Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) AKIBAT INDUSTRI PERTAMBANGAN (Studi Kasus : Analisis Pertambangan Batu Bara di Muara

Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur Oleh PT. Gunung Bayan Pratama Coal Terhadap Lingkungan dan Masyarakat)

Disusun oleh :
1

Desta Sandi Putra Prabowo (19310906)


2

Punto Ajie Ramadhan (19310906)

SARMAG TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS GUNADARMA

1.

PENDAHULUAN Indonesia dari segi sumber daya alam

bentuk yang diketahui. Mineral sebagai sumber daya tidak terbarukan dikuasai dan diolah sepenuhnya oleh negara untuk

merupakan Negara yang berpengaruh dan memiliki peran penting demi ketersediaan sumberdaya dunia. Khususnya sumber daya yang menyangkut ke dunia tambang yang meliputi logam mulia, logam berharga, energi bumi dan energi alternatif. Indonesia dikenal dengan negara yang kaya akan sumber daya tambangnya dan saat ini Indonesia memproduksi berbagai macam bahan tambang yang berguna bagi

kesejahteraan rakyat. Dalam kehidupan, manusia sangat bergantung sekali pada mineral. Hal ini disebabkan karena salah satu kegunaan mineral yang sangat

mendasar bagi kehidupan yaitu sumber energi. Hingga saat ini masih banyak bahanbahan mineral yang masih digunakan

sebagai sumber daya seperti batu bara. (Budi Darmala, 2012)

kebutuhan dalam dan luar negeri. Mineral merupakan suatu senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Istilah mineral komposisi termasuk kimia, tidak tetapi hanya juga bahan struktur 1.1 Latar Belakang Pertambangan adalah rangkaian

kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan,

mineral. Mineral termasuk dalam komposisi unsur murni dan garam sederhana sampai silikat yang sangat kompleks dengan ribuan

pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batu bara, panas bumi, dan migas). Di Indonesia, pertambangan merupakan

jenis kegiatan utama dalam rangka untuk memperoleh sumber energi. Dengan posisi pertambangan yang sangat vital dan penting tersebut, dalam pelaksanaannya pun telah diatur oleh sebuah perundang-undangan pertambangan agar kegiatan tersebut

mampu melihat berbagai fenomena bencana yang sering menimpa negeri ini, Indonesia. Tidak mampu sebatas melihat, mestinya juga

melakukan

analisis

mengenai

penyebab terjadinya bencana tersebut untuk dapat memikirkan dan melakukan tindakan preventif guna mencegah terjadinya bencana serupa.

berjalan sesuai dengan peraturan. (Budi Darmala, 2012)

Gambar 1 Kegiatan Pertambangan Batu Bara Sumber : www.telapak.org, 2010

Gambar 2 Longsor & Banjir Akibat Hutan Gundul Sumber : Anis Kurniasih, 2012

1.2

Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan ini

Masalah-masalah

pengelolaan

lingkungan dapat dianggap sebagai salah satu penyebab utama terjadinya bencana alam di Indonesia. Muara dari semua masalah lingkungan adalah pembangunan yang dilakukan tanpa memperhatikan faktor keseimbangan lingkungan yang pada

sebagai berikut : 1. Mengetahui fungsi dari pertambangan batu bara. 2. Mengetahui bagan alur pertambangan batu bara. 3. Mengetahui studi AMDAL yang

gilirannya akan merusak lingkungan hidup. Untuk mengatasi masalah

digunakan perusahaan pertambangan. 4. Menganalisis lingkungan dan dampak masyarakat terhadap akibat

pengelolaan lingkungan, minimal harus ada beberapa poin yaitu kesadaran lingkungan, kesadaran hukum dan komitmen untuk melindungi lingkungan. Dalam ketiga aspek

pertambangan batu bara.

1.3

Permasalahan Sebagai manusia yang memiliki akal,

tersebut, sebagian besar penduduk Indonesia tampaknya masih belum menyadari

pikiran

dan

naluri,

mestinya

manusia

pentingnya pengelolaan lingkungan secara

terpadu dan berkesinambungan. Banyak dari kalangan masyarakat (mulai ekonomi

Lingkungan

berkaitan

erat

dengan

kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ketika lingkungan terjaga dengan baik dan sehat, maka kehidupan makhluk hidup didalamnya juga sehat dan baik. Karakteristik manusia, hewan dan tumbuhan memiliki kesamaan dalam hal pemanfaatan lingkungan bagi kebutuhan hidupnya.

mapan hingga menengah-kebawah, petani hingga investor) yang belum memiliki kesadaran lingkungan yang memadai. Sejalan dengan lajunya pembangunan nasional yang dilaksanakan permasalahan lingkungan hidup yang saat ini sering dihadapi adalah kerusakan lingkungan di sekitar areal pertambangan yang berpotensi merusak bentang alam dan adanya tumpang tindih penggunaan lahan untuk

(www.anneahira.com, 2012) Pengertian AMDAL disosialisasikan kepada masyarakat karena peranannya yang penting sebagai pengendali pembangunan. AMDAL berfungsi sebagai salah satu upaya preventif pengendalian dampak lingkkungan oleh kegiatan pembangunan yang ditujukan bagi pengambilan keputusan kelayakan lingkungan (perijinan, studi kelayakan dan perencanaan pengembangan wilayah) bagi perencanaan teknologi dan perancangan proses. Ketika fungsi AMDAL dilakukan secara optimal, maka kondisi lingkkungan dapat dikondisikan dengan baik dan sesuai harapan. (www.anneahira.com, 2012) Analisis Dampak Lingkungan

pertambangan di hutan lindung. Kasuskasus pencemaran lingkungan juga

cenderung

meningkat.

Kemajuan

transportasi dan industrialisasi yang tidak diiringi dengan penerapan teknologi bersih memberikan dampak negatif terutama pada lingkungan perkotaan.

(ANDAL) adalah hasil studi atau telaah secara cermat tentang dampak penting suatu
Gambar 3 Kerusakan Area Hutan Oleh Kegiatan Pertambangan Sumber : www.telapak.org, 2010

kagiatan yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan terhadap kegiatan atau proyek yang akan dilaksanakan.

2. 2.1

LANDASAN TEORI Studi AMDAL Memahami pengertian AMDAL dapat

Sedangkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah keseluruhan dari hasil studi yang disusun secara

memberikan masyarakat

tambahan dalam

wawasan hal

bagi

sistematis dan merupakan satu kesatuan dalam bentuk dokumentasi yang diperlukan

lingkungan.

dalam

proses

pengambilan

keputusan.

2.2

Pembangunan Berkelanjutan Sustainable Development

(Dewanti Wijaya, 2013) Suatu rencana kegiatan dapat

(pembangunan berkelanjutan) merupakan adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk menciptakan pembangunan kesimbangan ekonomi, sosial antara dan

dinyatakan tidak layak lingkungan, jika berdasarkan hasil kajian AMDAL, dampak negatif yang timbulkannya tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. Demikian juga, jika biaya yang diperlukan untuk menanggulangi dampak negatif lebih besar daripada manfaat dari dampak positif yang akan ditimbulkan, maka rencana kegiatan tersebut dinyatakan tidak layak lingkungan. Suatu rencana kegiatan yang diputuskan tidak layak lingkungan tidak dapat dilanjutkan pembangunannya.

lingkungan. (Wikipedia, 2013). Dengan kata lain, sustainable development proses

pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tetapi tanpa mengorbankan

pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. (Dewi Triwahyuni, 2011).

(Dewanti Wijaya, 2013) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999, pasal 1 ayat 1, AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/ kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan Sustainable Development memiliki 2 aspek utama yaitu kebutuhan dan
Gambar 4 Penyangga Bangunan Berkelanjutan Sumber : www.wikipedia.org, 2010

keputusan. Setiap kegiatan pembangunan secara potensial mempunyai dampak

keterbatasan. Terdapat 7 (tujuh) tujuan penting untuk kebijakan pembangunan dan lingkungan (menurut Bruntland), yaitu : 1. Memikirkan pembangunan 2. Merubah kualitas pertumbuhan. 3. Memenuhi kebutuhan dasar akan kembali makna

terhadap lingkungan. Dampak-dampak ini harus dipelajari untuk merencanakan upaya mitigasinya. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 (PP 51/1993) tentang Analisis Mengenal Dampak Lingkungan (AMDAL) menyatakan bahwa studi tersebut harus merupakan bagian dari studi kelayakan. (Dewanti Wijaya, 2013)

lapangan kerja, makanan, energi, air, dan sanitasi,

4. Menjamin

terciptanya

keberlanjutan

Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan, jenis-jenis tumbuhan pembentuk Batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut : 1. Alga, Dari zaman prekambrium hingga ordovisium dan bersel tunggal sangat sedikit endapan batubara dari periode ini. 2. Silofita, Dari zaman Silur hingga Devon Tengah, Merupakan turunan dari alga.

pada tingkat pertumbuhan penduduk. 5. Mengkonservasi sumberdaya. 6. Merubah arah teknologi dan mengelola resiko 7. Memadukan pertimbangan lingkungan dan ekonomi dalam pengambilan dan meningkatkan

keputusan.

3. 3.1

PEMBAHASAN Pertambangan Batu Bara Bahan Galian Batubara adalah bahan

Sedikit endapan batubara dari periode ini. 3. Plirodefita, Umur Devon atas hingga karbon atas. Tumbuhan pembentuknya merupakan tumbuhan tanpa bunga dan biji serta berkembangbiak dengan spora. 4. Gimnospermae, Dari Zaman permian hingga kapur tengah. Tumbuhan

galian yang terbentuk dari sisa tumbuhan yang terperangkap dalam sediment dan dapat dipergunakan sebagai bahan baker. Jenis sedimen ini terperangkap dan

mengalami perubahan material organik akibat timbunan (burial) dan diagenesa. Batubara awalnya merupakan bahan organik yang terakumulasi dalam rawa-rawa yang dinamakan peat.

heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, contohnya Pinus. 5. Angiosspermae, dari zaman kapur atas hingga kii, Jenis tumbuhan modern, buah menutupi biji, Janton dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga

secara umum kurang terawetkan.

Berdasarkan Proses Pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas, dan waktu, umumnya bartubara dibagi kedalam
Gambar 5 Batu Bara Sumber : Pariadi, 2013

lima kelas yaitu : 1. Antrasit, tertinggi, berkilauan. Adalah dengan kelas warna batubara hitam Metalik,

(luster)

Mengandung antara 86 % 98 % unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8 %. 2. Bituminus, Mengandung 68 86 % Unusr karbon (c) dan berkadar air 8-10 % dari beratnya. 3. Subbituminus karbon dan Mengandung banyak air. sedikit Sehingga

2. Tahap malihan atau geokimia, meliputi proses perubhan dari Lignit menjadi biuminus, dan akhirnya antrasit.

Potensi sumber daya Batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di pulau Kalimantan dan pulau Sumatera. Dalam hal ini tambang batu bara di Provinsi Kalimantan Timur yang dikelola oleh PT. Gunung Bayan Pratama Coal. Batubara merupakan Bahan bakar utama selain solar (diesel fuel) yang digunakan dalam industri. Dari segi ekonomis batubara jauh lebih hemat dari pada solar dengan perbandingan sebagai berikut; Solar Rp. 0,74/kilokalori sedangkan batubara Rp. 0.09/kilokalori.

menjadi sumber panas yang kurang efisien dibanding dengan bituminus. 4. Lignit atau batubara cokelat adalah batubara yang sangat lunak yang mengandung air 35 75 % dari beratnya. 5. Gambut, berpori dan memiliki kadar air diatas 75 % serta nilai kalori yang paling rendah.

Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batubara disebut dengan istilah pembatubaraan

(Coalification). Ada dua proses yang terjadi yaitu : 1. Tahap Diagenetik atau biokimia yaitu dimulai pada saat material tanaman terdeposisi, hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi, dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan (dekomposisi) organik proses dan serta 3.2 Latar Belakang Proyek PT. Gunung Bayan Pratama Coal berdiri pada tahun 1998. Perusahaan yang bergerak dalam tambang batubara ini telah beroperasi di Muara Tae, Kalimantan timur sejak tahun 1999. Perusahaan ini
Gambar 5 Pertambangan Batu Bara, Kutai Barat, Kalimantan Timur Sumber : www.telapak.org, 2010

permbusukan kompaksi

material

membentuk gambut.

mempunyai waktu lama untuk mengeruk tambang di Muara Tae, sebab ijin

eksploitasi tambang Gunung Bayan Pratama Coal Blok II, yang berlokasi di Muara tae, berakhir pada 11 Juli 2029. Perusahaan tambang yang berkantor pusat di Jakarta ini saham kepemilikannya didominasi melalui oleh PT PT Bayan Resource, Prosestama.

menambah pasokan batubaranya kepada Korea Electric Power dari 2 juta metrik per tahun ton pada tahun 2012 menjadi 7 juta metrik ton.

3.3

Alur Pertambangan Pengolahan bahan galian (mineral

Metalindo

Pemegang saham dominan PT Bayan Resources sampai 2010 adalah Dato Low Tuck Kwong. Pada tahun 2008, kepemilikan tak langsung PT Bayan Resource, melalui PT Metalindo Prosestama, terhadap PT Gunung Bayan Pratama Coal mencapai hingga 92.7%. Pada tahun 2009, PT

beneficiation/mineral

processing/mineral

dressing) adalah suatu proses pengolahan dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat fisik bahan galian untuk memperoleh produkta bahan galian yang bersangkutan. Khusus untuk batu bara, proses pengolahan itu disebut pencucian batu bara (coal

Metalindo Prosestama masih menguasai 92.7% saham dari PT Gunung Bayan. Pada tahun 2010, 92.7% saham PT Gunung Bayan masih dimiliki oleh PT Metalindo Prosestama. 20 persen saham PT Bayan Resource dikuasai oleh Korea Electric Power pada tahun 2010.

washing) atau preparasi batu bara (coal preparation).

Gambar 6 PT. Gunung Bayan Pratama Coal Sumber : www.jobstreet.co.id, 2011 Gambar 8 Guide to Underground Mining Sumber : www.britannica.com, 2011

Dana investasi Pension Norwegia yang mengalir kepada Korea Electric Power sampai akhir tahun 2010 mencapai

Yang dimaksud dengan bahan galian adalah bijih (ore), mineral industri

33,403.013 NOK atau Rp 51 miliar. Selain itu, PT Bayan Resource berencana akan

(industrial minerals) atau bahan galian

Golongan C dan batu bara (coal). Pada saat ini umumnya endapan bahan galian yang ditemukan di alam sudah jarang yang mempunyai mutu atau kadar mineral

96J00077

dan

Pembangunan

Fasilitas

Penunjang di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kutai Barat oleh PT. Gunung Bayan Pratama Coal. Rencana penambangan batubara

berharga yang tinggi dan siap untuk dilebur atau dimanfaatkan. Oleh sebab itu bahan galian tersebut perlu menjalani pengolahan bahan galian (PBG) dapat agar mutu atau

tersebut akan menambang pada areal seluas 6.240,8 Ha dari wilayah Perjanjian Karya Pengusahaan Penambangan Batubara seluas 22.000 ha. Rona lingkungan awal areal tambang merupakan kawasan hutan

kadarnya memenuhi

ditingkatkan pemasaran

sampai atau

kriteria

peleburan. Keuntungan yang bisa diperoleh dari proses PBG tersebut antara lain : 1. Mengurangi ongkos angkut. 2. Mengurangi ongkos peleburan. 3. Mengurangi kehilangan (losses) logam berharga pada saat peleburan. 4. Proses pemisahan (pengolahan) secara fisik jauh lebih sederhana daripada dan proses

produksi terbatas dan hutan produksi tetap dan sebagaian kecil merupakan ladang dan kuburan masyarakat adat setempat. Selain itu, di daerah studi terdapat 2 daerah aliran sungai (DAS) yaitu DAS Barito dan Mahakam. Sungai-sungai tersebut sangat penting setempat. Isu-isu lingkungan yang dikaji dalam dokumen AMDAL adalah isu-isu yang berkaitan dengan : 1. Dampak perubahan bentang alam yang menyebabkan estetika lingkungan. 2. Kemungkinan terjadinya penurunan terjadinya gangguan untuk transportasi masyarakat

menguntungkan

pemisahan secara kimia.

Gambar 8 Bagan Alur Pertambangan Batu Bara Sumber : www.jobstreet.co.id, 2011

kualitas udara akibat pengerukan dan penggalian oleh penggunaan alat berat yang menyebabkan penurunan

3.4

AMDAL Proyek Pertambangan Komisi Penilai AMDAL Pusat pada

kesuburan tanah. 3. Dampak peningkatan erosi tanah

tanggal 1 Desember 2004 telah membahas dokumen AMDAL mengenai Rencana

terhadap penurunan kualitas ekosistem perairan sungai.

Penambangan Batubara di Wilayah KW

4. Gangguan satwa liar akibat hilangnya vegetasi penutup tanah. 5. Kemungkinan terjadinya air asam

sungai sebagai sarana transportasi dan kebutuhan penduduk sehari-hari. Selain itu terdapat permintaan dari wakil masyarakat dan pemerintah kabupaten dan propinsi untuk tetap mempertahankan opsi pengankutan batubara melalui jalan

tambang yang menyebabkan gangguan terhadap ekosistem darat dan perairan. 6. Penuruan kualitas udara berat akibat dan

darat, karena pembangunan jalan darat tersebut sangat bermanfaat untuk membuka isolasi bagi 4 kabupaten di kawasan tersebut.

pengoperasian pengangkutan

alat-alat

batubara yang menyebabkan penurunan kesehatan masyarakat. 7. Penurunan kualitas sungai yang pada gilirannya akan menimbulkan dampak sosial sangat karena masyarakat pada setempat keberadaan

3.5

Dampak Terhadap Lingkungan dan Masyarakat Setengah dari wilayah Kampung

tergantung

Muara Tae didominasi oleh PT Gunung Bayan Pratama Coal, perusahaan tambang batubara. Pada April 2011, Masyarakat adat

sungai tersebut.

Komisi Penilai AMDAL Pusat dalam penilaiannya memberikan penilaian yang kritis terhadap isu air asam tambang dan aspek geologi yang berkaitan dengan

Dayak Benuaq yang tinggal di Kampung Mancong, Kampung Muara Tae, Kampung Tana Me, Kampung Belusuh, Kampung Muara Nayan, Kampung Perigiq, Kampung Gunung Bayan, Kampung Pentat dan Kampun Lembunah setuju untuk

kemungkinan terjadinya bahaya longsoran akibat kondisi struktur geologi lokasi

tambang. Selain itu anggota komisi juga memberikan metode penilaian kritis terhadap dan

penderitaan dan kesusahan mereka kepada wakil-wakil partai politik di DPRD Kutai Barat di Barongtongkok. Semua kampung tersebut berada disekeliling PT Gunung Bayan Pratama Coal. Pertemuan pertama dilakukan wakil masyarakat, yakni Petrus Asuy didampingi oleh Komite HAM Kalimantan Timur dan Lembaga Bina Benua Puti Jaji pada 29 April 2001 di Kantor Komite Ham bertemu dengan Ketua DPRD Kutai Barat, Drs. Juan

pengambilan

sampel yang

pemodelan-pemodelan untuk memprediksi

dilakukan Dari

dampak.

pemerintah daerah dan wakil masyarakat isu yang diangkat adalah keterlibatan tenaga lokal dalam proyek, permasalah

pembebasan tanah dan adanya pendatangpendatang baru yang mengklaim tanah penduduk setempat, pelestarian fungsi

Djenau, MA. Pertemuan kedua dilakukan oleh utusan masyarakat penuntut yakni Petrus Asuy, dkk dengan Ketua DPRD Kutai Barat pada 26 Juni 2001. Hasilnya, Ketua DPRD Kutai Barat berjanji akan mempertemukan masyarakat penuntut

Dusun

Muara

Tae

menjadi

lokasi

penambangan. Sumber air ini menjadi sangat penting bagi masyarakat Dayak Benuaq di Muara Tae dan sekitarnya pada musim kemarau, karena menjadi satu-satunya sumber air yang tidak mengalami kekeringan di saat kemarau. Akibat penggusuran sumber air ini, masyarakat mengalami kesulitan

dengan pihak PT Gunung Bayan Pratama Coal di Gedung DPRD Kutai Barat di Barong Tongkok pada Juli 2001. Hingga sekarang, pertemuan diantara masyarakat dengan PT Gunung Bayan Pratama Coal tidak pernah terjadi.

mendapatkan sumber air bersih. 3. Pencemaran Sungai Nayan, Air

sungainya keruh berwarna kuning, dan kadang kadang berwarna sangat jernih. Namun saat penduduk menggunakan air sungai ini untuk mandi, kulit mereka terasa amat gatal. 4. Pengamanan yang berlebihan dari

Aparat Kepolisian, Selama ini sering


Gambar 9 Kualitas Penduduk Muara Tae Sumber : www.telapak.org, 2010

terjadi keributan antara para pemilik tanah yang nekat memperjuangkan hakhaknya atah tanah tersebut dengan

