Anda di halaman 1dari 25

PEMILIHAN MODA ANGKUTAN UMUM DARI DEPOK MENUJU KAMPUS GUNADARMA SALEMBA DENGAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

Nama Elsa Oktavitri Fikri Praharseno Inti Lestari Nono Suwarno Trimester Mata Kuliah Dosen

Npm
(16309826) (16309833) (16309836) (16309854) X (Sepuluh) Analisis System Dr. Ir. Ruswandi Tahrir, MSP.

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS GUNADARMA 2012

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, kampus adalah daerah lingkungan bangunan utama perguruan tinggi (universitas, akademi) tempat semua kegiatan belajar-mengajar dan administrasi berlangsung. Kampus salah satunya terdiri dari mahasiswa dimana antara mahasiswa yang satu dengan mahasiswa yang lain bertempat tinggal di daerah yang berbedabeda. Salah satu contoh yaitu Universitas Gunadarma Salemba yang berlokasi di Jl.Salemba Raya No. 53 Jakarta Pusat. Dikarenakan lokasi kampus yang cukup strategis, maka akses menuju kampus Salemba ini memiliki beberapa alternatif moda transportasi.

Universitas Gunadarma Salemba

Gambar 1. Peta Lokasi Universitas Gunadarma Salemba, Jakarta Pusat

Maka dari itu dilakukan pemilihan moda transportasi ke Universitas Gunadarma Salemba, menggunakan model pengambilan keputusan dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) dimana metode yang digunakan untuk memahami kondisi atau mendiskripsikan suatu sistem atau perihal (dalam bentuk suatu struktur hierarki dari elemen-elemen sistem) dalam rangka untuk pengambilan keputusan. Penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang tidak terstruktur, strategik, dan dinamik menjadi bagian-bagiannya serta menata dalam suatu hierarki. Dari berbagai pertimbangan tersebut kemudian dilakukan sintesis untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas tinggi dan berperan untuk mempengaruhi hasil pada sistem tersebut. 1

1.2. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan tugas ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui prosedur atau tahapan model pengambilan keputusan dengan Analytical Hierarchy Process-AHP. 2. Menentukan pemilihan moda transportasi mahasiswa ke Universitas Gunadarma Salemba, Jakarta Pusat dengan menggunakan AHP.

1.3. Batasan Masalah Pada penulisan tugas ini batasan masalah yang digunakan oleh penulis adalah pemilihan moda transportasi bagi mahasiswa ke Universitas Gunadarma Salemba.

1.4. Sistematika Penulisan BAB 1 PENDAHULUAN Berisi tentang latar belakang masalah, tujuan, batasan masalah, serta sistematika penulisan. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Berisi tentang tinjauan pustaka yang berhubungan dengan masalah yang diambil. BAB 3 ANALISIS MASALAH Berisi tentang uraian soal yang akan dianalisis dan pembahasan mengenai kasus yang diangkat menjadi masalah BAB IV KESIMPULAN Berisi tentang kesimpulan, menyajikan hasil-hasil analisis dalam bab sebelumnya dalam bentuk ringkas, padat dan jelas sehingga diperoleh susunan rangkaian yang sistematis dan mudah dipahami.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pendahuluan Transportasi atau pengangkutan dapat didefenisikan sebagai suatu proses pergerakan atau perpindahan orang/barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan suatu teknik atau cara tertentu untuk maksud dan tujuan tertentu (Miro,1997). Suatu transportasi dikatakan baik apabila waktu perjalanan cukup cepat dan tidak mengalami kecelakaan, frekuensi pelayanan cukup, serta aman (bebas dari kemungkinan kecelakaan) dan kondisi pelayanan yang nyaman. (Martok,1998 dikutip Miro,1997), mengungkapkan transportasi bukanlah tujuan akhir, tapi merupakan suatu alat untuk mencapai maksud lain dan sebagai akibat adanya pemenuhan kebutuhan (devided demand) karena keberadaan kegiatan manusia dan timbul dari permintaan atas komoditas jalan. Untuk mencapai kondisi yang ideal sangat ditentukan oleh beberapa faktor yang menjadi komponen transportasi, yaitu kondisi prasarana jalan serta sistem jaringan dan kondisi sarana (kendaraan). Selain itu sikap mental pemakai fasilitas transportasi tersebut juga berpengaruh. Tujuan transportasi antara lain sebagai berikut : 1) Mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang selamat, aman, cepat, lancar,tertib dan teratur. 2) Memadukan transportasi lainnya dalam suatu kesatuan sistem transportasi nasional. 3) Menjangkau seluruh pelosok wilayah daratan untuk menunjang pemerataan perturnbuhan dan stabilitas serta sebagai pendorong, penggetak dan penunjang pembangunan nasional.

2.2. Moda Transportasi Pergerakan timbul karena adanya proses pemenuhan kebutuhan. Kita perlu bergerak karena kebutuhan kita tidak bisa dipenuhi di tempat kita berada. Pemilihan moda transportasi antara zona asal ke zona tujuan didasarkan pada perbandingan antara berbagai karakteristik operasional pada transportasi yang tersedia (misalnya waktu tempuh, tarif, waktu lunggu dan Iain-lain). Definisi dari moda adalah sarana yang digunakan untuk memindahkan orang dan/atau barang dari suatu tempat ke tempat lain. Moda transportasi dapat berupa moda transportasi darat, moda transportasi laut, dan moda transportasi udara, dimana masingmasing moda tersebut memiliki ciri dan karakteristik sendiri (Munawar, 2005). Dalam tugas 3

ini yang akan dibahas adalah moda transportasi darat, khususnya angkutan kota, bus, dan kereta.

A. Mikrolet Angkutan umum penumpang perkotaan adalah semua jenis angkutan umum yang melayani perjalanan (trips) penumpang dari tempat asal (origin) ketujuan (destination) dalam wilayah perkotaan. Moda angkutan umum merapakan sarana transportasi perkotaan yang tidak dapat dipisahkan dari sistem kegiatan perkotaan, khususnya bagi masyarakat pengguna angkutan umum yang tidak mempunyai pilihan moda lain untuk melaksanakan kegiatan. Angkutan umum penumpang perkotaan ini biasanya di sebut juga mikrolet.

Gambar 2. Mikrolet Sumber : http://infojkt.com Kelebihan Mikrolet : 1) Intensitas keberangkatan sering Mikrolet tidak mempunyai jadwal keberangkatan yang tetap, karena keberangkatan mikrolet biasanya ditentukan oleh jumlah penumpang 2) Mobilitas tinggi. Mikrolet mempunyai mobilitas tinggi sehingga dapat bergerak kapan saja. 3) Door to Door Maksudnya mikrolet mengantar penumpang hingga sampai tempat tujuan (dari rumah kerumah). Kekurangan Mikrolet : 1) Mikrolet dapat menaikkan dan menurunkan penumpang disepanjang rutenya sehingga mengakibatkan waktu perjalanan yang dapat berubah-ubah. 2) Kondisi tempat duduk kurang begitu nyaman di tambah tidak adanya fasilitas seperti AC. 4

B. Bus Ekonomi Regional Bus Ekonomi Regional adalah angkutan dari suatu tempat ke tempat lain dalam wilayah (region) perkotaan dengan menggunakan mobil bus umum yang terikat dalam trayek angkutan tetap dan teratur.

Gambar 3. Bus Sumber : http://www.berita-ane.com

Kelebihan bus : 1) Intensitas keberangkatan yang sering Bus juga tidak mempunyai jadwal keberangkatan yang tetap sama seperti mikrolet, karena keberangkatan bus ditentukan oleh jumlah penumpang yang ada. Jika jumlah penumpang telah memenuhi kapasitas muatan bus maka bus bisa langsung berangkat. 2) Mobilitasnya tinggi Bus mempunyai mobilitas yang tinggi sama seperti mikrolet sehingga dapat bergerak kapan saja. 3) Door to Door Bus mengantar penumpang hingga sampai tempat tujuan (dari rumah kerumah). 4) Dilengkapi fasilitas seperti AC. Kekurangan bus : 1) Bus dapat menaikkan dan menurunkan penumpang disepanjang rutenya sehingga mengakibatkan waktu perjalanan yang dapat berubah-ubah.

C. KRL (Kereta Listrik)

Gambar 4. KRL Commuter Line Sumber : http://www.radar-bogor.co.id

Kelebihan Kereta 1) Lebih aman Tingkat keamanan dengan menggunakan kereta api memang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Bus. Biasa kita lihat dari tingkat kecelakaan lalu lintas pada jalan raya yang lebih sering terjadi dari pada jalan rel. 2) Lebih nyaman. Kekurangan Kereta : 1) Antrian saat membeli tiket Antrian yang begitu panjang didepan loket saat akan membeli tiket menjadi salah satu kekurangan dari Kereta api

2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Moda Transportasi Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan moda transportasi dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Karekteristik pelaku perjalanan a. Keadaan sosial, ekonomi, dan tingkat pendapatan. b. Ketersedian atau kepemilikan kendaraan. c. Kepemilikan surat izin mengemudi (SIM). d. Struktur rumah tangga (Pasangan muda, keluarga dengan anak, pensiunan, dan lainlain). e. Faktor-faktor lainnya, seperti keharusan menggunakan mobil ke tempat bekerja dan keperluan mengantar anak sekolah. 6

2. Karakteristik perjalanan a. Tujuan perjalanan Di negara-negara maju akan lebih mudah melakukan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum karena ketepatan waktu dan tingkat pelayanan yang sangat baik, serta biaya yang relatif murah dari pada menggunakan kendaraan pribadi. b. Jarak perjalanan Semakin jauh perjalanan, orang semakin cenderung memilih angkutan umum dibandingkan dengan kendaraan pribadi. c. Waktu terjadinya perjalanan. 3. Karakteristik sistem transportasi Tingkat pelayanan yang ditawarkan oleh masing-masing sarana transportasi merupakan faktor yang sangat menentukan bagi seseorang dalam memilih sarana transportasi. Tingkat pelayanan dikelompokan dalam dua kategori: a. Faktor kuantitatif Lama waktu perjalanan yang meliputi waktu di dalam kendaraan, waktu tunggu dan waktu berjalan kaki. Biaya transportasi, misalnya tarif, biaya bahan bakar, dan Iain-lain. Biaya transportasi merupakan faktor yang menunjukkan kesepakatan antara produsen penyedia pelayanan angkutan dengan konsumen pemakai sebagai penumpangnya Ketersediaan ruang untuk parkir. b. Faktor Kualitatif Kenyamanan. Merupakan faktor yang dikehendaki penumpang terutama dalam masyarakat yang telah maju kondisi angkutannya. Kemudahan. Keandalan dan keteraturan. Faktor ini meliputi ketepatan waktu kedatangannya dan kapasitas dalam suatu perjalanan. Keamanan. Merupakan faktor yang meliputi keselamatan terhadap hak milik dari suatu tindakan kejahatan.

2.4. Pengambilan Keputusan dengan Proses Hirarki Analitik ( Analytical Hierarchy Process-AHP) Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah suatu kerangka-kerja pengambilan keputusan terstruktur dan sistematis yang melibatkan banyak kriteria. Pengguna AHP mulamula menetapkan tujuan yang ingin dicapai, kemudian melakukan penguraian (dekomposisi) atas faktor-faktor permasalahan ke dalam sebuah hirarki, sehingga menjadi lebih mudah untuk penjabaran lebih lanjut fakorfaktor yang menjadi sub-sub permasalahan, sedemikian yang mana masing-masing permasalahan dan subpermasalahan tersebut dapat dievaluasi atau dianalisis secara independen. Elemen dari diagram hirarki dapat mencakup segala aspek dari permasalahan pengambilan keputusan: tangible atau intangible, diukur secara tepat maupun sekedar estimasi kasar, dimengerti secara baik maupun tidak, dan aspek lain yang terkait dalam proses pengambilan keputusan tersebut.

Gambar 5. Struktur Hirarki AHP 4 Level

Langkah-langkah membuat struktur hirarki adalah sebagai berikut : 1) Identifikasikan Tujuan Utama 2) Identifikasikan Kriteria untuk mencapai tujuan utama 3) Identifikasikan jika diperlukan, Sub-kriteria dibawah tiap tiap kriteria 4) Identifikasikan Alternatif-alternatif untuk dievaluasi menurut syarat penilaian (terms) dari Sub-kriteria 5) Jika Sub-kriteria terlalu umum, segera identifikasikan satu level diatas Level Alternatif berupa level attribut yang applicable bagi kesemua Alternatif untuk dievaluasi, 8

6) Jika kepentingan dari atribut dapat ditentukan oleh Subkriteria, maka hirarki selesai, 7) Namun jika belum, identifikasikan sebuah level dari faktor-faktor diatas untuk evaluasi 8) Lanjutkan penyisipan level hingga dimungkinkannya seluruh level terkait dan prioritas bisa ditetapkan di tiap elemen pada level diatasnya.

Garis-garis yang menghubungkan kotak-kotak antar level merupakan hubungan yang perlu diukur dengan perbandingan berpasangan dengan arah ke level yang lebih tinggi. Dalam membandingkan elemen satu dengan yang lainnya (dalam satu level), atau yang dikenal dengan Pairwise Comparison, skala penilaian (skala kepentingan) yang disarankan oleh Saaty, adalah sebagai berikut:

Gambar 6. Skala Fundamental untuk Comparative Judgment

Manfaat dari penggunaan Analytical Hierarchy Process (AHP) antara lain yaitu: a. memadukan intuisi pemikiran, perasaan dan penginderaan dalam menganalisis pengambilan keputusan

b. memperhitungkan konsistensi dari penilaian yang telah dilakukan dalam membandingkan faktor-faktor yang ada, c. memudahkan pengukuran dalam elemen, d. Memungkinkan perencanaan ke depan.

Kelebihan metode AHP menurut (Badiru 1995 di kutip Saaty, 2001) adalah: a. AHP memberikan satu model yang mudah dimengerti, luwes untuk macam-macam persoalan yang tidak berstruktur b. AHP mencerminkan cara berpikir alami untuk memilah-milah elemen-elemen dari satu sistem ke dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa dalam setiap tingkat. c. AHP memberikan suatu skala pengukuran dan memberikan metode untuk menetapkan prioritas. d. AHP memberikan penilaian terhadap konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas. e. AHP menuntun kepada suatu pandangan menyeluruh terhadap alternatif-alternatif yang muncul untuk persoalan yang dihadapi. f. AHP mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor sistem dan memungkinkan memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan. g. AHP memberikan satu sarana untuk penilaian yang tidak dipaksakan tetapi merupakan penilaian yang sesuai pandangannya masing-masing.

Kelemahan metode AHP , yaitu: a. Penggunaan metode pairwise yang digunakan untuk mengevaluasi alternate-alternatif. b. AHP sebagai prosedur untuk menilai alternative cenderung bersifat subjektif pada ranking alternative yang dihasilkan. c. Bukti empiris sebanyak apapun tidak bias benar-benar mendukung sebuah teori dengan kontradiksi internal seperti pada AHP. Tetapi, teori tersebut adalah dasar yang abik untuk dikembangkan. d. Orang yang dilibatkan adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan ataupun banyak pengalaman yang berhubungan dengan hal yang akan dipilih dengan menggunakan metode AHP e. Kesensitifan pada hasil akhir bila mengubah ukuran skala matriks. f. Untuk melakukan perbaikan keputusan, harus dimulai lagi dari tahap awal.

10

2.5. Pemilihan Moda Angkutan Umum ke Kampus Salemba dengan Menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) Pemilihan moda sangat sulit dimodelkan,walaupun hanya dua buah moda yang akan digunakan (pribadi atau umum). Hal tersebut disebabkan karena banyak faktor yang sulit dikuantifikasi misalnya kenyamanan,keamanan, keandalan atau ketersediaan mobil pada saat diperlukan. Untuk dapat mengukur derajat kesukaan atau kepentingan atau perasaan (diskrit) maka Saaty menggunakan tabel skala penilaian elemen hirarki agar dapat mengkuantitatifkan faktor-faktor yang bersifat kualitatif dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), sehingga mendapatkan skala rasio dari hal yang semula sulit diukur seperti kesukaan, kepentingan dan perasaan. indeks saaty dapat dilihat pada Gambar 6. Untuk mendapatkan derajat kepentingan dari setiap faktor dan moda tranportasi angkutan umum yang dipilih, dibutuhkan penilaian dari ahli yang telah meneliti tentang pemilihan moda ini sehingga dalam melakukan pembobotan tidak salah. Dalam pembahasan kali ini untuk menentukan derajat kepentingan faktor-faktor pemilihan moda angkutan umum dirujuk dari jurnal Dimensi Teknik Sipil Universitas Petra Volume 1, No. 1 Maret 1999 yang berjudul Penggunaan Metode Analytic Hierarchy Process dalam Menganalisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Moda. Dalam jurnal tersebut dihasilkan bahwa faktor-faktor yang memperngaruhi pemilihan moda ialah: 1. Faktor Aman Menunjukkan keamanan dari gangguan selama perjalanan, yaitu rasa aman dari adanya tindakan kriminalitas, keselamatan dari resiko kecelakaan dan dari gangguan lingkungan sekitar yaitu gangguan sebelum dan sesudah melakukan perjalanan. 2. Faktor Nyaman Merujuk kepada fasilitas yang tersedia selama dalam perjalanan, misalnya perlindungan dari cuaca, tersedianya fasilitas AC, tempat duduk yang nyaman, privasi dari orang lain (yaitu kebebasan untuk melakukan segala sesuatu selama dalam perjalanan) dan suasana tenang selama perjalanan. 3. Faktor Biaya Meliputi semua biaya langsung yang dikeluar-kan untuk melakukan perjalanan, misalnya biaya bahan bakar minyak dan ongkos untuk angkutan umum, biaya parkir kendaraan, dan lain-lain. Biaya tidak termasuk modal pembelian mobil, dan pemeliharaan.

11

4. Faktor Waktu Menyatakan lama waktu untuk melakukan perjalanan, yang di dalamnya mengandung sub faktor ketepatan waktu sampai tujuan, kelancaran selama perjalanan dan kebebasan melakukan perjalanan kapan saja. (Kardi, 1999) 2 Faktor lainnya yang ikut mempengaruhi faktor pemilihan moda khusunya angkutan umum ialah : 1. Faktor Ketersediaan Unit Kendaraan (Jumlah Unit) Menyatakan banyaknya kendaraan yang mampu dioperasikan dalam satu waktu, menyatakan kebebasan penumpang dalam memilih kendaraan yang akan dinaiki dengan tujuan sama. 2. Faktor Kapasitas Angkut Kendaraan Menyatakan jumlah penumpang yang mampu diangkut dalam satu waktu.

Berdasarkan derajat kepentingannya, dalam jurnal tersebut faktor kemananan memegang peranan 2 kali lebih penting dari faktor waktu, dan 4 kali lebih penting dari faktor lainnya. Sehingga urutan ranking untuk derajat kepentingan faktor-faktor diatas: 1. Faktor Aman 2. Faktor Waktu 3. Faktor Biaya 4. Faktor Jumlah Unit 5. Faktor Kapasitas 6. Faktor Kenyamanan Dengan demikian nilai skala pembobotan akan disesuaikan dengan peringkat atau derajat kepentingan tersebut.

12

BAB 3 ANALISIS
3.1 Struktur Hirarki Pemilihan Moda Angkutan Umum ke Kampus Gunadarma

Salemba Penggunaan AHP dimulai dengan membuat struktur hirarki atau jaringan dari permasalahan pemilihan moda, didalamnya terdapat: 1. Fokus utama, yaitu pemilihan moda 2. Kriteria-kriteria pemilihan moda yaitu kuantitas dan kualitas moda 3. Sub kriteria dari kuantitas moda terdiri atas jumlah unit, dan kapasitas moda. Sub kriteria dari kualitas moda biaya (ongkos), waktu tempuh perjalanan, keamanan dalam angkutan umum dan kenyamanan yang diberikan angkutan umum. 4. Alternatif-alternatif, yang terdiri atas moda angkutan kota, moda bus kota, dan kereta, karena angkutan umum inilah yang biasanya digunakan mahasiswa yang jarak rumahnya cukup jauh menuju kampus Gunadarma Salemba. Dengan uraian tersebut, kemudian disusunlah struktur hirarki pemilihan moda angkutan umum kekampus salemba seperti Gambar 3.1 berikut :

Gambar 3.1 Struktur Hirarki Pemilihan Moda Angkutan Umum ke Kampus Gunadarma Salemba 13

3.2

Nilai Eigen Perbandingan berpasangan dipergunakan untuk membentuk hubungan didalam

struktur. Hasil dari perbandingan berpasangan ini akan membentuk matrik dimana skala rasio diturunkan dalam bentuk eigen vektor utama atau fungsi eigen. Matrik tersebut berciri positif dan berbalikan, yakni aij = 1/aji. Dengan nilai eigen dapat diketahui kriteria dan alternatif yang paling penting sehingga keputusan pemilihan moda dapat diambil. Nilai eigen dari kriteria dan alternatif pemilihan moda sebagai berikut : 3.2.1 Level 2 : Kriteria E1 Kuantitas Kualitas Kuantitas 1/1 2/1 Kualitas 1/2 1/1 E1 (dalam desimal) Kuantitas Kualitas Kuantitas 1.000 2.000 Kualitas 0.500 1.000

Iterasi 1 Kuantitas Kualitas

kuantitas 2.00000 4.00000 Jumlah kuantitas 8.00000 16.00000 Jumlah

Kualitas Jumlah Baris Hasil Normalisasi 1.00000 3.00000 0.33333 2.00000 6.00000 0.66667 9.00000 Kualitas Jumlah Baris Hasil Normalisasi 4.00000 12.00000 0.33333 8.00000 24.00000 0.66667 36.00000

Iterasi 2 Kuantitas Kualitas

iterasi 1-iterasi2 Kuantitas Kualitas

Perbedaan Nilai Eigen 0.00000 0.00000

Nilai eigen yang diperoleh adalah : 0,333 ; 0,667 Matriks berpasangan dan nilai eigen : E1 Kuantitas Kualitas Kuantitas 1.000 2.000 Kualitas Nilai Eigen 0.500 1.000 0.333 0.667

Sehingga kriteria yang paling penting adalah kualitas kemudian kuantitas.

14

3.2.2 level 3 : Sub-Kriteria E2 Jml Unit Kapasitas Aman Nyaman Biaya Waktu Jml Unit 1 2 6 1/2 3 4 Kapasitas 1/2 1 5 1/3 2 3 Aman 1/6 1/5 1 1/8 1/4 1/2 Nyaman 2 3 8 1 5 6 Biaya 1/3 1/2 4 1/5 1 2 Waktu 1/4 1/3 2 1/6 1/2 1

E2(dalam desimal)

Jml Unit

Kapasitas

Aman

Nyaman

Biaya

Waktu

Jml Unit Kapasitas Aman Nyaman Biaya Waktu

1.000 2.000 3.000 1.000 5.000 7.000

0.500 1.000 1.500 0.500 2.500 3.500

0.330 0.670 1.000 0.3300 1.670 2.330

1.000 0.200 3.000 1.000 5.000 7.000

0.200 0.400 0.600 0.200 1.000 1.400

0.140 0.290 0.430 0.140 0.710 1.000

Iterasi 1 Jml Unit

Jml Unit Kapasitas Biaya Waktu Aman Nyaman Jml Baris 0.03240 0.38060 0.09100 0.05480 0.93490 0.05828 0.03240 0.05040 0.59230 0.14170 0.08530 1.45530 2.77460 0.66340 0.39970 6.81520 0.23350 0.05570 0.03360 0.57330 0.97420 0.23330 0.14040 2.39410 1.57430 0.37670 0.22680 3.86780 Jumlah 0.09073 0.42487 0.03574 0.14925 0.24113 0.05040 0.23650 0.01990 0.08300 0.13420 16.04060

Hasil Normalisasi 0.38060 0.59230 2.77460 0.23350 0.97420 1.57430

Kapasitas 0.23650 Biaya 0.01990 Waktu 0.08300 Aman 0.13420 Nyaman

15

Iterasi 2 Jml Unit Kapasitas Biaya Waktu Aman Nyaman

Jml Unit 0.89150 1.39900 6.00200 0.53300 2.27600 3.51800

Kapasitas 9.98600 16.08000 75.00000 5.99200 27.00000 43.00000

Biaya 2.47800 3.72000 18.08000 1.56400 5.99000 10.02000 Jumlah

Waktu 1.49800 2.31100 10.48600 0.91790 3.74500 5.99200

Aman 24.75050 39.01000 185.20800 15.12090 64.91100 105.01000

Nyaman 0.05703 0.08988 0.42674 0.03484 0.14956 0.24195

Jml Baris 0.89150 1.39900 6.00200 0.53300 2.27600 3.51800 434.01040

Normalisasi 9.98600 16.08000 75.00000 5.99200 27.00000 43.00000

Perbedaan Nilai Eigen 0.00126 0.00084 0.00186 0.00090 0.00031 0.00083

Perbedaan nilai eigen masih jauh maka dilakukan iterasi ke 3


Iterasi 3 Jml Unit Kapasitas 203500 316800 1484100 124800 521300 842200 Biaya Waktu Aman 126200 196500 920500 77400 323300 522400 Nyaman 76000 118300 554300 46600 194700 314600 Jml Baris 1296500 2018700 9455900 795100 3321400 5366300 22253900 Normalisas Perbedaan i Nilai Eigen 0.05826 0.00002 0.09071 0.00001 0.42491 0.00004 0.03573 0.00001 0.14925 0.00000 0.24114 -0.00001

Jml Unit 318100 Kapasitas 495300 Biaya 2319900 Waktu 195100 Aman 814900 Nyaman 1316600

44900 527800 70000 821800 327800 3849300 27600 323600 115100 1352100 186000 2184500 Jumlah

Perbedaan nilai tidak ada sehingga nilai hasil normalisasi pada iterasi 3 dapat digunakan sebagai nilai eigen level 3-sub kriteria dengan nilai : 0,058; 0,091; 0,425; 0,036; 0,149; 0,241 Matriks berpasangannya dan nilai eigen : E2(dalam desimal) Jml Unit Kapasitas Biaya Waktu Aman Nyaman Nilai Eigen Jml Unit Kapasitas Biaya Waktu Aman Nyaman 1.000 2.000 3.000 1.000 5.000 7.000 0.500 1.000 1.500 0.500 2.500 3.500 0.330 0.670 1.000 1.000 0.200 3.000 0.200 0.400 0.600 0.200 1.000 1.400 0.140 0.290 0.430 0.140 0.710 1.000 0.05826 0.09071 0.42491 0.03573 0.14925 0.24114

0.3300 1.000 1.670 2.330 5.000 7.000

Sehingga sub-kriteria yang paling penting adalah aman, kemudian waktu, Biaya, kapasitas kapasitas, jumlah unit dan kenyamanan.

16

3.2.3 Level 4 : Alternatif

iterasi 1 Mikrolet Bus Kereta Jml Baris Normalisasi Mikrolet 2.99000 1.26000 0.50890 4.75890 0.10281 Bus 7.65000 2.98000 1.26000 11.89000 0.25687 Kereta 19.00000 7.65000 2.99000 29.64000 0.64033 Jumlah 46.28890 iterasi 2 Mikrolet Bus Kereta Mikrolet 28.24800 69.61100 172.14000 Bus 11.41500 28.15800 69.61100 Kereta 4.63100 11.41500 28.24800 Jumlah Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai 269.99900 0.63758 0.00273 109.18400 0.25783 0.00097 44.29400 0.10460 0.00177 296.58010

Perbedaan nilai eigen masih jauh sehingga dilakukan iterasi ke 3:


iterasi 3 Mikrolet Bus Kereta Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai Mikrolet 2390 5892 14571 22853 0.63762 0.00005 Bus 9660 2382 5892 9240 0.25781 0.00002 Kereta 3920 9660 2390 3748 0.10457 0.00002 Jumlah 35841

Nilai eigen = 0,638; 0,258; 0,105, sehingga moda yang terpilih dari banyaknya jumlah unit adalah mikrolet

17

iterasi 1 Mikrolet Bus Mikrolet 2.99000 1.26000 Bus 7.65000 2.98000 Kereta 19.00000 7.65000 Jumlah

Kereta Jml Baris Normalisasi 0.50890 4.75890 0.10281 1.26000 11.89000 0.25687 2.99000 29.64000 0.64033 46.28890 Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai 44.29430 0.10460 0.00179 109.18420 0.25783 0.00096 270.00120 0.63758 0.00275 423.47970

iterasi 2 Mikrolet Bus Kereta Mikrolet 28.24820 11.41530 4.63080 Bus 69.61050 28.15840 11.41530 Kereta 172.14250 69.61050 28.24820 Jumlah

Perbedaan nilai pada iterasi 1 dan 2 masih terlalu berbeda sehingga dilakukan iterasi ke 3
iterasi 3 Mikrolet Bus Kereta Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai Mikrolet 2390 966 392 3748 0.10457 0.00000 Bus 5892 2382 966 9240 0.25781 0.00001 Kereta 14571 5892 2390 22853 0.63762 0.00002 Jumlah 35841

Nilai eigen = 0,105; 0,258, 0,638, sehingga moda yang terpilih dari daya kapasitas angkut adalah kereta

iterasi 1 Mikrolet Bus Mikrolet 3.00000 0.52500 Bus 18.00000 3.00000 Kereta 10.50000 1.80000 Jumlah

Kereta Jml Baris Normalisasi 0.90000 4.42500 0.09625 5.25000 26.25000 0.57096 3.00000 15.30000 0.33279 45.97500 Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai 40.82630 0.09740 0.00115 238.72500 0.56953 0.00144 139.61250 0.33307 0.00028 419.16380

iterasi 2 Mikrolet Bus Kereta Mikrolet 27.90000 4.77000 8.15630 Bus 163.12500 27.90000 47.70000 Kereta 95.40000 16.31250 27.90000 Jumlah

18

Perbedaan nilai pada iterasi 1 dan 2 masih terlalu berbeda sehingga dilakukan iterasi ke 3
iterasi 3 Mikrolet Bus Kereta Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai Mikrolet 2335 399 683 3417 0.09740 0.00003 Bus 13653 2335 3992 19980 0.56954 0.00007 Kereta 7984 1365 2335 11684 0.33306 0.00004 Jumlah 35081

Perbedaan nilai sudah tidak terlalu jauh sehingga Nilai eigen = 0,097; 0,569, 0,333, sehingga moda yang terpilih dari tinjauan biaya adalah Bus

iterasi 1 Mikrolet Bus Mikrolet 3.00000 1.60000 Bus 5.65000 2.99000 Kereta 16.00000 8.50000 Jumlah

Kereta Jml Baris Normalisasi 0.56500 5.16500 0.12195 1.06000 9.70000 0.22902 2.99000 27.49000 0.64904 42.35500 Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai 46.54690 0.12212 -0.00017 87.32470 0.22910 -0.00009 247.28510 0.64878 0.00026 381.15670

iterasi 2 Mikrolet Bus Kereta Mikrolet 27.08000 14.38650 5.08040 Bus 50.80350 26.99010 9.53110 Kereta 143.86500 76.43000 26.99010 Jumlah

Perbedaan nilai pada iterasi 1 dan 2 masih terlalu berbeda sehingga dilakukan iterasi ke 3
iterasi 3 Mikrolet Bus Kereta Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai Mikrolet 2195 1166 412 3773 0.12212 0.00000 Bus 4118 2188 773 7079 0.22912 -0.00001 Kereta 11662 6195 2188 20045 0.64877 0.00001 Jumlah 30897

Nilai eigen = 0,122; 0,229, 0,649, sehingga moda yang terpilih ditinjau dari waktu tempuh tercepat adalah kereta

19

iterasi 1 Mikrolet Bus Mikrolet 3.00000 1.60000 Bus 5.65000 2.99000 Kereta 16.00000 8.50000 Jumlah

Kereta Jml Baris Normalisasi 0.56500 5.16500 0.12195 1.06000 9.70000 0.22902 2.99000 27.49000 0.64904 42.35500 Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai 46.54690 0.12212 -0.00017 87.32470 0.22910 -0.00009 247.28510 0.64878 0.00026 381.15670

iterasi 2 Mikrolet Bus Kereta Mikrolet 27.08000 14.38650 5.08040 Bus 50.80350 26.99010 9.53110 Kereta 143.86500 76.43000 26.99010 Jumlah

Perbedaan nilai pada iterasi 1 dan 2 masih terlalu berbeda sehingga dilakukan iterasi ke 3
iterasi 3 Mikrolet Bus Kereta Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai Mikrolet 2195 1166 412 3773 0.12212 0.00000 Bus 4118 2188 773 7079 0.22912 -0.00001 Kereta 11662 6195 2188 20045 0.64877 0.00001 Jumlah 30897

Nilai eigen = 0,122; 0,229, 0,649, sehingga moda yang terpilih ditinjau dari keamanan terbaik adalah kereta

iterasi 1 Mikrolet Bus Mikrolet 2.99000 1.06000 Bus 8.50000 2.99000 Kereta 16.00000 5.65000 Jumlah

Kereta Jml Baris Normalisasi 0.56500 4.61500 0.10896 1.60000 13.09000 0.30905 3.00000 24.65000 0.58199 42.35500

20

iterasi 2 Mikrolet Bus Kereta Mikrolet 26.99010 9.53110 5.08030 Bus 76.43000 26.99010 14.38650 Kereta 143.86500 50.80350 27.08000 Jumlah

Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai 41.60150 0.10915 0.00019 117.80660 0.30908 0.00002 221.74850 0.58178 0.00021 381.15660

Perbedaan nilai pada iterasi 1 dan 2 masih terlalu berbeda sehingga dilakukan iterasi ke 3
iterasi 3 Mikrolet Bus Kereta Jml Baris Normalisasi Perbedaan Nilai Mikrolet 2188 773 412 3373 0.10917 -0.00002 Bus 6195 2188 1166 9549 0.30906 0.00002 Kereta 11662 4118 2195 17975 0.58177 0.00001 Jumlah 30897

Perbedaan nilai sudah tidak terlalu jauh maka nilai eigen = 0,109; 0,309; 0,581, sehingga moda yang terpilih dari segi kenyamanan adalah kereta

3.2.4 Pemilihan Moda Setelah didapat nilai eigen masing-masing alternatif, maka untuk mendapatkan jawaban moda yang dipilih dapat dilakukan dengan jalan mengalikan matriks eigen alternatif dengan bobot matrik sebagai berikut : Jumlah Unit Mikrolet Bus Ekonomi KRL 0.1046 0.6376 0.33310 0.6488 0.6488 0.5818 0.4249 0.0357 0.1493 0.2411 0.6376 0.2578 0.1046 0.2578 0.09740 0.1221 0.56950 0.2291 0.1221 0.1092 0.2291 0.3091 Kapasitas Biaya Waktu Aman Nyaman Bobot Matriks 0.0583 0.0907

21

Hasilnya : Hasil Matriks Bobot Mikrolet Bus Ekonomi KRL 0.137 0.3973 0.4658

Jadi ranking yang diperoleh


Ranking Moda 1 Kereta 2 Bus Kota 3 Mikrolet Bobot 0.4658 0.3973 0.1370

Maka diperoleh bahwa Moda angkutan umum pilihan yang utama menuju kampus Gunadarma Salemba ialah : Kereta

3.2.5 Consistency Ratio

22

BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN

1.

KESIMPULAN Dari analisis data pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa : 1. Nilai eigen yang didapat dari masing-masing perhitungan ialah :

2. Moda angkutan umum menuju kampus Gunadarma Salemba yang dipilih ialah kereta (commuter line) dengan bobot 0,47

Pemilihan Moda
0.6 0.4 0.2 0 Mikrolet Bus Ekonomi KRL

2.

SARAN 1. Dalam melakukan pembobotan yang lebih teliti (dengan terdapatnya survei terhadap responden) maka hasil pemilihan moda akan semakin tepat. 2. Moda angkutan pada penulisan selanjutnya dapat dibuat lebih spesifik (pada angkutan dibuatkan pembagian trayek perjalanan) 23

DAFTAR PUSTAKA

Saaty, T.L. 1980. The Analytic Hierarchy Process. McGraw-Hill, New York.

Teknomo, Kardi. 1999. Jurnal Vol.1 No 1 Tahun 1999: Penggunaan Metode Analytic Hierarchy Process dalam Menganalisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Moda ke Kampus. Petra

http://id.scribd.com/doc/59042202/AHP-by-Hafiizh

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20376/3/Chapter%20II.pdf

http://people.revoledu.com/kardi/download/download.php?file=Dimensi1

24