Anda di halaman 1dari 11

Audit sektor publik berbeda dengan audit pada sektor bisnis atau audit sektor swasta.

Audit sektor publik dilakukan pada organisasi pemerintahan yang bersifat nirlaba seperti sektor pernerintahan daerah (pemda), BUMN, BUMD, dan instansi lain yang berkaitan dengan pengelolaan aset kekayaan Negara. Sedangkan kalau audit sektor bisnis dilakukan pada perusahaan-perusahaan milik swasta yang bersifat mencari laba. Audit sektor publik dan audit sektor bisnis (swasta) sama-sama terdiri dari Audit Keuangan (financial Audit), Audit Kinerja (Performance Audit), dan Audit Investigasi (Special Audit).

Tipe-Tipe Audit Sektor Publik


Bagian ini akan dijelaskan jenis-jenis audit yang dilaksanakan atas semua kegiatan Pemerintahan yang tercermin dalam APBN, APBD, kegiatan BUMD/ BUMN, serta kegiatan yayasan atau badan hukum lain yang didirikan oleh Pemerintah atau mendapat bantuan Pemerintah. Audit yang diselenggarakan atas kegiatan tersebut dapat dibagi menjadi audit keuangan dan audit kinerja. Pada setiap audit, perlu dimulai dengan penetapan tujuan untuk menentukan jenis audit yang dilaksanakan serta standar audit yang harus diikuti oleh auditor. Audit dapat mempunyai gabungan tujuan dari audit keuangan dan audit kinerja, atau dapat juga mempunyai tujuan yang terbatas pada beberapa aspek dari masing-masing jenis audit diatas. Misalnya, pelaksanaan audit atas kontrak pemborongan pekerjaan atau atas bantuan Pemerintah kepada yayasan atau badan hukum lainnya; tujuan audit yang demikian seringkali mencakup baik tujuan audit keuangan maupun tujuan audit kinerja. Audit semacam ini umumnya disebut audit kontrak atau audit bantuan. Audit atas pelaksanaan sistem pengendalian intern, atas masalah yang berkaitan dengan ketaatan pada peraturan

perundang-undangan, atau atas suatu sistem berbasis komputer. Audit Keuangan (Financial Audit) Secara spesifik pendefinisian suatu audit atas laporan keuangan dapat dikemukakan sebagai berikut: Tujuan pengujian atas laporan keuangan oleh auditor independen adalan merupakan ekspresi suatu opini secara jujur tentang posisi keuangan, hasil operasi dan aliran kas yang disesuaikan dengan prinsip akuntansi berterima umum. Laporan auditor merupakan media yang mengekspresikan opini auditor atau, dalam kondisi tertentu, menyangkal suatu opini. Audit Kinerja (Performance Audit) Audit kinerja adalah pemeriksaan secara objektif dan sistematik terhadap berbagai macam bukti, untuk dapat melakukan penilaian secara independen atas kinerja entitas atau program/kegiatan Pemerintah yang diaudit. Dengan audit kinerja dimaksudkan untuk dapat meningkatkan tingkat akuntabiltas Pemerintah dan memudahkan pengambilan keputusan oleh pihak yang bertanggung jawab untuk mengawasi atau memprakarsai tindakan koreksi. Audit kinerja mencakup audit tentang ekonomi, efisiensi, dan program. Audit sektor publik adalah jasa penyelidikan bagi masyarakat atas organisasi publik dan politikus yang sudah mereka bayar. Hal ini memberikankeuntungan yang lebih besar di mana janji yang dibuat oleh para politisidapat diperiksa secara profesional oleh pihak independen. Sebagaimana kita lihat bahwa legislatif yangmengesahkan berbagai tingkat dari pengawasan dan pemeriksaan bagikebanyakan sektor publik, tetapi hukum tidak membahas

lebih khususmengenai standar audit. Kebanyakan audit sektor pubik mencakupinterpretasi audit organisasi berkaitan dengan hukum yang meliputistandar dan batasan yang tercakup dalam bagian akuntansi. Audit secara individual sudah ditetapkan dengan jelas, undang-undang atau kesepakatan yang sudah dibuat oleh pemerintah merupakan bagian dari organisasi audit. Audit sektor publik secara jelas menunjukkan perbedaan antara kewajiban dan tugas, dari sertifikasi akuntan yang merupakan hal yang mirip sampai audit terhadap organisasi khusus, penugasan atas pemeriksaan kecurangan dan korupsi serta value for money audit. Auditor tidak dapat menvusun laporannya dalam satu jenis pekerjaan. Kegiatan audit sektor publik meliputi perencanaan, pengendalian, pengumpulan data, pemberian opini, dan pelaporan. Permasalahan pokok dari proses audit adalah memberikan sasaran yang jelas dalam pelaksanaannya. Hal ini diperoleh setelah melalui proses pengetesan.

Objek Audit Sektor Publik


Agar proses audit menjadi suatu bagian yang dapat dipahami, diperlukan suatu definisi atas objek audit sektor publik. Auditor sektor publik sangat berkepentingan dengan aktivitas entitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini merupakan perhatian utama auditor sektor publik selama melaksanakan pekerjaan audit hingga auditor mengeluarkan pendapatnya. Objek audit lainnya adalah pengorganisasian entitas. Pengorganisasian di sini meliputi dua aspek, yaitu bagaimana hubungan eksternal dan internal yang ada dalam organisasi. Dalam aspek hubungan eksternal, auditor harus familiar dengan klien-klien organisasi. Lebih dari itu, auditor harus mengetahui perbedaan dan persamaanan antara entitas yang

menjadi kliennya dengan entitas-entitas lainnya. Auditor juga harus mengetahui aspek-aspek yang menjadi keunikan organisasi. Pemahaman atas aspek hubungan eksternal ini dapat memberikan auditor data-data yang dapat dipertanggungjawabkan yang disajikan dalam laporan keuangan. Aspek hubungan internal suatu organisasi, atau dapat juga disebut sebagai struktur organisasi, juga menjadi perhatian utama auditor. Struktur organisasi adalah divisi kerja dalam organisasi dan orang-orang yang melakukan pekerjaan dalam divisi kerja tersebut. Kelemahan di dalam struktur organisasi internal dapat menyebabkan terjadinya perekaman akuntansi yang tidak tepat, menyesatkan, dan mungkin menimbulkan kecurangan.

BPK Kesulitan Audit BUMN


Besar Kecil Normal

TEMPO Interaktif, Jakarta:Badan Pemeriksa Keuangan merasa dipersulit untuk mengaudit sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perusahaan pelat merah itu, sebagian besar berdalih telah menggunakan Kantor Akuntan Publik untuk mengaudit laporan keuangan mereka. Selain itu, dana dari tahun ke tahun juga cekak. Itu pula sebabnya tahun ini BPK hanya mengaudit laporan keuangan sembilan perusahaan saja. Padahal tahun sebelumnya, BPK mengaudit sekitar 20 BUMN. "Dalam prakteknya satu BUMN bisa diperiksa oleh dua auditor di tahun yang sama. Ini secara APBN sangat tidak efisien. Karena itu BPK mengurangi jumlah BUMN untuk diaudit," ujar Auditor

Utama Kekayaan Negara V Badan Pemeriksa Keuangan Johannes Widodo Mumpuni di Gedung BPK, Jakarta. Ekonom Universitas Gadjah Mada Revrisond Baswir menilai desakan BUMN untuk hanya mau diaudit Kantor Akuntan Publik perlu dipertanyakan. "Keengganan diperiksa BPK itu harus dipertanyakan, ada apa sebetulnya?" katanya. Ia menduga hal itu menandakan adanya kepentingan bisnis antara BUMN dengan Kantor Akuntan Publik. "Apalagi kalau Kantor Akuntan Publik besar yang terlibat, itu berarti ada bisnis gede. Kantor Akuntan Publik asing bisa saja melakukan KKN," ucap Revrisond. Kantor Akuntan Publik asing pun, menurut dia, tidak dapat dijadikan jaminan mutu dalam hal audit. "BPK juga dapat diandalkan walaupun namanya nggak keren di dunia internasional," kata Revrisond.

BPK Diminta Audit BUMN


0 0

JAKARTA, suaramerdeka.com - Indonesian Audit Watch (IAW) mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengaudit keuangan negara di 141 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara profesional. Sebab, IAW menengarai audit yang selama ini telah dilakukan BPK kurang profesional.

Sekretaris IAW, Iskandar Sitorus mengungkapkan, selama ini audit BPK kurang profesional sehingga menimbulkan kerugian negara. Dia berharap, terpilihnya Bahrul Akbar sebagai Anggota VII bisa menuntaskan ketidakberdayaan auditor di lingkungan Auditoriat Keuangan Negara VII yang membidangi pemeriksaan terhadap keuangan negara di 141 BUMN dan anak-anak perusahaannya. Dikatakan, selama ini BPK belum melakukan audit rutin dengan menggunakan pola Standard Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang baik dan benar. "Ada oknum pejabat di lingkungan BPK melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela, yakni untuk memperkaya dirinya sendiri dengan memanfaatkan posisinya sebagai personil di BPK," ujar Iskandar dalam rilisnya, Kamis (15/12). Kendati demikian, Iskandar tidak membeberkan dengan detail modus yang dilakukan oleh oknum tersebut. "Modus ini sangat sulit diendus apalagi diidentifikasi oleh orang di luar lingkungan BPK, padahal modus itu sangat signifikan untuk mengakibatkan kerugian keuangan Negara." Dikatakan, adanya kedekatan salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP) dengan pejabat BPK membuat kinerja BPK kurang profesional. "Diduga salah satu KAP terkait dengan nama salah satu pejabat eselon I di lingkungan AKN VII BPK RI." Dia menjelaskan, pihaknya telah melayangkan surat nomor 036/Pendiri IAW/XII/11 tanggal 12 Desember 2011 untuk mempertanyakan dan meminta Ketua dan Wakil Ketua serta Anggota VII BPK untuk melakukan investigasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. "Harapan yang sama juga kami sampaikan kepada Majelis Kehormatan Kode Etik BPK RI, Inspektorat Jenderal BPK RI dan Sekretaris Jenderal BPK RI."

Mengintip Konsep Standar Pengawasan Intern BUMN


BY AUDITORINTERNAL 03/05/2010POSTEDIN: ARTIKEL, BERITA AUDIT INTERNAL, REGULASI

Dibaca 4,241 kali Dalam Seminar Nasional Internal Audit 2010 yang dihelat oleh Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern (FKSPI) di Bandung 22-23 April lalu, Kementerian BUMN memberikan preview konsep strategis Standar Pengawasan Intern BUMN. Setelah Bank Indonesia mengeluarkan SPFAIB belasan tahun silam dan Bapepam LK mengeluarkan peraturan Peraturan Bapepam LK Nomor IX.I.7 tahun 2008 lalu, beleid dari kementerian BUMN tersebut tentu menjadi hal yang dinantikan oleh SPI BUMN yang bukan merupakan bank dan tidak mencatatkan diri di bursa. Eksistensidan PeranSPI Sebagaimana kita ketahui, ketentuan perundang-undangan yang medukung eksistensi Satuan Pengawasan Intern (SPI) BUMN sudah cukup memadai. Di dalam Undang-undang 19/2003 mengenai BUMN sebagaimana diatur lebih lanjut dalam PP 45/2005 perihal Pendirian, Pengurusan, Pengawasan dan Pembubaran BUMN, diatur mengenai eksistensi, tugas dan tanggung jawab, serta pelaporan SPI sebagai berikut: 1. Pada setiap BUMN dibentuk SPI yang dipimpin seorang kepala yang bertanggung jawab kepada Direktur Utama. 2. SPI bertugas: (a) membantu Direktur Utama dalam melaksanakan pemeriksaan operasional dan keuangan BUMN, menilai pengendalian, pengelolaan dan pelaksanaannya pada BUMN serta memberikan saran-saran perbaikannya; (b) memberikan keterangan tentang hasil pemeriksaan atau hasil pelaksanaan tugas SPI kepada Direktur Utama; dan (3) memonitor tindak lanjut atas hasil pemeriksaan yang telah dilaporkan. 3. Direktur Utama menyampaikan hasil pemeriksaan SPI kepada seluruh anggota Direksi, untuk selanjutnya ditindaklanjuti dalam

Rapat Direksi. Direksi wajib memperhatikan dan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan atas segala sesuatu yang dikemukakan dalam setiap laporan hasil pemeriksaan yang dibuat oleh SPI. 4. Atas permintaan tertulis Komisaris/Dewan Pengawas, Direksi memberikan keterangan hasil pemeriksaan atau, hasil pelaksanaan tugas SPI. Bila dirunut ke belakang, pokok-pokok kebijakan semacam itu bahkan telah ada sejak PP 3/1983 tentang Tata Cara Pembinaan Dan Pengawasan Perusahaan Jawatan (Perjan), Perusahaan Umum (Perum) Dan Perusahaan Perseroan (Persero). Namun pengaturan highlevel seperti itu tentu masih terlalu global bagi praktik audit internal di lingkungan BUMN, sehingga diperlukan pengaturan lebih lanjut dalam bentuk peraturan menteri untuk lebih meningkatkan peran SPI. StandaruntukPeningkatanPeranSPI Secara strategis Kementerian BUMN memandang peran SPI ke depan harus dilakukan dengan penerapan independensi, kompetensi, dan objektivitas, untuk menjamin hasil kegiatan dan hasil pengawasan intern yang berkualitas. Oleh karena itu perlu diatur standar minimal yang harus diterapkan/dilakukan agar independensi, kompetensi, dan objektivitas dapat terlaksana dengan baik. Berikut ini konsep strategis standar pengawasan intern dari Kementerian BUMN:

Dalam konsep strategis tersebut kita melihat bahwa standar ini telah berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan best-practice audit internal terkini. Hal ini terlihat antara lain dengan diakomodasikannya peran/tugas SPI yang tidak hanya pada tugas pemeriksaan (assurance) saja, namun juga pada peran consulting. Hal lain terlihat pada pengaturan pada dua aspek pokok, yaitu: struktur dan proses. Bila dianalogikan dengan SIPPAI dari IIA, misalnya, maka pengaturan tersebut akan sepadan dengan standar atribut dan standar kinerja. Sama halnya dengan standar audit internal yang berlaku umum, standar atau pengaturanpengaturan dalam rancangan peraturan Menteri BUMN ini juga bersifat minimal. Artinya, kualitas kegiatan dan hasil pengawasan SPI BUMN sekurang-kurangnya akan diukur dengan kepatuhan mereka dalam hal struktur dan proses pengawasan intern terhadap standar pengawasan intern BUMN ini. SubstansiStandarPengawasanInternBUMN Dalam paparan pada seminar tersebut di atas, Kementerian BUMN menyampaikan substansi rancangan peraturan menteri BUMN mengenai Pengawasan Intern BUMN, di mana secara garis besar akan mengatur dua aspek, yaitu: struktur dan proses SPI BUMN. Aspek struktur akan mengatur mengenai: 1. Kedudukan , tugas dan fungsi SPI

2. 3. 4. 5. 6.

Wewenang SPI Pertanggungjawaban SPI Persyaratan Pengawas Intern Piagam pengawasan intern Hubungan SPI dengan organ Dewan Komisaris dan Komite Audit

Sementara itu aspek proses akan mengatur mengenai: 1. 2. Perencanaan, pelaksanaan, pelaporan pengawasan intern Pemantauan tindak lanjut hasil pengawasan intern dan pengawasan eksternal 3. Pelaksanaan program quality assurance 4. Dokumentasi dan administrasi Kedua aspek tersebut selanjutnya akan diatur dalam peraturan menteri mengenai Piagam Pengawasan Intern serta Kebijakan dan Prosedur Pengawasan Intern yang di dalamnya mengatur hal-hal sebagai berikut:

Harapan

Kita berharap agar peraturan menteri ini segera bisa direalisasikan. Seratur dua puluh lima (125) SPI BUMN, di luar 16 BUMN yang telah go public (4 di antaranya bank BUMN), memerlukan standar ini agar dapat berperan dengan lebih baik bagi perusahaannya. Banyak hal dititipkan dalam seminar tersebut kepada Kementerian BUMN, dari yang ringan sampai dengan yang berat seperti usulan agar Kepala SPI ditempatkan setara dengan direksi, semoga dapat diakomodasi dengan bijaksana oleh kementerian BUMN. Bola terus bergulir, kita tunggu saja golnya, semoga masuk ke gawang yang benar. Saya sendiri masih menyisakan pertanyaan ringan: Mengapa Pengawasan Intern instead of Audit Intern? Apakah memang ada profesi Pengawas Internal di luar sana? Anda bisa menjawabnya? Referensi: