. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta.