Anda di halaman 1dari 41

Berikut ini adalah case VIII, yang kami dapat : HALAMAN 1 : OUTBOUND

Jaka, 18 tahun, mahasiswa baru FK UPN veteran jakarta. Sebagaimana layaknya mahasiswa baru di upn diwajibkan untuk mengikuti kegiatan outbound yang diselenggarakan untuk memupuk jiwa persaudaraan dan kepemimpinan. Kegiatan outbound di bumi perkemahan cibubur. Semua peserta diwajibkan hadir pukul 06.00 untuk mengikuti briiefing terlebih dahulu, dilanjutkan dengan berolahraga. Setelah berolahraga semua peserta diminta untuk mengikuti kegiatan baris berbaris. Pada baris berbaris jaka mengeluarkan banyak keringat, mukanya tampak merah dan nafasnya mulai terengah-engah serta merasa sangat haus karena matahari bersinar dengan triknya. Setelah menyelesaikan semua kegiatan baris berbaris jaka beriistirahat dan meminum segelas air putih. Jaka merasa lebih segar dan nafasnyapun mulai teratur.

HALAMAN 2: OUTBOUND
Setelah istiraha, acara dilanjutkan dengan kegiatan menyusuri sungai , baju jaka basah kuyub. Setengah jam perjalanan jaka merasa kedinginan, pucat dan mulai menggigil serta merasa lapar. Setibanya di base camp jaka berganti pakian dan menyantap makan siang yang setelah disediakan. Jaka merasa lebih segar. Sebagai mahasiswa kedokteran, ia berpikir proses apa yang terjadi pada dirinya selama mengikuti outbound. Beberapa hari kemudian pada acara FBS didiskusikan bahwa yubuh yang terdiri atas berbagai system organ saling bekerjasama untuk menjaga lingkungan internal tubuh agar tetap stabil (homeostasis). Homeostasis tersebut terutama diatur oleh system saraf dan system endokrin melalui mekanisme upan balik.

Dari case 1 dan 2, kami mendapatkan terminologi sebagai berikut : 1. Homeostasis: kecendrungan untuk tetap dalam keadaan tubuh organisme normal. 2. S.Organ: organum 3. S. Saraf: suatu struktur mirip tali yang terdiri dari sekumpulan serat saraf yang menghantarkan impuls dari satu bagian sistem saraf pusat kebeberapa daerah tubuh lainnya.

4. Sistem Endokrin: menyekresi secara internal dipakai untuk organ dan struktur yang mengeluarkan zat yang dihasilkannya kedalam darah atau cairan limfe dan untuk zat yang mempunyai efek spesifik terhadap organ lain. 5. Mekanisme Feed Back: Pengembalian sebagian keluaran suatu sistem menjadi masukkan sehingga memberikan pengendalian dalam proses tersebut. 6. Hipotalamus: 7. Nutrien: makanan atau zat lain sumber energi 8. Hormon: zat kimia yang dihasilkan didalam tubuh leh organ . 9. SNA: 10. Insulin: hormon protein yang disekresikan oleh sel beta. 11. Leptin: suatu adipositokon dengan 167 asam amino yang merupakan bagia lekuk feed back yang menyediakan informasi ke otak mengeneai keadaan penyimpanan nutrisi. 12. Glokosa: suatu aldeheksosa. 13. Lipid: zat-zat yang temasuk kedalam salah satu kelompok heterogen lemak dan zat mirip lemak yang bersifat tidak larut dalam air dan larut dalam larutan nonpolar. 14. LNA: 15. VMA: vanillymendelic acid 16. ARC: struktur atau jalur proyeksi yang mempunyai bentuk melengkung . 17. ME: methly. Dari case 1 dan 2, kami menemukan problem sebagai berikut : 1. Mengapa jaka mengeluarkan keringat? 2. Mengapa nafasnya terengah-engah? 3. Mengapa jaka merasa haus? 4. Mengapa setelah jaka beristirahat dan minum ia merasa lebih segar dan nafasnya teratur? 5. Mengapa baju jaka yang basah kuyup menyebabkan jaka mengigil kedinginan pucat dan lapar? 6. Mengapa setelah ia berganti pakaian dan makan siang ia merasa lebih segar?

Dari Problem, kami melakukan hipotesis sebagai berikut : 1. Kegiatan yang berlebihan menyebabkan keluarnya keringat, nafas terengah.

2. Istirahat dan makan dapat memulihkan kondisi tubuh.

Mekanisme JAKA (18 tahun)

Mengikuti outbound

Sarapan

Baris berbaris

Mengeluarkan banyak keringat Merasa haus Muka merah

Nafas terengah engah

Minum air putih

Menyelusuri sungai

Baju basah kuyub

Kedinginan

Pucat

Lapar

Ganti pakaian dan makan siang

HOMEOSTASIS

I DONT KNOW (IDK) & LEARNING ISSUES (LI)

BAB I HOMEOSTASIS 1.1 Definisi Homeostasis Pemeliharaan aneka kondisi yang konstan di lingkungan dalam Pemeliharaan lingkungan internal yang relative stabil Kecendrungan stabilitas pada keadaan fisiologi organism normal Kondisi fisiologi tubuh yang berada dalam keadaan stabil

1.2 Fungsi Homeostasis Memungkinkan enzim-enzim menjalankan fungsinya dengan optimum Memungkinkan kadar metabolism diatur secara efisien pada saat tertentu Memungkinkan organism beradaptasi pada lingkungan luar yang mempunyai jumlah dan habitat yang lebih luas Menyediakan keadaan dalam (lingkungan dinamis dalam badan organisme) yang stabil supaya sel-sel dapat menjalankan hidup dengan efisien. 1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Homeostasis 1. Konsentrasi molekul zat-zat gizi Sel-sel membutuhkan pasokan molekul nutrient yang tetap untuk digunakan sebagai bahan bakar metabolic untuk menghasilkan energy 2. Konsentrasi O2 dan CO2 Sel membutuhkan O2 untuk melakukan reaksi-reaksi kimia yang menarik sebanyak mungkin energy dari molekul nutrient untuk digunakan sel 3. Konsentrasi zat-zat sisa

Berbagai reaksi kimia menghasilkan produk-produk akhir yang berefek. Toksik bagi sel apabila dibiarkan tertimbun dalam jumlah tertentu. 4. PH Perubahan kesamaan lingkungan mempengaruhi perubahan mekanisme pembentukan sinyal listrik di sel saraf dan perubahan aktivitas enzim di semua sel. 5. Konsentrasi air,garam-garam dan elektrolit-elektrolit lain Karena konsentrasi relative garam dan air didalam CES mempengaruhi banyak sedikitnya air yang masuk dan keluar sel, konsentrasi keduanya diatur secara ketat apabila mereka bengkak atau memicut. 6. Suhu Sel-sel tubuh berfungsi secara optimal dalam rentang suhu yang sempit. Sel-sel akan mengalami perlambatan aktivitas yang hebat apabila suhunya terlalu dingin, yang lebih buruk, protein-protein structural dan enzimatiknya akan terganggu apabila suhunya terlalu panas. 7. Volume dan tekanan Komponen sirkulasi pada lingkungan internal,yaitu plasma, harus dipertahankan pada tekanan darah dan volume yang adekuat agar oenghubung vital antara sel dan lingkungan eksteranl ini dapat disistribusi ke seluruh tubuh. 1.4 Prinsip Dasar Homeostasis Manusia dapat hidup dilingkungan hidup dilingkungan yang berubah-ubah karena mempunyai kemampuan untuk mempertahankan keadaan lingkungan di dalamnya. Hal ini terjadi untuk menjamin kelangsungan hidup sel-sel tubuh. untuk mempertahankan volume sel yang sesuai. Sel-sel tidak dapat berfungsi secara normal

mempertahankan

SISTEM TUBUH

HOMEOSTASIS

membentuk

SE L

Penting untuk kehidupan sel

BAB II SISTEM YANG MENGATUR

2.1 Feed Back Positif Umpan balik positif atau Feed Back positif, ialah keadaan dimana Pada umpan balik positif meningkatkan atau memperkuat perubahan sehingga variable terkontrol terus bergerak searah perubahan awal. Contoh umpan balik positif : 1. Pada saat terjadi kontraksi saat persalinan, hormon oksitosin dilepaskan kedalam tubuh yang merangsang kontraksi lebih lanjut yang meyebabkan kontraksi meningkat. 2. Pada proses pembekuan darah trombosit diaktifkan yang menyebabkan pembekuan darah dapat terjadi lebih cepat. 3. Pada proses menyusui lebih banyak susu diproduksi melalui peningkatan sekresi prolaktin. 4. Estrogen yang berfungsi selama fase folikuler dari menstruasi juga merupakan contoh dari umpan balik positif. 5. Generasi sinyal saraf adalah contoh lain, di mana membran dari serat saraf menyebabkan kebocoran sedikit ion natrium melalui saluran natrium, sehingga perubahan dalam potensial membrane menyebabkan saluran membukan lebih. Jadi hasil sedikit kebocoran awal dalam ledakan kebocoran natrium menciptakan saraf potensial aksi. 6. Kontrol lonjakan LH pada saat okulasi 7. Pada saat orgasme seksual.

10

11

2.2 Feed Back Negatif Umpan balik negative atau feed back negative adalah perubahan suatu factor yang di control secara homeostasis dan memicu respon yang berupaya untuk memulihkan factor tersebut ke normal dengan menggerakkan factor kearah berlawanan dari perubahan awalnya. Contoh umpan balik negatif : 1. Hipofisis memerintahkan ACTH untuk meningkatkan kortisol pada adrenalin yang berfungsi dalam metabolism glukosa, lipid dan protein kemudian setelah produksi kortisol mencukupi adrenal akan memerintahkan hipopisis untuk menghentikan produksi ACTH. 2. Pada penderita diabetes mellitus terjadi peningkatan kadar gula dalam darah karena kurangnya hormone insulin sehingga pada saat kita mengkonsumsi gula yang kita ketahui sifat gula membawa air hal ini menyebabkan pada saat penyaringan di glomerulus sebagian gula yang lolos dari penyaringan akan keluar bersama urine dan terjadi peningkatan urine (poliuri) karena banyaknya air yang keluar dari tubuh lewat urine maka tubuh akan mengalami dehidrasi akibatnya penderita akan merasa kehausan. 3. Pada penderita Diabetes Mealitus karena kurangnya insulin maka terdapat banyak gula diluar sel akibatnya sel akan memakan gula yang ada pada otot untuk mendapat energi, akibatnya penderita merasa kelelahan dan mudah kelaparan. 4. Mekanisme penginderaan (reseptor) mengenali perubahan keadaan diluar batasbatas tertentu. Pusat control atau integrator (sering terdapat diotak) menilai perubahan tersebut dan mengaktifkan mekanisme kedua(efektor) untuk memperbaiki keadaan. Keadaan tersebut senantiasa dipantau oleh reseptor dan dievaluasi oleh pusat kontrol. Ketika pusat kontrol menentukan bahwa keadaan telah kembali normal, tindakan perbaikan tidak dilanjutkan lagi.

12

BAB III SISTEM ORGAN YANG TERLIBAT

3.1 Sistem Endokrin Sistem kontrol utama kedua setelah saraf. Secara umum kelenjar-kelenjar penghasil hormon pada sistem endokrin mengatur aktifitas yang lebih mementingkan daya tahan dari pada kecepatan. Sistem ini terutama penting untuk mengontrol konsensentrasi zat-zat gizi dan degan menyesuaikan fungsi ginjal, mengontrol volume serta komposisi elektrolit lingkungan internal. Kontribusi spesifik : 1. ADH: mempertahankan tekanan osmotik sel dengan mengendalikan ekstensi air oleh ginjal dan mengatur volume darah. 2. Epinefrin: peran langsung untuk mengeluarkan tekana darah dan peran tidak langsung menyediakan sumber energi tambahan, kerja sistem endokrin yaitu kontrol aktivitas yang memerlukan durasi (lambat), tidak secara struktural berhubungan dengan sel target. 3.2 Sistem Saraf Salah satu pengatur kontrol utama tubuh. Secara umum, sistem ini mengotrol dan mengkoordinasikan aktivitas tubuh yang memerlukan respon cepat. Sistem ini sangat penting, utama untuk mendeteksi dan mencetuskan reaksi terhadap berbagai perubahan di lingkungan internal selain itu sistem ini bertanggung jawab atas fungsi lain yang lebih tinggi yang tidak seluruhnya ditunjukan untuk mempertahankan homeostasis, misalnya keadaan, ingatan. Komponen: otak, korda spinalis, saraf porifer, organ indera khusus. 3.3 Sistem Sirkulasi Sistem transportasi yang membawa berbagai zat misalnya zat gizi, O 2, CO2, zat-zat sisa, elektrolit dan hormon dari 1 bagian tubuh kebagian lainnya. Komponen: jantung, pembuluh darah, dan darah.

13

3.4 Sistem Pencernaan Menguraikan makanan menjadi molekul-molekul kecil zat gizi yang dapat diserap kedalam plasma untuk didistribusikan ke seluruh sel. Sistem ini juga memindahkan air dan elektrolit dari lingkungan eksternal dari lingkungan internal sistem ini mengeluaran sisasisa makanan yang tidak dicerna kelingkungan eksternal melalui tinja. Komponen: mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, usus besar, pankreas hati, kantung empedu. 3.5 Sistem Respirasi Mengambil O2 dan mengeluarkan CO2 kelingkungan eksternal. Dengan menyesuaikan kecepatan pengeluaran CO2 pembentuk asam, sistem respirasi juga penting untuk mempertahankan PH lingkungan internal yang sesuai . komponen: hidung, faring, laring, trakea, bronkus, paru. 3.6 Sistem Rangka System yang member penunjang dan proteksi bagi jaringan lunak dan organ-organ. System ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan kalsium (Ca 2+), suatu elektrolit yang konsentrasinya dalam plasma harus dipertahankan dalam rentang yang sangat sempit. Bersama dengan system otot, system skeletal juga memungkinkan timbulnya gerakan tubuh dan bagian-bagiannya. Komponen organ yang terkait ialah tulang rawan, tulang rangka dan sendi. System skeletal memungkinkan tubuh berinbteraksi dengan lingkungan luar. 3.7 Sistem Otot Menggerakan tulang-tulang yang melekat kepadanya. Dari sudut pandang homeostasis semata-mata system ini memungkinkan individu mendekati makanan dan menjauhi bahaya. Selain itu, panas yang dihasilakn oleh kontraksi otot penting untuk mengatur suhu. Karenan berada dibawah control kesadaran, individu juga mampu menggunakan otot rangka untuk melakukan bermacam gerakan sesuai dengan keinginan. Komponen yang terkait adalah otot-otot rangka.

14

3.8 Sistem Integumen System yang berfungsi sebagai sawar protektif bagian luar yang mencegah cairan internal keluar dari tubuh dan mikroorganisme asing masuk ke dalam tubuh. System ini juga mengatur jumlah panas yang dikeluarkan dari permukaan tubuh ke lingkungan eksternal dapat disesuaikan dengan mengatur produksi keringat dan mengatur aliran darah hangat ke kulit. Komponen yang terkait adalah kulit, rambut dan kuku. 3.9 Sistem Imun System yang berfungsi untuk mempan ertahankan tubuh dari serangan benda asing dan sel-sel tubuh yang telah menjadi kanker. System ini juga mempermudah jalan untuk perbaikan dan penggantian sel yang tua atau cedera. Komponen yang terkait adalah sel darah putih, thymus, sumsum tulang, tonsil, adenoid, kelenjar limfe, limpa, apendiks, jaringan limfoid terkait usus, jaringan limfoid terkait kulit. 3.10 Sistem Reproduks System ini tidak essensial bagi homeostasis dan karenanya tidak essensial bagi kelangsungan hidup individu. Namun system ini essensial bagi kelangsungan keberadaan spesies. Komponen yang terkait jika pada laki-laki yaitu testis, penis, kelenjar prostat, vesikula seminalis dan kelenjar bulboureta. Sedangkan pada wanita itu ovarium, tuba uterine, uterus, vagina, dan payudara. 3.11 Sistem Urinaria System yang bertugas untuk mengeluarkan kelebihan garam, air dan elektrolit lain dari plasma melalui urin, bersama zat sisa lain CO2. Komponen organ yang terkait dalam system ini adalah ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. System urinaria penting dalam mengatur volume, komposisi elektrolit dan PH lingkungan internal.

15

BAB IV TRANSPORT MEMBRAN 4.1 Definisii Transport Membran Sesuatu proses keluar masuknya materi yang menembus selaput membrane plasma melalui transport aktif dan pasif.Transport pasif, adalah proses perpindahan molekul, zat, dan ion melalui mebran plasma tanpa memerlukan energy. 4.2 Fungsi Transport Membran Pengatur keluar masuknya zat untuk memperoleh pH (derajat keasaman) yang sesuai, mengendalikan konsentrasi ion dalam sel, dan membuang sisa metabolisme yang tidak berguna bagi sel 4.3 Faktor Yang Mempengaruhi Transport Membran Zat molekul yang meresap. Molekul yang lebih kecil daripada garis pusat liang membran akan meresap dengan lebih mudah. Keterlarutan lipid. Molekul yang mempunyai keterlarutan yang tinggi meresap

lebih cepat daripada molekul yang kelarutan yang rendah seperti lipid. Jika kadar resapan bagi dua bahan yang sama saiz molekul dibandingkan, bahan yang lebih larut dalam lipid akan meresap lebih cepat daripada bahan yang mempunyai kelarutan yang rendah. Luas permukaan membrane. Kadar resapan menjadi lebih cepat jika luas permukaan membrsn yang disediakan untuk resapan adalah lebih besar. Ketebalan membrane. Kadar resapan sesuatu molekul berkadar songsang

dengan jarak yang harus dilaluinya. Berbanding dengan satu membran yang tebal, kadar resapan memlaui satu membran yang nipis adalah lebih cepat. Suhu. Pergerakan rawak molekul dipengaruhi oleh suhu. Kadar resapan akan menjadi lebih cepat pada suhu yang tinggi dibandingkan dengan suhu yang rendah. Cas elektrik pada molekul. Pada umumnya, resapan molekul bercas (ion) adalah

lebih perlahan berbanding dengan molekul yang tidak bercas walaupun saiz molekul yang

16

serupa. Jika semua faktor di atas adalah malar, maka ini boleh ditunjukkan bahwa kadar resapan berkadar terus dengan cerun kepekatan.

4.4 Macam Transport Membran

Fungsi suatu membran adalah sebagai pengatur keluar masuknya zat untuk memperoleh pH (derajat keasaman) yang sesuai, mengendalikan konsentrasi ion dalam sel, dan membuang sisa metabolisme yang tidak berguna bagi sel. Membran sel melakukan semua itu melalui transpor membran. Transpor membran dibagi menjadi 2, yaitu: Transpor pasif, yaitu transportasi yang tidak membutuhkan energi, transportasi ini terjadi secara spontan dari zat yang berkonsentrasi tinggi ke zat yang memiliki konsentrasi rendah. Transpor pasif ada beberapa macam, yaitu: o) Difusi, yaitu peristiwa berpindahnya zat pelarut dari yang berkonsentrasi tinggi ke zat yang memiliki konsentrasi rendah. Proses perpindahan ini akan berhenti ketika kerapatan dalam

17

ruangan menjadi rata. Analisa proses difusi adalah seperti menyebarnya molekul gula pada cairan teh yang tawar. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan proses difusi, yaitu :

- Ukuran partikel, semakin kecil bentuk partikel maka proses difusi akan semakin cepat. - Ketebalan membran, semakin tebal lapisan membran maka proses difusi akan semakin lambat. - Suhu, semakin tinggi suhu suatu partikel maka proses difusi akan semakin cepat. - Luas suatu area, semakin luas area difusi maka proses difusi akan semakin cepat. o) Difusi terfasilitasi, yaitu proses difusi yang dibantu oleh protein pembawa seperti proses pengangkutan glukosa dari lumen usus ke dalam pembuluh darah usus halus. Caranya, glukosa akan diikat oleh protein pembawa lalu protein pembawa akan mengubah bentuknya dan mendorong glukosa ke dalam sel. Setelah itu protein pembawa akan kembali ke bentuk yang semula. o) Osmosis, yaitu proses berpindahnya suatu zat pelarut atau ion dari zat yang berkonsentrasi tinggi ke zat yang memiliki konsentrasi rendah melalui suatu membran atau disebut juga difusi melalui membran yang bersifat semipermeabel (hanya zat tertentu yang bisa masuk ke dalam sel).

18

Karena membran sel bersifat semipermeabel maka zat terbagi menjadi dua, yaitu: Zat yang dapat melewati membran sel (bersifat permeabel). Zat yang dapat melewati membran bermacam macam, yaitu zat zat tertentu yang larut dalam lemak, zat yang tidak bermuatan (netral), asam amino, asam lemak, gliserol, gula sederhana, dan air. Zat yang berelektrolit lemah lebih cepat melalui membran daripada zat yang berelektorlit kuat. Zat yang tidak dapat melewati membran sel (bersifat impermeabel) Zat yang tidak dapat melewati membran yaitu zat gula protein, zat yang larut dalam pelarut organik, dan zat yang berukuran besar. Transpor aktif, aitu transportasi yang membutuhkan energi, dan transportasi ini melawan gradien konsentrasi. Transpor ada beberapa macam, yaitu: o) Pompa kalium - natrium. Ion kalium penting untuk mempertahankan muatan listrik yang berfungsi untuk memacu transpor aktif zat zat lain. Sebenarnya ion kalium dan natrium dapat melewati membran, namun karena ion kalium diluar sel mempunyai konsentrasi rendah sedangkan didalam sel mempunyai konsentrasi yang tinggi dan sebaliknya ion natrium di dalam sel memiliki konsentrasi yang rendah sedangkan di luar sel memiliki konsentrasi yang tinggi maka untuk menukar 2 ion kalium dengan 3 ion natrium dan memasukkan semua ion kalium ke dalam sel membutuhkan energi ATP. Proses pompa kalium - natrium dimulai dari berubahnya protein intergal (protein pembawa) yang memungkinkan ion 3 natrium untuk masuk kedalan protein itu. Kemudian enzim akan memecah ATP dan fosfat akan menempel pada protein. Proses pemecahan energi ATP mengubah bentuk protein yang memungkinkan keluarnya ion natrium dan masuknya ion 2 kalium. Kemudian protein intergal melepaskan fosfat yang menempel pada protein dan bentuknya pun berubah menjadi membuka ke dalam lalu ion kalium keluar dari protein dan masuk ke dalam sel. o) Endositosis 19

Endositosis adalah proses pemasukan partikel atau cairan ke dalam sel melalui membran. Endositosis terbagi menjadi dua, yaitu : - Fagositosis : Proses dimana membran plasma membungkus partikel yang berukuran kurang dari 250 nm yang berada di luar sel dan menangkapnya dalam suatu vakuola makanan ( vakuola makanan yang terbentuk pada proses fagositosis disebut fagosom ). Contoh proses fagositosis adalah sel amoeba yang memakan bakteri. - Pinositosis : Proses dimana suatu sel memakan zat cair yang berukuran kurang dari 150 nm. Caranya, sel akan mengelilingi cairan yang akan dimakan lalu membentuk sebuah gelembung dan disimpan dalam suatu vakuola yang disebut pinosom. o) Eksositosis Eksosotosis adalah proses pengeluaran zat yang tidak diperlukan di dalam sel melalui membran pada peristiwa sekresi ( proses keluarnya zat cair melalui kelenjar ). Caranya zat akan di masukkan ke dalam vakuola lalu berjalan menuju tepi sel. Setelah berada di tepi membran itu akan membuka dan zat zat tersebut akan keluar dari sel.

20

BAB V CAIRAN TUBUH 5.1 Definisi Cairan Tubuh Cairan Ekstrasel : semua cairan yang terdapat diluar sel dan terdiri dari ion-ion dan berbagai bahan nutrisi yang dibutuhkan oleh sel untuk mempertahankan fungsi sel spt pertumbuhan, perkembangan dan fungsi khusus lainnya. Cairan ekstrasel terdiri atas beberapa komponen : plasma, cairan interstitial dan cairan transeluler. Plasma : merupakan bagian non seluler dari darah dan menyusun 24% dari seluruh cairan ekstrasel. Plasma berhubungan dengan cairan intrasel melalui lubang yang terdapat pada kapiler. Cairan interstitial : merupakan cairan yang terdapat diantara sel, termasuk didalamnya adalah cairan limpa. Cairan interstitial merupakan 75% dari cairan ekstrasel. Cairan transeluler : merupakan cairan yang terdapat pada lumen saluran cerna, keringat, cairan cerebrospinal, cairan pleura, cairan pericardial, cairan intraokuler, sinovial, empedu, peritonium dan cairan kokhlea. Berjumlah 1 % dari cairan ekstrasel. Cairan intrasel : sekitar 25 liter dari 40 liter cairan dalam tubuhkita terdapat dalam 100 triliun sel, disebut cairan intrasel yang meliputi 2/3 dari seluruh cairan tubuh .Cairan intrasel yang terdapat pada tiap sel mempunyai komposisi yang berbeda tetapi konsentrasi dari tiap komposisi dapat dikatakan sama dari sel ke sel lainnya.

21

5.2 Fungsi 1. Sebagaipelarutuntukelektrolitdan non elektrolit 2. Membantumemeliharasuhutubuh 3. Membantupencernaan 4. Mempemudaheliminasi 5. Mengangkutzat-zatseperti (hormon, enzim, SDP, SDM) 6. Saranauntukmengangkutzat-zatmakanankesel-sel 7. Mengeluarkanbuangan-buangansel 8. Membentukdalammetabolismesel 5.3 Komposisi, Komponen dan Presentase CIS dan CES Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke seluruh tubuh melalui CIS (cairan intra selular seluler) dan CES (cairan ekstra seluler). Misalkan pada pria yang memiliki berat badan 70 kg, total cairan tubuh rata-ratanya adalah 60%, jadi cairan tubuh sekitar 42 L, presentasenya dapat berubah tergantung umur, jenis kelamin, derajat obesitas. 1. Cairan Intraselular (CIS) = 40% dari BB total

Adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah intra selular, sama kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya dari cairan tubuh bayi adalah cair anintraselular.

2. Cairan

Ekstraselular

(CES)

20%

dari

BB

total

Adalah cairan diluar sel. Ukuran relatif dari (CES)menurun dengan peningkatan

22

usia. Pada bayi baru lahir, kira-kir cairan tubuh terkandung didalam (CES). Setelah 1 tahun, volume relatif dari (CES) menurun sampai kira-kira 1/3 dari volume total. Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria dewasa (70 kg).

23

BAB VI TERMOREGULATOR 6.1 Definisi Termoregulator Homeostasis berarti pemeliharaan aneka kondisi yang hampir selalu konstan di lingkungan dalam. Mengapa manusia membutuhkan homeostasis? Salah satu alasan utamanya ialah disebabkan pengaruhnya terhadap kerja enzim. Dalam tubuh ini, ada banyak reaksi-reaksi tubuh terjadi, yang dipengaruhi oleh enzim. Sedang enzim dipengaruhi oleh, salah satunya, ialah suhu. Oleh karenanya, pemeliharaan kondisi atau tingkat suhu pada manusia sangat dibutuhkan. 6.2 Fungsi termoregulator Menjaga keadaan tubuh agar homeostasis 6.4 Mekanisme Termoregulator Sedikit disinggung mengenai pentingnya suhu tubuh bagi kelancaran reaksi bagi tubuh, beralih pandang mengenai bagaimana cara agar suhu tubuh manusia tetap berada dalam batas normal? Ada dua cara bagi tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh normal, baik dalam kondisi panas atau dingin, yaitu dengan cara melepaskan panas ( heat loss) dan mendapatkan panas (heat gain). Dua cara inilah yang dilakukan tubuh saat kondisi suhu eksternal tubuh memiliki suhu yang kontras dari suhu internal tubuh. Cara tersebut dihubungkan dengan mekanisme pertahanan suhu pada ulasan berikutnya. Suhu normal tubuh manusia sekitar 36,1-37,8C. Walau beberapa referensi berbeda sekian poin, namun kisaran rentang normal suhu tubuh manusia ialah dari angka 36-37C. Untuk mengukur suhu di dalam tubuh, ada tiga cara, yaitu melalui oral (mulut), aksila (ketiak), atau rectal (dubur). Dari ketiganya, cara terbaik yang akan menghasilkan perolehan yang sesuai atau dekat dengan hasil sebenarnya (suhu internal tubuh) ada pada cara mengukur temperatur suhu tubuh melalui rectal. Hasil yang diperoleh lebih akurat dibandingkan dengan mengukur suhu tubuh melalui oral dan aksila.

24

Ternyata, selain tubuh, sikap juga berperan dalam mempertahankan suhu tubuh. Semisal seorang anak kecil berendam di dalam bak mandinya disebabkan suhu udara di luar rumah yang sangat panas, karena saat itu kemarau. Dua mekanisme penting dalam termoregulasi: 1. Heat Loss Yaitu pelepasan kalor. Pengaturan stimulus heat loss center ada di otak, tepatnya hipotalamus bagian anterior. - Radiasi, emisi energi panas dari suatu permukaan yang hangat dalam bentuk gelombang elektromagnetik yang merambat dalam ruang. - Konduksi, perpindahan panas melewati medium yang berkontak secara langsung. - Konveksi, perpindahan panas oleh aliran udara atau air. Mengalir dari tempat yang panas ke tempat yang lebih dingin. - Evaporasi, penguapan; metode terakhir pemindahan panas yang digunakan oleh tubuh. Mekanisme: Saat tubuh kepanasan, atau kondisi suhu eksternal tubuh melebihi batas wajar penerimaan tubuh, hipotalamus (bagian anterior) menstimulus pusat heat loss (heat gain dihambat saat heat loss distimulus) untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat melepaskan suhu tubuh. Aktivitas yang dilakukan ialah: Vasodilatasi (pelebaran) pembuluh darah perifer (kulit). Contohnya, saat bocah lelaki bermain futsal, mukanya terlihat lebih merah/gelap. Ini disebabkan pembuluh darah perifer bocah mengalami pelebaran sehingga darah yang terpasok ke area wajah lebih banyak. Darah yang mengalir juga membawa panas yang kemudian akan dikeluarkan secara radiasi dan konveksi melewati kulit. Kelenjar keringat, menghasilkan keringat lebih banyak Pusat pernapasan, menghasilkan pernapasan lebih cepat dan dalam Pembuluh darah, terbagi dalam dua, yaitu superfisial (bagian luar) dan inferior (bagian dalam).

25

Persentase panas yang dikeluarkan oleh: Radiasi pengeluaran = 70% Keringat Respirasi = 27% = 2%

Urine dan Defekasi = 1% 2. Heat Gain Yaitu upaya tubuh untuk tetap mempertahankan dan menjaga panas agar tidak keluar dari tubuh. Pengaturan heat gain berada di hipotalamus posterior. Mekanisme: Saat tubuh kedinginan, atau kondisi suhu eksternal tubuh di bawah batas wajar penerimaan tubuh, hipotalamus (bagian posterior) menstimulus pusat heat gain (heat loss dihambat saat heat gain distimulus) untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat mempertahankan suhu tubuh. Aktivitas yang dilakukan ialah: Kontraksi erektor pili, otot yang membuat rambut pada kulit dapat berdiri. Berdirinya rambut untuk mencegah terjadinya proses konveksi dan radiasi. Heat generation Tubuh akan menghasilkan panas -> menggigil (shivering) akibat adanya kontraksi otot rangka. Pusat heat generation menstimulasi adrenal di ginjal bagian medula -> epinefrin. Epinefrin meningkat yang kemudian proses glikogenolisis terjadi. Terjadinya glikogenolisis ialah di hati dan otot -> proses ini mengakibatkan meningkatnya panas tubuh.

26

BAB VII MEKANISME HAUS 7.1 Mekanisme Haus Walaupun terdapat mekanisme rasa haus untuk mengontrol pemasukan H2Oberdasarkan kebutuhan, jumlah cairan yang diminum seringkali dipengaruhi oleh kebiasaan dan factor social selain rasa haus. Pusat rasa haus terdapat di hipotalamus dekat dengan sel penghasil vasopressin. Vasopressin adalah hormone yang disekresikan sebagai respons tarhadap deficit H2O, yang diatasi dengan peningkatan reabsorpsi H2O di bagian distal nefron. Rasa haus meningkatkan pemasukan H2O, sementara vasopressin mengurangi produksi urin, menurunkan pengeluaran H2O. Satu stimulus yang mendorong rasa haus tetapi tidak menyebabkan sekresi vasopressin adalah efek langsung kekeringan pada mulut. Ujung-ujung saraf di mulut secara langsung dirangsang oleh kekeringan, yang menyebabkan rasa haus kuat yang sering dapat diatasi hanya dengan membasahi mulut walaupun sebenarnya tidak terjadi ingesti H2O. Kekeringan di mulut dapat terjadi apabila pengeluaran air liur tertekan oleh faktor yang tidak berkaitan dengan kandungan H2O tubuh, misalnya oleh rasa cemas, merokok berlebihan atau obat tertentu.

27

BAB VIII MEKANISME LAPAR 8.1 Mekanisme Lapar Pusat saraf yang mengatur asupan makanan. 1. Nukleus lateral hipotalamus, berfungsi sebagai pusat makan 2. Nukleus ventromedial hipotalamus berperan sebagai pusat kenyang 3. Nukleus paraventrikular, dorsomedial, dan arkuata Faktor-faktor yang mengatur jumlah asupan makanan. Pengaturan jumlah asupan makanan dapat dibagi menjadi: 1. Pengaturan jangka pendek, yang terutama mencegah perilaku makan yang berlebihan di setiap waktu makan. Pengisian saluran cerna menghambat perilaku makan. Bila saluran cerna teregang, terutama lambung dan duodenum, sinyal inhibisi yang teregang akan dihantarkan terutama melalui nervus vagusn untuk menekan pusat makan,sehingga nafsu makan berkurang. Faktor hormonal saluran cerna menghambat perilaku makan Kolesistokinin terutama dilepaskan sebagai respon terhadap lemak yang masuk ke duodenum dan memiliki efek langsung ke pusat makan untuk mengurangi perilaku makan lebih lanjut. Selain itu,adanya makanan dalam usus akan merangsang usus tersebut mensekresikan peptide mirip glucagon, yang selanjutnya akan meningkatkan sekresi insulin terkait glukosa dan sekresi dari pancreas, yang keduanya cendrung untuk menekan nafsu makan. Ghrelin, suatu hormone gastrointestinal meningkatkan perilaku makan. 28

Kadar Ghrelin meningkat disaat puasa, meningkat sesaat sebelum makan, dan menurun drastic setelah makan yang mengisyaratkan bahwa hormone ini mungkin berperan untuk meningkatkan nafsu makan. Reseptor mulut mengukur jumlah asupan makanan Berkaitan dengan perilaku makan, seperti mengunyah, salivasi, menelan, dan mengecap yang akan mengukur jumlah makanan yang masuk, dan ketika sejumlah makan telah masuk, maka pusat makan dihipotalamus akan dihambat. 2. Pengaturan jangka panjang, yang terutama berperan untuk mempertahankan energy yang disimpan di tubuh dalam jumlah normal. Efek kadar glukosa, as.amino, dan lipid dalam darah terhadap rasa lapar dan perilaku makan. Penurunan kadar gula dalam darah akan menimbulkan rasa lapar, yang menimbulkan suatu perilaku yang disebut teori glukostatik pengaturan rasa lapar dan perilaku makan, teori lipostatik dan teori aminostatik. Peningkatan kadar glukosa darah akan meningkatkan kecepatan bangkitan neuron glukoreseptor di pusat kenyangdi nucleus ventro medial dan paraventrikulat hipotalamus. Peningkatan kadar gula juga secara bersamaan menurunkan bangkitan neuron glukosensitif di pusat lapar hipotalamus lateral. Pengaturan suhu dan asupan makan Saat udara dingin, kecendrungan untuk makan akan meningkat. Sinyal umpan balik dari jaringan adipose mengatur asupan makanan.

29

Lapar dapat terjadi karena adanya stimulasi dari suatu faktor lapar, yang akan mengirimkan impuls tersebut ke pusat lapar di otak, yakni hipotalamus bagian lateral, tepatnya di nucleus bed pada otak tengah yang berikatan serat pallidohypothalamus. Otak inilah yang akan menimbulkan rasa lapar pada manusia. Setelah tubuh mendapat cukup nutrisi yang ditentukan oleh berbagai faktor, maka akan mengirim impuls ke pusat kenyang yakni di nucleus ventromedial di hipotalamus. Kemudian tubuh akan merasa puas akan makan, sehingga kita akan berhenti makan. Beberapa faktor yang mempengaruhi rasa lapar pada manusia adalah: 1. Hipotesis Lipostatik Leptin yang terdapat di jaringan adiposa akan menghitung atau mengukur persentase lemak dalam sel lemak di tubuh, apabila jumlah lemak tersebut rendah, maka akan membuat hipotalamus menstimulasi kita untuk merasa lapar dan makan. 2. Hipotesis Hormon Peptida pada Organ Pencernaan Makanan yang ada di dalam saluran gastrointestinal akan merangsang munculnya satu atau lebih peptida, contohnya kolesitokinin. Kolesitokinin berperan dalam menyerap nutrisi makanan. Apabila jumlah kolesitokinin dalam GI rendah, maka hipotalamus akan menstimulasi kita untuk memulai pemasukan makanan ke dalam tubuh. 3. Hipotesis Glukostatik Rasa lapar pun dapat ditimbulkan karena kurangnya glukosa dalam darah. Makanan yang kita makan akan diserap tubuh dan sari-sarinya (salah satunya glukosa)akan dibawa oleh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh, jika dalam darah kekurangan glukosa,maka tubuh kita akan memerintahkan otak untuk memunculkan rasa lapar dan biasanya ditandai dengan pengeluaran asam lambung. 4. Hipotesis Termostatik

30

Apabila suhu dingin atau suhu tubuh kita di bawah set point, maka hipotalamus akan meningkatkan nafsu makan kita. Teori produksi panas yang dikemukakan oleh Brobeck menyatakan bahwa manusia lapar saat suhu badannya turun, dan ketika naik lagi, rasa lapar berkurang. Inilah salah satu yang bisa menerangkan mengapa kita cenderung lebih banyak makan di waktu musim hujan/dingin. 5. Neurotransmitter Neurotransmitter ada banyak macam, dan mereka berpengaruh terhadap nafsu makan. Misalnya saja, adanya norepinephrine dan neuropeptida Y akan membuat kita mengkonsumsi karbohidrat. Apabila adanya dopamine dan serotonine, maka kita tidak mengkonsumsi karbohidrat. 6. Kontraksi di Duodenum dan Lambung Kontraksi yaitu kontraksi yang terjadi bila lambung telah kosong selama beberapa jam atau lebih. Kontraksi ini merupakan kontraksi peristaltik yang ritmis di dalam korpus lambung. Ketika kontraksi sangat kuat, kontraksi ini bersatu menimbulkan kontraksi tetanik yang kontinius selama 2-3 menit. Kontraksi juga dapat sangat ditingkatkan oleh kadar gula darah yang rendah. Bila kontraksi lapar terjadi tubuh akan mengalami sensasi nyeri di bagian bawah lambung yang disebut hunger pangs (rasa nyeri mendadak waktu lapar. Hunger pans biasanya tidak terjadi sampai 12 hingga 24 jam sesudah makan yang terakhir. Pada kelaparan, hunger pangs mencapai intesitas terbesar dalam waktu 3-4 hari dan kemudian melemah secara bertahap pada hari-hari berikutnya. Akibat penundaan lapar adalah terjadi kontraksi peristaltic yang ritmis di korpus lambung , ketika kontraksi berturut turut tersebut sangat kuat , kontraksi kontraksi ini menimbulkan kontraksi tetanik yang continue dan kadang berlangsung selama 2 sampai 3 menit. Kontraksi ini sangat meningkat ketika kadar gula darah lebih rendah dari normal. Kontraksi ini dapat menimbulkan rasa nyeri ringan di bagian bawah lambung , disebut Hunger Pans. Hunger pans tidak terjadi sampai waktu 12 sesudah masuknya makanan terakhir. Selain jika penundaan ini belangsung dalam waktu yang lebih lama maka akan terjadi metabolic lemak dan protein untuk menggantikan kadar gula yang turun. 31

BAB IX MEKANISME KEDINGINAN DAN MENGGIGIL 9.1 Mekanisme Kedinginan dan Mengigil Mekanisme peningkatan suhu saat tubuh terlalu dingin 1) Vasokonstriksikulit di seluruhtubuh Hal ini disebabkan oleh rangsangan dari pusat simpatis hipotalamus posterior 2) Piloereksi Rangsangan simpatis menyebabkan otot erector pili yang melekat ke folikel rambut berdiri tegak. Hal ini memingkinkan untuk membentuk isolator udara yang bersebelahan dengan kulit, sehingga pemindahan panas ke lingkungan sangat ditekan. 3) Peningkatan Termogenesis Pembentukan panas oleh system metabolism meningkat dengan memicu terjadinya menggigil rangsangan simpatis untuk pembentukan panas dan sekresitiroksin. Menggigil, kontraksi otot rangka secara ritmik dengan frekuensi tinggi Menggigil carain volunteer meningkatkan produksi panas Produksi panas metabolic, sumber utama panas tubuh Perubahan aktivitas otot rangka, cara utama mengontrol suhu melalui penambahan panas Respon terhadap penurunan suhu inti, hipotalamus memanfaatkan aktivitas otot rangka yang menghasilkan panas lebih. Hipotalamus meningkatkan tonus otot rangka dan segera timbul menggigil Produksipanas internal 5x lipat

32

Termogenesis tanpa menggigil (rangsangan simpatis) Tidak bergantung pada kontraksiotot Berperan penting pada bayi baru lahir. Bayi baru lahir punya simpanan lemak khusus yang di sebut lemak coklat mampu mengubah energy kimia jadi panas

Sekresitiroksin Penyebab peningkatan panas jangka panjang Meningkatkan kecepatan metabolism seluler di seluruh tubuh.

Suhu udara dingin

Suhu kulit mendingin

Termoreseptor perifer (di kulit)

hipotalamus

Sistem saraf simpatik

Hipofisis posterior

Neuron motorik

Pembuluh darah kulit Kontrol pengurangn Kontraksi kulit panas

ADH menurun URIN mengingkat

33 Otot rangka Kontrol produksi menggigil panas

BAB X MEKANISME PENGELUARAN KERINGAT 10.1 Mekanisme Pengeluaran Keringat Keringat adalah larutan garam encer yang dikeluarkan ke permukaan kulit oleh kelenjar keringat yang tersebar di seluruh tubuh. Kelenjar keringat dapat menghasilkan hingga 4 liter keringat per jam. Keringat harus diuapkan dari kulit agar terjadi pengeluaran panas. Jika keringat hanya menetes dari permukaan kulit atau dihapus maka tidak terjadi pengeluaran panas. Berkeringat adalah proses pengeluaran panas evaporatif aktif dibawah kontrol saraf simpatis. Laju pengeluaran panas evaporatif dapat diubah-ubah dengan mengubah banyaknya keringat, yaitu mekanisme homeostatik penting untuk mengeluarkan kelebihan panas sesuai kebutuhan. Pada kenyataannya, ketika suhu lingkungan melebihi suhu kulit, berkeringat adalah satu-satunya cara untuk mengeluarkan panas, karena pada keadaan ini tubuh memperoleh panas melalui radiasi dan konduksi. Mekanisme Pengeluaran Keringat

(Sumber gambar : http://azzaannisa.files.wordpress.com/2011/03/keringat.jpg)

34

Proses pengeluaran keringat diatur oleh hipotalamus (otak). Hipotalamus dapat menghasilkan enzim bradikinin yang bekerja mempengaruhi kegiatan kelenjar keringat. Jika hipotalamus mendapat rangsangan, misalnya berupa perubahan suhu pada pembuluh darah, maka rangsangan tersebut diteruskan oleh saraf simpatetik ke kelenjar keringat. Selanjutnya kelenjar keringat akan menyerap air garam dan sedikit urea dari kapiler darah dan kemudian mengirimnya ke permukaan kulit dalam bentuk keringat. Proses Pembentukan Keringat

Bila suhu tubuh kita meningkat atau suhu udara di lingkungan kita tinggi, pembuluhpembuluh darah di kulit akan melebar. Hal ini mengakibatkan banyak darah yang mengalir ke daerah tersebut. Karena pangkal kelenjar keringat berhubungan dengan pembuluh darah maka terjadilah penyerapan air, garam dan sedikit urea oleh kelenjar keringat. Kemudian air bersama larutannya keluar melalui pori-pori yang merupakan ujung dari kelenjar keringat. Keringat yang keluar membawa panas tubuh, sehingga sangat penting untuk menjaga agar suhu tubuh tetap normal. Proses pengeluaran keringat diatur oleh hipotalamus (otak). Hipotalamus dapat menghasilkan enzim bradikinin yang bekerja mempengaruhi kegiatan kelenjar keringat. Jika hipotalamus mendapat rangsangan, misalnya berupa perubahan suhu pada pembuluh darah, maka rangsangan tersebut diteruskan oleh saraf simpatetik ke kelenjar keringat. Selanjutnya kelenjar keringat akan menyerap air garam dan sedikit urea dari kapiler darah dan kemudian mengirimnya ke permukaan kulit dalam bentuk keringat.

35

Mekanisme Pengeluaran Keringat Pada umumnya keringat diproduksi karena rangsang dari luar seperti perubahan panas atau suhu. Hal ini dilakukan sebagai mekanisme tubuh dalam mempertahankan kelembaban kulit. Selain itu produksi keringat juga bisa disebabkan rangsangan dari dalam seperti emosi, rasa takut dan gugup. Jadi produksi keringat ini bisa dipengaruhi faktor dari dalam atau faktor dari luar berupa perubahan lingkungan. Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas kritis, yaitu 37C. pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1C akan menyebabkan pengeluaran keringat yang cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari metabolisme basal 10 kali lebih besar. Pengeluaran keringat merupakan salah satu mekanisme tubuh ketika suhu meningkat melampaui ambang kritis.

Pengeluaran keringat dirangsang oleh pengeluaran impuls di area preoptik anterior hipotalamus melalui jaras saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic kelenjar keringat, yang merangsang produksi keringat. Kelenjar keringat juga dapat mengeluarkan keringat karena rangsangan dari epinefrin dan norefineprin. Bau badan dan bau kaki merupakan salah satu dari sekian banyak persoalan yang kita hadapi. bau badan muncul ketika terjadi kontak antara beberapa jenis bakteri di permukaan kulit dengan keringat yang keluar dari bagian tubuh. bakteri tesebut kemudian menguraikan lemak dan protein dalam keringat dan menghasilkan senyawa asam. senyawa asam ini yang menyebabkan bau tak sedap pada tubuh kita.

kulit manusia mempunyai dua macam kelenjar yang menghasilkan keringat. kelenjar pertama disebut eccrine, yang tersebar di hampir seluruh permukaan tubuh. jumlahnya 1.000-2.000 kelenjar untuk setiap inci kulit manusia. kelenjar ini berfungsi menurunkan 36

temperatur tubuh pada kondisi panas atau usai beraktivitas. kelenjar yang kedua adalah kelenjar apocrine, kelenjar ini terutama terdapat pada daerah perakaran rambut. kelenjar apocrine terkonsentrasi pada bagian-bagian tubuh seperti ketiak, lipatan paha, daerah kemaluan, sekitar puting susu, dan pada daerah kaki. kelenjar yang dihasilkan lebih kental dan berminyak, karena mengandung lemak dan protein. cairan inilah yang menyebabkan bau badan sedikitnya ada 4 macam bakteri yang menyebabkan bau badan, keempat bakteri itu adalah coccus aerob, micrococus, proprioni bacteri dan dhyphteroid aerob. bakteribakteri ini menguraikan ikatan lemak dan protein dalam keringat, dan menghasilkan senyawa asam hexanoid, yang berbau.

Orang biasanya menggunakan deodoran atau antiperspiran untuk mengurangi bau yang tidak sedap tadi. baik deodoran maupun antiperspiran sama-sama bekerja untuk membunuh bakteri-bakteri yang menimbulkan bau yang tak sedap tadi. bedanya, antiperspiran selain menbunuh bakteri ia juga bertugas mengurangi jumlah keringat yang dihasilkan kelenjar apocrine. pada kondisi normal, ketiak mengeluarkan rata-rata 400-500 mg keringat setiap 20 menit pada suhu 35 derajat Celcius deodoran dan antiperspiran dalam mengurangi produksi keringat 20-25% dari prodeksi normal. cara kerjanya dengan mempersempit poripori kulit tempat keluarnya keringat, setelah cairan keringat tertahan kemudian ia akan diserap kembali oleh jaringan kulit.

Selama ini belum ada keluhan yang diakibatkan oleh pemakaian deodoran atau antiperspiran, meskipun begitu, kalau kamu tak ingin memakai deodoran atau perspiran, bisa dilakukan dengan cara mandilah teratur, hindari makanan jenis tertentu serta menghindari pemakaian baju dari bahan yang tidak menyerap keringat, bisa dijadikan alternatif untuk mengurangi bau badan.Selain itu secara alami ,makanlah daun kemangi,ini sangat baik buat tubuh untuk mengurangi bau pada badan,apalagi pada masa pertumbuhan atau pubertas.

37

1. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat yaitu :

a.Vasodilatasi Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir dilakukan pada semua area tubuh. Vasodilatasi ini disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior yang menyebabkan vasokontriksi sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan percepatan pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih banyak. b.Berkeringat Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas kritis, yaitu 37C. pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1C akan menyebabkan pengeluaran keringat yang cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari metabolisme basal 10 kali lebih besar. Pengeluaran keringat merupakan salh satu mekanisme tubuh ketika suhu meningkat melampaui ambang kritis. Pengeluaran keringat dirangsang oleh pengeluaran impuls di area preoptik anterior hipotalamus melalui jaras saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic kelenjar keringat, yang merangsang produksi keringat. Kelenjar keringat juga dapat mengeluarkan keringat karena rangsangan dari epinefrin dan norefineprin. Mekanisme pengeluaran keringat : Pusat pengaturan suhu di hipotalamus (otak) menghasilkan enzim bradikinin yang dapat mempengaruhi kelenjar keringat. Jika pusat pengatur suhu tersebut dirangsang oleh perubahan suhu pada pembuluh darah, rangsangan akan diteruskan oleh saraf parasimpatik ke kelenjar keringat. Selanjutnya, kelenjar keringat akan menyerap air garam dan sedikit urea dari kapiler darah dan kemudian mengirimnya ke permukaan kulit dalam bentuk keringat. Keringat akan menguap dan menyerap panas tubuh sehingga suhu tubuh tetap konstan.

38

Faktor yang mempengaruhi produksi keringat : faktor yang mempengaruhi adalah suhu lingkungan, emosi, aktivitas tubuh, dan psikologi. Seorang yang bekerja keras dan terkena pancaran sinar matahari secara langsung dapat berakibat pengeluaran keringat yang banyak, cepat merasa haus dan lapar garam. Begitu juga saat marah dapat mengakibatkan meningkatnya pengeluaran keringat, sebaliknya rasa takut akan menurunkan pengeluaran keringat karea terjadi pengecilan pembuluh darah. Kondisi ketakutan tersebut tampak pada wajah yang menjadi pucat.

39

BAB XI PENUTUP 11.1 Kesimpulan Tubuh mempunyai system penjagaan homeostasis untuk mengatasi kondisi eksternal yang dapat mengganggu aktifitas sel. Sistem yang paling berpengaruh dalam penjagaan homeostasis adalah system syaraf dan system endokrin 11.2 Saran

40

BAB XI DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W.A. Newman. Kamus Dorland. Edisi 29. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC 2002. Guyton. Fisiologi Manusia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC: 2012. Sherwood Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. EGC. Jakarta

Website http://hadijah-arsyad.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-keringat.html http://jurusanipa.blogspot.com/2011/10/macam-macam-transpor-melalui-membran.html http://maraparashigo-maraparapa.blogspot.com/2011/04/fisiologi-suhu-tubuh.html http://nyebar-ilmu.blogspot.com/2010/10/sistem-ekskresi.html http://www.slideshare.net/khairurrijal666/sistem-ekskresi-pada-manusia-kulit http://taufik-ardiyanto.blogspot.com/2011/07/makalah-keringat.html

41