Fakta

lapangan

yang

merugikan

aparat kepolisian yang dijadikan centeng oleh PT. Gunung Bayan Pratama Coal. Kepolisian Sektor Kecamatan Jempang

masyarakat akibat kehadiran PT Gunung Bayan Pratama Coal adalah : 1. Penggusuran Tanah Masyarakat

dan Kecamatan Muara Pahu Kabupaten Kutai Kertanegara dan Polda Kaltim, terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam pengamanan di dalam dan di sekitar lokasi perusahaan PT. Gunung Bayan Pratama Coal. Petrus Asuy, Seorang warga Muara Tae yang masih mempertahankan tanahnya dari penggusuran PT Gunung Bayan Pratama Coal, pada 7 April 2001 melarikan diri

Penggusuran ini dilakukan sejak 1995 sampai Juni 2001. Modus operandi yang digunakan adalah gusur duluan, setelah itu baru diadakan negosiasi disertai penekanan berapa harga tanah yang sudah tergusur tersebut. 2. Penghancuran sumber air minum Utak Sunge Olukng. Penggusuran sumber air minum, Utak Sunge Olukng, 4 km dari

dari rumahnya di Muara Tae dari upaya penangkapan oleh Kapolsek Jempang, Letda Noldy Very. C.V NrP: 65040022 tanpa surat perintah penangkapan. 5. Prostitusi dan Perjudian. Sebetulnya sejak awal kehadiran lokalisasi di Camp Baru telah ditolak oleh warga Kampung Mancong dan Muara Tae. Namun penolakan itu tidak pernah diperhatikan baik oleh pihak perusahaan, pemerintah kecamatan dan kabupaten. Telah dibuka tempat perjudian di Camp Baru atau Tembehe yang didukung oleh oknum aparat keamanan.

bakarnya berasal dari iuran warga Muara Tae sebesar Rp 80.000/ampere yang

dibayarkan setiap bulan. Namun, jika mesin PLTD mengalami gangguan, masyarakat menggunakan mesin Jen-set untuk

penerangan rumahnya.

4. 4.1

PENUTUP Kesimpulan Setiap kegiatan pastilah menghasilkan

suatu akibat, begitu juga dengan kegiatan eksploitasi bahan tambang, pastilah

membawa dampak yang jelas terhadap lingkungan dan juga kehidupan di

sekitarnya, dampak tersebut dapat bersifat negatif ataupun positif, namun pada setiap kegiatan eksploitasi pastilah terdapat

dampak negatifnya, hal tersebut dapat diminimalisir apabila pihak yang

bersangkutan bertanggung jawab terhadap


Gambar 10 Kondisi Hutan Jadi Area Pertambangan Batu Bara Sumber : www.telapak.org, 2010

pengolahan sumber daya alamnya dan juga memanfaatkannya secara bijaksana. Sebagai contoh adalah kegiatan

pertambangan batubara di Muara Tae, Kutai Dari aktivitas PT Gunung Bayan Pratama Coal in Muara Tae, banyak meninggalkan lubang tambang yang berisi air kehijauan yang tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan hewan. Walaupun PT Gunung Bayan Pratama Coal dimiliki oleh satu orang terkaya di Indonesia, Low Tuck Kwong, hingga saat ini listrik di Muara Tae hanya bersumber dari PLTD yang hidup mulai jam 18.00-24.00 wita. Sumber bahan Barat, Kalimantan Timur yang bisa dibilang telah mencapai tahap yang kronis, dengan menyisakan lubang-lubang besar bekas kegiatan pertambangan dan juga dampakdampak setidaknya dikurangi yang lainnya. Hal tersebut dan kita

dapat

diminimalisir apabila

dampaknya

melakukan tindakan perbaikan dan juga memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA)

secara bijaksana serta tidak berperilaku konsumtif (pemborosan).

4.2

Saran Adapun penulis menyarankan sebagai

berikut : 1. Agar pemerintah lebih

mengopitamalkan dan mensosialisasikan tentang AMDAL. 2. Agar para penambang lebih

memperhatikan dampak lingkungan dari pada keuntungan semata. 3. Agar pemerintah lebih tegas menindak para penambang yang terbukti

melanggar peraturan penambangan. 4. Agar para penambang terutama

perusahaan-perusahaan tekonolgi yang

menggunakan lingkugan

ramah

sehingga dapat meminimalkan dampak lingkungan dan resiko kecelakaan. 5. Agar para penambang bertanggung

jawab terhadap reklamasi lahan bekas penambangan, agar pada akhirnya tidak mengganggu keseimbangan lingkungan.

5.

DAFTAR PUSTAKA