Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KASUS LEUKOMA KORNEA DAN STAFILOMA KORNEA

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA SMF MATA RSUP MATARAM NTB FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2010 I. Ringkasan Awal Subjektif (S)

Pasien datang dengan keluhan penglihatan menurun sejak kurang lebih 8 bulan yang lalu. Penglihatan turun secara perlahan-lahan dan mengenai kedua mata. Nyeri (-). Pasien mengaku hanya bisa melihat bayangan. 8 bulan yang lalu pasien mengalami mata merah pada kedua mata, serta terdapat kotoran pada mata. kemudian pasien menggunakan obat yang dibeli sendiri, namun tidak ada perbaikan. Pasien pernah menderita konjungtivitis GO satu tahun yang lalu. Objektif (O) OD. Visus 1/300. Tidak membaik dengan pin hole. Injeksi palpebra (+). Pada kornea terdapat bercak putih yang menutupi lebih dari setengah kornea. Iris dan lensa tidak terlihat karena kekeruhan kornea. Bilik mata depan masih bisa terlihat. OS. Visus 1/300. Tidak membaik dengan pin hole. Injeksi palpebra (+). Iris menempel dengan kornea. Lensa dan bilik mata depan tidak terlihat. Assesment (A) Leukoma kornea OD Stafiloma kornea OS Planning (P) Chloramphenicol EO 3 dd gtt

II. Paparan kasus 2.1. Identitas pasien

Nama Umur Agama Suku Alamat

: Tn S : 29 tahun : Islam : Sasak : Narmada

No. RM : 127116 Tanggal pemeriksaan: 6 Mei 2010 2.2. Anamnesis Keluhan utama Penglihatan menurun pada kedua mata. Riwayat penyakit sekarang Pasien mengaku penglihatan menurun pada kedua mata sejak kurang lebih 8 bulan yang lalu. Penglihatan menurun secara perlahan-lahan. Pasien mengaku hanya bisa melihat bayangan saja. Nyeri pada mata tidak dikeluhkan pasien. Mata berair dan kotor disangkal pasien. Riwayat trauma mata (-). Pasien mengaku 8 bulan yang lalu mengalami mata merah pada mata kiri. Mata juga terasa gatal dan disertai dengan kotoran mata. Keluhan ini terjadi sepanjang hari. Pada waktu itu, pasien mengaku penglihatan masih normal. Pasien mengobati mata kiri tersebut dengan obat tetes mata yang dibeli sendiri, namun tidak terjadi perbaikan. 2 hari kemudian, pada mata kanan juga muncul keluhan yang sama. Pasien kemudian membeli sabun untuk mata yang dijual oleh tukang obat keliling. Keluhan pada mata pasien tidak membaik, malah menurut pasien semakin parah dan kedua mata menjadi nyeri. Seminggu kemudian pasien pergi berobat ke dokter umum dan diberikan salep mata, namun tetap juga tidak mengalami perbaikan. Pada waktu itu penglihatan pasien mulai semakin menurun sampai akhirnya hanya bisa melihat cahaya. Satu bulan kemudian pasien mendatangi dokter spesialis mata untuk berobat, dan pasien dianjurkan untuk rawat inap. Karena alasan biaya, pasien menolak rawat inap dan meminta untuk berobat jalan. Pasien mengaku tidak rutin mengontrol keadaan matanya. Selama rentang waktu 7 bulan, pasien mengaku hanya 5 kali pergi berobat. Selama berobat ke dokter spesialis, pasien mengaku mengalami perbaikan pada kedua matanya. Pasien mengaku sekarang sudah bisa melihat bayangan. Pasien mengaku tidak tahu penyakit apa yang diderita. Pasien terakhir kali datang ke dokter spesialis mata

sekitar 3 minggu yang lalu dan disarankan untuk dirujuk ke Denpasar. Berdasarkan rujukan dari dokter spesialis mata yang mengirim, pasien pernah menderita konjungtivitis GO satu tahun yang lalu. Riwayat penyakit dahulu Pasien mengaku tidak pernah menderita penyakit apapun sebelumnya. Riwayat penyakit keluarga Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien. Riwayat penggunaan obat Pasien mengaku tidak mengetahui nama obat yang pernah digunakan pada matanya, baik yang dibeli sendiri maupun yang diberikan oleh dokter. 2.3. Pemeriksaan fisik Keadaan umum : sedang Kesadaran Status lokalis. Pemeriksaan Visus Pin hole Gerakan bola mata Kanan 1/300 1/300 Dapat menggerakkan bola mata ke segala arah (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) normal (-) (-) (-) (-) (-) Kiri 1/300 1/300 Dapat menggerakkan bola mata ke segala arah (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) normal (-) (-) (-) (-) (-) : composmentis

Nyeri pada pergerakan Palpebra superior Enteropion Trikhiasis Ptosis Edema Hiperemi Palpebra inferior Enteropion Trikhiasis Ptosis Edema Hiperemi Fisura palpebra Konjungtiva palpebra superior Hiperemi Folikel Sikatriks Konjungtiva palpebra inferior Hiperemi Folikel

Sikatriks Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva Injeksi siliar Kornea

(-) (+) (-) Terdapat bercak putih yang menutupi lebih dari setengah kornea. Masih terlihat Hanya terlihat sebagian, warna kecoklatan. Tidak bisa dievaluasi

(-) (+) (-) Kornea menempel dengan iris

Bilik mata depan Iris Pupil Lensa TIO Funduskopi

Tidak terlihat Kesan menempel dengan kornea. Tidak terlihat adanya pupil. Tidak bisa dievaluasi Tidak terlihat adanya lensa. Pada palpasi kesan Pada palpasi kesan normal normal Tidak dievaluasi Tidak dievaluasi

2.4. Diagnosis Leukoma kornea OD Stafiloma kornea OS

2.5. Penatalaksanaan Chlorampenicol 3 dd gtt

2.6. Usulan pemeriksaan Kultur dan antibiotik sensitivitas tes Pewarnaan gram USG 2.7. Usulan terapi Keratoplasti

Mempertahankan mata kiri.

III. Identifikasi masalah Penegakan diagnosis leukoma kornea OD dan stafiloma kornea OS didasarkan atas hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Keluhan pasien adalah penglihatan menurun yang diawali dengan mata merah, mengeluarkan sekret dan terasa nyeri. Keluhan ini memberi kesan adanya lesi yang disebabkan oleh bakteri. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, pada OD, didapatkan bercak putih padat pada kornea. Hal ini merupakan tanda adanya leukoma kornea. Sedangkan pada OS, didapatkan penggelembungan kornea dengan iris menempel dibelakangnya. Leukoma dan stafiloma kornea merupakan bentuk sikatriks atau jaringan parut pada kornea. Bentuk ini dapat terjadi akibat suatu lesi pada kornea. Lesi atau penyebab terjadinya leukoma dan stafiloma ini harus segera dicari untuk mencegah memburuknya penyakit dan gejala. Pada pasien ini, terdapat riwayat GO satu tahun yang lalu. hal ini bisa dicurigai sebagai kemungkinan penyebab terjadinya leukoma dan stafiloma kornea.

IV. Analisa kasus 4.1 Pengetahuan medik dasar Pengertian Kekeruhan kornea terbagi dalam 2 bentuk yaitu bentuk tenang yang tidak disertai tanda radang dan bentuk yang disertai tanda radang. Bentuk kekeruhan kornea tanpa tanda radang adalah nebula, makula, leukoma dan stafiloma. Kekeruhan kornea dengan tanda-tanda radang aktif didapatkan pada keratitis atau infiltrat kornea, yang diklasifikasikan sebagai keratitis superfisial dan keratitis profunda; tukak atau ulkus kornea. a. Nebula kornea bila dalam bentuk kabut halus yang sukar terlihat. b. Makula kornea bila kekeruhan berbatas tegas c. Leukoma kornea bila kekeruhan berwarna putih padat. Leukoma yaitu bercak putih seperti porselen yang tampak dari jarak jauh, yang merupakan jaringan sikatrik setelah penyembuhan proses radang pada kornea yang lebih dalam. d. Leukoma adheren adalah kekeruhan kornea oleh karena sikatriks disertai penempelan iris di dataran belakang kornea.

e. Stafiloma kornea adalah penggelembungan kornea setempat akibat perforasi atau penipisan kornea disertai jaringan uvea didalamnya. Patogenesis dan Etiologi Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapisan. 1. Epitel - Tebalnya 50 mikrometer, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng. - Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan, sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier. - Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren. 2. Membran bowman - Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. - Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi. 3. Stroma Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur, sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Bentuk serabut kolagen yang reguler dan diameternya yang kecil menyebabkan transparansi kornea. 4. Membran descement - Merupakan membran aseluler dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya. - Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup. 5. Endotel

Suatu lapis tunggal yang tidak mengalami regenerasi yang secara aktif memompa ion dan air dari stroma untuk mengontrol hidrasi dan transparansi kornea. Perbedaan daya regenerasi antar lapisan kornea sangat penting. Kerusakan lapisan epitel misalnya karena abrasi, dengan cepat dapat diperbaiki. Pada umumnya, bila lesi kornea tidak sampai merusak membran bowman atau stromanya, maka kornea kaan cepat sembuh tanpa meninggalkan sikatriks pada kornea. Sedangkan pada lesi yang lebih dalam akan meninggalkan sikatriks berupa nebula, makula, leukoma dan stafiloma. panatalaksanaan Pada kasus leukoma kornea, transplantasi kornea atau keratoplasti merupakan terapi pilihan. Dikenal 2 bentuk keratoplasti yaitu keratoplasti lamelar dan keratoplasti tembus. 1. Keratoplasti lamelar Mengganti sebagian kornea yang keruh dengan kornea donor yang jernih. Bagian kornea yang diganti adalah stroma kornea permukaaan, sehingga dapat dipakai kornea donor yang endotelnya kurang baik. Pada keadaan ini, kornea bagian belakang atau endotel resipien tidak diganti karena fungsinya masih baik. Keratoplasti lamelar tidak digunakan pada kelainan kornea yang mengenai seluruh ketebalan kornea. 2. Keratoplasti tembus Mengganti seluruh ketebalan kornea yang keruh bersama dengan endotel yang ada di belakangnya. Pada keratoplasti tembus diperlukan kornea donor dengan endotel yang sehat agar tetap dapat mempertahankan kejernihan kornea tranplan. Penatalaksanaan stafiloma dapat dilakukan dengan terapi bedah. Ketika stafiloma membesar dan terasa sangat mengganggu atau nyeri, beberapa intervensi bedah dapat disarankan diantaranya enukleasi atau eviserasi. Enukleasi merupakan tindakan terpilih sebab akan dapat mencegah untuk hal-hal yang lebih buruk jika sudah mengenai sklera posterior. Jika hanya dilakukan eviscerasi, kemungkinan pencegahan infeksi yang lebih luas akibat stafiloma posterior mungkin tidak dapat diprediksi.

4.2 Subjektif

Keluhan utama pada pasien adalah penglihatan kedua mata menurun secara perlahan-lahan. Pasien mengaku awalnya terdapat mata merah dan mengeluarkan sekret. Berdasarkan keluhan diatas, kecurigaan mengarah kepada konjungtivitis bakteri. Setelah beberapa hari kemudian timbul nyeri pada kedua mata. Nyeri jarang dikaitkan dengan konjungtivitis. Nyeri menandakan sesuatu yang lebih serius seperti trauma atau infeksi kornea. Lesi pada kornea juga dikuatkan dengan adanya penglihatan menurun. Keluhan penglihatan menurun tidak akan didapatkan pada konjungtivitis

4.3 Objektif Pada pasien ini didapatkan visus 1/300 pada kedua mata. Pada mata kanan didapatkan bercak putih padat pada bagian lateral kornea hingga menutupi lebih dari setengah kornea. Bagian iris tidak menempel pada kornea sehingga bilik mata depan masih bisa terlihat. Bercak putih padat seperti itu disebut leukoma kornea. Hal ini merupakan penyebab adanya keluhan penglihatan menurun. Leukoma kornea merupakan salah satu bentuk jaringan parut pada kornea yang disebabkan adanya suatu lesi pada lapisan dalam kornea. Pada mata kiri, dapat dilihat adanya penonjolan kornea dengan iris menempel pada bagian belakang kornea. Bentuk ini disebut sebagai stafiloma kornea yaitu penggelembungan kornea disertai dengan menempelnya jaringan uvea di belakangnya. Bilik mata depan sudah tidak terlihat. Stafiloma kornea juga merupkan bentuk sikatriks kornea yang dapat disebabkan oleh trauma atau infeksi pada kornea.

4.4 Assesment Leukoma kornea OD Stafiloma kornea OS Pada pasien ini, kemungkinan penyebab dari leukoma dan stafiloma kornea adalah infeksi mengingat tidak ada riwayat trauma dan terdapat riwayat konjungtivitis GO. Sebenarnya, kornea mendapat perlindungan dari infeksi dengan adanya sawar epitel kornea. Bakteri Neisseria gonorrhoea merupakan satu-satunya organisme yang dapat menembus epitel intak. Pemeriksaan penunjang yang dianjurkan pada pasien ini adalah kultur dan antibiotik sensitivitas tes. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui organisme

penyebab infeksi dan mencari terapi yang sesuai dengan jenis organisme. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah terjadinya progresivitas penyakit. Selain itu juga perlu dilakukan pemeriksaan untuk melihat kedalaman lesi kornea pada mata kanan. Hal ini akan menentukan jenis terapi yang akan dipilih. Pemeriksaan lain yang dianjurkan adalah pewarnaan gram dan USG. Pewarnaan gram dilakukan karena lebih sederhana, dan akan mendapatkan hasil yang lebih cepat sehingga dapat memberikan antibiotik dengan pilihan yang lebih sempit. Sedangkan pemeriksaan USG dilakukan untuk mengetahui kondisi bagian belakang bola mata. pemeriksaan ini penting dilakukan untuk mengetahui jenis terapi yang dipilih dan menentukan prognosis pasien.

4.5 Planning Pada pasien ini diberikan chlorampenicol salep dengan dosis 3x1. Terapi ini hanya bersifat sementara dan tidak dapat mengembalikan fungsi penglihatan pasien. Pada pasien ini sebaiknya diberikan antibiotik dengan spektrum luas yang bisa mencakup gram positif dan gram negatif. Pada mata kanan dengan leukoma kornea dianjurkan untuk dilakukan keratoplasti. Pada mata kiri dengan stafiloma, dianjurkan untuk dilakukan enukleasi jika terdapat progresivitas penyakit. Pada pasien ini seharusnya dilakukan evaluasi pada pupil, lensa dan funduskopi mata kanan. Pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan meneteskan midriacyl. Pemeriksaan ini penting dilakukan untuk menentukan prognosis visus pasien jika akan dilakukan keratoplasti. Apabila keadaan lensa dan hasil pemeriksaan funduskopi baik, maka tindakan keratoplasti dapat dilaksanakan. Namun jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan, maka tindakan keratoplasti tidak akan memberikan hasil memuaskan, karena tidak akan dapat memperbaiki visus penderita.

V. Ringkasan akhir Pasien datang dengan keluhan penglihatan menurun pada kedua mata secara perlahan-lahan. Nyeri (-). Riwayat trauma (-). Terdapat riwayat konjungtivitis GO. Berdasarkan pemeriksaan fisik, pada mata kanan didapatkan bercak putih padat pada bagian lateral kornea yang menutupi lebih dari kornea. Tidak terdapat perlengketan dengan iris. Sehingga pada mata kanan ditegakkan diagnosis leukoma kornea. Pada

mata kiri, dijumpai adanya penggelembungan kornea dengan penempelan iris dibelakangnya, sehingga ditegakkan diagnosis stafiloma kornea. Pada pasien ini kemungkinan penyebab penyakit adalah konjungtivitis GO yang dulu diderita. Perlu dilakukan kultur untuk mengetahui agen penyebab pasti, sehingga memungkinkan pemberian terapi yang tepat dan tidak menyebabkan progresivitas penyakit. terapi pilihan pada pasien ini adalah keratoplasti pada mata kanan. Sedangkan untuk mata kiri, jika penyakit sudah bisa dikendalikan dengan obat-obatan, maka sebaiknya mata tetap dipertahankan. Namun jika penyakit terasa mengganggu dan nyeri berulang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan enukleasi.